Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Perang Yom Kippur

Perang Yom Kippur, dikenal juga dengan nama Perang Ramadan atau Perang Oktober adalah perang yang terjadi pada tanggal 6 - 26 Oktober 1973 antara negara Israel melawan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.

perang bulan Oktober 1973 antara Mesir bersama Suriah melawan Israel
Diperbarui 22 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Perang Yom Kippur
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Perang Yom Kippur" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Februari 2026)
Perang Yom Kippur
Bagian dari Konflik Arab-Israel dan Perang Dingin

Searah jarum jam dari kiri atas:
Tank-tank Israel melintasi Terusan Suez Varian Nesher Israel dari jet tempur Mirage 5 terbang di atas Dataran Tinggi Golan, Tentara Israel berdoa di Semenanjung Sinai, Tentara Israel mengevakuasi personel yang terluka, Tentara Mesir mengibarkan Bendera Mesir di bekas posisi Israel di Semenanjung Sinai Tentara Mesir dengan potret Anwar Sadat
Tanggal6 Oktober — 26 Oktober 1973
(2 minggu, 6 hari)
LokasiSemenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, dan daerah sekitarnya.
Hasil Lihat § Akhir perang
Pihak terlibat
 Israel

Mesir
 Suriah

Pasukan ekspedisi :
 Yordania
 Kuwait[1]
 Maroko[2]
 Tunisia[3]
 Arab Saudi[4]
 Algeria[5]
 Sudan
 Kuba[6]
 Korea Utara[7]
Tokoh dan pemimpin
Golda Meir
Moshe Dayan
David Elazar
Ariel Sharon
Shmuel Gonen
Benjamin Peled
Israel Tal
Rehavam Zeevi
Aharon Yariv
Yitzhak Hofi
Rafael Eitan
Abraham Adan
Yanush Ben Gal
Saad El Shazly
Ahmad Ismail Ali
Muammar al-Qaddafi
Hosni Mubarak
Mohammed Aly Fahmy
Anwar Sadat
Hafez Assad
Abdel Ghani el-Gammasy
Abdul Munim Wassel
Abd-Al-Minaam Khaleel
Abu Zikry
Nurkholis Muzakkir
Kekuatan
415.000 tentara;
1.500 tank,
3.000 pengangkut lapis baja;
945 artileri.[a]
561 pesawat, 84 helikopter;
38 kapal perang.[8]

Mesir: 650.000[9]–850.000[10] tentara,[11][12] 1.700 tank,[13] 2.400 pengangkut lapis baja, 1.120 artileri.[a]

Irak: 60.000 tentara, 700 tank, 500 pengangkut lapis baja, 200 artileri,[a] 73 pesawat.[8]

Arab Saudi: 23.000 tentara.[14][15][16]

Maroko: 5.500 tentara,[17][18] 30 tank oleh Suriah.[17][18]

Kuba: 500[19]–1.000[20] tentara.

Pasukan ekspedisi: 120.000 tentara,[9] 500–670 tank, [21][22] 700 pengangkut lapis baja.[21]
Korban
  • 2.521[23]–2.800[24] tewas
  • 7.250[25]–8.800[24] terluka
  • 293 ditangkap
  • 400 tank dihancurkan, 663 rusak atau disita[26]
  • 407 kendaraan lapis baja dihancurkan atau disita
  • 102–387 pesawat dihancurkan[27][28]

Mesir:

  • 5.000[24]–15.000 tewas[29]
  • 8.372 ditawan[30]

Suriah:

  • 3.000[24]–3.500 tewas[29]
  • 392 ditawan[30]

Maroko:

  • 6 tewas[2]
  • 6 ditawan[30]

Irak:

  • 278 tewas
  • 898 terluka
  • 13 ditawan[30]

Kuba:

  • 180 tewas
  • 250 terluka[6]

Yordania:

  • 23 tewas
  • 77 terluka

Total korban:

  • 8.000[24]–18.500[29] tewas
  • 18.000[24]–35.000[25] terluka
  • 8.783 ditawan
  • 2.250[31]–2.300[32] tank hancur
  • 19 kapal selam hancur[33]

Perang Yom Kippur, dikenal juga dengan nama Perang Ramadan atau Perang Oktober (bahasa Ibrani: מלחמת יום הכיפוריםcode: he is deprecated ‎ Milẖemet Yom HaKipurim atau מלחמת יום כיפור Milẖemet Yom Kipur; bahasa Arab: حرب أكتوبرcode: ar is deprecated ḥarb ʾUktōbar atau حرب تشرينcode: ar is deprecated ḥarb Tišrīn) adalah perang yang terjadi pada tanggal 6 - 26 Oktober 1973 antara negara Israel melawan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.

Jalannya perang

Pada tanggal 6 Oktober 1973, pada hari Yom Kippur, hari raya Yahudi yang paling besar, ketika orang-orang Israel sedang khusyuk merayakannya, yang juga bertepatan dengan bulan Ramadan bagi ummat Islam sehingga dinamakan "Perang Ramadan 1973", Suriah, Libya dan Mesir menyerbu Israel secara tiba-tiba. Di Dataran Tinggi Golan, garis pertahanan Israel yang hanya berjumlah 180 tank harus berhadapan dengan 1400 tank Suriah. Sedangkan di terusan Suez, kurang dari 500 prajurit Israel berhadapan dengan 80.000 prajurit Mesir.

Mesir mengambil pelajaran pada Perang Enam Hari pada tahun 1967 tentang lemahnya pertahanan udara sehingga saat itu 3/4 kekuatan udara Mesir hancur total sementara Suriah masih dapat memberikan perlawanan. Sadar bahwa armada pesawat tempur Mesir masih banyak menggunakan teknologi lama dibandingkan Israel, Mesir akhirnya menerapkan strategi payung udara dengan menggunakan rudal dan meriam anti serangan udara bergerak yang jarak tembaknya dipadukan. Angkatan udara Israel akhirnya kewalahan bahkan banyak yang menjadi korban karena berusaha menembus "jaring-jaring" pertahanan udara itu.

Pada permulaan perang, Israel terpaksa menarik mundur pasukannya. Namun, setelah memobilisasi tentara cadangan, mereka bisa memukul tentara invasi sampai jauh di Mesir dan Suriah. Israel berhasil "menjinakkan" payung udara Mesir yang ternyata lambat dalam mengiringi gerak maju pasukkannya, dengan langsung mengisi celah (gap) antara payung udara dengan pasukan yang sudah berada lebih jauh di depan. Akibatnya beberapa divisi Mesir terjebak bahkan kehabisan perbekalan. Sementara di front timur, Israel berhasil menahan serangan lapis baja Suriah.

Melihat Mesir mengalami kekalahan, Uni Soviet tidak tinggal diam. Melihat tindakan Uni Soviet, Amerika Serikat segera mempersiapkan kekuatannya. Kemudian, Raja Faisal bin Abdul Aziz dari Arab Saudi mengumumkan pembatasan produksi minyak. Krisis energi muncul dan negara negara industri kewalahan lantaran harga minyak dunia membumbung tinggi. Dua minggu setelah perang dimulai, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan rapat dan mengeluarkan resolusi 339 serta gencatan senjata dan dengan ini mencegah kekalahan total Mesir.

Secara total 2.688 tentara Israel tewas dan kurang lebih 7.000 orang cedera, 314 tentara Israel dijadikan tawanan perang dan puluhan tentara Israel hilang (17 di antaranya bahkan sampai tahun 2003 belum ditemukan). Tentara Israel kehilangan 102 pesawat tempur dan kurang lebih 800 tank. Di sisi Mesir dan Suriah 35.000 tentara tewas dan lebih dari 15.000 cedera. 8300 tentara ditawan. Angkatan Udara Mesir kehilangan 235 pesawat tempur dan Suriah 135.

Akhir perang

Para sejarawan memiliki pendapat beragam terkait akhir dari perang ini. Di satu sisi, ada sejarawan yang menganggap Israel menang.[47] Di sisi lain, ada sejarawan yang menganggap Mesir telah memenangkan perang.[48] Namun, ada pula yang menganggap kedua belah pihak tidak memenangkan perang ini.[58]

Israel

Setelah perang berakhir, banyak terjadi protes di Israel sampai-sampai Perdana Menteri Golda Meir dan Menteri Pertahanan Moshe Dayan dari Partai Buruh serta Panglima Angkatan Bersenjata Israel, David Eliazar, harus mengundurkan diri.

Israel mengambil pelajaran secara teknologi dan strategi pasca Perang Yom Kippur tersebut. Secara teratur Israel memodernkan angkatan bersenjatanya baik dengan bantuan Amerika Serikat maupun swadaya. Insiden peledakkan pesawat sipil di bandar udara Lebanon yang dilakukan oleh agen Mossad pada akhir 1970-an sebagai pembalasan peristiwa "Black September", di mana atlet Olympiade Israel dibunuh oleh "gerilyawan PLO" di München, Jerman Barat, menyebabkan Prancis mengembargo persenjataan ke Israel. Karena khawatir Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Israel berupaya keras melakukan upaya swasembada persenjataan. Diantaranya memproduksi pesawat tempur Mirage III tanpa izin yang dikenal dengan tipe Dagger yang digunakan Argentina dalam Perang Falkland, mengadakan riset pengacau radar dan gelombang radio, memproduksi pesawat tempur rancangan sendiri Kfir dan Lavi, serta memproduksi tank Merkava yang didesain berdasarkan pengalaman Israel mengoperasikan tank Amerika Serikat dan Inggris serta tank lawan yang rusak atau dirampas.

Kesiapan Israel ini terbukti dalam Invasi ke Lebanon Selatan pada tahun 1982 yang berhasil menduduki kawasan Lebanon Selatan serta menghancurkan kekuatan Angkatan Udara Suriah dalam Insiden Lembah Beka'a

Mesir dan Timur Tengah

Meskipun Mesir mengalami kalah perang lagi tetapi perang ini setidaknya bisa sedikit menghibur dan mengobati sedikit kehormatan dan rasa percaya diri mereka setelah kalah dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967. Mesir sempat berhasil memasuki wilayah israel walaupun akhirnya kalah dalam pertempuran berikutnya yang berakhir dengan kekalahan Mesir dan negara-negara Arab. Ketika tentara Israel mengundurkan diri dari Port Sa’id, penduduk Mesir dengan pawai dan arak-arakan besar-besaran serta pesta memasuki kota ini. Israel lalu mengundurkan diri dari seluruh daerah Sinai setelah Mesir sepakat akan membuat bufferzones.

Negara-negara Pro Arab tetap mengklaim Mesir dan dunia Arab sebagai pemenang dengan alasan pada hari pertama perang, pasukan Arab berhasil menerobos garis pertahanan Israel yang minim penjagaan.

Pada tahun 1978 di Camp David, Amerika Serikat, disepakati perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Camp David di mana Israel berjanji akan mengundurkan diri sampai ke perbatasan internasional dan di mana seluruh daerah Sinai menjadi daerah demilitarisasi dan diserahkan kepada Mesir. Perjanjian kedua yang akan disepakati hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak bangsa Palestina, tetapi ditolak para pemimpin Palestina (PLO). Setahun kemudian sebuah kesepakatan perdamaian ditanda tangani oleh Menachem Begin, Jimmy Carter dan Anwar Sadat yang bersama-sama mendapat penghargaan Nobel untuk perdamaian. Perjanjian ini disponsori oleh Amerika Serikat.

Akibat penandatanganan perjanjian ini, Anwar Sadat mendapat tekanan dari dalam negeri khususnya dari kelompok fundamentalis Islam dan para pelajar Mesir yang menyebabkan Anwar Sadat mengambil tindakan represif yang mendapat kecaman karena terdapat banyak pelanggaran HAM. Akibat tindakan ini pula, Anwar Sadat akhirnya terbunuh dalam parade Militer pada ulang tahun ke-8 perang Yom Kippur.

Sesudah perang usai, Anwar Sadat mengakui bahwa ia sengaja melancarkan perang terhadap Israel dengan tujuan untuk mengalihkan perhatian rakyat Mesir dari beban kesulitan ekonomi dan mengalihkan kemarahan rakyat akibat merajalelanya korupsi & nepotisme di kalangan para pejabat Mesir.

Posisi Palestina setelah perang Yom Kippur 1973 ini semakin tidak jelas. Terlebih setelah Yordania, negeri yang ditempati sebagian besar bangsa Palestina mengambil sikap netral akibat kekalahannya pada Perang Enam Hari 1967 yang menyebabkan Yordania kehilangan Tepi Barat dan Jerussalem Timur. Sikap Yordania ini, menyebabkan kemarahan dikalangan Palestina terutama dari PLO yang saat itu berkedudukan di sana. Karena PLO bertindak sebagai negara dalam negara di Yordania dan berencana untuk mengudeta Raja Yordania maka untuk menghindari ketidakstabilan keamanan, Raja Hussein bin Talal akhirnya mengambil sikap represif dengan mengusir PLO dari negaranya. PLO akhirnya pindah ke Libanon dan Tunisia.

Syria sendiri mengalami kerugian yang cukup besar, tetapi akhirnya Suriah menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Israel namun tidak mengadakan perjanjian perdamaian, terutama sebelum wilayah Dataran Tinggi Golan dikembalikan oleh Israel dalam perang tahun 1967. Dataran tinggi Golan sendiri akhirnya ditetapkan secara sepihak oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat. Namun, sikap Suriah terhadap Palestina yang kurang lebih sama dengan sikap Yordania menyebabkan terjadinya pergolakan-pergolakan terutama dengan kalangan fundamentalis Islam terutama yang berkedudukan di kota Hama. Pergolakan ini berlanjut ketika Hafez Al Assad mengambil tindakan represif semakin keras yang memuncak pada peristiwa pembantaian Hama di akhir dekade 1970-an.

Catatan

  1. 1 2 3 The number reflects artillery units of caliber 100 mm and up

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Rabinovich (2004), hlm. 464-465.
  2. 1 2 Mahjoub Tobji (2006). Les officiers de Sa Majesté: Les dérives des généraux marocains 1956–2006 (dalam bahasa Prancis). Fayard. hlm. 107. ISBN 978-2-213-63015-1.
  3. ↑ Hussain, Hamid (November 2002). "Opinion: The Fourth round – A Critical Review of 1973 Arab–Israeli War". Defence Journal. Diarsipkan dari asli tanggal 16 January 2009.
  4. ↑ O'Ballance (1978), hlm. 201.
  5. ↑ Shazly (2003), hlm. 278.
  6. 1 2 Ra'anan, G. D. (1981). The Evolution of the Soviet Use of Surrogates in Military Relations with the Third World, with Particular Emphasis on Cuban Participation in Africa. Santa Monica: Rand Corporation. p. 37
  7. ↑ Cenciotti, David. "Israeli F-4s Actually Fought North Korean MiGs During the Yom Kippur War". Business Insider.
  8. 1 2 Yom Kippur War at sem40.ru
  9. 1 2 Rabinovich (2004), hlm. 54.
  10. ↑ Herzog (1975), hlm. 239.
  11. ↑ Gilbert, Martin (2008). Israel: A History (Edisi Revised). Harper Perenial. hlm. 436. ISBN 978-0688123635.
  12. ↑ "Crossing under Fire". www.usmcu.edu (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 August 2025. Diakses tanggal 2025-12-05.
  13. ↑ Shazly (2003), hlm. 244.
  14. ↑ Neil Partrick (2016). Saudi Arabian Foreign Policy: Conflict and Cooperation. Bloomsbury. hlm. 183. ISBN 978-0-85772-793-0.
  15. ↑ Rabinovich (2004), hlm. 464–465.
  16. ↑ "بطولات السعوديين حاضرة.. في الحروب العربية". Okaz. 17 November 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 16 February 2021. Diakses tanggal 13 August 2021.
  17. 1 2 Touchard, Laurent (7 November 2013). "Guerre du Kippour: quand le Maroc et l'Algérie se battaient côte à côte" (dalam bahasa Prancis). Jeune Afrique. Diakses tanggal 4 December 2022.
  18. 1 2 "Le jour où Hassan II a bombardé Israël". Le Temps (dalam bahasa Prancis). Diarsipkan dari asli tanggal 14 October 2013. Diakses tanggal 25 December 2013.
  19. ↑ Williams, John Hoyt (1 August 1988). "Cuba: Havana's Military Machine". The Atlantic. Diakses tanggal 19 September 2022.
  20. ↑ The Cuban Intervention in Angola, 1965–1991. Routledge. 2004. hlm. 47. ISBN 978-1-134-26933-4.
  21. 1 2 Rabinovich (2004), hlm. 314.
  22. ↑ Bar-On (2004), hlm. 170.
  23. ↑ Schiff (1974), hlm. 328.
  24. 1 2 3 4 5 6 Gawrych (2000), hlm. 243.
  25. 1 2 Rabinovich (2004), hlm. 497.
  26. ↑ Rabinovich (2004), hlm. 496.
  27. ↑ "White House Military Briefing" (PDF). Diakses tanggal 22 October 2011.
  28. ↑ "القوة الثالثة، تاريخ القوات الجوية المصرية." Third Power: History of Egyptian Air Force Ali Mohammed Labib. pp. 187
  29. 1 2 3 Herzog, Encyclopaedia Judaica, Keter Publishing House, 1974, p. 87.
  30. 1 2 3 4 "Ministry of Foreign Affairs". Mfa.gov.il. Diakses tanggal 22 October 2011.
  31. ↑ Rabinovich (2004), hlm. 496–497.
  32. ↑ Gawrych (2000), hlm. 244.
  33. ↑ Herzog (1975), hlm. 269.
  34. ↑ Herzog (1975), Foreword.
  35. ↑ Insight Team of the London Sunday Times, p. 450.
  36. ↑ Luttwak; Horowitz (1983). The Israeli Army. Cambridge, MA: Abt Books. ISBN 978-0-89011-585-5.
  37. ↑ Rabinovich (2004), hlm. 498.
  38. ↑ Kumaraswamy, PR (2000). Revisiting The Yom Kippur War. Psychology Press. hlm. 1–2. ISBN 978-0-7146-5007-4.
  39. ↑ Johnson & Tierney (2009), hlm. 177, 180.
  40. ↑ Liebman, Charles (July 1993). "The Myth of Defeat: The Memory of the Yom Kippur war in Israeli Society" (PDF). Middle Eastern Studies. 29 (3). London: Frank Cass: 411. doi:10.1080/00263209308700958. ISSN 0026-3206. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 May 2013.
  41. ↑ "Milestones: 1969–1976 - Office of the Historian". history.state.gov. Diakses tanggal 10 Maret 2023.
  42. ↑ Simon Dunstan (18 September 2007). The Yom Kippur War: The Arab-Israeli War of 1973. Bloomsbury USA. hlm. 205. ISBN 978-1-84603-288-2.[pranala nonaktif permanen]
  43. ↑ Asaf Siniver (2013). The Yom Kippur War: Politics, Legacy, Diplomacy. Oxford University Press. hlm. 6. ISBN 978-0-19-933481-0. (p. 6) "For most Egyptians the war is remembered as an unquestionable victory—militarily as well as politically ... The fact that the war ended with Israeli troops stationed in the outskirts of Cairo and in complete encirclement of the Egyptian third army has not dampened the jubilant commemoration of the war in Egypt." (p. 11) "Ultimately, the conflict provided a military victory for Israel, but it is remembered as 'the earthquake' or 'the blunder'"
  44. ↑ Ian Bickerton (2012). The Arab-Israeli Conflict: A Guide for the Perplexed. A&C Black. hlm. 128. ISBN 978-1-4411-2872-0. the Arab has suffered repeated military defeats at the hand of Israel in 1956, 1967, and 1973
  45. ↑ P.R. Kumaraswamy (2013). Revisiting the Yom Kippur War. Routledge. hlm. 184. ISBN 978-1-136-32888-6. (p. 184) "Yom Kippur War ... its final outcome was, without doubt, a military victory  ... " (p. 185) " ...  in October 1973, that despite Israel's military victory"
  46. ↑ Loyola, Mario (7 October 2013). "How We Used to Do It – American diplomacy in the Yom Kippur War". National Review. hlm. 1. Diakses tanggal 2 December 2013.
  47. ↑ Lihat[34][35][36][37][38][39][40][41][42][43][44][45][46]
  48. ↑ Siniver, Asaf (2013). The Yom Kippur War: Politics, Legacy, Diplomacy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 65. ISBN 978-0-19-933481-0.
  49. ↑ Tolchin, Martin; Tolchin, Susan J. (2007-10-30). A World Ignited: How Apostles of Ethnic, Religious, and Racial Hatred Torch the Globe (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield Publishers. hlm. 8. ISBN 978-1-4617-1165-0. The themes of defeat and victory played important roles in Sadat's famous pursuit of peace with Israel. In Cairo, a bridge and statues are among the symbols that celebrate the "October 6 victory." What was that victory? It turned out to be what the rest of the world called the "Yom Kippur War," the war between Egypt and Israel in 1973. The reason that no one else referred to the war as a "victory" was that most historians regarded it as a stalemate rather than a clear triumph for either side.
  50. ↑ Kacowicz, Arie Marcelo (1994). Peaceful Territorial Change (dalam bahasa Inggris). Univ of South Carolina Press. hlm. 131. ISBN 978-0-87249-989-8. The Camp David Agreements should be understood against the background of the Yom Kippur War and its political, military, and economic implications. The Israeli military achievements on the battlefield, balanced by the Egyptian psychological victory in political terms, created a complex situation of military stalemate and political ripeness for striking a diplomatic bargain between the parties.
  51. ↑ Porter, Bruce D. (1986-07-25). The USSR in Third World Conflicts: Soviet Arms and Diplomacy in Local Wars 1945-1980 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 28. ISBN 978-0-521-31064-2. Although Moscow managed against considerable odds to salvage from the Yom Kippur war a military stalemate and a moral victory for the Arabs, it suffered almost total collapse of its influence in Egypt shortly thereafter.
  52. ↑ Lansford, Tom (2011-11-04). 9/11 and the Wars in Afghanistan and Iraq: A Chronology and Reference Guide (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing USA. hlm. 2. ISBN 978-1-59884-420-7. In 1973, Israel was attacked by a coalition of Arab states in the Yom Kippur War (Ramadan War). The conflict ended in a military stalemate.
  53. ↑ Bailey, Clinton (2019-03-04). Jordan's Palestinian Challenge, 1948-1983: A Political History (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-70916-6.
  54. ↑ McKernan, Bethan (23 August 2024). "'The next days were hell': How the Yom Kippur war realigned the Middle East". The Observer via The Guardian.com.
  55. ↑ "The October Arab-Israeli War of 1973: What happened?". 23 August 2024.
  56. ↑ "Summary of "Tactical Stalemates"". 23 August 2024.
  57. ↑ Middleton, Drew (23 August 2024). "Who Lost the Yom Kippur War? A Military Inventory of the Middle East". The Atlantic.
  58. ↑ Lihat[49][50][51][52][53][54][55][56][57]

Daftar pustaka

  • Bar-On, Mordechai (30 November 2004). A Never-ending Conflict: A Guide to Israeli Military History (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Academic. ISBN 978-0-275-98158-7.
  • Gawrych, George (2000). The Albatross of Decisive Victory: War and Policy Between Egypt and Israel in the 1967 and 1973 Arab-Israeli Wars. Greenwood Publishing Group. ISBN 978-0-313-31302-8.
  • Herzog, Chaim (1975). The War of Atonement: The Inside Story of the Yom Kippur War. Little, Brown and Company. ISBN 978-0-316-35900-9. Also 2003 edition, ISBN 978-1-85367-569-0
  • Johnson, Dominic D. P; Tierney, Dominic (2009-06-30). Failing to Win. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-03917-9.
  • O'Ballance, Edgar (1978). No Victor, No Vanquished: The Yom Kippur War9. Barrie & Jenkins. hlm. 28–370. ISBN 978-0-214-20670-2.
  • Rabinovich, Abraham (2004). The Yom Kippur War: The Epic Encounter That Transformed the Middle East. New York: Schocken Books. ISBN 978-0-8052-4176-1.
  • Schiff, Zeev (1974). A history of the Israeli Army (1870-1974). San Francisco : Straight Arrow Books; New York : distributed by Simon and Schuster. ISBN 978-0-87932-077-5.
  • Shazly, Lieutenant General Saad el (2003). The Crossing of the Suez, Revised Edition (Edisi revised). American Mideast Research. ISBN 978-0-9604562-2-2.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
  • FAST
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Republik Ceko
  • Spanyol
  • Israel
Lain-lain
  • IdRef
  • NARA
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Jalannya perang
  2. Akhir perang
  3. Israel
  4. Mesir dan Timur Tengah
  5. Catatan
  6. Referensi
  7. Catatan kaki
  8. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Perang Arab–Israel 1948

tahap kedua dan terakhir perang Palestina 1947–1949

Perang Enam Hari

perang tahun 1967 antara Israel dengan Mesir, Yordania, dan Suriah

Perang Israel–Hamas

konflik bersenjata di sekitar Jalur Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026