Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Oemar Said Tjokroaminoto

Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto, lebih dikenal di Indonesia sebagai H.O.S. Tjokroaminoto, adalah seorang nasionalis Indonesia. Ia menjadi salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam, yang didirikan oleh Samanhudi, yang menjadi Sarekat Islam.

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan Indonesia
Diperbarui 10 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Oemar Said Tjokroaminoto

Raden Mas Haji
Oemar Said Cokroaminoto
Hadji Oemar Said Tjokroaminoto
Lahir(1882-08-16)16 Agustus 1882
Ponorogo, Hindia Belanda
Meninggal17 Desember 1934(1934-12-17) (umur 52)
Yogyakarta, Hindia Belanda
AlmamaterOpleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren
GelarPendiri dan ketua Sarekat Islam
Suami/istriSuharsikin
Anak5, termasuk Siti Oetari, Oetarjo Anwar Tjokroaminoto dan Harsono Tjokroaminoto
Orang tua
  • R.M. Tjokroamiseno (ayah)
KerabatSoekarno (mantan menantu)
Abikoesno Tjokrosoejoso (adik)
Maia Estianty (cicit)
Pakubuwana III (wareng)[1]
  • Pahlawan Nasional Indonesia Suntingan nilai di Wikidata

Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Ponorogo, 16 Agustus 1882 – 17 Desember 1934),[2] lebih dikenal di Indonesia sebagai H.O.S. Tjokroaminoto, adalah seorang nasionalis Indonesia. Ia menjadi salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam, yang didirikan oleh Samanhudi, yang menjadi Sarekat Islam.[3][4][5][6]

Kehidupan Pribadi

Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat wedana Kleco, Magetan, pada saat itu Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo, Mertuanya adalah R.M. Mangoensoemo yang merupakan wakil bupati Ponorogo. Beliau adalah keturunan langsung dari Kiai Ageng Hasan Besari dari Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo.[7]

Setelah lulus dari sekolah rendah, ia melanjutkan pendidikannya di sekolah pamong praja Opleiding School voor Inlandsche Ambtrnaren (OSVIA) di Magelang. Setelah lulus, ia bekerja sebagai juru tulis patih di Ngawi. Tiga tahun kemudian, ia berhenti. Tjokromaninoto pindah dan menetap di Surabaya pada 1906. Di Surabaya, ia bekerja sebagai juru tulis di firma Inggris Kooy & Co dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kejuruan Burgerlijk Avondschool, jurusan Teknik Mesin.[8]

Salah satu trilogi darinya yang termasyhur adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan. Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai adalah Soekarno hingga ia menikahkan Soekarno dengan anaknya yakni Siti Oetari, istri pertama Soekarno. Pesannya kepada Para murid-muridnya ialah "Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator". Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato hingga membuat kawannya, Muso, Alimin, S.M. Kartosuwiryo, Darsono, dan yang lainnya terbangun dan tertawa menyaksikannya.[9]

Pembentukan Serikat Islam

Sarekat Dagang Islam

Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) atau Serikat Buruh Islam, pada akhir tahun 1905, di Surakarta. Tjokroaminoto diminta menyiapkan peraturan yang diperlukan organisasi dan menangani kepengurusannya. Akta tersebut dibuat dan disahkan di Notaris di Surabaya pada tanggal 10 September 1906.[10]

Sarekat Islam

Atas saran Tjokroaminoto, kata perdagangan dalam nama organisasi tersebut dihapus dan SDI menjadi Sarekat Islam (SI) atau Persatuan Islam. Ketuanya adalah H. Samanhudi, sedangkan Tjokroaminoto menjadi wakil ketuanya. Beberapa hari kemudian, undang-undangnya dikirim ke Gubernur Jenderal untuk disahkan menjadi lembaga hukum.

Sebuah komite pusat dibentuk dengan Samanhudi sebagai ketua dan Tjokroaminoto sebagai wakil ketua. Dalam menjelaskan tujuan organisasinya, Tjokroaminoto menyatakan SI tidak akan menentang pemerintah Hindia Belanda. Demi kepentingan organisasi, ia dan pengurus lainnya menemui Gubernur Jenderal saat itu Alexander Willem Frederik Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913. Idenburg menyatakan bahwa demi kepentingan umum (Belanda: algemeen belang), pengesahan SI tidak dapat diberikan, tetapi serikat Islam setempat dapat diberikan status badan hukum.

Keanggotaan SI meningkat pesat, menjadi sekitar dua setengah juta.[10]

Sarekat Islam Pusat

Karena pesatnya perkembangan serikat Islam lokal, maka perlu dibentuk serikat Islam pusat yang mengkoordinasikannya. Pada tahun 1915, Sarekat Islam Pusat atau Centraal Sarekat Islam (CSI) didirikan dengan Tjokroaminoto sebagai ketuanya, Abdoel Moeis sebagai wakil ketuanya, dan Samanhoedi sebagai ketua kehormatan. Sejak itu, Tjokroaminoto terus menjadi ketua atau anggota pengurus SI hingga kematiannya.

Kongres nasional CSI yang pertama sekaligus kongres SI yang ketiga pada masa kepemimpinannya diadakan di Bandung pada bulan Juni 1916. Penggunaan kata nasional menandakan persoalan yang disuarakan Tjokroaminoto, yaitu perlunya persatuan seluruh rakyat Indonesia. SI memperoleh pengakuan atas kekuasaannya dengan dilantiknya Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis sebagai anggota Volksraad yang baru dibuka pada tahun 1918.[10]

SI di bawah Tjokroaminoto berkembang, tetapi muncul pertentangan dari dalam, sementara kepercayaan pemerintah kolonial menurun. Tantangan terberat datang dari faksi Marxis/Leninis pimpinan Semaun yang berhadapan dengan Tjokroaminoto. Akhirnya faksi Marxis–Leninis pecah dan membentuk SI-Merah (“SI-Merah”), yang kemudian bergabung dengan Partai Komunis Indonesia.

Pada tahun 1921, Tjokroaminoto ditangkap atas tuduhan pembunuhan oleh SI-afd. B di Cimareme, Garut, Jawa Barat. Dia dibebaskan sekitar 9 bulan kemudian tanpa pengadilan pada bulan Agustus 1922.

Partai Sarekat Islam

CSI menjadi lemah, dan namanya diubah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) pada bulan Februari 1923. Tjokroaminoto melakukan upaya untuk mempersatukan kelompok luar Jawa. Setelah serangan propaganda dilancarkan, pemberontakan terjadi di mana-mana, hingga ia dan Abdoel Moeis dilarang mengunjungi beberapa daerah. Pada saat itu, Pan-Islamisme dilancarkan. Tjokroaminoto dan Mas Mansoer menunaikan ibadah haji.

Usulan politik hijrah atau “migrasi” dengan sikap tidak kooperatif terhadap pemerintah kolonial akhirnya diterima Kongres, yang menyebabkan penolakan Tjokroaminoto ketika ia akan terpilih menjadi anggota Volksraad pada tahun 1927. Sebuah Komite Ulama juga didirikan untuk membahas tafsir Al-Quran kontroversial Tjokroaminoto pada tahun 1928.[11]

Partai Syarikat Islam Indonesia

Kemudian PSI diubah menjadi Partai Persatuan Islam Indonesia atau Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada awal tahun 1929. Terjadi konfrontasi antara Soekiman yang nasionalis dan Tjokroaminoto yang religius yang menyebabkan keluarnya Soekiman untuk membentuk partai baru, Partai Islam Indonesia.[11]

Wafat

Tjokro meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Ia dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta, setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres SI di Banjarnegara. Jabatannya di PSII digantikan oleh saudaranya Abikusno Tjokrosujoso.[11]

Gelar "Raja Jawa Tanpa Mahkota"

Oleh orang Belanda, Tjokroaminoto dijuluki sebagai De Ongekroonde Koning van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota", Tjokroaminoto adalah salah satu pelopor pergerakan di Indonesia dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia. Berangkat dari pemikirannya pula yang melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada saat itu. Rumahnya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimbah ilmu padanya, yaitu Semaoen, Alimin, Muso, Ananda Hirdan, Imran Halomoan, bahkan Fajri Hamonangan pernah berguru padanya. Ia adalah orang yang pertama kali menolak untuk tunduk pada Belanda. Setelah ia meninggal pada tahun 17 Desember 1934, lahirlah warna-warni pergerakan Indonesia yang dibangun oleh murid-muridnya, yakni kaum sosialis/komunis yang dianut oleh Semaoen, Muso, Alimin. Soekarno yang nasionalis, dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang Islam merangkap sebagai sekretaris pribadi.[butuh rujukan]

Namun, ketiga muridnya itu saling berselisih menurut paham masing-masing. Pengaruh kekuatan politik pada saat itu memungkinkan para pemimpin yang sekawanan itu saling berhadap-hadapan hingga terjadi Pemberontakan Madiun 1948 yang dilakukan Partai Komunis Indonesia karena memproklamasikan "Republik Soviet Indonesia" yang dipimpin Muso. Dengan terpaksa Presiden Soekarno mengirimkan pasukan TNI yakni Divisi Siliwangi yang mengakibatkan "abang", sapaan akrab Soekarno kepada Muso, pemimpin Partai komunis pada saat itu tertembak mati pada 31 Oktober 1948.

Pemberontakan kemudian dilakukan oleh Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo dan akhirnya hukuman mati yang dijatuhkan oleh Soekarno kepada kawannya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada 12 September 1962.[butuh rujukan]

Dalam budaya populer

  • Dalam film Soekarno (2013), Tjokroaminoto diperankan oleh Rukman Rosadi.
  • Dalam film Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Tjokroaminoto diperankan oleh Reza Rahadian.
  • Dalam film Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Tjokroaminoto (kecil) diperankan oleh Christoffer Nelwan.
  • Dalam film Buya Hamka (2023), Tjokroaminoto diperankan oleh Reza Rahadian.

Polemik Tempat Kelahiran

Tempat kelahiran Tjokroaminoto menuai Polemik karena terdapat dua versi, yakni di Ponorogo dan Madiun. Bila di Ponorogo Tjokroaminoto lahir di Tegalsari sedangkan di Madiun sendiri terdapat dua tempat yakni Bakur dan Bukur. Namun tempat lahir Tjokroaminoto yang diakui adalah yang di Ponorogo setelah melalui penelitian dan berbagai literasi buku sejarah seperti Buku Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, HOS. Tjokroaminoto: Rekonstruksi Pemikiran Dan Perjuangannya, Hadji Oemar Said Cokroaminoto: Pendiri Dan Pembangunan Kebangkitan Umat Islam Indonesia, SK Kepresidenan Pahlawan.

Selain itu telah disahkannya sebuah Jalan HOS Cokroaminoto di Ponorogo yang diajukan Bupati Ponorogo, Ipong Muchlisoni kepada Pemerintah Pusat karena nama jalan merupakan putra daerah Ponorogo, kemudian dilanjutka oleh Bupati Ponorogo selanjutnya Giri Sancoko membuat monumen HOS Tjokroaminoto di sepanjang jalan tersebut.[12]

Sedangkan nama Cokroaminoto di Kota Madiun dijadikan nama jalan yang legendaris . Terdapat juga sebuah lembaga pendidikan di Kota Madiun yang terkenal memakai namanya. Serta oleh-oleh khas dan favorit, Bluder Cokro.

HOS Tjokroaminoto diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Indonesia Soekarno pada tahun 1961 berdasarkan Nomer Surat Keputusan SK/590/Tahun/1961 pada tanggal 09 November 1961 lahir di Ponorogo dan wafat dimakamkan di Yogyakarta.

Lihat pula

  • Tokoh Indonesia

Referensi

  1. ↑ Amelz, HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya Jilid I (Jakarta: Bulan Bintang, 1952)
  2. ↑ Mahawira, Pranadipa (2013). Cinta Pahlawan Nasional Indonesia: Terlengkap & Terupdate. Jakarta: WahyuMedia. hlm. 12–13. ISBN 9789797957513. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Tarling, Nicholas, ed. (2004). The Cambridge history of Southeast Asia. 3: From c. 1800 to the 1930s / ed. by Nicholas Tarling (Edisi Transferred to digital print). Cambridge: Cambridge Univ. Press. ISBN 978-0-521-66371-7.
  4. ↑ Ooi, Keat Gin, ed. (2004). Southeast Asia: a historical encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor. Santa Barbara, Calif: ABC-CLIO. ISBN 978-1-57607-770-2.
  5. ↑ "Wafatnya HOS Tjokroaminoto (17 Desember 1934) | Media Indonesia". EpaperMI (dalam bahasa Inggris). 2023-12-17. Diakses tanggal 2025-10-31.
  6. ↑ "Mengenal Sejarah Bangsa di Moseum HOS Tjokroaminoto Surabaya". Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. Diakses tanggal 2025-10-31.
  7. ↑ Media, Kompas Cyber (2021-06-02). "Oemar Said Tjokroaminoto: Kehidupan, Peran, dan Gerakan Islam Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-03-04.
  8. ↑ Achdian, Andi (2017-08-28). "Sarekat Islam sebagai Kelanjutan Boedi Oetomo". Jurnal Sejarah. 1 (1): 30–51. doi:10.26639/js.v1i1.51. ISSN 2581-2394. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-22. Diakses tanggal 2020-01-20.
  9. ↑ "HOS Tjokroaminoto, Guru Bangsa bergelar Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Lahir di Ponorogo dan Cucu Bupati Ponorogo | Pemerintah Kabupaten Ponorogo". ponorogo.go.id (dalam bahasa American English). 2022-11-28. Diakses tanggal 2023-10-17.
  10. 1 2 3 Rokhim, Nur (2024). HOS Tjokroaminoto: Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia. Yogyakarta: Diva Press. ISBN 9786231894250. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. 1 2 3 Gonggong, Anhar (1985). H.O.S. Tjokroaminoto. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ↑ "Nama Jalan Dirubah Dengan Nama Pahlawan, Bupati Ipong : Ini Penghargaan Kepada Mereka". Pemerintah Kabupaten Ponorogo (dalam bahasa American English). 2019-07-11. Diakses tanggal 2025-03-04.

Bacaan lebih lanjut

  • Mirnawat. Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap. Cerdas Interaktif, 2012.
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Australia
  • Belanda
Orang
  • Trove
Lain-lain
  • IdRef
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan Pribadi
  2. Pembentukan Serikat Islam
  3. Sarekat Dagang Islam
  4. Sarekat Islam
  5. Sarekat Islam Pusat
  6. Partai Sarekat Islam
  7. Partai Syarikat Islam Indonesia
  8. Wafat
  9. Gelar "Raja Jawa Tanpa Mahkota"
  10. Dalam budaya populer
  11. Polemik Tempat Kelahiran
  12. Lihat pula
  13. Referensi
  14. Bacaan lebih lanjut

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Revolusi Nasional Indonesia

konflik bersenjata dan perjuangan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Belanda

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

dokumen tahun 1945 yang menyatakan kemerdekaan Indonesia yang bebas dari Belanda

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026