Bank Nationalnobu atau lebih dikenal sebagai Nobu Bank, adalah perusahaan publik yang bergerak di bidang perbankan dan berkantor pusat di Lippo Village, Tangerang, Banten.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Jenis perusahaan | Publik |
|---|---|
| Kode emiten | BEI: NOBU |
| Industri | Perbankan |
| Didirikan | Jakarta, Indonesia (1990) (sebagai Bank Alfindo) |
| Pendiri | Alfi Gunawan |
| Kantor pusat | Graha Nobu, Jl. Boulevard Diponegoro No. 101, Lippo Village, Kabupaten Tangerang |
Tokoh kunci | |
| Pendapatan | Rp 347 miliar (2017), Rp 431 miliar (2018), Rp 341 miliar (Maret 2025) |
| Rp 34 miliar (2017), Rp 44 miliar (2018), Rp 110 miliar (Maret 2025) | |
| Induk | Lippo Group (38,92%) Hanwha Life Insurance (40%) |
| Situs web | www.nobubank.com |
Bank Nationalnobu atau lebih dikenal sebagai Nobu Bank, adalah perusahaan publik yang bergerak di bidang perbankan dan berkantor pusat di Lippo Village, Tangerang, Banten.
Bank ini berawal dari PT Bank Alfindo Sejahtera (Bank Alfindo) yang dimiliki Alfi Gunawan, pendiri dari perusahaan air minum Ades dan didirikan pada 13 Februari 1990, saat itu bernama PT Alfindo Sejahtera Bank (Alfindo Bank). Kemudian, setelah sempat hendak diubah menjadi Bank First Union atau Bank Union, nama Bank Alfindo berganti menjadi Bank Nationalnobu mulai 18 Maret 2008.[1] Memasuki pertengahan 2000-an, Alfi tak sanggup memenuhi Arsitektur Perbankan Indonesia dan mencari investor baru demi banknya. Sempat sebuah raksasa perbankan asal Austria, Raiffeisen Bank International, menjajaki rencana pembelian Bank Nobu; belakangan, Alfi merencanakan menjual bank itu pada Nio Yantony dan Hendro Setiawan yang memiliki Pikko Group.[1] Sebagai informasi, Pikko dahulu pernah memiliki Bank Pikko dari 1996-2004 sebelum dimerger ke Bank Century.[2][3]
Belakangan, Pikko lebih memilih berkongsi dengan Lippo Group yang didirikan Mochtar Riady. Keduanya pada 28 September 2010 meneken akta akuisisi dengan PT Gunawan Sejahtera (perusahaan milik Alfi Gunawan) untuk membeli saham perusahaan tersebut di Bank Nationalnobu.[1] Bank Nobu saat itu hanyalah bank kecil nondevisa bermodal Rp 100 miliar, Dana Pihak Ketiga Rp 24 miliar dan kantor yang sedikit.[4] Perusahaan milik Mochtar, PT Kharisma Buana Nusantara, menyuntik dana sebesar Rp 60 miliar sekaligus mengambil posisi pemegang saham mayoritas (69,2%) dan 30,8% sisanya akan menjadi milik Pikko.[5] Akuisisi itu menandakan kembalinya Lippo Group ke dunia perbankan, setelah melepas kepergian Lippo Bank yang diambil alih pemerintah, lalu dijual ke Swissasia Global, yang kemudian dijual lagi ke Khazanah Nasional. Setelah dijual, Lippo Bank merger ke Bank CIMB Niaga pada tahun 2008.
Setelah dikuasai Lippo, aset Bank Nobu meningkat pesat. Pada 2011 asetnya hanya Rp 333,83 miliar, pada 2015 sudah meningkat pesat menjadi Rp 6,703 triliun. Demikian pula laba bersihnya pada 2011 hanya Rp 1,92 miliar, sudah melonjak menjadi Rp 18,21 miliar pada 2015. Kredit yang disalurkan juga sudah berlipat-lipat dari hanya Rp 162,77 miliar pada 2011 menjadi Rp 3,482 triliun pada 2015. Demikian pula dana pihak ketiga yang dihimpunnya sudah melonjak dari Rp 200,14 miliar menjadi Rp 4,801 triliun. Pada akhir tahun 2011, kantor pusat Bank Nationalnobu pindah dari Jembatan Lima ke Graha Granadha di Jl. Jend. Sudirman. Kemudian kembali pindah (hingga 2023) ke Plaza Semanggi Lt. UG dan 9, Jl. Jend. Sudirman Kav. 50, Jakarta. Nuansa kantor di lantai UG yang cerah dan transparan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung mal yang berlalu lalang. Bank Nationalnobu mempunyai fokus dalam segmen ritel dan UMKM.
Perusahaan melaksanakan IPO pada 20 Mei 2013, dengan melepas 52% saham ke publik.[6] Pemegang saham perusahaan setelah IPO meliputi PT Kharisma Buana Nusantara atau Mochtar Riady menjadi 24,12%, Nio Yantony 9,65%, PT Prima Cakrawala Sentosa 5,08%, PT Lippo General Insurance Tbk 5,08%, dan PT Putera Mulia Indonesia 4,06%, sisanya masyarakat.[7] Pada tahun yang sama dengan IPO, Bank Nobu menjadi bank devisa. Selanjutnya, kepemilikan Bank Nobu sepenuhnya dikuasai oleh Lippo, pasca Nio Yatony, pemilik Pikko menjual sahamnya yang tersisa (9,01%) di tanggal 7 Juni 2018.[8]
Secara mengejutkan, pada Maret 2023, Bank Nobu mengumumkan rencana merger dengan Bank MNC Internasional milik konglomerat lain, Hary Tanoesoedibjo. Isu merger yang juga diiyakan pihak Otoritas Jasa Keuangan ini lebih ditujukan untuk meningkatkan modal bank hasil konsolidasi agar naik kelas, mengingat kedua bank sudah mampu memenuhi modal inti Rp 3 triliun yang dipersyaratkan OJK.[9] Menurut OJK, konsolidasi ini akan menguntungkan mengingat bank hasil merger akan disokong pemodal yang sama-sama kuat, dengan target selesai di bulan Juni 2023.[10] Namun, sampai bulan September 2023, rencana merger ini tidak kunjung terlaksana. Sempat pada Mei 2024 isu tersebut kembali menghangat ketika Grup MNC (lewat PT MNC Land Tbk) dan Grup Lippo (lewat PT Prima Cakrawala Sentosa) saling membeli 10% saham antar kedua bank milik mereka. Namun, setahun kemudian, kedua belah pihak resmi melepas kembali saham masing-masing.[11] Akhirnya, pada 22 November 2025, OJK resmi mengumumkan pembatalan merger Nobu Bank dan MNC Bank, dengan syarat keduanya tetap memperkuat permodalan.[12]
Gagal menggandeng MNC, keluarga Riady justru berhasil menarik investor asing yaitu raksasa asuransi jiwa asal Korea Selatan, Hanwha Life Insurance Co. Ltd. (yang juga sudah memiliki usaha di Indonesia). Setelah pada April 2023 sukses menguasai 62% saham asuransi umum PT Lippo General Insurance Tbk, pada 1 Juli 2025 Hanwha ikut membeli 40% saham PT Bank Nobu Tbk senilai Rp 3,79 triliun.[13] Pengakuisisian ini seiring adanya kerjasama antara Hanwha dan Lippo Group dan perjanjian akuisisi yang diteken pada 3 Mei 2024.[14] Setelah akuisisi itu, Bank Nobu dan Hanwha Life Insurance Indonesia berusaha bersinergi, seperti dalam pemasaran produk bancassurance.[15] Kini, Nobu Bank bisa dikatakan merupakan joint venture antara Lippo Group dan Hanwha Group.
Berikut struktur kepemilikan dari Bank Nationalnobu per 31 Desember 2025:[16]
| No. | Pemegang Saham | Kepemilikan |
|---|---|---|
| 1 | Hanwha Life Insurance Co. Ltd. | 40,00% |
| 2 | PT Prima Cakrawala Sentosa | 20,87% |
| 3 | PT Matahari Department Store Tbk | 9,74% |
| 5 | PT Star Pacific Tbk | 8,31% |
| 6 | OCBC Securities Pte. Ltd. | 6,90% |
| 7 | Masyarakat (masing-masing <5%) | 13,18% |