Mahāparinibbāna Sutta adalah diskursus (sutta) ke-16 dalam Dīgha Nikāya, sebuah kumpulan yang merupakan bagian dari Sutta Piṭaka dalam Tripitaka versi aliran Theravāda. Teks ini membahas akhir hidup Buddha Gautama (parinibbāna-Nya) dan merupakan sutta terpanjang dari Kanon Pāli. Oleh karena rincinya penjelasan tersebut, teks ini digunakan sebagai sumber rujukan utama dalam kebanyakan catatan standar tentang wafatnya Sang Buddha.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Mahāparinibbāna Sutta Wafat Agung Hari-hari Terakhir Sang Buddha | |
|---|---|
| Jenis | Teks kanonis |
| Induk | Dīghanikāya |
| Singkatan | DN 16 |
| Bagian dari seri |
| Tipiṭaka |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Mahāparinibbāna Sutta adalah diskursus (sutta) ke-16 dalam Dīgha Nikāya, sebuah kumpulan yang merupakan bagian dari Sutta Piṭaka dalam Tripitaka versi aliran Theravāda. Teks ini membahas akhir hidup Buddha Gautama (parinibbāna-Nya) dan merupakan sutta terpanjang dari Kanon Pāli. Oleh karena rincinya penjelasan tersebut, teks ini digunakan sebagai sumber rujukan utama dalam kebanyakan catatan standar tentang wafatnya Sang Buddha.[1][2][3]
Sutta ini dimulai dengan cerita saat beberapa hari sebelum masa vassa, ketika Vassakara, seorang menteri, mengunjungi Buddha di Rajgir atas inisiatif Ajātasattu, raja dari dinasti Haryanka di Magadha. Narasi ini berlanjut setelah tiga bulan masa vassa di mana Sang Buddha mengunjungi beberapa tempat sampai dengan wafat-Nya, kremasi-Nya, serta pembagian relik-Nya, yang akhirnya berakhir dengan pendirian delapan cetiya atau monumen yang menyimpan relik Buddha.[4] Hal ini memperlihatkan adat istiadat pemakaman Buddha berdasarkan budaya India.[5]
Teks Pali
Terjemahan
Esai