Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiNawaksara
Artikel Wikipedia

Nawaksara

Nawaksara adalah sebuah judul pidato yang dilakukan Presiden Soekarno pada tanggal 22 Juni 1966 dalam Sidang Umum ke-IV MPRS.

Pidato 22 Juni 1966 oleh Sukarno di Sidang umum MPRS yang ke-IV
Diperbarui 17 September 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nawaksara adalah sebuah judul pidato yang dilakukan Presiden Soekarno pada tanggal 22 Juni 1966 dalam Sidang Umum ke-IV MPRS.

Pidato ini disampaikan oleh Presiden Soekarno sebagai pertanggungjawaban atas sikapnya dalam menghadapi Gerakan 30 September.[butuh rujukan] Soekarno sendiri menolak menyebut gerakan itu dengan nama tersebut. Menurutnya Gerakan itu terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari, dan karena itu ia menyebutnya sebagai Gestok (Gerakan 1 Oktober).

Pidato pertanggungjawaban Soekarno ini ditolak oleh MPRS,[butuh rujukan] dan sebaliknya MPRS memutuskan untuk memberhentikannya dari jabatannya sebagai presiden seumur hidup, dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai penggantinya.

Isi

Nawaksara berasal dari dua kata, yaitu nawa yang berarti sembilan dan aksara yang berarti huruf atau sukukata. Oleh Soekarno, pidatonya diberi nama Nawaksara karena terdapat sembilan hal yang dibahas di dalamnya. Berikut ini sembilan isi dari pidato Nawaksara.

  1. Retrospeksi: Pada bagian Retrospeksi, Soekarno hanya mengingatkan kembali mengenai amanat yang sebelumnya pernah disampaikan dalam Sidang Umum ke-II MPRS tanggal 15 Mei 1963, berjudul "Ambeg Parama-arta". Dalam Retrospeksi, Soekarno kembali menyinggung tentang pengertian pemimpin besar revolusi, pengertian Mandataris MPRS, dan pengertian presiden seumur hidup.
  2. Landasan-Kerja Melanjutkan Pembangunan: Lanjutan dari amanat "Ambeg Parama-arta" adalah amanat "Berdikari", yang pernah disampaikan Soekarno dalam Sidang Umum MPRS ke-III tanggal 11 April 1965. Soekarno menegaskan tiga hal, yaitu trisakti, rencana ekonomi perjuangan, dan pengertian berdikari.
  3. Hubungan Politik dan Ekonomi: Pada bagian ini, Soekarno kembali mengingatkan mengenai masalah ekonomi, keuangan, dan pembangunan (Ekubang) yang tidak bisa dipisahkan dari masalah politik. Justru masalah Ekubang harus didasari dengan manifesto politik buatan Soekarno.
  4. Detail ke DPR: Soekarno mengatakan bahwa detail dari tugas DPR tidak perlu dibahas dalam Sidang Umum MPRS. Sudah seharusnya semua ditentukan pemerintah bersama-sama dengan DPR, dalam rangka memurnikan pelaksanaan UUD 1945.
  5. Tetap Demokrasi Terpimpin: Soekarno mengingatkan, bahwa UUD 1945 memungkinkan Mandataris MPRS untuk secara lekas dan tepat bertindak dalam keadaan darurat demi keselamatan negara, rakyat, dan revolusi. Sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959, revolusi juga terus mengalami peningkatan yang kemudian mengharuskan semua lembaga-lembaga demokrasi bergerak lebih cepat tanpa menyelewengkan Demokrasi Terpimpin ke arah Demokrasi Liberal.
  6. Merintis Jalan ke Arah Pemurnian Pelaksanaan UUD 1945: Soekarno menjelaskan kembali tentang rencana pemurnian UUD 1945.
  7. Wewenang MPR dan MPRS: Soekarno berharap bahwa dalam rangka pemurnian UUD 1945, MPRS tidak melupakan tugas dan fungsi mereka.
  8. Kedudukan Presiden dan Wakil Presiden: Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa pemilihan jabatan presiden dan wakil presiden, masa jabatan, dan isi sumpahnya, memiliki tujuan agar terjaminnya kesatuan pandangan, kesatuan pendapat, kesatuan pikiran, dan kesatuan tindakan.
  9. Penutup: Pada bagian penutup, Soekarno lebih menjelaskan tentang asal-usul penamaan pidatonya, Nawaksara.

Adapun di dalam pidatonya tidak disinggung perihal Gestok ataupun Pembantaian di Indonesia 1965–1966.

Pranala luar

  • Wikisource logo Karya yang berkaitan dengan Nawaksara di Wikisource
  • (Indonesia) Naskah pidato di situs web Tempo Diarsipkan 2013-07-08 di Wayback Machine.
  • (Indonesia) Naskah pidato di situs web resmi PDI Perjuangan Jawa Timur Diarsipkan 2011-12-30 di Wayback Machine.
  • l
  • b
  • s
Pergolakan politik Indonesia 1965
Pihak terlibat
  • Blok Barat
    • Dokumen Gilchrist
  • Dewan Jenderal
  • Dewan Revolusi Indonesia
    • Resimen Tjakrabirawa
    • Untung Syamsuri
  • Partai Komunis Indonesia
    • Angkatan Kelima
    • D.N. Aidit
  • Presiden Indonesia
    • Soekarno
  • Tentara Nasional Indonesia
    • A.H. Nasution
    • Soeharto
Peristiwa utama
  • Gerakan 30 September
  • Tritura
  • Surat Perintah Sebelas Maret
Peristiwa lanjutan
  • Pembantaian di Indonesia 1965–1966
  • Orde Baru
Artikel terkait
  • Cornell Paper
  • Daftar tokoh yang meninggal dalam pembersihan antikomunis Indonesia
  • Nawaksara
  • Hari Kesaktian Pancasila
Media populer
  • Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI
  • Jagal
  • 40 Years of Silence: Sebuah Tragedi Indonesia
  • Senyap


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Isi
  2. Pranala luar

Artikel Terkait

Abdul Haris Nasution

Perwira AD dan politikus Indonesia (1918–2000)

Soekarno

Presiden Indonesia ke-1 (1945–1967)

Orde Baru

Periode sejarah Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Soeharto (1965-1998)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026