Siddhattha Gotama, pendiri Buddhisme, juga dihormati sebagai manifestasi Tuhan dalam Hinduisme dan Iman Baháʼí. Beberapa teks Hindu menganggap Sang Buddha sebagai avatar dewa Wisnu, yang datang ke Bumi untuk menipu makhluk agar menjauh dari agama Weda. Beberapa Muslim non-denominasi dan Quranis percaya bahwa dia adalah seorang nabi. Ia juga dianggap sebagai nabi oleh Ahmadiyah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Siddhattha Gotama, pendiri Buddhisme, juga dihormati sebagai manifestasi Tuhan dalam Hinduisme dan Iman Baháʼí.[1] Beberapa teks Hindu menganggap Sang Buddha sebagai avatar dewa Wisnu, yang datang ke Bumi untuk menipu makhluk agar menjauh dari agama Weda.[2] Beberapa Muslim non-denominasi dan Quranis percaya bahwa dia adalah seorang nabi. Ia juga dianggap sebagai nabi oleh Ahmadiyah.[3]
Agama Buddha telah memainkan peranan penting dalam perkembangan kebudayaan dan agama-agama Asia Timur seperti Taoisme dan Kong Hu Cu di Cina dan Shinto di Jepang. Bahkan beberapa Taoist-Buddhis Cina awal menganggap Buddha sebagai reinkarnasi dari Lao Tzu.[4]
Di Jepang, karena salah satu simbol Dainichi Nyorai (salah satu dari Buddha non-historis dalam Buddhisme Mahayana) adalah matahari, banyak yang beranggapan bahwa Amaterasu, Dewi Matahari (dewa utama dalam keyakinan Shinto), adalah reinkarnasi dari bodhisattwa Dainichi Nyorai.
Mirza Tahir Ahmad, Khalifah ke-4 dari komunitas Muslim Ahmadiyah, di dalam bukunya Revelation, Rationality, Knowledge & Truth, menyebutkan bahwa Buddha sesungguhnya adalah seorang Nabi Tuhan yang mengajarkan monotheisme. Dia mengutip dari inskripsi stupa Ashoka yang menyebutkan "Isa'na" yang berarti Tuhan.[5] Komunitas Muslim Ahmadiyah memegan pandangan bahwa Buddha sesungguhnya adalah nabi yang menerima wahyu dari Tuhan.
Mirza Tahir Ahmad juga menyebutkan bahwa salah satu figur Qur'an yang disebut Zulkifli bisa jadi adalah Buddha.[6]
Legenda Yunani "Barlaam dan Josaphat", yang kemudian menjadi cerita utama dari Santo dalam agama Kristen dan kemudian menyebar luas dalam berbagai versi termasuk bahasa Arab dan Georgia sesungguhnya berasal dari cerita kehidupan Buddha Gautama. Raja yang berubah menjadi seorang biarawan (Georgia Iodasaph, Arab Yūdhasaf atau Būdhasaf: dalam bahasa Arab "b" dapat dibaca "y").[7][8]
Cerita ini diterjemahkan kedalam bahasa Hebrew pada abad ke-13 Masehi oleh Abraham Ibn Chisdai (atau Hasdai) sebagai "Ben-Hamelekh Vehanazir" ("Sang Pangeran dan orang-orang Nazirite"), dan dibaca luas oleh umat Yahudi saat ini.[9]
Menurut pandangan Bahá'í, Buddha diklasifikasikan sebagai salah satu menifestasi (perwujudan) Tuhan dan merupakan salah satu nabi utama dalam keyakinan Bahá'í.[10] Demikian pula, nabi Bahá'í yakni Bahá'u'lláh, disebut sebagai Buddha Kelima.[11]