PT Bank Mandiri (Persero) Tbk adalah sebuah badan usaha milik negara Indonesia yang bergerak di bidang perbankan korporat. Pemerintah Indonesia memegang mayoritas saham perusahaan ini melalui Danantara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

<a href=\"./Wikipedia:Kebijakan_pelindungan#semi\" title=\"Artikel ini dilindungi semi hingga 20 Oktober 2029.\" id=\"mwBQ\"><img alt=\"Halaman yang dilindungi semi\" resource=\"./Berkas:Semi-protection-shackle.svg\" src=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1b/Semi-protection-shackle.svg/20px-Semi-protection-shackle.svg.png\" decoding=\"async\" data-file-width=\"512\" data-file-height=\"512\" data-file-type=\"drawing\" height=\"20\" width=\"20\" srcset=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1b/Semi-protection-shackle.svg/40px-Semi-protection-shackle.svg.png 2x\" class=\"mw-file-element\" id=\"mwBg\"/></a></span>"}' id="mwBw"/>
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk adalah sebuah badan usaha milik negara Indonesia yang bergerak di bidang perbankan korporat. Pemerintah Indonesia memegang mayoritas saham perusahaan ini melalui Danantara.
Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2025, bank ini memiliki 139 unit Kantor Cabang, 2.014 Kantor Cabang Pembantu, dan 12.972 unit mesin ATM dan CRM yang tersebar di seluruh Indonesia. Bank ini juga memiliki kantor di Shanghai, Cayman Islands, Dili, Hong Kong (termasuk kantor remitansi), dan Singapura, dengan kantor cabang anak perusahaan di Kuala Lumpur (Mandiri International Remittance) dan London.[3][4]
Bank ini didirikan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan akibat krisis finansial Asia 1997.[5] Pada bulan Mei 1999, bank ini mengambil alih Bank Susila Bhakti dan kemudian mengubah nama bank tersebut menjadi Bank Syariah Sakinah untuk berbisnis di bidang perbankan syariah.[6] Pada bulan Juli 1999, empat bank milik pemerintah Indonesia, yakni Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia resmi digabung ke dalam bank ini. Pada tanggal 1 Agustus 1999, bank ini pun mulai beroperasi secara penuh.[7][4] Pada bulan September 1999, bank ini mengubah nama Bank Syariah Sakinah menjadi Bank Syariah Mandiri. Pada tanggal 1 November 1999, Bank Syariah Mandiri mulai beroperasi secara penuh. Pada tanggal 31 Juli 2000, bank ini menggabungkan Exim Sekuritas dan Bumi Daya Sekuritas ke dalam Merincorp Securities Indonesia yang kemudian diubah namanya menjadi Mandiri Sekuritas.[8]
Bank ini lalu mulai melakukan konsolidasi, termasuk penutupan 194 kantor cabang dan pengurangan pegawai dari 26.600 orang menjadi hanya 17.620 orang. Bank ini juga mengganti sistem perbankannya secara menyeluruh, setelah sebelumnya mewarisi sembilan sistem perbankan dari empat bank pendahulunya. Penggantian tersebut dilakukan secara bertahap selama tiga tahun dengan fokus untuk meningkatkan kemampuan penetrasi bank ini di segmen perbankan ritel sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko konsentrasi, karena pada akhir tahun 1999, persentase kredit yang disalurkan oleh bank ini kepada nasabah korporat mencapai 87% dari total kredit.
Pada tahun 2002, bank ini mengakuisisi Asuransi Jiwa Staco Raharja dan kemudian mengubah nama perusahaan tersebut menjadi Asuransi Jiwa Mandiri. Pada tahun 2003, melalui National Mutual International, AXA resmi menguasai 49% saham Asuransi Jiwa Mandiri, sehingga nama perusahaan tersebut lalu diubah menjadi AXA Mandiri.[9] Pada tahun 2003 juga, bank ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada bulan Mei 2008, bank ini resmi mengakuisisi 80% saham Bank Sinar Harapan Bali.[10] Pada tahun 2009, bank ini mengakuisisi mayoritas saham Tunas Financindo Sarana dan kemudian mengubah nama perusahaan tersebut menjadi Mandiri Tunas Finance.[11] Pada akhir tahun 2009, persentase kredit yang disalurkan oleh bank ini kepada nasabah UMKM dan nasabah ritel masing-masing telah mencapai 42,22% dan 13,92% dari total kredit.
Pada tahun 2014, bank ini resmi memegang 60% saham PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia yang kemudian mulai berbisnis dengan nama Mandiri Inhealth.[12] Pada akhir tahun 2014, Taspen dan Pos Indonesia masing-masing resmi memegang 20,2% saham Bank Sinar Harapan Bali, sehingga kepemilikan saham Bank Mandiri di bank tersebut terdilusi menjadi 58,25%. Nama bank tersebut kemudian diubah menjadi Bank Mandiri Taspen Pos dengan fokus menyediakan berbagai macam jasa keuangan bagi pensiunan.[13] Pada tahun 2015, bank ini mendirikan Mandiri Capital untuk berbisnis di bidang modal ventura.[14]
Pada tahun 2016, bank ini membuka dua kantor cabang baru, yakni di Gili Trawangan dan Senggigi di Nusa Tenggara Barat, karena bank ini melihat prospek ekonomi yang bagus di sektor pariwisata di sana.[15] Pada akhir tahun 2016, Taspen mengakuisisi saham Bank Mandiri Taspen Pos yang dipegang oleh Pos Indonesia dan bank ini juga meningkatkan kepemilikan sahamnya di bank tersebut menjadi 59,44%,[16] sehingga pada akhir tahun 2017, nama bank tersebut diubah menjadi Bank Mandiri Taspen.[17] Pada awal tahun 2021, Bank Syariah Mandiri resmi digabung ke dalam Bank BRI Syariah yang kemudian diubah namanya menjadi Bank Syariah Indonesia sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menyatukan bank syariah milik BUMN. Sesuai dengan jumlah modal yang digabung ke dalam bank tersebut, maka mayoritas saham bank tersebut pun dipegang oleh bank ini.[18]
Pada bulan Juni 2024, bank ini menjual 60% saham Mandiri Inhealth ke IFG Life dengan harga Rp 1,71 triliun.[19] Pada bulan Maret 2025, pemerintah menyerahkan mayoritas saham perusahaan ini ke Biro Klasifikasi Indonesia, yang kemudian berganti nama menjadi Danantara Investment Management, sebagai bagian dari upaya untuk membentuk holding operasional di internal Danantara.[20]
Pada 30 Juni 2025, Bank Mandiri memindahkan kantor pusatnya dari Plaza Mandiri ke Menara Mandiri (dahulu bernama Plaza Bapindo) di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, setelah Plaza Mandiri menjadi kantor pusat Danantara dan diubah namanya menjadi Wisma Danantara.[21][22]
Pada 6 Januari 2026, dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN melalui Perjanjian Pengalihan Saham Milik Negara Republik Indonesia Berupa Saham Seri B pada BUMN Kepada Badan Pengaturan BUMN tanggal 5 Januari 2026, sekaligus mengalihkan fungsi pengelolaan negara dari Kementerian BUMN kepada BP BUMN, Bank Mandiri mengalihkan 485,33 juta saham Seri B atau setara 0,52% yang sebelumnya dimiliki oleh Danantara Asset Management kepada BP BUMN, yang kemudian dijadikan sebagai saham Seri A Dwiwarna.[23] Dengan pengalihan kepemilikan saham Seri B tersebut, porsi kepemilikan saham Danantara Asset Management berkurang menjadi 51,48%, kendati tidak mempengaruhi komposisi kepemilikan saham Negara Republik Indonesia secara keseluruhan.[24]

Berikut ini anak usaha Bank Mandiri:
| Perusahaan Anak | Nama Lengkap Perusahaan | Fokus Layanan |
|---|---|---|
| Bank Syariah Indonesia[a] | PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk | Perbankan prinsip syariah |
| Bank Mandiri Taspen | PT Bank Mandiri Taspen (MANTAP) | Perbankan privat |
| Bank Mandiri Europe | Bank Mandiri Europe Ltd. (BMEL) | Perbankan di benua Eropa |
| AXA Mandiri | PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) | Asuransi jiwa, pendidikan & kesehatan |
| Mandiri Sekuritas | PT Mandiri Sekuritas | Investasi & pasar modal |
| Mandiri Capital | PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) | Ventura |
| Mandiri Tunas Finance | PT Mandiri Tunas Finance (MTF) | Investasi, modal kerja & multiguna |
| Mandiri Utama Finance | PT Mandiri Utama Finance (MTF) | Pembiayaan kendaraan bermotor |
| Mandiri Remitance | Mandiri International Remitance Sdn. Bhd. | Perbankan untuk TKI |
Dewan Komisaris dan Direksi Bank Mandiri adalah sebagai berikut.[26]
| Nama | Posisi |
|---|---|
| Kuswiyoto | Komisaris Utama/Komisaris Independen |
| Zainudin Amali | Wakil Komisaris Utama/Komisaris Independen |
| Muhammad Yusuf Ateh | Komisaris |
| Luky Alfirman | Komisaris |
| Yuliot | Komisaris |
| Mia Amiati | Komisaris Independen |
| Zulkifli Zaini | Komisaris Independen |
| Nama | Posisi |
|---|---|
| Riduan | Direktur Utama |
| Henry Panjaitan | Wakil Direktur Utama |
| Timothy Utama | Direktur Operasi |
| Eka Fitria | Direktur Kepatuhan dan SDM |
| Danis Subyantoro | Direktur Manajemen Risiko |
| Totok Priyambodo | Direktur Perbankan Komersial |
| Mochamad Rizaldi | Direktur Perbankan Korporasi |
| Jan Winston Tambunan | Direktur Jaringan & Retail Banking |
| Novita Widya Anggraini | Direktur Keuangan dan Strategi |
| Sunarto Xie | Direktur Teknologi Informasi |
| Ari Rizaldi | Direktur Treasury & International Banking |
| Saptari | Direktur Consumer Banking |
Berikut daftar direktur Utama Bank Mandiri sejak 1998:
| No. | Direktur Utama | Awal | Akhir | Ket. |
|---|---|---|---|---|
| Muljohardjoko | ||||
| Robby Djohan | ||||
| E.C.W Neloe | ||||
| Agus Martowardojo | ||||
| Zulkifli Zaini | ||||
| Budi Gunadi Sadikin | ||||
| Kartika Wirjoatmodjo | ||||
| Sulaiman Arif Arianto | ||||
| Royke Tumilaar | ||||
| Darmawan Junaidi | ||||
| Riduan | ||||
Bank Mandiri mempunyai beberapa slogan yang berganti seiring waktu: