Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Blokade Berlin

Blokade Berlin adalah salah satu krisis internasional besar pertama pada Perang Dingin. Selama pendudukan multinasional Jerman pasca Perang Dunia II, Uni Soviet memblokir akses kereta api, jalan raya, dan kanal milik Sekutu Barat ke sektor-sektor Berlin yang berada di bawah kendali Barat. Uni Soviet menawarkan untuk mengakhiri blokade jika Sekutu Barat menarik Deutsche Mark yang baru diperkenalkan dari Berlin Barat.

Wikipedia article
Diperbarui 18 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Blokade Berlin
Blokade Berlin
Bagian dari Perang Dingin

Warga Berlin Barat menyaksikan pesawat Douglas C-54 Skymaster mendarat di Bandar Udara Berlin Tempelhof, 1948
TanggalApril 1948 – 12 Mei 1949
LokasiBerlin Barat, Jerman
Hasil

Kemenangan Sekutu Barat

  • Blokade dicabut
  • Berlin Barat tetap berada di bawah kendali Sekutu Barat
Pihak terlibat
 Uni Soviet  Amerika Serikat
 Britania Raya
 Prancis
 Kanada
 Australia
 Selandia Baru
 Afrika Selatan
Tokoh dan pemimpin
Uni Soviet Vasily Sokolovsky Robert A. Lovett
Lucius D. Clay
Sir Brian Robertson
Korban
Tidak ada Dalam kecelakaan pesawat terbang:
39 warga Britania, 31 warga Amerika tewas dan 1 warga Australia tewas
15 warga sipil Jerman tewas
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Berlin
Lambang Kota Berlin
Margraviate Brandenburg (1157–1806)
Kerajaan Prusia (1701–1918)
Kekaisaran Jerman (1871–1918)
Republik Weimar (1919–33)
  • Berlin 1920an
  • Undang-Undang Berlin Besar
Jerman Nazi (1933–45)
  • Welthauptstadt Germania
  • Pengeboman Berlin pada Perang Dunia II
  • Pertempuran Berlin
Jerman Barat dan Jerman Timur (1945–90)
  • Berlin Barat dan Berlin Timur
  • Tembok Berlin
  • Blokade Berlin (1948–49)
  • Krisis Berlin 1961
  • "Ich bin ein Berliner" (1963)
  • "Runtuhkan Tembok Ini" (1987)
  • Kejatuhan Tembok Berlin (1989)
Republik Federal Jerman (1990–sekarang)
  • Sejarah Jerman & Sejarah Eropa
Lihat pula
  • Garis waktu Berlin
  • l
  • b
  • s

Blokade Berlin (24 Juni 1948 – 12 Mei 1949) adalah salah satu krisis internasional besar pertama pada Perang Dingin. Selama pendudukan multinasional Jerman pasca Perang Dunia II, Uni Soviet memblokir akses kereta api, jalan raya, dan kanal milik Sekutu Barat ke sektor-sektor Berlin yang berada di bawah kendali Barat. Uni Soviet menawarkan untuk mengakhiri blokade jika Sekutu Barat menarik Deutsche Mark yang baru diperkenalkan dari Berlin Barat.

Sekutu Barat menyelenggarakan Pengangkutan Udara Berlin (bahasa Jerman: Berliner Luftbrücke, lit. "Jembatan Udara Berlin") dari 26 Juni 1948 hingga 30 September 1949 untuk mengangkut pasokan ke penduduk Berlin Barat, sebuah tugas yang sulit mengingat ukuran kota dan populasinya.[1][2] Angkatan Udara Amerika Serikat dan Britania Raya terbang di atas Berlin lebih dari 250.000 kali, menjatuhkan kebutuhan pokok seperti bahan bakar dan makanan, dengan rencana awal untuk mengangkut 3.475 ton pasokan setiap hari. Pada musim semi 1949, jumlah tersebut seringkali terpenuhi dua kali lipat, dengan total pengiriman harian puncak mencapai 12.941 ton.[3] Di antaranya adalah pekerjaan Operasi Little Vittles yang kemudian dilakukan bersamaan, di mana pesawat-pesawat pengebom permen yang dijuluki "pengebom kismis" mendapatkan banyak simpati dari anak-anak Jerman.[4]

Setelah awalnya menyimpulkan bahwa tidak ada cara pengangkutan udara dapat berhasil, Soviet menemukan keberhasilannya yang berkelanjutan menjadi rasa malu yang semakin besar. Pada 12 Mei 1949, Uni Soviet mencabut blokade Berlin Barat, karena masalah ekonomi di Berlin Timur, meskipun untuk sementara waktu Amerika dan Britania Raya terus memasok kota melalui udara karena mereka khawatir bahwa Soviet akan melanjutkan blokade dan hanya mencoba untuk mengganggu jalur pasokan Barat. Pengangkutan Udara Berlin secara resmi berakhir pada 30 September 1949 setelah lima belas bulan. Angkatan Udara AS telah mengirimkan 1.783.573 ton (76,4% dari total) dan RAF 541.937 ton (23,3% dari total), dengan total 2.334.374 ton, hampir dua pertiganya adalah batu bara, dalam 278.228 penerbangan ke Berlin. Selain itu, awak udara Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan membantu RAF selama blokade.[5]: 338   Prancis juga melakukan penerbangan, tetapi hanya untuk menyediakan pasokan bagi garnisun militer mereka.[6]

Pesawat angkut C-47 dan C-54 Amerika Serikat, secara keseluruhan, terbang lebih dari 148.000.000 km dalam prosesnya, hampir sama dengan jarak Bumi ke Matahari.[7] Pesawat angkut Britania Raya, termasuk Handley Page Haltons dan Short Sunderland, juga terbang. Pada puncak pengangkutan udara, satu pesawat mencapai Berlin Barat setiap tiga puluh detik.[8]

Tujuh belas pesawat Amerika Serikat dan delapan pesawat Britania Raya jatuh selama operasi tersebut.[9] Sebanyak 101 korban jiwa tercatat akibat operasi tersebut, termasuk 40 warga Britania Raya dan 31 warga Amerika Serikat,[10] sebagian besar akibat kecelakaan non-penerbangan.

Blokade Berlin berfungsi untuk menyoroti persaingan visi ideologis dan ekonomi bagi Eropa pascaperang. Blokade ini memainkan peran penting dalam menyelaraskan Berlin Barat dengan Amerika Serikat dan Britania Raya sebagai kekuatan pelindung utama,[11] dan dalam menarik Jerman Barat ke dalam orbit NATO beberapa tahun kemudian pada tahun 1955.

Pembagian kekuasaan pasca perang di Jerman

Warna merah di atas ini merupakan Sektor Soviet di Jerman (Jerman Timur), sementara warna putih kekuningan di sebelah kanan menunjukkan Mantan Wilayah Jerman yang diberikan ke Polandia dan Uni Soviet, dan di sebelah kiri menunjukkan Saarland yang sementara ini diduduki Prancis.

Ketika pertempuran Perang Dunia II yang sengit di Eropa berakhir pada tanggal 8 Mei 1945, pasukan Soviet dan Barat terbentang membelah Jerman kurang lebih sepanjang Sungai Elbe, meski di sana dan sini agak bercabang. Satuan-satuan Tentara Prancis yang dibentuk ulang juga ada di Jerman sebelah barat daya.

Dari tanggal 17 Juli sampai 2 Agustus 1945, pasukan Sekutu yang jaya membahas Perjanjian Potsdam yang akan mengubah nasib Eropa pasca perang. Mereka meminta pembagian Jerman pada empat zona pendudukan sementara (jadi menekankan ulang butir-butir yang telah dibahas pada Konferensi Yalta). Zona-zona ini kurang lebih terletak pada tempat-tempat yang kurang lebih telah diduduki pasukan Sekutu saat ini.[12] Sementara itu, ibu kota Jerman, Berlin, juga dibagi menjadi empat sektor.[12]

Berlin letaknya sekitar 150 kilometer di dalam zona pendudukan Soviet.[12] Zona Soviet memproduksi banyak dari pasokan pangan Jerman, sementara wilayah-wilayah yang diduduki Britania dan Amerika Serikat bahkan sebelum perangpun harus mengimpor pangan.[12] Selain itu, pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin, memerintahkan supaya bagian-bagian besar Jerman diserahkan kepada Polandia dan Uni Soviet. Hal ini diterapkan untuk mengkompensasi Polandia dengan menyerahkan sebagian besar wilayah Jerman yang terletak di sebelah timur Perbatasan Oder-Neisse. Wilayah ini banyak memuat tanah Jerman yang subur-subur. Sementara ini pemerintahan pendudukan Jerman dikoordinasi oleh Dewan Penguasan Empat Kekuatan Sekutu.

Rencana Morgenthau

Kesepakatan yang diambil di Yalta sebagian berdasarkan Rencana Morgenthau yang menekankan bahwa "jenjang industri" Jerman harus berada di bawah 50% daripada kapasitas tahun 1938 untuk menanggulangi militarisasi ulang Jerman pada masa depan. Orang Soviet dan Prancis menyetujui rencana ini, sementara Britania, yang menduduki daerah yang kemungkinannya paling rendah untuk memproduksi pangan, menentang rencana ini.[13]

Gabungan Kepala Staf (Joint Chiefs of Staff atau "JCS") Amerika Serikat direktif 1067 mewujudkan tujuan-tujuan Rencana Morgenthau, tetapi penerapannya terbukti tidak praktis karena hal ini mencegah pendudukan berfungsi secara efektif, tidak sedikit karena kontak pribadi antara warga Jerman dengan orang Amerika Serikat dilarang.[14] Mantan Presiden AS Herbert Hoover, dalam salah satu laporan dari Jerman, berpendapat bahwa kebijakan pendudukan harus diubah. Ia antara lain menyatakan: "Ada sebuah pandangan yang menyesatkan bahwa Jerman Baru yang tertinggal setelah aneksasi dapat diturunkan menjadi 'negara agraria". Hal ini tidak bisa dilaksanakan kecuali kita memusnahkan atau memindahkan 25.000.000 jiwa dari sana.[13]

Zona Soviet dan hak-hak Sekutu untuk mengakses Berlin

Sektor-sektor kota Berlin yang dibagi
Tiga koridor udara yang diizinkan untuk masuk ke Berlin.

Di zona timur, pihak Soviet yang berwenang memaksa supaya Partai Komunis Jerman dan Partai Sosial Demokratis untuk bersatu menjadi Partai Persatuan Sosialis Jerman (SED atau Sozialistische Einheitspartei Deutschlands), sementara mereka menyatakan bahwa partai ini tidak akan memiliki haluan Marxis-Leninis ataupun Soviet. Para pemimpin SED menyatakan untuk "didirikannya sebuah rezim anti-fasis, demokratis dan sebuah republik parlementer yang demokratis" sementara Pemerintahan Militer Soviet menumpas semua aktivitas politik. Mereka memboyong segala macam pabrik, peralatan, ahli tekhnisi, manajer, dan tenaga ahli ke Uni Soviet.

Pada pertemuan bulan Juni 1945, Stalin berkata kepada para pemimpin komunis Jerman bahwa ia mengharapkan bisa secara perlahan-lahan menggerogoti posisi Britania dalam zona pendudukan mereka, dan bahwa Amerika Serikat toh akan mengundurkan diri dalam waktu dua tahun dan tidak akan ada apa-apa lagi yang bisa menghalang-halangi mereka lagi untuk mempersatukan Jerman di bawah naungan kekuasaan komunis di dalam orbit Soviet. Stalin dan pemimpin lainnya berkata kepada delegasi Bulgaria dan Yugoslavia yang berkunjung pada awal 1946 bahwa Jerman sekaligus harus menjadi Soviet dan komunis.

Sebuah faktor lainnya yang turut mendukung Blokade ini ialah bahwa tidak pernah ada sebuah kesepakatan resmi yang menjami akses rel dan jalan darat ke Berlin melalui zona Soviet. Pada akhir perang, para pemimpin Barat percaya terhadap maksud baik Uni Soviet yang memberi mereka hak seperti tersebut yang tak perlu diucapkan.[15] Pada waktu yang sama, Sekutu Barat berasumsi bahwa penolakan Uni Soviet untuk tidak memberi lebih dari satu hubungan rel yang dibatasi dengan sepuluh kereta api per hari, adalah sementara saja. Namun, Uni Soviet kemudian menolak penambahan rute-rute lainnya yang diusulkan.[16]

Lalu Uni Soviet juga hanya memberikan tiga koridor udara saja untuk mengakses Berlin dari Hamburg, Bückeburg, dan Frankfurt.[16] Pada tahun 1946 Uni Soviet berhenti memasok pangan dari zona mereka di Jerman Timur dan pemimpin pasukan Amerika, Jendral Clay, menanggapi hal ini dengan memberhentikan pengiriman peralatan pabrik ke Uni Soviet. Pada gilirannya Uni Soviet menanggapi dengan memulai kampanye hubungan masyarakat menentang kebijakan Amerika dan memulai menghalang-halangi pemerintahan di keempat zona pendudukan.

Fokus menuju Berlin dan Pemilihan Umum tahun 1946

Berlin segera menjadi fokus baik dari usaha AS maupun Uni Soviet untuk menata ulang Eropa sesuai dengan visi mereka. Seperti yang dikatakan oleh Molotov, "Apa yang terjadi terhadap Berlin, terjadi terhadap Jermanl apa yang terjadi terhadap Jerman, terjadi terhadap Eropa."[17] Berlin sangat menderita karena perang. Penduduk pra-perangnya yang sebesar 4,6 juta jiwa, jatuh menjadi 2,8 juta jiwa. Selain itu kota ini hanya bisa memproduksi sekitar 2% dari kebutuhan pangannya.[15] Sekutu Barat tidak diperbolehkan memasuki kota sampai dua bulan setelah Jerman menyerah. Sementara itu penduduk kota harus menghadapi kebrutalan Tentara Merah Uni Soviet.[15]

Setelah diperlakukan secara semena-mena, diusir secara paksa, ditindas secara politik dan terutama karena dahsyatnya musim dingin tahun 1945t-1946, warga Jerman di zona Soviet mulai tidak bersimpati terhadap usaha-usaha meraka.[18] Pemilihan lokal pada pertengahan tahun 1946 menghasilkan suara anti-komunis massal, terutama di sektor Soviet di Berlin.[18] Penduduk Berlin secara luas memilih anggota demokratis untuk duduk dewan kota (dengan mayoritas 86%) - dan dengan tegas menolak para kandidat komunis.

Pemisahan politik

Rencana Marshall

Sama dengan pendapat kepala pendudukan zona Amerika Serikat, Jendral Lucius D. Clay, Dewan Kepala Bersama menyatakan bahwa "pemulihan lengkap industri Jerman, terutama penambangan batubara sekarang sangat penting bagi keamanan Amerika."[19] Pada bulan Januari 1947, Truman mengangkat Jendral George Marshall sebagai Menteri Luar Negeri, dan pada bulan Juli 1947 ia menghapus JCS 1067[20] dan menggantinya dengan JCS 1779, yang mendekritkan bahwa Eropa yang teratur dan sejahtera memerlukan sumbangsih ekonomi dari sebuah negeri Jerman yang stabil dan produktif.[19]

Para pejabat pemerintahan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Uni Soviet Vyacheslav Molotov dan lainnya untuk menekankan perlunya sebuah negara Jerman yang mandiri dan meminta laporan mendetail mengenai pabrik-pabrik, barang-barang dan infrastuktur lainnya yang sebelumnya diboyong oleh Uni Soviet.[21] Setelah bernegosiasi selama enam minggu, Molotov menolak permintaan ini dan negosiasi selanjutnya dibatalkan.[21] Marshall terutama menjadi patah semangatnya setelah bertemu muka dengan Stalin, yang tidak tertarik pada sebuah solusi untuk menanggulangi masalah perekonomian Jerman.[21]

Amerika Serikat lantas menyimpulkan bahwa demi Eropa, sebuah solusi tidak bisa ditunda lebih lama lagi.[21] Pada sebuah pidato yang diadakan pada tanggal 5 Juni 1947, Marshall mengumumkan sebuah program yang luas mengenai bantuan Amerika Serikat kepada semua negara Eropa yang mau berpartisipasi, termasuk Uni Soviet dan negara-negara Eropa timur. Ini sebelumnya akan disebut sebagai Program Pemulihan Eropa, tetapi tidak lama kemudian dikenal luas sebagai Rencana Marshall.[21]

Stalin menentang Rencana Marshall Plan. Dia telah membangun semacam sabuk pelindung negara-negara satelit pada perbatasan baratnya. Negara-negara ini disebut sebagai blok Timur, dan mencakup antara lain Polandia, Hungaria dan Cekoslovakia.[22] Stalin ingin mempertahankan zona negara-negara buffer ini dengan kombinasi Jerman yang lemah di bawah kekuasaan Soviet. Dia berpendapat bahwa bantuan Amerika akan "membeli" dukungan terhadap Amerika Serikat dari Eropa yang baru. Dia menyatakan bahwa "perkara ini merupakan siasat Truman. Ini tidak seperti Lend-Lease - ini situasi yang berbeda. Mereka tidak berminat untuk membantu kami. Apa yang mereka inginkan adalah untuk menyusup ke negara-negara Eropa."[23]

Meski Molotov awalnya tertarik program ini dan menghadiri pertemuan-pertemuan awal, setelah itu ia memerikan hal ini sebagai "imperialisme dolar". Karena takut akan penetrasi politik, budaya dan ekonomi Amerika Serikat, Stalin akhirnya melarang negara-negara blok Timur, yang merupakan anggota persatuan Kominform yang baru terbentuk, untuk menerima bantuan.[21] Di Cekoslovakia, permintaan ini mengakibatkan sebuah kudeta dukungan Uni Soviet pada tahun 1948,[24] kebrutalannya mengejutkan kekuatan Barat lebih dari peristiwa apapun sejauh ini dan sempat menimbulkan ketakutan akan timbulnya sebuah perang baru. Peristiwa ini menyingkirkan sisa-sisa terakhir dari tentangan terhadap Rencana Marshall di Kongres Amerika Serikat.[25]

Gerakan menuju sebuah negara Jerman Barat

Sementara itu, untuk mengkoordinasikan perekonomian zona pendudukan Britania Raya dan Amerika Serikat, zona pendudukan ini digabungkan ke dalam apa yang disebut sebagai wilayah "Bizonia" (untuk kembali bernama Trizona, ketika Prancis kemudian bergabung di dalamnya). Perwakilan dari ketiga pemerintah ini bersama, dengan negara-negara Benelux - Belgia, Belanda dan Luksemburg, bertemu dua kali di London pada paruh pertama tahun 1948 untuk membahas masa depan Jerman. Kedua pertemuan ini tetap maju meskipun Soviet Uni mengancam untuk mengabaikan semua keputusan yang diambil.

Menanggapi pengumuman pertama dari rapat ini, pada akhir Januari 1948, Uni Soviet mulai menghentikan kereta api Britania dan Amerika ke Berlin, untuk memeriksa identitas para penumpang. Sebagaimana diuraikan dalam pengumuman pada tanggal 7 Maret 1948, semua pemerintah hadir untuk menyetujui perpanjangan Rencana Marshall Jerman, menyelesaikan penyatuan ekonomi zona pendudukan barat di Jerman dan telah disepakati pembentukan suatu sistem federal pemerintahan.

Catatan kaki

  1. ↑ Journey Across Berlin (1961). Universal Newsreel. 1957. Diakses tanggal 22 February 2012.
  2. ↑ Air Force Story, The Cold War, 1948–1950 (1953). Universal Newsreel. 1953. Diakses tanggal 22 February 2012.
  3. ↑ The American People: Creating a Nation and a Society. New York: Pearson Longman, 2008. p. 828.
  4. ↑ Smoler, Fredric (April/May 2003). "Where Berlin and America Meet Diarsipkan 28 August 2008 di Wayback Machine." American Heritage. Retrieved 29 July 2010.
  5. ↑ "5 – National Security". South Africa: a country study. Federal Research Division, Library of Congress. 1997. ISBN 0-8444-0796-8.
  6. ↑ Jacques Bariéty (1994). "La France et la crise internationale du blocus de Berlin". Histoire, Économie et Société. 13 (1): 29–44. Diakses tanggal 11 June 2017.
  7. ↑ Berlin Airlift: Logistics, Humanitarian Aid, and Strategic Success Diarsipkan 16 January 2007 di Wayback Machine., Major Gregory C. Tine, Army Logistician
  8. ↑ Turner 1987, hlm. 27
  9. ↑ Tunner 1964, hlm. 218
  10. ↑ Turner 1987, hlm. 27
  11. ↑ Daum, Andreas W. (2000). "America's Berlin, 1945‒2000: Between Myths and Visions". Dalam Trommler, Frank (ed.). Berlin: The New Capital in the East (PDF). The American Institute for Contemporary German Studies, Johns Hopkins University. hlm. 49–73. Diakses tanggal 2 March 2021.
  12. 1 2 3 4 Miller 2000, hlm. 4
  13. 1 2 Reinert, Erik, Jomo KS The Marshall Plan at 60: The General's Successful War On Poverty, UN Chronicle (diakses 2008-05-20)
  14. ↑ Miller 2000, hlm. 8
  15. 1 2 3 Miller 2000, hlm. 6
  16. 1 2 Miller 2000, hlm. 7
  17. ↑ Airbridge to Berlin, "Background on Conflict" chapter
  18. 1 2 Miller 2000, hlm. 13-145
  19. 1 2 Beschloss 2003, hlm. 277
  20. ↑ Directive to Commander-in-Chief of United States Forces of Occupation Regarding the Military Government of Germany; April 1945
  21. 1 2 3 4 5 6 Miller 2000, hlm. 16
  22. ↑ Miller 2000, hlm. 10
  23. ↑ Why Stalin Rejected Marshall Aid
  24. ↑ Airbridge to Berlin, "Eye of the Storm" chapter
  25. ↑ Miller 2000, hlm. 19

Referensi

  • Beschloss, Michael R (2003), The Conquerors: Roosevelt, Truman and the Destruction of Hitler's Germany, 1941-1945, Simon and Schuster, ISBN 0743260856
  • Canwell, Diane (2008), Berlin Airlift, the, Gretna: Pelican Publishing, ISBN 9781589805507
  • Cherny, Andrei (2008), The Candy Bombers: The Untold Story of the Berlin Airlift and America's Finest Hour, New York: G.P. Putnam's Sons, ISBN 9780399154966
  • De Vos, Luc (2006), Het Belgisch buitenlands beleid: Geschiedenis en actoren (dalam bahasa Dutch), Acco, ISBN 90-334-5973-6 Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Eglin, Roger; Ritchie, Berry (1980), Fly me, I'm Freddie, London, UK: Weidenfeld and Nicolson, ISBN 0-2977-7746-7
  • Giangreco, D. M. (1988), Airbridge to Berlin : The Berlin Crisis of 1948, Its Origins and Aftermath, Presidio Press, ISBN 0-89141-329-4, diarsipkan dari asli tanggal 2002-03-06, diakses tanggal 2010-04-22 ;
  • Launius, Roger D. (1989), MAC and the Legacy of the Berlin Airlift, Scott Air Force Base IL: Office of History, Military Airlift Command, OCLC 21306003 Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  • Lewkowicz, N (2008), The German Question and the Origins of the Cold War, Milan: IPOC, ISBN 9788895145273
  • Miller, Roger Gene (1998), To Save a City: The Berlin Airlift, 1948-1949 (PDF), US Government printing office, 1998-433-155/92107, diarsipkan dari asli (pdf) tanggal 2011-06-15, diakses tanggal 2010-04-22
  • Miller, Roger Gene (2000), To Save a City: The Berlin Airlift, 1948-1949, Texas A&M University Press, ISBN 0890969671
  • Nash, Gary B.; Jeffrey, Julie Roy; Howe, John R.; Frederick, Peter J. (2007), The American People Creating a Nation and a Society (Edisi 6th), New York: Longman, ISBN 9780205568437
  • Tunner, LTG (USAF) WIlliam H. (1964, 1998), Over the Hump, Duell, Sloan and Pearce (USAF History and Museums Program) Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
  • Turner, Henry Ashby (1987), The Two Germanies Since 1945: East and West, Yale University Press, ISBN 0300038658
  • Wettig, Gerhard (2008), Stalin and the Cold War in Europe, Rowman & Littlefield, ISBN 0742555429
  • l
  • b
  • s
Perang Dingin
  • Amerika Serikat
  • Uni Soviet
  • ANZUS
  • NATO
  • Gerakan Non-Blok
  • SEATO
  • Pakta Warsawa
  • Perang Dingin II
1940-an
  • Rencana Morgenthau
  • Pemberontakan Hukbalahap
  • Konflik Jamaika
  • Dekemvriana
  • Perjanjian persentase
  • Konferensi Yalta
  • Perang Gerilya di Negara Baltik
    • Saudara Hutan
    • Operasi Priboi
    • Operasi Rimba
    • Pendudukan negara-negara Baltik
  • Prajurit terkutuk
  • Operasi Unthinkable
  • Operasi Downfall
  • Konferensi Potsdam
  • Skandal Gouzenko
  • Pembagian Korea
  • Operasi Masterdom
  • Operasi Beleaguer
  • Operasi Blacklist Forty
  • Krisis Iran 1946
  • Perang Saudara Yunani
  • Insiden Selat Corfu
  • Krisis Selat Turki
  • Pernyataan Kembali Kebijakan Terhadap Jerman
  • Perang Indocina Pertama
  • Doktrin Truman
  • Konferensi Hubungan Asia
  • Krisis Mei 1947
  • Rencana Marshall
  • Comecon
  • Kudeta Cekoslowakia 1948
  • Pemberontakan Al-Wathbah
  • Perang Palestina 1947–1949
    • Perang Saudara di Mandat Britania atas Palestina 1947–1948
    • Perang Arab-Israel 1948
    • Eksodus Palestina 1948
  • Perpecahan Tito–Stalin
  • Blokade Berlin
  • Pengkhianatan Barat
  • Tirai Besi
  • Blok Timur
  • Blok Barat
  • Perang Saudara Tiongkok (kedua)
  • Kedaruratan Malaya
  • Subversi Albania
1950-an
  • Konflik Papua
  • Tirai Bambu
  • Perang Korea
  • McCarthyisme
  • Perang Aljazair
  • Revolusi Mesir 1952
  • Kudeta Iran 1953
  • Pemberontakan Jerman Timur 1953
  • Amandemen Bricker
  • Kudeta Guatemala 1954
  • Pembagian Vietnam
  • Perang Jebel Akhdar
  • Perang Vietnam
  • Krisis Selat Taiwan Pertama
  • Kedaruratan Siprus
  • Konferensi Tingkat Tinggi Jenewa (1955)
  • Konferensi Bandung
  • Unjuk rasa Poznań 1956
  • Revolusi Hungaria 1956
  • Kekerasan klan Yaman–Aden
  • Krisis Suez
  • "We will bury you"
  • Perang Ifni
  • Operasi Gladio
  • Perang Dingin Arab
  • Krisis Suriah 1957
    • Krisis Lebanon 1958
    • Revolusi Juli Irak
  • Krisis Sputnik
  • Krisis Selat Taiwan Kedua
  • Pemberontakan Tibet 1959
  • Pemberontakan Mosul 1959
  • Perdebatan Dapur
  • Perpecahan Tiongkok-Soviet
1960-an
  • Krisis Kongo
  • Pemberontakan Simba
  • Insiden U-2 1960
  • Invasi Teluk Babi
  • Kudeta Turki 1960
  • Perpecahan Soviet–Albania
  • Konflik Irak–Kurdi
    • Perang Irak–Kurdi Pertama
  • Krisis Berlin 1961
  • Tembok Berlin
  • Perang Kotor (Meksiko)
  • Perang Kolonial Portugal
    • Perang Kemerdekaan Angola
    • Perang Kemerdekaan Guinea-Bissau
    • Perang Kemerdekaan Mozambik
  • Krisis Rudal Kuba
  • Perang Tiongkok-India
  • Pemberontakan Komunis di Sarawak
  • Revolusi Ramadan Irak
  • Perang Kemerdekaan Eritrea
  • Perang Pasir
  • Perang Saudara Yaman Utara
  • Kudeta Suriah 1963
  • Kebuntuan Israel-Amerika Serikat
  • Pembunuhan John F. Kennedy
  • Kedaruratan Aden
  • Krisis Siprus 1963–1964
  • Perang Vietnam
  • Perang Shifta
  • Perang Saudara Guatemala
  • Konflik Kolombia
  • Kudeta Brasil 1964
  • Perang Saudara Dominika
  • Perang Semak Rhodesia
  • Perang Perbatasan Afrika Selatan
  • Transisi ke Orde Baru
  • Teori domino
  • Deklarasi ASEAN
  • Perang Saudara Laos
  • Kudeta Suriah 1966
  • Revolusi Argentina
  • Konflik Zona Demiliterisasi Korea
  • Junta militer Yunani 1967–1974
  • Tahun-Tahun Timbel (Italia)
  • Insiden USS Pueblo
  • Perang Enam Hari
  • Perang Atrisi
  • Pemberontakan Dhofar
  • Perang Al-Wadiah
  • Perang Saudara Nigeria
  • Protes 1968
  • Mei Prancis
  • Pembantaian Tlatelolco
  • Revolusi Kebudayaan
  • Musim Semi Praha
  • Krisis politik Polandia 1968
  • Pemberontakan Komunis di Malaysia
  • Invasi Cekoslowakia
  • Revolusi Ba'athis Irak
  • Kudeta Libya 1969
  • Perang Sepak Bola
  • Komunisme Goulash
  • Konflik perbatasan Tiongkok-Soviet
  • Pemberontakan Komunis di Filipina
  • Tindakan Perbaikan
1970-an
  • Détente
  • Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir
  • September Hitam di Yordania
  • Gerakan Perbaikan (Suriah)
  • Konflik Sahara Barat
  • Revolusi Nikaragua
  • Perang Saudara Kamboja
  • Perang Vietnam
  • Kerusuhan Koza
  • Realpolitik
  • Diplomasi ping-pong
  • Revolusi Perbaikan (Mesir)
  • Memorandum militer Turki 1971
  • Kudeta Sudan 1971
  • Perjanjian Empat Negara di Berlin
  • Perang Pembebasan Bangladesh
  • Kunjungan Nixon ke Tiongkok 1972
  • Konflik perbatasan Yaman Utara-Yaman Selatan 1972
  • Perang Yaman 1972
  • Pemberontakan Komunis di Bangladesh
  • Perang Saudara Eritrea
  • Kudeta Uruguay 1973
  • Kudeta Chili 1973
  • Perang Yom Kippur
  • Krisis minyak 1973
  • Revolusi Anyelir
  • Transisi Spanyol
  • Metapolitefsi
  • Perundingan pembatasan senjata strategis
  • Perang Irak-Kurdi Kedua
  • Invasi Turki ke Siprus
  • Perang Saudara Angola
  • Perang Saudara Mozambik
  • Konflik Oromo
  • Perang Ogaden
  • Perang Sahara Barat
  • Perang Saudara Etiopia
  • Perang Saudara Lebanon
  • Perpecahan Tiongkok-Albania
  • Perang Kamboja–Vietnam
  • Revolusi Iran
  • Operasi Condor
  • Perang Kotor (Argentina)
  • Kudeta Argentina 1976
  • Perang Libya–Mesir
  • Musim Gugur Jerman
  • Korean Air Lines Penerbangan 902
  • Perang Uganda–Tanzania
  • Pemberontakan NDF
  • Konflik Chad–Libya
  • Perang Yaman 1979
  • Pendudukan Masjidil Haram
  • Revolusi Iran
  • Revolusi Saur
  • Perang Tiongkok-Vietnam
  • Gerakan New Jewel
  • Pemberontakan Herat 1979
  • Tujuh Hari ke Sungai Rhine
  • Perjuangan melawan penyalahgunaan politik psikiatri di Uni Soviet
1980-an
  • Perang Soviet-Afganistan
  • Pemboikotan Olimpiade Musim Panas 1980 dan 1984
  • Konflik Peru
  • Kudeta Turki 1980
  • Insiden Teluk Sidra
  • Konflik Casamance
  • Perang Semak Uganda
  • Pemberontakan Pasukan Perlawanan Tuhan
  • Perang Saudara Eritrea
  • Perang Perbatasan Etiopia–Somalia 1982
  • Perang Ndogboyosoi
  • Invasi Amerika Serikat ke Grenada
  • Able Archer 83
  • Star Wars
  • Perang Iran–Irak
  • Pemberontakan Somalia
  • Insiden Laut Hitam 1986
  • Perang Saudara Yaman Selatan
  • Perang Toyota
  • Insiden penyerempetan Laut Hitam 1988
  • Perang Saudara Bougainville
  • Pemberontakan 8888
  • Solidaritas
    • Reaksi Soviet
  • Contras
  • Krisis Amerika Tengah
  • RYAN
  • Korean Air Lines Penerbangan 007
  • Revolusi Kekuatan Rakyat
  • Glasnost
  • Perestroika
  • Perang Nagorno-Karabakh
  • Perang Saudara Afganistan
  • Invasi Amerika Serikat ke Panama
  • Pemogokan Polandia 1988
  • Unjuk rasa Tiananmen 1989
  • Revolusi 1989
  • Keruntuhan Tembok Berlin
  • Kejatuhan perbatasan Jerman dalam
  • Revolusi Velvet
  • Revolusi Rumania 1989
  • Revolusi Damai
1990-an
  • Revolusi Mongolia 1990
  • Perang Teluk
  • Penyatuan kembali Jerman
  • Penyatuan Yaman
  • Kejatuhan komunisme di Albania
  • Pembubaran Yugoslavia
  • Pembubaran Uni Soviet
  • Pembubaran Cekoslowakia
Konflik beku
  • Abkhazia
  • Tiongkok
  • Korea
  • Puerto Riko
  • Kosovo
  • Nagorno-Karabakh
  • Ossetia Selatan
  • Transnistria
  • Sengketa perbatasan Tiongkok-India
  • Sengketa Borneo Utara
Kebijakan luar negeri
  • Doktrin Truman
  • Pembendungan
  • Doktrin Eisenhower
  • Teori domino
  • Doktrin Hallstein
  • Doktrin Kennedy
  • Koeksistensi damai
  • Ostpolitik
  • Doktrin Johnson
  • Doktrin Brezhnev
  • Doktrin Nixon
  • Doktrin Ulbricht
  • Doktrin Carter
  • Doktrin Reagan
  • Dorong balik
  • Kedaulatan Puerto Riko pada Perang Dingin
Ideologi
Kapitalisme
  • Liberalisme
  • Mazhab Chicago
  • Keynesianisme
  • Monetarisme
  • Ekonomi neoklasik
  • Reaganomics
  • Ekonomi sisi penawaran
  • Thatcherisme
Komunisme
  • Sosialisme
  • Marxisme–Leninisme
  • Castroisme
  • Eurokomunisme
  • Guevarisme
  • Hoxhaisme
  • Juche
  • Maoisme
  • Naxalisme
  • Stalinisme
  • Titoisme
Lainnya
  • Imperialisme
  • Anti-imperialisme
  • Nasionalisme
  • Ultranasionalisme
  • Chauvinisme
  • Nasionalisme etnis
  • Rasisme
  • Zionisme
  • Fasisme
  • Neo-Nazisme
  • Islamisme
  • Totaliterisme
  • Otoritarianisme
  • Autokrasi
  • Demokrasi liberal
  • Demokrasi iliberal
  • Demokrasi terpimpin
  • Demokrasi sosial
  • Third-Worldisme
  • Supremasi kulit putih
  • Nasionalisme kulit putih
  • Separatisme kulit putih
  • Apartheid
Organisasi
  • NATO
  • Pakta Warsawa
  • Komunitas Andes
  • ASEAN
  • CIA
  • Comecon
  • EEC
  • KGB
  • MI6
  • Gerakan Non-Blok
  • SAARC
  • Safari Club
  • Stasi
Propaganda
  • Tindakan aktif
  • Amerika
  • Pembasmian untuk Kebebasan
  • Izvestia
  • Pravda
  • Radio Free Europe/Radio Liberty
  • Ketakutan Merah
  • Soviet Life
  • TASS
  • Voice of America
  • Voice of Russia
Perlombaan
  • Perlombaan senjata
  • Perlombaan senjata nuklir
  • Perlombaan Antariksa
Sejarawan
  • Gar Alperovitz
  • Thomas A. Bailey
  • Michael Beschloss
  • Archie Brown
  • Warren H. Carroll
  • Adrian Cioroianu
  • John Costello
  • Michael Cox
  • Nicholas J. Cull
  • Willem Drees
  • Robert D. English
  • Herbert Feis
  • Robert Hugh Ferrell
  • André Fontaine
  • Anneli Ute Gabanyi
  • John Lewis Gaddis
  • Lloyd Gardner
  • Timothy Garton Ash
  • Gabriel Gorodetsky
  • Fred Halliday
  • Jussi Hanhimäki
  • John Earl Haynes
  • Patrick J. Hearden
  • Tvrtko Jakovina
  • Tony Judt
  • Harvey Klehr
  • Gabriel Kolko
  • Walter LaFeber
  • Walter Laqueur
  • Melvyn Leffler
  • Geir Lundestad
  • Mary Elise Sarotte
  • Vojtech Mastny
  • Jack F. Matlock Jr.
  • Thomas J. McCormick
  • Timothy Naftali
  • Marius Oprea
  • David S. Painter
  • William B. Pickett
  • Ronald E. Powaski
  • Yakov M. Rabkin
  • Arthur M. Schlesinger Jr.
  • Ellen Schrecker
  • Giles Scott-Smith
  • Shen Zhihua
  • Athan Theoharis
  • Andrew Thorpe
  • Vladimir Tismăneanu
  • Patrick Vaughan
  • Alex von Tunzelmann
  • Odd Arne Westad
  • William Appleman Williams
  • Jonathan Reed Winkler
  • Rudolph Winnacker
  • Ken Young
Lihat pula
  • Intervensi Sekutu dalam Perang Saudara Rusia
  • Daftar agen Blok Timur di Amerika Serikat
  • Spionase Soviet di AS
  • Hubungan Amerika Serikat dengan Uni Soviet
  • Konferensi AS–Soviet
  • Spionase Rusia di AS
  • Spionase Amerika di Uni Soviet dan Federasi Rusia
  • Hubungan NATO dengan Rusia
  • Brinkmanship
  • CIA dan Perang Dingin Kebudayaan
  • Perang Dingin II
  • Revolusi Rusia
  • Kategori
  • Commons
  • Garis waktu
  • Daftar konflik
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Republik Ceko
  • Israel
Lain-lain
  • NARA
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pembagian kekuasaan pasca perang di Jerman
  2. Rencana Morgenthau
  3. Zona Soviet dan hak-hak Sekutu untuk mengakses Berlin
  4. Fokus menuju Berlin dan Pemilihan Umum tahun 1946
  5. Pemisahan politik
  6. Rencana Marshall
  7. Gerakan menuju sebuah negara Jerman Barat
  8. Catatan kaki
  9. Referensi

Artikel Terkait

Tembok Berlin

tembok pembatas yang dibangun oleh Republik Demokratik Jerman, yang mengelilingi Berlin Barat

Pertempuran Berlin

Pertempuran besar terakhir dari Teater Eropa Perang Dunia 2

Blokade Jerman (1939–1945)

Blokade Jerman (1939–1945), juga dikenal dengan sebutan Perang Ekonomi, terjadi saat Perang Dunia II oleh Britania Raya dan Prancis dalam rangka mencabut

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026