Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis, lahir dengan nama Maria Josephine Catherine Maramis, adalah seorang tokoh perempuan Minahasa yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia pada awal abad ke-20. Ia berperan penting dalam peningkatan pendidikan dan kesadaran sosial bagi perempuan, sehingga diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan
Diperbarui 1 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Maria Walanda Maramis
Ini adalah nama Minahasa, marganya adalah Maramis.

Maria Walanda Maramis
Potret M.W. Maramis
LahirMaria Josephine Catherine Maramis
(1872-12-01)1 Desember 1872
Kema, Minahasa Utara, Hindia Belanda
Meninggal22 April 1924(1924-04-22) (umur 51)
Maumbi, Minahasa Utara, Hindia Belanda
Suami/istriJoseph Frederick Caselung Walanda
Orang tuaBernardus Maramis (ayah)
Sarah Rotinsulu (ibu)
KerabatAlexander Andries Maramis (keponakan)
Pahlawan Nasional Indonesia
S.K. Presiden No. 012/TK/1969 tanggal 20 Mei 1969.
  • Pahlawan Nasional Indonesia Suntingan nilai di Wikidata

Maria Walanda Maramis (lahir 1 Desember 1872 – meninggal 22 April 1924), lahir dengan nama Maria Josephine Catherine Maramis, adalah seorang tokoh perempuan Minahasa yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia pada awal abad ke-20. Ia berperan penting dalam peningkatan pendidikan dan kesadaran sosial bagi perempuan, sehingga diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.[1]

Maria Walanda Maramis dikenang setiap 1 Desember oleh masyarakat Minahasa melalui Hari Ibu Maria Walanda Maramis, sebagai penghargaan terhadap perjuangannya melawan batasan tradisional terhadap perempuan. Dalam publikasi Nederlandsche Zendeling Genootschap (1981), Nicolaas Graafland menilai Maria memiliki kemampuan belajar dan berpikir yang unggul, serta sering menunjukkan prestasi yang melampaui kaum laki-laki di zamannya.[2]

Pemerintah Indonesia menganugerahi Maria gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dan menetapkannya sebagai Pahlawan nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 012/TK/1969 pada 20 Mei 1969.[3] Untuk mengenang jasanya, sebuah patung peringatan dibangun di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang, Manado, yang menjadi titik edukasi sejarah perjuangan perempuan di Minahasa.[4]

Kehidupan awal

Maria Josephine Catherine Maramis lahir di Kema, sebuah desa yang saat ini termasuk dalam Kecamatan Kema (yang merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Kauditan), Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Maramis merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, dengan kakak perempuan bernama Antje dan kakak laki-laki bernama Andries. Orang tuanya adalah Bernadus Maramis dan Sarah Rotinsulu.[5] Kakaknya, Andries Maramis, memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia sebagai ayah dari Alexander Andries Maramis, yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan kemudian menjabat sebagai menteri serta duta besar pada masa awal pemerintahan Indonesia.[6]

Maramis menjadi yatim piatu pada usia enam tahun setelah kedua orang tuanya meninggal karena sakit dalam waktu yang singkat. Setelah itu, pamannya, Mayor Ezau Rotinsulu, yang saat itu menjabat kepala distrik di Maumbi, membawa Maria beserta saudara-saudaranya ke Maumbi untuk diasuh dan dibesarkan di sana.[5] Selama menetap di Maumbi, Maria menjalin pergaulan dengan kalangan terpelajar, termasuk seorang pendeta bernama Jan Ten Hoeve. Maria dan kakak perempuannya kemudian didaftarkan ke Sekolah Melayu Maumbi, yang mengajarkan kemampuan dasar membaca, menulis, serta pengetahuan umum dan sejarah. Sekolah ini menjadi satu-satunya pendidikan formal yang diterima Maria, karena pada masa itu perempuan umumnya hanya dipersiapkan untuk menikah dan mengurus rumah tangga.[7][8]

Makam Maramis di dekat Manado

Kondisi Minahasa abad 20-an

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wilayah Minahasa terbagi menjadi delapan kelompok etnis atau walak,[9] yang sedang mengalami proses integrasi menuju satu kesatuan geopolitik yang dikenal sebagai Minahasa dalam kerangka kolonial Hindia Belanda. Seiring dengan perkembangan ini, pemerintah kolonial melakukan reorganisasi birokrasi dengan mengangkat pejabat-pejabat tradisional setempat menjadi pegawai pemerintah bergaji yang berada di bawah pengawasan seorang residen.[10] Perkembangan ekonomi juga berlangsung pesat akibat komersialisasi agraria. Perkebunan kopi dan kopra menjadi sektor utama, mendorong pertumbuhan ekspor dan menarik penanaman modal dalam jumlah besar. Aktivitas ekonomi ini turut memacu perkembangan kota-kota di Minahasa, seperti Tondano, Tomohon, Kakaskasen, Sonder, Remboken, Kawangkoan, dan Langowan.[11]

PIKAT

Setelah menetap di Manado, Maria Walanda Maramis mulai menulis artikel opini di surat kabar lokal Tjahaja Siang, menekankan peranan penting ibu dalam keluarga, termasuk kewajiban mereka dalam mengasuh anak dan menjaga kesehatan keluarga, serta memberikan pendidikan awal kepada anak-anak. Menyadari perlunya perempuan muda memperoleh bekal untuk menjalankan peran mereka sebagai pengasuh keluarga, Maramis bersama beberapa tokoh lainnya mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT) pada 8 Juli 1917. Organisasi ini bertujuan mendidik perempuan yang telah menamatkan pendidikan dasar, menyediakan wadah untuk berinteraksi, membangun jaringan sosial, dan membiasakan perempuan menyampaikan pendapat serta gagasan secara bebas. Selain itu, PIKAT berperan dalam membentuk masa depan pemuda Minahasa melalui peran aktif perempuan dalam keluarga dan masyarakat.[7][12]

Di bawah kepemimpinan Maramis, PIKAT berkembang pesat dengan pembukaan cabang-cabang di Minahasa, antara lain di Maumbi, Tondano, dan Motoling, serta di luar Minahasa, seperti Sangihe-Talaud, Poso, Gorontalo, dan Ujung Pandang.[13] Cabang di Jawa juga berdiri, misalnya di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. Pada 2 Juni 1918, PIKAT membuka Sekolah Manado, yang mengajarkan keterampilan rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan pekerjaan tangan lainnya. Maria Walanda Maramis tetap aktif memimpin dan mengembangkan PIKAT hingga wafat pada 22 April 1924.[7]

Hak pilih wanita di Minahasa

Pada tahun 1919 dibentuk sebuah badan perwakilan daerah di Minahasa yang dinamakan Minahasa Raad. Pada tahap awal, para anggotanya ditunjuk, namun kemudian direncanakan adanya pemilihan oleh rakyat untuk menentukan wakil-wakil berikutnya. Pada masa itu, keanggotaan badan tersebut hanya terbuka bagi laki-laki. Meskipun demikian, Maramis memperjuangkan agar perempuan juga diberi hak untuk memilih wakil-wakil yang akan duduk dalam Minahasa Raad. Upaya tersebut membuahkan hasil pada tahun 1921, ketika keputusan dari Batavia memperbolehkan perempuan memberikan suara dalam pemilihan anggota Minahasa Raad.[14]

Minahasa Raad merupakan dewan daerah yang bertugas memberikan pendapat dan saran, serta membantu residen dalam mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi pemerintahan setempat. Walaupun perempuan telah memperoleh hak untuk memilih dan memiliki peluang untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan, dalam praktiknya mereka belum memperoleh dukungan suara yang signifikan dari masyarakat.

Pada tahun 1922, komposisi anggota Minahasa Raad masih didominasi pria. Berdasarkan Regerings Almanak 1922, beberapa anggota yang tercatat antara lain: Theodorus E. Gerungan, Alber W.R. Inkiriwang, Apeles J.H.W. Kawilarang, B. Lalamentik, J.E. Lucas, dan beberapa tokoh lain. Dominasi laki-laki ini mencerminkan pandangan masyarakat saat itu, yang menempatkan perempuan dalam posisi yang kurang setara dan menganggap pria lebih pantas untuk menjalankan peran publik serta politik.[15][16]

Kehidupan keluarga

Perangko Maria Walanda Maramis keluaran tahun 1999

Maramis menikah dengan Joseph Frederick Calusung Walanda, seorang guru bahasa pada tahun 1890. Setelah pernikahannya dengan Walanda, ia lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis. Mereka mempunyai tiga anak perempuan. Dua anak mereka dikirim ke sekolah guru di Betawi (Jakarta). Salah satu anak mereka, Anna Matuli Walanda, kemudian menjadi guru dan ikut aktif dalam PIKAT bersama ibunya.

Akhir Hayat

Pada tahun 1924, kondisi kesehatan Maria Walanda semakin menurun. Atas anjuran dr. Andu, ia dipindahkan ke Manado dan dirawat di salah satu ruangan Sekolah Tituwungen. Setiap hari dr. Andu memantau keadaannya. Dalam perkembangannya, muncul usulan agar ia dirawat di rumah sakit. Dr. Kisman mendukung langkah tersebut dan bahkan menyarankan tindakan operasi. Namun, karena seluruh tempat tidur di rumah sakit telah terisi, perawatan tetap dilakukan di Sekolah Tituwungen.[12]

Selama masa sakitnya, sejumlah kerabat dan tokoh masyarakat datang menjenguk, termasuk Ny. Loing Kalangi. Dalam pertemuan pada 11 April 1924, Maria Walanda menyampaikan berbagai rencana yang telah ia susun. Salah satu gagasan utamanya adalah mendirikan sekolah keahlian bagi perempuan. Sekolah ini dirancang berbeda dari Sekolah Rumah Tangga karena ditujukan untuk memberikan ijazah resmi, seperti sertifikat modiste atau memasak. Ia mencontohkan sekolah kepandaian putri yang didirikan pemerintah di Manado serta lembaga serupa di Batavia sebagai model pendidikan lanjutan yang diakui pemerintah. Rencana tersebut kemudian mendapat perhatian serius dan pada tahun 1932 berhasil diwujudkan. Sekolah itu berdiri di Sarlo dan dipimpin oleh Ny. W.J. Tuata sebagai direktur pertama.[12]

Tidak lama setelah pertemuan tersebut, Maria Walanda akhirnya dipindahkan ke rumah sakit. Namun sebelum tindakan medis lanjutan dilakukan, ia wafat pada 22 April 1924 menjelang matahari terbenam pada usia 52 tahun.[17] Kepergiannya menimbulkan duka mendalam di kalangan masyarakat Manado, yang mengenangnya sebagai tokoh perempuan dengan jasa besar. Setelah wafatnya, kepemimpinan organisasi diteruskan oleh Ny. Loing Kalangi. Pada masa awal peralihan, situasi organisasi sempat mengalami ketidakpastian karena besarnya peran Maria Walanda sebelumnya. Steun Comité, yang melibatkan dr. Andu dan dr. Sam Ratulangi, kemudian mengambil langkah untuk menata kembali kepengurusan secara resmi. Rapat umum yang diadakan pada 8 Juli menghasilkan susunan pengurus baru dengan Ny. Loing Kalangi sebagai ketua. Sejak saat itu, organisasi PIKAT memasuki tahap perkembangan berikutnya, dengan semangat dan gagasan Maria Walanda tetap menjadi bagian dari arah perjuangannya.[12]

Referensi

  1. ↑ JJ.Rizal. 2007. Maria Walanda Maramis (1872-1924) Perempuan Minahasa, Pendobrak Adat dan Pemberotak Nasionalisme, dalam "Merayakan Keberagaman", Jurnal Perempuan Vol.54 tahun 2007. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, hal.87-98.
  2. ↑ N.Graffland dalam Maria Ulfah Subadio, T.O.Ihromi, Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1978.
  3. ↑ Kompasiana.com (2024-06-30). "Maria Walanda Maramis, Pahlawan Penghancur Rantai Patriarki di Tanah Minahasa". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-02-14.
  4. ↑ "Patung Maria Walanda Maramis: Mengenang Jasa Pejuang Emansipasi Wanita di Manado". Diakses tanggal 10 Maret 2026.
  5. 1 2 "Maria Walanda Maramis Pejuang Pendidikan Perempuan". LPMP Sulawesi Utara. 8 April 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-13. Diakses tanggal 13 Juni 2020.
  6. ↑ Parengkuan, Fendy E. W. (1982). A.A. Maramis, SH. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  7. 1 2 3 Warsidi, E. (2007). Meneladani Keteladanan Kaum Wanita. Yudhistira Ghalia Indonesia. ISBN 9789790191235. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Anjani, K.T.; Nurbaity; Handayani, Y. (2019). "MARIA WALANDA MARAMIS SANG PELITA PENDIDIKAN PEREMPUAN DI MINAHASA (1917-1924)". Jurnal Candrasangkala. 5 (2): 40–47. ISSN 2477-2771.
  9. ↑ Suprihatin, C. T.; Yusuf, M. (2019). Grave, J. (ed.). Weg Tot Het Oosten: Afscheidsbundel voor Kees Groeneboer (PDF). Depok: Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. ISBN 978-602-9054-58-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-06-13. Diakses tanggal 2020-06-13.
  10. ↑ David E.F.Henley, Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies, KITLV Press, 1996.
  11. ↑ RZ.Leirissa, "Copracontracten: An Indication of Economic Development in Minahasa During the Colonial Period" dalam J.Th.Linbad (ed.), Historical Foundations of A National Economy in Indonesia 1890s-1990, Amsterdam, hal.265-277.
  12. 1 2 3 4 Manus, M.P.B. (1985). Maria Walanda Maramis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ↑ Said, J.; Wulandari, T. (1995). Sutjiatiningsih, S. (ed.). Ensiklopedia Pahlawan Nasional (PDF). Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 39. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ↑ Rahayu, Murti. Peran Maria Walanda Maramis Dalam Memperjuangkan Kaum Wanita Di Sulawesi Utara Tahun 1872-1924. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 2014, 12–26
  15. ↑ Kompasiana.com (2015-09-27). "Minahasa Raad di Keresidenan Manado". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-02-14.
  16. ↑ Dutch East Indies Government. (1922). Regeerings almanak voor Nederlandsch-Indië 1922, Tweede gedeelte: Kalender en personalia. Batavia: Landsdrukkerij. katalog Perpustakaan Arsip Nasional Republik Indonesia.
  17. ↑ Ensiklopedia Pahlawan Nasional. Bekasi: Jendela Pus[ita. November 2022. hlm. 110. ISBN 9786239763954. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Belanda
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan awal
  2. Kondisi Minahasa abad 20-an
  3. PIKAT
  4. Hak pilih wanita di Minahasa
  5. Kehidupan keluarga
  6. Akhir Hayat
  7. Referensi

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Revolusi Nasional Indonesia

konflik bersenjata dan perjuangan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Belanda

Soeprapto

Perwira TNI AD (1920 – 1965)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026