Dalam Buddhisme, sebuah belenggu batin, rantai batin, atau ikatan batin mengikat mahkluk hidup pada samsara. Dengan meyingkirkan seluruh belenggu secara bertahap, seseorang mencapai Nirwana melalui empat tingkat kemuliaan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Terjemahan dari saṃyojana | |
|---|---|
| Indonesia | belenggucode: id is deprecated |
| Inggris | fetter |
| Pali | saṃyojanacode: pi is deprecated |
| Sanskerta | संयोजनcode: sa is deprecated (IAST: saṃyojana) |
| Tionghoa | 結code: zh is deprecated (Pinyin: jiécode: pny is deprecated ) |
| Jepang | 結code: ja is deprecated (rōmaji: yuicode: ja is deprecated ) |
| Korea | 결code: ko is deprecated (RR: gyeolcode: ko is deprecated ) |
| Bengali | বন্ধনcode: bn is deprecated |
| Myanmar | သံယောဇဉ်code: my is deprecated (MLCTS: san yaw jaincode: my is deprecated ) |
| Thai | สังโยชน์ (IPA: sǎŋ jôːt)code: th is deprecated |
| Vietnam | kiết sửcode: vi is deprecated |
| Lao | ປຸຖຸຊົນcode: lo is deprecated |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam Buddhisme, sebuah belenggu batin, rantai batin, atau ikatan batin (Pali: saṁyojana, saññojana; Sanskerta: संयोजन, saṁyojana; KBBI: samyojana) mengikat mahkluk hidup pada samsara (lingkaran punarbawa yang disertai penderitaan). Dengan meyingkirkan seluruh belenggu secara bertahap, seseorang mencapai Nirwana melalui empat tingkat kemuliaan.
Belenggu, bersama-sama dengan rintangan dan berbagai faktor mental tidak baik lainnya, merupakan bagian dari pengotor batin (kilesa).[1]
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Dalam Tripitaka Pali, kata "belenggu" digunakan untuk menjelaskan fenomena intrapsikis yang mengikat seseorang pada penderitaan. Sebagai contoh, dalam kitab Itivuttaka (Taṇhāsaṁyojana Sutta, Iti 15)[2] yang merupakan bagian dari Khuddaka Nikāya, Buddha menyatakan:
Di bagian kitab suci lainnya, penderitaan yang disebabkan oleh belenggu-belenggu dijelaskan secara tersirat dalam sebuah percakapan teknis antara Sāriputta dan Kotthita dalam Koṭṭhita Sutta (SN 35.232):
Belenggu dijelaskan dan diurutkan dengan cara yang berbeda dalam daftar-daftar di Sutta Piṭaka dan Abhidhamma Piṭaka dalam Tripitaka Pali.
Sutta Piṭaka dalam Tripitaka Pali menjelaskan sepuluh "belenggu eksistensi atau keberadaan":[note 2]
| Bodhi | Punarbawa | Belenggu yang disingkirkan | |
|---|---|---|---|
| sotāpanna | ± tujuh kali; manusia atau dewa |
1. pandangan salah terhadap jati diri (sakkāya-diṭṭhi) 2. keraguan (vicikicchā) 3. kemelekatan pada ritual dan adat (sīlabbata-parāmāsa) |
belenggu rendah (no. 4 dan 5 dilemahkan sakadāgāmi) |
| sakadāgāmi | sekali lagi; manusia | ||
| anāgāmi | sekali lagi; suddhāvāsa |
4. hasrat indrawi (kāmacchanda) 5. rasa benci (vyāpāda/byāpāda) | |
| arahat | tidak ada | 6. nafsu punarbawa di alam materi (rūparāga) 7. nafsu punarbawa di alam nonmateri (arūparāga) 8. kesombongan (māna) 9. kebingungan (uddhacca) 10. ketidaktahuan (avijjā) |
belenggu tinggi |
Sebagaimana ditampilkan pada tabel, di dalam Sutta Piṭaka, lima belenggu pertama dirujuk sebagai "belenggu-belenggu rendah" (orambhāgiyāni saṃyojanāni) dan disingkirkan segera setelah seseorang mencapai tingkat sotāpanna; dan lima belenggu terakhir dirujuk sebagai "belenggu-belenggu tinggi" (uddhambhāgiyāni saṃyojanāni), disingkirkan oleh seorang arahat.[note 14]
Dalam Saṅgīti Sutta (DN 33) dan kitab Dhammasaṅgaṇī (Dhs. 1002-1006), dijelaskan "tiga belenggu" yang sama seperti tiga belenggu pertama dalam daftar sepuluh jenis belenggu menurut Sutta Piṭaka yang telah disebutkan di atas:
Menurut Tripitaka Pali, tiga belenggu telah diberantas oleh para pemasuk-arus (sotāpanna) dan kembali-sekali (sakadāgāmi).[note 16]
Kitab Dhammasaṅgaṇī dalam Abhidhamma Piṭaka (Dhs. 1113-34) menyediakan daftar lain mengenai sepuluh belenggu, daftar ini juga ditemukan dalam kitab Cuḷaniddesa bagian Khuddaka Nikāya (Nd2 656, 1463) dan pada kitab-kitab komentar. Daftarnya adalah:[note 17]
Kitab komentar menegaskan bahwa pandangan salah, keraguan, kemelekatan pada ritual, iri hati, dan kekikiran dapat dibasmi dengan pencapaian tingkat kesucian pertama (sotāpatti); nafsu indrawi yang kotor dan antipati pada tingkat kedua (sakadāgāmitā); perwujudan halus dari belenggu serupa pada tingkatan ketiga (anāgāmitā); dan kesombongan, nafsu atas keberadaan, dan ketidaktahuan pada tahapan keempat atau terakhir (arahatta).
Secara khusus, dalam Potaliya Sutta (MN 54), dijelaskan delapan belenggu (termasuk tiga poin dari Pancasila) yang "menuntun menuju terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang Mulia (Jalan Mulia Berunsur Delapan)" (ariyassa vinaye vohārasamucchedāya saṁvattanti) bagi seorang perumah tangga atau umat awam (upāsaka-upāsikā):
Belenggu-belenggu berikut ini adalah tiga belenggu pertama yang disebutkan dalam daftar sepuluh belenggu Sutta Piṭaka, dan juga dalam daftar “tiga belenggu” Saṅgīti Sutta (DN 33) dan Abhidhamma Piṭaka (Dhs. 1002 ff.). Seperti yang ditunjukkan di bawah ini, tersingkirkannya ketiga belenggu ini adalah indikator kanonis bahwa seseorang telah berada di jalan menuju kecerahan.
Secara etimologi, kāya berarti "tubuh", sakkāya berarti "tubuh yang ada", dan diṭṭhi berarti "pandangan" (sering kali merujuk pada pandangan salah dalam Buddhisme, sebagaimana dicontohkan dalam tabel berikut).
| Pandangan enam guru sesat |
|---|
| Pandangan dari enam samaṇa dalam Tripitaka Pali, juga dikenal sebagai enam guru sesat, sesuai Sāmaññaphala Sutta (DN 2).[6] |
| Pūraṇa Kassapa |
| Makkhali Gosāla (Ājīvika) |
| Ajita Kesakambalī (Carwaka) |
| Pakudha Kaccāyana |
| Nigaṇṭha Nāṭaputta (Jainisme) |
| Sañjaya Belaṭṭhiputta (Ajñana) |
|
|
Secara umum, "percaya pada diri individu" atau, lebih ringkasnya, "pandangan diri" merujuk pada "kepercayaan bahwa dalam satu gugusan atau lainnya terdapat suatu entitas kekal, sebuah attā".[8]
Dalam Sabbasava Sutta (MN 2), Buddha juga menjelaskan "belenggu atas pandangan":
Pada umumnya, "keraguan" merujuk pada keraguan mengenai ajaran Buddha, yaitu Dhamma. (Ajaran-ajaran serupa lainnya ditampilkan pada tabel "Pandangan enam guru sesat".)
Lebih jelasnya, dalam Tissa Sutta (SN 22.84),[11] Buddha dengan tegas memperingatkan tentang keraguan atas Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang dijelaskan sebagai jalan yang benar menuju Nibbāna dan memimpin seseorang melewati ketidaktahuan (avijjā), nafsu indrawi (kāma), kemarahan (kodha), dan keputusasaan (upāyāsa).
Sīla merujuk pada "perilaku moral", vata (atau bata) berarti "tugas keagamaan, ketaatan, tata cara, pelaksanaan, adat,"[12] dan parāmāsa berati "kemelekatan pada" atau "penularan" dan memiliki konotasi terkait "penyalahgunaan" Dhamma.[13] Secara keseluruhan, sīlabbata-parāmāsa diterjemahkan menjadi "kemelekatan pada peraturan dan ritual, kecanduan atas perilaku moral, khayalan bahwa hal tersebut cukup"[14] atau, lebih sederhananya, "jatuh kembali pada kemelekatan atas ritual dan adat."[15]
Sementara belenggu keraguan dapat dilihat sebagai upaya untuk menyinggung ajaran-ajaran yang berlawanan dari para petapa lain di zaman Sang Buddha, belenggu mengenai ritual dan adat sepertinya merujuk pada beberapa ritual dan adat dari para brahmana.[note 19]
"Di sini, seorang bhikkhu memahami mata, ia memahami bentuk-bentuk, dan ... belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; dan ... bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan pada masa depan dari belenggu yang telah ditinggalkan.
“Ia memahami telinga, ia memahami suara-suara … hidung, ... bau-bauan, … lidah, ... rasa kecapan, … badan, ... objek-objek sentuhan, … batin, ... objek-objek batin, dan ... belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; dan ... bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana agar belenggu-belenggu yang telah ditinggalkan itu tidak muncul pada masa depan. ..."
Dalam MN 64, "Khotbah Panjang kepada Mālunkyāputta," Buddha menyatakan bahwa jalan untuk meninggalkan lima belenggu rendah (yang adalah, lima dari "sepuluh belenggu" pertama sebagaimana disebutkan sebelumnya) adalah melalui pencapaian jhāna dan pengetahuan vipassanā secara bersamaan.[note 21] Dalam SN 35.54, "Meninggalkan Belenggu-belenggu," Buddha menyatakan bahwa seseorang dianggap meninggalkan belenggu-belenggu "ketika ia mengetahui dan melihat ... sebagai ketidakkekalan" (Pali: anicca) dua belas landasan indra (āyatana), hal-hal yang sehubungan dengan enam kesadaran-indra (viññāṇa), kontak indra (phassa), dan perasaan (vedanā).[note 22] Berkaitan dengan hal yang sama, dalam SN 35.55, "Mencabut Belenggu-belenggu," Buddha menyatakan bahwa seseorang mencabut belenggu "ketika ia mengetahui dan melihat ... sebagai tanpa atma" (anatta) landasan indra, kesadaran-indra, kontak indra, dan perasaan.[note 23]
Tripitaka Pali secara tradisional menjelaskan pemangkasan belenggu-belenggu ini dalam empat tingkatan:
Konsep tentang belenggu serupa dengan konsep buddhis yang ditemukan di seluruh Tripitaka Pali, seperti lima rintangan batin (nīvaraṇa) dan sepuluh pengotor batin (kilesa). Sebagai perbandingan, dalam aliran Theravāda, "belenggu" biasanya melintasi banyak kehidupan (masa lalu, saat ini, dan masa depan setelah kelahiran kembali) dan sulit dihilangkan, sedangkan rintangan merujuk pada hambatan sementara saat praktik meditasi. Pengotor batin (kilesa) mencakup seluruh pengotor batin, termasuk belenggu (saṁjoyana) dan rintangan (nīvaraṇa).[1]
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Mahāyāna |
|---|
Dalam Mahāprajñāpāramitāśāstra (bab VI), dijelaskan bahwa “para Arahat telah mematahkan belenggu (parikṣīṇabhava-saṃyojana) dari eksistensi ini.” Belenggu-belenggu (saṃyojana) ini ada sembilan dalam daftar:[17]
Saṃyojana ini meliputi seluruh eksistensi dan eksistensi ini meliputi semua saṃyojana. Oleh karena itu, muncul ungkapan "mematahkan belenggu" (parikṣīṇabhava-saṃyojana).[17]