Buruh Tani atau Pembebasan adalah lagu berbahasa Indonesia yang bercerita tentang demokrasi dan pembebasan. Lagu Buruh Tani awalnya berjudul Pembebasan yang diciptakan oleh Safi’i Kemamang di tahun 90-an dan dipopulerkan Marjinal. Lagu Buruh Tani dikenal sebagai lagu yang sering dinyanyikan pada aksi unjuk rasa atau demo mahasiswa pada saat turun ke jalan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Buruh Tani atau Pembebasan adalah lagu berbahasa Indonesia yang bercerita tentang demokrasi dan pembebasan. Lagu Buruh Tani awalnya berjudul Pembebasan yang diciptakan oleh Safi’i Kemamang di tahun 90-an dan dipopulerkan Marjinal. Lagu Buruh Tani dikenal sebagai lagu yang sering dinyanyikan pada aksi unjuk rasa atau demo mahasiswa pada saat turun ke jalan.[1][2]
Selain judul lagu yang banyak orang tidak tahu, lirik lagu yang kerap didengar pun melenceng dari aslinya. Entah siapa yang mula-mula mengubahnya. Dari sejumlah video yang diunggah di YouTube, kebanyakan mereka mengambil dari salah satu video versi akustik yang dinyanyikan oleh beberapa laki-laki dan perempuan (tertulis dalam judul video tersebut: Marjinal–Buruh Tani). Video tersebut dijadikan referensi untuk mengunggah video-video selanjutnya dengan mengambil musiknya saja, lalu mengganti visualnya dengan foto-foto aksi atau video aksi.[3][4][5][6]
Pada tahun 1996–97, aparat keamanan Indonesia melakukan tindakan keras terhadap aktivis mahasiswa dan penyelenggara buruh. Lagu “Buruh Tani” lahir pada masa akhir Orde Baru, ketika kebebasan politik sangat dibatasi. Lagu ini ditulis oleh Safi’i Kemamang. Lahir dengan nama Arifin di Lamongan, Jawa Timur, ia berasal dari keluarga petani miskin. Kakek, nenek, ayah, ibu, dan anggota keluarganya yang lain semuanya petani. Nama ayahnya Mustofa, dan nama ibunya Siti Karmiati. Safi’i hanya memiliki satu saudara, yaitu kakak perempuan.[7]
Sejak kecil, Safi’i tertarik pada gerakan politik dan isu-isu global. Keterlibatannya dalam lingkaran aktivis dimulai ketika ia masuk Sekolah Teknik Menengah (STM) Negeri Tuban, Jawa Timur. Ia mengaku menemukan praktik penyalahgunaan dan korupsi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Safi’i bersama teman-temannya di STM kemudian mengadakan demonstrasi untuk memprotes praktik korupsi tersebut, yang dilakukan berulang tiga kali dalam setahun.[8]
Setelah mengalami penderitaan berat dan menghadapi ketidakpastian sebagai petani, Safi’i bersama keluarganya kemudian pindah ke Surabaya. Di sana, sepanjang hidupnya, ia memperhatikan empat kelompok yang menurutnya menjadi korban utama dari semua kebijakan rezim, yaitu pekerja, petani, mahasiswa, dan warga miskin perkotaan.[9][10][11]
Keterlibatan Safi’i dalam aktivitas gerakan meningkat ketika ia bergabung dengan SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) dan PRD (Partai Rakyat Demokratik).[5] Saat bekerja sebagai buruh pabrik di Surabaya, ia ikut dalam serikat pekerja. Safi’i menjadi koordinator lapangan (korlap) untuk aksi buruh yang dijadwalkan pada 8 Mei 1996 setelah musyawarah kolektif.
Enam hari sebelum aksi, pada 2 Juli 1996, ia bertemu dengan para pekerja untuk membahas dan menyepakati protes terhadap kenaikan tajam harga bahan pokok. Selain diskusi, mereka merancang strategi agar demonstrasi berjalan sesuai rencana. Dalam perjalanan pulang dari persiapan aksi mogok pabrik, Safi’i diculik pada malam hari dan dilaporkan menjadi target pembunuhan. Meski mengalami luka parah, ia berhasil melarikan diri.
Setelah insiden tersebut, Safi’i bergabung dengan sektor lokal PRD di Surabaya. Demi keselamatannya, pada 8 Juli ia disarankan melepaskan peran sebagai pemimpin buruh dan beroperasi secara bawah tanah untuk menghindari ancaman lebih lanjut sekaligus melanjutkan perjuangan.[12]