Opsir Muda Udara I (Anumerta) Adisoemarmo Wirjokusumo lahir di Blora, Jawa Tengah, dan dibesarkan sebagai penganut Islam. Bersama Adisoetjipto, Abdulrachman Saleh, Husein Sastranegara, dan Iswahjoedi Adisoemarmo dikenal sebagai perintis TNI AU Indonesia. Ia secara anumerta dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1974.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Adisoemarmo Wirjokusumo | |
|---|---|
![]() | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1921-03-31)31 Maret 1921 Blora, Hindia Belanda |
| Meninggal | 29 Juli 1947(1947-07-29) (umur 26) Bantul, Yogyakarta, Indonesia |
| Pekerjaan |
|
| Penghargaan sipil | Pahlawan Nasional Indonesia |
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas | 1945–1947 |
| Pangkat | |
| Satuan | Korps Radio |
| Pertempuran/perang | Revolusi Nasional Indonesia |
Opsir Muda Udara I (Anumerta) Adisoemarmo Wirjokusumo[1][a] (31 Maret 1921 – 29 Juli 1947) lahir di Blora, Jawa Tengah, dan dibesarkan sebagai penganut Islam. Bersama Adisoetjipto, Abdulrachman Saleh, Husein Sastranegara, dan Iswahjoedi Adisoemarmo dikenal sebagai perintis TNI AU Indonesia. Ia secara anumerta dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1974.
Adisoemarmo merupakan pendiri sekolah Radio Telegrafis Udara yang pertama kali di lingkungan Angkatan Udara dan merupakan embrio dari Sekolah Radio Udara di kemudian hari. Peran radio AURI sangat besar karena mampu membuka mata dunia terhadap perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Namun kariernya di Angkatan Udara begitu singkat, Adi Soemarmo mendapat perintah menjadi Radio Operator pesawat VT-CLA yang terbang ke India dalam upaya mengambil bantuan obat-obatan yang diberikan oleh Palang Merah Malaya dan India.[3]
Sebelum bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Adi Soemarmo anggota Radio Telegrafis Udara The Netherlands East Indies Air Force.[4]
Adisoemarmo, meninggal dunia di dalam pesawat Dakota VT-CLA yang sedang terbang membawa bantuan dari Palang Merah negara sahabat untuk Indonesia. Dia meninggal sebelum pesawat jatuh ke tanah. Hal ini dibuktikan dengan hasil visum , bahwasanya di tubuhnya terdapat sejumlah lubang bekas peluru senapan mesin dari pesawat pemburu Belanda, yang masuk dari punggung sebelah kanan, keluar dari perut sebelah kiri.[2][5]
Pada 29 Juli 1947, pesawat udara Dakota VT-CLA pulang menuju Maguwo, Yogyakarta. Pesawat udara Dakota dikemudikan oleh Pilot Alexander Noel Constantine (Australia) dan Co-pilot Roy L.C. Hazlehurst bersama Komodor, serta Juru Teknik Bhida Ram berkebangsaan India. Dalam pesawat udara Dakota terdapat penumpang lain yaitu Beryl Constantine (Inggris) istri Alexander Noel, Zainul Arif, Abdul Gani Handonotjokro, serta tiga tokoh AURI, yaitu Komodor Muda Udara Adi Sutjipto, Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh, Opsir Muda Udara I Adisoemarmo. Pesawat udara Dakota VT-CLA saat itu dalam perjalanan pulang dari Singapura menuju Yogyakarta, yang sedang membawa bantuan obat-obatan, ditembak jatuh pesawat udara P-40 Kitty Hawk Belanda yang berasal dari pangkalan Kalibanteng, Semarang, yang dipiloti oleh Letnan Satu B.J. Reusink dan Sersan Mayor W.E. Erkelens.
Pesawat jatuh di dusun Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Awak pesawat dan beberapa penumpang gugur dalam peristiwa yang menyedihkan itu, termasuk tiga orang perintis AURI, yaitu Adisoemarmo, Adisucipto dan Abdulrachman Saleh. Satu-satunya penumpang yang selamat adalah Abdul Gani Handonotjokro.
Untuk mengenang kejadian tanggal 29 Juli 1947 tersebut, sejak tahun 1955 dijadikanlah hari itu sebagai Hari Berkabung AURI. Opsir Muda Udara I Adisoemarmo dimakamkan di pemakaman Semaki, yang kemudian berubah menjadi Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Semaki. Pada 9 November 1974, Pemerintah Indonesia menetapkan Adisoemarmo sebagai Pahlawan Nasional berdasar Keputusan Presiden No. 071/TK/1974. Namanya kemudian diabadikan Bandar Udara Panasan, Boyolali, menjadi Bandar Udara Adi Soemarmo.