Tradisi Hutan Sri Lanka memiliki sejarah yang panjang. Sebagai negara Buddhis Theravāda tertua di dunia, beberapa tradisi hutan pernah ada, menghilang, dan muncul kembali secara bergantian di Sri Lanka. Tradisi hutan di Sri Lanka saat ini telah dipengaruhi oleh tradisi Burma dan Tradisi Hutan Thailand yang merupakan turunan dari tradisi India dan Sri Lanka kuno.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Tradisi Hutan Sri Lanka memiliki sejarah yang panjang. Sebagai negara Buddhis Theravāda tertua di dunia, beberapa tradisi hutan pernah ada, menghilang, dan muncul kembali secara bergantian di Sri Lanka. Tradisi hutan di Sri Lanka saat ini telah dipengaruhi oleh tradisi Burma dan Tradisi Hutan Thailand yang merupakan turunan dari tradisi India dan Sri Lanka kuno.[1][2][3]

Setelah era Asoka, India kehilangan posisinya sebagai pusat Buddhisme Theravāda dunia. Dikatakan bahwa Asoka dan para biku penasihatnya telah meramalkan bahwa hal ini akan terjadi, dan mengorganisir Misi Buddhis Theravāda ke sembilan negara di Asia. Sebagai hasil dari misi ini, Arahat Agung Mahinda yang merupakan putra dadri Asoka dikirim ke Sri Lanka untuk mendirikan Buddha Sāsana (ajaran dari Sang Buddha) bersama dengan sebuah kelompok yang terdiri dari enam arahat bernama Ittiya, Uttiya, Sambala, Bhaddasala, Samanera Sumana (Sumana Samanera), dan seorang umat awam anagami bernama Bhanduka (Bhanduka Upasaka).[4][5]
Raja Devanampiya Tissa yang merupakan raja Sri Lanka pada masa itu bertemu dengan kelompok ini. Ia kemudian menerima Buddhisme dan mendeklarasikannya sebagai agama negara Sri Lanka. Raja muda Arittha, yang merupakan sepupu dari Raja Devanampiya Tissa, adalah biku pertama Sri Lanka yang dikenal sebagai Arahat Upatissa.[6]
Setahun kemudian, Asoka memutuskan untuk mengirim kelompok lain ke Sri Lanka untuk mendirikan sangha bikuni di Sri Lanka. Pemimpin kelompok ini adalah putri dari Asoka, yaitu Arahat Agung Saṅghamittā. Selain itu, delapan belas kelompok ahli teknis yang berdedikasi untuk karya-karya budaya Buddhis dikirim bersama Arahat Saṅghamittā untuk memperkuat garis penahbisan yang telah mapan di Sri Lanka.[1]
Sejak hari-hari pertama pembentukan garis penahbisan Theravāda di Sri Lanka, tradisi ini tetap menjadi tradisi utama di sana. Setelah era Asoka, Sri Lanka menjadi pusat global aliran Theravāda. Kanon Pali (Tripitaka yang dilestarikan aliran Theravāda), yang dilestarikan dan diturunkan melalui hafalan dan pembacaan, pertama kali ditulis di Sri Lanka di Aluvihara di Matale. Hampir semua kitab komentar (aṭṭhakathā) awal ditulis di Sri Lanka. Buddhaghosa, seorang biku penyusun ulang kitab komentar menerjemahkan kitab-kitab komentar Sri Lanka yang ditulis dalam bahasa Sinhala ke dalam bahasa Pali selama era Anuradhapura.[7]
Ketika negara-negara Theravāda lainnya seperti Siam (Thailand) dan Ramanna (bagian dari Burma) kehilangan garis penahbisan monastik mereka, para biku Sri Lanka dikirim untuk membangun kembali garis keturunan penahbisan (upasampadā) para biku selama periode Kerajaan Polonnaruwa di Sri Lanka. Kemudian, pada abad ke-17 M, garis keturunan penahbisan telah menghilang di Sri Lanka karena serangan dan dominasi penjajah Barat. Seorang samanera, Weliwita Saranamkara, membawa garis keturunan penahbisan dari Siam (Thailand) dan berhasil membangun kembali garis keturunan tersebut di Sri Lanka. Selama abad ke-18, beberapa biku berhasil membawa lagi garis keturunan penahbisan baru dari kota Amarapura dan Ramanna.[8]
Kemudian, tiga ordo (nikāya) Theravāda utama, yaitu Siam Nikāya, Amarapura Nikāya, dan Rāmañña Nikaya dominan di Sri Lanka: Siam Nikāya adalah garis keturunan dari Siam, Amarapura Nikāya adalah garis keturunan dari kota Amarapura, dan Rāmañña Nikāya adalah garis keturunan dari kota Ramanna.[9] Saat ini, ordo Amarapura dan Rāmañña digabung dalam Amarapura–Rāmañña Nikāya.
Pada masa-masa awal, tradisi hutan berafiliasi dengan Mahāvihāra di Anuradhapura atau dengan wihara-wihara kuno utama lainnya, seperti Mihintale, Ritigala, Dimbulagala, dan Situlpawwa. Banyak reruntuhan dan gua dari wihara-wihara hutan kuno dapat dilihat di area hutan yang luas di Anuradhapura, Polonnaruwa, Matale, Tissamaharama, Situlpawwa, dan Ruhuna serta di seluruh pulau. Saat itu, Sri Lanka menjadi pusat Buddhisme Theravāda sekaligus pusat tradisi hutan Theravāda di dunia.
Banyak kisah tentang para biku hutan kuno dicatat dalam kitab komentar Pali dan Visuddhimagga. Saat ini, kelompok hutan terbesar di Sri Lanka adalah Sri Kalyani Yogasrama Samstha (Cabang Galduva) dari Rāmañña Nikāya dalam Amarapura–Rāmañña Nikāya. Sementara itu, beberapa kelompok lain seperti Vaturuvila, Polgasduva, dan Thapowana terus membangun beberapa wihara hutan. Mahamevnawa Buddhist Monastery, yang dikenal sebagai salah satu kelompok wihara Theravāda terbesar di dunia, juga dianggap termasuk dalam kategori tradisi hutan.[10][11]
Keabsahan upasampadā (penahbisan tinggi) para biku dianggap melemah jika para biku menjadi kurang menghormati Vinaya (disiplin monastik) dan Vinaya-kamma (prosedur kedisiplinan) dalam monastik Buddhis. Secara tradisi konservatif, penahbisan dianggap tidak sah jika upasampadā-kamma (prosedur penahbisan tinggi) tidak dilakukan dengan benar sesuai dengan tata cara yang diuraikan Tripitaka Pali. Para biku hutan kuno dianggap sangat menyadari hal ini, dan telah melindungi keabsahan upasampadā di tiga negara Theravāda utama hingga periode biku hutan Amarapura di Burma. Selama abad ke-19, dua ordo Sri Lanka telah "meminjam" garis keturunan upasampadā yang dapat dipercaya dari para biku hutan Amarapura di Burma untuk mendirikan ordo Amarapura Nikāya dan Rāmañña Nikāya di Sri Lanka. Seiring berjalannya waktu, ketika kedua ordo ini dianggap menjadi longgar dalam aturan disiplin monastik yang lebih tinggi, kelompok Sri Kalyani Yogasrama Samstha dibentuk oleh sekelompok biku dari Rāmañña Nikāya yang dipimpin oleh Kadawedduwe Jinavamsa Mahathera. Pembentukan tersebut bertujuan untuk melestarikan garis keturunan dalam tradisi hutan.
Berikut adalah beberapa biku terkemuka yang terkait dengan tradisi hutan kontemporer di Sri Lanka:



Beberapa wihara hutan yang dikenal luas, di antara sejumlah besar vihara yang tersebar di seluruh pulau, tercantum di bawah ini.[20]
Wihara-wihara terkenal yang terkait dengan Sri Kalayani Yogasrama Samstha (Cabang Galduva) tercantum di bawah ini.


Wihara Mahamevnawa (Mahamevnawa Buddhist Monastery), yang didirikan oleh Yang Mulia Kiribathgoda Gnanananda Thero pada tahun 1999, telah menyebar tidak hanya di Sri Lanka, tetapi juga di seluruh dunia. Saat ini, wihara ini terdiri dari hampir 85 cabang di Sri Lanka dan kurang lebih 45 cabang di luar negeri. Jumlah biku yang terafiliasi melebihi 1000 orang. Semua cabang Wihara Mahamevnawa beroperasi sesuai dengan prosedur formal yang sama. Prosedur pengelompokan tiga jenis biku, yaitu yang tinggal di perkotaan, semi-perkotaan, dan hutan, semuanya beroperasi. Tradisi ini termasuk dalam Cabang Sri Kalayanivansa dari Amarapura Nikāya Sri Lanka. Namun, semua kegiatannya dilaksanakan di bawah badan pimpinan atau dewan perwakilan sangha independen yang disebut Mahamevnawa Mahā Saṅgha Sabha.
Wihara Mahamevnawa adalah sebuah tradisi yang telah mendapatkan ketenaran dan rasa hormat di kalangan umat Buddha di seluruh dunia karena penyebaran Dhamma dalam berbagai bahasa oleh para biku yang tinggal di berbagai negara. Markas utamanya terletak di Polgahawela, dan Pusat Pelatihan Biku (Bhikkhu Training Center) terletak di Matara.
Beberapa jenis tradisi wihara hutan umum lainnya tercantum di bawah ini.