KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia, anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| KRL Commuter Line | |||
|---|---|---|---|
KRL INKA dan KRL CRRC yang sedang dipamerkan dalam rangka 100 Tahun operasional KRL di Indonesia, Stasiun Jakarta Kota. | |||
| Info | |||
| Pemilik | Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda | ||
| Wilayah |
| ||
| Jenis | Transportasi umum, Kereta api komuter | ||
| Jumlah jalur | 7 | ||
| Jumlah stasiun | 93 | ||
| Penumpang harian | 1.039.303 (Agustus 2019) 1.154.080 (puncak, Juni 2018)[1] | ||
| Penumpang tahunan | 334.102.903 (2019)[2] | ||
| Kantor pusat | Stasiun Juanda, Gambir, Kota Jakarta Pusat | ||
| Situs web | www | ||
| Operasi | |||
| Dimulai | 6 April 1925 (sebagai Elektrische Staatsspoorwegen) April 1999 dibawah nama PT Kereta Api (sebagai Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek) 15 September 2008 (sebagai KAI Commuter Jabodetabek) 20 September 2017 (sebagai Kereta Commuter Indonesia) | ||
| Operator | KAI Commuter (PT Kereta Api Indonesia (Persero))[3] | ||
| Panjang kereta | 8, 10 dan 12 kereta per rangkaian KRL | ||
| Waktu antara | 5-60 menit | ||
| Teknis | |||
| Panjang sistem | 332,3 km (206,48 mi) (Daop 1) 65,5 km (40,7 mi) (Daop 6) | ||
| Lebar sepur | 1.067 mm (3 ft 6 in) Lebar sepur Cape | ||
| Listrik | 1.500 V DC (Listrik aliran atas) | ||
| Kecepatan rata-rata | 40 km/h (25 mph) | ||
| Kecepatan tertinggi | 70–95 km/h (43–59 mph) | ||
| |||
KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter),[3] anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.
Layanan ini dahulu dioperasikan dengan nama KRL Jabotabek sejak era 1970-an hingga pemekaran Kota Depok pada 1999 dengan nama alternatif KRL Jabodetabek. Divisi Jabotabek menjadi operator KRL pada masa itu. Pada 2008, layanan KRL dioperasikan oleh perusahaan baru bernama PT KAI Commuter Jabodetabek yang sejak 2017 berubah menjadi Kereta Commuter Indonesia (KCI, kini KAI Commuter).
Sistem kereta listrik di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada 6 April 1925 dengan lintas layanan Tanjungpriok — Meester Cornelis (kini Jatinegara)[4]. Setelah kemerdekaan Indonesia, layanan ini berkembang menjadi sistem KRL komuter yang pada awalnya hanya beroperasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namun sejak 10 Februari 2021, layanan KRL juga dihadirkan di daerah luar Jabodetabek melalui rute Commuter Line Yogyakarta yang menghubungkan Yogyakarta dan Surakarta.[5]


Wacana elektrifikasi jalur kereta api sudah didengungkan sejak 1917 oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS). Saat itu, elektrifikasi jalur kereta api diprediksi akan menguntungkan secara ekonomi. Elektrifikasi jalur kereta api kemudian dilakukan dari Tanjung Priuk sampai dengan Meester Cornelis (Jatinegara) dimulai pada tahun 1923. Pembangunan ini selesai pada 24 Desember 1924.[6]
Proyek elektrifikasi terus berlanjut. Jalur lingkar Jakarta selesai dielektrifikasi pada 1 Mei 1927 dan pada 1930, elektrifikasi jalur Jakarta—Bogor sudah mulai dioperasikan. Kereta yang digunakan ialah lokomotif listrik seri 3000 buatan pabrik SLM—BBC (Swiss Locomotive and Machine Works—Brown, Boveri, & Cie), lokomotif listrik seri 3100 buatan pabrik AEG (Allgemeine Elektricitäts-Gesellschaft) Jerman, lokomotif listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor Belanda serta kereta listrik buatan pabrik Westinghouse dan kereta listrik buatan pabrik General Electric.[6]
Jalur kereta yang terelektrifikasi tersebut terus digunakan dan diperluas wilayah operasionalnya sejak kemerdekaan Indonesia. Pengoperasian jalur kereta api di Indonesia dilaksanakan oleh Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKA) hingga era PT Kereta Api Indonesia pada saat ini.
Pada tahun 1960-an, transportasi di Jakarta berada di titik nadir. Soekarno memerintahkan Gubernur Sudiro untuk menghapus trem listrik karena dianggap menyebabkan kemacetan. Akhirnya pada tahun 1960, trem sepenuhnya berhenti beroperasi di Jakarta.[7] Kereta listrik pun ikut dihentikan operasinya akhir 1965. Selanjutnya pada November 1966, seluruh pengangkutan kereta api jurusan Manggarai—Jakarta Kota dibatasi.[8] Hal ini berkaitan dengan merosot tajamnya jumlah penumpang dan kondisi umum kota Jakarta yang tidak kondusif. Biro Pusat Statistik mencatat, jumlah penumpang lokal yang dilayani Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) tahun 1965 merosot 47 persen dibandingkan 1963. Tahun 1965, hanya 16.092 penumpang per hari yang memakai kereta lokal.[8] Semenjak kereta listrik buatan Belanda tidak dapat beroperasi lagi, rute ini terkadang digunakan oleh kereta lokal yang menggunakan lokomotif, biasanya seri BB 200 atau BB 201 digunakan sebagai penariknya.
Baru pada tahun 1972, kereta listrik mulai muncul kembali. Harian Kompas tanggal 16 Mei 1972 memberitakan bahwa PNKA memesan 10 set kereta listrik dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan Jakarta. Langkah ini untuk meningkatkan penggunaan angkutan umum dan mengurangi kemacetan yang mulai terasa saat itu.[8]
KRL dan kereta rel diesel (KRD) dari Jepang tiba di Jakarta empat tahun kemudian, 1976. KRL-KRL ini akan menggantikan lokomotif listrik lama peninggalan Belanda yang sudah dianggap tidak layak. Tiap rangkaian KRL terdiri atas empat kereta dengan kapasitas angkut 134 penumpang per kereta.[8] KRL generasi pertama ini kemudian dikenal sebagai KRL Rheostatik dan telah melayani masyarakat Jakarta hingga akhir pengoperasian KRL Ekonomi pada tahun 2013.
Pada dekade 1980-an dan 1990-an, layanan KRL di Jabotabek mengalami ekspansi dan peningkatan. Elektrifikasi lintas Manggarai—Tanah Abang—Kampung Bandan menjadi pembangunan jaringan kereta listrik pertama setelah kemerdekaan. Elektrifikasi jalur ini melengkapi jaringan yang telah ada sebelumnya, yaitu Jakarta Kota—Bogor, Jakarta Kota—Tanjung Priok, dan Tanjung Priok—Jatinegara. Pengoperasian perdana dilakukan sebagian pada 17 Februari 1986 dengan layanan KRL Bogor—Tanah Abang,[9] dan kemudian beroperasi penuh mulai 30 Maret 1987. Lintas ini diresmikan secara resmi pada 7 April 1987 oleh Menteri Perhubungan Roesmin Noerjadin.[10]
Selain pengembangan infrastruktur, dilakukan juga peningkatan layanan. Pada 20 Agustus 1990, PJKA Daerah Operasi I Jakarta mulai mengoperasikan layanan KRL ekspres dengan kualitas pelayanan yang lebih baik dibandingkan layanan reguler. Layanan ini awalnya disebut sebagai KRL Utama dan melayani rute Bogor—Jakarta Kota dengan waktu tempuh sekitar 67 menit.[11] Kereta ini kemudian dikenal dengan nama Pakuan Ekspres, yang menjadi cikal bakal hadirnya berbagai layanan KRL kelas premium pada dekade 1990-an dan 2000-an.
Pada Mei 2000, pemerintah Jepang melalui JICA dan Pemerintah Kota Tokyo menghibahkan 72 unit KRL yang sebelumnya dioperasikan oleh Biro Transportasi Metropolitan Tokyo. Kereta ini diresmikan pada tanggal 25 Agustus 2000 dan menjadi KRL berpendingin udara (AC) pertama di Indonesia.[12] Hibah tersebut menjadi awal dari datangnya berbagai rangkaian KRL yang sebelumnya sudah pernah beroperasi di Jepang.
Gagasan untuk memisahkan pengelolaan KRL di wilayah Jabotabek dari PT Kereta Api Indonesia mulai berkembang pada awal 2000-an. Dorongan ini muncul antara lain karena tingginya jumlah penumpang harian, kepadatan pada jam sibuk, keterlambatan perjalanan, hingga persoalan keamanan dan penumpang tanpa tiket. Pada 2003, rencana tersebut masih dalam tahap kajian dan diproyeksikan dapat direalisasikan pada 2005.[13]

Pada 2005, Menteri Negara BUMN Soegiharto menyatakan persetujuannya terhadap pemisahan pengelolaan KRL Jabotabek, meskipun bukan dalam bentuk pemisahan penuh (spin-off), melainkan tetap berada di bawah PT Kereta Api Indonesia dengan status entitas khusus.[14] Pemisahan ini terealisasikan di tahun 2008 ketika PT Kereta Api Indonesia mendirikan anak perusahaan bernama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) untuk mengelola pengoperasian KRL di wilayah Daerah Operasi I Jakarta, yang saat itu mencakup 37 rute di kawasan Jabodetabek. Anak perusahaan baru ini merupakan penerus Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek.
PT KCJ memulai proyek modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011, dengan menyederhanakan rute yang ada menjadi 5 rute utama, penghapusan KRL komuter ekspres, penerapan kereta khusus wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi Kereta Commuter. Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta, serta penempatan satuan keamanan pada tiap gerbong. Saat Stasiun Tanjung Priuk diresmikan kembali setelah dilakukan renovasi total pada tahun 2009, jalur kereta listrik bertambah menjadi 6, walaupun belum sepenuhnya beroperasi. Pada Juli 2013, PT KCJ mulai menerapkan sistem tiket elektronik COMMET (Commuter Electronic Ticketing) dan perubahan sistem tarif kereta.[15]
Sejak awal penerapan sistem operasi tunggal pada akhir 2011, wacana penghapusan KRL Ekonomi non-AC mulai mengemuka dan menimbulkan polemik di masyarakat. Pada saat itu, tarif KRL Ekonomi non-AC relatif murah dan berkisar sekitar Rp1.500, sehingga menjadi moda transportasi utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pada Januari 2012, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menyatakan bahwa KRL Ekonomi non-AC akan tetap beroperasi karena masih dibutuhkan oleh kelompok tersebut.[16]
Namun, pada Maret 2013, KAI Commuter mengumumkan rencana penghentian operasional KRL Ekonomi non-AC di lintas Serpong dan Bekasi mulai 1 April 2013 dengan alasan kondisi armada yang telah tidak layak, membahayakan keselamatan penumpang, serta sering mengalami kerusakan yang mengganggu jadwal perjalanan KRL lainnya.[17][18] Pernyataan ini memicu penolakan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan menyulut aksi demonstrasi di Stasiun Bekasi pada 25 Maret 2013, yang menyebabkan terganggunya perjalanan KRL dan kereta jarak jauh yang melintasi stasiun tersebut selama sekitar tiga jam.[19] Menyusul tekanan tersebut, rencana penghapusan KRL Ekonomi non-AC sempat ditunda.[20]
Penghapusan kemudian dilakukan secara bertahap, diawali dengan penghentian operasional KRL Ekonomi non-AC relasi Tanah Abang–Serpong dan Tanah Abang–Parung Panjang pada 7 Mei 2013.[21] Pemerintah, KAI dan KAI Commuter kemudian menyepakati pemberian subsidi pada layanan KRL Ekonomi AC dengan penerapan tarif progresif berbasis jarak, menggantikan tarif sebelumnya yang berkisar sekitar Rp8.000, dan mulai diberlakukan pada 1 Juli 2013.[22] Proses tersebut berujung pada penghapusan seluruh layanan KRL Ekonomi pada 25 Juli 2013.[23]
Sehari setelah ulang tahun pertama KAI Commuter, pemerintah meresmikan elektrifikasi jalur Serpong–Parung Panjang pada 16 September 2009. Peresmian tersebut dilakukan oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal bersama Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, yang sekaligus meresmikan pengoperasian Stasiun Jurangmangu dan peremajaan Stasiun Rawa Buntu. Proyek elektrifikasi jalur Serpong–Parung Panjang sepanjang sekitar 12 kilometer, pembangunan Stasiun Jurangmangu dan peremajaan Stasiun Rawabuntu tersebut menelan nilai investasi lebih dari Rp148 miliar.[24]
Elektrifikasi jalur kemudian diperpanjang hingga Stasiun Maja, yang menambah enam stasiun baru pada layanan KRL Commuterline. Proyek ini, termasuk pembangunan jalur ganda Serpong–Parung Panjang–Maja, menelan biaya Rp1,2 triliun dan dikerjakan sejak tahun 2008.[25] Pengoperasian KRL hingga Stasiun Maja dimulai pada 1 April 2013. Elektrifikasi menuju Stasiun Maja ini diresmikan oleh Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono pada 17 April 2013, bersamaan dengan peresmian jalur ganda Serpong–Parung Panjang serta pengoperasian rangkaian KRL baru produksi PT Industri Kereta Api (INKA).[26]
Jalur ganda pada segmen Parung Panjang–Maja mulai beroperasi pada Desember 2015 dan diresmikan pada 11 Mei 2016 bersamaan dengan peresmian hasil pembangunan dan revitalisasi Stasiun Kebayoran, Parung Panjang, dan Maja.[27] Selanjutnya, elektrifikasi jalur dilanjutkan hingga Rangkasbitung, yang pada awalnya masih berstatus jalur tunggal. Pengoperasian KRL pada lintas tersebut mulai diujicobakan pada Februari 2017,[28] sebelum dioperasikan secara resmi pada 1 April 2017.[29] Seiring dengan pengoperasian tersebut, layanan kereta api lokal yang sebelumnya melayani relasi Angke–Rangkasbitung diubah menjadi relasi Rangkasbitung–Merak, sehingga lintas Tanah Abang–Rangkasbitung selanjutnya hanya dilayani oleh KRL.[30]
Elektrifikasi jalur Bekasi–Cikarang merupakan bagian dari proyek jalur dwiganda (double double track) Manggarai–Cikarang. Awalnya proyek ini ditargetkan mulai melakukan tender pada tahun 2007 dan konstruksi elektrifikasinya pada 2008, namun mengalami penundaan akibat kendala pembebasan lahan.[31][32]
Kontrak Paket B1 yang mencakup pekerjaan elektrifikasi lintas Bekasi–Cikarang sepanjang sekitar 17 kilometer akhirnya ditandatangani oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada 10 Oktober 2012 dengan konsorsium Mitsubishi–Sumitomo. Proyek ini didanai melalui pinjaman Pemerintah Jepang melalui Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dengan nilai sekitar Rp2,6 triliun dan ditargetkan selesai pada 2016.[33] Selain pekerjaan elektrifikasi, proyek ini juga mencakup renovasi Stasiun Tambun dan Cikarang, serta pembangunan dua stasiun baru yang akan berlokasi di Bekasi Timur, Kota Bekasi dan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.[34]
Uji coba operasional elektrifikasi lintas Bekasi–Cikarang dilaksanakan pada 28 Juli 2017 dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada September 2017.[35] Pengoperasian resmi layanan KRL pada lintas tersebut diresmikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada 7 Oktober 2017, bersamaan dengan peresmian Stasiun Bekasi Timur. Layanan KRL Bekasi–Cikarang merupakan relasi Jakarta Kota–Bekasi yang diperpanjang hingga Stasiun Cikarang, dengan penambahan dua stasiun baru, yaitu Stasiun Bekasi Timur dan Stasiun Cibitung.[36]
Pada bulan Mei 2022, seiring dengan beroperasinya lintas layang Stasiun Manggarai, Lin Lingkar yang melayani Bogor/Nambo/Depok–Jatinegara via Kampung Bandan dihapus. Lin Cikarang yang sebelumnya melayani relasi Cikarang–Jakarta Kota kini mengisi Segmen Manggarai–Jatinegara via Kampung Bandan. Sistem ini disebut dengan full racket (Cikarang/Bekasi–Jatinegara–Manggarai–Kampung Bandan–Jatinegara–kembali ke Cikarang/Bekasi) dan half racket (Cikarang/Bekasi–Manggarai–Kampung Bandan/Angke pp).[37]
Lin lainnya, seperti Lin Sentral (Bogor/Depok–Jakarta Kota), Tangerang, Tanjung Priuk dan Rangkasbitung tidak mengalami perubahan rute.[38] Layanan menuju Stasiun Nambo dilebur dengan Lin Sentral yang berganti nama menjadi Lin Bogor.
Pada tahun 2017, PT KAI Commuter Jabodetabek berganti nama menjadi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), 3 hari setelah ulang tahun perusahaan tersebut yang ke-9.[39] Perubahan nama ini juga mewadahi penugasan penyelenggaraan kereta api komuter yang lebih luas di seluruh Indonesia, sehingga nantinya jalur KRL Commuter Line di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya bukan lagi satu-satunya jalur kereta api perkotaan yang dioperasikan oleh PT KCI.
Selain di Jabodetabek, KRL Commuter Line telah dibangun untuk menghubungkan kota penting di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kota Yogyakarta dan Surakarta untuk menggantikan tugas KA Prambanan Ekspres.[40] Proyek tersebut telah dicanangkan dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas) 2030 Direktorat Jenderal Perkeretaapian sejak 2011.[41] Pada Januari—Februari 2020, tiang-tiang tersebut mulai dipancang—pertama kali dilakukan di Stasiun Klaten. Untuk langkah awal, Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui Balai Teknik Perkeretaapian wilayah Jawa bagian Tengah memutuskan untuk memulai operasi KRL Commuter Line di ruas pertama, yaitu Yogyakarta—Klaten.[42][43]
Meskipun terjadi pandemi Covid-19 di Indonesia, proyek KRL Yogyakarta—Solo tetap berjalan hingga KRL beroperasi secara penuh pada 10 Februari 2021.[44][45] Per 17 Agustus 2022, layanan KRL Yogyakarta—Solo mulai menjangkau wilayah Solo Jebres dan Palur, setelah elektrifikasi Solo Balapan—Palur telah rampung dan dilakukan uji coba sebelumnya.[46]
Saat ini, pemerintah sedang mengkaji untuk memperpanjang kembali elektrifikasi Lin Cikarang sampai Stasiun Cikampek[47] serta refungsionalisasi Stasiun Gambir sebagai stasiun pemberhentian dan pemberangkatan KRL Commuter Line.
Dengan beroperasinya kembali jalur kereta api Citayam-—Nambo, ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali pembangunan jalur kereta api baru Parung Panjang—Tanjung Priuk yang merupakan jalur kereta api lingkar luar Jabodetabek. Jalur ini sudah pernah direncanakan oleh pemerintah Orde Baru pada dekade 1990-an, dan sudah terealisasikan sebagian dengan selesainya pembangunan jalur Citayam—Nambo. Pembangunan rute yang belum sempat terbangun antara Parung Panjang—Citayam, Nambo—Cikarang, dan Cikarang—Tanjung Priuk ini sempat dibatalkan karena Krisis finansial Asia 1997 dan jatuhnya Suharto pada tahun 1998, tetapi akhirnya rencana ini dimasukkan ke dalam rencana induk perkeretaapian nasional 2014-2030.[48][49]
Pada awal perkenalan pola loop line pada tahun 2011, KRL Commuter Line Jabodetabek memiliki 6 jalur. Saat ini jumlah tersebut bertambah menjadi 6 jalur yang melayani seluruh wilayah Jabodetabek dan Lebak di Wilayah I Jakarta; serta Yogyakarta dan Surakarta di Wilayah VI Yogyakarta. Jumlah jalur di wilayah Jabodetabek sendiri berkurang menjadi 5 sejak tahun 2022 lalu akibat dinonaktifkannya Lin Lingkar yang jalurnya diambil alih Lin Bogor dan Lin Lingkar Cikarang.
| Jalur | Relasi | Jumlah stasiun | Jarak | Dibuka | Dioperasikan sebagai
jalur KRL Commuter Line |
|---|---|---|---|---|---|
| Wilayah I Jakarta | |||||
| Jakarta Kota—Bogor | 24† | 54,8 km | 1930 | 5 Desember 2011[50] | |
| Jakarta Kota—Nambo | 23† | 51,0 km | 2002 | 28 Mei 2022[51] | |
| Cikarang—Pasar Senen/Manggarai—Kampung Bandan (full-racket) | 29^ | 87,4 km | 1930 | 5 Desember 2011[50] (Jakarta Kota-Bekasi (via Manggarai)) 1 April 2017 (Jakarta Kota-Bekasi (via Pasar Senen))[52] 8 Oktober 2017 (Jakarta Kota-Cikarang)[53] 28 Mei 2022 (Lingkar Cikarang)[51] | |
| Cikarang—Manggarai—Angke (half-racket) | 20 | 38,9 km | 2022 | 28 Mei 2022[51] | |
| Tanah Abang—Rangkasbitung | 19 | 72,8 km | 1992 | 5 Desember 2011[50] (Tanah Abang-Tigaraksa) 1 April 2017 (Tanah Abang-Rangkasbitung)[54] | |
| Duri—Tangerang | 11 | 19,3 km | 1997 | 5 Desember 2011[50] | |
| Jakarta Kota—Tanjung Priuk | 4 | 8,1 km | 2015 | 5 Desember 2011 (sebagian, hanya feeder)[50]
22 Desember 2015 (beroperasi penuh)[55] | |
| Wilayah VI Yogyakarta | |||||
| Y Commuter Line Yogyakarta | Yogyakarta—Palur | 13 | 65,5 km | 2021 | 10 Februari 2021 (Yogyakarta-Solo Balapan)
17 Agustus 2022 (Solo Balapan-Palur)[46] |
| † Tidak termasuk Stasiun Gambir (tidak melayani Commuter Line) ^ Termasuk Stasiun Pasar Senen. Stasiun ini hanya melayani perjalanan ke arah utara (menuju Kampung Bandan). Perjalanan ke arah selatan (menuju Jatinegara) tidak berhenti di stasiun ini. | |||||

Sebagai tahapan penerapan program e-ticketing, PT Kereta Api Indonesia dan PT KAI Commuter Jabodetabek mulai 2012 mengganti Kartu Trayek Bulanan (KTB)/Kartu Langganan Sekolah (KLS) secara bertahap hingga pada 1 Juli 2013 ditetapkan menjadi Commuter Electronic Ticketing (Commet). Kartu Commet adalah alat pembayaran pengganti uang tunai yang digunakan untuk transaksi perjalanan KA Commuter Line sebagai tiket perjalanan KA, yang disediakan dalam bentuk kartu sekali pakai (Single-Trip) dan prabayar (Multi-Trip). Penumpang diwajibkan untuk melakukan tap-in di gerbang masuk dan memasukkan kartu single-trip ke dalam gerbang keluar (card-present slot) atau cukup tap-out bagi pengguna kartu prabayar di gerbang keluar.
Bersamaan dengan pemberlakuan Commet, sistem tarif progresif diberlakukan. Sistem ini menggunakan hitungan jumlah stasiun yang dilewati sebagai dasar perhitungan tarif tiap penumpang. Awalnya berlaku tarif normal, tetapi karena adanya subsidi dana public service obligations (PSO) Kementerian Perhubungan bagi KA Commuter, maka tarif berlaku tarif subsidi.[56]
Mulai 1 April 2015, tarif progresif mengalami perubahan. Sistem tarif progresif baru menghitung tarif berdasarkan jarak.[57] Selain itu, ketentuan uang jaminan untuk THB dan minimal saldo untuk tiket multi-trip dan kartu bank berubah.
Karena penerapan tiket single trip mengakibatkan banyaknya kejadian tiket perjalanan single trip hilang, pada tanggal 11 Agustus 2013 KCJ menerapkan sistem ticketing pengganti sistem single trip untuk penumpang KRL Commuter Line tanpa berlangganan. Penghitungan tarif sesuai dengan skema tarif perjalanan single trip, tetapi penumpang diharuskan untuk membayar uang jaminan untuk THB. Uang jaminan dapat diambil kembali di stasiun hingga jangka waktu maksimal 7 hari atau ditukarkan kembali dengan THB baru dengan membayar tarif untuk perjalanan selanjutnya.
Sejak 1 Agustus 2019, khusus Stasiun UI, Sudirman, Palmerah, Cikini, dan Taman Kota, resmi menghapus penjualan kartu THB. Hal ini karena mayoritas penumpang KRL Commuter Line di kelima stasiun tersebut sudah terbiasa menggunakan kartu multi trip maupun uang elektronik.[58][59] Per 5 Desember 2020, Stasiun Bogor, Stasiun Cilebut,[60] Stasiun Rangkasbitung,[61] dan Stasiun Cikarang melaksanakan penghapusan penjualan kartu THB secara bertahap guna mengurangi kontak penumpang dalam mengantisipasi penularan COVID-19,[62] yang kemudian disusul pada 25 Maret 2021 dengan Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Bekasi, Stasiun Kranji, Stasiun Bojonggede, Stasiun Citayam, Stasiun Depok, Stasiun Depok Baru, Stasiun Parung Panjang, Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Angke.[c][63]
Akhirnya pada 3 September 2022, sistem THB resmi dihapuskan dan seluruh Stasiun Commuter Line, baik di Jabodetabek maupun di Wilayah VI Yogyakarta, ditetapkan sebagai Stasiun Uang Elektronik yang hanya menerima transaksi dengan Kartu Multi Trip (KMT), Kartu Uang Elektronik Bank, dan kode QR (LinkAjaǃ dan Go Transit) untuk dapat menggunakan layanan KRL Commuter Line.[64]
Selain tiket harian berjaminan, penumpang dapat menggunakan Kartu Multi Trip (KMT) berteknologi FeliCa.[65] Kartu Multi Trip adalah kartu prabayar isi ulang yang dapat digunakan penumpang sebagai tiket KRL dengan ketentuan saldo minimum. Kartu tersebut dapat digunakan untuk naik Commuter Line, Transjakarta, LRT Jabodebek, MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan Trans Jogja.[66] dan dapat di isi ulang di seluruh stasiun Commuter Line di Jabodetabek dan Yogyakarta. Saat ini, saldo KMT sudah dapat dicek melalui ponsel pintar melalui aplikasi KRL Access dengan memanfaatkan fitur NFC.[67]
Sejak 8 Desember 2013, kartu Flazz BCA sudah dapat digunakan di Commuter Line, dan sejak tanggal 16 Juni 2014, kartu e-money (Bank Mandiri), Brizzi (Bank BRI), dan TapCash (Bank BNI kecuali Jak Lingko) juga sudah dapat digunakan di Commuter Line.[68] Cara penggunaan kartu tersebut sama halnya dengan cara penggunaan Kartu Multi Trip, akan tetapi keempat kartu tersebut tidak dapat dibeli dan diisi ulang di seluruh stasiun Commuter Line di Jabodetabek, melainkan di merchant-merchant terkait dan seluruh halte bus Transjakarta (tunai). Pengisian dapat dilakukan secara tunai maupun dengan kartu ATM bank terkait. Beberapa stasiun Commuter Line juga telah melayani pengisian ulang keempat kartu tersebut, seperti Sudirman dan Juanda, tetapi tidak bisa secara tunai dan harus menggunakan kartu ATM bank terkait (kartu debit maupun kredit). Keempat kartu tersebut juga dapat digunakan sebagai tiket LRT Jabodebek, LRT Jakarta, MRT Jakarta, dan Transjakarta.[69] Berikut ini daftar kartu uang elektronik perbankan yang beredar telah disahkan oleh KAI Commuter.
Pengguna dapat dikenakan denda (suplisi[d]) jika melakukan perjalanan tanpa tiket (anak berumur 3 tahun ke atas/tinggi badan 90 cm wajib memiliki tiket[70]), menggunakan tiket harian berjaminan (THB) yang telah kedaluwarsa atau Kartu Multi Trip (KMT) yang saldonya kurang dari tarif tertinggi. Pengguna THB yang tidak melakukan tapping in/tapping out dengan benar atau tarif dalam tiketnya kurang (turun di stasiun yang lebih jauh), THB akan diambil dan tidak mendapatkan pengembalian uang jaminan. Sedangkan untuk pengguna KMT yang tidak melakukan tapping in/tapping out dengan benar maka pengguna harus menyelesaikan di loket dengan membayar tarif tertinggi.
Dahulu pengguna THB juga mendapatkan fasilitas free out, fasilitas untuk dapat melakukan sekali tapping out pada stasiun yang sama dengan stasiun tapping in terhitung satu jam dari waktu transaksi pembelian THB di loket. Untuk pengguna KMT terhitung satu jam dari tapping in. Per tanggal 16 Desember 2015, fasilitas free out ini pun ditiadakan. Sehingga setiap penumpang yang masuk dan keluar di stasiun yang sama akan dikenakan denda. Untuk pengguna KMT atau Kartu Prabayar/Kartu Uang Elektronik Bank dikenakan pemotongan saldo sesuai tarif terendah. Untuk pengguna THB, tarif relasi perjalanan di dalam kartu akan hangus, tetapi refund kartu masih dapat dilakukan.[71]
Usai jembatan penyeberangan (JPH) Stasiun Batu Ceper diresmikan pada 18 Juli 2019, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menerapkan kebijakan tarif khusus bagi penumpang pada akses antara sisi stasiun bandara Batu Ceper dan sisi selatan stasiun tersebut yang melayani KRL Lin Tangerang untuk mempermudah akses penumpang menuju antarmoda penghubung KRL Commuter Bandara Soekarno-Hatta menuju Terminal Poris Plawad.[72][73] Serupa dengan konsep free out sebelumnya, hal yang menjadi perbedaan yakni penumpang tetap dikenakan biaya sebesar Rp1,00 (satu rupiah) dengan melakukan tapping in dan tapping out di stasiun yang sama dan berbatas waktu hingga 15 menit, dari yang mulanya 1 jam, sebelum akhirnya dikenai tarif reguler. Kebijakan yang sama juga diberlakukan di Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman dengan alasan yang serupa.[74][75]
LinkAja! mulai diimplementasikan pada stasiun-stasiun KRL Commuter Line sejak 1 Oktober 2019 di 200 mesin tap-in dan tap-out stasiun. Prinsip kerjanya menggunakan kode QR yang diarahkan pada scanner yang ditanam pada mesin tap-in dan tap-out berlogo LinkAja!. Aplikasi akan secara otomatis menahan saldo senilai tarif maksimal perjalanan KRL, yakni Rp 13.000,00. Saldo kemudian akan dikembalikan setelah melakukan tap-out dikurangi tarif perjalanan yang telah ditempuh. Karena itulah, aplikasi LinkAja! hanya bisa digunakan untuk naik KRL apabila saldo tidak kurang dari Rp13.000,00.[76][77]
Pada 16 Januari 2023, penggunaan LinkAja! Sebagai Pembayaran Tarif KRL Commuter Line dihentikan. Hal ini berlaku baik bagi pembayaran KRL di Jabodetabek maupun KRL di Yogyakarta—Solo (kini Palur). Penumpang KRL pun dialihkan untuk menggunakan metode pembayaran lain yang tersedia.[78]
Selain menggunakan kartu Jak Lingko, pengguna KRL di Jabodetabek dapat pula memanfaatkan aplikasi Jak Lingko. Dengan memanfaatkan sistem Account-based ticketing (ABT), aplikasi Jak Lingko dapat mengintegrasikan perjalanan KRL dengan moda transportasi lain baik melalui pemesanan tiket multimoda maupun dengan menunjukkan kode QR ABT (yang dipromosikan sebagai QR EasyGo/QR Pay-As-You-Go) pada mesin pembaca kode QR pada gerbang putar stasiun. Meskipun terintegrasi, penetapan tarif di KRL Commuter Line masih belum terintegrasi dan menggunakan tarif umum yang berlaku saat ini.[79][80]
Pada 30 Mei 2022, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk selaku penyedia aplikasi Gojek meluncurkan layanan pembelian tiket KRL untuk turut mendukung upaya orang-orang berminat menaiki transportasi publik. Pembelian tiket dilakukan melalui fitur bernama GoTransit, dengan prinsip penggunaan yang tidak jauh berbeda dengan LinkAja!. Namun, pengguna harus menentukan terlebih dahulu stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan dan melakukan pembayaran sebelum mendapatkan kode QR tiket KRL.[81]
Pada 14 Maret 2025, Bank Indonesia meluncurkan inovasi QRIS Tap, teknologi Kode QR Standar Indonesia yang dihantarkan melalui komunikasi medan dekat (near-field communication/NFC) yang dimiliki pada kebanyakan ponsel cerdas di Indonesia. Setelah implementasinya di MRT Jakarta, KAI Commuter mendukung teknologi ini dengan mulai menerapkan penggunaan QRIS Tap secara bertahap pada beberapa stasiun KRL di Jabodetabek (Daop I) dan Yogyakarta Raya (Daop VI), termasuk pula pada stasiun-stasiun di lintas pelayanan kereta api Commuter Line Prambanan Ekspres (Prameks).[82] QRIS Tap sejatinya telah direncanakan untuk diterapkan di KRL Commuter Line pada bulan September 2025.[83] Namun dengan mempertimbangkan kesiapan teknis maupun operasional, implementasinya baru dijalankan pada akhir bulan Oktober 2025. Penerapan dilakukan dengan menerapkan skema pemotongan tarif dan penahanan saldo yang serupa dengan penggunaan aplikasi LinkAja, dengan penempelan gawai yang mendukung NFC pada tempat serupa dengan KUE dan KMT.[84]
Access by KAI diluncurkan praresmi oleh PT Kereta Api Indonesia di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada tanggal 7 Juli 2023, dan diluncurkan penuh pada 10 Agustus 2023. Aplikasi tersebut merupakan kelanjutan dari KAI Access dengan user interface yang dirombak seluruhnya untuk mengakomodasi seluruh layanan dalam Grup KAI, termasuk LRT (Jabodebek dan Sumatera Selatan), KA Bandara, semua layanan Commuter Line, dan Whoosh.[85][86]
Selain itu, KAI Commuter juga menyediakan aplikasi yang dikembangkannya sendiri, C-Access, yang diluncurkan secara praresmi pada tanggal 18 Januari 2023. Pendahulu aplikasi ini, KRL Access, awalnya hanya digunakan untuk memantau posisi KRL. Namun, seiring kebutuhan yang semakin meningkat, C-Access menyertakan opsi pembayaran digital Gopay dan OVO, isi ulang Kartu Multi-Trip, dan QR Tiket.[87] C-Access diluncurkan secara resmi di sela-sela konser tur Addie M. S. bersama Twilite Orchestra di Taman Pracima, kompleks Pura Mangkunagaran, Kota Surakarta pada tanggal 3 Desember 2023.[88][89]
Bagian ini mungkin mengandung riset asli. |
Jalur KRL Commuter Line Jabodetabek dilayani oleh beberapa tipe dan jenis kereta. Sekarang, Jalur ini hanya dilayani oleh KRL AC. KRL Ekonomi non-AC sudah dihentikan operasionalnya pada tahun 2013.
KRL Ekonomi adalah unit armada KRL yang ditujukan untuk masyarakat kelas ekonomi menengah dan bawah. Kelas ini menggunakan armada KRL lama yang tidak menggunakan fasilitas pendingin udara (AC). Sejumlah rangkaian dibuat oleh Nippon Sharyo dan Kawasaki, juga Hitachi, Ltd. (Jepang), BN-Holec (Belanda), ABB-Hyundai (Korea) yang bekerja sama dengan PT INKA. KRL jenis ini sudah tidak dioperasikan lagi di semua jalur, dan seluruhnya disimpan di Depo KRL Depok atau Balai Yasa Manggarai. Beberapa rangkaian KRL non-AC tipe Rheostatik telah dikirim ke Stasiun Purwakarta untuk dibesituakan (afkir). Kini, seluruh KRL ekonomi dikirim ke Purwakarta dan Cikaum.
KRL BN-Holec adalah unit KRL ekonomi termuda. KRL ini dibuat oleh Bombardier Transportation Belgium (dahulu La Brugeoise et Nivelles) dengan mesin buatan Holland Electric, bekerja sama dengan PT INKA, Madiun. Unit ini dulunya sempat melayani KRL Ekspres dan Ekonomi. Dari seluruh rangkaian ekonomi yang ada, KRL BN-Holec tergolong paling sulit dirawat. Selain karena masalah suku cadang yang susah dicari (pabriknya sudah lama tutup), KRL ini pun juga sering mengalami mogok karena kelebihan beban (overload). Sehingga banyak KRL BN-Holec yang rusak dan mangkrak di Balai Yasa Manggarai, lalu dijadikan KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) yang dioperasikan di beberapa kota di luar Jakarta. "Rekondisi" KRL Holec adalah KRDE yang dioperasikan di rute Kutoarjo—Yogyakarta—Solo (Prameks dan Sriwedari), serta Padalarang-Cicalengka (Baraya Geulis). Selain itu KRL Holec juga direkondisi menjadi KRL Holec AC yang sudah beroperasi di jalur Tangerang. Hampir seluruh KRL Holec telah dikirim ke Purwakarta untuk dirucat.
KRL Rheostatik adalah KRL buatan Jepang yang dibuat dari tahun 1976 sampai tahun 1987 dengan teknologi Rheostat. Umumnya, KRL ini dibuat oleh perusahaan Nippon Sharyo, Hitachi, dan Kawasaki dari Jepang, untuk melayani kelas KRL Ekonomi. KRL Rheostatik buatan pabrik Kawasaki dan Hitachi tahun 1986-1987 dulunya melayani KRL Pakuan Ekspres, Depok Ekspres, dan Bekasi Ekspres pada tahun '90-an. Setelah KRL Hibah (KRL Toei 6000) datang, KRL ini mulai terlupakan dan dijadikan rangkaian KRL Ekonomi. Khusus untuk KRL Rheostatik yang datang pada tahun 1986-1987, bodinya sudah stainless steel dan satu set KRL Rheostatik Stainless merupakan KRL AC pertama di Indonesia.
Untuk KRL buatan Nippon Sharyo tahun 1976, 1978, 1983, dan 1984, kereta ini sudah mengalami banyak perubahan, baik kaca depan maupun skema warna/livery. Semula menggunakan skema PJKA yaitu berwarna merah polos dengan "wajah" kuning terang dari tahun 1976-1990-an, kemudian pada era Perumka diubah menjadi merah dan biru dengan garis putih seperti KA Ekonomi pada era 90-an awal, di mana saat itu, pintu KRL mulai mengalami kerusakan dan pada tahun 1993 yaitu: satu set KRL Rheostatik mild dan stainless mengalami kecelakaan di antara Stasiun Depok dan Citayam.[90] Di era 90-an akhir, tepatnya tahun 1995-2000, KRL ini dicat dengan warna putih-hijau dengan garis biru tua dan biru muda Pada era PT KAI, kemudian diubah menjadi orange dengan garis kuning, dan terakhir putih dengan garis merah. Kedua KRL ini mulanya seperti KRL Ekonomi AC atau Ekspres, yakni pintunya dapat tertutup secara otomatis, dan cukup nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu kondisi kedua KRL ini menurun. Kerusakan pada pintu KRL terjadi disebabkan pengganjalan pintu oleh penumpang.
Pada 2009, telah dioperasikan KRL Rheostatik dengan kabin masinis yang telah dimodifikasi dan diberi nama "Djoko Lelono". KRL ini adalah hasil modifikasi dari sejumlah unit KRL rheostatik dengan kabin masinis yang menjadi aerodinamis yang konon terinspirasi dari KA Intercity-Express (ICE).[siapa yang mengatakan demikian?] Pintu penumpang juga diaktifkan kembali sehingga dapat membuka dan menutup seperti sediakala.
Sejak tak lagi dioperasikannya seluruh KRL ekonomi non-AC, KRL Rheostatik disimpan di Depo KRL Depok dan Balai Yasa Manggarai. KRL Rheostatik dengan bodi mild steel sebagian besar dikirim ke Stasiun Purwakarta untuk dibesituakan (afkir). Sementara KRL Rheostatik Stainless masih ada yang disimpan di Depo KRL Depok atau Balai Yasa Manggarai, mengingat tidak menutup kemungkinan untuk diretrofit menjadi KRL AC atau ikut dirucat ke Purwakarta. Kini, masih ada beberapa rangkaian KRL Rheostatik yang bernasib mujur dibandingkan KRL lainnya. Namun, KRL yang masih aktif ini dioperasikan untuk logistik antar depo atau sebagai KRL penolong jika sedang diperlukan.
KRL ini dibuat pada tahun 1997 di PT INKA bekerja sama dengan Hitachi, dibuat sebanyak 64 unit (8 set) berteknologi Variable Voltage Variable Frequency-Insulated Gate Bipolar Transistor (VVVF-IGBT). Kereta ini memiliki ciri yang khas yaitu ketika mulai bergerak yang sangat halus dan tidak menyentak. Jenis KRL ini pernah digunakan sebagai KA Pakuan Ekspres kelas bisnis sampai akhirnya turun tingkat ketika era KRL Toei 6000 datang dari Jepang. Saat ini rangkaian KRL Hitachi yang telah dikirim ke Purwakarta untuk ditanahkan.

KRL ini dibuat atas kerja sama antara PT INKA, ABB, dan Hyundai, dirakit di PT INKA pada tahun 1985-1992 dibuat sebanyak 8 kereta (2 set) berteknologi VVVF-GTO (Gate Turn Off) dan disebut-sebut merupakan prototype kereta MagLev yang dikembangkan Hyundai untuk jalur Seoul-Pusan.[siapa yang mengatakan demikian?] KRL Hyundai ini sempat mangkrak dalam waktu yang lama, lalu beroperasi kembali dan kemudian pensiun. Saat ini KRL ABB Hyundai telah dikonversi menjadi KRDE dan beroperasi di jalur Surabaya-Mojokerto sebagai Arek Surokerto.
KRL AC adalah KRL dengan fasilitas AC, sehingga lebih nyaman dari KRL Ekonomi. Era peng-AC-an KRL dimulai tahun 1990-an, ketika diluncurkannya KRL Pakuan Ekspres Utama Jakarta Kota-Bogor. Saat ini, KRL AC di Jabodetabek sudah menjamur, kini semua KRL Commuter Line sudah dipasangi AC.
KRL ini adalah KRL yang diimpor dari operator kereta bawah tanah milik Biro Transportasi Pemerintah Daerah Tokyo (Toei Transportation), dalam rangka kerja sama strategis Indonesia-Jepang saat itu. Meramaikan jalur Jabodetabek mulai tahun 2000, Toei 6000 ini dioperasikan di sebagian besar rute untuk layanan ekspres dengan tambahan pendingin udara (AC). Karena berstatus hibah dari Pemerintah Daerah Kota Tokyo, KRL ini sering disebut sebagai KRL hibah.
Pada mulanya, didatangkan 72 unit kereta dari Jepang dengan masing-masing rangkaian terdiri dari 8 kereta. Namun, pada akhirnya hanya sebanyak 3 rangkaian yang memiliki 8 kereta (6121F, 6161F, 6171F), sedangkan sisanya dijadikan 6 kereta per rangkaian. Namun mulai tahun 2012 akhir formasi Toei 6000 banyak diubah karena rangkaian yang memiliki 6 kereta diperpanjang menjadi 8 kereta. Ada 4 rangkaian (sebelumnya 3 rangkaian) menggunakan kabin modifikasi, yang dibuat oleh Balai Yasa Manggarai.
Sejak kedatangan KRL JR 205, KRL Toei 6000 satu persatu mulai dipensiunkan. Pada pertengahan tahun 2014, tersisa 5 rangkaian (6121F, 6161F, 6181F, 6177F, 6227F) yang masih beroperasi. Dari jumlah 5 rangkaian itu berkurang menjadi 3 rangkaian pada akhir 2014 (6121F, 6161F, 6177F). Kini, seluruh KRL Toei 6000 sudah berhenti beroperasi. Rangkaian disimpan atau ditanahkan di Depo Depok dan Stasiun Cikaum, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
KRL eks Tokyu Corporation (atau disebut Tokyu) mulai meramaikan armada komuter Jabodetabek sejak masuknya KRL Tokyu 8000 dan Tokyu 8500. KRL Tokyu 8000 dibuat pada tahun 1969 dan KRL Tokyu 8500 dibuat pada tahun 1975 dan merupakan pengembangan dari Tokyu 8000. Khusus untuk unit bernomor depan 07xx dan 08xx (mis. 0715 dan 0815) adalah unit yang dibuat pada tahun 1985 ke atas.
KRL ini diimpor dari Jepang dengan harga sekitar 800 juta per unit, atau sekitar 6,5 miliar per rangkaian dengan 8 kereta. Berkat perawatan yang baik, KRL Tokyu jarang bermasalah selama masa pengoperasiannya dan dapat dioperasikan selama 19-20 tahun di Jabodetabek. Saat ini, semua rangkaian Tokyu 8000 dan Tokyu 8500 telah dipensiunkan dan ditetapkan sebagai cagar budaya oleh KAI Commuter.[92]
KRL eks East Japan Railway Company seri 103 didatangkan pada 2004. KRL JR 103 ini adalah salah satu rangkaian yang mulanya digunakan untuk layanan Bojonggede Ekspres dan Depok Ekspres. Akibat bertambahnya jumlah penumpang, KRL ini pun diganti dengan rangkaian lain yang memiliki 8 kereta per set.
KRL ini masing-masing rangkaiannya terdiri dari 4 kereta (1 rangkaian), dan pernah menjadi salah satu rangkaian KRL dengan AC terdingin di Jabodetabek. KRL ini berada di bawah alokasi Depo KRL Depok. KRL JR 103 telah berhenti beroperasi sejak 1 Januari 2016.
KRL ini dapat dioperasikan dalam formasi 8 kereta, dengan menggabungkan masing-masing dua rangkaian 4 kereta menjadi satu. KRL ini memiliki beberapa skema warna. Skema pertama yang digunakan adalah warna asli Jepang, skema kedua adalah skema asli Jepang ditambah warna kuning di bagian jendela, skema ketiga adalah warna biru, skema keempat adalah skema warna putih, dan skema terakhir adalah skema seperti pada KRL milik PT KCJ yang berwarna merah-kuning.
Kini, seluruh rangkaian KRL seri 103 tidak beroperasi dan ditanahkan di Stasiun Cikaum.
KRL eks East Japan Railway Company seri 203, tiba di Indonesia pada tanggal 2 Agustus 2011. Di Indonesia, KRL ini dioperasikan dalam 3 jenis formasi sejak pengaturan ulang formasi KRL seri 203 yang dilakukan bulan Desember 2016,[93] yaitu 8, 10, dan 12 kereta. Saat ini, semua rangkaian JR East Seri 203 telah dipensiunkan dan ditetapkan sebagai cagar budaya oleh KAI Commuter.[92]
Kereta rel listrik JR East 205, tiba di Indonesia pada tanggal 3 November 2013. KRL ini dulunya beroperasi di jalur Saikyo dan dimiliki oleh Depo Kawagoe sebanyak 18 rangkaian (180 unit). Sebanyak 3 rangkaian pengiriman kelompok pertama tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada tanggal 10 November 2013 dengan nomor rangkaian HaE 7, 11, dan 15, dan 2 rangkaian pengiriman kelompok kedua pada tanggal 16 November 2013 dengan nomor rangkaian HaE 14 dan 25. Selanjutnya KRL ini datang secara bertahap dengan jumlah per kedatangan sebanyak 2-3 rangkaian. KRL ini digunakan untuk menggantikan KRL yang AC-nya akan diperbaiki.
KRL ini juga dikenal karena memiliki unit dengan 6 pintu per sisinya. Unit ini merupakan kereta dengan bangku yang bisa dilipat untuk memaksimalkan kapasitas saat jam sibuk. Namun ada juga rangkaian standar dengan seluruh unit dengan 4 pintu per sisi.
Pada tanggal 6 Februari 2014, rangkaian HaE 15 telah menjalani ujicoba operasional, dan menjadi rangkaian JR 205 pertama yang dipakai untuk mengangkut penumpang. Sejak 5 Maret 2014, KRL JR 205 resmi berdinas reguler di jalur Jakarta-Bogor.[94]
Mulai bulan Mei 2014, didatangkan juga KRL JR 205 dari jalur Yokohama yang dulunya dimiliki oleh Depo Kamakura sebanyak 22 rangkaian (176 unit). Rangkaian KRL JR 205 dari Yokohama ini terdiri dari 8 kereta dengan 1 unit kereta yang memiliki 6 pasang pintu.
Mulai bulan Juli 2015, didatangkan juga KRL JR 205 dari jalur Nambu yang dulunya dimiliki oleh Depo Nakahara sebanyak 20 rangkaian (120 unit). Rangkaian KRL JR 205 dari Nambu ini terdiri dari 6 kereta dan akan dioperasikan sepanjang 12 kereta dengan menggabungkan 2 rangkaian KRL.
Mulai Maret 2018, didatangkan juga KRL JR 205 dari jalur Musashino yang dulunya dimiliki oleh Depo Keiyo sebanyak 32 rangkaian (336 unit).[95] Rangkaian KRL JR 205 dari Musashino ini terdiri dari 8 kereta dengan sebagian besar bermesin VVVF-IGBT.
Keseluruhan rangkaian seri 205 ini formasinya diacak-acak mulai awal tahun 2016 yang lalu,[96] sehingga mengakibatkan tercampurnya kereta-kereta dari rangkaian Saikyo, Yokohama, Nambu, dan Musashino.
Selain beroperasi di Jabodetabek, KRL seri 205 juga beroperasi di Yogyakarta.
KRL eks Toyo Rapid 1000 (1061F, 1081F, 1091F) didatangkan dengan masing-masing 10 rangkaian per set, pada awalnya hanya dioperasikan dengan 8 kereta per set akibat terbatasnya panjang peron dan kurangnya daya pada saat itu. Namun rangkaian 1081F dikembalikan menjadi 10 kereta pada tahun 2017. Seluruh rangkaian KRL Toyo Rapid 1000, baik yang dikirim ke Indonesia maupun yang tidak, merupakan modifikasi dari KRL Tokyo Metro (saat itu Eidan) 5000 pada tahun 1995.
KRL eks Tokyo Metro 05 mulai tiba di Jakarta pada bulan Agustus 2010, diawali dengan rangkaian 05-02F dan 05-07F. Total keseluruhan ada 8 rangkaian KRL seri 05 yang telah tiba di Indonesia. Saat ini beberapa rangkaian dari Tokyo Metro seri 05 sedang di retrofit di PT INKA dan beberapa rangkaian lainnya sudah ditumpuk di Depo KRL Depok, sempat direncanakan bahwa kabin dari Tokyo Metro seri 05 set 05-110 akan dikirim ke Mako Brimob.
KRL eks Tokyo Metro 5000 (5809F/59F, 5816F/66F, 5817F/67F) didatangkan dengan masing-masing 10 kereta per set, tetapi hanya dioperasikan dengan 8 kereta akibat terbatasnya panjang peron dan kurangnya daya pada saat itu. Namun rangkaian 5817F dikembalikan menjadi 10 kereta pada tahun 2017.
Kereta rel listrik Tōkyō Metro seri 6000 (東京地下鉄6000系, Tōkyō Chikatetsu 6000-kei) adalah kereta rel listrik buatan Jepang yang beroperasi di lintas KRL Commuter Line Jabodetabek sejak tahun 2011 hingga saat ini. KRL ini diproduksi oleh Nippon Sharyo, Kawasaki Heavy Industries, Kinki Sharyo, Tokyu Car Corporation, dan Kisha Seizo sejak tahun 1968 hingga 1990 dan juga merupakan seri KRL pertama yang beroperasi di jalur Tokyo Metro Chiyoda Line sejak awal pembukaannya pada tahun yang sama.
KRL eks Tokyo Metro 6000 kedatangan 2011-2013 (6105F, 06F, 07F, 11F, 12F, 13F, 15F, 23F, 25F, 26F, 27F, 33F, dan 34F) didatangkan dengan masing-masing 10 kereta, tetapi hanya dioperasikan dengan 8 kereta akibat terbatasnya panjang peron dan kurangnya daya pada saat itu. Namun untuk kedatangan 2016 (6101F, 08F, 16F, 17F, 18F, 31F), 2017 (6119F, 20F, 21F, 24F, 29F, 32F), dan 2018 (6122F, 32F) dioperasikan dengan formasi 10 kereta.
Kereta Rel Listrik Tōkyō Metro 7000 (東京メトロ7000系code: ja is deprecated , Tōkyō Metoro 7000-kei) adalah kereta rel listrik buatan Jepang yang beroperasi di Lintas Yurakucho dan Fukutoshin sejak 1974 hingga 2022, dan lintas Jabodetabek sejak 2010 hingga 2025.[97] KRL ini berbasis dari Tokyo Metro 6000 yang digunakan di Chiyoda Line.
KRL eks Tokyo Metro 7000, (7117F, 21F, 22F, 23F) didatangkan dengan masing-masing 10 kereta per set, tetapi hanya dioperasikan dengan 8 kereta akibat terbatasnya panjang peron dan kurangnya daya pada saat itu.
Pada Tahun 2025, KRL Tokyo Metro seri 7000 hanya tersisa 2 trainset Dikarenakan Tokyo Metro 7000 set 7017 sudah pensiun atau TSGO (Tidak Siap Guna Operasi) dan Tokyo Metro 7000 set 7021 mengalami tabrakan dengan Truk tangki pengangkut bahan bakar di perlintasan sebidang di Pondok Betung, Pondok Aren, Tangerang Selatan sejak 9 Desember 2013 lalu.
Saat ini rangkaian 7121F tidak bisa dioperasikan karena mengalami tabrakan dengan truk pengangkut bahan bakar di pintu perlintasan Pondok Betung, Pondok Aren, Tangerang Selatan pada tanggal 9 Desember 2013.[98] Akibat kecelakaan tersebut, kereta KuHa 7121 (K1 1 10 11) mengalami kerusakan berat pada struktur badan kereta, yang sebagian besar terbuat dari bahan alumunium alloy. Bagian kabin masinis penyok dan meleleh akibat benturan dan kobaran api yang berasal dari truk pengangkut bahan bakar setelah kejadian. Saat ini semua rangkaian Tokyo Metro 7000 dipensiunkan dari lintas jabodetabek dan ditetapkan sebagai cagar budaya oleh KAI Commuter.[92]
KRL-I Prajayana atau EA201 dibuat tahun 2001, sebagai hasil produk PT INKA yang merupakan pabrik kereta api nasional. Dengan alasan biaya pengadaan yang terlalu tinggi dan sering bermasalah, KRL-I jarang digunakan. KRL ini disebut sebagai KRL Prajayana. KRL-I yang digunakan oleh PT KAI pada awalnya terdiri dari 2 rangkaian, masing-masing dengan 4 kereta. Terakhir, KRL-I dicat dengan striping biru. Saat ini KRL-I sudah tidak beroperasi dan ditanahkan di Stasiun Cikaum.

KRL seri i9000 atau EA202 mulai diproduksi pada tahun 2010 dan diresmikan bersamaan dengan kereta api Gajahwong pada hari Rabu tanggal 24 Agustus 2011. KRL ini dibuat sebanyak 40 unit (10 set), dengan setiap rangkaian terdiri dari 4 kereta dengan kodefikasi baru (K3 1 11 xx). Mulai bulan Oktober 2015 hingga pertengahan 2019, KRL KfW dihentikan operasionalnya secara bertahap dan mulai dikembalikan ke PT INKA untuk perbaikan. Istilah KfW berasal dari nama bank milik Pemerintah Jerman, yakni "Kreditanstalt für Wiederaufbau".
KRL ini sebelumnya dioperasikan di rute feeder di Jakarta di mana KRL ini dioperasikan dengan 1 rangkaian saja. Kini, KRL ini beroperasi di Lin Yogyakarta.

KRL Holec AC adalah hasil modifikasi dan peremajaan dari KRL Holec non-AC yang beroperasi di Jabotabek. Modifikasi dilakukan di lingkungan PT INKA, pabrik yang juga membuat KRL Holec non AC medio 1994-2001.
Modifikasi meliputi penggantian material kursi, penggantian mesin KRL (dari Bombardier menjadi Woojin), kabin masinis, pemasangan GPS dan TMS (Train Monnitoring System), serta pemasangan AC. Rangkaian ini telah beroperasi secara resmi pada tanggal 29 Maret 2014 di jalur Duri—Tangerang. Namun operasional KRL Holec AC ini terbilang sebentar, karena pada kuartal ketiga 2014 KRL Holec AC dikembalikan ke PT INKA untuk perbaikan. Hingga saat ini, KRL Holec AC masih berada di PT INKA, Madiun.
Meskipun tidak lagi menggunakan komponen dari BN-Holec dan Bombardier, KRL ini tetap disebut KRL Holec AC.

Kereta rel listrik seri iE305, dikenal juga sebagai CLI-225, adalah kereta rel listrik yang dirancang dan diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (INKA) di Madiun, Jawa Timur,[99] berkerja sama dengan Japan Transport Engineering Company (J-TREC).[100] KRL ini dibuat berdasarkan spesifikasi teknis yang telah ditentukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. KRL seri iE305 ini memiliki 12 rangkaian per trainset.
KAI Commuter dan PT INKA menandatangani kontrak pengadaan 16 rangkaian atau 192 unit iE305 pada 9 Maret 2023.[101] Pengiriman seluruh rangkaian iE305 akan dilakukan secara bertahap dari tahun 2025 hingga 2027. desain tampak luar dari KRL ini memiliki desain yang serupa dengan JR East seri E235 yang dioperasikan oleh Japanese Railway East dengan bentuk bodi persegi bulat serta dengan kaca kabin masinis yang lebih luas dibandingkan KRL sebelumnya. Selain itu, pada sisi samping bodi kereta terdapat corak dengan skema warna merah, hitam dan abu-abu yang menyambung dari kereta gerbong pertama hingga kereta gerbong terakhir. Juga terdapat panel informasi tujuan berupa teks berjalan (running text) yang terdapat pada atas kabin masinis.[102]

Pada tanggal 31 Januari 2024, PT. Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) menandatangani kontrak kerja sama dengan CRRC Qingdao Sifang Co., Ltd, perusahaan produksi sarana perkeretaapian di Tiongkok. Kerja sama ini bertujuan untuk pengadaan rolling stock Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek.[103] [104] Penandatanganan kontrak ini dilakukan oleh Direktur Utama KAI Commuter, Asdo Artriviyanto, di Beijing, Tiongkok. Acara ini juga disaksikan oleh Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Indonesia untuk Cina, Parulian George Andreas Silalahi, Sari Widita (Sekretaris I Kedubes RI), Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo, Kementerian BUMN, dan perwakilan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
Dalam kerja sama ini, KAI Commuter membeli tiga rangkaian kereta baru yang secara resmi dinamakan KRL seri SFC120-V. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan masyarakat pengguna layanan Commuter Line Jabodetabek, yang dihadapkan pada keterbatasan sarana perkeretaapian.
Proses pengadaan ini melibatkan tahapan dan pembahasan teknis yang panjang, serta mengikuti prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG). Sarana KRL seri SFC120-V ini telah memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.[105][106]
Mulai 31 Januari 2025, PT. Kereta Commuter Indonesia mulai menerima kedatangan rangkaian kereta dari CRRC Qingdao Sifang. Hingga saat ini, KAI Commuter telah menerima satu rangkaian dengan total 12 unit kereta.[107] VP Corporate Secretary KAI Commuter, Joni Martinus, menyatakan bahwa kedatangan kereta baru ini sesuai dengan rencana dan tepat waktu, sehingga dapat meningkatkan pelayanan mobilisasi pengguna Commuter Line.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 49 Tahun 2023 tentang “Standar, Tata Cara Pengujian, dan Sertifikasi Kelaikan Kereta Api Kecepatan Normal dengan Penggerak Sendiri”, seluruh sarana KRL yang beroperasi harus melalui uji sertifikasi oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Uji coba dinamis ini bertujuan untuk memastikan semua fungsi kereta berjalan dengan baik sebelum melayani pengguna.
