Gusti Pangeran Harya Djatikoesoemo adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat Ke-1 (1948-1949) dan Duta Besar RI untuk Singapura (1958—1960).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel biografi ini berkualitas rendah karena ditulis menyerupai resume atau daftar riwayat hidup (Curriculum Vitae). |
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Februari 2024) |
Djatikoesoemo | |
|---|---|
Potret Djatikoesoemo | |
| Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata | |
| Masa jabatan 10 Juli 1959 – 13 November 1963 | |
| Presiden | Soekarno |
| Menteri Perhubungan Indonesia ke-12 | |
| Masa jabatan 10 Juli 1959 – 13 November 1963 | |
| Presiden | Soekarno |
Pendahulu Soekardan Pengganti Hidajat Martaatmadja | |
| Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-1 | |
| Masa jabatan 15 Mei 1948 – 27 Desember 1949 | |
| Presiden | Soekarno |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Bendara Raden Mas Subandana (1917-07-01)1 Juli 1917 Surakarta, Kesunanan Surakarta Hadiningrat, Hindia Belanda |
| Meninggal | 4 Juli 1992(1992-07-04) (umur 75) Jakarta, Indonesia |
| Makam | Astana Pajimatan Himagiri, Bantul, Yogyakarta |
| Suami/istri | Raden Ayu Suharsi |
| Hubungan |
|
| Orang tua |
|
| Almamater | Corps Opleiding Voor Reserve Officieren |
| Pekerjaan | |
| Karier militer | |
| Pihak |
|
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas | 1941–1973 |
| Pangkat | |
| Satuan | Zeni |
| Komando | Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat |
| Pertempuran/perang | |
| Pahlawan Nasional Indonesia S.K. Presiden No. 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002. | |
Gusti Pangeran Harya Djatikoesoemo (EYD: Jatikusumo; 1 Juli 1917 – 4 Juli 1992)[1] adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat Ke-1 (1948-1949) dan Duta Besar RI untuk Singapura (1958—1960).
Djatikoesoemo adalah putra bangsa yang berdarah keraton, terlahir sebagai putra ke-23 dari Susuhunan Pakubuwono X. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Makam Imogiri, Bantul, Yogyakarta.[2]
GPH Djatikoesoemo memulai karier militernya saat ia mengikuti pendidikan militer pada zaman belanda yaitu di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO) akan tetapi di Tanggal 3 Maret 1942, Djatikoesoemo yang saat itu masih taruna CORO ditugaskan ikut bertempur melawan tentara Jepang di Ciater, Subang, Jawa Barat sampai dengan tanggal 8 Maret 1942 karena pada tanggal tersebut Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Jepang di Pangkalan Udara Suryadarma.[3]
Setelah Belanda menyerah maka Djatikoesoemo pun mengikuti pendidikan militer yang bernama Jawa Boei Kanbu Giyugun Resentai di mana pendidikan tersebut diselenggarakan oleh Jepang di Bogor, Jawa Barat dengan tujuan melatih calon perwira tentara Pembela Tanah Air yang bertugas memimpin pasukan sukarela untuk mempertahankan pulau jawa dari ancaman invasi Sekutu setelah lulus dari pendidikan tersebut, Djatikoesoemo pun menyandang pangkat Shodancho (Komandan Kompi) dan ditugaskan di Daidan (Batalyon) I Tentara PETA Surakarta.
Pasca proklamasi kemerdekaan, Shodancho GPH Djatikoesoemo bergabung kedalam Badan Keamanan Rakyat dan menjabat sebagai Ketua BKR Surakarta hingga pada puncaknya menjadi perwira tinggi diperbantukan Markas Besar TNI Angkatan Darat di tahun 1972.
Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. |
Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. |
Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. |
Djatikoesoemo meninggal dunia pada 4 Juli 1992 dalam usia 75 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto), Jakarta akibat serangan jantung. Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Sudharmono melayat ke rumah duka. Sudharmono merupakan anak didik Djati saat di Divisi Ronggolawe. Anak didik lainnya, Jenderal Try Sutrisno yang kala itu menjadi Panglima ABRI memimpin upacara penghormatan terakhir pemakaman KSAD pertama itu. Djati dimakamkan di Imogiri, makam keluarga raja-raja Jawa. Lima tahun kemudian, pada November 1997, Presiden Soeharto memberikan penghargaan untuk para mantan KSAD.
| Baris ke-1 | Bintang Mahaputera Adipradana (17 Agustus 1982)[5] | Bintang Dharma | |
|---|---|---|---|
| Baris ke-2 | Bintang Gerilya | Bintang Kartika Eka Paksi Utama (1978)[6] | Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia |
| Baris ke-3 | Satyalancana Kesetiaan 16 Tahun | Satyalancana Perang Kemerdekaan I | Satyalancana Perang Kemerdekaan II |
| Baris ke-4 | Satyalancana G.O.M I | Satyalancana G.O.M II | Satyalancana Sapta Marga |
| Baris ke-5 | Satyalancana Wira Dharma | Satyalancana Penegak | Satyalancana Dwidya Sistha |
| Baris ke-6 | Satyalancana Perintis Kemerdekaan | Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia | Knight of the Order of Pope Pius IX (K.P.O.) - Vatikan |
Atas jasa dan perjuangannya GPH. Djatikusumo dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional oleh presiden RI Megawati Soekarno Putri dengan No. SK 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002.[7]
Sumber referensi
| Jabatan militer | ||
|---|---|---|
| Jabatan baru | Kepala Staf TNI Angkatan Darat 1948—1949 |
Diteruskan oleh: Abdul Harris Nasution |
| Jabatan politik | ||
| Didahului oleh: Soekardan sebagai Menteri Perhubungan |
Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata 1959—1963 |
Diteruskan oleh: Hidajat Martaatmadja |
| Jabatan diplomatik | ||
| Didahului oleh: Mohamad Razif |
Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Januari 1963—September 1963 |
Diteruskan oleh: Tan Sri HA Thalib Depati Santio Bowo |
| Jabatan baru | Duta Besar Indonesia untuk Maroko 1965—1966 |
Diteruskan oleh: Taufik Rachman Sudarbo |
| Didahului oleh: Tamzil Gelar Sutan Narajau |
Duta Besar Indonesia untuk Prancis 1966—1968 |
Diteruskan oleh: Harry Askari |