Mūladvāra Nikāya atau Mūladvāra Gaing, juga dikenal sebagai Dhammavinayānuloma Mūladvāra, adalah sebuah ordo sangha dalam Buddhisme di Myanmar. Menurut Undang-Undang Organisasi Sangha tahun 1990, ordo ini merupakan salah satu dari sembilan ordo monastik yang diakui secara hukum di negara tersebut.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Mūladvāra Nikāya atau Mūladvāra Gaing (bahasa Burma: မူလဒွါရဂိုဏ်းcode: my is deprecated ), juga dikenal sebagai Dhammavinayānuloma Mūladvāra, adalah sebuah ordo sangha dalam Buddhisme di Myanmar. Menurut Undang-Undang Organisasi Sangha tahun 1990, ordo ini merupakan salah satu dari sembilan ordo monastik yang diakui secara hukum di negara tersebut.[1]
Ordo ini didirikan oleh Ingapu Sayadaw setelah ia memisahkan diri dari Mahādvāra Nikāya pasca kemangkatan Okpo Sayadaw,[2] terutama karena perbedaan pendapat terkait jadwal untuk mengamalkan uposatha.[3][4]
Pada tahun 1214 Era Burma (sekitar 1852 M), di masa pemerintahan Inggris di Region Ayeyarwady, Sayadaw Ashin Ukkamsa Vimala dari kota Okpho (sekarang kota Ingapu) berselisih dengan para Sayadaw anggota ordo Sudhammā (Thudhamma Gaing) yang berada di bawah kekuasaan Inggris. Okpho Sayadaw kemudian memisahkan diri dan membentuk ordo (nikāya) terpisah bersama para biku muridnya.[3][5][6]
Perselisihan ini dipicu oleh persoalan penahbisan (upasampadā) di sīmā air (ye sim).[3][5][6] Selain itu, Okpho Sayadaw memutuskan bahwa ketika memberi penghormatan kepada Sang Buddha, seseorang tidak boleh melakukannya dengan mengucapkan kāyakamma, vacīkamma, dan manokamma (perbuatan/karma jasmani, ucapan, pikiran).[2] Menurutnya, yang benar adalah memberi penghormatan dengan konsep dvāra (pintu), yaitu dengan mengucapkan kāyadvāra, vacīdvāra, dan manodvāra (pintu jasmani, pintu ucapan, pintu pikiran).[2][note 1] Ia juga berpendapat bahwa Sangha dapat mengatur dirinya sendiri tanpa seorang Dhammarāja jika para biku secara ketat mengikuti Vinaya (disiplin monastik), menekankan niat moral dan menantang otoritas kerajaan dalam penahbisan.[6]
Kyìthè Layhtat Sayadaw (dari ordo Thudhamma), penulis kitab Jinattha-pakāsanī, membantah pandangan tentang penghormatan tersebut, dan berpendapat bahwa penghormatan dengan konsep kamma (perbuatan), alih-alih dvāra (pintu), adalah yang benar. Oleh karena itu, di Myanmar Bawah (Lower Myanmar), ordo yang dibentuk Okpho Sayadaw disebut Dvāra Gaing ("Ordo Pintu"), sedangkan ordo Thudhamma disebut Kamma Gaing ("Ordo Karma"). Namun belakangan, sebutan Kamma Gaing tidak lagi digunakan, dan kembali disebut sebagai Thudhamma Gaing.[3]
Ordo-ordo Dvāra ini kemudian terpecah lagi menjadi 3 jenis, yaitu:
Pada tahun 1918, setelah Okpo Sayadaw mangkat, meskipun para anggota ordo Mahādvāra kembali menerima praktik uposatha pada hari bulan purnama dan bulan baru bersama dengan para anggota dari ordo lain, beberapa anggota dari ordo Mahādvāra tetap melaksanakan uposatha dengan memasuki sima pada hari pertama setelah bulan purnama (tanggal 1 pāṭipada gelap) dan hari pertama bulan baru (tanggal 1 pāṭipada terang), sesuai dengan prinsip yang telah ditetapkan oleh Okpo Sayadaw. Para anggota dari Mahādvāra yang tetap mempertahankan praktik asli atau awal (mūla) itu kemudian disebut Mūla-dvāra (Dvāra Asli).[3][4]
Di depan nama Mūla Dvāra, ditambahkan atribut 'Dhammavinayānuloma', yang bermakna "golongan yang sesuai dengan Dhamma (Sutta dan Abhidhamma) dan juga Vinaya" sehingga nama lengkapnya disebut sebagai ordo 'Dhammavinayānuloma Mūla Dvāra Nikāya'.[3]