Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Anikonisme dalam Buddhisme

Sejak dimulainya studi serius tentang sejarah seni Buddhis pada tahun 1890-an, fase paling awal Buddhisme, yang berlangsung hingga abad ke-1 M, digambarkan sebagai fase anikonis; Sang Buddha hanya direpresentasikan melalui simbol-simbol seperti singgasana kosong, pohon Bodhi, kuda tanpa penunggang dengan payung yang melayang di atas ruang kosong, jejak kaki Buddha, dan roda Dharma.

Wikipedia article
Diperbarui 22 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Anikonisme dalam Buddhisme
Anikonisme pada penggambaran kejadian Mukjizat di Kapilavastu. Perwujudan Sang Buddha digambarkan dengan singgasana kosong dan pohon Bodhi.[1]
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
  • Istilah
  • Indeks
  • Garis besar
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Mazhab
  • Konsensus pemersatu
Arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílè Dàdào
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Paritta
  • Sastra Pali
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Sutra Mahāyāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
  • Buddha
  • Bodhisatwa
  • Buddha masa ini:
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
  • 4 tempat suci utama:
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
  • Buddha masa lampau:
  • Kassapa
  • Koṇāgamana
  • Kakusandha
  • Vessabhū
  • Sikhī
  • Vipassī
  • dll.
  • Dīpaṅkara
  • Buddha masa depan:
  • Metteyya
  • Bawahan:
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
    • Kwan Im
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
Keyakinan
  • Ketuhanan
  • Hukum Alam
  • Pandangan
  • Kesesatan
  • Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia
  • Perlindungan
  • Pancasila
  • Karma
    • Kehendak
    • Akibat
  • Punarbawa
  • Alam Kehidupan
  • Samsara
  • Māra
  • Pencerahan
  • Nirwana
  • Acinteyya
Tiga corak
  • Ketidakkekalan
  • Penderitaan
  • Tanpa atma
Gugusan
  • Rupa
  • Kesadaran
  • Persepsi
  • Perasaan
  • Saṅkhāra
  • Nāmarūpa
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Kontak indra
  • Kemunculan Bersebab
Faktor mental
  • Malu
  • Takut
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Delusi
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Kewawasan
  • Bodhipakkhiyā
  • dll.
Meditasi
  • Samatha-vipassanā
    • Jhāna
    • Satipaṭṭhāna
    • Sampajañña
    • Kammaṭṭhāna
      • Anussati
        • Maraṇasati
        • Ānāpānasati
      • Paṭikūlamanasikāra
    • Brahmawihara
      • Cinta kasih
      • Belas kasih
      • Simpati
      • Ketenangan / Keseimbangan batin
  • Abhiññā
    • Iddhi
Bakti
  • Puja
  • Pelimpahan jasa
  • Namaskara
  • Pradaksina
  • Pindapata
  • Ziarah
Praktik lainnya
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Dana
  • Sila
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Usaha
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Astasila
  • Fangseng
  • Sādhu
  • Sangha
  • Parisā
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Pandita
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
  • Kepala wihara
  • Saṅgharāja
Murid penting
  • Biksu:
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • Mahākassapa
  • Ānanda
  • 10 murid utama
  • Biksuni:
  • Pajāpatī Gotamī
  • Khemā
  • Uppalavaṇṇā
  • Kisā Gotamī
  • Upasaka:
  • Tapussa dan Bhallika
  • Anāthapiṇḍika
  • Citta
  • Hatthaka
  • Upasika:
  • Sujātā
  • Khujjuttarā
  • Veḷukaṇḍakiyā
  • Visākhā
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Dhammasālā
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Kelenteng
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Magha
  • Waisak
  • Asalha
  • Kathina
  • Uposatha
  • Hari Lahir Buddha
  • Hari Bodhi
  • Hari Abhidhamma
  • Ulambana
  • Hari Parinirwana
  • Budaya
  • Masyarakat
Produk
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Bendera
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Darmacakra
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Humanisme
  • Kalender
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Sarira
    • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seni rupa
Hubungan dengan …
  • Agama timur
  • Baháʼí
  • Dunia Romawi
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Hinduisme
  • Jainisme
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Penindasan
  • Yahudi
Pandangan tentang …
  • Aborsi
  • Anikonisme
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Ilmu pengetahuan
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Masturbasi
  • Orientasi seksual
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarianisme
  •  Portal Buddhisme
  • l
  • b
  • s
Anikonisme
Agama di Indonesia
  • Buddha
  • Islam
  • Kekristenan
Agama lainnya
  • Bahá'í
  • Yahudi
  • l
  • b
  • s

Sejak dimulainya studi serius tentang sejarah seni Buddhis pada tahun 1890-an, fase paling awal Buddhisme, yang berlangsung hingga abad ke-1 M, digambarkan sebagai fase anikonis; Sang Buddha hanya direpresentasikan melalui simbol-simbol seperti singgasana kosong, pohon Bodhi, kuda tanpa penunggang dengan payung yang melayang di atas ruang kosong (di Sanchi), jejak kaki Buddha, dan roda Dharma.[2]

Latar belakang historis

Aturan monastik Sarvāstivāda

Anikonisme dalam kaitannya dengan perwujudan Buddha ini sesuai dengan aturan suatu aliran Buddhis kuno yang melarang untuk menampilkan penggambaran seni Sang Buddha dalam wujud manusia, yang diketahui dari Vinaya (peraturan kerahiban) aliran Sarvāstivāda:

"Oleh karena tidak diperbolehkan membuat perwujudan tubuh Buddha, saya menyampaikan aspirasi agar Buddha mengabulkan perizinan untuk dapat membuat perwujudan Bodhisatwa pengiring. Apakah itu dapat diterima?" Sang Buddha menjawab: "Anda boleh membuat perwujudan Bodhisatwa".[3]

Representasi antropomorfik pertama

Meskipun masih ada perdebatan, representasi antropomorfik pertama dari Buddha sendiri sering dianggap sebagai hasil interaksi Buddhisme dengan budaya Yunani, khususnya di Gandhāra, sebuah teori yang pertama kali dijelaskan secara lengkap oleh Alfred A. Foucher, tetapi dikritik sejak awal oleh Ananda Coomaraswamy. Foucher juga menjelaskan asal-usul simbol anikonis itu sendiri dalam suvenir kecil yang dibawa dari situs ziarah utama sehingga dikenal dan dipopulerkan sebagai simbol peristiwa yang terkait dengan situs tersebut. Penjelasan lainnya adalah pandangan kuno yang menganggap bahwa penggambaran yang mewakili seseorang yang telah mencapai Nirwana merupakan suatu hal yang tidak pantas.[4]

Perdebatan akademis

Namun, pada tahun 1990, gagasan anikonisme dalam agama Buddha ditentang oleh Susan Huntington, yang memicu perdebatan sengit di antara para ahli yang masih berlanjut.[5] Ia berpendapat bahwa penggambaran adegan-adegan yang diklaim anikonis sebenarnya karena penggambaran tersebut tidak menggambarkan adegan yang fokus pada perwujudan Sang Buddha, melainkan fokus pada perwujudan tempat terjadinya adegan tersebut. Oleh karena itu, penggambaran singgasana yang kosong semata-mata menggambarkan singgasana peninggalan di Bodh Gaya atau di berbagai tempat lain. Dia menunjukkan fakta bahwa, sejauh ini, hanya ada satu sumber referensi tidak langsung terkait aturan anikonis dalam agama Buddha, dan referensi tersebut hanya berkaitan dengan satu aliran saja, yaitu Sarvāstivāda.[2]

Mengenai bukti arkeologis, terdapat temuan bahwa beberapa patung antropomorfik Sang Buddha sebenarnya sudah ada selama periode yang dianggap anikonik tersebut, yang berakhir pada abad ke-1 Masehi.[butuh rujukan] Huntington juga menolak pengaitan antara seni "anikonik" dan "ikonik" dengan munculnya perpecahan antara aliran Buddha Theravāda dan Mahāyāna. Pandangan Huntington ini telah disanggah oleh Vidya Dehejia dan akademisi lainnya.[6] Meskipun beberapa contoh yang lebih awal telah ditemukan dalam beberapa tahun terakhir, telah menjadi kesepahaman umum bahwa arca ikonik Sang Buddha yang berdiri bebas dan berukuran besar, yang sangat menonjol dalam seni buddhis di kemudian hari, tidak ditemukan pada periode paling awal; diskusi justru berfokus pada figur-figur yang lebih kecil pada panel relief, yang secara konvensional dianggap mewakili adegan-adegan dari kehidupan Sang Buddha, dan kini ditafsirkan ulang oleh Huntington dan para pendukungnya.

Kitab komentar Theravāda

Dalam literatur Pali Theravāda, dasar tekstual mengenai keengganan untuk membuat Buddharūpa (patung atau citra Buddha) semasa hidup-Nya bersumber dari kitab ulasan (aṭṭhakathā), secara spesifik pada kisah pengantar Kāliṅgabodhi Jātaka (Jātaka No. 479).[7] Saat mendiskusikan kelayakan objek penghormatan (cetiya), Buddha Gotama menolak pembuatan uddesika cetiya (objek indikatif atau representasi seperti patung) untuk mewakili diri-Nya. John Strong mencatat bahwa menurut kitab ulasan tersebut, Sang Buddha menganggap representasi buatan manusia semacam itu "tidak berdasar" (avatthuka) karena wujudnya semata-mata hanyalah produk pikiran atau imajinasi (manamattaka).[8] Oleh karena itu, pembuatan patung dipandang tidak memiliki landasan yang bermakna selama Sang Buddha masih hidup.

"Ada berapa jenis objek penghormatan (cetiya)?" — "Tiga, Ānanda." — "Apa saja itu?" — "Objek penghormatan berupa relik jasmani, benda yang pernah digunakan, dan representasi peringatan." — "Bolehkah sebuah objek penghormatan didirikan, Yang Mulia, semasa hidup-Mu?" — "Tidak, Ānanda, tidak untuk relik jasmani; jenis itu dibuat ketika seorang Buddha memasuki Nibbāna (parinibbāna). Sebuah representasi peringatan (uddesika cetiya; objek indikatif atau representasi seperti patung untuk mewakili diri-Nya) adalah tidak tepat karena hubungannya hanya bergantung pada imajinasi semata. Namun, pohon Bodhi agung yang pernah digunakan oleh para Buddha layak dijadikan objek penghormatan, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah wafat."[7]

Anikonisme dan antropomorfisme

Beberapa penggambaran anikonis yang dapat ditemukan dalam berbagai karya seni Buddhis kuno:[9][4]

  • Pilar dengan Naga Mucalinda yang sedang melindungi singgasana Sang Buddha. Pilar pagar dari Jagannath Tekri, Pauni (Distrik Bhandara). Abad ke-2 hingga ke-1 SM. National Museum of India.
    Pilar dengan Naga Mucalinda yang sedang melindungi singgasana Sang Buddha. Pilar pagar dari Jagannath Tekri, Pauni (Distrik Bhandara). Abad ke-2 hingga ke-1 SM. National Museum of India.
  • Representasi anikonis dari serangan Māra terhadap Buddha, dengan singgasana kosong, abad ke-2, Amaravati, India.
    Representasi anikonis dari serangan Māra terhadap Buddha, dengan singgasana kosong, abad ke-2, Amaravati, India.
  • Pengabdian kepada singgasana Buddha yang kosong, Kanaganahalli, abad ke-1 hingga ke-3 Masehi
    Pengabdian kepada singgasana Buddha yang kosong, Kanaganahalli, abad ke-1 hingga ke-3 Masehi

Tergantung pada aliran seni atau periodenya, Sang Buddha hanya dapat digambarkan dengan simbol-simbol terkait, atau dalam bentuk antropomorfologis, dalam karya seni serupa.[4][10]

Sanchi dan Seni Buddhis-Yunani Gandhāra
Mimpi Ratu Māyā Keberangkatan Agung Serangan Māra Pencerahan Sang Buddha Berkhotbah
Sanchi

(abad ke-1 SM)

Mimpi Ratu Māyā, ibu Sang Buddha, tentang seekor gajah putih.

Sang Buddha, di bawah payung kereta, tidak diilustrasikan.

Sang Buddha dilambangkan dengan singgasana yang kosong.

Sang Buddha dilambangkan dengan singgasana yang kosong.

Sang Buddha dilambangkan dengan singgasana yang kosong.

Seni Buddhis-Yunani

Gandhāra (abad ke-1 M-abad ke-4 M)

Ilustrasi yang sangat mirip dari Gandhāra.

Perwujudan manusia dari Sang Buddha meninggalkan kota.

Perwujudan Sang Buddha diilustrasikan secara terpusat.

Perwujudan Sang Buddha diilustrasikan secara terpusat.

Perwujudan Sang Buddha diilustrasikan secara terpusat.

Periode selanjutnya

Pada periode-periode selanjutnya, kedua aliran utama agama Buddha banyak memanfaatkan seni representasional. Wihara beraliran Theravāda dan situs-situs lain biasanya berkonsentrasi pada satu perwujudan Buddha berukuran besar, sedangkan wihara beraliran Mahāyāna memiliki jumlah patung yang lebih banyak dari figur-figur yang lebih beragam dengan variasi tingkat signifikansi spiritual yang berbeda-beda. Akan tetapi, beberapa tradisi, seperti Buddhisme Zen di Jepang dan beberapa ordo Theravāda Myanmar, juga menunjukkan kecenderungan umum terhadap anikonisme.

Ordo Theravāda Myanmar

Lihat pula: Theravāda § Ordo monastik

Para anggota ordo Hngettwin Gaing, sebuah ordo Theravāda dari Myanmar, tidak menggunakan buddharūpa (rupang Buddha) sebagai media pemujaan, dan lebih memilih untuk secara langsung menghormati dengan perenungan-perenungan terhadap Buddha serta ajaran-ajaran Buddha.[11] Demikian pula dengan para pengikut Tai Zawti, sebuah sekte yang tergabung dalam ordo Sudhammā Gaing. Mereka mempertahankan praktik anikonik dengan tidak menempatkan rupang Buddha di rumah mereka, melainkan memilih untuk meletakkan lik long (naskah daun lontar) berisi teks-teks dari kitab suci buddhis di atas altar mereka.[12]

Referensi

  1. ↑ Marshall hal.58 Third Panel
  2. 1 2 S. L. Huntington, Early Buddhist art and the theory of aniconism, Art Journal, 49:4 (1990): 401–8.
  3. ↑ Rhi, Ju-Hyung (1994). "From Bodhisattva to Buddha: The Beginning of Iconic Representation in Buddhist Art". Artibus Asiae. 54 (3/4): 220–221. doi:10.2307/3250056. JSTOR 3250056.
  4. 1 2 3 Krishan, Yuvraj; Tadikonda, Kalpana K. (1996). The Buddha Image: Its Origin and Development (dalam bahasa Inggris). Bharatiya Vidya Bhavan. ISBN 978-81-215-0565-9.
  5. ↑ Lihat note 7 di sini untuk pembaruan mengenai kontroversi tersebut pada tahun 2007, dan di sini untuk pembaruan lainnya dari tahun 2001.
  6. ↑ (Huntington 1990) dan di sini
  7. 1 2 Rouse, W.H.D. "Kālingabodhi Jātaka (Ja 479)". SuttaCentral. Diakses tanggal 21 April 2026.
  8. ↑ Strong, John (2004). Relics of the Buddha. Princeton University Press. hlm. 19–20. ISBN 978-0691117645.
  9. ↑ "The bas-relief at Pauni or Bharhut in India, which dates back to about the second century B.C., represents a vacant throne protected by a naga with many heads. It also bears an inscription of the Naga Mucalinda (Fig. 3)" SPAFA Digest: Journal Of SEAMEO Project in Archaeology and Fine Arts (SPAFA) (dalam bahasa Inggris). SPAFA Co-ordinating Unit. 1987. hlm. 4.
  10. ↑ Dehejia, Vidya (1991). "Aniconism and the Multivalence of Emblems". Ars Orientalis. 21: 45–66. ISSN 0571-1371. JSTOR 4629413.
  11. ↑ "Hngettwin Nikaya". Diarsipkan dari asli tanggal 2006-10-06. Diakses tanggal 2010-08-27.
  12. ↑ Porter, Olivia (2021). "Who are the Tai Zawti? Hidden in Plain Sight" (PDF). Diakses tanggal November 11, 2025.

Daftar pustaka

  • S. L. Huntington, Early Buddhist art and the theory of aniconism, Art Journal, 49:4 (1990): 401–8. ]
  • Krishan, Yuvraj, The Buddha image: its origin and development, 1996, Bharatiya Vidya Bhavan, ISBN 81-215-0565-8, ISBN 978-81-215-0565-9. - a clear and well-illustrated account of the traditional view
  • Rob Linrothe, Inquiries into the Origin of the Buddha Image: A Review. In: East and West, 43 (1993): 241–256.
  • l
  • b
  • s
   Topik Buddhisme   
  • Outline Garis besar
  • Daftar istilah
  • Indeks
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Konsensus pemersatu
Aliran arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílèdàdào
  • Dhammakāya
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Sastra Pali
  • Paritta
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
Kitab daring
  • SuttaCentral
  • Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka
  • dhammatalks.org
  • 84000
  • NTI Reader - Taishō
  • Buddha
  • Bodhisatwa
Buddha saat ini dan keluarga
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
4 tempat suci utama
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
Buddha penting sebelumnya
  • Dīpaṅkara
  • Vipassī
  • Sikhī
  • Vessabhū
  • Kakusandha
  • Koṇāgamana
  • Kassapa
Buddha selanjutnya
  • Metteyya
Bawahan
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
  • Empat Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia Berunsur Delapan
  • Trilaksana
    • Ketidakkekalan
    • Penderitaan
    • Tanpa atma
  • Pandangan
  • Titthiya
  • Ketuhanan
  • Niyāma
  • Keyakinan
  • Triratna
  • Pancasila
  • Māra
  • Karma
  • Nirwana
  • Kemunculan Bersebab
  • Gugusan
    • Materi
    • Kesadaran
    • Persepsi
    • Perasaan
    • Saṅkhāra
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Loka
  • Punarbawa
  • Samsara
  • Bodhi
  • Abhiññā
  • Cetasika
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Moha
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Perhatian penuh
  • Bodhipakkhiyā
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Malu
  • Takut
  • Dana
  • Sila
  • Meditasi
    • Samatha-vipassanā
    • Ānāpānasati
    • Satipaṭṭhāna
    • Kammaṭṭhāna
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Energi
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Brahmavihāra
    • Cinta kasih
    • Karuna
    • Simpati
    • Ketenangan
    • Keseimbangan batin
  • Astasila
  • Bakti
    • Puja
    • Namaskara
    • Pradaksina
    • Pindapata
    • Pelimpahan jasa
    • Ziarah
  • Sādhu
  • Sangha
  • Majelis
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • 10 murid utama Buddha Gotama
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Waisak
  • Asalha
  • Magha
  • Kathina
  • Hari Abhidhamma
  • Uposatha
  • Budaya
  • Masyarakat
  • Aborsi
  • Agama-agama Timur
  • Anikonisme
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Baháʼí
  • Bendera Buddhis
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Darmacakra
  • Dunia Romawi
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Hinduisme
  • Humanisme
  • Ilmu pengetahuan
  • Jainisme
  • Kalender
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Masturbasi
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Orientasi seksual
  • Penindasan
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Seni rupa
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarisme
  • Yahudi
  • Category Kategori
  •  Portal Agama
  •  Portal Buddhisme

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang historis
  2. Aturan monastik Sarvāstivāda
  3. Representasi antropomorfik pertama
  4. Perdebatan akademis
  5. Kitab komentar Theravāda
  6. Anikonisme dan antropomorfisme
  7. Periode selanjutnya
  8. Ordo Theravāda Myanmar
  9. Referensi
  10. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Ketuhanan dalam Buddhisme

konsep ketuhanan dalam Buddhisme

Buddhisme

Agama dan tradisi filosofis dari anak benua India

Kewawasan (Buddhisme)

konsep pemusatan batin atau kesadaran penuh dalam Buddhisme

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026