Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Nyai Ageng Serang

Nyai Ageng Serang (1752–1828) atau Raden Ayu Serang adalah pahlawan nasional Indonesia wanita yang memiliki nama kecil Raden Ajeng Retno Kustiyah Edi. Setelah menikah, namanya menjadi Bendara Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Nyai Ageng Serang merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, diantara keturunannya, salah satunya juga seorang Pahlawan Nasional, yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.

pahlawan nasional Indonesia
Diperbarui 1 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nyai Ageng Serang

Nyai Ageng Serang
LahirRaden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi
(1752-10-01)1 Oktober 1752
Sragen, Hindia Belanda
MeninggalJuli 1828 (umur 1815–1816)
Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda
Nama lainBendara Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi
Dikenal atasPahlawan Nasional Indonesia
  • Pahlawan Nasional Indonesia Suntingan nilai di Wikidata

Nyai Ageng Serang (bahasa Jawa: ꦚꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦱꦺꦫꦁcode: jv is deprecated , translit. Nyai Ageng Sérang) (1752–1828) atau Raden Ayu Serang adalah pahlawan nasional Indonesia wanita yang memiliki nama kecil Raden Ajeng Retno Kustiyah Edi. Setelah menikah, namanya menjadi Bendara Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi.[1] Nyai Ageng Serang merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, diantara keturunannya, salah satunya juga seorang Pahlawan Nasional, yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.

Dalam kajian sejarah lokal Jawa, Nyai Ageng Serang dipandang sebagai salah satu tokoh perempuan yang terkait dengan periode pergolakan awal abad ke-19, khususnya pada masa meningkatnya konflik antara kekuasaan kolonial Belanda dan berbagai kekuatan lokal di Jawa. Nyai Ageng Serang merupakan seorang ahli siasat perang dan penentu strategi dalam Perang Jawa (1825–1830), yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.[2]

Masa Kecil

Nyai Ageng Serang dilahirkan sekitar tahun 1752 di Desa Serang sekitar 40 km sebelah utara Surakarta dekat Purwodadi, Jawa Tengah. Nyai Ageng Serang masih keturunan Sunan Kalijaga. Ayahnya adalah Pangeran Ronggo seda Jajar yang dijuluki Panembahan Senopati Notoprojo.[1] Pangeran Notoprojo menguasai wilayah terpencil dari Kerajaan Mataram tepatnya di wilayah Serang yang sekarang berada di wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Pangeran Notoprojo juga adalah penguasa wilayah Serang di Jawa Tengah, yang juga menjabat sebagai Panglima Perang di bawah Sultan Hamengku Buwono I.[3]

Ayahnya digambarkan memiliki sikap kritis terhadap dominasi asing dan pengaruh kolonial. Nyai Ageng Serang tumbuh di lingkungan keluarga bangsawan Jawa pada masa ketika kehidupan kraton masih berada dalam situasi kekuasaan tradisional Jawa, sementara pada saat yang sama pengaruh politik dan ekonomi kolonial Belanda semakin meningkat. Dalam struktur sosial Jawa abad ke-19, sikap kalangan bangsawan terhadap kolonialisme tidak seragam, karena sebagian bekerja sama dalam sistem administrasi kolonial, sementara sebagian lainnya menunjukkan penolakan dalam berbagai bentuk, baik secara terbuka maupun tidak langsung. Dalam konteks ini, keluarga dan lingkungan sosial Nyai Ageng Serang dipandang berada dalam kecenderungan sikap yang menolak dominasi kolonial. Sejak masa muda, Nyai Ageng Serang digambarkan memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat di luar lingkungan kraton, termasuk ketimpangan sosial, penderitaan rakyat, serta dampak kebijakan kolonial terhadap kehidupan sehari-hari. Proses pembentukan kesadaran ini dalam narasi tradisional sering dijelaskan sebagai hasil interaksi antara lingkungan keluarga, pengalaman sosial di kraton, dan pengamatan terhadap kondisi masyarakat Jawa pada awal abad ke-19, yang kemudian berkembang menjadi sikap kritis terhadap struktur yang dianggap berkontribusi terhadap ketidakadilan sosial.[4]

Kehidupan Dewasa

Nyai Ageng Serang lahir di desa Serang saat musim hujan. ketika berusia tujuh belas tahun, ia dikirim ke Keraton Yogyakarta. Selama di keraton ia memperdalam ilmu agama Islam, aktif membaca buku, berguru pada sarjana keraton, dan juga sesekali mengajarkan ilmu membaca dan menulis baik dengan aksara Jawa maupun dengan huruf Arab.[5] Pada masa mudanya, ia menerima pelatihan militer dan sempat menjadi istri dari Sri Sultan Hamengkubuwana II. Setelah ayahnya wafat, Nyai Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyai Ageng Serang menikah dua kali, selain dengan Hamengkubuwana II yang kemudian berpisah, ia menikah dengan Pangeran Serang I (nama asli: Pangeran Mutia Kusumowijoyo). Di Serang, dia melahirkan seorang putra bernama Pangeran Kusumowijoyo atau Sumowijoyo (1794-1852), yang disebut sebagai Pangeran Serang II dalam sumber Belanda. Dicap oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, sebagai orang yang sangat jahat, tidak berprinsip, dan kecanduan madat.[6] Ia juga memiliki seorang putri yang menikah dengan anak Sultan Hamengku Buwono II, Pangeran Mangkudiningrat I (1775-1824), yang diasingkan ke Pulau Pinang (1812-1815) dan Ambon (1816-1824) setelah Inggris menyerang Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pasangan yang terakhir ini punya seorang putra, Raden Tumenggung Mangkudirjo yang kelak bergelar Pangeran Adipati Notoprojo atau Raden Mas Papak (1803-1855). Julukan itu diberikan karena jari-jari tengah-tengah kiri sama rata, tanda kebesaran sebagai calon raja.[7]

Nyai Ageng Serang terlibat dalam perang melawan Belanda bersama ayahnya, Pangeran Notoprojo. Pada saat itu, Belanda melakukan serangan mendadak terhadap kubu pertahanan yang dipimpin oleh Pangeran Notoprojo. Karena faktor usia yang telah lanjut, kepemimpinan pertahanan di Serang kemudian diserahkan kepada Nyai Ageng Serang. Selama pertempuran berlangsung, saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Nyai Ageng Serang mengambil alih kepemimpinan sepenuhnya dan memimpin pasukan melawan Belanda. Meskipun ia bertempur dengan segala daya upaya, pasukan Serang terdesak oleh kekuatan musuh yang lebih besar, terlebih setelah Pangeran Mangkubumi tidak lagi memberikan dukungan setelah mengadakan perjanjian damai dengan Belanda melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Awalnya, Nyai Ageng Serang menolak menyerah, tetapi ia akhirnya berhasil ditangkap dan menjadi tawanan Belanda. Dari peristiwa pertempuran di Serang inilah, nama Kustiah dikenal sebagai Nyai Ageng Serang. Setelah dibebaskan, ia dikirim ke Yogyakarta, di mana ia kemudian lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memperkuat kehidupan spiritualnya.[8]

Masa perjuangan Nyai Ageng Serang terus berlanjut. Setelah berpisah dari Hamengkubuwana II, Nyai Ageng Serang kembali ke daerah Purwodadi dan bergabung dalam perjuangan bersama Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825–1830) meskipun saat itu ia telah berusia 73 tahun. Selama perang tersebut, Nyai Ageng Serang tetap aktif dan gigih melanjutkan perlawanan bersama cucunya, R.M. Papak Nyai Ageng. Dalam Perang Diponegoro, ia memegang posisi strategis sebagai penasihat Pangeran Diponegoro, serta beberapa kali dipercaya memimpin pasukan dalam pertempuran di wilayah Serang, Purwodadi, Gundih, Kudus, Demak, dan Semarang. Nyai Ageng Serang dikenal sebagai ahli strategi militer, terutama dengan taktik yang disebut "strategi lembu," yang memanfaatkan hewan atau daun talas sebagai alat penyamaran dalam peperangan. Selain itu, ia juga pernah memimpin perang gerilya di sekitar Desa Beku, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Atas saran Pangeran Diponegoro, Nyai Ageng Serang kemudian memindahkan markasnya ke Prambanan dan menjadi penasihat Sultan Sepuh, Hamengku Buwono II.[3]

Lukisan diri Nyai Ageng Serang

Nyai Ageng Serang meninggal di Yogyakarta tahun 1828 dan dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo.[9] Namun, beberapa orang meyakini bahwa makamnya berada di daerah Grobogan yang kini menjadi lokasi Waduk Kedung Ombo, sehingga dibuatlah sebuah makam terapung di waduk tersebut. Di antara keturunannya, salah satunya juga seorang Pahlawan Nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.

Sebagai pahlawan nasional, Nyai Ageng Serang cenderung hampir terlupakan. Mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien. Bagaimanapun warga Kulon Progo mendirikan monumen di tengah kota Wates untuk mengenangnya. Monumen tersebut berupa patung Nyai Ageng Serang yang sedang menaiki kuda dengan membawa tombak.

Perjuangan

Makam Nyai Ageng Serang.

Pada awal terjadinya Perang Diponegoro tahun 1825, Nyai Ageng Serang yang telah berusia 73 tahun tetap turun ke medan laga. Ia memimpin pasukan dengan menggunakan tandu dan bergabung membantu Pangeran Diponegoro dalam menghadapi pasukan Belanda. Selain ikut bertempur, ia juga berperan sebagai penasehat strategi perang dan terlibat dalam perlawanan di berbagai wilayah seperti Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, dan Rembang.[10]

Nyai Ageng Serang menempuh pendidikan militer dan mempelajari berbagai taktik peperangan bersama para prajurit laki-laki. Ia meyakini bahwa selama tanah air masih berada di bawah penjajahan, dirinya wajib selalu siap turun ke medan perang untuk melawan. Salah satu taktik yang paling dikenal dari dirinya ialah memanfaatkan daun talas hijau (lumbu) sebagai sarana kamuflase untuk mengecoh musuh.[10]

Setelah periode keterlibatan aktif dalam perang Jawa melalui perjuagan bersenjata, Nyai Ageng Serang menghabiskan masa tuanya di wilayah Notoprajan, Yogyakarta. Pada fase ini, Nyai Ageng Serang tidak lagi terlibat dalam aktivitas militer, melainkan menjalani peran sosial dan spiritual di lingkungan keluarga serta kerabat. Perubahan tersebut mencerminkan pola umum dalam kehidupan tokoh pada masa itu, ketika memasuki usia lanjut akan beralih peran sebagai pemberi nasihat moral dan penjaga nilai dalam lingkungan sosialnya. Kegiatan pada masa ini meliputi pemberian wejangan kepada keluarga, penanaman nilai-nilai moral dan kepemimpinan, serta aktivitas spiritual seperti berdoa dan bertapa, disertai refleksi atas pengalaman hidup dan perjalanan perjuangan yang telah dilalui. Dalam konteks budaya Jawa, praktik tersebut dipahami sebagai bagian dari “laku batin”, yaitu upaya spiritual untuk mencapai ketenangan dan penghayatan nilai-nilai kehidupan.[4]

Wafat

Nyai Ageng Serang meninggal pada tahun 1828 di usia 76 tahun dan dimakamkan di Bukit Traju Mas, Padukuhan Beku, Kalurahan Banjarharjo, Kabupaten Kulon Progo. Pada tahun 1974, Nyai Ageng Serang diangkat sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden No. 084/TK/1974, tertanggal 13 Desember 1974. Namanya juga diangkat sebagai teladan perempuan nasional dalam pidato Hari Ibu Nasional pada tahun yang sama, karena integritas, nasionalisme, dan religiusitas yang ditunjukkan sepanjang hidupnya.[3]

Referensi

  1. 1 2 Carey, Peter; Houben, Vincent (2017). Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 30. ISBN 978-602-6208-16-3.
  2. ↑ Pandanwangi, A., Apin, A. M., Apriani, N., & Damayanti, N. Y. (2017). Pahlawan perempuan Indonesia. Yayasan Bumi Dharma Nusantara.
  3. 1 2 3 Luthfiana, Hisyam (2023-11-11). "Profil Nyai Ageng Serang, Buyut Ki Hajar Dewantara yang Pernah Berperang Bersama Pangeran Diponegoro". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-10-19.
  4. 1 2 Lasminah, P. (2007). Nyi Ageng Serang. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
  5. ↑ Tendiardi, Fider (2017). Pahlawan dan Tokoh Perempuan dalam Bingkai Kebinekaan. Jakarta: Direktorat Sejarah. hlm. 27–38. ISBN 9766021289532. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Carey, Peter; Houben, Vincent (2017). Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 31. ISBN 978-602-6208-16-3.
  7. ↑ "Vredeburg.id". vredeburg.id. Diakses tanggal 2024-10-27.
  8. ↑ Rebeca Bernike Etania, Tri Indriawati (2023/09/01). "Biografi Nyai Ageng Serang, Pemimpin Pasukan di Perang Diponegoro". Diakses tanggal 2024/10/27.
  9. ↑ Carey, Peter; Houben, Vincent (2017). Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 35. ISBN 978-602-6208-16-3.
  10. 1 2 Adryamarthanino, Verelladevanka (2021-06-05). Nailufar, Nibras Nada (ed.). "Nyai Ageng Serang: Kehidupan, Perjuangan, dan Akhir Hidup". Kompas.com. Diakses tanggal 2021-06-17.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Nyai Ageng Serang.
  • Nyai Ageng Serang
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Masa Kecil
  2. Kehidupan Dewasa
  3. Perjuangan
  4. Wafat
  5. Referensi
  6. Pranala luar

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Pahlawan Revolusi Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Hari Pahlawan (Indonesia)

Hari Pahlawan Nasional

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026