Bhayabherava Sutta adalah diskursus keempat dalam kelompok diskursus Mūlapannāsapāli, Majjhima Nikāya. Diskursus ini menjelaskan tentang Kekhawatiran dan Ketakutan yang muncul pada saat menjalani keterasingan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bhayabherava Sutta Kekhawatiran dan Ketakutan | |
|---|---|
| Jenis | Teks kanonis |
| Induk | Majjhimanikāya |
| Singkatan | MN 4 |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Bhayabherava Sutta (MN4, Kekhawatiran dan Ketakutan) adalah diskursus keempat dalam kelompok diskursus Mūlapannāsapāli, Majjhima Nikāya. Diskursus ini menjelaskan tentang Kekhawatiran (Pali: bhaya) dan Ketakutan (Pali: bherava) yang muncul pada saat menjalani keterasingan.
Diskursus ini disampaikan Sang Buddha pada saat seorang brahmana bernama Jāṇussoṇi[a] bertanya kepada-Nya mengenai kehidupan dalam keterasingan.[1] Sang Buddha kemudian menceritakan pengalaman pribadi-Nya sendiri pada saat belum mencapai Pencerahan, yaitu tentang ketakutan-ketakutan yang dihadapinya selama bertapa di di hutan atau tempat-tempat yang terpencil (Pali: arañña). Sang Buddha menjelaskan bahwa sebelum seseorang tinggal di hutan, ia harus memeriksa dirinya dan memastikan bahwa ia terbebas dari segala bentuk perilaku dan batin yang dapat menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan, yaitu:[2]
Sang Buddha menyatakan bahwa jika seorang pertapa memiliki kekurangan moral atau batin seperti yang disebutkan di atas, ia akan selalu diliputi rasa takut dan kekhawatiran akibat kekotoran batin selama berada di tempat yang terasing. Sebaliknya, karena Sang Buddha melihat kemurnian semua kualitas ini dalam diri-Nya, Ia merasa aman dan nyaman untuk tinggal di hutan.
Sang Buddha kemudian menceritakan bagaimana ia melakukan praktik menghadapi kekhawatiran dan ketakutan yang muncul saat berada di hutan, alih-alih melarikan diri darinya. Sang Buddha berpikir: "Mengapa Aku berdiam dengan selalu menanti kekhawatiran dan ketakutan? Bagaimana jika Aku menaklukkan kekhawatiran dan ketakutan itu sambil mempertahankan postur yang sama dengan ketika hal itu mendatangiKu?"
Ini menunjukkan tekad yang kuat (Pali: virya) untuk tidak membiarkan ketakutan mengganggu latihannya dan bahwa ketenangan batin sejati tidak tergantung pada postur tubuh atau lingkungan luar.
Sang Buddha kemudian berkata bahwa makhluk dengan sifat tanpa delusi yang akan memberi manfaat, kesejahteraan dan kebahagiaan pada dunia. Usaha menjadi makhluk seperti itu dimulai oleh Sang Buddha yang dengan gigih dan perhatian penuh, tenang dan tidak terganggu, serta konsentrasi penuh sehingga terbebas dari nafsu-nafsu duniawi, kondisi-kondisi mental yang tidak baik dan mencapai 4 tingkatan absorpsi meditatif (Pali: jhāna). Ketika batin telah sedemikian terpusat, murni, bersih tanpa noda, tanpa cacat, lentur, kokoh, stabil dan mencapai keadaan yang tidak terganggu membuat Sang Buddha mengetahui tiga pengetahuan sejati (Pali: visso vijjā) selama tiga jaga malam, yaitu: