Dalam Buddhisme Theravāda, pariyatti, paṭipatti, paṭivedha adalah konsep pembelajaran yang terdiri dari tiga tahapan yang berpuncak pada pemahaman penuh terhadap ajaran Buddha. Pariyatti mengacu pada studi atau kajian teoretis ajaran Buddha sebagaimana yang tercantum dalam Tripitaka Pali, kitab-kitab komentar, dan kitab-kitab subkomentar; paṭipatti berarti mempraktikkan teori tersebut; dan paṭivedha berarti menembus teori atau lebih tepatnya menyadari Empat Kebenaran Mulia dengan pengalaman langsung. Secara tradisional, pariyatti berfungsi sebagai fondasi paṭipatti, dan paṭipatti berfungsi sebagai fondasi paṭivedha.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam Buddhisme Theravāda, pariyatti, paṭipatti, paṭivedha (Pali untuk "Teori, praktik, penembusan") adalah konsep pembelajaran yang terdiri dari tiga tahapan yang berpuncak pada pemahaman penuh terhadap ajaran Buddha. Pariyatti mengacu pada studi atau kajian teoretis ajaran Buddha sebagaimana yang tercantum dalam Tripitaka Pali, kitab-kitab komentar, dan kitab-kitab subkomentar; paṭipatti berarti mempraktikkan teori tersebut; dan paṭivedha berarti menembus teori atau lebih tepatnya menyadari Empat Kebenaran Mulia dengan pengalaman langsung. Secara tradisional, pariyatti berfungsi sebagai fondasi paṭipatti, dan paṭipatti berfungsi sebagai fondasi paṭivedha.
Dhamma (ajaran Buddha) memiliki tiga sisi atau tiga aspek yang mempunyai kesatuan yang sangat erat, yakni pariyatti (Tripitaka Pali), paṭipatti (latihan untuk mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu sīla, samādhi, dan paññā), dan paṭivedha (penembusan Empat Kebenaran Mulia dengan pencapaian empat tingkat kemuliaan). Kitab komentar dari Sampasādanīya Sutta (DN 28) menjelaskan hubungan ketiganya sebagai berikut:[1]
Yang disebut dengan pariyatti adalah (belajar dan memahami) Tipiṭaka. Yang dimaksud dengan paṭipatti adalah latihan/praktik. Yang disebut dengan paṭivedha adalah penembusan Empat Kebenaran Mulia. Untuk kekukuhan/kelanggengan sāsana (ajaran Buddha), tolok ukurnya adalah pariyatti.
Dengan kata lain, jika pariyatti kukuh, maka ajaran Buddha dikatakan akan berkembang dengan baik.[1]
Ashin Kheminda menjelaskan bahwa pariyatti disebutkan sebagai tolok ukur karena dalam kitab yang sama dijelaskan bahwa "kadang-kadang paṭipatti dan/atau paṭivedha ada, tetapi di suatu masa yang lain tidak ada." Akan tetapi, di zaman apa pun, pariyatti selalu ada. Dalam kitab tersebut, dijelaskan bahwa seseorang yang telah mengamalkan pariyatti juga akan terdorong untuk segera mengamalkan paṭipatti dan paṭivedha.[1]
Di dalam kitab Abhidhammattha-vibhāvinī-ṭīkā (komentar untuk Abhidhammatthasaṅgaha), disebutkan bahwa masing-masing dari pariyatti, paṭipatti, dan paṭivedha adalah fondasi untuk yang berikutnya—pariyatti akan menjadi fondasi untuk paṭipatti, dan paṭipatti akan menjadi fondasi untuk paṭivedha.[1]
Menurut U Ba Khin, pariyatti adalah ajaran Sang Buddha, para arahat (makhluk yang telah tercerahkan sepenuhnya), dan para ariya (orang-orang yang telah merasakan Nirwana), yang telah benar-benar secara terperinci memahami Empat Kebenaran Mulia dan mengajarkan apa yang mereka sendiri telah ketahui sebagai kebenaran yang nyata dari pengalaman mereka sendiri. Adakalanya, ketika mustahil menemukan orang-orang mulia seperti Buddha, arahat, atau ariya yang dapat dihormati dan diandalkan, seseorang harus menjadikan ajaran Buddha yang terkandung dalam 84.000 bagian kitab suci Tripitaka Pali sebagai gurunya.[2]
Tripitaka Pali adalah kanon Buddhis paling lengkap yang masih ada dalam bahasa India klasik, Pāli, yang berfungsi sebagai bahasa liturgis[3] dan basantara[4] aliran Theravāda. Berbeda dengan Mahāyāna dan Vajrayāna, Theravāda cenderung konservatif dalam hal studi teoretis ajaran (pariyatti) dan disiplin monastik (vinaya).[5] Salah satu unsur konservatisme ini adalah kenyataan bahwa Theravāda menolak keaslian kitab-kitab Mahāyāna (yang muncul ca abad ke-1 SM dan seterusnya).[6][7]
U Ba Khin menyatakan, "Seseorang perlu mengamalkan ajaran-ajaran ini yang akan menuntun menuju tingkat Jalan (magga), Buah (phala), dan Nirwana (nibbāna). Ketika seseorang bertemu dengan seorang Buddha, para arahat, dan para ariya yang mulia, maka sungguh mungkin untuk mempraktikkan moralitas (sīla), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā) serta mencapai jalan dan buah pencerahan hanya dengan mendengarkan dan mengikuti ajaran mereka, yang diberikan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan pribadi secara langsung."[2]
Dalam Tripitaka Pali, Sang Buddha menyatakan pemujaan dengan praktik (paṭipatti) sebagai "cara terbaik untuk menghormati Sang Buddha"[8] dan sebagai pemujaan "tertinggi".[9] Pemujaan ini terutama merupakan pemujaan internal untuk pengembangan batin (citta, bhāvanā, dan samādhi).[10]
| “Tetapi Ānanda, bhikkhu atau bhikkhuni mana pun, baik laki-laki maupun perempuan, yang menjalankan Dhamma, hidup lurus dalam Dhamma, berjalan di jalan Dhamma, melalui orang itulah Tathāgata dihormati, dimuliakan, dijunjung, dipuja, dan dihormati dengan derajat tertinggi.” | ||
| — Mahāparinibbāna Sutta, DN 16 terj. Indra Anggara | ||
Pemujaan praktik (paṭipatti-pūjā) atau pemujaan nonmateri dapat diwujudkan dengan mengembangkan praktik-praktik:
Dalam praktik namaskara, dapat ditemukan syair paritta "Paṭipattiyā Ratanattayapaṇāma" yang dilantunkan sebelum masing-masing dari tiga sujud:[11]
| Sujud Pertama | Imāya dhammānudhamma-paṭipattiyā,
Buddhaṁ pūjemi. |
Dengan praktik Dhamma yang sesuai dengan Dhamma,
aku bersujud kepada Buddha. |
| Sujud Kedua | Imāya dhammānudhamma-paṭipattiyā,
Dhammaṁ pūjemi. |
Dengan praktik Dhamma yang sesuai dengan Dhamma,
aku bersujud kepada Dhamma. |
| Sujud Ketiga | Imāya dhammānudhamma-paṭipattiyā,
Saṅghaṁ pūjemi. |
Dengan praktik Dhamma yang sesuai dengan Dhamma,
aku bersujud kepada Saṅgha. |
Sang Buddha kadang-kadang menggambarkan praktik (paṭipatti) ajaran-Nya sebagai pelatihan bertahap (Pali: anupubbasikkhā) karena Jalan Mulia Berunsur Delapan melibatkan proses transformasi batin-jasmani yang berlangsung dalam jangka waktu yang kadang-kadang panjang.
| Seperti halnya samudra raya yang memiliki landas kontinen yang bertahap, lereng yang bertahap, kecenderungan yang bertahap, dengan penurunan yang tiba-tiba hanya setelah rentang waktu yang panjang, demikian pula Dhamma dan Disiplin (dhamma-vinaya) ini memiliki pelatihan yang bertahap (anupubbasikkhā), fungsionalitas yang bertahap (anupubbakiriyā), perkembangan yang bertahap (anupubbapaṭipadā), ... | ||
| — Uposatha Sutta, Ud 5.5 | ||
Penekanan pada latihan bertahap dapat dipahami melalui kenyataan bahwa, seperti halnya pola kebiasaan manusia yang menimbulkan penderitaan telah terbentuk dalam jangka waktu yang panjang, juga diperlukan waktu yang lama untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. Keberhasilan dalam menghilangkan pola kebiasaan tersebut memerlukan usaha berkelanjutan yang hanya dapat dicapai dengan komitmen sejati terhadap latihan.
Theravada (Pali: "Way of the Elders"; Sanskrit, Sthaviravada) emerged as one of the Hinayana (Sanskrit: "Lesser Vehicle") schools, traditionally numbered at 18, of early Buddhism. The Theravadins trace their lineage to the Sthaviravada school, one of the two major schools (the Mahasanghika was the other) that supposedly formed in the wake of the Council of Vaishali (now in Bihar state) held some 100 years after the Buddha's death. Employing Pāli as their sacred language, the Theravadins preserved their version of the Buddha's teaching in the Tipitaka ("Three Baskets").