Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sinta Nuriyah

Sinta Nuriyah Wahid adalah istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga tahun 2001.

Ibu Negara Indonesia ke-4
Diperbarui 20 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sinta Nuriyah
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Biografi ini terlalu bergantung kepada referensi yang berasal dari sumber primer. Mohon bantu kami dengan menambahkan sumber-sumber sekunder dan tersier. Materi kontroversial tentang tokoh yang masih hidup yang tidak bersumber atau memiliki sumber yang buruk harus segera dihapus, terutama jika materi tersebut bersifat fitnah atau berbahaya. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Biografi ini memerlukan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian. Bantulah untuk menambahkan referensi atau sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah.
Cari sumber: "Sinta Nuriyah" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Sinta Nuriyah Wahid
Sinta Nuriyah pada tahun 2016
Ibu Negara Indonesia ke-4
Masa jabatan
20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001
PresidenAbdurrahman Wahid
Sebelum
Pendahulu
Hasri Ainun Habibie
Pengganti
Taufiq Kiemas (sebagai Bapak Negara)
Informasi pribadi
Lahir8 Maret 1948 (umur 78)
Djombang, Indonesia
Suami/istri
Abdurrahman Wahid
​
​
(m. 1968; meninggal 2009)​
Anak4, termasuk Alissa Qotrunnada, Yenny Wahid, dan Inayah Wulandari
Kerabat
  • Wahid Hasyim (ayah mertua)
  • Salahuddin Wahid (adik ipar)
Almamater
  • Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Universitas Indonesia
Pekerjaan
  • Aktivis perempuan
  • wartawan
Tanda tangan
  • (2018) Time 100 Suntingan nilai di Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Sinta Nuriyah Wahid (lahir 8 Maret 1948) adalah istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga tahun 2001.[1][2]

Kehidupan awal

Sinta lahir di Kabupaten Jombang pada tahun 1948 sebagai putri sulung dari 18 bersaudara.[3] Ia merupakan putri dari Abdussyakur dan Siti Anisah Syakur.[4] Ia disekolahkan di pesantren. Pada usia 13 tahun, ia jatuh cinta dengan Wahid, gurunya di pesantren. Karena bapaknya, seorang penulis kaligrafi profesional, enggan menyetujui pernikahan mereka, Wahid pergi menuntut ilmu di luar negeri. Ketika Wahid melamar untuk kedua kalinya dari Baghdad, Sinta menerima dan menikahinya tiga tahun sebelum Wahid pulang ke Indonesia. Kakek Wahid, Bisri Syansuri, menjadi pengganti mempelai pria dalam upacara pernikahan mereka.[3][4]

Setelah Wahid pulang tahun 1971, barulah mereka meresmikan pernikahan secara hukum negara. Kemudian Sinta lulus S1 di bidang hukum syariah dari IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia membantu menghidupi keempat anaknya dengan membuat dan menjual permen.[3][4]

Pada 14 Maret 1993, Sinta menjadi korban kecelakaan mobil yang melumpuhkan separuh tubuhnya.[4] Ia menjalani terapi fisik selama satu tahun agar dapat menggerakkan lengannya. Namun sejak saat itu, ia harus beraktivitas menggunakan kursi roda. Ia kemudian melanjutkan S2 di bidang kajian wanita di Universitas Indonesia. Staf universitas membawa Sinta ke lantai empat gedung universitas menggunakan tandu.[3] Ia meraih gelar Magister Humaniora pada 1998 dengan judul tesis "Perkawinan Usia Muda dan Kesehatan Reproduksi: Studi Kasus di Kecamatan Sekar Arum, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah".[5]

Sejak suaminya dimakzulkan, Sinta menjadi aktivis pendukung Islam moderat. Ia memulai tradisi buka puasa lintas agama pada bulan Ramadan.[6] Ia memuji keberanian Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dan menyebut bahwa poligami selama ini tidak adil.[3] Banser mengamankan setiap kegiatan-kegiatannya karena ia sering mendapat ancaman dari beberapa orang.[3] Ia masuk dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh versi TIME pada tahun 2018.[7] Ia menerima gelar Doktor kehormatan dalam bidang sosiologi agama dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 18 Desember 2019.[8]

Karier

Bab atau bagian dari biografi ini tidak memiliki referensi atau sumber sehingga isinya tidak dapat dipastikan. Bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus.
Cari sumber: "Sinta Nuriyah" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid memang telah memiliki pemikiran yang kritis dan perhatian sangat besar terhadap kondisi perempuan di Indonesia sejak remaja. Sejak awal ia telah melihat betapa peran dan kedudukan perempuan masih banyak yang direndahkan, utamanya di komunitas masyarakat Islam.

Shinta Nuriyah melihat adanya penafsiran yang masih bias gender terhadap kondisi perempuan dalam ajaran Agama Islam. Kondisi ini mengakibatkan adanya anggapan di sebagian masyarakat bahwa kedudukan perempuan tidak setara dengan laki-laki. Padahal menurutnya, perempuan adalah tokoh sentral dalam kehidupan umat manusia, karena mengemban tugas suci, melahirkan, dan mendidik anak manusia. Hal ini yang mendorong Shinta Nuriyah pada tahun 2001 mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati, dengan tujuan agar bisa lebih efektif dalam berjuang membela hak dan membebaskan kaum perempuan dari belenggu ketertindasan dan keterbelakangan. Kata ‘Puan’ itu sendiri adalah kepanjangan dari Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Meski Shinta Nuriyah berangkat dan memperoleh pendidikan dari Pesantren Tambak Beras, sebagai pesantren yang dihormati dan sangat berpengaruh di Jombang, tetapi oleh kedua orangtuanya ia dididik untuk berani berpikir terbuka dan kritis. Suatu kondisi yang jarang ditemui di lingkungan pesantren tradisional saat itu.

Karena itu, selain advokasi dan konseling, salah satu kegiatan utama Yayasan Puan Amal Hayati adalah mengkaji dan mendiskusikan Kitab Kuning, khususnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban perempuan dalam Islam. Kitab Kuning adalah sebutan untuk kumpulan tulisan pemikiran para ulama terkemuka atas Al Quran dan Hadits yang menjadi rujukan utama di berbagai pesantren dalam mempelajari agama Islam.

Shinta Nuriyah merasa perlu mengkaji masalah ini dengan mendalam dan menyeluruh, karena ia memiliki keyakinan kuat bahwa Islam mengajarkan persamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Islam sangat menghargai dan sangat menghormati perempuan karena Islam menempatkan seluruh umatnya setara di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Keyakinan akan kesetaraan bagi semua ini pula yang mendorong tekad Shinta Nuriyah untuk selalu berada di depan dalam membela kaum yang tertindas atau marginal, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras atau bahkan golongan orang-orang yang dianggap memiliki perilaku menyimpang dari kelaziman kehidupan sosialnya sekalipun.

Shinta Nuriyah yang telah menuntaskan program Pasca Sarjana Studi Kajian Wanita dari Universitas Indonesia ini, ingin mengedukasi masyarakat bahwa Islam tidak menempatkan kedudukan perempuan dibawah laki-laki, seperti yang selama ini dipersepsikan oleh sebagian masyarakat muslim.

Shinta Nuriyah, yang dahulu juga berperan sebagai partner utama diskusi suaminya tentang banyak hal, Almarhum Gus Dur; meyakini bahwa masalah persamaan gender adalah masalah serius yang perlu mendapat perhatian besar dari kita semua. Hal ini mengingat bahwa perempuan adalah seorang ibu yang menjadi muara/oase dari perjalanan panjang peradaban umat manusia.

Menurut ibu dari empat orang anak yang berfikiran progresif ini; perempuan jelas memiliki peran yang tak tergantikan dan sangat terhormat dalam masyarakat, sehingga sudah selayaknya perempuan memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang tidak berbeda dengan laki-laki.

Karya

  • Perempuan dan Pluralisme, (LkiS: 2019)
  • Pesantren Tradisi dan Kebudayaan, (LkiS: 2019)
  • Romantika Kehidupan: Kumpulan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, (Yayasan Puan Amal Hayati: 2009)
  • Forum Kajian Kitab Kuning (FK3): Kembang Setaman Perkawinan “Analisis Kritis Kitab ‘Uqud Al Lujjayn”, (Penerbit Buku Kompas: 2005)
  • Forum Kajian Kitab Kuning (FK3): Wajah Baru Relasi Suami-Istri “Telaah Kitab ‘Uqud Al Lujjayn”, (LKiS Yogyakarta: 2001)

Penghargaan

Tanda kehormatan

  • Bintang Republik Indonesia Adipradana – 2011[9]

Referensi

  1. ↑ Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia: Sinta Nuriyah[pranala nonaktif permanen]
  2. ↑ Robinson, Kathryn May (2009). Gender, Islam, and democracy in Indonesia. Taylor & Francis. hlm. 76. ISBN 978-0-415-41583-5.
  3. 1 2 3 4 5 6 Emont, Jon (8 April 2017). "A Former First Lady Presses On for a Tolerant, Feminist Islam". The New York Times. hlm. A6. Diakses tanggal 14 April 2017.
  4. 1 2 3 4 "Dr. (H.C) Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum - GusDur.Net". Diakses tanggal 6 Mei 2025.
  5. ↑ Sinta Nuriyah Rahman, Author (6 Mei 1998). "Perkawinan usia muda dan kesehatan reproduksi : studi kasus di Kecamatan Sekar Arum, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah". Universitas Indonesia Library. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
  6. ↑ "Ex-first lady holds 'sahur' with marginalized people for RI unity". The Jakarta Post. 29 June 2015.
  7. ↑ "Sinta Nuriyah is on the 2018 TIME 100 list". TIME. 1 April 2018.
  8. ↑ "Suarakan Pluralisme, Sinta Nuriyah Terima Gelar Doktor Honoris Causa Halaman all - Kompas.com". Diakses tanggal 6 Mei 2025.
  9. ↑ "Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Tahun 1959–sekarang" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 10 Agustus 2011. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2023-08-11. Diakses tanggal 2023-09-28.
Jabatan politik
Didahului oleh:
Hasri Ainun Habibie
Ibu Negara Indonesia
1999–2001
Diteruskan oleh:
Taufiq Kiemas
  • l
  • b
  • s
Daftar pasangan Presiden Indonesia

Fatmawati
Fatmawati
1945–1967

Tien
Siti Hartinah
1967–1996

Ainun
Hasri Ainun Besari
1998–1999

Sinta
Sinta Nuriyah
1999–2001

Taufiq
Taufiq Kiemas
2001–2004

Kristiani
Kristiani Herrawati
2004–2014

Iriana
Iriana
2014–2024

  • l
  • b
  • s
Abdurrahman Wahid
Presiden Indonesia ke-4
Keluarga
Kakek
K.H. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama, Pahlawan Kemerdekaan Indonesia)  · K.H. Bisri Syansuri (Pendiri Nahdlatul Ulama, Anggota DPR RI)
Orang tua
K.H. Wahid Hasyim (ayah) dan Hj. Sholehah (ibu)
Pasangan dan saudara
Sinta Wahid (istri) · Salahuddin (adik) · Lily (adik) · Hasyim (adik)
Generasi ke-2
Alissa (anak) · Yenny (anak) · Dhohir Farisi (menantu) · Anita (anak) · Inayah (anak) · Halim (keponakan) · Imin (keponakan)  · Saiful (keponakan)  · Irfan Wahid (keponakan)
Masa pemerintahan
Pelantikan Abdurrahman Wahid  · Pemakzulan Abdurrahman Wahid  · Buloggate  · Bruneigate  · Konflik Sampit
← Didahului: B. J. Habibie
Digantikan: Megawati Soekarnoputri →

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan awal
  2. Karier
  3. Karya
  4. Penghargaan
  5. Tanda kehormatan
  6. Referensi

Artikel Terkait

Ibu kota Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Daftar pasangan Presiden Indonesia

tidak diatur secara eksplisit di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) maupun diperinci secara jelas dalam peraturan perundang-undangan lainnya.

Daftar ibu kota provinsi di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026