Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Cut Nyak Meutia

Tjoet Nyak Meutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari Aceh yang dikenal karena peranannya dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Pengakuan resmi atas jasanya diberikan melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 1964, yang menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada 2 Mei 1964. Perjuangan dan kepemimpinannya dalam mempertahankan wilayah Aceh menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

pahlawan nasional Indonesia
Diperbarui 1 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia
Cut Nyak Meutia
Lahir(1870-02-15)15 Februari 1870
Kesultanan Aceh Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, Kesultanan Aceh
Meninggal24 Oktober 1910(1910-10-24) (umur 40)
Belanda Alue Kurieng, Aceh, Hindia Belanda
Sebab meninggalGugur terkena 3 butir peluru saat bertempur dengan serdadu Belanda
MonumenMuseum Rumah Cut Mutia
KebangsaanKesultanan Aceh Kesultanan Aceh
Dikenal atas● Pejuang Perang Aceh,
Pahlawan Nasional Indonesia
Gerakan politikPerang Aceh Melawan Belanda
Lawan politikBelanda Hindia Belanda
Suami/istri●Teuku Syamsarif
●Teuku Muhammad
● Pang Nanggroë
AnakTeuku Raja Sabi
Orang tua●Teuku Ben Daud Pirak
●Cut Jah
KeluargaSaudara Kandung :
Teuku Cut Beurahim,
Teuku Muhammadsyah,
Teuku Cut Hasan, dan
Teuku Muhammad Ali.
  • Pahlawan Nasional Indonesia
  • Masjid Cut Mutiah Suntingan nilai di Wikidata

Tjoet Nyak Meutia (15 Februari 1870 – 24 Oktober 1910) adalah pahlawan nasional Indonesia dari Aceh yang dikenal karena peranannya dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Pengakuan resmi atas jasanya diberikan melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 1964, yang menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada 2 Mei 1964. Perjuangan dan kepemimpinannya dalam mempertahankan wilayah Aceh menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.[1]

Biografi

Tjoet Nyak Meutia, juga dikenal sebagai Cut Meutia, lahir sebagai putri satu-satunya dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dan Cut Jah, yang dikaruniai lima anak. Empat saudaranya laki-laki bernama Cut Beurahim, Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasen, dan Teuku Muhammad Ali. Kedua orang tuanya merupakan keturunan asli Aceh, ayahnya adalah seorang Uleebalang di desa Pirak, yang termasuk dalam wilayah Keuleebalangan Keureutoe.[2]

Pada awal perjuangannya, Tjoet Meutia menentang penjajahan Belanda bersama suaminya, Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Pada Maret 1905, Tjik Tunong ditangkap oleh Belanda dan dieksekusi di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, ia berpesan kepada sahabatnya, Pang Nanggroe, untuk menikahi Cut Meutia dan merawat anaknya, Teuku Raja Sabi.[3]

Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan yang dipimpin Teuku Muda Gantoe. Dalam pertempuran di Paya Cicem melawan Korps Marechausée, Tjoet Meutia bersama sejumlah wanita terpaksa melarikan diri ke hutan, sementara Pang Nanggroe terus memimpin perlawanan hingga tewas pada 26 September 1910.[4]

Tjoet Meutia melanjutkan perlawanan bersama sisa pasukannya, menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju wilayah Gayo melalui hutan belantara. Pada 24 Oktober 1910, ia terlibat bentrokan dengan Korps Marechausée di Alue Kurieng, dan dalam pertempuran tersebut Tjoet Nyak Meutia gugur.[4][5]

Penghargaan

Penetapan Cut Nyak Meutia sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107 Tahun 1964 yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 2 Mei 1964 oleh Presiden Sukarno. Keputusan tersebut diterbitkan dengan memperhatikan surat Menteri Koordinator Kompartemen Kesejahteraan tertanggal 30 April 1964 Nomor MKK/VIII/34/16. Dalam pertimbangannya dinyatakan bahwa Cut Meutia semasa hidupnya memimpin kegiatan perjuangan yang terorganisasi dalam menentang penjajahan di Indonesia, yang dilandasi oleh rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa.[1]

Pengabadian

Nama Cut Nyak Meutia diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan di Indonesia, baik melalui fasilitas publik, bangunan bersejarah, maupun sarana transportasi. Di Aceh Utara, namanya digunakan untuk Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia yang telah ada sejak awal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Rumah sakit ini merupakan hasil normalisasi dari rumah sakit perkebunan milik Belanda pada masa penjajahan yang kemudian dialihkan menjadi milik pemerintah Indonesia.[6] Selain itu, terdapat Museum Rumah Cut Meutia yang berupa rumah adat Aceh (rumoh) yang difungsikan sebagai museum. Bangunan ini bukan rumah asli Cut Meutia, melainkan hasil rekonstruksi yang dilakukan untuk melestarikan budaya dan nilai-nilai perjuangannya. Rumah tersebut dipugar oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Istimewa Aceh pada tahun 1981 dan selesai pada 1983 dengan tetap mempertahankan keaslian arsitektur.[7]

Pengabadian nama Cut Meutia juga terlihat pada sektor transportasi melalui Kereta Api Cut Meutia, yang sebelumnya dikenal sebagai Kereta Api Perintis Aceh. Kereta ini melayani rute dari Stasiun Krueng Geukueh—Kutablang di Provinsi Aceh dengan menggunakan Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) buatan PT Inka.[8] Layanan ini sempat berhenti beroperasi pada Juli 2014 karena sepinya penumpang,[9] namun kembali dioperasikan pada 3 November 2016 dengan nama baru, yaitu Kereta Api Cut Meutia.[10]

Di Jakarta, nama Cut Meutia diabadikan pada Masjid Cut Meutia yang terletak di Jalan Cut Meutia Nomor 1. Bangunan ini merupakan peninggalan kolonial Belanda yang selesai dibangun pada tahun 1912 dan awalnya digunakan sebagai kantor biro arsitektur N.V. De Bauploeg. Seiring waktu, gedung ini pernah difungsikan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, kantor Wali Kota Jakarta Pusat, kantor PDAM, kantor Dinas Perumahan, hingga kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang saat itu dipimpin oleh Abdul Haris Nasution. Setelah kantor MPRS dipindahkan ke Senayan, Nasution mengusulkan agar bangunan tersebut dijadikan masjid karena kebutuhan tempat ibadah di kawasan tersebut masih terbatas. Proses alih fungsi berlangsung bertahap, dimulai dengan pembentukan Remaja Masjid Cut Meutia pada 1984, hingga akhirnya resmi menjadi masjid pada 18 Agustus 1987 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta.[11]

Selain itu, nama Cut Meutia juga diabadikan dalam Taman Cut Meutia yang terletak di kawasan Gondangdia. Taman ini sebelumnya bernama Van Heutszplein dan menjadi lokasi monumen untuk memperingati Jenderal Van Heutsz, yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal De Jonge pada 23 Agustus 1932. Monumen tersebut kemudian dibongkar pada Januari 1953 oleh pemerintah Jakarta dan kawasan itu diubah menjadi taman kota. Di samping taman tersebut juga terdapat Jalan Cut Meutia yang membentang dari Cikini Raya hingga Gondangdia.[1]

Sebagai bentuk penghormatan lainnya, pemerintah Indonesia juga mengabadikan sosok Cut Meutia pada uang kertas pecahan Rp1.000 yang diterbitkan pada 19 Desember 2016.[12] Namanya juga digunakan sebagai nama jalan di berbagai daerah di Indonesia, sebagai penghargaan atas jasa dan perjuangannya.

Tempat Peristirahatan

Pada bulan Oktober 1910, pasukan Belanda meningkatkan pengejaran terhadap pasukan yang dipimpin Cut Meutia, sehingga pasukannya dipindahkan dari satu gunung ke gunung lain untuk menghindari pengepungan. Pada 24 Oktober 1910, terjadi pertempuran sengit di Alue Kurieng antara pasukan Belanda dan pasukan Cut Meutia. Dalam pertempuran tersebut, Cut Meutia gugur. Sebelum wafat, Cut Meutia menitipkan anaknya kepada Teuku Syech Buwah untuk dirawat dan dijaga.[13]

Referensi

  1. 1 2 3 Talsya (T.), Alibasjah (1982). Cut Nyak Meutia: srikandi yang gugur di medan perang Aceh. Mutiara. hlm. 148–149. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Vee, Katrin (2024-09-13). Encyclopedia of National Heroes: Aceh (dalam bahasa Inggris). Penerbit Andi.
  3. ↑ Pijar, Satyo (2024-06-05). Ensiklopedia Pahlawan Nasional: Aceh. Penerbit Andi. ISBN 978-623-8351-85-5.
  4. 1 2 Syarifah, Mushlihatun (2018-09-14). Mengenal pahlawan pada mata uang negara kesatuan republik Indonesia. CV Jejak (Jejak Publisher). ISBN 978-602-474-395-6.
  5. ↑ Sofiana, Rizqi; Andini, Viviana Ayu; Fillaely, Istinganah. Perempuan-Perempuan dalam Sejarah Islam. wawasan Ilmu. ISBN 978-623-132-568-6.
  6. ↑ Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. (t.t.). Sejarah RSU Cut Meutia. Diakses pada 24 Maret 2026
  7. ↑ Dhani, R. (2024). Rumah Cut Meutia (No. 28). Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  8. ↑ Majalah KA Edisi Januari 2014
  9. ↑ Hasyim, ed. (2014-08-13). "Kereta Api Aceh Stop Beroperasi". Serambinews. Lhokseumawe. Diakses tanggal 2025-08-28.
  10. ↑ Widayati, Rully (2016-11-03). "KA Perintis Aceh Layani Warga Lintas Krueng Mane-Bungkah". Tempo. Jakarta. Diakses tanggal 2025-08-28.
  11. ↑ Media, Kompas Cyber (2026-03-13). "Jejak Masjid Cut Meutia, Ternyata Dulunya Jadi Gedung MPR". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-03-24.
  12. ↑ ZRF, Angga Aliya (19 Desember 2016). "Rupiah Desain Baru Terbit Hari Ini". detikcom. Diakses tanggal 19 Desember 2016.
  13. ↑ News, Tagar (2017-12-23). "Siapa Cut Meutia, Namanya Jadi RS Covid-19 di Aceh". TAGAR. Diakses tanggal 2020-04-27.

Lihat pula

  • Perang Aceh
  • Pahlawan Nasional Indonesia
  • Rumah Sakit Umum Cut Meutia
  • Kereta api perintis Cut Meutia
  • Masjid Cut Meutia
  • Rp1.000
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Belanda
Orang
  • Belanda
Lain-lain
  • IdRef
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Biografi
  2. Penghargaan
  3. Pengabadian
  4. Tempat Peristirahatan
  5. Referensi
  6. Lihat pula

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Pahlawan Revolusi Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Hari Pahlawan (Indonesia)

Hari Pahlawan Nasional

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026