Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Siti Walidah

Siti Walidah adalah tokoh emansipasi perempuan. Ia merupakan istri dari Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah dan pahlawan nasional Indonesia. Siti Walidah dipanggil pula sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan
Diperbarui 12 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nyai Ahmad Dahlan
LahirSiti Walidah
(1872-01-03)3 Januari 1872
Kauman, Yogyakarta, Hindia Belanda
Meninggal31 Mei 1946(1946-05-31) (umur 74)
Kauman, Yogyakarta, Indonesia
MakamMasjid Gedhe Kauman, Yogyakarta
KebangsaanIndonesia
PekerjaanPekerja sosial
Tahun aktif1914–1946
Suami/istriAhmad Dahlan
Anak6
PenghargaanPahlawan Nasional Indonesia
  • Pahlawan Nasional Indonesia Suntingan nilai di Wikidata

Siti Walidah (3 Januari 1872 – 31 Mei 1946) adalah tokoh emansipasi perempuan. Ia merupakan istri dari Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah dan pahlawan nasional Indonesia. Siti Walidah dipanggil pula sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

Biografi

Masa muda

Siti Walidah dilahirkan pada tahun 1872 di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah putri dari seorang ulama dan bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta bernama Kyai Haji Muhammad Fadli.[1] Lingkungan tempat tinggal dari Siti Walidah dihuni oleh para tokoh agama dari keraton.[2] Dia bersekolah di rumah, diajarkan berbagai aspek tentang Islam, termasuk bahasa Arab dan Al-Qur'an. Dia membaca Al-Qur'an dalam naskah Jawi.[3]

Siti Walidah menikah dengan sepupunya yakni Ahmad Dahlan.[1] Saat Ahmad Dahlan sedang sibuk-sibuknya mengembangkan Muhammadiyah saat itu, Siti Walidah mengikuti suaminya dalam perjalanannya.[3] Namun, karena beberapa dari pandangan Ahmad Dahlan tentang Islam dianggap radikal, pasangan ini kerap kali menerima ancaman. Misalnya, sebelum perjalanan yang dijadwalkan ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mereka menerima ancaman pembunuhan dari kaum konservatif di sana.[3]

Sopo Tresno dan Aisyiyah

Pada tahun 1914, Siti Walidah mendirikan Sopo Tresno. Siti Walidah bersama Ahmad Dahlan bergantian memimpin kelompok tersebut dalam membaca Al-Qur'an dan mendiskusikan maknanya.[1] Siti Walidah mulai berfokus pada ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas isu-isu perempuan.[1] Dengan mengajarkan membaca dan menulis melalui Sopo Tresno, pasangan ini memperlambat kristenisasi di Jawa melalui sekolah yang didukung oleh pemerintah Hindia Belanda.[4]

Bersama suami dan beberapa pemimpin Muhammadiyah lainnya, Siti Walidah membahas peresmian Sopo Tresno sebagai kelompok perempuan.[1] Menolak proposal pertama, Fatimah, mereka memutuskan mengganti nama menjadi Aisyiyah, berasal dari nama istri Nabi Muhammad, yakni Aisyah.[4] Kelompok baru ini, diresmikan pada tanggal 22 April 1917, dengan Siti Walidah sebagai ketuanya.[1] Lima tahun kemudian organisasi ini menjadi bagian dari Muhammadiyah.[1]

Melalui Aisyiyah, Siti Walidah mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan.[1] Kemudian pada tahun 1922, ia mendirikan mushola Aisyiyah pertama yang digunakan untuk sholat berjamaah para perempuan. Mushola ini juga memfasilitasi jemaahnya untuk belajar membaca, berdoa, dan sholat dengan fasih serta memberikan pengetahuan seputar keagamaan.[5] Dia juga berkhotbah menentang kawin paksa.[6] Dia juga mengunjungi cabang-cabang di seluruh Jawa.[1] Berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa yang patriarki, Siti Walidah berpendapat bahwa perempuan dimaksudkan untuk menjadi mitra suami mereka.[6] Sekolah Aisyiyah dipengaruhi oleh ideologi pendidikan Ahmad Dahlan yakni Catur Pusat: pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di tempat-tempat ibadah.[7]

Kepemimpinan dan kehidupan selanjutnya

Setelah Ahmad Dahlan meninggal dunia pada 1923, Siti Walidah terus aktif di Muhammadiyah dan Aisyiyah.[8] Pada tahun 1926, dia memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Kota Surabaya. Dia adalah wanita pertama yang memimpin konferensi seperti itu.[1] Sebagai hasil dari liputan luas media massa di koran-koran seperti Pewarta Soerabaia dan Sin Tit Po, banyak perempuan terpengaruh untuk bergabung ke dalam Aisyiyah, sementara cabang-cabang lainnya dibuka di pulau-pulau lain di Nusantara.[1] Di tahun yang sama pula, ia menerbitkan majalah Suara Aisyiyah yang banyak membahas mengeni isu-isu seputar perempuan.[5]

Siti Walidah terus memimpin Aisyiyah sampai tahun 1934.[9] Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, Aisyiyah dilarang oleh militer Jepang di Jawa dan Pulau Madura pada 10 September 1943, dia kemudian bekerja di sekolah-sekolah dan berjuang untuk menjaga siswa dari paksaan untuk menyembah matahari dan menyanyikan lagu-lagu Jepang.[10] Selama masa Revolusi Nasional Indonesia, dia memasak sup dari rumahnya bagi para tentara[9][11] dan mempromosikan dinas militer di antara mantan murid-muridnya.[12] Meski sering sakit akibat faktor usia, dia juga berpartisipasi dalam diskusi tentang perang bersama Jenderal Soedirman dan Presiden Indonesia, Soekarno.[11]

Siti Walidah meninggal pada pukul 01:00 siang pada tanggal 31 Mei 1946 dan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta empat jam kemudian.[1][13] Sekretaris Negara, Abdoel Gaffar Pringgodigdo dan Menteri Agama, Mohammad Rasjidi mewakili pemerintah pada saat pemakamannya.[1][13]

Warisan

Pada 10 November 1971, Siti Walidah dinyatakan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia oleh Presiden Indonesia kedua, Soeharto. Ini sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971;[14] Ahmad Dahlan telah diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia sepuluh tahun sebelumnya.[15] Penghargaan tersebut diterima oleh cucunya, M. Wardan.[1] Dia telah dibandingkan dengan pembela hak perempuan, Kartini dan gerilyawan, Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia.[16]

Dalam film Sang Pencerah yang dirilis pada tahun 2010 dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo, Siti Walidah diperankan oleh Zaskia Adya Mecca sementara Ahmad Dahlan diperankan oleh Lukman Sardi.[17]

Kemudian pada tahun 2017, kisah hidup Siti Walidah diangkat ke film Nyai Ahmad Dahlan. Dalam film yang disutradarai oleh Olla Atta Adonara tersebut, Siti Walidah diperankan oleh Tika Bravani sementara Ahmad Dahlan diperankan oleh David Chalik.

Kehidupan pribadi

Siti Walidah memiliki enam orang anak dengan Ahmad Dahlan.[8] Berikut nama putra putri Siti Walidah dan Ahmad Dahlan: Djohanan, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah.

Dalam budaya populer

  • Dalam film Sang Pencerah (2010), Siti Walidah diperankan oleh Zaskia Adya Mecca.
  • Dalam film Nyai Ahmad Dahlan (2017), Siti Walidah diperankan oleh Tika Bravani.

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Repubika 2008, Nyai Ahmad Dahlan.
  2. ↑ Wahyudi 2002, hlm. 42.
  3. 1 2 3 Sudarmanto 1996, hlm. 189.
  4. 1 2 Wahyudi 2002, hlm. 50.
  5. 1 2 Ghasanni, Astari Damia (2017). Pahlawan dan Tokoh Perempuan dalam Bingkai Kebinekaan. Jakarta: Direktorat Sejarah. hlm. 90–94. ISBN 9766021289532. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. 1 2 Wahyudi 2002, hlm. 47.
  7. ↑ Wahyudi 2002, hlm. 53.
  8. 1 2 Komandoko 2006, hlm. 244.
  9. 1 2 Sudarmanto 1996, hlm. 191.
  10. ↑ Wahyudi 2002, hlm. 59.
  11. 1 2 Ajisaka & Damayanti 2010, hlm. 134.
  12. ↑ Wahyudi 2002, hlm. 60.
  13. 1 2 Wahyudi 2002, hlm. 46.
  14. ↑ Wahyudi 2002, hlm. 61.
  15. ↑ Komandoko 2006, hlm. 37.
  16. ↑ Wahyudi 2002, hlm. 39.
  17. ↑ Kurniasari 2010, Zaskia Adya Mecca.

Daftar pustaka

Buku

  • Ajisaka, Arya (2004). Mengenal Pahlawan Indonesia: Penuntun Belajar. Jakarta: Kawan Pustaka. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Anshoriy, Muhammad Nasruddin (2010). Matahari Pembaruan: Rekam Jejak K.H. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Arifin, MT (1990). Muhammadiyah Potret yang Berubah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Baha'uddin, dkk (2010). Aisyiyah dan Sejarah Pergerakan Perempuan Indonésia: Sebuah Tinjauan Awal. Yogyakarta: Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
  • Benda, Harry J. (1985). Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonésia pada Masa Pendudukan Jepang. Jakarta: Pustaka Jaya. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Burhanuddin, Jajat (2002). Ulama Perempuan Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Butar-Butar, Arwin Juli Rakhmadi (2017). Mengenal Karya-Karya Ilmu Falak Nusantara: Transmisi, Anotasi, Biografi. Yogyakarta: LKIS. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Darban, Ahmad Adaby (2000). Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah. Yogyakarta: Tarawang. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Dzuhayatin, Siti Ruhaini (2015). Rezim Gender Muhammadiyah: Kontestasi Gender, Identitas, dan Eksistensi. Yogyakarta: Suka Press UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Hidayat, Irin, dkk (2013). Belajar dari Abah: Mengenang Seorang Bapak, Guru, Dai, dan Sejarawan Muslim Ahmad Adaby Darban. Yogyakarta: Pro-U Media. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Ismail, Ibnu Qoyim (1997). Kiai Penghulu Jawa; Peranannya pada Masa Kolonial. Jakarta: Gema Insani Press. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Komandoko, Gamal (2006). Kisah 124 Pahlawan dan Pejuang Nusantara. Sléman: Pustaka Widyatama. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Lembaga Pustaka dan Informasi PP. Muhammadiyah (2010). 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial-Keagamaan. Jakarta: Penerbit Kompas. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Mulkhan, Abdul Munir (1990). Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah. Yogyakarta: Percetakan Persatuan. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Nakamura, Mitsuo (1983). Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin: Studi Tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Noer, Deliar (1988). Gerakan Modern Islam di Indonésia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Pijper, Guillaume Frédéric (1984). Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonésia 1900–1950. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Ramdhon, Akhmad (2011). Pudarnya Kauman: Studi Perubahan Sosial Masyarakat Islam-Tradisional. Yogyakarta: Elmatera. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Ricklefs, Merle Calvin (2006). Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries (Signature Books Series). Cambridge: Norwalk East Bridge Books. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Setyowati, Hajar Nur; Mu'arif (2014). Srikandi-Srikandi Aisyiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Soeratno, Siti Chamamah, dkk (2009). Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni dan Budaya: Suatu Warisan Intelektual yang Terlupakan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Sudarmanto, J.B. (2007). Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia. Jakarta: Grasindo. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Sudja (1989). Muhammadiyah dan Pendirinya. Yogyakarta: PP. Muhammadiyah Majelis Pustaka. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Suratmin (1990). Nyai Ahmad Dahlan Pahlawan Nasional: Amal dan Perjuangannya. Yogyakarta: PP. Aisyiyah Seksi Khusus Penerbitan dan Publikasi. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Widyastuti (2010). Sisi Lain Seorang Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Yayasan K.H. Ahmad Dahlan. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)

Jurnal

  • Albiladiyah, Samrotul Ilmi (2006). "Sekilas tentang Pathok Nagara". Jurnal Jantra. 1 (1). ISSN 1907-9605. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Darban, Ahmad Adaby (2004). "Ulama Jawa dalam Perspektif Sejarah". Jurnal Humaniora. 16 (1). ISSN 2302-9269. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Depari, Catharina Dwi Astuti (2012). "Transformasi Ruang Kampung Kauman Yogyakarta Sebagai Produk Sinkretisme Budaya". Jurnal Arsitektur Komposisi. 10 (1). ISSN 1411-6618. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Rohman, Fandy Aprianto (2019). "K.H. Sangidu, Penghulu Penemu Nama Muhammadiyah". Jurnal Patra Widya. 20 (2). ISSN 2598-4209. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-01-13. Diakses tanggal 2021-01-11. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Seniwati; Lestari, Tuti Dwi (2019). "Sikap Hidup Wanita Muslim Kauman: Kajian Peranan Aisyiyah dalam Kebangkitan Wanita di Yogyakarta Tahun 1914–1928". Jurnal Walasuji. 10 (2). ISSN 2502-2229. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-12-16. Diakses tanggal 2021-01-11. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)

Lainnya

  • Basral, Akmal Nasery (2010). Sang Pencerah: Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah. Bandung: Mizan Pustaka. ISBN 978-797-4335-96-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Belanda
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Biografi
  2. Masa muda
  3. Sopo Tresno dan Aisyiyah
  4. Kepemimpinan dan kehidupan selanjutnya
  5. Warisan
  6. Kehidupan pribadi
  7. Dalam budaya populer
  8. Referensi
  9. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Revolusi Nasional Indonesia

konflik bersenjata dan perjuangan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Belanda

Soeprapto

Perwira TNI AD (1920 – 1965)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026