Sultan Thaha Saifuddin ; adalah seorang sultan terakhir dari Kesultanan Jambi dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia menolak untuk memperbarui perjanjian yang diberlakukan pada para sultan pendahulunya oleh Belanda, yang menginvasi Jambi pada tahun 1858, memerintah sebagian besar kesultanan sampai tahun 1899. Thaha, terus mengklaim kesultanan dan menguasai bagian-bagiannya yang sulit dijangkau sampai dia dibunuh oleh tentara Belanda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sultan Thaha Saifuddin | |
|---|---|
| Sultan Jambi ke-20 | |
| Berkuasa | (1855 – 1858) (1900 – 26 April 1904) |
| Pendahulu | Sultan Abdurrahman Nazaruddin |
| Penerus | Sultan Ahmad Nazaruddin |
| Kelahiran | 1816 Tanah Pilih, Kesultanan Jambi |
| Kematian | 26 April 1904(1904-04-26) (umur 87–88) Betung Bedarah, Tebo Ilir, Tebo |
| Ayah | Sultan Muhammad Fachruddin |

Sultan Thaha Saifuddin[a][1][2] (juga dieja Sultan Thaha Syaifuddin); (1816 - 26 April 1904) adalah seorang sultan terakhir dari Kesultanan Jambi[3] dan Pahlawan Nasional Indonesia.[4][5] Ia menolak untuk memperbarui perjanjian yang diberlakukan pada para sultan pendahulunya oleh Belanda, yang menginvasi Jambi pada tahun 1858,[6] memerintah sebagian besar kesultanan sampai tahun 1899.[3] Thaha, terus mengklaim kesultanan dan menguasai bagian-bagiannya yang sulit dijangkau sampai dia dibunuh oleh tentara Belanda.[3]
Thaha dilahirkan di Keraton Tanah Pilih Jambi pada pertengahan tahun 1816. Ketika kecil, Ia biasa dipanggil Raden Thaha Jayadiningrat dan bersikap sebagai seorang bangsawan yang rendah hati dan suka bergaul dengan rakyat biasa.[7]
Sultan Taha Saifuddin naik tahta tahun 1855 menggantikan Sultan Abdurrahman Nazaruddin. la pada tahun 1858 menyingkir dari kraton yang diduduki Belanda dan tetap melakukan perlawanan hingga gugur pada tahun 1904. Sultan Taha di mata rakyat Jambi merupakan Sultan yang sah, sedangkan sultan-sultan lain yang ada pada masa Sultan Taha masih hidup merupakan Sultan yang diangkat Belanda dan dianggap Sultan Bayang (tidur).[8]: 29
Pada pertempuran di Sungai Aro, jejak Sultan Thaha tidak diketahui lagi oleh rakyat umum, kecuali oleh pembantunya yang sangat dekat. Ia meninggal pada tanggal 26 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo, Jambi.[7]
Namanya diabadikan untuk Bandar Udara Sultan Thaha di Kota Jambi, kemudian menjadi nama salah satu perguruan tinggi di Jambi UIN Sultan Thaha Saifuddin dan nama rumah sakit di Kabupaten Tebo. Sultan Thaha Saifuddin akhirnya dianugerahkan menjadi Pahlawan Nasional pada 24 Oktober 1977 berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 079/TK/Tahun 1977.[9]