Dalam Buddhisme, seorang sotapana, juga diterjemahkan sebagai "pemasuk-arus", "yang telah memasuki arus", atau "pemenang-arus", adalah seseorang yang telah mencapai tahap pertama dari empat tingkat pencerahan. Pencapaian sotapana diyakini akan diikuti oleh tiga tingkat pencerahan berikutnya: sakadāgāmi, anāgāmi, dan arahā.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam Buddhisme, seorang sotapana (KBBI;[note 1] Pali: sotāpannacode: pi is deprecated ; Sanskerta: śrotāpannacode: sa is deprecated ), juga diterjemahkan sebagai "pemasuk-arus", "yang telah memasuki arus",[1] atau "pemenang-arus",[2] adalah seseorang yang telah mencapai tahap pertama dari empat tingkat pencerahan.[3] Pencapaian sotapana diyakini akan diikuti oleh tiga tingkat pencerahan berikutnya: sakadagami (Pali: sakadāgāmi, "kembali-sekali"), anagami (anāgāmi, "tidak-kembali"), dan arahat (arahā, "yang layak, yang terbebaskan sepenuhnya").
Kata sotāpanna secara harfiah berarti "seseorang yang memasuki (āpanna) arus (sota); pemasuk-arus; yang telah memasuki arus", berdasarkan sebuah metafora yang menyebut Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai sebuah arus yang mengarah ke samudra luas, Nibbāna.[4] Istilah ini menggambarkan seseorang yang telah memahami Dhamma dan dengan demikian telah melepaskan tiga belenggu pertama (Pali: saṁyojanacode: pi is deprecated ), yaitu pandangan tentang jati diri (sakkāya-diṭṭhi), keraguan skeptis (vicikicchā), dan kemelekatan pada adat serta ritual (sīlabbata-parāmāsa). Seorang sotapana dikatakan terbebas dari kemungkinan kelahiran kembali di salah satu dari empat alam rendah.
Setelah melepaskan tiga belenggu pertama, seseorang yang baru saja memulai jalan memasuki-arus (sotāpatti-magga) disebut sotāpanna.[5][6]
Sotapana dikatakan memperoleh pemahaman intuitif tentang dhamma[7]—kebijaksanaan ini disebut pandangan benar (sammā diṭṭhi)[8]—dan memiliki keyakinan (saddhā) tak tergoyahkan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha; ketiga hal ini kadang-kadang digambarkan sebagai Tiga Perlindungan (ti-saraṇa), dan di dalam konteks lain juga digambarkan sebagai objek perenungan (anussati).[9] Namun secara umum, keyakinan yang teguh kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha dianggap sebagai salah satu dari empat faktor sotapana (sotāpannassa aṅgāni).[10] Sotapana dikatakan telah "membuka mata Dhamma" (dhammacakkhu) karena mereka telah menyadari bahwa apa pun yang muncul akan lenyap (anicca, ketidakkekalan).[11] Keyakinan mereka pada Dhamma yang sejati pada titik ini akan menjadi tak tergoyahkan.[12]
Sementara seoranng sotapana telah melihat Nibbāna dan karena itu memiliki keyakinan yang terverifikasi di dalamnya, seorang arahat[13] dapat meminum airnya sepenuhnya, meminjam perumpamaan dari Kosambi Sutta (SN 12.68) tentang sebuah "sumur" yang ditemui di sepanjang jalan gurun.[14] Seorang sotapana "dapat menyatakan ini tentang dirinya: 'Neraka telah berakhir; rahim binatang telah berakhir; keadaan hantu kelaparan telah berakhir; alam penderitaan, kesengsaraan, tujuan yang buruk telah berakhir! Aku adalah seorang pemenang-arus, teguh, tidak akan pernah lagi ditakdirkan untuk alam penderitaan, melangkah menuju pencerahan diri!'"[15]
Tiga jalan yang tersisa—yaitu: sakadagami (sakadāgāmin), anagami (anāgāmin), dan arahat (arahatta)—menjadi "tujuan pasti" (sammatta niyāma) bagi sotapana, yang pencerahannya sebagai seorang murid (ariya-sāvaka) menjadi tak terelakkan dalam rentang tujuh kehidupan terlahir kembali di antara para dewa dan manusia.[16][17] Jika mereka berlatih dengan tidak lengah (appamatta, appamāda) dalam mempraktikkan ajaran Sang Guru (satthāra), mereka dapat sepenuhnya tercerahkan dalam kehidupan mereka saat ini. Mereka memiliki sangat sedikit penderitaan di masa depan yang harus dialami.[18]
Menurut tradisi Buddhisme Theravāda, masa kelestarian ajaran pembebasan (paṭivedhasaddhamma) diprediksi akan bertahan selama 5.000 tahun setelah parinibbāna Buddha. Selama periode ini, pencapaian tingkat sotapana hingga arahat diyakini masih dapat direalisasikan secara penuh melalui praktik satipaṭṭhāna.[19] Praktik ini dianggap sangat esensial, bersumber pada pernyataan Buddha dalam Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10) yang secara definitif menyebutnya sebagai "satu-satunya jalan" (ekāyano maggo) untuk mengakhiri penderitaan dan membebaskan diri dari siklus samsara.[20] Dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, sotapana dikatakan telah mendapatkan pandangan pertama mereka tentang elemen yang tak terkondisi (asaṅkhata), yakni saat mereka melihat tujuan tersebut melalui pencapaian Jalan dan Buah (magga-phala).[21]
| Bodhi | Punarbawa | Belenggu yang disingkirkan | |
|---|---|---|---|
| sotāpanna | ± tujuh kali; manusia atau dewa |
1. pandangan salah terhadap jati diri (sakkāya-diṭṭhi) 2. keraguan (vicikicchā) 3. kemelekatan pada ritual dan adat (sīlabbata-parāmāsa) |
belenggu rendah (no. 4 dan 5 dilemahkan sakadāgāmi) |
| sakadāgāmi | sekali lagi; manusia | ||
| anāgāmi | sekali lagi; suddhāvāsa |
4. hasrat indrawi (kāmacchanda) 5. rasa benci (vyāpāda/byāpāda) | |
| arahat | tidak ada | 6. nafsu punarbawa di alam materi (rūparāga) 7. nafsu punarbawa di alam nonmateri (arūparāga) 8. kesombongan (māna) 9. kebingungan (uddhacca) 10. ketidaktahuan (avijjā) |
belenggu tinggi |
Dalam Tripitaka Pali, kualitas-kualitas seorang sotapana dideskripsikan sebagai:[22]
| ... yang telah meninggalkan (tiga) belenggu pertama, semuanya adalah sotapana, pasti, tidak akan pernah lagi ditakdirkan ke alam-alam yang lebih rendah, melangkah menuju pencerahan diri. Inilah bagaimana Dhamma yang dibabarkan dengan baik oleh-Ku menjadi jernih, terbuka, terbukti, terlepas dari kain compang-camping. | ||
| — Alagaddupama Sutta, MN 22 | ||
Tiga belenggu yang dihilangkan oleh sotapana adalah:[23][24]
Dalam Cakkhu Sutta (SN 25.1), dinyatakan bahwa seorang sotapana tidak akan lagi terlahir di rahim binatang, alam neraka, atau sebagai hantu kelaparan. Jalur menuju tujuan kelahiran kembali yang tidak menguntungkan (duggati) telah tertutup bagi mereka.[26] Seorang sotapana aman dari jatuh ke alam rendah yang penuh kesengsaraan (mereka tidak akan terlahir sebagai hewan, hantu, asura, atau makhluk neraka) karena keserakahan, kebencian, dan delusi mereka tidak cukup kuat untuk menyebabkan kelahiran kembali di alam bawah. Seorang sotapana hanya perlu terlahir kembali paling banyak tujuh kali lagi di alam manusia atau surga sebelum mencapai Nibbāna.[27] Tidak diharuskan bagi seorang sotapana untuk terlahir tujuh kali lagi sebelum mencapai Nibbāna karena seorang praktisi yang gigih dapat maju ke tahap yang lebih tinggi pada kehidupan yang sama ketika ia mencapai tingkat sotapana, yakni dengan membuat aspirasi dan kegigihan untuk mencapai tujuan akhir nibbāna.[28]
Berdasarkan pemaparan dalam kitab Aṅguttaranikāya (Paṭhamasikkhā Sutta, AN 3.87) dan Puggalapaññatti, terdapat tiga jenis sotapana yang dapat diklasifikasikan berdasarkan kemungkinan kelahiran kembali mereka:[29][30]
Seorang sotapana tidak akan mampu melakukan enam perbuatan salah:[31]
Buddha berbicara dengan pujian mengenai sotapana dalam banyak kesempatan. Meskipun pencapaian sotapana hanya merupakan tingkat pertama dari ariya sangha, seorang sotapana disambut oleh seluruh anggota sangha lainnya karena ia berpraktik demi manfaat dan kesejahteraan banyak pihak. Dalam kepustakaan Pali, ariya sangha dideskripsikan sebagai "empat pasang makhluk" jika dipasangkan, dan "delapan jenis individu" jika dihitung sebagai individu. Ini merujuk pada pencapaian empat Buah adiduniawi (Pali: phala) dan empat Jalan adiduniawi (Pali: magga) yang bersesuaian (dari mereka yang berpraktik untuk mencapai berbagai Buah tersebut).[33]
| ‘suppaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, ujuppaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, ñāyappaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, sāmīcippaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, yadidaṁ cattāri purisayugāni aṭṭha purisapuggalā, esa bhagavato sāvakasaṅgho āhuneyyo pāhuneyyo dakkhiṇeyyo añjalikaraṇīyo anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassā’ti. "Sangha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik, mempraktikkan jalan yang lurus, mempraktikkan jalan yang benar, mempraktikkan jalan yang selayaknya; yaitu empat pasang makhluk, delapan jenis individu - Sangha para siswa Sang Bhagavā ini layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia." |
||
| — Paṭhamamahānāma Sutta, AN 11.11 | ||
Perenungan tersebut disebut sebagai "perenungan terhadap Sangha" (saṅghānussati).
Saṁyutta kelima puluh lima dari kitab Saṁyuttanikāya disebut "Sotāpatti-saṃyutta", yang membahas tentang sotapana serta pencapaian mereka. Dalam kelompok diskursus (sutta) bab tersebut yang bernomor 1–4, 6–9, 11–14, 16–20, 22–36, 39–49, 51, 53, dan 54, para sotapana dipuji sebagai anggota sangha—oleh dan untuk: orang sakit, umat awam, orang-orang di ranjang kematian mereka, bhikkhuṇī, bhikkhu, dan deva—serta pada akhirnya menjadi sumber kesejahteraan dan manfaat bagi banyak orang.
Dari kitab Dhammapada syair 178:[34][perlu dijelaskan]
Ada yang lebih baik
daripada kekuasaan mutlak atas bumi,
daripada pergi ke surga,
atau daripada memerintah seluruh dunia,
yakni hasil kemuliaan dari seorang suci
yang telah memenangkan arus (sotapatti-phala).
Menurut komentar Biksu Hsuan Hua, seorang master Mahāyāna dalam tradisi Buddhisme Chan, atas Sutra Intan,
{{Cite book |url=http://online.sfsu.edu/~rone/Buddhism/BTTStexts/ps.vajra.02.020503.screen.pdf |url-status=dead |title=The Vajra Prajna Paramita Sutra: A General Explanation |access-date=2009-09-16 |publisher=Buddhist Text Translation Society |author=Venerable Master Hsuan Hua |archive-url=https://web.archive.org/web/20210509182754/http://online.sfsu.edu/rone/Buddhism/BTTStexts/ps.vajra.02.020503.screen.pdf|archive-date=2021-05-09 |date=2002 |edition=2 |page=77}}</ref>"}},"i":0}}]}' id="mwAXY"/>Seorang śrotāpanna adalah arahat tingkat pertama. Resminya [seseorang] menuju Buah arahat tingkat pertama, yang ada di dalam Hīnayāna, datang ketika delapan puluh delapan kategori delusi pandangan dihancurkan.[35]
Hsuan Hua melanjutkan:
{{cite book |title=The Vajra Prajna Paramita Sutra|chapter=The One Mark is No Mark |page=78 |publisher=Buddhist Text Translation Society |date=2002 |url=http://www.cttbusa.org/vajrasutra/vs9.html |author=Hsuan Hua}}</ref>"}},"i":0}}]}' id="mwAX0"/>Buah pertama adalah buah śrotāpanna, sebuah kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Ia Yang Telah Memasuki Arus." Ia melawan arus enam debu orang awam dan memasuki arus hakikat-dharma (dharmakāya) para suci. Memasuki arus berarti memasuki tahapan seorang suci yang telah mencapai tingkat pencapaian di dalam Hīnayāna.[36]
Sangat bagus, Sariputta! Sangat bagus! Jalan mulia berunsur delapan ini — pandangan benar, niat benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, daya upaya benar, perhatian benar, konsentrasi benar — adalah arus tersebut.
Bahkan pohon-pohon sal besar ini, 43 Mahanama, jika mereka dapat memahami apa yang diucapkan dengan baik dan apa yang diucapkan dengan buruk, saya akan menyatakan mereka sebagai pemenang-arus, tidak lagi terikat ke dunia bawah, dengan tujuan yang pasti, pasti mencapai kebangkitan!
Dan apakah pandangan benar yang mulia, tanpa noda, transenden, sebuah faktor dari jalan tersebut? Pemahaman, indra pemahaman, kekuatan pemahaman, analisis kualitas sebagai faktor pencerahan, faktor jalan dari pandangan benar pada seseorang yang mengembangkan jalan mulia yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang sepenuhnya memiliki jalan mulia tersebut. Inilah pandangan benar yang mulia, tanpa noda, transenden, sebuah faktor dari jalan tersebut.
Ada kasus di mana seorang murid dari para mulia dianugerahi dengan keyakinan yang terverifikasi kepada Yang Telah Bangkit... Dan lebih jauh lagi, murid dari para mulia dianugerahi dengan keyakinan yang terverifikasi kepada Dhamma... Dan lebih jauh lagi, murid dari para mulia dianugerahi dengan keyakinan yang terverifikasi kepada Saṅgha...
Kemudian bagi petapa Sariputta, saat ia mendengar uraian Dhamma ini, muncullah mata Dhamma yang tanpa debu dan tanpa noda: "Apa pun yang memiliki sifat kemunculan, semuanya memiliki sifat kelenyapan."
11 4 kualitas pemenang-arus: (1) keyakinan tak tergoyahkan pada Buddha, (2) pada Dharma, dan (3) pada Sangha; dan (4) kebajikan moral yang disayangi oleh para suci.
Temanku, meskipun aku telah melihat dengan saksama melalui kebijaksanaan yang benar, sebagaimana kenyataannya, bahwa 'Kelenyapan penjelmaan adalah Pembebasan Terakhir,' aku tetap bukan seorang arahant yang noda batinnya telah berakhir. Ibaratnya ada sebuah sumur di sepanjang jalan di sebuah gurun, tanpa tali maupun ember air. Seorang pria datang dalam keadaan kepanasan, tersiksa oleh panas, kelelahan, dehidrasi, & kehausan. Dia melihat ke dalam sumur dan memiliki pengetahuan tentang 'air,' tetapi dia tidak dapat bersentuhan dengannya dengan tubuhnya. Dengan cara yang sama, meskipun aku telah melihat dengan saksama melalui kebijaksanaan yang benar, sebagaimana kenyataannya, bahwa 'Kelenyapan penjelmaan adalah Pembebasan Terakhir,' aku tetap bukan seorang arahant yang noda batinnya telah berakhir.
Selain itu, Sāriputta, di sini seseorang menyempurnakan kebajikan moral, tetapi hanya memperoleh konsentrasi yang terbatas, memperoleh kebijaksanaan yang terbatas. Dengan hancurnya tiga belenggu secara total, dia menjadi seorang maksimal-tujuh-kali, setelah terlahir kembali dan mengembara di antara para dewa dan manusia paling banyak selama tujuh kehidupan, ia mengakhiri penderitaan.
Ia tidak mampu melakukan perbuatan apa pun yang membuatnya mungkin terlahir di neraka, di rahim binatang, atau di alam hantu kelaparan. Ia tidak mampu meninggal dunia sebelum merealisasikan buah dari memasuki-arus.
(4) Ia memahami bahwa adalah hal yang mustahil, tidak ada peluang, bahwa seorang individu yang telah mencapai pandangan benar, akan merampas nyawa ibunya—ini tidak mungkin. Dan ia memahami bahwa ada kemungkinan, ada peluang, bahwa seorang perumah tangga biasa, akan merampas nyawa ibunya—ini mungkin. (5) Ia memahami bahwa adalah hal yang mustahil, tidak ada peluang, bahwa [65] seorang individu yang telah mencapai pandangan benar, akan merampas nyawa ayahnya—ini tidak mungkin. Dan ia memahami bahwa ada kemungkinan, ada peluang, bahwa seorang perumah tangga biasa, akan merampas nyawa ayahnya—ini mungkin. (6) Ia memahami bahwa adalah hal yang mustahil, tidak ada peluang, bahwa seorang individu yang telah mencapai pandangan benar, akan merampas nyawa seorang arhat—ini tidak mungkin. Dan ia memahami bahwa ada kemungkinan, ada peluang, bahwa seorang perumah tangga biasa, akan merampas nyawa seorang arhat—ini mungkin. (7) Ia memahami bahwa adalah hal yang mustahil, tidak ada peluang, bahwa seorang individu yang telah mencapai pandangan benar, akan menumpahkan darah Tathagata—ini tidak mungkin. Dan ia memahami bahwa ada kemungkinan, ada peluang, bahwa seorang perumah tangga biasa, akan menumpahkan darah Tathagata—ini mungkin. (8) Ia memahami bahwa adalah hal yang mustahil, tidak ada peluang, bahwa seorang individu yang telah mencapai pandangan benar, akan memecah belah komunitas monastik [Sangha]—ini tidak mungkin. Dan ia memahami bahwa ada kemungkinan, ada peluang, bahwa seorang perumah tangga biasa, akan memecah belah komunitas monastik—ini mungkin. (9) Ia memahami bahwa adalah hal yang mustahil, tidak ada peluang, bahwa seorang individu yang telah mencapai pandangan benar, akan memaklumkan Guru lain—ini tidak mungkin. Dan ia memahami bahwa ada kemungkinan, ada peluang, bahwa seorang perumah tangga biasa, akan mendeklarasikan Guru lain—ini mungkin.