Prof. Dr. H. Muladi, S.H. adalah seorang akademisi, hakim, dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Diponegoro, Menteri Kehakiman dan Menteri Sekretaris Negara pada pemerintahan Presiden Soeharto dan B.J. Habibie, dan Hakim Mahkamah Agung. Dari tahun 2005 hingga 2011, ia menjabat sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Muladi | |
|---|---|
| Gubernur Lemhannas ke-14 | |
| Masa jabatan 30 Agustus 2005 – 17 Februari 2011 | |
| Presiden | Susilo Bambang Yudhoyono |
| Sekretaris Kabinet Indonesia ke-10 | |
| Masa jabatan 10 Mei 1999 – 20 Oktober 1999 | |
| Presiden | B. J. Habibie |
| Menteri Kehakiman Indonesia ke-21 | |
| Masa jabatan 16 Maret 1998 – 20 Oktober 1999 | |
| Presiden | Soeharto B. J. Habibie |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1943-05-26)26 Mei 1943 Surakarta Kochi, Wilayah Kolonial Jepang |
| Meninggal | 31 Desember 2020(2020-12-31) (umur 77) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta |
| Sebab kematian | COVID-19 |
| Partai politik | Partai Golongan Karya |
| Suami/istri | Hj. Nany Ratna Asmara, S.H. |
| Anak | 4 |
| Almamater | |
Prof. Dr. H. Muladi, S.H. (26 Mei 1943 – 31 Desember 2020) adalah seorang akademisi, hakim, dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Diponegoro, Menteri Kehakiman dan Menteri Sekretaris Negara pada pemerintahan Presiden Soeharto dan B.J. Habibie (1998 – 99),[1] dan Hakim Mahkamah Agung (2000 – 01). Dari tahun 2005 hingga 2011, ia menjabat sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional.[2][3]
Muladi lahir di Solo, 26 Mei 1943, sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Dasijo Darmo Soewito dan Sartini.[4] Ayahnya yang asli Jawa Timur bekerja sebagai reserse polisi. Karena Orang tuanya yang pindah tugas sehingga membawanya tinggal di Semarang. Muladi kecil dikenal nakal. Karena kenakalannya itu, Muladi dua kali tidak lulus sekolah, yaitu ketika SD dan SMP.[5]
Meski tidak lulus SMP, Muladi tetap bisa melanjutkan sekolah ke sebuah SMA swasta yaitu SMA Institut Indonesia. Ia kemudian diterima di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang.[5] Ia memilih untuk kuliah di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (saat ini disebut dengan nama Fakultas Hukum).[6]
Semasih mahasiswa, Muladi aktif sebagai Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), tahun 1963 – 1968. Ia juga pernah menjadi Komandan Batalyon IV, Resimen Mahasiswa Semarang (1964 – 1967). Selain itu, sambil kuliah, dia bekerja sebagai karyawan OPS Minyak dan Gas Bumi, Jawa Tengah (1966 – 1969).[3]
Dalam hal olahraga, Muladi muda menyukai karate dan judo. Pemegang sabuk hitam ini bahkan menjadi atlet judo nasional.[4]
Sebelum aktif di dunia politik, ia berkarier di Universitas Diponegoro sebagai dosen. Ia datang ke Jakarta ketika menjadi anggota MPR–RI pada tahun 1997. Setelah itu, Ia dan keluarganya tinggal di Jakarta.
Muladi meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta pada pukul 06.45 WIB, 31 Desember 2020.[7]
Pada usia 21 tahun, Muladi menikahi adik kelasnya, Nany Ratna Asmara, tepatnya pada tanggal 22 Maret 1964. Pernikahannya tersebut membuahkan empat orang putri, yaitu Rina Irawanti, Diah Sulistyani, Aida Fitriani, dan Erlina Kumala Esti. Dua anak pertama dan anak bungsunya mengikuti jejak Muladi mendalami bidang hukum. Putri keduanya, Diah Sulistyani, mengikuti jejaknya menjadi seorang akademisi.[5]
Sosok Muladi cukup menggetarkan hati. Hal ini terlihat dari tinggi tubuhnya mencapai 1,80 m dan berat lebih dari satu kuintal. Gaya bicaranya keras menggelegar, terutama saat marah. Tetapi, ia sesungguhnya berhati lembut serta tidak tahan melihat ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia.[5]
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Oetojo Oesman |
Menteri Kehakiman 1998–1999 |
Diteruskan oleh: Yusril Ihza Mahendra |
| Jabatan pemerintahan | ||
| Didahului oleh: Ermaya Suradinata |
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional 2005–2011 |
Diteruskan oleh: Budi Susilo Soepandji |