Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiSoeharto
Artikel Wikipedia

Soeharto

Soeharto adalah seorang perwira militer dan politikus yang menjabat sebagai Presiden Indonesia kedua. Pemerintahannya selama 31 tahun dan 70 hari membuatnya menjadi presiden dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Indonesia.

Penjabat Presiden Indonesia (1967–1968) & Presiden Indonesia ke-2 (1968–1998)
Diperbarui 14 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Soeharto
Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Mei 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
  • Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
  • Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
  • Setelah menerjemahkan, {{Terjemahan}} harus ditambahkan di halaman pembicaraan untuk memastikan kesesuaian hak cipta.
  • Untuk panduan lebih lanjut, lihat Wikipedia:Panduan dalam menerjemahkan artikel.
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Soeharto" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(November 2025)
Ini adalah sebuah nama Indonesia yang tidak menggunakan nama keluarga.
Jenderal Besar
Soeharto
Foto resmi Soeharto pada masa jabatan 1998 - 2002
Potret resmi, 1993
Presiden Indonesia ke-2
Masa jabatan
27 Maret 1968 – 21 Mei 1998
Wakil Presiden
Daftar
    • Hamengkubuwana IX (1973—1978)
    • Adam Malik (1978—1983)
    • Umar Wirahadikusumah (1983—1988)
    • Soedharmono (1988—1993)
    • Try Sutrisno (1993—1998)
    • B. J. Habibie (1998)
Sebelum
Pendahulu
Soekarno
Pengganti
B. J. Habibie
Sebelum
Penjabat Presiden Indonesia
Masa jabatan
12 Maret 1967 – 27 Maret 1968
Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok ke-16
Masa jabatan
7 September 1992 – 20 Oktober 1995
Sebelum
Pendahulu
Dobrica Ćosić
Pengganti
Ernesto Samper Pizano
Sebelum
Menteri Pertahanan Keamanan Republik Indonesia ke-13
Masa jabatan
28 Maret 1966 – 28 Maret 1973
Sebelum
Pendahulu
Abdul Haris Nasution
Pengganti
Maraden Panggabean
Sebelum
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ke-5
Masa jabatan
6 Juni 1968 – 28 Maret 1973
Sebelum
Pendahulu
Abdul Haris Nasution
Pengganti
Maraden Panggabean
Sebelum
Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban ke-1 dan ke-5
Masa jabatan
5 Oktober 1965 – 19 November 1969
Pengganti
Maraden Panggabean
Sebelum
Masa jabatan
2 Maret 1974 – 5 April 1978
Sebelum
Pendahulu
Soemitro Sastrodihardjo
Pengganti
Soedomo
Sebelum
Menteri/Panglima Angkatan Darat ke-7
Masa jabatan
16 Oktober 1965 – 1 Mei 1968
PanglimaAbdul Haris Nasution
Sebelum
Pendahulu
Pranoto Reksosamodra
Pengganti
Maraden Panggabean
Sebelum
Kepala Badan Intelijen Negara ke-3
Masa jabatan
1965 – 22 Agustus 1966
PresidenSoekarno
Sebelum
Pendahulu
Soebandrio
Pengganti
Yoga Sugama
Sebelum
Ketua Presidium Kabinet Indonesia
Masa jabatan
25 Juli 1966 – 17 Oktober 1967
Sebelum
Pendahulu
Soekarno (sebagai Perdana Menteri)
Pengganti
Tidak ada
Sebelum
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ke-1
Masa jabatan
6 Maret 1961 – 2 Desember 1965
Pengganti
Umar Wirahadikusumah
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1921-06-08)8 Juni 1921
Bantul, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda
Meninggal27 Januari 2008(2008-01-27) (umur 86)[1]
Jakarta, Indonesia
MakamAstana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah
KewarganegaraanIndonesia
Partai politik  Golkar
Suami/istri
Raden Ajeng Siti Hartinah
​
​
(m. 1947; meninggal 1996)​
Anak
  • Siti Hardijanti Rukmana
  • Sigit Harjojudanto
  • Bambang Trihatmodjo
  • Siti Hediati Hariyadi
  • Hutomo Mandala Putra
  • Siti Hutami Endang Adiningsih
KerabatKeluarga Soeharto
Almamater
  • Schakel Muhammadiyah Yogyakarta (1935—1938)
  • Sekolah Bintara KNIL di Gombong (1940)
Profesi
  • Tentara
  • politikus
Penghargaan sipilPahlawan Nasional Indonesia (2025)
Tanda tangan
Julukan
  • Pak Harto
  • Smiling General
Karier militer
Pihak
  •  Hindia Belanda (1940—1942)
  •  Kekaisaran Jepang (1942—1945)
  •  Indonesia (1945—1974)
Dinas/cabang
  • KNIL (1940—1942)
  • PETA (1942—1945)
  • TNI Angkatan Darat (1945—1974)
Masa dinas1940–1974
Pangkat Jenderal Besar TNI
NRP10684[2]
SatuanInfanteri
Pertempuran/perangPerang Kemerdekaan Indonesia
    • Pertempuran Ambarawa
    • Serangan Umum 1 Maret
    • Pemberontakan Darul Islam
Operasi Trikora
Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Suara Soeharto
Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya setelah krisis finansial Asia 1997 dan kerusuhan Mei 1998.
Direkam pada 21 Mei 1998
Penghargaan
  • (1997) Grand Cross of the Order of Good Hope (en) Terjemahkan
  • (1981) Collar of the Order of Isabella the Catholic‎ (en) Terjemahkan
  • (1977) Member 1st Class of the Order of the Umayyads (en) Terjemahkan
  • Order of Mubarak the Great (en) Terjemahkan
  • Grand Cross of the Legion of Honour (en) Terjemahkan
  • Order of the Yugoslav Star (en) Terjemahkan
  • Order of the Queen of Sheba (en) Terjemahkan
  • Order of Independence (en) Terjemahkan
  • Orde Agung Mugunghwa
  • Order of Pahlavi (en) Terjemahkan
  • Grand Cross of the Order of the Sun of Peru‎ (en) Terjemahkan
  • Collar of the Order of the Star of Romania (en) Terjemahkan
  • Darjah Utama Seri Mahkota Negara
  • Order of Merit for National Foundation (en) Terjemahkan
  • Order of the Liberator (en) Terjemahkan
  • Bintang Mahaputera
  • Bintang Republik Indonesia
  • Ordo Nil
  • Grand Star of the Decoration for Services to the Republic of Austria (en) Terjemahkan
  • Knight Grand Cross with Collar of the Order of Merit of the Italian Republic (en) Terjemahkan
  • Orde Krisantemum
  • Order of Prince Yaroslav the Wise, 1st class (en) Terjemahkan
  • Ordo Rajamitrabhorn
  • Orde Sikatuna
  • Knight Grand Cross of the Order of the Bath (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Find a Grave: 24203290 Modifica els identificadors a Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini
Artikel ini merupakan bagian dari seri tentang
Soeharto

Presiden Indonesia
1967–1998


Pra-kepresidenan
  • Kehidupan dan karier awal
  • Pengabdian militer
    • Pendudukan Jepang
    • Revolusi Nasional
      • Agresi Militer Belanda I
      • Pemberontakan PKI 1948
      • Agresi Militer Belanda II
      • Serangan Umum 1 Maret 1949
      • Pemberontakan Andi Azis
  • Pasca-Kemerdekaan

Naik ke tampuk kekuasaan
  • Gerakan 30 September
  • Panglima Kopkamtib
  • Pembunuhan massal
  • Supersemar
  • Manuver politik
  • Kepresidenan sementara

Orde Baru
  • Pelantikan
    • I
    • II
    • III
    • IV
    • V
    • VI
    • VII
  • Kabinet
    • Ampera I
    • Ampera II
    • Pembangunan I
    • Pembangunan II
    • Pembangunan III
    • Pembangunan IV
    • Pembangunan V
    • Pembangunan VI
    • Pembangunan VII
  • Golkar
  • Dwifungsi
  • Aspri
  • Angkatan 66
  • Repelita
  • Mafia Berkeley
  • Kelompok Empat
  • Pemilu
    • 1968
    • 1971
    • 1977
    • 1982
    • 1987
    • 1992
    • 1997

Kebijakan
  • Diskriminasi terhadap Tionghoa
  • Peristiwa Malari
  • Petisi 50
  • Pembantaian Tanjung Priok
  • Penembakan misterius
  • Fusi partai politik
  • Swasembada pangan
  • Penentuan Pendapat Rakyat
  • Timor Timur
    • Invasi
    • Pendudukan
    • Genosida
    • Pembantaian Santa Cruz
  • ASEAN

Kejatuhan
  • Latar belakang
  • Peristiwa 27 Juli
  • Krisis finansial Asia 1997
  • Penembakan Trisakti
  • Buruh Tani
  • Kerusuhan Mei 1998
  • Pengunduran diri

Pasca-kepresidenan
  • Tuduhan korupsi
  • Penyakit dan kematian
  • Pahlawan nasional

Keluarga
  • Siti Hartinah (istri dan Ibu Negara)
  • Anak
    • Siti Hardijanti Rukmana
    • Sigit Harjojudanto
    • Bambang Trihatmodjo
    • Siti Hediati Hariyadi
    • Hutomo Mandala Putra
    • Siti Hutami Endang Adiningsih



Galeri: Gambar, Suara, Video
  • l
  • b
  • s

Soeharto[a] (8 Juni 1921 – 27 Januari 2008) adalah seorang perwira militer dan politikus yang menjabat sebagai Presiden Indonesia kedua. Pemerintahannya selama 31 tahun dan 70 hari membuatnya menjadi presiden dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Indonesia.

Soeharto dilahirkan di Kemusuk, dekat kota Yogyakarta, pada masa kolonial Belanda.[3] Dia tumbuh dalam lingkungan yang sederhana.[4] Orang tuanya bercerai tidak lama setelah ia lahir, dan ia tinggal bersama orang tua angkatnya selama sebagian besar masa kecilnya. Selama pendudukan Jepang di Hindia Belanda, Soeharto bertugas di pasukan keamanan Indonesia yang diorganisasi oleh Jepang. Selama perjuangan kemerdekaan Indonesia, ia bergabung dengan Tentara Indonesia yang baru dibentuk dan naik pangkat menjadi mayor jenderal beberapa waktu setelah kemerdekaan penuh Indonesia tercapai.

Upaya kudeta oleh pasukan Cakrabirawa pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 digagalkan oleh pasukan yang dipimpin Soeharto. Tentara kemudian memimpin pembersihan antikomunis yang brutal di seluruh negeri. Sejarawan menyebutkan, setidaknya 500.000 nyawa rakyat Indonesia yang dianggap beraliran kiri dan komunis dibunuh atas orkestrasi Tentara dan Soeharto.[5][6][7]

Pada bulan Maret 1967, MPRS mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden, dan ia dilantik sebagai Presiden pada tahun berikutnya.[8] Ketika Suharto berkuasa, inflasi mencapai lebih dari 650%. Ia menunjuk kelompok penasihat ekonomi yang menerapkan kebijakan pasar bebas, dan pada tahun 1969 negara tersebut memasuki periode stabilitas harga.[9] Soeharto memerintahkan invasi Timor Timur pada tahun 1975, diikuti oleh pendudukan negara itu dan genosida yang mematikan selama 23 tahun.[10]

Di bawah pemerintahan Orde Baru-nya, Soeharto membangun pemerintahan yang kuat, tersentralisasi, dan didominasi militer. Apa yang dimulai sebagai oligarki kediktatoran militer berkembang menjadi rezim otoriter personalistik yang berpusat di sekelilingnya.[11] Kemampuannya untuk menjaga stabilitas di Indonesia yang luas dan beragam serta sikapnya yang tegas anti-komunis membuatnya memperoleh dukungan ekonomi dan diplomatik dari Barat selama Perang Dingin.

Periode Orde Baru ditandai dengan stabilitas, baik dalam ekonomi, politik, maupun keamanan negara. Sekolah, jalan, irigasi, sampai bendungan banyak dibangun pada masa itu.[12] Televisi bicara soal pembangunan dan capaian pemerintah Soeharto. Namun dibalik ketenangan tersebut, kekuasaan terkonsentrasi kepada keluarga Soeharto.[12] Nilai kekayaan tidak sah Soeharto dan keluarganya ditaksir mencapai US$ 15-35 miliar, setara Rp 400-1000 triliun dalam nilai rupiah Rp 16.000.[13]

Birokrasi yang sekarang panjang dan koruptif merupakan warisan pemerintahan Orde Baru. Inefisiensi birokrasi dan pemerintahan oleh banyak ahli dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut simulasi ekonomi, jika pemerintahan pada saat itu bersih, Indonesia sudah menjadi negara maju pada awal 2000-an. Potensi yang hilang pada periode tersebut setara 7.000-8.000 triliun rupiah dalam nilai rupiah Rp.16.000.[13]

Selama sebagian besar masa jabatannya, Indonesia mengalami industrialisasi yang signifikan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan taraf pendidikan, dan kebangkitan kewirausahaan dalam negeri.[14][15] Oleh karena itu, pada tahun 1982, ia ditetapkan sebagai “Bapak Pembangunan” oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).[16][17] Pada tahun 1986, Soeharto dianugerahi Medali Ceres oleh FAO atas upayanya mencapai swasembada beras.[18] Pada tahun 1990-an, meningkatnya otoritarianisme Orde Baru dan dugaan korupsi yang meluas,[19][20] menjadi sumber ketidakpuasan, dan setelah krisis keuangan Asia 1997 yang menyebabkan kerusuhan yang meluas, ia mengundurkan diri pada Mei 1998.

Soeharto meninggal pada bulan Januari 2008 dan menerima pemakaman militer kenegaraan dengan penghormatan penuh. Pemerintah Indonesia mengumumkan masa berkabung nasional selama seminggu dan banyak pemimpin dunia memberikan penghormatan terakhir kepadanya.[21][22][23]

Masa jabatan presiden Soeharto selama 31 tahun dan warisannya sangat memecah belah, terutama tekanan Soeharto terhadap etnis China dan masyarakat minoritas.[24] Sampai saat ini, ia tetap menjadi tokoh kontroversial di kalangan masyarakat umum Indonesia. Ia dipuji karena menjadikan Indonesia sebagai kisah sukses ekonomi, membawa stabilitas ke kawasan tersebut, khususnya selama periode Perang Dingin, dan memimpin Indonesia ketika negara itu memainkan peran penting dalam urusan internasional.[21][22][25] Namun, ada pula yang mengecam pemerintahan otoriternya,[26][27][28] dugaan korupsi,[b] dan pelanggaran hak asasi manusia yang luas (seperti pembersihan antikomunis yang kejam sebelum pemerintahannya dan penindasan budaya Tionghoa di Indonesia).[32][33][34]

Rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dipertimbangkan oleh Pemerintah Indonesia, serta menuai pro dan kontra.[35][36][37] Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto, menantunya memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.[38][39]

Keluarga

Orang tua

Lukisan Ny Sukirah, Ibu Kandung Soeharto.
Artikel utama: Keluarga Soeharto

Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921 dari seorang wanita yang merupakan ibunya, yang bernama Sukirah di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Kelahiran itu dibantu dukun beranak bernama Mbah Kromodiryo yang juga adalah adik kakek Sukirah, Mbah Kertoirono.[40]

Dalam autobiografinya, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, yang disusun G. Dwipayana, Sukirah digambarkan oleh Soeharto sebagai ibu muda yang sedang sulit memikirkan masalah-masalah rumah tangga. Namun, banyak catatan di buku-buku sejarah Soeharto lain yang banyak menyebutkan Sukirah sedang mengalami masalah mental yang amat sulit.[41] Sebelum Soeharto (yang lahir 8 Juni 1921) berumur 40 hari, Sukirah harus menghadapi talak suaminya, Kertosudiro.[42]

Kertosudiro, seorang mantri ulu-ulu (pengatur irigasi) miskin yang kelak sebagai ayah Soeharto, tidak memainkan peran banyak dalam kehidupan Soeharto. Bahkan, banyak pengamat Soeharto, seperti R.E. Elson, beberapa biografer dan orang dekatnya, termasuk mantan Menteri Penerangan yang dekat dengan Soeharto, Mashuri, meyakini bahwa Kertosudiro bukanlah ayah kandung Soeharto.[41] Pada tahun 1974, pernah muncul pemberitaan yang menghebohkan dari majalah gosip bernama ‘POP’ dengan liputan yang menurunkan kisah lama yang beredar bahwa Soeharto adalah anak dari Padmodipuro, seorang bangsawan dari trah Hamengkubowono II.[41] Soeharto kecil yang berumur 6 tahun dibuang ke desa dan diasuh oleh Kertosudiro. Hal ini kemudian dibantah keras oleh Soeharto. Dengan separuh murka, Soeharto mengadakan konferensi pers di Bina Graha bahwa liputan mengenai asal-usul dirinya yang anak bangsawan bisa saja merupakan tunggangan untuk melakukan subversif. Soeharto dengan caranya sendiri ingin mengesankan bahwa dia adalah anak desa.[41]

Ketidakjelasan asal-usul Soeharto secara genealogi sampai sekarang masih belum terpecahkan.[41] Namun, dari semua itu, bayi Soeharto berada di dunia dengan kondisi keluarga yang kurang menguntungkan. Sukirah yang tertekan dan senang bertapa pernah ditemukan hampir mati di suatu tempat karena memaksa dirinya berpuasa ngebleng (tidak makan dan minum selama 40 hari) di suatu tempat yang tersembunyi, dan hilangnya sempat pernah membuat panik penduduk desa Kemusuk sehingga para penduduk mencarinya.[41] Sadar dengan kondisi Sukirah yang kurang baik, keluarga Sukirah akhirnya memutuskan untuk menyerahkan pengurusan bayi Soeharto kepada kakak perempuan Kertosudiro.[41]

Sukirah menikah lagi dengan Pramono dan dikaruniai tujuh anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo.

Istri dan anak-anak

Foto keluarga Soeharto
Artikel utama: Keluarga Soeharto

Pada bulan Oktober 1947, Soeharto didatangi oleh keluarga Prawirowihardjo yang tidak lain merupakan paman sekaligus orang tua angkatnya. Mereka berencana menjodohkan Soeharto dengan Raden Ayu Siti Hartinah, anak KRMT Soemoharyomo. Soemoharyomo adalah seorang Wedana di Solo. Soeharto yang kala itu sudah berusia 26 tahun mengaku belum memiliki calon, bahkan ia juga belum pernah menjalin hubungan asmara dengan wanita manapun. Keluarganya khawatir jika Soeharto bakal menjadi bujang lapuk, mengingat mereka telah lama mengenal sifat Soeharto yang sangat pendiam, pasif dan cenderung pemalu. Akhirnya, rencana perjodohan keluarga Prawirodihardjo tersebut berjalan dengan lancar.[43]

Soeharto muda yang sibuk memperjuangkan kemerdekaan, sehingga tak sempat mencari pasangan.

Tanpa melalui proses pacaran, perkawinan antara Letnan Kolonel (Letkol) Soeharto dengan Siti Hartinah (yang kemudian dikenal dengan Tien Soeharto) segera dilangsungkan pada 26 Desember 1947 di Solo. Ketika itu, usia Soeharto 26 tahun, sedangkan Siti Hartinah berusia 24 tahun. Pasangan ini dikarunia enam putra-putri, yaitu Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).[44].

Biografi

Masa kecil dan pendidikan

Lokasi Soeharto dilahirkan, Dusun Kemusuk, Yogyakarta pada tahun 1921.

Soeharto tidak seperti anak desa lainnya yang harus bekerja di sawah. Dalam usia yang sangat muda, ia disekolahkan oleh Kertosudiro.[41] Tidak ada berita-berita mengenai masa Soeharto di Sekolah Rakyat (setingkat SD). Kesan Soeharto pada masa SD itu hanya pada ingatannya tentang kerbau-kerbaunya. Dunia Soeharto hanya berkutat pada penggembalaan kerbau, jauh dari cerita-cerita anak yang didapat dari buku-buku yang kerap dibaca anak-anak SD. Hal ini berbeda misalnya dengan cerita Soekarno sewaktu dia masih di SD yang banyak berkisah tentang masa sekolahnya dan apa yang dibacanya, begitu juga dengan Hatta dan Sjahrir yang sejak kecil sudah akrab dengan Karl May atau cerita dari novel-novel Charles Dickens.[41]

Masa kecil Soeharto begitu banyak menyimpan kenangan pahit. Bukan hanya pahit, tetapi juga menyakitkan hatinya. Seperti yang dialaminya saat SD, Soeharto kerap menjadi korban perundungan dari kawan-kawannya. Kelak, walau sudah berpuluh-puluh tahun perundungan itu masih terekam dikepalanya. Seperti, ejekan "Den Bagus tahi mabul! Den Bagus tahi mabul" dan "Harto sirah gede!". Hal tersebut membuat Soeharto kecil dikenal sebagai siswa yang sangat pendiam dan tertutup, bahkan paling pendiam di antara kawan-kawan sekolahnya pada kala itu. Selain dengan kawan-kawannya, kenangan menyakitkan juga ia alami dengan buyutnya, Mbah Notosudiro yang memperlakukan Soeharto kecil berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Kenangan pahit dan menyakitkan yang dialami Soeharto kecil, membuatnya bertekad keras untuk menjadi orang yang kaya dan berkedudukan tinggi pada masa depan.[45]

Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan ayah tirinya, Pramono, pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro kemudian memindahkan Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra paling tua dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya.

Kegemaran bertani tumbuh selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Sepulang sekolah, Soeharto belajar mengaji di langgar bersama teman-temannya, bahkan dilakukan sampai semalam suntuk. Ia juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan dan mulai mengenal para pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang sampai ke desa.

Setamat Sekolah Rendah (SR) empat tahun, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Setelah berusia 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah Hardjowijono. Hardjowijono adalah teman ayahnya yang merupakan pensiunan pegawai kereta api. Hardjowijono juga seorang pengikut setia Kiai Darjatmo, tokoh agama terkemuka di Wonogiri waktu itu.

Karena sering diajak, Soeharto sering membantu Kiai Darjatmo membuat resep obat tradisional untuk mengobati orang sakit. Pada tahun 1935 Soeharto kembali ke kampung asalnya, Kemusuk, untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Hal tersebut dilakukannya karena di sekolah itu siswanya boleh mengenakan sarung dan tanpa memakai alas kaki (sepatu). Pada masa ini Soeharto yang kulino meneng (pendiam) hanya memiliki satu sahabat karib, yaitu Sulardi, adik sepupunya, saudara kandung Sudwikatmono dan teman sekelas Ibu Tien Soeharto saat bersekolah di Ongko Loro. Sulardi setia menemaninya bermain dan berpetualang seperti anak desa di waktu itu.

Riwayat pekerjaan

Setamat SMP pada tahun 1938, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai karena kondisi ekonomi. Soeharto pun berusaha mencari pekerjaan ke sana ke mari, tetapi gagal. Ia kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Ia pun mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu klerek/ clerk (pegawai) pada sebuah Bank Desa (Volks Bank), Soeharto pun bekerja dengan mengikuti sang klerek berkeliling kampung menggunakan sepeda dan pakaian Jawa lengkap, kain blankon serta baju beskap. Kariernya sebagai pembantu klerek pun tamat dalam waktu singkat ketika kainnya sobek usai turun dari sepeda yang sudah reot. Kain itu tersangkut pada sadel yang menonjol keluar. Padahal itu adalah satu-satunya kain yang bisa dipakainya untuk bekerja. Saat itu dia dicela klerek dan dimarahi sang bibi, Ibu Prawirowihardjo. Sejak itu, Soeharto yang kelak memimpin Indonesia menjadi pengangguran lagi.[46]

Hari-harinya diisi dengan kegiatan gotong-royong, membantu keluarga dan sesekali bekerja serabutan. Ia terus mencoba untuk melamar berbagai pekerjaan, seperti melamar menjadi pegawai kereta api hingga melamar sebagai pegawai bank milik Belanda di Semarang, tetapi hasilnya selalu gagal.[47] Pada masa inilah Soeharto terus mengasah kemampuan spiritualnya dengan cara menjalani tirakat, seperti berpuasa sebagai wujud laku prihatin.

Setelah bertahun-tahun mencari pekerjaan, Soeharto di ajak seorang temannya dari Wonogiri untuk mendaftar pada Angkatan Laut Kerajaan Belanda dengan posisi sebagai juru masak kapal, ia tidak terlalu tertarik pada posisi tersebut, terlebih pada saat yang bersamaan, yaitu awal tahun 1940 ia mendengar kabar akan di buka lowongan pendidikan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL) atau Korps Pendidikan Perwira Cadangan di Bandung. Ia mencoba mendaftar, tetapi gagal. Cita-citanya menjadi perwira kandas pada saat itu, Soeharto pun kembali menganggur.[48]

Soeharto tak putus asa, suatu hari pada pertengahan tahun 1940 ia membaca pengumuman penerimaan Bintara KNIL di Gombong, Jawa Tengah. Ia mendaftarkan diri dan diterima, ia resmi menjadi tentara pada usia 21 tahun (1942). Waktu itu, ia hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan karena Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke Dusun Kemusuk. Justru di sinilah, karier militernya dimulai.

Karier militer

Mayor Soeharto pada tahun 1946, ketika itu menjabat Komandan Resimen di Yogyakarta.
Mayor Jenderal Soeharto pada tahun 1962, ketika itu menjabat Panglima Komando Mandala.

Pada 1 Juni 1940, ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia tamat sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong. Soeharto resmi bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL saat Perang Dunia II sedang berkecamuk. Ia dikirim ke Bandung untuk menjadi tentara cadangan di Markas Besar Angkatan Darat selama seminggu dengan pangkat sersan.[48]

Nasib Soeharto kembali apes, tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah pada Jepang. Berakhir pulalah kiprahnya di KNIL. Soeharto pun kembali menumpang di rumah bibinya di Wuryantoro, ia kembali menganggur. Pada rentang waktu ini, Soeharto terserang penyakit malaria yang menyebabkan dirinya harus dirawat lama di rumah sakit. Setelah pulih, karena tak memiliki uang dan tidak enak hanya sekadar menumpang, Soeharto meminta bantuan sang paman, Prawirowihardjo yang berprofesi sebagai penyuluh (mantri) tani untuk mencarikannya pekerjaan. Namun, sang paman hanya dapat memberikannya pekerjaan sekadar untuk mendampingi dan mempersiapkan keperluan pekerjaan pamannya sebagai penyuluh pertanian. Soeharto menerima dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk mempelajari Ilmu Pertanian dari sang paman, meski dalam waktu yang singkat.[49]

Bosan menganggur, Soeharto mencoba mendaftar jadi Keibuho atau polisi Jepang pada November 1942. Ia mengaku sedikit takut jika identitasnya sebagai bekas tentara Belanda ketahuan. Namun, akhirnya memberanikan diri mendaftar dan diterima. Dengan cerdik dan hati-hati ia berusaha keras untuk menyembunyikan identitasnya sebagai bekas tentara Belanda. Soeharto lulus pendidikan polisi sebagai salah satu lulusan terbaik. Jelas saja, ia sudah mahir karena pernah mengikuti pendidikan bintara KNIL Belanda.[50]

Saat itulah atasan Soeharto di kepolisian memberi tahu ada pendaftaran Tentara Pembela Tanah Air (PETA), pasukan militer yang disponsori Jepang. Perwira Jepang itu menyarankan Soeharto mendaftar masuk PETA, ia kemudian menjadi perwira magang/pembantu letnan yang berdinas di Karanganyar, Kebumen. Setelah masa percobaannya selesai dan dianggap layak, ia pun mengikuti pendidikan militer lanjutan di Bogor, Jawa Barat, ia diangkat menjadi Chudancho (komandan kompi ). Di asrama Peta Bogor ia tinggal bersama-sama dengan Shodancho Singgih, Putra Panji Singgih teman seperjuangan Soekarno. Berikutnya sebagai Chudanco di Seibu, markas besar PETA di Solo, kemudian dimutasi ke Kaki Gunung Wilis di desa Brebeg Selatan Madiun untuk melatih prajurit PETA.[51]

Pada 17 Agustus 1945 Indonesia resmi mengumumkan kemerdekaan, Soeharto kemudian secara resmi diangkat menjadi anggota TNI per 5 Oktober 1945 dengan pangkat letnan. Tidak lama kemudian, berkat reputasi dan pengalamannya di PETA, Ia kemudian ditunjuk sebagai komandan batalion dengan pangkat mayor. Pada tahun 1946, pangkatnya kembali naik menjadi komandan resimen yang berpangkat letnan kolonel atau overste.[52]

Setelah Perang Kemerdekaan berakhir, ia tetap menjadi Komandan Brigade Garuda Mataram dengan pangkat letnan kolonel. Ia memimpin Brigade Garuda Mataram dalam operasi penumpasan pemberontakan Andi Azis di Sulawesi. Kemudian, ia ditunjuk sebagai Komadan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) Sektor Kota Makassar yang bertugas mengamankan kota dari gangguan eks KNIL/KL.

Pada 1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum yang berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama enam jam. Inisiatif itu muncul atas saran Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada Panglima Besar Soedirman bahwa Brigade X pimpinan Letkol Soeharto segera melakukan serangan umum di Yogyakarta dan menduduki kota itu selama enam jam untuk membuktikan bahwa Republik Indonesia (RI) masih ada.

Pada usia sekitar 32 tahun, tugasnya dipindahkan ke Markas Divisi dan diangkat menjadi Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel (1 Maret 1953). Pada 3 Juni 1956, ia diangkat menjadi Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro di Semarang. Dari Kepala Staf, ia diangkat sebagai pejabat Panglima Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro. Pada 1 Januari 1957, pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel.

Lembaran hitam juga sempat mewarnai perjalanan militernya. Ia pernah dipecat oleh Jenderal Nasution sebagai Pangdam Diponegoro. Peristiwa pemecatan terjadi pada 17 Oktober 1959 tersebut akibat ulahnya yang diketahui menggunakan institusi militernya untuk meminta uang dari perusahaan-perusahan di Jawa Tengah. Kasusnya hampir dibawa ke pengadilan militer oleh Kolonel Ahmad Yani.[53] Atas saran Jenderal Gatot Soebroto saat itu, dia dibebaskan dan dipindahkan ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, Jawa Barat. Pada usia 38 tahun, ia mengikuti kursus C SSKAD (Sekolah Staf dan Komando AD) di Bandung. Sebenarnya, secara kepangkatan Soeharto sudah terlambat untuk mengikuti kursus tersebut, pada saat itu Kursus SSKAD biasanya di ikuti oleh perwira yang berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) yang akan naik pangkat menjadi Kolonel.

Pangkat Soeharto dinaikkan menjadi brigadir jenderal pada 1 Januari 1960. Ia berhasil meraih bintang di pundaknya, meski sebelum lulus kursus di SSKAD hanya pernah mengenyam pendidikan militer setingkat bintara. Banyak para Jenderal kala itu meragukan kualitas intelektualnya untuk menjadi Jenderal. Namun, Soeharto juga dikenal sebagai seorang perwira lapangan yang handal selama masa perjuangan dengan kekuatannya, yaitu pengalaman, kecerdikan, intuisi, kepemimpinan, kecerdasan emosi hingga kejelian/keberuntungannya dalam membaca setiap kesempatan, meskipun Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal/informal yang memadai atau kursus militer di luar negeri. Akhirnya, atas peran Letnan Jenderal Gatot Soebroto Ia diangkat sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat.[54]

Pada 1 Oktober 1961, jabatan rangkap sebagai Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD) yang telah diembannya ketika berusia 40 tahun bertambah dengan jabatan barunya sebagai Panglima Kohanudad (Komando Pertahanan AD). Pada tahun 1961 tersebut, ia juga mendapatkan tugas sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Beograd (Yugoslavia), Paris (Perancis), dan Bonn (Jerman Barat). Di usia 41 tahun, pangkatnya dinaikkan menjadi mayor jenderal (1 Januari 1962) dan menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan merangkap sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur di Makassar. Sepulang dari kawasan Indonesia Timur, Soeharto yang telah naik pangkat menjadi mayor jenderal, ditarik ke markas besar ABRI oleh Jenderal Abdul Haris Nasution.

Di pertengahan tahun 1962, Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga 1965. Sekitar setahun kemudian, tepatnya, 2 Januari 1962, Brigadir Jenderal Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Kemudian ia diangkat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada 1 Mei 1963. Mayor Jenderal Soeharto lalu dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Ia membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengimbangi G-30-S yang berkecamuk pada 1 Oktober 1965. Dua hari kemudian, tepatnya 3 Oktober 1965, Mayjen Soeharto diangkat sebagai Panglima Kopkamtib. Jabatan ini memberikan wewenang besar untuk melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pelaku G-30-S/PKI.

Presiden (1966–1998)

Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar.
Netralitas artikel ini dipertanyakan. Diskusi terkait dapat dibaca pada halaman pembicaraan. Jangan hapus pesan ini sampai kondisi untuk melakukannya terpenuhi. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel utama: Gerakan 30 September
Pasca terjadinya Peristiwa G30S, Mayjen TNI Soeharto mulai masuk ke dalam kabinet. Pada 14 Oktober 1965, ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat.

Pada pagi hari 1 Oktober 1965, beberapa pasukan pengawal Kepresidenan, Tjakrabirawa di bawah Letnan Kolonel Untung Syamsuri bersama pasukan lain menculik dan membunuh enam orang jenderal. Pada peristiwa itu Jenderal A.H. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Hankam dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata berhasil lolos. Satu yang terselamatkan, yang tidak menjadi target dari percobaan kudeta adalah Mayor Jenderal Soeharto. Mayor Jenderal Soeharto tidak masuk target Gerakan 30 September 1965 atau G-30-S PKI karena dia bukan termasuk Jenderal yang secara terbuka menolak permintaan PKI untuk mempersenjatai angkatan ke-5, selain itu Soeharto adalah Jenderal yang tidak diperhitungkan baik oleh pimpinan PKI maupun rekannya di militer ia hanya dianggap sebagai pengikut Jenderal A.H. Nasution yang tidak memiliki potensi untuk memukul percobaan kudeta tersebut.[55] Dalam pandangan DN Aidit, Soeharto hanyalah seorang Jenderal pendiam, penganut kejawen, tidak mengerti politik, opportunis dan tidak punya banyak kawan maupun jaringan, terlebih taraf internasional. Pandangan tersebut beralasan, karena banyak orang memandang Soeharto sebagai Jenderal berpendidikan rendah dibanding Jenderal lainnya yang bahkan banyak di sekolahkan ke luar negeri oleh Soekarno atau A.H. Nasution. Presiden Soekarno pun awalnya memandang remeh Soeharto sebagai seorang Jenderal yang sekadar keras kepala, kaku, kuno, dan sangat pendiam. Hal tersebut di buktikan Soekarno yang sebenarnya memilih Mayjen Pranoto Reksosamudro sebagai pengganti Jenderal Ahmad Yani, ketimbang Soeharto yang lebih senior dari Pranoto.

Beberapa sumber mengatakan, motif Pasukan Tjakrabirawa yang terlibat itu menyatakan bahwa mereka mencoba menghentikan kudeta militer yang didukung oleh CIA yang direncalanakan untuk menyingkirkan Presiden Soekarno dari kekuasaan pada "Hari ABRI", 5 Oktober 1965 oleh badan militer yang lebih dikenal sebagai Dewan Jenderal. Peristiwa ini segera ditanggapi oleh Mayjen Soeharto untuk segera mengamankan Jakarta, menurut versi resmi sejarah pada masa Orde Baru, terutama setelah mendapatkan kabar bahwa Letjen Ahmad Yani, Menteri / Panglima Angkatan Darat tidak diketahui keberadaannya. Hal ini sebenarnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di Angkatan Darat bahwa bila Panglima Angkatan Darat berhalangan hadir, maka Panglima Kostrad yang menjalankan tugasnya. Tindakan ini diperkuat dengan turunnya Surat Perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberikan kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Keputusan yang diambil Soeharto adalah segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekalipun sempat ditentang Presiden Soekarno, penangkapan sejumlah menteri yang diduga terlibat G-30-S (Gerakan 30 September). Tindakan ini menurut pengamat internasional dikatakan sebagai langkah menyingkirkan Angkatan Bersenjata Indonesia yang pro-Soekarno dan pro-Komunis yang justru dialamatkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia di mana jajaran pimpinannya khususnya Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Omar Dhani yang dinilai pro-Soekarno dan Komunis, dan akhirnya memaksa Soekarno untuk menyerahkan kekuasaan eksekutif. Tindakan pembersihan dari unsur-unsur komunis (PKI) membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu "tersangka komunis", kebanyakan warga sipil, dan kekerasan terhadap minoritas Tionghoa Indonesia. Soeharto dikatakan menerima dukungan CIA dalam penumpasan komunis. Diplomat Amerika 25 tahun kemudian mengungkapkan bahwa mereka telah menulis daftar "operasi komunis" Indonesia dan telah menyerahkan sebanyak 5.000 nama kepada militer Indonesia. Been Huang, bekas anggota kedutaan politik AS di Jakarta mengatakan di 1990 bahwa: "Itu merupakan suatu pertolongan besar bagi Angkatan Bersenjata. Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya kemungkinan memiliki banyak darah di tangan saya, tetapi tidak seburuk itu. Ada saatnya di mana anda harus memukul keras pada saat yang tepat." Howard Fenderspiel, ahli Indonesia di State Department's Bureau of Intelligence and Research di 1965: "Tidak ada yang peduli, selama mereka adalah komunis, bahwa mereka dibantai. Tidak ada yang bekerja tentangnya."1 Dia mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia dalam rangka membebaskan sumber daya di militer.

Setelah dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat pada 14 Oktober 1965, ia segera membubarkan PKI dan ormas-ormasnya. Tepat 11 Maret 1966, dia menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno melalui tiga jenderal, yaitu Basuki Rachmat, Amir Machmud, dan M Jusuf. Isi Supersemar sampai saat ini diperdebatkan oleh sejarawan, tetapi pada akhirnya surat ini dianggap memberikan kekuasaan kepada Soeharto untuk dan atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Panglima Besar Revolusi agar mengambil tindakan yang dianggap perlu demi terjaminnya keamanan, ketenangan, serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Sehari kemudian, 12 Maret 1966, Menpangad Letjen Soeharto membubarkan PKI dan menyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S, Sidang Istimewa MPRS pada Maret 1967, Soeharto yang telah menerima kenaikan pangkat sebagai jenderal bintang empat pada 1 Juli 1966 ditunjuk sebagai pejabat presiden berdasarkan Tap MPRS No XXXIII/1967 pada 22 Februari 1967. Selaku pemegang Ketetapan MPRS No XXX/1967, Soeharto kemudian menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden Soekarno. Melalui Sidang Istimewa MPRS, pada 7 Maret 1967, Soeharto ditunjuk sebagai pejabat presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR hasil pemilihan umum.

Jenderal Soeharto ditetapkan sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS. Kemudian, Soeharto menjadi presiden sesuai hasil Sidang Umum MPRS (Tap MPRS No XLIV/MPRS/1968) pada 27 Maret 1968. Selain sebagai presiden, ia juga merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan/Keamanan. Pada 1 Juni 1968 Lama. Mulai saat ini dikenal istilah Orde Baru. Susunan kabinet yang diumumkan pada 10 Juni 1968 diberi nama Kabinet Pembangunan "Rencana Pembangunan Lima Tahun" I. Pada 15 Juni 1968, Presiden Soeharto membentuk Tim Ahli Ekonomi Presiden yang terdiri atas Prof Dr Widjojo Nitisastro, Prof Dr Ali Wardhana, Prof Dr Moh Sadli, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr Soebroto, Dr Emil Salim, Drs Frans Seda, dan Drs Radius Prawiro.

Pada 3 Juli 1971, presiden mengangkat 100 anggota DPR dari Angkatan Bersenjata dan memberikan 9 kursi wakil Provinsi Irian Barat untuk wakil dari Golkar. Setelah menggabungkan kekuatan-kekuatan partai politik, Soeharto dipilih kembali menjadi presiden oleh Sidang Umum MPR (Tap MPR No IX/MPR/1973) pada 23 Maret 1973 untuk jabatan yang kedua kali. Saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendampinginya sebagai wakil presiden.

Pada usia 55 tahun, Soeharto memasuki masa pensiun dari dinas militer (Keppres No 58/ABRI/1974). Pencapaian puncak di dunia politik turut melengkapi kisahnya hidupnya sebagai seorang penguasa. Setelah mencapai posisi pucuk di republik, geliat kekuasaanya mulai metampakkan taringnya. Pada 20 Januari 1978, Presiden Soeharto melarang terbit tujuh surat kabar, yaitu Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi, dan Pos Sore. Beberapa di antaranya kemudian meminta maaf kepada Soeharto.

Pada 22 Maret 1978, Soeharto dilantik kembali presiden untuk periode ketiga kalinya dan Adam Malik sebagai wakil presiden. Sidang Umum MPR 1 Maret 1983 memutuskan memilih kembali Soeharto sebagai presiden dan Umar Wirahadikusumah sebagai wakil presiden. Melalui Tap MPR No V tahun 1983, MPR mengangkat Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Republik Indonesia. Pada 16 Maret 1983, Presiden Soeharto mengumumkan susunan Kabinet Pembangunan IV yang terdiri atas 21 menteri, tiga menteri koordinator, delapan menteri muda, dan tiga pejabat setingkat menteri. Pada 1 Januari 1984, Presiden Soeharto mengisi formulir keanggotaan Golkar dan sejak itu ia resmi menjadi anggota Golkar.

Beberapa pengamat politik baik dalam maupun luar negeri mengatakan bahwa Soeharto membersihkan parlemen dari komunis, menyingkirkan serikat buruh dan meningkatkan sensor. Dia juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok dan menjalin hubungan dengan negara barat dan PBB. Dia menjadi penentu dalam semua keputusan politik.

Jenderal Soeharto dikatakan meningkatkan dana militer dan mendirikan dua badan intelijen: Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dan Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin). Sekitar 2 juta orang dieksekusi dalam pembersihan massal dan lebih dari 200.000 ditangkap hanya karena dicurigai terlibat dalam kudeta. Banyak komunis, tersangka komunis dan yang disebut "musuh negara" dihukum mati (meskipun beberapa hukuman ditunda hingga 1990).

Diduga bahwa daftar tersangka komunis diberikan ke tangan Soeharto oleh CIA. Sebagai tambahan, CIA melacak nama dalam daftar ini ketika rezim Soeharto mulai mencari mereka. Dukungan yang tidak dibicarakan ini dari Pemerintah Amerika Serikat untuk rezim Soeharto tetap diam sampai invasi Timor Timur, dan terus berlangsung sampai akhir 1990-an. Karena kekayaan sumber daya alamnya dan populasi konsumen yang besar, Indonesia dihargai sebagai rekan dagang Amerika Serikat dan begitu juga pengiriman senjata tetapi dipertahankan ke rezim Soeharto. Ketika Soeharto mengunjungi ke Washington pada 1995 pejabat administratif Clinton dikutip di New York Times mengatakan bahwa Soeharto adalah "orang seperti kita" atau "orang golongan kita".

Pada 12 Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden Indonesia oleh MPR Sementara. Setahun kemudian, pada 27 Maret 1968 dia resmi diangkat sebagai Presiden untuk masa jabatan lima tahun yang pertama. Dia secara langsung menunjuk 20% anggota MPR. Partai Golkar menjadi partai favorit dan satu-satunya yang diterima oleh pejabat pemerintah. Indonesia juga menjadi salah satu pendiri ASEAN.

Ekonomi Indonesia benar-benar amburadul di pertengahan 1960-an. Soeharto pun kemudian meminta nasihat dari tim ekonom hasil didikan Barat yang banyak dikenal sebagai "mafia Berkeley". Tujuan jangka pendek pemerintahan baru ini adalah mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai rupiah, memperoleh hutang luar negeri, serta mendorong masuknya investasi asing. Dan untuk satu hal ini, kesuksesan mereka tidak bisa dimungkiri. Peran Soedjono Hoemardani sebagai asisten finansial besar artinya dalam pencapaian ini.

Di bidang sosial politik, Soeharto menyerahkannya kepada Ali Moertopo sebagai asisten untuk masalah-masalah politik. Menghilangkan oposisi dengan melemahkan kekuatan partai politik dilakukan melalui fusi dalam sistem kepartaian.

Gambar Presiden Soeharto pada uang pecahan 50.000 edisi penerbitan khusus 1993

Di Roma, Italia, 14 November 1985. Musim dingin yang membekap Kota Roma ketika itu turut menggigit tubuh setiap peserta Konferensi ke-23 Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Tidak kurang dari 165 negara anggota mengirimkan wakilnya ke perhelatan yang membetot perhatian mata dunia terhadap Indonesia kala itu. Presiden Soeharto yang sukses mengantarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar di dunia menjadi swasembada didapuk maju ke podium untuk memberikan pidatonya. Dia menyerahkan bantuan satu juta ton padi kering (gabah) dari para petani untuk diberikan kepada rakyat Afrika yang mengalami kelaparan.[56]

Foto resmi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1973–1978

“Jika pembangunan di bidang pangan ini dinilai berhasil, itu merupakan kerja raksasa dari seluruh bangsa Indonesia,” kata Presiden Soeharto dalam pidatonya. Karena itu, FAO mengganjar keberhasilan itu dengan penghargaan khusus berbentuk medali emas pada 21 Juli 1986. Prestasi Soeharto di bidang pertanian memang fantastik atau dahsyat. Indonesia mengecap swasembada besar mulai 1984. Produksi besar pada tahun itu mencapai 25,8 juta ton. Padahal, data 1969 beras yang dihasilkan Indonesia hanya 12,2 juta ton. Hasil itu memaksa Indonesia mengimpor beras minimal 2 juta ton.[57]

Foto resmi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1978–1983

Sebab itu, pada 10 Maret 1988, Soeharto kembali terpilih sebagai presiden oleh MPR yang kelima kalinya. Posisi wakil presiden diserahkan kepada Sudharmono setelah bersaing dengan DR H Jaelani Naro SH Ketua Umum DPP PPP Sekali lagi, mata dunia tertuju lagi kepada seorang Soeharto.

Foto resmi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1983–1988
Foto resmi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1988–1993
Foto resmi Presiden Soeharto yang terpampang di Istana Negara 1988-1998

Sebab itu, pada 14 September 1991, Presiden Soeharto menolak permintaan Amerika Serikat untuk memperoleh pangkalan militer di Indonesia setelah pindah dari Filipina. Soeharto dipilih oleh MPR sebagai presiden untuk yang keenam kalinya pada 10 Maret 1993. Kali ini, Try Sutrisno sebagai wakil presiden. Setelah enam kali berturut-turut ditetapkan MPR sebagai presiden, Soeharto mulai menyatakan jika dirinya tidak berambisi menjadi presiden seumur hidup (12 Maret 1994). Pada kepemimpinannya periode ini, Presiden Soeharto memberhentikan Prof Dr Satrio Budiharjo Joedono selaku Menteri Perdagangan sebelum akhir masa jabatan (6 Desember 1995).

Soeharto yang mengawali kekuasaannya sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 dan menjadi presiden pada 27 Maret 1968 terus menggenggam jabatan itu selama 31 tahun. Semula ada yang memperkirakan bahwa Soeharto akan menolak pencalonannya kembali sebagai presiden untuk periode yang keenam pada tahun 1998 setelah istrinya meninggal dunia pada 28 April 1996. Perkiraan itu ternyata keliru. Ketika usianya mencapai 75 tahun, ia bukan saja bersedia untuk dicalonkan kembali tetapi menerima untuk diangkat kembali sebagai presiden untuk periode 1998–2003. Ia menerima penganugerahan Bintang Lima atau Pangkat Jenderal Besar saat berusia 76 tahun (29 September 1997).

Pada 25 Juli 1996, Presiden Soeharto menerima PDI pimpinan Soerjadi dan menolak kepemimpinan Megawati Soekarnoputri untuk memimpin Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Dua hari kemudian terjadi Peristiwa 27 Juli.

Upaya mengatasi krisis dan meredam oposisi

Krisis moneter yang melanda Asia pada tahun 1997 menerpa juga ke Indonesia. Bahkan, krisis itu menerjang juga sektor krisis ekonomi. Pada 8 Oktober 1997, Presiden meminta bantuan IMF dan Bank Dunia untuk memperkuat sektor keuangan dan menyatakan badai pasti berlalu. Presiden minta seluruh rakyat tetap tabah dalam menghadapi gejolak krisis moneter (29 November 1997).[58]

Di tengah krisis ekonomi yang parah dan adanya penolakan yang cukup tajam, pada 10 Maret 1998, MPR mengesahkan Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya. Kali ini, Prof Ing BJ Habibie sebagai wakil presiden. Pada 17 Maret 1998, ia menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya sebagai presiden dan meminta kerelaan para pejabat tinggi lainnya untuk menyerahkan gaji pokoknya selama satu tahun dalam rangka krisis moneter.

Menghadapi tuntutan untuk mundur, pada 1 Mei 1998, Soeharto menyatakan bahwa reformasi akan dipersiapkan mulai tahun 2003. Ketika di Mesir pada 13 Mei 1998, Presiden Soeharto menyatakan bersedia mundur kalau memang rakyat menghendaki dan tidak akan mempertahankan kedudukannya dengan kekuatan senjata. Sebelas menteri bidang ekonomi dan industri (ekuin) Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri (20 Mei 1998). Krisis moneter dan ekonomi benar-benar menggerogoti sistem kepemimpinannya. Dampaknya, Soeharto tidak bisa bertahan di pucuk kepemimpinan negeri.

Hanya berselang 70 hari setelah diangkat kembali menjadi presiden untuk periode yang ketujuh kalinya, Soeharto terpaksa mundur dari jabatannya sebagai presiden. Presiden Soeharto lengser tepat 21 Mei 1998. Tepat pukul 09.00 WIB (Waktu Indonesia Barat), Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai presiden. Layar kaca televisi saat itu menyiarkan secara langsung detik per detik proses pengunduran dirinya.

Tanggal 12-20 Mei 1998 menjadi periode yang teramat panjang. Bagaimanapun, masa-masa itu kekuasaannya semakin tergerus oleh berbagai aksi dan peristiwa. Aksi mahasiswa menyebar ke seantero negeri. Ribuan mahasiswa menggelar aksi keprihatinan di berbagai tempat. Mahasiswa Trisakti, Jakarta menggelar aksinya tidak jauh dari kampus mereka. Peserta aksi mulai keluar dari halaman kampus dan memasuki jalan arteri serta berniat datang ke Gedung MPR/DPR yang memang sangat stategis. Tanggal 12 Mei 1998 sore, terdengar siaran berita meninggalnya empat mahasiswa Trisakti.

Sehari kemudian, tanggal 13 Mei 1998, jenasah keempat mahasiswa yang tewas diberangkatkan ke kediaman masing-masing. Mahasiswa yang hadir menyanyikan lagu Gugur Bunga. Tewasnya para mahasiswa disiarkan secara luas melalui pemberitaan radio, televisi, dan surat kabar. Tewasnya keempat mahasiswa seakan sebagai ledakan suatu peristiwa yang lebih besar. Kamis, 14 Mei 1998, ibu kota negara (Jakarta) dilanda kerusuhan hebat. Tanggal 15 Mei 1998, pesawat yang membawa Presiden Soeharto dan rombongan mendarat menjelang pukul 05.00 WIB pagi di pangkalan udara utama TNI AU Halim Perdanakusuma dari kunjungan ke Kairo, Mesir untuk mengikuti Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 15 (Group 15/G-15).

Tanggal 16 Mei 1998, Presiden mengadakan serangkaian pertemuan termasuk berkonsultasi dengan unsur pimpinan DPR. Tanggal 17 Mei 1998, Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Abdul Latief mengajukan surat pengunduran diri sebagai menteri. Tanggal 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa mendatangi Gedung MPR/DPR. Aksi tersebut berakhir seiring dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Mereka yang tewas adalah dua mahasiswa angkatan 1995 dan dua mahasiswa angkatan 1996. Angkatan 1995 terdiri dari Hery Hartanto (Fakultas Teknik Industri Jurusan Mesin) dan Hafidhin Alifidin Royan (Fakultas Teknik Industri Jurusan Mesin). Sedang, mahasiswa yang tewas angkatan 1996 adalah Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur) dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen) .

Soeharto membangun dan memperluas konsep "Jalan Tengah"-nya Jenderal Nasution menjadi konsep dwifungsi untuk memperoleh dukungan basis teoretis bagi militer untuk memperluas pengaruhnya melalui pejabat-pejabat pemerintahan, termasuk cadangan alokasi kursi di parlemen dan pos-pos utama dalam birokrasi sipil. Peran dwifungsi ini adalah peran militer di bidang politik yang permanen.

Sepak terjang Ali Murtopo dengan badan inteligennya mulai mengancam Soeharto. Persaingan antara Ali Moertopo dan Sumitro dipergunakan untuk menyingkirkan Ali. Namun Sumitro pun segera ditarik dari jabatannya dan kendali Kopkamtib dipegang langsung oleh Soeharto karena dianggap potensial mengancam. Beberapa bulan setelah peristiwa Malari sebanyak 12 surat kabar ditutup dan ratusan rakyat Indonesia termasuk mahasiswa ditangkap dan dipenjarakan.

Pada 1978 untuk mengeliminir gerakan mahasiswa maka segera diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kebijakan ini ditentang keras oleh banyak organisasi mahasiswa. Hubungan kegiatan mahasiswa dengan pihak kampus hanyalah kepada mereka yang diperbolehkan pemerintah lewat mekanisme kontrol dekanat dan rektorat.

Mulut pers pun dibungkam dengan lahirnya UU Pokok Pers No. 12 tahun 1982. UU ini mengisyaratkan adanya restriksi atau peringatan mengenai isi pemberitaan ataupun siaran. Organisasi massa yang terbentuk harus memperoleh izin pemerintah dengan hanya satu organisasi profesi buatan pemerintah yang diperbolehkan berdiri. Sehingga organisasi massa tak lebih dari wayang-wayang Orde Baru.

Kemudian pada tahun 1979–1980 muncul sekelompok purnawirawan perwira tinggi angkatan bersenjata dan tokoh-tokoh sipil yang dikenal kritis, yang tergabung dalam Petisi 50, mengeluarkan serial selebaran yang mengeluhkan sikap politik pemerintah Orde Baru yang menjadikan Angkatan Darat sebagai pendukung kemenangan Golkar, serta menuntut adanya reformasi politik. Sebagai balasannya, pemerintah mencekal mereka. Kelompok ini pun gagal serta tak pernah mampu tampil lagi sebagai kelompok oposisi yang efektif terhadap pemerintahan Orde Baru.

Puncak Orde Baru

Pelantikan Presiden Soeharto.

Pada masa pemerintahannya, Presiden Soeharto menetapkan pertumbuhan ekonomi sebagai pokok tugas dan tujuan pemerintah. Dia mengangkat banyak teknokrat dan ahli ekonomi yang sebelumnya bertentangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung bersifat sosialis. Teknokrat-teknokrat yang umumnya berpendidikan barat dan liberal (Amerika Serikat) diangkat adalah lulusan Berkeley sehingga mereka lebih dikenal di dalam klik ekonomi sebagai Mafia Berkeley di kalangan Ekonomi, Industri dan Keuangan Indonesia. Pada masanya, Indonesia mendapatkan bantuan ekonomi dan keuangan dari negara-negara donor (negara-negara maju) yang tergabung dalan IGGI yang diseponsori oleh pemerintah Belanda. Namun pada tahun 1992, IGGI dihentikan oleh pemerintah Indonesia karena dianggap turut campur dalam urusan dalam negeri Indonesia, khususnya dalam kasus Timor Timur pasca Insiden Dili. Peran IGGI ini digantikan oleh lembaga donor CGI yang disponsori Prancis. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada di bawah PBB seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. Dalam bidang ekonomi juga, tercatat Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Namun prestasi itu ternyata tidak dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Kemudian kemajuan ekonomi Indonesia saat itu dianggap sangat signifikan sehingga Indonesia sempat dimasukkan dalam negara yang mendekati negara-negara Industri Baru bersama dengan Malaysia, Filipina dan Thailand, selain Singapura, Republik Tiongkok, dan Korea Selatan.

Di bidang politik, Presiden Soeharto melakukan penyatuan partai-partai politik sehingga pada masa itu dikenal tiga partai politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam upayanya menyederhanakan kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai akibat dari politik masa presiden Soekarno yang menggunakan sistem multipartai yang berakibat pada jatuh bangunnya kabinet dan dianggap penyebab mandeknya pembangunan. Kemudian dikeluarkannnya UU Politik dan Asas tunggal Pancasila yang mewarnai kehidupan politik saat itu. Namun dalam perjalanannya, terjadi ketimpangan dalam kehidupan politik di mana muncullah istilah "mayoritas tunggal" di mana Golkar dijadikan partai utama dan "mengebiri" dua parpol lainnya dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Berbagai ketidakpuasan muncul, tetapi dapat diredam oleh sistem pada masa itu.

Seiring dengan naiknya taraf pendidikan pada masa pemerintahannya karena pertumbuhan ekonomi, muncullah berbagai kritik dan ketidakpuasan atas ketimpangan ketimpangan dalam pembangunan. Kesenjangan ekonomi, sosial dan politik memunculkan kalangan yang tidak puas dan menuntut perbaikan. Kemudian pada masa pemerintahannya, tercatat muncul peristiwa kekerasan di masyarakat yang umumnya sarat kepentingan politik, selain memang karena ketidakpuasan dari masyarakat.

Mundur dari jabatan presiden

Artikel utama: Kejatuhan Soeharto
Foto resmi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1998–2003
Pada 21 Mei 1998, setelah tekanan politik besar dan beberapa demonstrasi, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di televisi.
Kejatuhan Presiden Soeharto
Potongan pidato pengunduran diri Soeharto, Kamis 21 Mei 1998.

Bermasalah memainkan berkas ini? Lihat bantuan media.

Pada 1997, menurut Bank Dunia, 20 sampai 30% dari dana pengembangan Indonesia telah disalahgunakan selama bertahun-tahun. Krisis finansial Asia pada tahun yang sama tidak membawa hal bagus bagi pemerintahan Presiden Soeharto ketika ia dipaksa untuk meminta pinjaman, yang juga berarti pemeriksaan menyeluruh dan mendetail dari IMF. Foto Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus bersedekap di samping Soeharto yang menandatangani Letter of Intent pinjaman USD 43 miliar dari IMF menjadi viral karena menunjukkan keangkuhan yang seakan memberi makna kalau Indonesia tak berdaya dan telah jatuh ke tangan IMF.[59]

Meskipun sempat menyatakan untuk tidak dicalonkan kembali sebagai Presiden pada periode 1998–2003, terutama pada acara Golongan Karya, Soeharto tetap dipilih kembali oleh MPR dalam Sidang Umum pada bulan Maret 1998. Setelah beberapa demonstrasi, kerusuhan dan pembantaian rakyat, tekanan politik dan militer, dan berpuncak pada pendudukan gedung DPR/MPR, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 untuk menghindari perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia. Pemerintahan dilanjutkan oleh Wakil Presiden B. J. Habibie, yang menjadi presiden.

Dalam pemerintahannya yang berlangsung selama 32 tahun lamanya, telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi dan pelanggaran HAM. Hal ini merupakan salah satu faktor berakhirnya era Soeharto.

Di Credentials Room Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Soeharto membacakan pidato yang terakhir kali sebagai berikut:

Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi perlu dilaksanakan secara tertib, damai, dan konstitusional.

Demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.
Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.
Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis, 21 Mei 1998.
Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI saya sampaikan di hadapan saudara-saudara pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan MPR pada kesempatan silaturahmi. Sesuai Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden RI, Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998–2003. Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945.

Mulai hari ini pula Kabinet Pembangunan VII demisioner dan kepada para menteri saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya saudara wakil presiden sekarang juga akan melaksanakan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung RI.

Mantan Presiden kedua H.M. Soeharto didampingi putrinya Siti Hardiyanti Rukmana meninggalkan Istana Merdeka beberapa saat setelah ia mengundurkan diri sebagai Presiden pada 21 Mei 1998.

Sesaat kemudian, Presiden Soeharto menyerahkan pucuk pimpinan negeri kepada Prof. Dr. Ing. BJ Habibie. Setelah melaksanakan sumpah jabatan, akhirnya BJ Habibie resmi memangku jabatan presiden ke-3 RI. Ucapan selamat datang mulai dari mantan Presiden Soeharto, pimpinan dan wakil-wakil pimpinan MPR/DPR, para menteri serta siapa saja yang turut dalam pengucapan sumpah jabatan presiden ketika itu.

Tak berselang terlalu lama, Menteri Pertahanan Keamanan merangkap Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto membacakan pernyataan sikap, demikian: pertama, memahami situasi yang berkembang dan aspirasi masyarakat, ABRI mendukung dan menyambut baik permintaan berhenti Bapak Soeharto sebagai Presiden RI serta berdasarkan konstitusi mendukung Wakil Presiden Bapak BJ Habibie sebagai Presiden RI.

Kedua, ABRI yang tetap kompak dan satu berharap dan mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menerima kehendak pribadi Presiden Soeharto tersebut yang telah sesuai dengan konstitusi, yakni Pasal 8 UUD 1945.

Ketiga, dalam hal ini, ABRI akan tetap berperan aktif guna mencegah penyimpangan dan hal-hal lain yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Keempat, menjunjung tinggi nilai luhur budaya bangsa, ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan Presiden/Mandataris MPR termasuk Bapak Soeharto beserta keluarganya.

Kelima, ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang, mencegah terjadinya kerusuhan dan tindak kekerasan yang akhirnya akan merugikan masyarakat sendiri.

Kontroversi

Kasus dugaan korupsi

Rumah Cendana yang menjadi simbol kekuasaan Soeharto.
Artikel utama: Kasus dugaan korupsi Soeharto

Setelah Soeharto resmi mundur dari jabatannya sebagai presiden, berbagai elemen masyarakat mulai menuntut agar digelar pengusutan dan pengadilan atas mantan presiden yang bekuasa paling lama di Indonesia itu. Pada 1 September 1998, tim Kejaksaan Agung mengumumkan adanya indikasi penggunaan uang yayasan di bawah pemerintahan mantan Presiden Soeharto. Melalui Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 6 September 1998, Soeharto muncul dan menyatakan bahwa dia tidak mempunyai kekayaan di luar negeri.

Jaksa Agung AM Ghalib dan Menko Wasbang/PAN Hartarto menemuinya di Jalan Cendana (Jakarta) untuk mengklarifikasi penyataan tersebut (21 September 1998). Pada 21 November 1998, Fraksi Karya Pembangunan (FKP) mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan mantan Presiden Soeharto sebagai tahanan kota. Ini merupakan tindak awal pengusutan harta dan kekayaan Soeharto yang diduga berasal dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN).

Pada 3 Desember 1998, Presiden BJ Habibie menginstruksikan Jaksa Agung AM Ghalib segera mengambil tindakan hukum memeriksa mantan Presiden Soeharto. Pada 9 Desember 1998, Soeharto diperiksa tim Kejaksaan Agung di Kejaksaan Tinggi Jakarta sehubungan dengan dana yayasan, program mobil nasional, kekayaan Soeharto di luar negeri, dan kasus Tapos. Majalah Time melansir berita tentang kekayaan Soeharto di luar negeri yang mencapai US$15 miliar (22 Mei 1999). Pada 27 Mei 1999, Soeharto menyerahkan surat kuasa khusus kepada Jaksa Agung AM Ghalib untuk menelisik kekayaannya di Swiss dan Austria, seperti diberitakan Majalah Time. Pada 2 Juni 1999, Soeharto mengadukan Majalah Time ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia atas tuduhan memfitnah pada pemberitaannya. Soeharto menuntut ganti rugi sekitar 27 miliar dollar AS.

Dalam persidangan gugatan akhirnya Mahkamah Agung (MA) memenangkan gugatan mantan Presiden Soeharto terhadap Majalah TIME Asia. Dalam putusan majelis hakim agung yang diketuai Ketua Muda Militer MA, Mayor Jenderal TNI Purnawirawan German Hoediarto dan beranggotakan Bahauddin Qoudry serta M. Taufik, tanggal 31 Agustus 2007 itu, Majalah TIME Asia diperintahkan membayar ganti rugi immateriil senilai Rp 1 triliun kepada HM Soeharto.MA Menangkan Soeharto Lawan Majalah TIME Asia

Soeharto memiliki dan mengetuai tujuh buah yayasan, yaitu Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Yayasan Supersemar, Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais), Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti (Dakab), Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Trikora. Pada 1995, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 1995. Keppres ini menghimbau para pengusaha untuk menyumbang 2 persen dari keuntungannya untuk Yayasan Dana Mandiri.

Hasil penyidikan kasus tujuh yayasan Soeharto menghasilkan berkas setebal 2.000-an halaman. Berkas ini berisi hasil pemeriksaan 134 saksi fakta dan 9 saksi ahli, berikut ratusan dokumen otentik hasil penyitaan dua tim yang pernah dibentuk Kejaksaan Agung, sejak tahun 1999.

Menurut Transparency International, Soeharto menggelapkan uang dengan jumlah terbanyak dibandingkan pemimpin dunia lain dalam sejarah dengan perkiraan 15–35 miliar dolar A.S. selama 32 tahun masa pemerintahannya.[60]

Pada 12 Mei 2006, bertepatan dengan peringatan sewindu Tragedi Trisakti, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah mengeluarkan Surat Keputusan Penghentian Penuntutan (SKPP) perkara mantan Presiden Soeharto, yang isinya menghentikan penuntutan dugaan korupsi mantan Presiden Soeharto pada tujuh yayasan yang dipimpinnya dengan alasan kondisi fisik dan mental terdakwa yang tidak layak diajukan ke persidangan. SKPP itu dikeluarkan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada 11 Mei 2006, tetapi SKPP ini lalu dinyatakan tidak sah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 12 Juni 2006.

Beberapa catatan atas tindakan represif Orde Baru

Presiden Soeharto dinilai memulai penekanan terhadap suku Tionghoa, melarang penggunaan tulisan Tionghoa tertulis di berbagai material tertulis, dan menutup organisasi Tionghoa karena tuduhan simpati mereka terhadap komunis. Selain itu hak-hak politik etnis Tionghoa dibatasi dan agama Kong Hu Cu tidak diakui keberadaannya.

Pada 1970 Soeharto melarang protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi. Sebuah komisi menemukan bahwa korupsi sangat umum. Soeharto menyetujui hanya dua kasus dan kemudian menutup komisi tersebut. Korupsi kemudian menjadi sebuah endemik.

Dia memerintah melalui kontrol militer dan penyensoran media. Dia menguasai finansial dengan memberikan transaksi mudah dan monopoli kepada saudara-saudaranya, termasuk enam anaknya. Dia juga terus memainkan faksi berlainan di militer melawan satu sama lain, dimulai dengan mendukung kelompok nasionalis dan kemudian mendukung unsur Islam.

Presiden Gerald Ford dan Suharto berjabat tangan pada 6 Desember 1975, sehari sebelum invasi ke Timor-Timur yang didukung Amerika Serikat dalam era Perang Dingin.

Pada 1973 dia memenangkan jangka lima-tahun berikutnya melalui pemilihan "electoral college". dan juga terpilih kembali pada 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Soeharto mengubah UU Pemilu dengan mengizinkan hanya tiga partai yang boleh mengikuti pemilihan, termasuk partainya sendiri, Golkar. Oleh karena itu semua partai Islam yang ada diharuskan bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan, sementara partai-partai non-Islam (Katolik dan Protestan) serta partai-partai nasionalis digabungkan menjadi Partai Demokrasi Indonesia.

Pada 1975, dengan persetujuan bahkan permintaan Amerika Serikat dan Australia, ia memerintahkan pasukan Indonesia untuk memasuki bekas koloni Portugal Timor Timur setelah Portugal mundur dan gerakan pro-komunis Fretilin memegang kuasa yang menimbulkan kekacauan di masyarakat Timor Timur sendiri, serta kekhawatiran Amerika Serikat atas tindakan Fretilin yang mendapat dukungan politik Uni Soviet dalam perebutan pengaruh dua negara adikuasa di periode Perang Dingin yang juga memanas di sekitar kawasan Vietnam. Kemudian pemerintahan pro integrasi dipasang oleh Indonesia, dengan bantuan presiden Gerald Ford, yang meminta wilayah tersebut berintegrasi dengan Indonesia untuk menghindari berkembangnya pengaruh komunis di Asia Tenggara.[61][62] Pada 15 Juli 1976, Timor Timur secara menjadi salah satu provinsi di NKRI sampai wilayah tersebut dialihkan ke administrasi PBB pada 1999.

Korupsi menjadi beban berat pada 1980-an. Pada 5 Mei 1980 sebuah kelompok yang kemudian lebih dikenal dengan nama Petisi 50 menuntut kebebasan politik yang lebih besar. Kelompok ini terdiri dari anggota militer, politisi, akademik, dan mahasiswa. Media Indonesia menekan beritanya dan pemerintah mecekal penandatangannya. Setelah pada 1984 kelompok ini menuduh bahwa Soeharto menciptakan negara satu partai, beberapa pemimpinnya dipenjarakan.

Catatan hak asasi manusia Soeharto juga semakin memburuk dari tahun ke tahun. Pada 1993 Komisi HAM PBB membuat resolusi yang mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap pelanggaran hak-hak asasi manusia di Indonesia dan di Timor Timur. Presiden AS Bill Clinton mendukungnya.

Pada 1996 Soeharto berusaha menyingkirkan Megawati Soekarnoputri dari kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), salah satu dari tiga partai resmi. Pada bulan Juni, pendukung Megawati menduduki markas besar partai tersebut. Setelah pasukan keamanan menahan mereka, kerusuhan pecah di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 (peristiwa Sabtu Kelabu) yang dikenal sebagai "Peristiwa Kudatuli" (Kerusuhan Dua Tujuh Juli).

Peninggalan

Bagian dari series mengenai
Konservatisme di Indonesia
Ideologi
  • Islamisme
    • Pan
  • Nasional
  • Otoriter
  • Pancasila
  • Sosial
  • Suhartoisme
  • Tradisional
    • Islam
Prinsip
  • Antikomunisme
  • Ateofobia
  • Elitisme
  • Familialisme
  • Kewenangan
  • Stratifikasi sosial
  • Tatanan sosial

Islamisme

  • Anti-imperialisme
  • Anti-Zionisme
    • Antisemitisme
  • Demokrasi
    • Demokrasi Islam
  • Homofobia
  • Misogini
  • Tradisi

Suhartoisme

  • Dwifungsi
  • Industrialisme
  • Kapitalisme
  • Militerisme
  • Nasionalisme
  • Patriotisme
  • Sekulerisme
  • Sinofobia
  • Ultranasionalisme
Sejarah
  • Aksi 2 Desember
  • Orde Baru
    • Pendudukan Timor Leste oleh Indonesia
    • Penembakan misterius
  • Pembantaian di Indonesia 1965-1966
  • Supersemar
Politikus
  • Ahmad
  • Amin
  • Bakrie
  • Baswedan
  • Batubara
  • Chalid
  • Djojohadikusumo
  • Habibie
  • Hamengkubuwono IX
  • Hamengkubuwono X
  • Hamzah
  • Hartarto
  • Iman
  • Kalla
  • Khouw
  • Laksono
  • Mahendra
  • Matta
  • Mintaredja
  • Moertopo
  • Muzani
  • Rais
  • Rahmadi
  • Sera
  • Soetomo
  • Subianto
  • Sudharmono
  • Suharto
  • T. Suharto
  • Sutrisno
  • Syaikhu
  • Tanjung
  • Tanoesoedibjo
  • Thamrin
  • Wanandi
  • Wirahadikusumah
  • Wiranto
  • Yudhoyono
  • Zon
Partai

Aktif

  • Berkarya
  • Gelora
  • Gerindra
  • Golkar
  • Partai Bulan Bintang
  • Partai Keadilan Sejahtera
  • Partai Kebangkitan Bangsa
  • Partai Masyumi
  • Partai Patriot
  • Partai Persatuan Pembangunan
  • Partai Ummat
  • Perindo

Dibubarkan

  • Chung Hwa Hui
  • Masyumi
  • Nahdatul Ulama
  • Parindra
  • Parmusi
  • Partai Bintang Reformasi
  • Partai Katolik
  • Partai Kebangkitan Nasional Ulama
  • Partai Matahari Bangsa
Organisasi
  • Front Pembela Islam
  • Ikatan Pemuda Karya
  • Muhammadiyah
  • Nahdatul Ulama
  • Pemuda Pancasila
  • Persatuan Tarbiyah Islamiyah
Topik terkait
  • Politik di Indonesia
  •  Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s

Bidang politik

Sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto telah banyak memengaruhi sejarah Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan dari Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham komunisme dan melarang pembentukan partai komunis. Dijadikannya Timor Timur sebagai provinsi ke-27 (saat itu) juga dilakukannya karena kekhawatirannya bahwa partai Fretilin (Frente Revolucionaria De Timor Leste Independente / Front Revolusi untuk Kemerdekaan Timor Timur) akan berkuasa di sana bila dibiarkan merdeka.[butuh rujukan] Hal ini telah mengakibatkan menelan ratusan ribu korban jiwa sipil.[butuh rujukan] Sistem otoriter yang dijalankan Soeharto dalam masa pemerintahannya membuatnya populer dengan sebutan "Bapak", yang pada jangka panjangnya menyebabkan pengambilan keputusan-keputusan di DPR kala itu disebut secara konotatif oleh masyarakat Indonesia sebagai sistem "ABS" atau "Asal Bapak Senang".

Bidang kesehatan

Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai kampanye Keluarga Berencana yang menganjurkan setiap pasangan untuk memiliki secukupnya 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang nantinya dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai kerusakan lingkungan hidup.

Kematian

Pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, Soeharto meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Kemudian sekitar pukul 14.35, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta.[63] Ambulans yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana, mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak.

Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekitar pukul 14.55, Minggu (27/1).

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan beberapa menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kematian Soeharto.

Minggu sore pukul 16.00 WIB, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, lebih dulu melayat ke Cendana.

Pemakaman

Jenazah Soeharto diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Cendana, Jakarta, Senin, 28 Januari 2008, pukul 07.30 WIB[64] menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Selanjutnya jenazah Soeharto akan diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Solo pukul 10.00 WIB untuk kemudian dimakamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Senin (28/1). Jenazah Soeharto tiba di Astana Giri Bangun siang itu sebelum pukul 12.00 WIB.[65] Upacara pemakaman Soeharto tersebut dipimpin oleh inspektur upacara Susilo Bambang Yudhoyono.

Warisan

Rumah masa kecil Soeharto di Kemusuk, Bantul saat ini dijadikan museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto. Sebuah patung dirinya berdiri di depan museum. Museum tersebut dibangun oleh Probosutedjo dan diresmikan pada tahun 2013.[66]

FELDA Soeharto, sebuah kampung di Selangor, Malaysia, dinamakan menurut Soeharto pada tahun 1977 – sebelumnya ia berkunjung ke kampung tersebut pada tahun 1970 sebagai bagian dari kunjungan bersejarah untuk menormalkan hubungan Indonesia-Malaysia.[67]

Pada tahun 2013, muncul slogan bahasa Jawa Isih penak jamanku to (bahasa Indonesia: Masih enak zaman saya kancode: id is deprecated ) atau Piye kabare, isih penak jamanku to (bahasa Indonesia: Bagaimana kabarnya, masih enak zaman saya kancode: id is deprecated ) di stiker, kaos, dan internet yang menyatakan bahwa zaman pemerintahan Soeharto lebih baik ketimbang zaman sekarang.[68][69]

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad berkata:[70]

Sebelum saya bertemu langsung dengan Presiden Soeharto, saya selalu mengikuti perkembangan dari berbagai kebijakan yang dijalankan oleh pemerintahan beliau. Saya merencanakan apabila nanti diangkat menjadi Perdana Menteri, maka kunjungan luar negeri saya yang pertama kali adalah kepada Presiden Soeharto.

Saya melihat setiap ucapan dan tindakan yang dilakukan Pak Harto benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemimpin. Walaupun Pak Harto memiliki latar belakang sebagai tentara, ia tidak menunjukkan sikap yang sombong dan kalimat-kalimat yang keras. Bahasanya juga baik sekali.

Saya biasa dengan dia. Setelah menjadi Perdana Menteri, saya beberapa kali bertemu dengannya. Kita ada perbincangan antara sahabat. Dekat.

Saya menghormati Bapak Soeharto karena dia mengubah Indonesia dari negara yang mempunyai banyak masalah di zaman Soekarno. Dia dapat menguatkan perpaduan di kalangan banyak suku di Indonesia. Ini bukan suatu negara yang mudah diperintah, tapi setelah Soeharto mengambil alih, Indonesia tidak terpecah.

"},"2":{"wt":"Mahathir<ref name=\"Mahathir\"/>"}},"i":0}}]}' id="mwA4M"/>

Ada masalah sedikit di Aceh, tapi umumnya dia berhasil mengganti citra Indonesia menjadi lebih maju. Ya, memang ada hal yang tak benar dilakukan. Di mana-mana pemimpin juga begitu.[70]

— Mahathir[70]

Penghargaan

Selama menjadi Presiden Republik Indonesia dan perwira militer, beliau menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya;[71][72][73]

Dalam Negeri

Baris ke-1 Bintang Republik Indonesia Adipurna (27 Mei 1988)[74] Bintang Mahaputera Adipurna (27 Mei 1988)[75] Bintang Jasa Utama (27 Mei 1988)[76] Bintang Budaya Parama Dharma (27 Mei 1988)[77]
Baris ke-2 Bintang Gerilya Bintang Sakti Bintang Dharma Bintang Yudha Dharma Utama
Baris ke-3 Bintang Kartika Eka Paksi Utama Bintang Jalasena Utama Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama Bintang Bhayangkara Utama
Baris ke-4 Bintang Kartika Eka Paksi Pratama Bintang Kartika Eka Paksi Nararya Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia Bintang Garuda
Baris ke-5 Satyalancana Teladan Satyalancana Kesetiaan 16 Tahun Satyalancana Perang Kemerdekaan I Satyalancana Perang Kemerdekaan II
Baris ke-6 Satyalancana G.O.M I Satyalancana G.O.M II Satyalancana G.O.M III Satyalancana G.O.M IV
Baris ke-7 Satyalancana Satya Dharma Satyalancana Wira Dharma Satyalancana Penegak Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia (1989)[78]

Luar Negeri

  •  Afrika Selatan :
    • Grand Cross of the Order of Good Hope (1997)[79]
  •  Arab Saudi :
    • Collar of the Order of Badr Chain (1977)
  •  Austria :
    • Grand Star of the Decoration of Honour for Services to the Republic of Austria (1972)[80]
  •  Belanda :
    • Knight Grand Cross of the Order of the Netherlands Lion (1970)
    • Commander of the Most Excellent Order of the Golden Ark[81]
  •  Belgia :
    • Grand Cordon of the Order of Leopold (1973)
  •  Britania Raya :
    • Honorary Knight Grand Cross (Military Division) of the Most Honourable Order of the Bath (GCB) (1974)[82]
  •  Brunei :
    • Darjah Kerabat Mahkota Brunei (DKMB) (1988)[83][84]
    • Darjah Kerabat Laila Utama Yang Amat Dihormati (DK) (1988)
  • Kekaisaran Etiopia Kekaisaran Etiopia :
    • Grand Cordon with Collar of the Order of the Queen of Sheba (1968)
  •  Filipina :
    • Grand Collar of the Order of Sikatuna, Rank of Raja (GCS) (1968)
    • Grand Collar of the Order of the Golden Heart (GCGH) (1968)
  • Iran Kekaisaran Iran :
    • 1st Class of the Order of Pahlavi
    • Commemorative Medal of the 2,500 year Celebration of the Persian Empire (1971)
  •  Italia :
    • Knight Grand Cross with Collar of the Order of Merit of the Italian Republic (OMRI) (1972)[85]
  •  Jepang :
    • Grand Cordon of the Supreme Order of the Chrysanthemum (1968)
  •  Jerman Barat :
    • Grand Cross Special Class of the Order of Merit of the Federal Republic of Germany (1970)
  •  Kamboja :
    • Grand Collar of the National Order of Independence (April 1968)[86][87]
  •  Kuwait :
    • Collar of the Order of Mubarak the Great (1977)
  •  Korea Selatan :
    • Grand Order of Mugunghwa (1981)
  •  Malaysia :
    • Darjah Utama Seri Mahkota Negara (DMN) (1988)
    •  Johor :
      • Darjah Kerabat Johor Yang Amat Dihormati (DK I) (1987)[88]
    •  Perak :
      • Darjah Kerabat Diraja Yang Amat Dihormati (DK) (1988)
  •  Mesir :
    • Grand Collar of the Order of the Nile (1977)
  •  Pakistan :
    • Nishan-e-Pakistan (NPk) (1982)
  •  Perancis :
    • Grand Cross of the National Order of the Legion of Honour (1972)[89]
  •  Qatar :
    • Collar of the Order of the Independence (1977)[90]
  •  Romania :
    • First Class of the Order of the Star of the Romanian Socialist Republic (1982)
  •  Singapura :
    • Darjah Utama Temasek (DUT) (1974)[91]
  •  Spanyol :
    • Knight Grand Cross with Collar of the Order of Isabella the Catholic (CoYC) (1980)[92]
  •  Syria :
    • Member 1st Class of the Order of the Umayyads (1977)
  •  Thailand :
    • Knight of the Most Auspicious Order of the Rajamitrabhorn (KRM) (1970)
  •  Ukraina :
    • 1st Class of the Order of Prince Yaroslav the Wise (1997)
  •  Uni Emirat Arab :
    • Grand Cordon with Collar of the Order of Unity (1990)
  •  Venezuela :
    • Grand Cordon with Collar of the Order of the Liberator (1988)
  •  Yaman :
    • Collar of the Order of the Republic[93]
  •  Yordania :
    • Grand Cordon with Collar of the Order of Al-Hussein bin Ali (1986)
  •  Yugoslavia :
    • Yugoslav Great Star of the Order of the Yugoslav Star (1975)

Lihat pula

  • Kasus dugaan korupsi Soeharto
  • Genosida Timor Timur

Catatan

  1. ↑ EYD: Suharto; Indonesia: [suˈharto] ⓘ
  2. ↑ Menurut Transparency International, Soeharto adalah salah satu pemimpin paling korup dalam sejarah modern, dengan menggelapkan dana sebesar US$15–35 miliar selama pemerintahannya.[29][30][31]

Referensi

Sitasi

  1. ↑ Berger, Marilyn (28 Januari 2008). "Suharto Dies at 86; Indonesian Dictator Brought Order and Bloodshed". The New York Times (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-12-02. Diakses tanggal 2018-12-14.
  2. ↑ Mappapa, Pasti Liberti (30 September 2019). "Sekondan Soeharto di Pusaran G30S/PKI". detikNews. Diakses tanggal 16 Juni 2023. Latief sendiri mengaku anak buah langsung Soeharto sejak bertugas di Yogyakarta. Nomor Registrasi Pokok (NRP) keduanya berurutan. "NRP saya 10685, sedangkan NRP Pak Harto 10684, jadi saya selalu menempel di belakangnya.
  3. ↑ Dwipayana & Karta Hadimadja (1989), hlm. 13.
  4. ↑ Lihat rinciannya di Bab 2, 'Akar saya dari desa', di Dwipayana & Karta Hadimadja (1989), hlm. 14.
  5. ↑ Nuraki, Aziz (2016-07-26). "Soeharto 'koordinir' operasi pembantaian 1965-1966, sebut dokumen". BBC. Diakses tanggal 2025-11-10.
  6. ↑ Kine, Phelim (2017). "Indonesia Again Silences 1965 Massacre Victims". Human Rights Watch. Over the next few months, at least 500,000 people were killed (the total may be as high as one million). The victims included members of the Communist Party of Indonesia (PKI), ethnic Chinese, trade unionists, teachers, activists, and artists.
  7. ↑ Melvin, Jess (2018). "There's now proof that Soeharto orchestrated the 1965 killings". Indonesia at Melbourne at the University of Melbourne. Diakses tanggal February 23, 2025.
  8. ↑ Dake 2006, hlm. 495: "Pada bulan Maret 1967, MPRS mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden. Pada tanggal 27 Maret 1968, ia diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia."
  9. ↑ Abdulgani-Knapp (2007), hlm. 79-93.
  10. ↑ Bevins (2020), hlm. 213.
  11. ↑ Slater, Dan (2009), Mahoney, James; Thelen, Kathleen (ed.), "Altering Authoritarianism: Institutional Complexity and Autocratic Agency in Indonesia", Explaining Institutional Change: Ambiguity, Agency, and Power, Cambridge University Press, hlm. 132–167, ISBN 978-0-521-11883-5, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 June 2018, diakses tanggal 9 June 2022
  12. 1 2 Affan, Heyder (2013-12-13). "Orde Baru dibenci, Orde Baru dirindukan". BBC Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-12.
  13. 1 2 McCawley, Peter (2013). "THE INDONESIAN ECONOMY DURING THE SOEHARTO ERA: A REVIEW" (PDF). Masyarakat Indonesia. 39 (2): 269–287.
  14. ↑ Miguel, Edward; Paul Gertler; David I. Levine (January 2005). "Does Social Capital Promote Industrialization? Evidence from a Rapid Industrializer". Econometrics Software Laboratory, University of California, Berkeley.
  15. ↑ McDonald, Hamish (28 January 2008). "No End to Ambition". Sydney Morning Herald. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 March 2018. Diakses tanggal 31 January 2008.
  16. ↑ Abdulgani-Knapp (2007), hlm. 159.
  17. ↑ "Ini 7 Julukan Presiden Indonesia, Dari Soekarno Sampai Jokowi : Okezone Edukasi". 28 November 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 April 2023. Diakses tanggal 23 April 2023.
  18. ↑ "Celebrating 40 Years in Indonesia". Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Rome, Italy. 2018.
  19. ↑ Perkiraan dana pemerintah yang disalahgunakan oleh keluarga Soeharto berkisar antara US$1,5 miliar hingga US$5 miliar.(Ignatius, Adi (11 September 2007). "Mulls Indonesia Court Ruling". Time. Diarsipkan dari asli tanggal 2 February 2008. Diakses tanggal 9 August 2009.).
  20. ↑ Haskin, Colin (27 January 2008). "Suharto dead at 86". The Globe and Mail. Jakarta. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 February 2023. Diakses tanggal 3 February 2023.
  21. 1 2 "Indonesia's Suharto has state funeral in royal city". Reuters. 28 January 2008.
  22. 1 2 "Secretary-General Mourns Former Indonesian President Suharto". United Nations. 28 January 2008.
  23. ↑ "Soeharto Wafat, Ditetapkan 7 Hari Berkabung". DetikNews. 27 January 2008.
  24. ↑ Dinal Maula, Fatwa (2021-03-06). "Konghucu dan Budaya Tionghoa: Pasang Surut Rekognisi". CRCS UGM. Diakses tanggal 2025-11-10.
  25. ↑ "Dari 1965 hingga slogan 'piye kabare enak jamanku toh': Suharto dibenci, Suharto dirindukan (In Indonesian)". www.bbc.com. 24 May 2018.
  26. ↑
  27. ↑ Gittings, John (28 January 2008). "Obituary: Suharto, former Indonesian dictator: 1921–2008". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 December 2018. Diakses tanggal 17 December 2016.
  28. ↑ Hutton, Jeffrey (19 May 2018). "Is Indonesia's Reformasi a success, 20 years after Suharto?". South China Morning Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 April 2022. Diakses tanggal 14 December 2018. ...would topple the dictator Suharto.
  29. ↑ "Dari 1965 hingga slogan 'piye kabare enak jamanku toh': Suharto dibenci, Suharto dirindukan (In Indonesian)". www.bbc.com. 24 May 2018.
  30. ↑ Global Corruption Report 2004: Political Corruption by Transparency International – Issue. Pluto Press. 2004. hlm. 13. ISBN 0-7453-2231-X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2020. Diakses tanggal 8 May 2020 – via Issuu.com.
  31. ↑ "Suharto tops corruption rankings". BBC News. 25 March 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 November 2020. Diakses tanggal 4 February 2006.
  32. ↑ Berger, Marilyn (28 January 2008). "Suharto Dies at 86; Indonesian Dictator Brought Order and Bloodshed". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 December 2018.
  33. ↑ Wiranto (2011), hlm. 24.
    Forrester, Geoff; May, R.J. (1998). The Fall of Soeharto. Bathurst, Australia: C. Hurst and Co. ISBN 1-86333-168-9.
  34. ↑ Kine, Phelim (2017). "Indonesia Again Silences 1965 Massacre Victims". Human Rights Watch. Over the next few months, at least 500,000 people were killed (the total may be as high as one million). The victims included members of the Communist Party of Indonesia (PKI), ethnic Chinese, trade unionists, teachers, activists, and artists.
  35. ↑ "Pro Kontra Soeharto Pahlawan Nasional". Trias Politica. 26 Mei 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 23 September 2016. Diakses tanggal 28 Juli 2016.
  36. ↑ Basyari, Iqbal (2025-11-01). "Usulan Soeharto Jadi Pahlawan Sudah di Meja Presiden, Penolakan Meluas". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-11-10.
  37. ↑ "Golkar Jatim Usulkan Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional". Detik.com. 8 November 2024.
  38. ↑ "Termasuk Soeharto, Prabowo Anugerahkan Pahlawan Nasional ke 10 Tokoh, Ini Daftarnya". suara.com. Diakses tanggal 2025-11-10.
  39. ↑ "Prabowo Resmi Beri Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto". CNN Indonesia. 10 November 2025. Diakses tanggal 10 November 2025.
  40. ↑ "Biografi Soeharto". blogs.unpad.ac.id/maharani. Diakses tanggal 01 Juni 2023.
  41. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "secuil kisah tentang mantan presiden Soeharto". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-05-31. Diakses tanggal 2015-10-24.
  42. ↑ "Akar Saya Dari Desa". soeharto.co. 2013-09-27. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-10-11. Diakses tanggal 2019-11-4. ;
  43. ↑ "Disebut Pendiam dan Pemalu, Kehidupan Asmara Pak Harto Ternyata Tidak Semulus Kariernya". Tribunkaltim.co. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-24. Diakses tanggal 2022-12-15.
  44. ↑ "Sah Anak_Anak Pak Harti Berkumpul di Partai Berkarya". jawapos.com. 2018-07-21. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-11-04. Diakses tanggal 2019-11-4. ;
  45. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-05-20. Diakses tanggal 2022-04-30.
  46. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-13.
  47. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-04-27. Diakses tanggal 2022-04-27.
  48. 1 2 "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-13.
  49. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-13.
  50. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-13.
  51. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-13.
  52. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-13.
  53. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-13.
  54. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-13.
  55. ↑ Khoemaeni, Syamsul Anwar. "Ini Alasan PKI Tak Incar Soeharto di Peristiwa 1965". Okezone.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-17. Diakses tanggal 2019-07-17.
  56. ↑ "Soeharto Mati-matian Bangun Sektor Pertanian". Indonesia Inside. 2018-12-21. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-10. Diakses tanggal 2020-01-20.
  57. ↑ "Berkaca pada Revolusi Hijau, Strategi Swasembada Pangan Pak Harto". Indonesia Inside (dalam bahasa American English). 2019-01-28. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-06-21. Diakses tanggal 2019-10-03.
  58. ↑ Surapati, Putri Jasmine; Maulidina, Nada Nur; Agustono, Fayza Maritza Putri; Pohan, Hilda Ferira (2021-04-30). "Comparative Analysis of President Soeharto and Kim Dae Jung's Policies in Overcoming the 1997 Economic Crisis based on Small Theory and Idiosyncratic Theory". Khazanah Sosial. 3 (2): 74–83. doi:10.15575/ks.v3i2.11503. ISSN 2715-8071. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-07. Diakses tanggal 2023-01-07.
  59. ↑ Muhammad Fakhriansyah (8 Mei 2023). "Kisah Indonesia 'Masuk Neraka' Usai Daftar Jadi Pasien IMF". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 27 Mei 2023.
  60. ↑ "Suharto tops corruption rankings". news.bbc.co.uk. 2004-03-25. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-11-13. Diakses tanggal 2009-02-05. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  61. ↑ Simons, p. 189
  62. ↑ Brinkley, Douglas (2007). Gerald R. Ford: The American Presidents Series: The 38th President. hlm. 132. ISBN 978-1429933414. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-08-03. Diakses tanggal 2021-01-08.
  63. ↑ "Jenazah Pak Harto Dibawa ke Cendana". detik.com. 2008-01-27. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-19. Diakses tanggal 2009-02-05. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  64. ↑ "Pukul 07.30 WIB, Jenazah Soeharto Tinggalkan Cendana". detik.com. 2008-01-27. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-19. Diakses tanggal 2009-02-05. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  65. ↑ "Jenazah Pak Harto Dimasukkan ke Liang Lahat". detik.com. 2008-01-27. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-19. Diakses tanggal 2009-02-05. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  66. ↑ Prabowo (7 Juni 2016). "Tempat Kelahiran Soeharto Kini Lebih Hidup". Okezone.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-10-27. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
  67. ↑ Sutikno, Husin. "KAMPONG SOEHARTO DI NEGERI JIRAN". HM Soeharto. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-10-27. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
  68. ↑ Nugroho, Andreas (2013-11-25). "Mengapa 'merindukan' sosok Suharto?". BBC News Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-22. Diakses tanggal 2021-11-13.
  69. ↑ Pontororing, Angela (Juli 2016). "Sebuah Upaya Pembacaan Poskolonial dengan Metode Dialog Imajinatif Antara Foto Soeharto "Piye Kabare, Penak Jamanku To?" dan Teks Keluaran 14:10-12; 16:1-3; 17:3" (PDF). Indonesian Journal of Theology. 4/1: 1–44. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-02-07. Diakses tanggal 7 Februari 2022.
  70. 1 2 3 Samosir, Hanna Azarya (2016-04-25). "Mahathir Mohammad dan Memori Indah tentang Soeharto". internasional. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-31.
  71. ↑ "Penghargaan Presiden Soeharto". Kepustakaan Presiden-Presiden RI. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-10-30. Diakses tanggal 2021-10-30.
  72. ↑ Indonesian Army Bureau of History (1981), Sejarah TNI-AD 1945–1973: Riwayat Hidup Singkat Pimpinan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, vol. XIII, pp. 291-2
  73. ↑ "Soeharto ODM". Gentleman's Military Interest Club (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2023-04-13.
  74. ↑ "Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Tahun 1959–sekarang" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 7 Januari 2020. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-07-29. Diakses tanggal 12 Agustus 2021.
  75. ↑ Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diakses tanggal 4 Oktober 2021.
  76. ↑ Daftar WNI yang Menerima Anugerah Bintang Jasa Tahun 1964 - 2003 (PDF). Diakses tanggal 4 Oktober 2021.
  77. ↑ "Daftar WNI yang Memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma Tahun 2004–sekarang" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 30 Januari 2017. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-05-13. Diakses tanggal 12 Agustus 2021.
  78. ↑ Tempomedia. "Penghargaan bintang LVRI". majalah.tempo.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-18.
  79. ↑ "Indonesian President Mohamed Suharto and South African President..." Getty Images (dalam bahasa American English). 2023-12-03. Diakses tanggal 2024-07-21.
  80. ↑ SYND 17-11-72 PRESIDENT SUHARTO ARRIVES IN AUSTRIA, diakses tanggal 2024-03-06
  81. ↑ Galangpress Group, Indonesia (2008). Mereka mengkhianati saya: sikap anak-anak emas Soeharto di penghujung Orde Baru. Indonesia: Femi Adi Soempeno. hlm. 35. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  82. ↑ Kedutaan Besar (U.S.), Indonesia (1974). Indonesian News and Views. Indonesia: Embassy of Indonesia, Information Division. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  83. ↑ "PRESIDEN SOEHARTO TERIMA UTUSAN KHUSUS SULTAN BRUNEI DARUSSALAM | ANTARA Foto". antarafoto.com. Diakses tanggal 2024-02-06.
  84. ↑ "Suharto gets Brunei's highest state award". The Straits Times (dalam bahasa Inggris). 24 September 1988 1988. hlm. 8.
  85. ↑ Sito web del Quirinale: dettaglio decorato.
  86. ↑ "Indochina Medals - Cambodia - CM02 National Order of Independence". indochinamedals.com. Diakses tanggal 2024-05-17.
  87. ↑ "Grand Collar Cambodian Order of Independence". Gentleman's Military Interest Club (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2012-02-27. Diakses tanggal 2025-03-23.
  88. ↑ "King confers highest award on Suharto". The Straits Times (dalam bahasa Inggris). 6 Februari 1987. hlm. 8.
  89. ↑ SYND 14-11-72 PRESIDENT SUHARTO OF INDONESIA VISIT TO PARIS, diakses tanggal 2024-03-06
  90. ↑ "Penghargaan - Situs Web Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia". web.archive.org. 2022-07-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-07-13. Diakses tanggal 2023-04-13.
  91. ↑ Author, Author (1974-08-30). "Pingat 'Darjah Utama Temasik' untuk Suharto dari Sheares". NewspaperSG. Diakses tanggal 2024-07-20.
  92. ↑ "Bollettino Ufficiale di Stato" (PDF).
  93. ↑ "Penghargaan - Situs Web Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia". web.archive.org. 2022-07-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-07-13. Diakses tanggal 2023-04-13.

Sumber

  • "Two former strongmen, Soeharto-Lee Kuan Yew meet again". ANTARA. 22 February 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 25 March 2007. Diakses tanggal 22 February 2006.
  • Aarons, Mark (2008). "Justice Betrayed: Post-1945 Responses to Genocide". Dalam David A. Blumenthal; Timothy L. H. McCormack (ed.). The Legacy of Nuremberg: Civilising Influence or Institutionalised Vengeance?. International Humanitarian Law. Martinus Nijhoff Publishers. ISBN 978-9004156913.
  • Anderson, Benedict R.; McVey, Ruth T. (2009). A Preliminary Analysis of 1 October 1965 Coup in Indonesia. Equinox Publishing. ISBN 9786028397520.
  • "Army in Jakarta Imposes a Ban on Communists". The New York Times. 19 October 1965. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 August 2021. Diakses tanggal 9 March 2021.
  • Aspinall, Ed (October–December 1996). "What happened before the riots?". Inside Indonesia. No. 48. Diarsipkan dari asli tanggal 5 May 2005.
  • Aspinall, Ed; Klinken, Gerry van; Feith, Herb, ed. (1999). The Last Days of President Suharto. Clayton AU-VIC: Monash Asia Institute. ISBN 073261175X.
  • Bevins, Vincent (2020). The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World. PublicAffairs. ISBN 978-1541742406.
  • "Attorney general doubts Soeharto can be prosecuted". The Jakarta Post. 27 May 2005.
  • Blum, William (1995). Killing Hope: US Military and CIA Interventions Since World War II. Monroe, Me.: Common Courage Press. ISBN 1-56751-052-3.
  • Camdessus Commends Indonesian ActionsDiarsipkan 9 November 2016 di Wayback Machine.. Press Release. International Monetary Fund. (31 October 1997)
  • "CIA Stalling State Department Histories". The National Security Archive. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 March 2012. Diakses tanggal 23 May 2005.
  • Colmey, John (24 May 1999). "The Family Firm". TIME Asia. Diarsipkan dari asli tanggal 8 February 2001.
  • Conboy, Kenneth J. (2003). Kopassus: Inside Indonesia's Special Forces. Equinox Publishing. ISBN 9789799589880. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 March 2023. Diakses tanggal 20 April 2021.
  • Robert Cribb, "Genocide in Indonesia,1965–1966". Journal of Genocide Research no.2:219–239, 2001.
  • Elson, Robert E. (2001). Suharto: A Political Biography. Cambridge UK: Cambridge University Press. ISBN 0-521-77326-1.
  • Dake, Antonie C.A. (2006). The Sukarno File, 1965-1967: Chronology of a Defeat. Leiden: Brill. ISBN 978-90-04-15382-0.
  • Dijk, Kees van (2001). A country in despair : Indonesia between 1997 and 2000. Leiden: KITLV Press. ISBN 9789067181600.
  • Friend, Theodore (2003). Indonesian Destinies. The Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 0-674-01834-6.
  • "H.AMDT.647 (A003): An amendment to prohibit any funds appropriated in the bill to be used for military education and training assistance to Indonesia". THOMAS (Library of Congress). Diarsipkan dari asli tanggal 13 Januari 2016. Diakses tanggal 4 Februari 2006.
  • Hughes, John (2002) [1976]. The End of Sukarno – A Coup that Misfired: A Purge that Ran Wild. Archipelago Press. ISBN 981-4068-65-9.
  • "Indonesia: Arrests, torture and intimidation: The Government's response to its critics". Amnesty International. 27 November 1996. Diarsipkan dari asli tanggal 9 November 2005.
  • "Indonesia Economic". Commanding Heights. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 February 2012. Diakses tanggal 23 May 2005.
  • "Jakarta Cabinet Faces Challenge". The New York Times. 16 December 1965.
  • "Jakarta Leftist Out As Army Chief". New York Times. 15 October 1965.
  • "Jakarta Cabinet Faces Challenge". The New York Times. 16 December 1965.
  • Lashmar, Paul & Oliver, James (16 April 2000). "MI6 Spread Lies to Put Killer in Power". The Independent. UK.
  • Lashmar, Paul; Oliver, James (1999). Britain's Secret Propaganda War. Sutton Pub Ltd. ISBN 0-7509-1668-0.
  • McDonald, H. (1980). Suharto's Indonesia. Blackburn AU: Fontana Books. ISBN 0-00-635721-0.
  • Melvin, Jess (2018). The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder. Routledge. ISBN 978-1-138-57469-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 June 2019. Diakses tanggal 21 November 2021.
  • "Public Expenditures, Prices and the Poor". World Bank. 1993. Diarsipkan dari asli tanggal 23 March 2007.
  • Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since c. 1300 (Edisi 2nd). Stanford University Press. ISBN 0-333-57690-X.
  • Rock, Michael T. (2003). The Politics of Development Policy and Development Policy Reform (PDF). William Davidson Institute Working Paper Number 632. The University of Michigan Business School. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 12 December 2013. Diakses tanggal 11 June 2013.
  • Purdey, Jemma (2006). Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996–1999. Honolulu HI: University of Hawaii Press. ISBN 9780824830571.
  • Robinson, Geoffrey B. (2018). The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965-66. Princeton University Press. ISBN 9781400888863.
  • John Roosa, Pretext for Mass Murder: 30 September Movement & Suharto's Coup D'état. The University of Wisconsin Press, 2006. ISBN 978-0-299-22034-1.
  • Simpson, Brad (9 July 2004). "Indonesia's 1969 Takeover of West Papua Not by "Free Choice"". National Security Archive. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 February 2013. Diakses tanggal 17 June 2005.
  • Schwarz, Adam (1994). A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. Westview Press. ISBN 9780813388816.
  • Simpson, Bradley (2010). Economists with Guns: Authoritarian Development and U.S.–Indonesian Relations, 1960–1968. Stanford University Press. ISBN 978-0804771825. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 June 2018. Diakses tanggal 21 November 2021.
  • "Suharto tops corruption rankings". BBC News. 25 March 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 November 2020. Diakses tanggal 4 February 2006.
  • "Sukarno Removes His Defense Chief". New York Times. 22 February 1966.
  • "Tapol Troubles: When Will They End?". Inside Indonesia. April–Juni 1999. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Maret 2012.
  • Pramoedya Ananta Toer (2000). The Mute's Soliloquy: A Memoir. Penguin. ISBN 0-14-028904-6.
  • "United Nations High Commission on Human Rights resolution 1993/97: Situation in East Timor". United Nations. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 February 2012. Diakses tanggal 4 February 2006.
  • Vickers, Adrian (2005). A History of Modern Indonesia. Cambridge University Press. ISBN 9780521542623.
  • Wanandi, Jusuf (2012). Shades of Grey: A Political Memoir of Modern Indonesia 1965–1998. Singapore: Equinox Publishing. ISBN 9789793780924.
  • Weiner, Tim (2007). "Chapter 15, CIA and Indonesia". Legacy of Ashes: The History of the CIA. New York: Doubleday. ISBN 978-3-596-17865-0.
  • Wertheim, W.F. (1979). "Whose plot?-New light on the 1965 events". Journal of Contemporary Asia. 9 (2): 197–215. doi:10.1080/00472337985390191.
  • Wiranto (2011). 7 Tahun Menggali Pemikiran dan Tindakan Pak Harto 1991–1997 [7 Years Exploring the Thoughts and Actions of Pak Harto 1991–1997]. Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. ISBN 9786028112123.

Bacaan lanjutan

  • Roeder, O.G. (1969). The Smiling General, President Soeharto of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Jakarta: PT Gunung Agung.
  • Roeder, O.G. (1976). Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto. Diterjemahkan oleh A. Bar, Salim; A. Hadi, Noor. Jakarta: PT Gunung Agung.
  • Dwipayana, G.; Karta Hadimadja, Ramadhan (1989). Soeharto: My Thoughts, Words and Deeds (An Autobiography) (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Sumadi. Jakarta: PT Citra Lamtoro Gung Persada. ISBN 979-8085-01-9.
  • Elson, R.E. (2001). Suharto: A Political Biography, Cambridge: Cambridge University Press, 2001. ISBN 0 521 77326 1
  • McGlynn, John H. et al. (2007). Indonesia in the Soeharto years. Issue, incidents and images, Jakarta, KITLV
  • Abdulgani-Knapp, Retnowati (2007). Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President (An Authorised Biography). Singapore: Marshall Cavendish Editions. ISBN 978-981-261-340-0.
  • Ambarsari, Anita Dewi; Bakarudin; et al. (2011). Pak Harto: The Untold Stories. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-979-22-7131-7.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Suharto.
Wikisumber memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini:
Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik Indonesia, 21 Mei 1998
  • Lee Kuan Yew and Suharto: Friends till the end The Straits Times - Artikel tahun 2015 tentang persahabatan dekat antara Soeharto dan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, yang ditulis oleh Duta Besar Singapura untuk Indonesia dari tahun 1986 hingga 1993.
  • "Suharto (Ronald Reagan Presidential Library)" Ronald Reagan Presidential Library - Arsip catatan Soeharto dari perpustakaan (transkrip pidato, foto, dan arsip video) yang mencakup kunjungan resminya ke Amerika Serikat pada bulan Oktober 1982 dan kunjungan kenegaraan Ronald Reagan ke Indonesia pada bulan April–Mei 1986.
  • "Life in pictures: Indonesia's Suharto" BBC News - Foto-foto tentang kehidupan Suoearto, dari kenaikannya menuju kekuasaan hingga kejatuhannya dan persidangan.
Jabatan politik
Didahului oleh:
Soekarno
Presiden Indonesia
1967–1998
Diteruskan oleh:
BJ Habibie
Didahului oleh:
M. Sarbini
Menteri Pertahanan Indonesia
1966–1971
Diteruskan oleh:
Maraden Panggabean
Didahului oleh:
Soekarno
sebagai Perdana Menteri
Ketua Presidium Kabinet Indonesia
1966–1967
Jabatan dihapuskan
Jabatan militer
Didahului oleh:
Soedirman
Panglima ABRI
1968–1973
Diteruskan oleh:
Maraden Panggabean
Didahului oleh:
Ahmad Yani
Kepala Staf TNI Angkatan Darat
1966–1968
Diteruskan oleh:
Maraden Panggabean
Jabatan baru Pangkostrad
1963–1965
Diteruskan oleh:
Umar Wirahadikusumah
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Soebandrio
Kepala Badan Pusat Intelijen
1965–1966
Diteruskan oleh:
Yoga Soegomo
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Dobrica Ćosić
Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok
1992–1995
Diteruskan oleh:
Ernesto Samper Pizano
Didahului oleh:
Bill Clinton
Ketua Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik
1994
Diteruskan oleh:
Tomiichi Murayama
Pranala ke artikel terkait
  • l
  • b
  • s
Soeharto
Presiden Indonesia ke-2
Keluarga
Orang tua
Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu)
Pasangan dan saudara
Tien Soeharto (istri) • Probosutedjo (adik) • Sudwikatmono (sepupu)
Generasi ke-2
  • Tutut (anak) dan Indra Rukmana (menantu)
  • Sigit (anak) dan Elsje Anneke Ratnawati (menantu)
  • Bambang (anak) dan Halimah (mantan menantu), Mayangsari (menantu)
  • Titiek (anak) dan Prabowo Subianto (mantan menantu)
  • Tommy (anak) dan Tata (mantan menantu)
  • Mamiek (anak)
  • Agus (keponakan) dan Joanna Nalapraya (keponakan menantu)
Generasi ke-3
  • Dandy Nugroho Hendro Maryanto (cucu)
  • Danty Indriastuti Purnamasari (cucu)
  • Danny Bimo Hendro Utomo (cucu)
  • Ari Sigit (cucu)
  • Aryo Sigit (cucu)
  • Eno Sigit (cucu)
  • Panji Trihatmodjo (cucu)
  • Gendis Siti Hatmanti (cucu)
  • Aditya Trihatmanto (cucu)
  • Khirani Trihatmodjo (cucu)
  • Didit Hediprasetyo (cucu)
  • Dharma Mangkuluhur (cucu)
  • Gayanti Hutami (cucu)
Pemerintahan
  • Kobkamtib
  • Kebijakan 15 November 1978
  • Paket Kebijaksanaan Oktober 1988
  • Proyek lahan gambut satu juta hektar
  • Rencana Pembangunan Lima Tahun
Topik terkait
  • Memorial
  • Isih penak jamanku to?
← Didahului: Soekarno
Digantikan: B. J. Habibie →
  • l
  • b
  • s
Indonesia Presiden Indonesia
  1. Soekarno
  2. Soeharto
  3. Bacharuddin Jusuf Habibie
  4. Abdurrahman Wahid
  5. Megawati Soekarnoputri
  6. Susilo Bambang Yudhoyono
  7. Joko Widodo
  8. Prabowo Subianto
Lainnya: Syafruddin Prawiranegara (Ketua Pemerintahan Darurat RI) · Assaat (Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI pada masa RIS)
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s
Kabinet Pembangunan VII (1998)
Presiden: Soeharto | Wakil Presiden: Bacharuddin Jusuf Habibie
Menko Polkam: Feisal Tanjung • Menko Ekuin/Kepala BAPPENAS: Ginandjar Kartasasmita • Menko PP-PAN: Hartarto Sastrosoenarto • Menko Kesra/Kepala BKKBN: Haryono Suyono • Mendagri: R. Hartono • Menlu: Ali Alatas • Menhankam/Panglima ABRI: Wiranto • Menhak: Muladi • Menteri Penerangan: Muhammad Alwi Dahlan • Menkeu: Fuad Bawazier • Menperindag: Mohammad Hasan • Mentan: Justika Baharsjah • Mentamben: Kuntoro Mangkusubroto • Menhutbun: Sumahadi • Menteri PU: Rachmadi Bambang Sumadhijo • Menhub: Giri Suseno Hadihardjono • Menparsenbud: Abdul Latief • Menkopukm: Subiakto Tjakrawerdaya • Menaker: Theo L. Sambuaga • Menteri Trans-PPH: AM Hendropriyono • Mendikbud: Wiranto Arismunandar • Menkes: Faried Anfasa Moeloek • Menag: Muhammad Quraish Shihab • Mensos: Siti Hardijanti Rukmana • Menristek: Rahardi Ramelan • Menves: Sanyoto Sastrowardoyo • Menteri Agraria: Ary Mardjono • Menpera: Akbar Tanjung • Menteri LH: Juwono Sudarsono • Menteri Panhorbat: Haryanto Dhanutirto • Menteri BUMN: Tanri Abeng • Menperwan: Tuti Alawiyah • Menpora: Agung Laksono • Jaksa Agung: Soedjono C. Atmonegoro • Gubernur Bank Indonesia: Syahril Sabirin • Mensesneg: Saadillah Mursjid
  • l
  • b
  • s
Kabinet Pembangunan VI (1993–1998)
Presiden: Soeharto | Wakil Presiden: Try Sutrisno
Menko Polkam: Soesilo Soedarman • Menko Eko-PP: Saleh Afiff • Menkoprodis: Hartarto Sastrosoenarto • Menko Kesra: Azwar Anas • Mendagri: Yogie Suardi Memet • Menlu: Ali Alatas • Menhankam/Panglima ABRI: Edi Sudradjat, Feisal Tanjung, Wiranto • Menhak: Oetojo Oesman • Menteri Penerangan: Harmoko, R. Hartono • Menkeu: Mar'ie Muhammad • Mendag (digabungkan dengan Menteri Perindustrian pada 6 Desember 1995): Satrio Budihardjo Joedono • Menperin (bernama Menteri Perindustrian dan Perdagangan sejak 6 Desember 1995): Tungki Ariwibowo • Mentan: Sjarifuddin Baharsjah • Mentamben: Ida Bagus Sudjana • Menhut: Djamaloedin Soeryohadikoesoemo • Menteri PU: Radinal Mochtar • Menhub: Haryanto Dhanutirto • Menparpostel: Joop Ave • Menkop-PPK: Subiakto Tjakrawerdaya • Menaker: Abdul Latief • Menteri Trans-PPH: Siswono Yudo Husodo • Mendikbud: Wardiman Djojonegoro • Menkes: Sujudi • Menag: Tarmizi Taher • Mensos: Endang Kusuma Inten Soeweno • Menteri PPN: Ginandjar Kartasasmita • Menristek: Bacharuddin Jusuf Habibie • Menteri Pangan: Ibrahim Hassan • Beddu Amang • Menteri Kependudukan: Haryono Suyono • Menves: Sanyoto Sastrowardoyo • Menteri Agraria: Soni Harsono • Menpera: Akbar Tanjung • Menteri LH: Sarwono Kusumaatmadja • Menperwan: Mien Sugandhi • Menpora: Hayono Isman • Menpan: T.B. Silalahi • Mensus: Harmoko • Jaksa Agung: Singgih • Gubernur Bank Indonesia: Sudrajad Djiwandono, Syahril Sabirin • Mensesneg: Moerdiono
Sekretaris Kabinet: Saadillah Mursjid
  • l
  • b
  • s
Kabinet Pembangunan V (1988–1993)
Presiden: Soeharto | Wakil Presiden: Soedharmono
Kementerian di bawah Menko Polkam: Sudomo
  • Mendagri: Rudini
  • Menlu: Ali Alatas
  • Menhankam: L. B. Moerdani
  • Menhak: Ismail Saleh
  • Menpen: Harmoko
Kementerian di bawah Menko Ekuin-PP: Radius Prawiro
  • Menkeu: J. B. Sumarlin
  • Mendag: Arifin Siregar
  • Menkop: Bustanil Arifin
  • Mentan: Wardojo
  • Menhut: Hasjrul Harahap
  • Menperin: Hartarto Sastrosoenarto
  • Mentamben: Ginandjar Kartasasmita
  • Menteri PU: Radinal Mochtar
  • Menhub: Azwar Anas
  • Menparpostel: Soesilo Soedarman
  • Menaker: Cosmas Batubara
  • Mentrans: Soegiarto
  • Menristek: Bacharuddin Jusuf Habibie
  • Menteri Kependudukan dan LH: Emil Salim
  • Menpera: Siswono Yudo Husodo
  • Menteri PPN/Kepala Bappenas: Saleh Afiff
  • Menpan: Sarwono Kusumaatmadja
Kementerian di bawah Menko Kesra: Soepardjo Rustam
  • Mendikbud: Fuad Hassan
  • Menkes: Adhyatma
  • Menag: Munawir Sjadzali
  • Mensos: Haryati Soebadio
  • Menpora: Akbar Tanjung
  • Menperwan: A. Sulasikin Murpratomo
Menteri muda yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden:
  • Menmukeu: Nasrudin Sumintapura
  • Menmudag: Soedradjad Djiwandono
  • Menmuperin: Tungki Ariwibowo
  • Menmutan: Sjarifuddin Baharsjah
  • Menmu PPN: Bernardus Sugiarta Muljana
Menteri dan pejabat setingkat menteri yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden:
  • Panglima ABRI: Try Sutrisno, Edi Sudradjat
  • Jaksa Agung: Sukarton Marmosujono, Singgih
  • Gubernur Bank Indonesia: Adrianus Mooy
  • Mensesneg: Moerdiono
Sekretaris Kabinet: Saadillah Mursjid
  • l
  • b
  • s
Kabinet Pembangunan IV (1983–1988)
Presiden: Soeharto | Wakil Presiden: Umar Wirahadikusumah
  • Kementerian di bawah Menko Polkam: Surono Reksodimedjo
  • Mendagri: Soepardjo Roestam
  • Menlu: Mochtar Kusumaatmadja
  • Menhankam/Panglima ABRI: Poniman
  • Menhak: Ali Said, Ismail Saleh
  • Menpen: Harmoko
Kementerian di bawah Menko Ekuin-PP: Ali Wardhana
  • Menkeu: Radius Prawiro
  • Mendag: Rachmat Saleh
  • Menkop: Bustanil Arifin
  • Mentan: Achmad Affandi
  • Menhut: Soedjarwo
  • Menperin: Hartarto Sastrosoenarto
  • Mentamben: Subroto
  • Menpu: Suyono Sosrodarsono
  • Menhub: Roesmin Noerjadin
  • Menparpostel: Achmad Tahir
  • Menaker: Sudomo
  • Mentrans: Martono
  • Menristek/Ketua BPPT: Bacharuddin Jusuf Habibie
  • Menteri Kependudukan dan LH: Emil Salim
  • Menpera: Cosmas Batubara
  • Menteri PPN/Ketua BAPPENAS: J. B. Sumarlin
  • Menpan: Saleh Afiff
  • Menmu PP-PDN: Ginandjar Kartasasmita
  • Menmu Pangan: Wardojo
  • Menmu PP-Tanras: Hasjrul Harahap
  • Menmu PP-Terkan: J.H. Hutasoit
  • Kementerian di bawah Menko Kesra: Alamsyah Ratu Perwiranegara
  • Mendikbud: Nugroho Notosusanto, J. B. Sumarlin (Plt.), Fuad Hassan
  • Menkes: Suwardjono Surjaningrat
  • Menag: Munawir Sjadzali
  • Mensos: Nani Soedarsono
  • Menpora: Abdul Gafur
  • Menperwan: Lasiyah Soetanto, Anindyati Sulasikin Murpratomo
Menteri dan pejabat setingkat menteri yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden:
  • Mensesneg: Soedharmono
  • Panglima ABRI: L.B. Moerdani, Try Sutrisno
  • Jaksa Agung: Ismail Saleh, Hari Suharto
  • Gubernur Bank Indonesia: Arifin M Siregar
Menmudseskab: Moerdiono
  • l
  • b
  • s
Kabinet Pembangunan III (1978–1983)
Presiden: Soeharto | Wakil Presiden: Adam Malik
  • Kementerian di bawah Menko Polkam: Maraden Panggabean
  • Mendagri: Amir Machmud, Soedharmono (Plt.)
  • Menlu: Mochtar Kusumaatmadja
  • Menhankam/Panglima ABRI: M. Jusuf
  • Menhak: Moedjono, Ali Said
  • Menpen: Ali Moertopo
  • Kementerian di bawah Menko Ekuin/Kepala BAPPENAS: Widjojo Nitisastro
  • Menkeu: Ali Wardhana
  • Mendagkop: Radius Prawiro
  • Mentan: Soedarsono Hadisapoetro
  • Menperin: A.R. Soehoed
  • Mentamben: Subroto
  • Menpu : Purnomosidi Hadjisarosa
  • Menhub: Rusmin Nurjadin
  • Menakertrans: Harun Al-Rasjid Zain
  • Menpan: J. B. Sumarlin
  • Menteri PP-LH: Emil Salim
  • Menristek: Bacharuddin Jusuf Habibie
  • Kementerian di bawah Menko Kesra: Surono Reksodimedjo
  • Mendikbud: Daoed Joesoef
  • Menkes: Suwardjono Surjaningrat
  • Menag: Alamsyah Ratu Perwiranegara
  • Mensos: Sapardjo
Menteri muda yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden:
  • Menmupera: Cosmas Batubara
  • Menmukop: Bustanil Arifin
  • Menmuda: Abdul Gafur
  • Menmuprongan: Achmad Affandi
  • Menperwan: Lasiyah Soetanto
  • Menmutrans: Martono
Menteri dan pejabat setingkat menteri yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden:
  • Mensesneg: Soedharmono
  • Jaksa Agung: Ali Said, Ismail Saleh
  • Gubernur Bank Indonesia: Rachmat Saleh
  • Pangkopkamtib: Sudomo
  • l
  • b
  • s
Kabinet Pembangunan II (1973–1978)
Presiden: Soeharto | Wakil Presiden: Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Mendagri: Amir Machmud • Menlu: Adam Malik, Syarief Thayeb (Plt.) • Menhankam/Panglima ABRI: Maraden Panggabean • Menhak: Oemar Senoadji, Mochtar Kusumaatmadja • Menteri Penerangan: Mashuri Saleh, Sudharmono (Plt.) • Menperin: M. Jusuf • Mendag: Radius Prawiro • Menag: Abdul Mukti Ali • Menkeu: Ali Wardhana • Mentan: Thoyib Hadiwidjaja • Mentam: Mohammad Sadli • Menteri PUTL: Sutami • Menhub: Emil Salim • Mendikbud: Sumantri Brodjonegoro, Syarief Thayeb • Menkes: GA Siwabessy • Mensos: M. S. Mintaredja • Menakertranskop: Subroto • Menteri Ekuin/Kepala BAPPENAS: Widjojo Nitisastro • Menteri Kesra: Sunawar Sukowati • Menpan/Waket BAPPENAS: J. B. Sumarlin • Menteri Negara Riset: Sumitro Djojohadikusomo • Jaksa Agung: Ali Said • Gubernur Bank Indonesia: Rachmat Saleh • Pangkopkamtib: Sumitro, Soeharto, Sudomo (Plt.) • Mensesneg: Soedharmono
  • l
  • b
  • s
Kabinet Pembangunan I (1968–1973)
Presiden: Soeharto
Mendagri: Basuki Rahmat, Amir Machmud • Menlu: Adam Malik • Menhankam/Panglima ABRI: Soeharto, Maraden Panggabean • Menhak: Oemar Senoadji • Menteri Penerangan: Boediardjo • Menkeu: Ali Wardhana • Mendag: Sumitro Djojohadikusomo • Mentan: Thoyib Hadiwidjaja • Menperin: M. Jusuf • Mentam: Sumantri Brodjonegoro • Menteri PUTL: Sutami • Menhub: Frans Seda • Mendikbud: Mashuri Saleh • Menkes: G.A. Siwabessy • Menag: Muhammad Dahlan, Abdul Mukti Ali • Menaker: Mursalin Daeng Mamangung, M. Sadli • Mentranskop: M. Sarbini, Subroto • Mensos: Albert Mangaratua Tambunan, Idham Chalid (Plt.), M. S. Mintaredja • Menteri Ekuin: Sri Sultan Hamengkubuwono IX • Menteri Kesra: Idham Chalid • Menteri PPN/ Ketua BAPPENAS: Sunawar Sukowati, Widjojo Nitisastro • Menpenhukpemmen (dihapuskan sejak Reshuffle Kabinet pada 11 September 1971): M. S. Mintaredja • Menteri PPAN: Harsono Tjokroaminoto, Emil Salim • Jaksa Agung: Sugih Arto • Gubernur Bank Indonesia: Radius Prawiro • Pangkopkamtib: Maraden Panggabean, Sumitro • Mensesneg: Alamsyah Ratu Perwiranegara, Soedharmono
  • l
  • b
  • s
Kabinet Ampera II (1967–1968)
Pejabat Presiden: Soeharto
Menteri Ekuin: Sri Sultan Hamengkubuwono IX • Menteri Kesra: Idham Chalid • Mendagri: Basuki Rahmat • Menlu: Adam Malik • Menhankam/Panglima ABRI: Soeharto • Menhak: Oemar Senoadji • Menteri Penerangan: B.M. Diah • Mendikbud: Sanusi Hardjadinata • Menag: Muhammad Dahlan • Menkes: G.A. Siwabessy • Menaker: Awaluddin Djamin • Mensos: Albert Mangaratua Tambunan • Menkeu: Frans Seda • Mendag: M. Jusuf • Mentan: Sutjipto • Menbun: Thoyib Hadiwidjaja • Menhub: Sutopo • Menteri Maritim: Jatidjan • Menteri PU: Sutami • Menperindariten: Ashari Danudirdjo • Menperinteksjin: Muhammad Sanusi • Mentam: Soemantri Brodjonegoro • Mentransvetbil: Sarbini Sumawinata
  • l
  • b
  • s
Kabinet Ampera I (1966–1967)
Presiden: Soekarno, Soeharto (Plt.)
  • Ketua Preskab: Soeharto
  • Kementerian di bawah Menteri Utama Hankam: Soeharto
  • Menpangad: Soeharto
  • Menpangla: Muljadi
  • Menpangud: Rusmin Nurjadin
  • Menpangpol: Sutjipto Judodihardjo
  • Menvetdem: Sarbini Sumawinata
  • Kementerian di bawah Menteri Utama Politik: Adam Malik
  • Menlu: Adam Malik
  • Mendagri: Basuki Rahmat
  • Menhak: Oemar Senoadji
  • Menteri Penerangan: B.M. Diah
  • Kementerian di bawah Menteri Utama Kesra: Idham Chalid
  • Mendikbud: Sarino Mangunpranoto
  • Menag: Sjaifuddin Zuchri
  • Mensos: Albert Mangaratua Tambunan
  • Menkes: G.A. Siwabessy
  • Menaker: Awaluddin Djamin
  • Kementerian di bawah Menteri Utama Ekonomi dan Keuangan: Hamengkubuwono IX
  • Menteri Perdagangan: Ashari Danudirdjo
  • Menkeu: Frans Seda
  • Menhub: Sutopo
  • Menteri Maritim: Jatidjan
  • Mentan: Sutjipto
  • Menhut: P.C. Harjasudirdja
  • Kementerian di bawah Menteri Utama Industri dan Pembangunan: Sanusi Hardjadinata
  • Menperin R&T: M. Jusuf
  • Menperin T&K: Muhammad Sanusi
  • Mentam: Slamet Bratanata
  • Menteri PU: Sutami
  • l
  • b
  • s
Indonesia Perdana Menteri Indonesia

Sjahrir
Syahrir
1945–1947

Sjarifoeddin
Syarifuddin
1947–1948

Hatta
Hatta
1948–1950

Halim
Halim
1950

Natsir
Natsir
1950–1951

Soekiman
Sukiman
1951–1952

Wilopo
Wilopo
1952–1953

Ali
Ali
1953–1955
1956–1957

Burhanuddin
Burhanuddin
1955–1956

Djoeanda
Juanda
1957–1959

Soekarno
Soekarno
1959–1966

Lihat pula: Soesanto Tirtoprodjo (Pejabat Sementara Perdana Menteri), Soeharto (Ketua Presidium Kabinet)
  • l
  • b
  • s
Indonesia Wakil Perdana Menteri Indonesia (1960-1966)

Leimana
Leimana
1960-66

Subandrio
Soebandrio
1962-66

Chairul Saleh
Chairul S.
1966

HB IX
HB IX
1966

Adam Malik
Adam
1966

Roeslan
Roelan
1966

Idham Chalid
Idham
1966

Soeharto
Soeharto
1966

  • l
  • b
  • s
Ketua Gerakan Nonblok
  • Tito
  • Nasser
  • Kaunda
  • Boumédienne
  • Gopallawa
  • Jayewardene
  • F. Castro
  • Reddy
  • Singh
  • Mugabe
  • Drnovšek
  • Jović
  • Mesić
  • Kostić
  • Ćosić
  • Soeharto
  • Samper
  • Pastrana
  • Mandela
  • Mbeki
  • Mahathir
  • Abdullah
  • F. Castro
  • R. Castro
  • Mubarak
  • Tantawi
  • Mursi
  • Ahmadinejad
  • Rouhani
  • Maduro
  • Aliyev
  • Museveni
  • l
  • b
  • s
Panglima Tentara Nasional Indonesia
Panglima Besar TKR
  • Soedirman
Kepala Staf Angkatan Perang
  • T.B. Simatupang
Ketua Gabungan Kepala-Kepala Staf
  • A.H. Nasution
  • Soerjadi Soerjadarma
Kepala Staf Angkatan Bersenjata
  • A.H. Nasution
Panglima ABRI
  • Soeharto
  • Maraden Panggabean
  • M. Jusuf
  • L.B. Moerdani
  • Try Sutrisno
  • Edi Sudradjat
  • Feisal Tanjung
  • Wiranto
  • Widodo A. S.
Panglima TNI
  • Widodo A. S.
  • Endriartono Sutarto
  • Djoko Suyanto
  • Djoko Santoso
  • Agus Suhartono
  • Moeldoko
  • Gatot Nurmantyo
  • Hadi Tjahjanto
  • Andika Perkasa
  • Yudo Margono
  • Agus Subiyanto
  • l
  • b
  • s
Kepala Staf TNI Angkatan Darat
  • Djatikoesoemo
  • A.H. Nasution
  • Bambang Soegeng
  • Zulkifli Lubis
  • Bambang Utoyo
  • A.H. Nasution
  • Ahmad Yani
  • Pranoto Reksosamodra
  • Soeharto
  • Maraden Panggabean
  • Umar Wirahadikusumah
  • Surono Reksodimedjo
  • Makmun Murod
  • R. Widodo
  • Poniman
  • Rudini
  • Try Sutrisno
  • Edi Sudradjat
  • Wismoyo Arismunandar
  • R. Hartono
  • Wiranto
  • Subagyo H.S.
  • Tyasno Sudarto
  • Endriartono Sutarto
  • Ryamizard Ryacudu
  • Djoko Santoso
  • Agustadi S.P.
  • George Toisutta
  • Pramono Edhie
  • Moeldoko
  • Budiman
  • Gatot Nurmantyo
  • Mulyono
  • Andika Perkasa
  • Dudung Abdurachman
  • Agus Subiyanto
  • Maruli Simanjuntak
  • l
  • b
  • s
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat
  • Soeharto
  • Umar Wirahadikusumah
  • Kemal Idris
  • Wahono
  • Makmun Murod
  • Wahono
  • Poniman
  • Himawan Soetanto
  • Leo Lopulisa
  • Wiyogo Atmodarminto
  • Muhammad Ismail
  • Rudini
  • Soeweno
  • Soeripto
  • Adolf Sahala Rajagukguk
  • Soegito
  • Wismoyo Arismunandar
  • Kuntara
  • Tarub
  • Wiranto
  • Sugiono
  • Prabowo Subianto
  • Johny Lumintang
  • Djamari Chaniago
  • Djaja Suparman
  • Agus Wirahadikusumah
  • Ryamizard Ryacudu
  • Bibit Waluyo
  • Hadi Waluyo
  • Erwin Sudjono
  • George Toisutta
  • Burhanudin Amin
  • Pramono Edhie Wibowo
  • Azmyn Yusri Nasution
  • Muhammad Munir
  • Gatot Nurmantyo
  • Mulyono
  • Edy Rahmayadi
  • Agus Kriswanto
  • Andika Perkasa
  • Besar Harto Karyawan
  • Eko Margiyono
  • Dudung Abdurachman
  • Maruli Simanjuntak
  • M. Saleh Mustafa
  • Mohamad Hasan
  • Mohammad Fadjar
  • l
  • b
  • s
Perang Dingin
  • Amerika Serikat
  • Uni Soviet
  • ANZUS
  • NATO
  • Gerakan Non-Blok
  • SEATO
  • Pakta Warsawa
  • Perang Dingin II
1940-an
  • Rencana Morgenthau
  • Pemberontakan Hukbalahap
  • Konflik Jamaika
  • Dekemvriana
  • Perjanjian persentase
  • Konferensi Yalta
  • Perang Gerilya di Negara Baltik
    • Saudara Hutan
    • Operasi Priboi
    • Operasi Rimba
    • Pendudukan negara-negara Baltik
  • Prajurit terkutuk
  • Operasi Unthinkable
  • Operasi Downfall
  • Konferensi Potsdam
  • Skandal Gouzenko
  • Pembagian Korea
  • Operasi Masterdom
  • Operasi Beleaguer
  • Operasi Blacklist Forty
  • Krisis Iran 1946
  • Perang Saudara Yunani
  • Insiden Selat Corfu
  • Krisis Selat Turki
  • Pernyataan Kembali Kebijakan Terhadap Jerman
  • Perang Indocina Pertama
  • Doktrin Truman
  • Konferensi Hubungan Asia
  • Krisis Mei 1947
  • Rencana Marshall
  • Comecon
  • Kudeta Cekoslowakia 1948
  • Pemberontakan Al-Wathbah
  • Perang Palestina 1947–1949
    • Perang Saudara di Mandat Britania atas Palestina 1947–1948
    • Perang Arab-Israel 1948
    • Eksodus Palestina 1948
  • Perpecahan Tito–Stalin
  • Blokade Berlin
  • Pengkhianatan Barat
  • Tirai Besi
  • Blok Timur
  • Blok Barat
  • Perang Saudara Tiongkok (kedua)
  • Kedaruratan Malaya
  • Subversi Albania
1950-an
  • Konflik Papua
  • Tirai Bambu
  • Perang Korea
  • McCarthyisme
  • Perang Aljazair
  • Revolusi Mesir 1952
  • Kudeta Iran 1953
  • Pemberontakan Jerman Timur 1953
  • Amandemen Bricker
  • Kudeta Guatemala 1954
  • Pembagian Vietnam
  • Perang Jebel Akhdar
  • Perang Vietnam
  • Krisis Selat Taiwan Pertama
  • Kedaruratan Siprus
  • Konferensi Tingkat Tinggi Jenewa (1955)
  • Konferensi Bandung
  • Unjuk rasa Poznań 1956
  • Revolusi Hungaria 1956
  • Kekerasan klan Yaman–Aden
  • Krisis Suez
  • "We will bury you"
  • Perang Ifni
  • Operasi Gladio
  • Perang Dingin Arab
  • Krisis Suriah 1957
    • Krisis Lebanon 1958
    • Revolusi Juli Irak
  • Krisis Sputnik
  • Krisis Selat Taiwan Kedua
  • Pemberontakan Tibet 1959
  • Pemberontakan Mosul 1959
  • Perdebatan Dapur
  • Perpecahan Tiongkok-Soviet
1960-an
  • Krisis Kongo
  • Pemberontakan Simba
  • Insiden U-2 1960
  • Invasi Teluk Babi
  • Kudeta Turki 1960
  • Perpecahan Soviet–Albania
  • Konflik Irak–Kurdi
    • Perang Irak–Kurdi Pertama
  • Krisis Berlin 1961
  • Tembok Berlin
  • Perang Kotor (Meksiko)
  • Perang Kolonial Portugal
    • Perang Kemerdekaan Angola
    • Perang Kemerdekaan Guinea-Bissau
    • Perang Kemerdekaan Mozambik
  • Krisis Rudal Kuba
  • Perang Tiongkok-India
  • Pemberontakan Komunis di Sarawak
  • Revolusi Ramadan Irak
  • Perang Kemerdekaan Eritrea
  • Perang Pasir
  • Perang Saudara Yaman Utara
  • Kudeta Suriah 1963
  • Kebuntuan Israel-Amerika Serikat
  • Pembunuhan John F. Kennedy
  • Kedaruratan Aden
  • Krisis Siprus 1963–1964
  • Perang Vietnam
  • Perang Shifta
  • Perang Saudara Guatemala
  • Konflik Kolombia
  • Kudeta Brasil 1964
  • Perang Saudara Dominika
  • Perang Semak Rhodesia
  • Perang Perbatasan Afrika Selatan
  • Transisi ke Orde Baru
  • Teori domino
  • Deklarasi ASEAN
  • Perang Saudara Laos
  • Kudeta Suriah 1966
  • Revolusi Argentina
  • Konflik Zona Demiliterisasi Korea
  • Junta militer Yunani 1967–1974
  • Tahun-Tahun Timbel (Italia)
  • Insiden USS Pueblo
  • Perang Enam Hari
  • Perang Atrisi
  • Pemberontakan Dhofar
  • Perang Al-Wadiah
  • Perang Saudara Nigeria
  • Protes 1968
  • Mei Prancis
  • Pembantaian Tlatelolco
  • Revolusi Kebudayaan
  • Musim Semi Praha
  • Krisis politik Polandia 1968
  • Pemberontakan Komunis di Malaysia
  • Invasi Cekoslowakia
  • Revolusi Ba'athis Irak
  • Kudeta Libya 1969
  • Perang Sepak Bola
  • Komunisme Goulash
  • Konflik perbatasan Tiongkok-Soviet
  • Pemberontakan Komunis di Filipina
  • Tindakan Perbaikan
1970-an
  • Détente
  • Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir
  • September Hitam di Yordania
  • Gerakan Perbaikan (Suriah)
  • Konflik Sahara Barat
  • Revolusi Nikaragua
  • Perang Saudara Kamboja
  • Perang Vietnam
  • Kerusuhan Koza
  • Realpolitik
  • Diplomasi ping-pong
  • Revolusi Perbaikan (Mesir)
  • Memorandum militer Turki 1971
  • Kudeta Sudan 1971
  • Perjanjian Empat Negara di Berlin
  • Perang Pembebasan Bangladesh
  • Kunjungan Nixon ke Tiongkok 1972
  • Konflik perbatasan Yaman Utara-Yaman Selatan 1972
  • Perang Yaman 1972
  • Pemberontakan Komunis di Bangladesh
  • Perang Saudara Eritrea
  • Kudeta Uruguay 1973
  • Kudeta Chili 1973
  • Perang Yom Kippur
  • Krisis minyak 1973
  • Revolusi Anyelir
  • Transisi Spanyol
  • Metapolitefsi
  • Perundingan pembatasan senjata strategis
  • Perang Irak-Kurdi Kedua
  • Invasi Turki ke Siprus
  • Perang Saudara Angola
  • Perang Saudara Mozambik
  • Konflik Oromo
  • Perang Ogaden
  • Perang Sahara Barat
  • Perang Saudara Etiopia
  • Perang Saudara Lebanon
  • Perpecahan Tiongkok-Albania
  • Perang Kamboja–Vietnam
  • Revolusi Iran
  • Operasi Condor
  • Perang Kotor (Argentina)
  • Kudeta Argentina 1976
  • Perang Libya–Mesir
  • Musim Gugur Jerman
  • Korean Air Lines Penerbangan 902
  • Perang Uganda–Tanzania
  • Pemberontakan NDF
  • Konflik Chad–Libya
  • Perang Yaman 1979
  • Pendudukan Masjidil Haram
  • Revolusi Iran
  • Revolusi Saur
  • Perang Tiongkok-Vietnam
  • Gerakan New Jewel
  • Pemberontakan Herat 1979
  • Tujuh Hari ke Sungai Rhine
  • Perjuangan melawan penyalahgunaan politik psikiatri di Uni Soviet
1980-an
  • Perang Soviet-Afganistan
  • Pemboikotan Olimpiade Musim Panas 1980 dan 1984
  • Konflik Peru
  • Kudeta Turki 1980
  • Insiden Teluk Sidra
  • Konflik Casamance
  • Perang Semak Uganda
  • Pemberontakan Pasukan Perlawanan Tuhan
  • Perang Saudara Eritrea
  • Perang Perbatasan Etiopia–Somalia 1982
  • Perang Ndogboyosoi
  • Invasi Amerika Serikat ke Grenada
  • Able Archer 83
  • Star Wars
  • Perang Iran–Irak
  • Pemberontakan Somalia
  • Insiden Laut Hitam 1986
  • Perang Saudara Yaman Selatan
  • Perang Toyota
  • Insiden penyerempetan Laut Hitam 1988
  • Perang Saudara Bougainville
  • Pemberontakan 8888
  • Solidaritas
    • Reaksi Soviet
  • Contras
  • Krisis Amerika Tengah
  • RYAN
  • Korean Air Lines Penerbangan 007
  • Revolusi Kekuatan Rakyat
  • Glasnost
  • Perestroika
  • Perang Nagorno-Karabakh
  • Perang Saudara Afganistan
  • Invasi Amerika Serikat ke Panama
  • Pemogokan Polandia 1988
  • Unjuk rasa Tiananmen 1989
  • Revolusi 1989
  • Keruntuhan Tembok Berlin
  • Kejatuhan perbatasan Jerman dalam
  • Revolusi Velvet
  • Revolusi Rumania 1989
  • Revolusi Damai
1990-an
  • Revolusi Mongolia 1990
  • Perang Teluk
  • Penyatuan kembali Jerman
  • Penyatuan Yaman
  • Kejatuhan komunisme di Albania
  • Pembubaran Yugoslavia
  • Pembubaran Uni Soviet
  • Pembubaran Cekoslowakia
Konflik beku
  • Abkhazia
  • Tiongkok
  • Korea
  • Puerto Riko
  • Kosovo
  • Nagorno-Karabakh
  • Ossetia Selatan
  • Transnistria
  • Sengketa perbatasan Tiongkok-India
  • Sengketa Borneo Utara
Kebijakan luar negeri
  • Doktrin Truman
  • Pembendungan
  • Doktrin Eisenhower
  • Teori domino
  • Doktrin Hallstein
  • Doktrin Kennedy
  • Koeksistensi damai
  • Ostpolitik
  • Doktrin Johnson
  • Doktrin Brezhnev
  • Doktrin Nixon
  • Doktrin Ulbricht
  • Doktrin Carter
  • Doktrin Reagan
  • Dorong balik
  • Kedaulatan Puerto Riko pada Perang Dingin
Ideologi
Kapitalisme
  • Liberalisme
  • Mazhab Chicago
  • Keynesianisme
  • Monetarisme
  • Ekonomi neoklasik
  • Reaganomics
  • Ekonomi sisi penawaran
  • Thatcherisme
Komunisme
  • Sosialisme
  • Marxisme–Leninisme
  • Castroisme
  • Eurokomunisme
  • Guevarisme
  • Hoxhaisme
  • Juche
  • Maoisme
  • Naxalisme
  • Stalinisme
  • Titoisme
Lainnya
  • Imperialisme
  • Anti-imperialisme
  • Nasionalisme
  • Ultranasionalisme
  • Chauvinisme
  • Nasionalisme etnis
  • Rasisme
  • Zionisme
  • Fasisme
  • Neo-Nazisme
  • Islamisme
  • Totaliterisme
  • Otoritarianisme
  • Autokrasi
  • Demokrasi liberal
  • Demokrasi iliberal
  • Demokrasi terpimpin
  • Demokrasi sosial
  • Third-Worldisme
  • Supremasi kulit putih
  • Nasionalisme kulit putih
  • Separatisme kulit putih
  • Apartheid
Organisasi
  • NATO
  • Pakta Warsawa
  • Komunitas Andes
  • ASEAN
  • CIA
  • Comecon
  • EEC
  • KGB
  • MI6
  • Gerakan Non-Blok
  • SAARC
  • Safari Club
  • Stasi
Propaganda
  • Tindakan aktif
  • Amerika
  • Pembasmian untuk Kebebasan
  • Izvestia
  • Pravda
  • Radio Free Europe/Radio Liberty
  • Ketakutan Merah
  • Soviet Life
  • TASS
  • Voice of America
  • Voice of Russia
Perlombaan
  • Perlombaan senjata
  • Perlombaan senjata nuklir
  • Perlombaan Antariksa
Sejarawan
  • Gar Alperovitz
  • Thomas A. Bailey
  • Michael Beschloss
  • Archie Brown
  • Warren H. Carroll
  • Adrian Cioroianu
  • John Costello
  • Michael Cox
  • Nicholas J. Cull
  • Willem Drees
  • Robert D. English
  • Herbert Feis
  • Robert Hugh Ferrell
  • André Fontaine
  • Anneli Ute Gabanyi
  • John Lewis Gaddis
  • Lloyd Gardner
  • Timothy Garton Ash
  • Gabriel Gorodetsky
  • Fred Halliday
  • Jussi Hanhimäki
  • John Earl Haynes
  • Patrick J. Hearden
  • Tvrtko Jakovina
  • Tony Judt
  • Harvey Klehr
  • Gabriel Kolko
  • Walter LaFeber
  • Walter Laqueur
  • Melvyn Leffler
  • Geir Lundestad
  • Mary Elise Sarotte
  • Vojtech Mastny
  • Jack F. Matlock Jr.
  • Thomas J. McCormick
  • Timothy Naftali
  • Marius Oprea
  • David S. Painter
  • William B. Pickett
  • Ronald E. Powaski
  • Yakov M. Rabkin
  • Arthur M. Schlesinger Jr.
  • Ellen Schrecker
  • Giles Scott-Smith
  • Shen Zhihua
  • Athan Theoharis
  • Andrew Thorpe
  • Vladimir Tismăneanu
  • Patrick Vaughan
  • Alex von Tunzelmann
  • Odd Arne Westad
  • William Appleman Williams
  • Jonathan Reed Winkler
  • Rudolph Winnacker
  • Ken Young
Lihat pula
  • Intervensi Sekutu dalam Perang Saudara Rusia
  • Daftar agen Blok Timur di Amerika Serikat
  • Spionase Soviet di AS
  • Hubungan Amerika Serikat dengan Uni Soviet
  • Konferensi AS–Soviet
  • Spionase Rusia di AS
  • Spionase Amerika di Uni Soviet dan Federasi Rusia
  • Hubungan NATO dengan Rusia
  • Brinkmanship
  • CIA dan Perang Dingin Kebudayaan
  • Perang Dingin II
  • Revolusi Rusia
  • Kategori
  • Commons
  • Garis waktu
  • Daftar konflik
  • l
  • b
  • s
Partai Golongan Karya (Golkar)
  • Sejarah
Konvensi
Nasional

dan
Pasangan Calon
Presiden/Wakil Presiden
  • 1973: Soeharto/Hamengkubuwana
  • 1978: Soeharto/Adam
  • 1983: Soeharto/Umar
  • 1988: Soeharto/Soedharmono
  • 1993: Soeharto/Try
  • 1998: Soeharto/Habibie
  • 1999: Tidak mencalonkan
  • 2004 (Jakarta): Wiranto/Salahuddin Wahid
  • 2009: Jusuf Kalla/Wiranto
  • 2014: Prabowo/Hatta
  • 2019: Jokowi/Amin
  • 2024: Prabowo/Gibran
Pemerintahan
Presiden
  • Soeharto (1967–1998)
  • Habibie (1998–1999)
Ketua DPR
  • Malik (1977–1978)
  • Daryatmo (1978–1987)
  • Machmud (1982–1987)
  • Suhud (1987–1992)
  • Wahono (1992–1997)
  • Harmoko (1997–1999)
  • Tanjung (1999–2004)
  • Laksono (2004–2009)
  • Novanto (2014–2015)
  • Komaruddin (2016)
  • Novanto (2016–2017)
  • Soesatyo (2018–2019)
Ketua MPR
  • Malik (1977–1978)
  • Daryatmo (1978–1987)
  • Machmud (1982–1987)
  • Suhud (1987–1992)
  • Wahono (1992–1997)
  • Harmoko (1997–1999)
  • Soesatyo (2019–2024)
Ketua Partai
  • Djuhartono (1964–1969)
  • Sukowati (1969–1973)
  • Moertono (1973–1983)
  • Soedharmono (1983–1988)
  • Wahono (1988–1993)
  • Harmoko (1993–1998)
  • Tanjung (1998–2004)
  • Kalla (2004–2009)
  • Bakrie (2009–2014, 2016)
  • Bakrie & Laksono (dualisme) (2014–2016)
  • Novanto (2016–2017)
  • Hartanto (2019–2024)
  • Lahadalia (2024–)
Pimpinan
daerah
  • Aceh
  • Sumut
  • Sumbar
  • Riau
  • Jambi
  • Sumsel
  • Bengkulu
  • Lampung
  • Kep. Babel
  • Kepri
  • Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Banten
  • Bali
  • NTB
  • NTT
  • Kalbar
  • Kalteng
  • Kalsel
  • Kaltim
  • Kalut
  • Sulut
  • Sulteng
  • Sulsel
  • Gorontalo
  • Sulbar
  • Maluku
  • Malut
  • Papua
  • Papua Barat
  • Papua Selatan
  • Papua Tengah
  • Papua Pegunungan
  • Sumbar
  • Papua Barat Daya
Organisasi
sayap
  • Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG)
  • Angkatan Muda Pembaharu Indonesia (AMPI)
  • Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI)
  • Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro)
  • Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR)
  • Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG)
  • Satkar Ulama Indonesia
  • Al-Hidayah (organisasi)
  • Himpunan Wanita Karya
  • Majelis Dakwah Indonesia
Partai pecahan
  • PKP
  • Hanura
  • Gerindra
  • NasDem
  • Berkarya
Terkait
  • Dualisme
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Jepang
  • Italia
  • Australia
  • Republik Ceko
  • Spanyol
  • Belanda
  • Swedia
  • Polandia
  • Israel
  • Katalonia
Akademik
  • CiNii
Orang
  • Trove
    • 2
  • Deutsche Biographie
  • DDB
Lain-lain
  • IdRef
  • NARA
  • SNAC
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Keluarga
  2. Orang tua
  3. Istri dan anak-anak
  4. Biografi
  5. Masa kecil dan pendidikan
  6. Riwayat pekerjaan
  7. Karier militer
  8. Presiden (1966–1998)
  9. Upaya mengatasi krisis dan meredam oposisi
  10. Puncak Orde Baru
  11. Mundur dari jabatan presiden
  12. Kontroversi
  13. Kasus dugaan korupsi
  14. Beberapa catatan atas tindakan represif Orde Baru
  15. Peninggalan
  16. Bidang politik

Artikel Terkait

Daftar presiden Indonesia

artikel daftar presiden

Wakil Presiden Indonesia

wakil kepala negara dan kepala pemerintahan Indonesia

Daftar wakil presiden Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026