Anaṅgaṇa Sutta adalah diskursus kelima dalam kelompok diskursus Mūlapannāsapāli, Majjhima Nikāya. Diskursus ini disampaikan di wihara Jetavana dan berisi dialog antara Sāriputta dan Mahāmoggallāna yang membahas tentang empat keadaan batin seseorang terkait cela atau noda (Pali:aṅgaṇa), yaitu keadaan batin yang bersih atau bernoda, serta bagaimana orang itu mengetahui atau tidak mengetahui keadaan batinnya sendiri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Anaṅgaṇa Sutta Tanpa Noda | |
|---|---|
| Jenis | Teks kanonis |
| Induk | Majjhimanikāya |
| Singkatan | MN 5 |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Anaṅgaṇa Sutta (MN5, Tanpa Noda) adalah diskursus kelima dalam kelompok diskursus Mūlapannāsapāli, Majjhima Nikāya. Diskursus ini disampaikan di wihara Jetavana dan berisi dialog antara Sāriputta dan Mahāmoggallāna yang membahas tentang empat keadaan batin seseorang terkait cela atau noda (Pali:aṅgaṇa), yaitu keadaan batin yang bersih atau bernoda, serta bagaimana orang itu mengetahui atau tidak mengetahui keadaan batinnya sendiri.
Sāriputta menyebutkan empat jenis orang berkaitan dengan noda, yaitu sebagai berikut:[1][2]
Disebutkan bahwa orang yang memiliki noda dan benar-benar mengetahui bahwa dirinya memiliki noda adalah orang yang lebih unggul (Pali: seṭṭha) daripada yang tidak mengetahuinya. Begitu pula orang yang tidak memiliki noda dan benar-benar mengetahuinya adalah orang yang lebih unggul daripada yang tidak mengetahuinya. Sāriputta menggunakan piring perunggu sebagai perumpamaan, di mana piring perunggu yang menjadi kotor atau bersih tergantung bagaimana diperlakukan.[3]
Noda yang dimaksud adalah keinginan-keinginan yang tidak bermanfaat. Sariputta memberikan penjelasan mengenai noda yang berupa keinginan-keinginan yang muncul di kalangan para biku, antara lain yang disebabkan karena:[4][5]
Semua bentuk kecemburuan, keangkuhan, dan ketidakpuasan adalah noda batin. Seorang biku yang masih memiliki keinginan-keinginan tidak bermanfaat tersebut, meskipun ia hidup mengasingkan diri, menjalankan cara hidup sederhana tetap tidak akan dihormati, sementara biku yang telah meninggalkan noda-noda tersebut akan dihormati.[6]
Setelah mendengar perkataan Sariputta, Moggallāna menyampaikan perumpamaan tentang seorang pertapa dan pembuat roda yang menyerut dan menghaluskan cacat-cacat pada pelek roda sehingga menjadi pelek roda yang melengkung bersih.