Tempat ibadah buddhis merupakan tempat beribadah bagi umat Buddha atau penganut agama Buddha. Tempat-tempat ibadah ini termasuk bangunan yang disebut vihara, wihara, biara, arama, wat, kyaung, cetiya, candi, stupa, dan pagoda di berbagai daerah dan bahasa. Tempat ibadah buddhis melambangkan tanah suci atau lingkungan suci seorang Buddha. Tempat ibadah buddhis tradisional dirancang untuk menginspirasi kedamaian lahir dan batin.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Tempat ibadah buddhis (bahasa Inggris: Buddhist temple atau Buddhist monastery) merupakan tempat beribadah bagi umat Buddha atau penganut agama Buddha. Tempat-tempat ibadah ini termasuk bangunan yang disebut vihara, wihara, biara, arama, wat, kyaung, cetiya, candi, stupa, dan pagoda di berbagai daerah dan bahasa. Tempat ibadah buddhis melambangkan tanah suci atau lingkungan suci seorang Buddha. Tempat ibadah buddhis tradisional dirancang untuk menginspirasi kedamaian lahir dan batin.[1]
Arsitektur dan strukturnya bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya. Biasanya, sebuah tempat ibadah buddhis tidak hanya terdiri dari bangunannya saja, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Tempat ibadah buddhis dirancang untuk melambangkan lima unsur: api, udara, air, tanah dan kekosongan (ruang).[2]
Desain tempat ibadah buddhis di India dipengaruhi oleh gagasan tempat ibadah berbentuk candi sebagai representasi alam semesta. Untuk suatu kompleks candi buddhis, satu candi tinggi sering kali terletak di pusat dan dikelilingi oleh candi dan tembok yang lebih kecil. Pusat ini dikelilingi oleh lautan, gunung-gunung kecil dan tembok besar.[3]
Chaitya, aula Chaitya, atau Chaitya-griha merujuk kepada tempat suci, tempat ibadah, atau aula doa dalam agama India. Istilah ini paling umum dalam agama Buddha, yang merujuk pada ruang dengan stupa dan apse bundar di ujung yang berseberangan dengan pintu masuk, dan atap tinggi dengan profil bundar. Dalam pengertian secara ketat, chaitya adalah stupa itu sendiri, dan bangunan-bangunan India adalah aula chaitya, tetapi perbedaan ini sering tidak diperhatikan. Banyak Chaitya awal yang dipahat di batu, seperti di gua Karla atau Ajanta.

Beberapa candi berdiri bebas paling awal mungkin berbentuk lingkaran. Ashoka juga membangun Wihara Mahabodhi di Bodh Gaya sekitar tahun 250 SM, sebuah bangunan melingkar, untuk melindungi pohon Bodhi yang menjadi tempat Sang Buddha mencapai Nirwana. Wihara Bairat juga merupakan bangunan bundar, yang dapat dilihat melalui sisa-sisa arkeologi. Representasi struktur candi awal ini ditemukan pada relief tahun 100 SM yang dipahat pada pagar stupa di Bhārhut, serta di Sanchi.[4] Dari masa itu masih tersisa singgasana berlian, lempengan batu pasir yang hampir utuh yang dihiasi dengan relief, yang didirikan Ashoka di kaki pohon Bodhi.[5][6] Candi-candi berbentuk lingkaran ini juga ditemukan di gua-gua batu yang dibangun kemudian, seperti Gua Tulja atau Guntupalli.[7]

Buddhisme merupakan agama tertua kedua di Indonesia setelah agama Hindu yang datang dari India sekitar abad kedua.[10] Sejarah Buddhisme di Indonesia berkaitan erat dengan sejarah agama Hindu, karena sejumlah kerajaan yang dipengaruhi oleh budaya India didirikan sekitar periode yang sama. Situs arkeologi buddhis tertua di Indonesia bisa dibilang adalah kompleks stupa Batujaya di Karawang, Jawa Barat. Peninggalan tertua di Batujaya diperkirakan berasal dari abad ke-2, sedangkan yang terbaru berasal dari abad ke-12. Selanjutnya, sejumlah besar situs buddhis ditemukan di provinsi Jambi, Palembang, dan Riau di Sumatera, serta di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kepulauan Indonesia selama berabad-abad telah menyaksikan kebangkitan dan kejatuhan kerajaan-kerajaan buddhis yang kuat, seperti Dinasti Syailendra, Mataram, dan Sriwijaya.
Menurut beberapa sumber Tionghoa, seorang biksu Buddhisme Tionghoa, I-tsing, dalam perjalanan ziarahnya ke India, menyaksikan kerajaan maritim Sriwijaya yang kuat yang berpusat di Sumatera pada abad ke-7. Sejumlah peninggalan sejarah buddhis dapat ditemukan di Indonesia, termasuk monumen mandala Borobudur abad ke-8 dan candi Sewu di Jawa Tengah, Batujaya di Jawa Barat, Muaro Jambi, Muara Takus dan Candi Bahal di Sumatra, dan banyak patung atau prasasti dari sejarah awal kerajaan Hindu-Buddha Indonesia.

Pada masa pemerintahan Kerajaan Kediri, Singhasari, dan Majapahit, Buddhisme yang dikenal sebagai Dharma ri Kasogatan diakui sebagai salah satu agama resmi kerajaan, bersama dengan agama Hindu. Meskipun beberapa raja mungkin lebih menyukai agama Hindu dibanding yang lain, tetapi kerukunan, toleransi dan bahkan sinkretisme tetap dipromosikan sebagaimana yang terwujud dalam semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika, yang diambil dari Kakawin Sutasoma, yang ditulis oleh Mpu Tantular untuk mempromosikan toleransi antara umat Hindu (Siva) dan umat Buddha.[11] Era klasik Jawa kuno juga telah menghasilkan beberapa contoh seni buddhis yang indah, seperti patung Prajnaparamita dan patung Buddha Vairocana serta Bodhisatwa Padmapani dan Vajrapani di Candi Mendut.
Dalam perspektif Buddhisme Indonesia kontemporer, candi mengacu pada tempat suci, baik kuno maupun baru. Beberapa wihara kontemporer di Indonesia misalnya, memiliki replika atau rekonstruksi ukuran sebenarnya dari candi buddhis terkenal, seperti replika Candi Pawon[12] dan Candi Perwara (kecil) Plaosan. Dalam Buddhisme, peran candi sebagai tempat suci terkadang dapat dipertukarkan dengan stupa, bangunan berkubah untuk menyimpan relik Buddha atau abu biksu-biksuni, pelindung, atau dermawan buddhis yang dikremasi.

Tempat ibadah Buddhisme Jepang biasanya memiliki suatu Balairung Utama.
Ciri khasnya adalah adanya chinjusha, yaitu tempat ibadah Shinto yang ditujukan untuk memuja kami (dewa-dewi Shinto). Buddhisme Jepang hidup berdampingan dengan Shinto, tetapi pada abad ke-8 Buddhisme menjadi agama negara dan berbagai tempat ibadah buddhis dibangun. Konsentrasi tinggi tempat ibadah buddhis Jepang yang penting dapat ditemukan di jantung kebudayaan Jepang di wilayah Kansai, terutama di Nara dan Kyoto.

Tempat ibadah buddhis di Thailand dikenal sebagai wat, dari bahasa Pāḷi vāṭa, yang berarti "kandang". Arsitektur Wat menganut prinsip yang konsisten. Sebuah wat, dengan beberapa pengecualian, terdiri dari dua bagian: Phutthawat dan Sangkhawat . Phutthawat (bahasa Thai: พุทธาวาสcode: th is deprecated ) merupakan area yang didedikasikan untuk Buddha, sedangkan Sangkhawat merupakan wilayah yang diperuntukkan bagi komunitas biara Buddhis, yaitu Sangha.

Tempt ibadah buddhis di Sri Lanka dikenal sebagai 'Pansala' atau 'Viharaya' dalam bahasa Sinhala. Ciri-ciri umum dari tempat ibadah Buddhisme Sri Lanka meliputi Stupa, Pohon Bo, dan berbagai bangunan tempat ibadah kecil. Pohon Bodhi tertua yang masih hidup yang ditanam manusia di dunia Jaya Sri Maha Bodhi dan beberapa Stupa terbesar di dunia, termasuk Ruwanwelisaya, Jetavanaramaya, dan Vihāra Abhayagiri yang terletak di berbagai tempat ibadah Sri Lanka.