Nahdlatul Ulama adalah organisasi Islam di Indonesia. Jumlah anggotanya melebihi 108 juta pada tahun 2019, menjadikannya organisasi Islam terbesar di dunia. NU juga merupakan badan amal yang mendanai sekolah dan rumah sakit serta mengorganisir komunitas untuk membantu mengurangi kemiskinan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

نهضة العلماء | |
Lambang resmi Nahdlatul Ulama hasil Muktamar ke-33 tahun 2015 | |
| Singkatan | NU |
|---|---|
| Tanggal pendirian | 31 Januari 1926 (1926-01-31) (16 Rajab 1344 H) |
| Pendiri | Muhammad Hasyim Asy'ari |
| Didirikan di | Surabaya, Hindia Belanda |
| Jenis | Organisasi keagamaan |
| Kantor pusat | Jl. Kramat Raya No. 164, Jakarta Pusat, Indonesia |
Wilayah layanan | Indonesia |
Jumlah anggota | 159 juta (2024) |
Rais 'Aam | Miftachul Akhyar |
Katib 'Aam | Akhmad Said Asrori |
Ketua Umum | Yahya Cholil Staquf |
Sekretaris Jenderal | Saifullah Yusuf |
| Afiliasi | Sunni (Islam tradisionalis)[1] |
| Situs web | www |

Nahdlatul Ulama (NU; bahasa Arab: نهضة العلماءcode: ar is deprecated , har. 'Kebangkitan Ulama', pelafalan dalam bahasa Indonesia: [nahˈdatʊl ʊˈlama]) adalah organisasi Islam di Indonesia. Jumlah anggotanya melebihi 108 juta pada tahun 2019,[2] menjadikannya organisasi Islam terbesar di dunia.[3] NU juga merupakan badan amal yang mendanai sekolah dan rumah sakit serta mengorganisir komunitas untuk membantu mengurangi kemiskinan.
NU didirikan pada tahun 1926 oleh para ulama dan pedagang muslim untuk mempertahankan praktik-praktik Islam tradisional (sesuai dengan mazhab Syafi'i) serta kepentingan ekonomi anggotanya.[4] Pandangan agama NU dianggap "tradisionalis" karena menerima tradisi budaya lokal yang tidak bertentangan dengan hukum Islam (berbeda dengan kelompok fundamentalis Islam).[5] Di sisi lain, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, dianggap “reformis” karena mengambil tafsir yang lebih literal terhadap Al-Qur'an dan Sunnah.[5]
Banyak pemimpin Nahdlatul Ulama merupakan pendukung setia Islam Nusantara, sebuah varian Islam yang unik yang telah mengalami interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi sesuai dengan kondisi sosial budaya di Indonesia.[6] Islam Nusantara mengedepankan moderasi, anti-fundamentalisme, pluralisme, dan sejauh tertentu sinkretisme.[7] Namun, beberapa ulama, pemimpin, dan cendekiawan agama NU telah menolak Islam Nusantara dan lebih memilih pendekatan yang lebih konservatif.[8]
Nahdlatul Ulama mengikuti mazhab Asy'ariyah[9], mengambil jalan tengah antara kecenderungan aqli (rasionalis) dan naqli (skripturalis). Organisasi tersebut mengidentifikasi Al-Qur'an, Sunnah, dan kemampuan akal ditambah dengan realitas empiris sebagai sumber pemikirannya. NU mengaitkan pendekatan ini dengan para pemikir sebelumnya, seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari[10] dan Abu Mansur Al-Maturidi[11] di bidang teologi.[12]
Di bidang fikih, NU mengakui empat mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali (berbeda dengan PERTI yang hanya bermazhab Syafi'i) tetapi dalam praktiknya jama'ah NU mayoritas dan cenderung bermazhab Syafi'i. Dalam hal tasawuf[13], NU mengikuti jalan Al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi.[12][14] NU telah digambarkan oleh media barat sebagai gerakan Islam yang progresif, liberal dan pluralistik,[15][16] tetapi merupakan organisasi yang beragam dengan faksi konservatif yang besar juga.[17]
Nahdlatul Ulama telah menyatakan bahwa mereka tidak terikat pada organisasi politik manapun.[18]
Artikel ini masih dalam proses penerjemahan dari artikel Nahdlatul Ulama#History dalam Wikipedia Bahasa Inggris. Untuk mengurangi konflik penyuntingan, dimohon untuk tidak menyunting halaman ini sampai penerjemahan dianggap selesai. Artikel ini terakhir disunting oleh Henri Aja (bicara | kontrib) 23 hari lalu. (Perbarui pewaktu) |
NU didirikan pada tahun 1926 sebagai organisasi ulama Muslim Asy'ari ortodoks,[19] yang bertentangan dengan kebijakan modernis Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis), dan munculnya gerakan Salafi dari organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah[20] di Indonesia yang sama sekali menolak adat istiadat setempat yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu dan Buddha Jawa pra-Islam. Organisasi ini didirikan setelah Komite Hijaz telah memenuhi tugasnya dan akan dibubarkan. Organisasi ini didirikan oleh Hasyim Asy'ari[21], kepala pesantren di Jawa Timur. Organisasi NU berkembang, tetapi basis dukungannya tetap di Jawa Timur. Pada tahun 1928, NU menggunakan bahasa Jawa dalam khotbahnya, di samping bahasa Arab.[22]: 169 [23]: 168 [24]: 233–236
Pada tahun 1937, meskipun hubungan NU dengan organisasi-organisasi Islam Sunni lainnya di Indonesia buruk, organisasi-organisasi tersebut membentuk Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) sebagai forum diskusi. Mereka bergabung dengan sebagian besar organisasi Islam lainnya yang ada pada saat itu. Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia dan pada bulan September diadakan konferensi para pemimpin Islam di Jakarta.[22]: 191, 194 [24]: 233–236
Jepang ingin menggantikan MIAI, tetapi konferensi tidak hanya memutuskan untuk mempertahankan organisasi, tetapi juga memilih tokoh-tokoh politik yang tergabung dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) untuk kepemimpinan, daripada anggota non-politik NU atau Muhammadiyah seperti yang diinginkan penjajah. Lebih dari setahun kemudian, MIAI dibubarkan dan digantikan oleh Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang disponsori Jepang. Hasjim Asy'ari adalah ketua nasional, tetapi dalam praktiknya organisasi baru itu dipimpin oleh putranya, Wahid Hasyim[25]. Tokoh NU dan Muhammadiyah lainnya memegang posisi kepemimpinan.[22]: 191, 194 [24]: 233–236
Pada tahun 1945, Soekarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Selama perang kemerdekaan Indonesia, NU menyatakan bahwa perang melawan pasukan kolonial Belanda adalah jihad/perang suci, wajib bagi semua umat Islam. Di antara kelompok gerilya yang memperjuangkan kemerdekaan adalah Hizbullah dan Sabililah yang dipimpin oleh NU.[24]: 233–236
Nahdlatul Ulama menganut paham Ahlussunah wal Jama'ah[26], yaitu sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara Nash (Al Qur'an dan Hadits) dengan Akal (Ijma' dan Qiyas). Oleh sebab itu sumber hukum Islam bagi warga NU tidak hanya Al Qur'an, dan As Sunnah saja, melainkan juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empiris.[butuh rujukan]
Maka, di dalam persoalan aqidah, NU merujuk kepada Imam Abul Hasan Al Asy'ari, sedangkan dalam persoalan fiqih, NU merujuk kepada Imam Syafi'i[27], dan dalam bidang tashawwuf, NU merujuk kepada Imam Al Ghazali. Namun NU tetap mengakui dan bersikap tasamuh kepada para mujtahid lainnya, seperti dalam bidang aqidah dikenal seorang mujtahid bernama Abu Mansur Al Maturidi, kemudian dalam bidang fiqih terdapat tiga mujtahid besar selain Imam Syafi'i, yakni Imam Abu Hanifah[28], Imam Malik, dan Imam Hanbali, serta dalam bidang tashawwuf dikenal pula Imam Junaid al-Baghdadi.[butuh rujukan]
Adapun gagasan "Kembali ke Khittah NU" pada tahun 1984 merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fiqih maupun sosial, serta merumuskan kembali hubungan NU dengan Negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.[29]
| Muktamar
ke |
Lokasi | Tahun | Rais 'Aam | Ketua Umum |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Surabaya | 1926 | K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari (Rais Akbar) | K.H. Hasan Gipo |
| 2 | 1927 | |||
| 3 | 1928 | |||
| 4 | Semarang | 1929 | K.H. Ahmad Noor | |
| 5 | Pekalongan | 1930 | ||
| 6 | Cirebon | 1931 | ||
| 7 | Bandung | 1932 | ||
| 8 | Jakarta | 1933 | ||
| 9 | Banyuwangi | 1934 | ||
| 10 | Surakarta | 1935 | ||
| 11 | Banjarmasin | 1936 | ||
| 12 | Malang | 1937 | K.H. Mahfudz Siddiq | |
| 13 | Pandeglang | 1938 | ||
| 14 | Magelang | 1939 | ||
| 15 | Surabaya | 1940 | ||
| 16 | Banyumas | 1946 | K.H. Nachrowi Thohir | |
| 17 | Madiun | 1947 | K.H. Abdul Wahab Chasbullah[30] | |
| 18 | Jakarta | 1948 | ||
| 19 | Palembang | 1951 | K.H. Abdul Wahid Hasyim | |
| 20 | Surabaya | 1954 | K.H. Muhammad Dahlan | |
| 21 | Medan | 1956 | K.H. Idham Chalid | |
| 22 | Jakarta | 1959 | ||
| 23 | Surakarta | 1962 | ||
| 24 | Bandung | 1967 | ||
| 25 | Surabaya | 1971 | K.H. Bisri Syansuri | |
| 26 | Semarang | 1979 | ||
| 27 | Situbondo | 1984 | K.H. Ahmad Shidiq | K.H. Abdurrahman Wahid |
| 28 | Bantul | 1989 | ||
| 29 | Tasikmalaya | 1994 | ||
| 30 | Kediri | 1999 | K.H. Sahal Mahfudh | K.H. Hasyim Muzadi |
| 31 | Surakarta | 2004 | ||
| 32 | Makassar | 2010 | K.H. Said Aqil Siroj | |
| 33 | Jombang | 2015 | K.H. Ma'ruf Amin | |
| 34 | Bandar Lampung | 2021 | K.H. Miftachul Akhyar | K.H.Yahya Cholil Staquf |
Struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama terdiri dari tujuh pengurus dari tingkat pusat hingga daerah.
Lembaga adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama sesuai dan berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan yang memerlukan penanganan khusus.[31] Lembaga Nahdlatul Ulama meliputi:
Badan Otonom NU adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan. Badan Otonom dikelompokkan dalam katagori Badan Otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu, dan Badan Otonom berbasis profesi dan kekhususan lainnya.[32] Jenis badan otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu adalah :
Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Soekarno, dan bergabung dalam NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis). Nasionalis diwakili Partai Nasional Indonesia (PNI), Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), dll. Agama diwakili Partai Nahdhatul Ulama, Masyumi, Partai Katolik, Parkindo (Partai Kristen Indonesia), dll. Dan Komunis diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).[33]
NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk 'Kembali ke Khittah 1926' yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi.
Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR.
| Pemilu | Total kursi | Total pemilihan | % | Hasil |
|---|---|---|---|---|
| 1955 | 45 / 257 |
6.955.141 | 18,41% | Partai baru |
| 1971 | 58 / 360 |
10.213.650 | 18,68% |

Sebagian atau keseluruhan dari artikel ini dicurigai telah melanggar hak cipta dari tulisan pihak di luar Wikipedia, dan selanjutnya akan dimasukkan dalam daftar Wikipedia:Artikel bermasalah hak cipta:
Disarankan untuk tidak melakukan perubahan apapun sampai masalah pelanggaran hak cipta di artikel ini diteliti pengguna lain dan diputuskan melalui konsensus
Kecuali kecurigaan hak cipta ini bisa dibuktikan salah dalam waktu paling lambat dua minggu, artikel ini akan dihapus