Nyai Ageng Serang (1752–1828) atau Raden Ayu Serang adalah pahlawan nasional Indonesia wanita yang memiliki nama kecil Raden Ajeng Retno Kustiyah Edi. Setelah menikah, namanya menjadi Bendara Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Nyai Ageng Serang merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, diantara keturunannya, salah satunya juga seorang Pahlawan Nasional, yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Nyai Ageng Serang | |
|---|---|
| Lahir | Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (1752-10-01)1 Oktober 1752 Sragen, Hindia Belanda |
| Meninggal | Juli 1828 (umur 1815–1816) Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda |
| Nama lain | Bendara Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi |
| Dikenal atas | Pahlawan Nasional Indonesia |
Nyai Ageng Serang (bahasa Jawa: ꦚꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦱꦺꦫꦁcode: jv is deprecated , translit. Nyai Ageng Sérang) (1752–1828) atau Raden Ayu Serang adalah pahlawan nasional Indonesia wanita yang memiliki nama kecil Raden Ajeng Retno Kustiyah Edi. Setelah menikah, namanya menjadi Bendara Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi.[1] Nyai Ageng Serang merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, diantara keturunannya, salah satunya juga seorang Pahlawan Nasional, yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.
Dalam kajian sejarah lokal Jawa, Nyai Ageng Serang dipandang sebagai salah satu tokoh perempuan yang terkait dengan periode pergolakan awal abad ke-19, khususnya pada masa meningkatnya konflik antara kekuasaan kolonial Belanda dan berbagai kekuatan lokal di Jawa. Nyai Ageng Serang merupakan seorang ahli siasat perang dan penentu strategi dalam Perang Jawa (1825–1830), yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.[2]
Nyai Ageng Serang dilahirkan sekitar tahun 1752 di Desa Serang sekitar 40 km sebelah utara Surakarta dekat Purwodadi, Jawa Tengah. Nyai Ageng Serang masih keturunan Sunan Kalijaga. Ayahnya adalah Pangeran Ronggo seda Jajar yang dijuluki Panembahan Senopati Notoprojo.[1] Pangeran Notoprojo menguasai wilayah terpencil dari Kerajaan Mataram tepatnya di wilayah Serang yang sekarang berada di wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Pangeran Notoprojo juga adalah penguasa wilayah Serang di Jawa Tengah, yang juga menjabat sebagai Panglima Perang di bawah Sultan Hamengku Buwono I.[3]
Ayahnya digambarkan memiliki sikap kritis terhadap dominasi asing dan pengaruh kolonial. Nyai Ageng Serang tumbuh di lingkungan keluarga bangsawan Jawa pada masa ketika kehidupan kraton masih berada dalam situasi kekuasaan tradisional Jawa, sementara pada saat yang sama pengaruh politik dan ekonomi kolonial Belanda semakin meningkat. Dalam struktur sosial Jawa abad ke-19, sikap kalangan bangsawan terhadap kolonialisme tidak seragam, karena sebagian bekerja sama dalam sistem administrasi kolonial, sementara sebagian lainnya menunjukkan penolakan dalam berbagai bentuk, baik secara terbuka maupun tidak langsung. Dalam konteks ini, keluarga dan lingkungan sosial Nyai Ageng Serang dipandang berada dalam kecenderungan sikap yang menolak dominasi kolonial. Sejak masa muda, Nyai Ageng Serang digambarkan memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat di luar lingkungan kraton, termasuk ketimpangan sosial, penderitaan rakyat, serta dampak kebijakan kolonial terhadap kehidupan sehari-hari. Proses pembentukan kesadaran ini dalam narasi tradisional sering dijelaskan sebagai hasil interaksi antara lingkungan keluarga, pengalaman sosial di kraton, dan pengamatan terhadap kondisi masyarakat Jawa pada awal abad ke-19, yang kemudian berkembang menjadi sikap kritis terhadap struktur yang dianggap berkontribusi terhadap ketidakadilan sosial.[4]
Nyai Ageng Serang lahir di desa Serang saat musim hujan. ketika berusia tujuh belas tahun, ia dikirim ke Keraton Yogyakarta. Selama di keraton ia memperdalam ilmu agama Islam, aktif membaca buku, berguru pada sarjana keraton, dan juga sesekali mengajarkan ilmu membaca dan menulis baik dengan aksara Jawa maupun dengan huruf Arab.[5] Pada masa mudanya, ia menerima pelatihan militer dan sempat menjadi istri dari Sri Sultan Hamengkubuwana II. Setelah ayahnya wafat, Nyai Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyai Ageng Serang menikah dua kali, selain dengan Hamengkubuwana II yang kemudian berpisah, ia menikah dengan Pangeran Serang I (nama asli: Pangeran Mutia Kusumowijoyo). Di Serang, dia melahirkan seorang putra bernama Pangeran Kusumowijoyo atau Sumowijoyo (1794-1852), yang disebut sebagai Pangeran Serang II dalam sumber Belanda. Dicap oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, sebagai orang yang sangat jahat, tidak berprinsip, dan kecanduan madat.[6] Ia juga memiliki seorang putri yang menikah dengan anak Sultan Hamengku Buwono II, Pangeran Mangkudiningrat I (1775-1824), yang diasingkan ke Pulau Pinang (1812-1815) dan Ambon (1816-1824) setelah Inggris menyerang Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pasangan yang terakhir ini punya seorang putra, Raden Tumenggung Mangkudirjo yang kelak bergelar Pangeran Adipati Notoprojo atau Raden Mas Papak (1803-1855). Julukan itu diberikan karena jari-jari tengah-tengah kiri sama rata, tanda kebesaran sebagai calon raja.[7]
Nyai Ageng Serang terlibat dalam perang melawan Belanda bersama ayahnya, Pangeran Notoprojo. Pada saat itu, Belanda melakukan serangan mendadak terhadap kubu pertahanan yang dipimpin oleh Pangeran Notoprojo. Karena faktor usia yang telah lanjut, kepemimpinan pertahanan di Serang kemudian diserahkan kepada Nyai Ageng Serang. Selama pertempuran berlangsung, saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Nyai Ageng Serang mengambil alih kepemimpinan sepenuhnya dan memimpin pasukan melawan Belanda. Meskipun ia bertempur dengan segala daya upaya, pasukan Serang terdesak oleh kekuatan musuh yang lebih besar, terlebih setelah Pangeran Mangkubumi tidak lagi memberikan dukungan setelah mengadakan perjanjian damai dengan Belanda melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Awalnya, Nyai Ageng Serang menolak menyerah, tetapi ia akhirnya berhasil ditangkap dan menjadi tawanan Belanda. Dari peristiwa pertempuran di Serang inilah, nama Kustiah dikenal sebagai Nyai Ageng Serang. Setelah dibebaskan, ia dikirim ke Yogyakarta, di mana ia kemudian lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memperkuat kehidupan spiritualnya.[8]
Masa perjuangan Nyai Ageng Serang terus berlanjut. Setelah berpisah dari Hamengkubuwana II, Nyai Ageng Serang kembali ke daerah Purwodadi dan bergabung dalam perjuangan bersama Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825–1830) meskipun saat itu ia telah berusia 73 tahun. Selama perang tersebut, Nyai Ageng Serang tetap aktif dan gigih melanjutkan perlawanan bersama cucunya, R.M. Papak Nyai Ageng. Dalam Perang Diponegoro, ia memegang posisi strategis sebagai penasihat Pangeran Diponegoro, serta beberapa kali dipercaya memimpin pasukan dalam pertempuran di wilayah Serang, Purwodadi, Gundih, Kudus, Demak, dan Semarang. Nyai Ageng Serang dikenal sebagai ahli strategi militer, terutama dengan taktik yang disebut "strategi lembu," yang memanfaatkan hewan atau daun talas sebagai alat penyamaran dalam peperangan. Selain itu, ia juga pernah memimpin perang gerilya di sekitar Desa Beku, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Atas saran Pangeran Diponegoro, Nyai Ageng Serang kemudian memindahkan markasnya ke Prambanan dan menjadi penasihat Sultan Sepuh, Hamengku Buwono II.[3]

Nyai Ageng Serang meninggal di Yogyakarta tahun 1828 dan dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo.[9] Namun, beberapa orang meyakini bahwa makamnya berada di daerah Grobogan yang kini menjadi lokasi Waduk Kedung Ombo, sehingga dibuatlah sebuah makam terapung di waduk tersebut. Di antara keturunannya, salah satunya juga seorang Pahlawan Nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.
Sebagai pahlawan nasional, Nyai Ageng Serang cenderung hampir terlupakan. Mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien. Bagaimanapun warga Kulon Progo mendirikan monumen di tengah kota Wates untuk mengenangnya. Monumen tersebut berupa patung Nyai Ageng Serang yang sedang menaiki kuda dengan membawa tombak.

Pada awal terjadinya Perang Diponegoro tahun 1825, Nyai Ageng Serang yang telah berusia 73 tahun tetap turun ke medan laga. Ia memimpin pasukan dengan menggunakan tandu dan bergabung membantu Pangeran Diponegoro dalam menghadapi pasukan Belanda. Selain ikut bertempur, ia juga berperan sebagai penasehat strategi perang dan terlibat dalam perlawanan di berbagai wilayah seperti Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, dan Rembang.[10]
Nyai Ageng Serang menempuh pendidikan militer dan mempelajari berbagai taktik peperangan bersama para prajurit laki-laki. Ia meyakini bahwa selama tanah air masih berada di bawah penjajahan, dirinya wajib selalu siap turun ke medan perang untuk melawan. Salah satu taktik yang paling dikenal dari dirinya ialah memanfaatkan daun talas hijau (lumbu) sebagai sarana kamuflase untuk mengecoh musuh.[10]
Setelah periode keterlibatan aktif dalam perang Jawa melalui perjuagan bersenjata, Nyai Ageng Serang menghabiskan masa tuanya di wilayah Notoprajan, Yogyakarta. Pada fase ini, Nyai Ageng Serang tidak lagi terlibat dalam aktivitas militer, melainkan menjalani peran sosial dan spiritual di lingkungan keluarga serta kerabat. Perubahan tersebut mencerminkan pola umum dalam kehidupan tokoh pada masa itu, ketika memasuki usia lanjut akan beralih peran sebagai pemberi nasihat moral dan penjaga nilai dalam lingkungan sosialnya. Kegiatan pada masa ini meliputi pemberian wejangan kepada keluarga, penanaman nilai-nilai moral dan kepemimpinan, serta aktivitas spiritual seperti berdoa dan bertapa, disertai refleksi atas pengalaman hidup dan perjalanan perjuangan yang telah dilalui. Dalam konteks budaya Jawa, praktik tersebut dipahami sebagai bagian dari “laku batin”, yaitu upaya spiritual untuk mencapai ketenangan dan penghayatan nilai-nilai kehidupan.[4]
Nyai Ageng Serang meninggal pada tahun 1828 di usia 76 tahun dan dimakamkan di Bukit Traju Mas, Padukuhan Beku, Kalurahan Banjarharjo, Kabupaten Kulon Progo. Pada tahun 1974, Nyai Ageng Serang diangkat sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden No. 084/TK/1974, tertanggal 13 Desember 1974. Namanya juga diangkat sebagai teladan perempuan nasional dalam pidato Hari Ibu Nasional pada tahun yang sama, karena integritas, nasionalisme, dan religiusitas yang ditunjukkan sepanjang hidupnya.[3]