Sampajañña, juga dikenal sebagai sampajāna, adalah istilah yang sangat penting untuk praktik meditasi dalam semua tradisi Buddhis. Istilah ini merujuk pada "Proses mental yang melaluinya seseorang secara terus-menerus memantau batin dan jasmaninya (nāmarūpa) sendiri. Dalam praktik samatha, fungsi utamanya adalah untuk mencatat terjadinya kemalasan-kelambanan (thīna-middha) dan kegelisahan (uddhacca) batin." Istilah ini sangat sering ditemukan dalam pasangan 'perhatian-penuh dan pemahaman-jernih' atau 'perhatian-penuh dan introspeksi'.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Terjemahan dari Sampajañña | |
|---|---|
| Indonesia | pemahaman jernih berkesadaran jernihcode: id is deprecated |
| Inggris | clear comprehension, clear knowing, fully alert, full awareness, attention, consideration, discrimination, comprehension, circumspection, introspection |
| Pali | सम्पजञ्ञ (sampajañña)code: pi is deprecated |
| Sanskerta | संप्रजन्य (saṃprajanya)code: sa is deprecated |
| Jepang | 正知code: ja is deprecated (rōmaji: Shouchicode: ja is deprecated ) |
| Tibet | ཤེས་བཞིན་ (Wylie: shes bzhin, THL Phonetic: shé zhin)code: bo is deprecated |
| Vietnam | tỉnh giáccode: vi is deprecated |
| Khmer | សម្បជញ្ញៈ (Sampachannheak)code: km is deprecated |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
| Bagian dari seri tentang |
| Kewawasan |
|---|
|
|
Sampajañña (Pāli; Skt.: saṃprajña, samprajñatā, Tib: shes bzhin), juga dikenal sebagai sampajāna, adalah istilah yang sangat penting untuk praktik meditasi dalam semua tradisi Buddhis. Istilah ini merujuk pada "Proses mental yang melaluinya seseorang secara terus-menerus memantau batin dan jasmaninya (nāmarūpa) sendiri. Dalam praktik samatha, fungsi utamanya adalah untuk mencatat terjadinya kemalasan-kelambanan (thīna-middha) dan kegelisahan (uddhacca) batin."[1] Istilah ini sangat sering ditemukan dalam pasangan 'perhatian-penuh dan pemahaman-jernih' (Pali: sati sampajañña, Skt.: smṛti saṃprajña) atau 'perhatian-penuh dan introspeksi'.
Sampajañña telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (dan padanannya dalam bahasa Indonesia) dengan berbagai cara seperti "kesinambungan", "pemahaman jernih",[2] "pengetahuan jernih",[3] "pemahaman saksama yang terus-menerus tentang ketidakkekalan",[4] "kewaspadaan penuh"[5] atau "kesadaran penuh",[6] "perhatian, pertimbangan, pembedaan, pemahaman, kehati-hatian",[7] dan "introspeksi".[1]
Entri pada The Princeton Dictionary of Buddhism menyatakan (isi entri diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Inggris):
"saṃprajanya . (P. sampajañña; T. shes bzhin; C. zhengzhi; J. shōchi; K. chŏngji正知 ). Dalam bahasa Sanskerta, "pemahaman jernih," "kehati-hatian," "introspeksi"; sebuah istilah yang terkait erat dengan, dan sering kali muncul dalam gabungan kata bersama, perhatian penuh atau kewawasan (S. SMṚTI, P. sati). Dalam penjelasan tentang praktik pengembangan penyerapan meditatif (DHYĀNA), smṛti merujuk pada faktor perhatian penuh yang mengikat pikiran pada objek, sementara saṃprajanya adalah faktor yang mengamati pikiran untuk menentukan apakah ia telah menyimpang dari objeknya. Secara khusus, sumber-sumber Pāli merujuk pada empat aspek pemahaman jernih, yang melibatkan penerapan perhatian penuh dalam praktik. Pertama adalah tujuan (P. sātthaka), yaitu, apakah tindakan tersebut akan memberikan manfaat terbaik bagi diri sendiri dan orang lain; kriteria utamanya adalah apakah tindakan tersebut mengarah pada pertumbuhan dalam dharma. Kedua adalah kesesuaian (P. sappāya): apakah suatu tindakan selaras dengan waktu, tempat, dan kapasitas pribadi yang tepat; kriteria utamanya adalah keterampilan dalam menerapkan cara yang tepat (P. upāyakosalla; S. UPĀYAKAUŚALYA). Ketiga adalah ranah meditasi (gocara): yaitu, semua pengalaman harus dijadikan topik kesadaran yang penuh perhatian. Keempat adalah tanpa-delusi (asammoha): yaitu, mengenali bahwa apa yang tampak sebagai tindakan seseorang pada kenyataannya hanyalah serangkaian proses mental dan fisik yang impersonal; aspek saṃprajanya ini membantu menangkal kecenderungan untuk memandang semua peristiwa dari sudut pandang pribadi yang egois. Dengan demikian, saṃprajanya memperluas kejernihan pemikiran yang dihasilkan oleh perhatian penuh dengan menggabungkan faktor-faktor tambahan dari pengetahuan yang benar (JÑĀNA) atau kebijaksanaan (PRAJÑĀ)."[8]
Penjelasan tentang pemahaman jernih (sampajañña) yang paling terkenal diserukan oleh Sang Buddha bersamaan dengan praktik perhatian penuh (sati) dalam Satipaṭṭhāna Sutta:
\nia berdiam merenungkan perasaan dalam perasaan, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia;<br>ia berdiam merenungkan kesadaran dalam kesadaran, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia;<br>ia berdiam merenungkan objek-objek mental dalam objek-objek mental, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia.<ref name=\"accesstoinsight.org\">Satipatthana Sutta: The Foundations of Mindfulness, diterjemahkan dari bahasa Pali oleh Nyanasatta Thera [http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.010.nysa.html]</ref>"}},"i":0}}]}' id="mwXw"/>Di sini (dalam ajaran ini) seorang biku berdiam merenungkan jasmani dalam jasmani, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia;
ia berdiam merenungkan perasaan dalam perasaan, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia;
ia berdiam merenungkan kesadaran dalam kesadaran, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia;
ia berdiam merenungkan objek-objek mental dalam objek-objek mental, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia.[9]
Pemahaman jernih berkembang dari perhatian penuh pada pernapasan (ānāpānasati) dan selanjutnya hadir bersamaan dengan perhatian penuh untuk keempat satipaṭṭhāna.[10][9]
Meskipun kitab-kitab nikāya dalam Suttapiṭaka tidak merinci apa yang dimaksud Sang Buddha dengan sampajañña, kitab-kitab komentar (aṭṭhakathā) bahasa Pāli menganalisisnya lebih lanjut ke dalam empat konteks pemahaman seseorang:[11]
Dalam sebuah korespondensi antara Bhikkhu Bodhi dan B. Alan Wallace, Bhikkhu Bodhi menggambarkan pandangan Y.M. Nyanaponika Thera tentang "perhatian benar" (sammā-sati) dan sampajañña sebagai berikut,
Glosarium=introspeksi (Tib. shes bzhin, Skt. saṃprajanya). Proses mental yang melaluinya seseorang memantau tubuh dan pikirannya sendiri. Dalam praktik samatha, fungsi utamanya adalah mencatat terjadinya kelambanan dan kegelisahan.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)