Metteyya adalah seorang Bodhisatwa yang dianggap oleh semua aliran Buddhisme sebagai Buddha yang akan datang. Dalam beberapa literatur Buddhis, seperti Sutra Amitabha dan Sutra Seroja, beliau juga disebut sebagai Ajitā. Dalam bahasa Tionghoa, Maitreya dikenal dengan nama Mile Pusa atau Bodhisatwa Maitreya. Namanya berasal dari bahasa Sanskerta maitrī. Nama Maitreya juga terkait dengan nama Indo-Iran, Mitra.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bodhisatwa Maitreya | |
|---|---|
Patung Bodhisatwa Maitreya dari abad kedua Periode Seni Gandharan | |
| Sanskerta: | मैत्रेय (Maitreya) |
| Pāli | Metteyya |
| Burma: | အရိမေတ္တေယျ (Arimeiteiya) |
| Mandarin: | 彌勒菩薩 (Mílè Púsa) |
| Jepang: | 弥勒菩薩 (Miroku Bosatsu) |
| Tibet: | Byams Pa |
| Mongolia: | ᠮᠠᠶᠢᠳᠠᠷᠢ᠂ ᠠᠰᠠᠷᠠᠯᠲᠣ; Майдар, Асралт; Mayidari, Asaraltu |
| Korea: | 미륵보살 (Mireuk Bosal) |
| Vietnam: | Di-lặc (Bồ Tát) |
| Informasi | |
| Dimuliakan oleh: | Theravada, Mahayana, Vajrayana |
| Attribut: | Kebajikan Agung |
| Didahului oleh: | Buddha Gotama |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Metteyya (Pali; Sanskerta: Maitreya) adalah seorang Bodhisatwa yang dianggap oleh semua aliran Buddhisme sebagai Buddha yang akan datang.[1][2] Dalam beberapa literatur Buddhis, seperti Sutra Amitabha dan Sutra Seroja, beliau juga disebut sebagai Ajitā (Tak Terkalahkan, Tak Tertandingi). Dalam bahasa Tionghoa, Maitreya dikenal dengan nama Mile Pusa (Hanzi: 彌勒菩薩; Pinyin: Mílè púsà) atau Bodhisatwa Maitreya. Namanya berasal dari bahasa Sanskerta maitrī (Pali: metta; yang berarti cinta kasih atau niat baik). Nama Maitreya juga terkait dengan nama Indo-Iran, Mitra.[3]
Dalam semua aliran agama Buddha, Maitreya dipandang sebagai penerus langsung Buddha Gautama. Sebagai Buddha kelima dan terakhir dari kalpa (eon) saat ini,[4] ajaran Maitreya akan difokuskan untuk mengembalikan Dharma Buddha di Bumi. Menurut kitab suci, ajaran Maitreya akan serupa dengan ajaran Gautama (Śākyamuni).[5][6] Kedatangan Maitreya diperkirakan akan terjadi pada masa ketika ajaran Buddha Gautama telah diabaikan atau sebagian besar dilupakan.

Meskipun banyak tokoh agama dan pemimpin spiritual yang mengaku sebagai Maitreya sepanjang sejarah, berbagai aliran agama Buddha menolak klaim tersebut, sembari menggarisbawahi bahwa Maitreya belum pernah muncul sebagai Buddha (karena ajaran Buddha belum dilupakan). Umat Buddha tradisional percaya bahwa Maitreya saat ini masih Bodhisatwa (calon Buddha) dan sedang berada di surga Tusita,[7][4] yang merupakan tempat tinggal bagi para Bodhisatwa sebelum mencapai Kebuddhaan. Buddha Gotama juga bertempat tinggal di sini sebelum terlahir sebagai Siddhattha Gotama di dunia. Akan tetapi, Maitreya bukannya tidak dapat dijangkau, dan berbagai umat Buddha di sepanjang sejarah mengklaim telah dikunjungi oleh Maitreya, mendapatkan penglihatan, dan menerima ajaran darinya. Oleh karena itu, umat Buddha Mahayana secara tradisional menganggap Maitreya sebagai pendiri tradisi Yogacara melalui pewahyuannya atas berbagai kitab suci seperti Mahāyānasūtrālamkārakā, dan Madhyāntavibhāga.[8][9][10]

Dalam tradisi Pali, Metteyya disebutkan dalam Cakkavatti-Sīhanāda Sutta (Dīgha Nikāya 26) dari Sutta Piṭaka, Tipitaka Pāli, dan juga dalam bab 28 dari Buddhavaṁsa.[5][6] Ramalan mengenai Maitreya juga muncul dalam teks-teks aliran Buddhis lain, seperti Mahāvastu, Lalitavistara, Mūlasarvāstivāda-vinaya, dan Divyāvadāna.[1][11]
Berdasarkan Cakkavatti-Sīhanāda Sutta, Metteya diperkirakan baru akan lahir ketika rata-rata usia manusia mencapai 80.000 tahun di sebuah kota bernama Ketumati yang dipimpin oleh raja Cakkavatti Sankha.[4]
| Dan pada masa itu ketika manusia memiliki umur kehidupan 80.000 tahun, akan muncul di ibukota Ketumatī seorang raja bernama Saṅkha, seorang raja pemutar-roda, raja yang jujur dan adil, penakluk empat penjuru, ia akan menegakkan stabilitas di negeri ini, dan memiliki tujuh harta karun. Ia akan memiliki tujuh harta karun berikut: roda, gajah, kuda, permata, wanita, tuan rumah, dan panglima sebagai harta karun ketujuh. Ia akan memiliki lebih dari seribu putra yang gagah berani dan heroik, menghancurkan pasukan musuhnya. Setelah menaklukkan negeri yang dikelilingi laut ini, ia akan memerintah dengan prinsip, tanpa tongkat atau pedang.
Dan pada masa itu ketika manusia memiliki umur kehidupan 80.000 tahun, akan muncul di dunia ini Sang Tathāgata, seorang Arahant, Buddha yang mencapai penerangan sempurna bernama Metteyya, memiliki kebijaksanaan dan perilaku sempurna, yang sempurna menempuh sang jalan, pengenal seluruh alam, penjinak manusia yang dapat dijinakkan yang tiada bandingnya, guru para dewa dan manusia, tercerahkan dan suci, seperti halnya Aku sekarang ini. |
||
| — Cakkavatti-Sīhanāda Sutta, DN 26 | ||
Ada banyak sutra Mahāyāna yang menggambarkan dan mendiskusikan tentang Bodhisatwa Maitreya. Dia muncul sebagai karakter pendukung dalam beberapa sutra Mahāyāna yang penting seperti Sutra Seroja, Sutra Vimalakirti, Sutra Cahaya Emas, Sutra Samadhiraja, dan Sutra Aṣṭasāhasrikā Prajñāpāramitā.[1]
Dalam sutra-sutra Mahayana dalam Tripitaka Tionghoa disebutkan:
彌勒如來當壽八萬四千歲。般涅槃後,遺法當在八萬四千歲。所以然者,爾時眾生皆是利根
Maitreya Tathāgata akan hidup selama 84.000 tahun. Setelah mencapai parinibbāna, ajaran yang ditinggalkan akan bertahan selama 84.000 tahun. Mengapa demikian? Karena pada masa itu semua makhluk memiliki kecerdasan spiritual yang tajam.
— Sutra tentang Kelahiran Maitreya yang Turun (弥勒下生经)[12]
「若於過去七佛所,得聞佛名,禮拜供養,以是因緣,淨除業障。復聞彌勒大慈根本,得清淨心,汝等今當一心合掌,歸依未來大慈悲者,我當為汝廣分別說。彌勒佛國從於淨命,無諸諂偽,檀波羅蜜、尸羅波羅蜜、般若波羅蜜,得不受不著。以微妙十願大莊嚴,得一切眾生起柔軟心,得見彌勒大慈所攝,生彼國土,調伏諸根,隨順佛化。」
「舍利弗,四大海水面各减少三千由旬,时阎浮提地纵广正等十千由旬,其地平净如流璃镜。大适意华、悦可意华、极大香华、优昙钵华、大金叶华、七宝叶华、白银叶华,华须柔软状如天缯。」
“Jika pada masa lalu, di hadapan Tujuh Buddha terdahulu, seseorang telah mendengar nama Buddha, bersujud dan mempersembahkan penghormatan, maka karena sebab dan kondisi ini, noda-noda karma akan dibersihkan. Kemudian, jika ia mendengar akar dari kasih agung (mahākaruṇā) Maitreya, maka ia akan memperoleh hati yang murni. Kalian sekarang seharusnya dengan sepenuh hati, menyatukan kedua telapak tangan, berlindung kepada Yang Penuh Kasih Sayang Agung (Maitreya) pada masa depan. Aku akan menjelaskan secara rinci untuk kalian. Negeri Buddha Maitreya berasal dari kehidupan yang murni, tanpa kepalsuan atau kemunafikan.Ia menyempurnakan Dāna-pāramitā (kesempurnaan berdana), Śīla-pāramitā (kesempurnaan sila/moralitas), dan Prajñā-pāramitā (kesempurnaan kebijaksanaan), mencapai keadaan tanpa penderitaan dan tanpa kemelekatan.Dengan sepuluh ikrar luhur yang sangat halus, ia menghias dirinya dengan agung, membuat semua makhluk menumbuhkan hati yang lembut dan penuh welas asih, dapat melihat kasih agung Maitreya, terlahir di negerinya, menundukkan indra-indranya, dan mengikuti transformasi pengajaran Buddha.”"O, Arya Sariputra! Ketika keempat samudra masing-masing menyusut kira-kira 3000 yojana, pada saat itu bumi Jambudvipa akan memiliki panjang dan lebar yang sama, mencapai 10.000 yojana, persis kaca dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan bersih."
— Sutra tentang Maitreya Mencapai Kebuddhaan (彌勒大成佛經)[13]
佛说如是,弥勒佛却后六十亿残六十万岁当来下
Buddha berkata demikian: Setelah (wafatku), Maitreya Buddha akan turun ke dunia setelah enam miliar enam ratus ribu tahun
— Sutra tentang Waktu Kedatangan Maitreya (弥勒来时经)[14]
Beberapa sutra Mahāyāna yang secara khusus berfokus pada Maitreya, ajarannya dan aktivitasnya pada masa depan terdapat dalam sutra-sutra berikut:
Tripitaka Tibet juga mengandung sutra-sutra Maitreya berikut:
Maitreya juga muncul dalam karya sastra lainnya, antara lain di Maitreyasamitināṭaka (sebuah teks drama Buddhis yang berasal dari Asia Tengah pada masa pra-Islam),[15][16] Maitreyavyakarana (sebuah puisi dalam bentuk śatakam dari Asia Tengah) dan Anagatavamsa (kumpulan cerita dari India yang menjelaskan tentang Metteya).[4]
Menurut Jan Nattier, ada empat tipe utama dari narasi tentang Maitreya yang dapat kita temukan di sepanjang sejarah agama Buddha. Tipologi ini didasarkan pada kapan dan bagaimana seorang pemuja diharapkan bertemu dengan sosok Maitreya:[17]
Dalam semua tradisi Buddhis, Maitreya dinubuatkan sebagai Buddha berikutnya yang akan muncul di dunia ini. Dia akan mencapai keBuddhaan jauh pada masa depan (5.670.000.000 tahun dari sekarang).[18][19] Karena mencapai pencerahan dianggap jauh lebih mungkin ketika belajar di bawah bimbingan seorang Buddha yang masih hidup, banyak umat Buddha yang berharap dapat bertemu dengan Maitreya dan berlatih di bawah bimbingannya.[20]
Menurut tradisi Buddhis, setiap kalpa (periode kosmik yang berlangsung selama jutaan tahun) memiliki beberapa Buddha.[21] Kalpa sebelumnya adalah vyuhakalpa, dan kalpa saat ini disebut bhadrakalpa.[22] Tujuh Buddha Zaman Dahulu (saptatathāgata) adalah tujuh Buddha yang menjembatani kalpa sebelumnya dan kalpa saat ini, dimulai dengan Vipassī dan berakhir dengan Gautama (Sakyamuni). Dengan demikian, Maitreya adalah Buddha kedelapan dalam barisan ini.[23]
Menurut sumber-sumber Buddhis tradisional, kedatangan Maitreya tidak akan terjadi dalam waktu dekat, melainkan akan terjadi jutaan tahun pada masa depan. Meskipun demikian, umat Buddha dapat berharap untuk mengumpulkan karma baik sehingga ketika saatnya tiba, mereka akan terlahir kembali untuk bertemu dengan Buddha Maitreya pada masa depan dan mencapai pencerahan di bawah bimbingannya.[24] Kitab-kitab suci yang menggambarkan kedatangan Maitreya pada masa depan juga menggambarkan kondisi dunia yang seperti di surga pada masa Maitreya. Kedatangannya dikatakan akan mengantarkan “zaman keemasan” agama dan peradaban.[24]
Sifat adanya siklus dari sejarah merupakan bagian dari cerita Maitreya. Umat Buddha percaya bahwa akan datang suatu masa kemunduran Dharma di mana tatanan sosial dan moralitas akan menurun dan umur manusia juga akan menurun. Akan ada perang, penyakit dan kelaparan di mana-mana.[25] Selanjutnya Dharma Buddha kemudian akan hilang. Setelah beberapa waktu, dunia akan mulai membaik kembali, dan umur manusia akan mulai meningkat. Pada puncak peningkatan kebaikan pada masa depan yang jauh pada masa depan inilah Maitreya akan tiba.[25]

Dalam tradisi Mahayana, Maitreya dipercaya oleh umat Buddha untuk mewujudkan “tubuh emanasi” (nirmanakaya) di bumi untuk membantu makhluk hidup dan mengajarkan Dharma.[26] Pada abad ke 10, ada seorang biksu eksentrik bernama Qici (契此), yang lahir di provinsi Zhejiang pada masa Dinasti Liang (907–923 M) di Tiongkok.[27] Biksu ini dikenal dengan Budai atau Pu Tai He Sang atau Biksu Berkantong Kain, yang sering disebut sebagai Hotei dalam budaya Jepang. Biksu Budai yang gemuk itu dipercaya oleh umat Buddhis Tiongkok sebagai emanasi Maitreya. Sosoknya kemudian menjadi populer dalam tradisi Buddhisme Mahayana dan budaya Asia Timur.

Para yogi dan cendekiawan Buddhis, seperti halnya Dao'an, juga berusaha untuk menerima penglihatan, ajaran, atau bimbingan dari Maitreya di kehidupan sekarang ini.[28] Berbagai kisah tercatat mengenai orang-orang yang naik ke atas untuk bertemu Maitreya (melalui meditasi dan samadi) atau Maitreya yang turun ke bawah untuk menemui mereka di dunia ini.[28]
Teks ajaran Buddhisme tentang Maitreya di China berasal dari hasil terjemahan oleh biksu An Shi Gao, Lokaksema pada abad ke-2, Dharmaraksa pada abad ke-3, Dao'an pada abad ke-4, dan Kumarajiva pada abad ke-5.[29] Konsep tanah suci Maitreya sangat populer sehingga pada abad ke-4 sampai ke-6, muncullah keyakinan terhadap Maitreya di seluruh Tiongkok. Kepopuleran tanah suci Maitreya bahkan lebih populer dari tanah murni Amitabha, terbukti dari fakta bahwa jumlah patung Buddha Maitreya saat itu jauh melebihi patung Buddha Amitabha.[30] Sepanjang sejarah Tiongkok, ramalan tentang Maitreya dan masa kemunduran dharma (Hanzi: 末法; pinyin: Mò Fǎ) diadopsi dan dimanfaatkan oleh berbagai kelompok agama, sosial, dan politik, di mana banyak di antaranya bukanlah Buddhisme ortodoks, melainkan kelompok-kelompok yang menggabungkan aliran kepercayaan tradisional Tiongkok, Buddhisme, dan Taoisme.
Pada masa Dinasti Utara dan Selatan (420-589), sejumlah besar “kitab-kitab palsu” mengenai Maitreya muncul.[31] Kitab-kitab ini umumnya menguraikan sutra Buddha resmi dengan penafsiran tertentu dan dijadikan kitab-kitab baru seolah-olah isi kitab tersebut adalah ajaran sang Buddha.[31] Ramalan akan turunnya Maitreya ke dunia yang di dalam Buddhisme ortodoks disebutkan masih jutaan tahun yang akan datang, ditafsirkan ulang menjadi sesuatu yang sudah dekat.[32] Kemunculan kitab-kitab palsu itu terkait erat dengan kondisi masyarakat yang sulit saat itu. Dengan kata lain, ketika kondisi kehidupan yang sulit melanda dan para penjahat merajalela di masyarakat, orang-orang pada umumnya benar-benar mendambakan hadirnya seorang “mesias”, seperti Maitreya, yang dapat menaklukkan semua penjahat dan menstabilkan dunia ini.[33] Pada saat itu, mulai ada banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai titisan Buddha Maitreya yang akan menjadi juru selamat dan mengubah dunia ini. Sejak itulah banyak bermunculan sekte-sekte Ajaran Maitreya selama berabad-abad dan banyak di antaranya yang mengadakan pemberontakan dengan slogan bahwa Maitreya telah datang untuk mengubah dunia ini.
Sedangkan dalam tradisi Buddhisme Mahayana ortodoks, praktik-praktik pemujaan terhadap Maitreya merupakan bagian penting dari aliran Yogacara Asia Timur. Elemen kunci dari pemujaan Maitreya di Asia Timur adalah tekad untuk terlahir kembali di Surga Tusita Maitreya (兜率內院).[34][35] Beberapa kitab suci Buddha mencatat bahwa Maitreya saat ini mengajar di Surga Tusita, dan beberapa guru Asia Timur yang memuja Maitreya, seperti Xuanzang (abad ke-7), Kuiji, Wonhyo, dan Yijing, memiliki tekad untuk terlahir kembali di sana setelah kematian mereka.[26][36][37][38]
Xuanzang dikenal sebagai seorang pemuja Maitreya yang berikrar untuk terlahir kembali di istana Tusita dan di kemudian hari pada akhirnya akan turun bersama Buddha Maitreya ke dunia.[39] Sebuah episode terkenal selama perjalanan Xuanzang menggambarkan pengabdiannya kepada Maitreya. Ketika berlayar di Sungai Gangga, ia disusul oleh bajak laut yang akan mengorbankannya untuk Durga. Setelah meminta waktu hening sejenak untuk bermeditasi, Xuanzang bermeditasi pada Maitreya, berdoa agar ia terlahir kembali di Tusita bersamanya dan memusatkan pikirannya pada Bodhisatwa. Xuanzang kemudian mendapat penglihatan Maitreya duduk di singgasananya yang berkilauan di Tusita, dikelilingi oleh banyak dewa. Kemudian badai datang dan para perompak yang ketakutan, menjatuhkan diri mereka di kaki Xuanzang.[40]
Biksu-biksu Buddhis Tiongkok modern, seperti Xuyun, juga diketahui pernah bermimpi untuk pergi ke Surga Tusita.[41][42] Pemimpin gerakan pembaruan Tiongkok modern, Taixu, salah satu pendiri utama Buddhisme Humanistik, seorang biksu Buddhis Tiongkok yang sangat berpengaruh pada abad ke-20 juga merupakan seorang pemuja Maitreya. Dia dikenal telah mempromosikan praktik-praktik kebaktian dan liturgi yang berfokus pada Maitreya dan bahkan dikatakan telah menyebarkan “Aliran Tanah Suci Maitreya” (慈宗).[43] Taixu menyatakan bahwa Maitreya baru akan mencapai Kebuddhaan dan terlahir kembali di dunia baru miliaran tahun dari sekarang.[44] Taixu menafsirkan kedatangan Maitreya bukan sebagai suatu peristiwa pada masa depan yang harus ditunggu, melainkan sebagai inspirasi untuk membangun "Tanah Suci Maitreya" di dunia ini.[45] Ia menekankan bahwa praktik Buddhis harus berdampak pada kesejahteraan sosial, pendidikan, dan pembangunan masyarakat.
Pemujaan terhadap Maitreya paling banyak dipraktikkan dalam Buddhisme Mahayana Tiongkok, tetapi juga dapat ditemukan dalam agama-agama baru Tiongkok lainnya, seperti Yiguandao.[46][47]
Pemujaan Maitreya juga populer di Silla, Korea dan dalam agama Buddha Jepang.[48]
Maitreya merupakan tokoh sentral dalam aliran Yogacara Jepang (Hossō-shū), yang menganggap Maitreya sebagai pendiri tradisi tersebut. Pemujaan terhadap Maitreya (Miroku) secara luas dipromosikan selama periode Kamakura (1185–1333) oleh para cendekiawan Hossō-shū seperti Jōkei (1155–1213).[10]

Bhiksu dan pendiri aliran Shingon, Kukai, diyakini oleh penganut Shingon saat ini sedang dalam keadaan meditasi di Gunung Koya dan menanti kedatangan Maitreya. Mengikuti jejaknya, meditator Shingon kemudian mencoba untuk mengawetkan diri sendiri (dikenal sebagai Sokushinbutsu) melalui praktik asketis untuk juga menanti kedatangan Maitreya.[49]
Dimulai dari sekte Maitreya (yang pertama kali muncul pada abad ke-5) sampai dengan Sekte Seroja Putih (yang berakar pada abad ke-12), Maitreya telah menjadi bagian penting dari banyak sekte-sekte populer dan sekte-sekte agama keselamatan Tionghua. Dalam pandangan sekte-sekte tersebut, Maitreya dipandang sebagai “yang primordial” dan seorang pemimpin surgawi yang akan datang untuk mengubah dunia secara radikal. Mitos yang paling umum adalah bahwa Maitreya adalah penyelamat yang dikirim oleh Wuji Shengzu (無極生祖), yang pada abad ke-16 mulai tergantikan dengan Wusheng Laomu (Ibu Suri dari Barat) untuk menunjukkan kepada manusia jalan pulang menuju kampung halaman, tempat semua makhluk berasal.[50][51] Menurut beberapa agama keselamatan, kedatangan Maitreya bersifat imanen dan dia akan mengantarkan zaman akhir di mana semua makhluk akan dipersatukan kembali dengan Lao Mu, sebuah peristiwa yang disebut “shou yuan” (收圓).
Dalam agama keselamatan, Maitreya adalah tokoh kunci, seorang penyelamat besar, pelindung dan guru yang diutus oleh Lao Mu. Agama-agama ini mengklaim bahwa dunia akan segera berakhir dalam waktu dekat dan pada akhir zaman ini Maitreya akan berinkarnasi di Bumi untuk menyelamatkan umat manusia.[51] Umumnya tokoh-tokoh penting dan pendiri agama-agama keselamatan mengklaim diri sebagai titisan dari Maitreya. Salah satu contoh terkini dari sekte yang masuk dalam golongan ini adalah Yiguandao, agama keselamatan yang lahir pada abad ke-19. Maitreya di kalangan umat Yiguandao disebut dengan nama Mile Zushi (彌勒祖師, Eyang Guru / Sesepuh / Patriark Maitreya) karena diyakini telah menitis kembali ke dunia sebagai Lu Zhongyi dan menjadi juru selamat pada masa pancaran putih.
Dalam Teosofi, Maitreya (atau Lord Maitreya) memiliki berbagai aspek yang tidak hanya melambangkan Buddha masa depan, tetapi juga konsep serupa dari tradisi agama atau spiritual lainnya.[52] Bagi Teosofi modern, Maitreya adalah makhluk yang telah mencapai pencerahan tingkat tinggi dan merupakan anggota tingkat tinggi dari hierarki spiritual rahasia, Masters of the Ancient Wisdom. Para master ini memandu evolusi spiritual umat manusia, dan Maitreya dikatakan memegang “Jabatan Guru Dunia”. Sebagai guru dunia, Maitreya bertanggung jawab atas pengajaran dan bimbingan umat manusia. Seperti yang ditulis Annie Besant, Maitreya memiliki “tugas mengawasi nasib spiritual umat manusia; memandu, memberkati, dan memelihara berbagai agama di dunia, yang didirikan secara garis besar oleh dirinya sendiri.”[53]
Maitreya kadang-kadang dapat terinkarnasi di dunia untuk membimbing umat manusia secara langsung.[54] Beberapa Teosofis, seperti C. W. Leadbeater, berpendapat bahwa Maitreya sebelumnya terinkarnasi sebagai Kristus.[55] Pada awal abad ke-20, para Teosofis terkemuka meyakini bahwa kembalinya Maitreya sebagai “Guru Dunia” sudah dekat. Pada masa itu, seorang anak laki-laki dari Selatan India, Jiddu Krishnamurti, dianggap sebagai “sarana” bagi Maitreya; tetapi, pada usia 30-an, Krishnamurti secara pribadi menolak peran tersebut.[56]
Maitreya Teosofi melahirkan konsepsi Barat lebih lanjut tentang Maitreya sebagai Guru Dunia masa depan yang akan membawa era baru bagi evolusi spiritual manusia. Ajaran Para Mahatma juga mengandung ajaran tentang Maitreya. Berbagai pandangan mengenai Maitreya dapat ditemukan dalam kelompok-kelompok Zaman Baru dan Esoteris kontemporer.
Sejak perkembangan Teosofi pada akhir abad ke-19, berbagai agama dan gerakan spiritual telah mengadopsi dan menafsirkan ulang keyakinan-keyakinan lama dari Jainisme, Hindu, dan Buddhis tentang Maitreya. Share International, misalnya, menyamakan Maitreya dengan tokoh-tokoh yang diramalkan dalam berbagai tradisi agama, dan mengklaim bahwa Maitreya sudah ada di dunia ini tetapi sedang mempersiapkan diri untuk mengumumkan kehadirannya secara terbuka dalam waktu dekat. Mereka mengklaim bahwa ia hadir untuk menginspirasi umat manusia menciptakan era baru berdasarkan saling berbagi dan keadilan.[57]
Pada tahun 1911, Rudolf Steiner mengklaim, "Sekitar tiga ribu tahun setelah zaman kita, dunia akan mengalami inkarnasi Buddha Maitreya, yang akan menjadi inkarnasi terakhir Jeshu ben Pandira. Bodhisattva ini, yang akan datang sebagai Buddha Maitreya, juga akan datang dalam tubuh fisik pada abad ini dalam reinkarnasinya dalam badan manusia—tetapi bukan sebagai Buddha—dan ia akan menjalankan tugasnya untuk memberikan umat manusia semua konsep yang benar tentang Peristiwa Kristus." Steiner dengan hati-hati membedakan Jeshu ben Pandira sebagai sosok yang sepenuhnya berbeda dari Yesus dari Nazaret, karena Maitreya dikatakan sepenuhnya berbeda dari Yesus.[58][59]