Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Siti Hartinah

Siti Hartinah, atau lebih dikenal dengan nama Ibu Tien Soeharto, adalah Ibu Negara Indonesia dan istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto.

ibu negara Indonesia ke-2
Diperbarui 22 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Siti Hartinah
Raden Ayu
Siti Hartinah
Ibu Negara Indonesia ke-2
Masa jabatan
12 Maret 1967 – 28 April 1996
PresidenSoeharto
Sebelum
Pendahulu
Fatmawati
Pengganti
Hasri Ainun Habibie
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir
Fatimah Siti Hartinah

(1923-08-23)23 Agustus 1923
Jaten, Kadipatèn Mangkunagaran, Hindia Belanda
Meninggal28 April 1996(1996-04-28) (umur 72)
Jakarta, Indonesia
MakamAstana Giribangun
Suami/istri
Soeharto
​
(m. 1947)​
Anak
  • Siti Hardijanti Rukmana (Tutut)
  • Sigit Harjojudanto (Sigit)
  • Bambang Trihatmodjo (Bambang)
  • Siti Hediati Hariyadi (Titiek)
  • Hutomo Mandala Putra (Tommy)
  • Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)
Orang tua
  • K. P. H Soemoharjomo (bapak)
  • K. R. Ay. Hatmanti Hatmohoedojo (ibu)
Penghargaan
  • (1981) Grand Cross of the Order of Isabella the Catholic (en) Terjemahkan
  • Orde Santo Olav
  • Order of Chula Chom Klao (en) Terjemahkan
  • Darjah Kerabat Laila Utama
  • Orde Singa Emas Wangsa Nassau
  • Order of the Umayyads (en) Terjemahkan
  • Order of Mubarak the Great (en) Terjemahkan
  • Order of the Liberator (en) Terjemahkan
  • Orde Agung Mugunghwa
  • Grand Cross of the National Order of Merit (en) Terjemahkan
  • Grand Cordon of the Order of the Precious Crown (en) Terjemahkan
  • Grand Cross of the Military Order of Saint James of the Sword (en) Terjemahkan
  • Grand Star of the Decoration for Services to the Republic of Austria (en) Terjemahkan
  • Grand Cross Special Class of the Order of Merit of the Federal Republic of Germany (en) Terjemahkan
  • Bintang Republik Indonesia
  • Bintang Budaya Parama Dharma
  • Bintang Gerilya
  • Pahlawan Nasional Indonesia Suntingan nilai di Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Siti Hartinah (23 Agustus 1923 – 28 April 1996), atau lebih dikenal dengan nama Ibu Tien Soeharto, adalah Ibu Negara Indonesia dan istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto.[1]

Ibu Tien Soeharto dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia.[2]

Masa kecil

Siti Hartinah lahir pada 23 Agustus 1923 sebagai putri kedua (dari sebelas bersaudara)[3][a] pasangan KPH Sumoharyomo dan K.RAy Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunegara III dari garis ibu.[4] Ayahnya seorang Wedana, yang bekerja di istana Mangkunegaran.[5] Saat itu, pegawai istana harus mempunyai darah biru atau keturunan priyayi.[6] Meski begitu, kehidupan masa kecilnya mencerminkan kondisi Indonesia pra-kemerdekaan yang masih serba terbatas.[7]

Hidupnya berpindah-pindah mengikuti penempatan tugas ayahnya sebagai pamong praja.[7] Ia sempat mengenyam pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk bangsawan bumiputera.[7][8] Semasa sekolah ia juga ikut dalam organisasi Kepramukaan Puteri Javaansche Padvinders Organisatie (JPO).[9][8]

Waktu kecil, Siti Hartinah mempunyai impian untuk menjadi seorang dokter.[9] Akan tetapi, menjadi perempuan dengan kondisi bangsa yang tengah berada di bawah penjajahan Belanda, serta lingkungan keluarga Jawa yang tradisional, tidak memberikan Siti Hartinah banyak kesempatan untuk mengenyam pendidikan.[7][9] Mengingat juga, walaupun ia datang dari keluarga yang cukup terpandang dan disegani, mereka tidak kaya.[9][10][11] Mereka tidak mampu mengirimkan Hartinah ke sekolah lanjutan, sebagaimana telah diberikan kepada kakaknya.[9]

Ketika ayahnya pensiun, adik-adik Siti Hartinah masih berusia kecil. Siti Hartinah berinisiatif dan turut memikirkan bagaimana caranya meringankan beban orang tua, walaupun pada saat itu masih dianggap aneh bagi seorang gadis untuk bekerja di luar rumah.[12] Dengan kepandaiannya dalam seni Jawa, seperti membatik dan mencelup, beberapa dari kain batik buatannya dijual dan hasilnya untuk membayar uang kursus mengetik di Solo, untuk bekal mencari pekerjaan.[9][12]

Di masa pendudukan Jepang, Siti Hartinah menjadi anggota Barisan Pemuda Puteri di bawah Fujinkai, satu-satunya organisasi wanita yang diperbolehkan berdiri oleh Jepang.[9] Waktu kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di tahun 1945, gadis remaja yang patriotik ini turut berjuang dalam Laskar Puteri.[13] Ia ikut serta membantu perang kemerdekaan di dapur umum dan Palang Merah Indonesia,[13] yang menjadi salah satu alasan pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1996.[7]

Menikah dengan Soeharto

Pernikahan Siti Hartinah dengan Soeharto diprakarsai oleh ibu angkat Soeharto, Nyonya Bei Prawirowihardjo.[14] Pada saat itu, Soeharto berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan di Yogyakarta.[15] Siti Hartinah dan Soeharto sebelumnya pernah bertemu, saat ia berteman sekelas dengan salah satu sepupu Soeharto di Wonogiri.[16]

Upacara nontoni (pertemuan antara yang akan melamar dan yang dilamar) dilangsungkan.[16] Soeharto sendiri meragukan, apakah orang tua Siti Hartinah siap untuk mengizinkan putri mereka dinikahkan dengan seorang biasa.[6] Betapa pun, "mereka orang ningrat".[16] Soeharto juga merasa ragu sebab sudah lama ia tidak melihat Hartinah dan "apakah dia akan benar-benar suka kepada saya".[16] Meski demikian, orang tua Siti Hartinah tidak keberatan dan menerima Soeharto sebagai menantu.[6]

Ibu Tien pernah bercerita, bahwa sebelum upacara nontoni, ia baru saja sembuh dari sakit yang diderita selama dua bulan. Ia merasa telah “menipu” Soeharto pada saat bertemu, karena berat badannya berkurang dan wajahnya terlihat pucat, sehingga terlihat lebih cantik.[6]

Siti Hartinah menikahi Suharto pada 26 Desember 1947 di Solo. Pada saat itu Soeharto berumur 26 tahun, Siti Hartinah berumur 24 tahun.[16] Acara pernikahan di sore hari itu disaksikan oleh keluarga dan teman-teman Hartinah, sedangkan dari sisi Soeharto hanya dua anggota keluarga yang dapat hadir. Acara selamatan pada malam hari juga hanya bisa diterangi beberapa buah lilin. Karena kota Solo waktu itu harus digelapkan, untuk mencegah terjadinya bahaya besar seandainya Belanda melakukan serangan udara lagi.[11]

Pernikahan ini bukan merupakan cerita cinta pada pandangan pertama. Soeharto menulis di dalam biografinya bahwa cintanya kepada Ibu Tien berkembang sejalan dengan berjalannya waktu yang mereka lalui bersama. Dalam tradisi Jawa ada ungkapan “witing tresno jalaran soko kulino” (datangnya cinta karena bergaul dari dekat).[11][17] Tiga hari setelah pernikahan, Siti Hartinah dan Soeharto pindah ke Yogyakarta untuk kembali menjalankan tugas militer. Siti Hartinah kemudian mulai dengan tugasnya sebagai istri Komandan Resimen.[11][18]

Adalah ciri kehidupan keluarga militer, bahwa tiga dari anak mereka lahir ketika sang suami sedang bertugas dan berpisah dari keluarganya. Anak pertama mereka lahir ketika Soeharto sedang bertempur dalam perang gerilya di luar kota Yogyakarta. Sang suami tidak melihat putri pertama mereka selama tiga bulan setelah dilahirkan. Anak yang kedua, seorang anak laki-laki, lahir selagi Soeharto bertugas di Sulawesi Selatan. Dan anak kelima mereka, lahir ketika Soeharto bertindak sebagai Panglima Mandala pembebasan Irian Barat.[19]

Kehidupan sebagai Ibu Negara

Tidak lama setelah menjadi Ibu Negara, Siti Hartinah lebih dikenal dengan nama Ibu Tien.

Keluarga Presiden

Artikel utama: Keluarga Soeharto

Ketika Soeharto pertama dilantik sebagai presiden, pasangan suami-istri ini memutuskan untuk tidak menjadikan Istana Merdeka sebagai tempat kediaman, tetapi memutuskan untuk pindah dari Jalan Haji Agus Salim ke Jalan Cendana di daerah Menteng.[20][21] Rumah di Jalan Cendana itu sendiri tidak mencerminkan kemewahan seperti rumah-rumah orang berada pada umumnya.[20] Salah satu alasan untuk pindah adalah faktor keamanan. Di belakang rumah mereka yang lama di Jalan Haji Agus Salim ada gedung tinggi. Soeharto tidak mau tinggal di Istana Merdeka karena ia ingin anak-anaknya lebih bebas bergerak. “Untuk kepentingan anak-anak, agar tidak terpisahkan dari masyarakat”.[20][21] Saat itu, anak-anak mereka masih kecil, yang tertua berusia 18 tahun, sementara yang termuda baru berusia 3 tahun.

Pramuka

Ibu Tien Soeharto banyak memberikan sumbangsih dalam dunia Pramuka Indonesia. Sebagai Ibu Negara, ia memberikan perhatian khusus terhadap pramuka. Ibu Tien beberapa kali menjabat Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka pada masa bakti 1970—1974, 1974—1978, 1978—1983, 1983—1988 dan 1988—1993. Pada awal 1970-an, Ibu Tien mengusulkan lahan dan menginisiasi pembangunan pusat perkemahan pramuka nasional di Cibubur, Jakarta Timur. Sampai saat ini, bumi perkemahan ini dikenal dengan nama Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Wiladatika Cibubur. Karya lain Ibu Tien untuk Gerakan Pramuka adalah prakarsanya membangun gedung Kwartir Nasional yang hingga saat ini menjadi kantor pusat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.[22][23][24]

Pelarangan poligami

Ibu Tien berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia. Sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia, ia mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan[25]

Soeharto sendiri menegaskan kesetiaan kepadanya

"Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto"

Aktivitas lain

Ibu Tien juga memengaruhi rencana suksesi Soeharto pada akhir tahun 1990—an, dengan menyarankan petinggi Golkar agar tidak lagi mencalonkan suaminya.[26] Walaupun saran ini akhirnya terlambat dilakukan. Siti Hartinah meninggal pada tahun 1996 dan Soeharto kembali dicalonkan [7]

  • Meski demikian ada peninggalan dan gagasannya yang terwujud untuk bangsa, sebagai contoh Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, RSAB Harapan Kita, dan lainnya.[27][28][29]

Meninggal dunia

Berawal saat Siti Hartinah terbangun akibat sakit jantung yang menimpanya, lalu ia dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Siti Hartinah meninggal dunia pada Minggu, 28 April 1996, jam 05.10 WIB yang bertepatan dengan peringatan Hari Raya Idul Adha 1416 Hijriyah.[30]

Siti Hartinah dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah. Upacara pemakaman tersebut dipimpin oleh inspektur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dan Komandan upacara Kolonel Inf Getson Manurung, Komandan Brigade Ifanteri 6 Kostrad saat itu.[butuh rujukan]

Sedangkan sebelumnya saat pelepasan almarhumah, bertindak sebagai inspektur upacara, Letjen TNI (Purn) Achmad Tahir dan Komandan Upacara Kolonel Inf Sriyanto Muntasram, Komandan Grup 2 Kopassus Kartasura.[butuh rujukan]

Pada tanggal 30 Juli 1996, presiden Soeharto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi Siti Hartinah.

Penghargaan

Tanda Kehormatan[31]

Dalam Negeri

  • Bintang Republik Indonesia Adipradana (10 Maret 1973)[32]
  • Bintang Gerilya (3 Maret 1987)[33]
  • Bintang Budaya Parama Dharma (17 Juni 1992)[34]
  • Pahlawan Nasional Indonesia (30 Juli 1996)

Luar Negeri

  • Brunei Brunei:
    • Darjah Kerabat Laila Utama Yang Amat Dihormati (DK) (1970)
  • Kamboja Kamboja:
    • Grand Cross of the Royal Order of Sowathara (1968)
  • Malaysia Malaysia:
    • Darjah Utama Seri Mahkota Negara (DMN) (1988)
  • Filipina Filipina:
    • Grand Collar of the Order of the Golden Heart (GCGH) (1968)
  • Thailand Thailand:
    • Dame Grand Cross of the Most Illustrious Order of Chula Chom Klao (DGC) (1970)
  • Austria Austria:
    • Grand Star (Groß-Stern) of the Decoration of Honour for Services to the Republic of Austria (1973)
  • Belanda Belanda:
    • Dame Grand Cross of the Order of the Crown (1970)
  • Kekaisaran Etiopia Kekaisaran Etiopia:
    • Grand Cordon of the Order of the Queen of Sheba (1968)
  • Jepang Jepang:
    • Grand Cordon of the Order of the Precious Crown (1968)
  • Jerman Jerman:
    • Grand Cross Special Class (Sonderstufe des Großkreuzes) of the Order of Merit of the Federal Republic of Germany (1970)
  • Kuwait Kuwait:
    • First Class of the Order of Kuwait (1977)
  • Korea Selatan Korea Selatan:
    • Grand Order of Mugunghwa (1981)
  • Mesir Mesir:
    • Supreme Class of the Order of the Virtues (Nishan al-Kamal) (1977)
  •  Prancis:
    • Grand Cross of the National Order of Merit (Ordre national du Mérite) (1972)
  • Republik Sosialis Rumania Rumania:
    • The First Class of the Orders of Tudor Vladimirescu (1982)
  •  Spanyol:
    • Dame Grand Cross of the Order of Isabella the Catholic (gcYC) (1980)[35]
  •  Suriah:
    • Member 1st Class of the Order of the Umayyads (1977)
  •  Venezuela:
    • Grand Cordon with Collar of the Order of the Liberator (1988)
  •  Yordania:
    • Grand Cordon of the Supreme Order of the Renaissance (1986)
  •  Yugoslavia:
    • Yugoslav Star with Sash of the Order of the Yugoslav Star (1975)

Catatan

  1. ↑ Beberapa sumber, seperti Roeder (1976), menyatakan bahwa Siti Hartinah adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Orang tua Siti Hartinah memiliki 11 anak, tetapi dua di antaranya meninggal saat mereka masih kecil. "Sembilan bersaudara" tersebut merujuk pada mereka yang melewati masa dewasa.

Referensi

  1. ↑ "Profil - Fatimah Siti Hartinah Soeharto". Merdeka.com. Diakses tanggal 2020-01-20.
  2. ↑ Natalia (2019-08-22). "Mengenang Kembali Jasa Ibu Tien Soeharto". JPNN.com. Diakses tanggal 2019-10-24.
  3. ↑ Arismunandar, Siti Hardjanti W. "Ibu Tien Soeharto, Kakakku, Panutanku". Dalam Gafur (1996), p. 467.
  4. ↑ "Ibu Tien Soeharto Keturunan Ningrat, Inilah Sosok Kakeknya, Seorang Raja, Dikenal Berjiwa Seni". TribunNews. 5 August 2024. Diakses tanggal 29 December 2024.
  5. ↑ Dwipayana & Karta Hadimadja (1989), hlm. 36.
  6. 1 2 3 4 Abdulgani-Knapp (2007), hlm. 19.
  7. 1 2 3 4 5 6 "Ibu Tien Sang Pilar Penopang Soeharto". KumparanNews. 28 April 2017. Diakses tanggal 29 December 2024.
  8. 1 2 Mahpudi (2018), hlm. 30.
  9. 1 2 3 4 5 6 7 Roeder (1976), hlm. 197.
  10. ↑ Roeder (1976), hlm. 195.
  11. 1 2 3 4 Dwipayana & Karta Hadimadja (1989), hlm. 45.
  12. 1 2 Arismunandar, Siti Hardjanti W. "Ibu Tien Soeharto, Kakakku, Panutanku". Dalam Gafur (1996), p. 468.
  13. 1 2 Roeder (1976), hlm. 198.
  14. ↑ Dwipayana & Karta Hadimadja (1989), hlm. 43-44.
  15. ↑ Abdulgani-Knapp (2007), hlm. 18-19.
  16. 1 2 3 4 5 Dwipayana & Karta Hadimadja (1989), hlm. 44.
  17. ↑ Abdulgani-Knapp (2007), hlm. 20.
  18. ↑ Roeder (1976), hlm. 195-196.
  19. ↑ Roeder (1976), hlm. 196.
  20. 1 2 3 Abdulgani-Knapp (2007), hlm. 83.
  21. 1 2 Dwipayana & Karta Hadimadja (1989), hlm. 229.
  22. ↑ "Buperta Cibubur". pramuka.or.id. Diakses tanggal 25 Feb 2025.
  23. ↑ Hardjanti, Rani (14 Agustus 2019). "Gaya Klasik Ibu Tien Saat Pimpin Rapat Pramuka". Okezone. Diakses tanggal 25 Feb 2025.
  24. ↑ Damayanti, Imas (20 Jan 2025). "Apa Jadinya Pramuka Indonesia Tanpa Ibu Tien?". Channel8.co.id. Diakses tanggal 25 Feb 2025.
  25. ↑ Ibu Tien di Balik Larangan Poligami. dari situs Kumparan
  26. ↑ Ibu Tien Tidak Ingin Suharto Maju di Pemilu 1996. dari situs berita Tribun
  27. ↑ Fakta Istri Pak Harto.
  28. ↑ https://indonesiainside.id/news/nasional/2019/08/23/mengenal-51-tahun-warisan-ibu-tien-dan-yayasan-harapan-kita/amp/
  29. ↑ https://m.jpnn.com/amp/news/sejarawan-museum-harusnya-layak-jadi-lokasi-swafoto-dan-instagramable
  30. ↑ "Misteri Penyebab Kematian Mantan Ibu Negara Tien Soeharto". hot.grid.id. 2019-05-27. Diakses tanggal 2019-11-4.
  31. ↑ "Inilah 23 Tanda Kehormatan untuk Bu Tien Soeharto, Termasuk dari 20 Negara Lain". Tribunsolo.com. Diakses tanggal 2023-08-14.
  32. ↑ "Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Tahun 1959–sekarang" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 7 Januari 2020. Diakses tanggal 2023-08-14.
  33. ↑ Library, Soeharto (2017-11-06). "IBU TIEN DAPAT BINTANG GERILYA". HM Soeharto. Diakses tanggal 2023-08-14.
  34. ↑ "DAFTAR PEMILIK BINTANG BUDAYA PARAMA DHARMA TAHUN 1988 – 2003" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 7 Januari 2020. Diakses tanggal 2023-08-14.
  35. ↑ "Bollettino Ufficiale di Stato" (PDF).

Sumber

  • Roeder, O.G. (1976). Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto. Diterjemahkan oleh A. Bar, Salim; A. Hadi, Noor. Jakarta: PT Gunung Agung.
  • Dwipayana, G.; Karta Hadimadja, Ramadhan (1989). Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (Otobiografi). Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. ISBN 978-979-17339-9-1.
  • Gafur, Abdul, ed. (1996). Rangkaian Melati: Ibu Tien Soeharto Dalam Pandangan dan Kenangan Para Wanita. Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. ISBN 978-602-8112-14-7.
    • Arismunandar, Siti Hardjanti W. "Ibu Tien Soeharto, Kakakku, Panutanku". Dalam Gafur (1996), p. 467-473.
  • Abdulgani-Knapp, Retnowati (2007). Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President, An Authorised Biography. Diterjemahkan oleh Lubis, Zamira. Singapore: Marshall Cavendish. ISBN 978-979-1056-11-3.

Bacaan lebih lanjut

  • Dwipayana, G.; Karta Hadimadja, Ramadhan (1989). Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (Otobiografi) (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. ISBN 978-979-17339-9-1.
  • Gafur, Abdul, ed. (1996). Rangkaian Melati: Ibu Tien Soeharto Dalam Pandangan dan Kenangan Para Wanita (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. ISBN 978-602-8112-14-7.
  • Abdulgani-Knapp, Retnowati (2007). Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President, An Authorised Biography (dalam bahasa Inggris). Singapore: Marshall Cavendish. ISBN 978-981-261-340-0.
Gelar kehormatan
Didahului oleh:
Fatmawati

Hartini (pj.)

Ibu Negara Republik Indonesia
1967—1996
Diteruskan oleh:
Siti Hardijanti Rukmana (plt.)

Hasri Ainun Besari

  • l
  • b
  • s
Daftar pasangan Presiden Indonesia

Fatmawati
Fatmawati
1945–1967

Tien
Siti Hartinah
1967–1996

Ainun
Hasri Ainun Besari
1998–1999

Sinta
Sinta Nuriyah
1999–2001

Taufiq
Taufiq Kiemas
2001–2004

Kristiani
Kristiani Herrawati
2004–2014

Iriana
Iriana
2014–2024

  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s
Soeharto
Presiden Indonesia ke-2
Keluarga
Orang tua
Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu)
Pasangan dan saudara
Tien Soeharto (istri) • Probosutedjo (adik) • Sudwikatmono (sepupu)
Generasi ke-2
  • Tutut (anak) dan Indra Rukmana (menantu)
  • Sigit (anak) dan Elsje Anneke Ratnawati (menantu)
  • Bambang (anak) dan Halimah (mantan menantu), Mayangsari (menantu)
  • Titiek (anak) dan Prabowo Subianto (mantan menantu)
  • Tommy (anak) dan Tata (mantan menantu)
  • Mamiek (anak)
  • Agus (keponakan) dan Joanna Nalapraya (keponakan menantu)
Generasi ke-3
  • Dandy Nugroho Hendro Maryanto (cucu)
  • Danty Indriastuti Purnamasari (cucu)
  • Danny Bimo Hendro Utomo (cucu)
  • Ari Sigit (cucu)
  • Aryo Sigit (cucu)
  • Eno Sigit (cucu)
  • Panji Trihatmodjo (cucu)
  • Gendis Siti Hatmanti (cucu)
  • Aditya Trihatmanto (cucu)
  • Khirani Trihatmodjo (cucu)
  • Didit Hediprasetyo (cucu)
  • Dharma Mangkuluhur (cucu)
  • Gayanti Hutami (cucu)
Pemerintahan
  • Kobkamtib
  • Kebijakan 15 November 1978
  • Paket Kebijaksanaan Oktober 1988
  • Proyek lahan gambut satu juta hektar
  • Rencana Pembangunan Lima Tahun
Topik terkait
  • Memorial
  • Isih penak jamanku to?
← Didahului: Soekarno
Digantikan: B. J. Habibie →
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Belanda
Lain-lain
  • IdRef
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Masa kecil
  2. Menikah dengan Soeharto
  3. Kehidupan sebagai Ibu Negara
  4. Keluarga Presiden
  5. Pramuka
  6. Pelarangan poligami
  7. Aktivitas lain
  8. Meninggal dunia
  9. Penghargaan
  10. Tanda Kehormatan[31]
  11. Catatan
  12. Referensi
  13. Sumber
  14. Bacaan lebih lanjut

Artikel Terkait

Ibu kota Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Daftar pasangan Presiden Indonesia

tidak diatur secara eksplisit di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) maupun diperinci secara jelas dalam peraturan perundang-undangan lainnya.

Daftar ibu kota provinsi di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026