Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Indera Tjaja

Indera Mahmud Tjaja atau lebih dikenal dengan nama Indera Tjaja, adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan asal Bengkulu. Ia merupakan residen pertama Bengkulu pasca kemerdekaan pada tahun 1945–1946. Ia juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera di Pematang Siantar selama periode tahun 1946-1947. Ketika Perundingan Renville Indera Tjaja diutus sebagai salah satu anggota delegasi Indonesia yang berusaha mencapai kesepakatan damai dengan Belanda. Nama Indera Tjaja saat ini diabadikan menjadi salah satu nama jalan protokol, tepatnya di Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.

Wikipedia article
Diperbarui 9 September 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Indera Tjaja
Indera Mahmud Tjaja
Indera Tjaja pada 1948
Menteri Perhubungan Indonesia
Masa jabatan
19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
Ketua PDRISyafruddin Prawiranegara
Sebelum
Pendahulu
Djuanda Kartawidjaja
Pengganti
Herling Laoh
Sebelum
Menteri Kemakmuran Indonesia
Masa jabatan
19 Desember 1948 – 31 Maret 1949
Ketua PDRISyafruddin Prawiranegara
Sebelum
Pendahulu
Syafruddin Prawiranegara
Pengganti
I. J. Kasimo
Residen Bengkulu ke-1
Masa jabatan
3 Oktober 1945 – 21 Maret 1946
PresidenSoekarno
GubernurTeuku Mohammad Hasan
Sebelum
Pendahulu
Tidak ada; jabatan baru
Pengganti
Hazairin
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir1905
desa Peramuan
Meninggal05 Oktober 1961
Pemakaman Karet Jakarta
KebangsaanIndonesia
AlmamaterTechnische Hogeschool (THS) (Ir.)
Penghargaan sipil
  • Tanda Jasa Bintang Gerilya
  • Bintang Mahaputra Utama
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Indera Mahmud Tjaja (1905 – 05 Oktober 1961) atau lebih dikenal dengan nama Indera Tjaja, adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan asal Bengkulu. Ia merupakan residen pertama Bengkulu pasca kemerdekaan pada tahun 1945–1946. Ia juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera di Pematang Siantar selama periode tahun 1946-1947. Ketika Perundingan Renville Indera Tjaja diutus sebagai salah satu anggota delegasi Indonesia yang berusaha mencapai kesepakatan damai dengan Belanda. Nama Indera Tjaja saat ini diabadikan menjadi salah satu nama jalan protokol, tepatnya di Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.[1][2][3][4]

Latar belakang

Lahir pada tahun 1908 di desa Peramuan (sekarang menjadi kawasan Suprapto, pusat Kota Bengkulu). Ia merupakan anak ke tujuh dari tujuh bersaudara.[3] Ayahnya bernama Mahmud Tjaja, seorang ambtenaar (pegawai) yang menjabat sebagai schoolopschiener (penilik sekolah) pada zaman kolonial Belanda di Bengkulu. Sedangkan ibunya bernama Salma.[1]

Berkat ayahnya yang seorang pegawai dan memiliki latar belakang pendidikan Eropa, Indera Tjaja dan saudaranya memiliki kesempatan untuk bersekolah tinggi. Dimana pada waktu itu, kesempatan untuk bersekolah bagi kaum pribumi sangat terbatas. Kaum pribumi yang boleh memasuki inlandschschool (sekolah Belanda untuk pribumi) hanyalah anak-anak dari lapisan orang kaya, anak-anak ambtenaar, dan anak para kepala pribumi (golongan kepala marga, pasirah, pangeran, dan setingkatnya).[1]

Pendidikan

Indera menempuh pendidikannya di Sekolah Rakyat, Hollandsch Inlandsche School (HIS) yang sebelumnya bernama Sekolah Angka Satu. Setelah menamatkan sekolahnya di HIS, Indera Tjaja melanjutkan sekolahnya Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yaitu sekolah lanjutan tingkat pertama di Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikan di Algemene Middelbare School (AMS) yaitu sekolah lanjutan tingkat umum di Jakarta.[1][3] Hingga pada akhirnya, ia diterima Technische Hogeschool (sekarang menjadi ITB). Lulus dari ITB pada tahun 1935, ia pun menyandang gelar insinyur.[2]

Karier

Pada zaman pendudukan militer Jepang di Bengkulu, Ir. Indera Tjaja sudah memiliki perusahaan perkapalan di Kampung Pondok Besi. Bahkan beliau juga dipercaya menjabat sebagai Kepala Jawatan Listrik yang berkantor di Kampung Bengkulu. Ia juga mendirikan sebuah pabrik tenun di Simpang Pasar Bengkulu. Di samping itu, beliau juga sebelumya telah membentuk sebuah koperasi untuk para nelayan.[1][5]

Karier perjuangan Ir. Indera Tjaja mulai nampak menonjol ketika dibentuknya sebuah Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia untuk wilayah Sumatera yang diketuai oleh Adinegoro. Untuk perwakilan anggota dari Bengkulu, Indera ditunjuk bersama dengan, Ali Hanafiah, dan R. Abdullah.[1] Indera juga terlibat dalam konferensi besar yang dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 1949 di rumah wali negeri di Si Lantai untuk mengupas Roem Royen Statement serta membahas langkah-langkah selanjutnya. Pada tahun 1949, Indera terus berjuang di wilayah Sumatera Tengah.[2]

Perjuangan

Setelah pemerintah militer Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, maka pada tanggal 8 September 1945, dibentuklah Komite Nasional Indonesia Cabang Bengkulu, dan Ir. Indera Tjaja ditunjuk sebagai ketuanya. Ia mendesak agar Sucokan Inumata (penguasa Militer Jepang) di Bengkulu segera menyerahkan kekuasaannya dan meninggalkan wilayah Bengkulu.[1][5]

Gubernur Sumatera, Tengku Mohammad Hasan mengirim telegram ke Bengkulu. Telegram tersebut isinya mengangkat Ir. Indera Tjaja sebagai Residen Bengkulu terhitung mulai tanggal 3 Oktober 1945. Sehari setelahnya, barulah bendera merah putih dikibarkan pertama kalinya di Bengkulu. Ir. Indera Tjaja menjabat sebagai Residen Bengkulu tidak sampai satu tahun, yaitu terhitung dari tanggal 3 Oktober 1945 hingga 21 maret 1946. Kemudian Mr. Tengku Mohammad Hasan menunjuk Indera Tjaja untuk menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera yang pada waktu itu berpusat di Pematang Siantar. Sebagai Wakil Gubernur Sumatera selama periode (1946–1947), beliau mempunyai tugas khusus yaitu menyusun sistem sentralisasi dari administrasi pemerintahan Sumatera ke Pematang Siantar sebagai ibukota propinsi Sumatera. Di samping beliau juga dipercaya menjadi juru penengah dalam gencatan senjata antara para pejuang yang tergabung dalam laskar Mujahidin dan laskar lainnya dengan pihak tentara Inggris di wilayah Sumatera.[1][3][5]

Tahun 1948 Indera Tjaja ditunjuk sebagai Kepala Jawatan Perhubungan Sumatera. Ketika Bukittinggi diserbu oleh musuh pada tanggal 19 Desember 1948, beliau dan para pejabat Komisariat serta pejuang lainnya segera menarik pertahanannya ke perkebunan Halaban. Pada tanggal 22 Desember 1948, di Halaban itulah dilakukan musyawarah untuk menetapkan personalia Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Akhirnya diputuskan bentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), Indera Tjaja ditunjuk menjabat sebagai Menteri Perhubungan merangkap Menteri Kemakmuran. Pada tahun 1949 hingga bulan November 1949 ia bergerilya di wilayah Sumatera Tengah. Tahun 1950-1960, beliau diserahi tugas sebagai Pegawai Tinggi dari Kementerian Perhubungan dan merangkap sebagai Anggota Dewan Nasional.[1][5]

Akhir Kehidupan

Beliau meninggal di Palembang pada tahun 1961 dan dimakamkan di pemakaman Karet Jakarta.[1]

Penghargaan

  • Tanda Jasa Bintang Gerilya oleh Presiden Soekarno
  • Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, tertanggal 5 Oktober 1961
  • Tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama[1]
Jabatan politik
Jabatan baru
Kemerdekaan Indonesia
Lihat: Resident van Benkoeloen
Residen Bengkulu
1945–1946
Diteruskan oleh:
Hazairin
Didahului oleh:
Syafruddin Prawiranegara
Menteri Kemakmuran Indonesia
1948–1949
Diteruskan oleh:
I. J. Kasimo
Didahului oleh:
Djuanda Kartawidjaja
Menteri Perhubungan Indonesia
1948–1949
Diteruskan oleh:
Herling Laoh

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Musofa, Ahmad Abas; Hasanah, Uswatun; Wirachman, Roni (Desember 2023). "Indera Tjaja: Kiprah dan Perjuangannya dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1949" (PDF). Tsaqofah & Tarikh. 8 (2): 121–124.
  2. 1 2 3 Jastin, Muhammad Febrianputra. "5 Pahlawan dari Bengkulu dan Peran Perjuangannya". detiksumbagsel. Diakses tanggal 2025-06-16.
  3. 1 2 3 4 bacakoran.co. "Kisah Heroik Indera Mahmud Tjaja Merebut Kembali Bengkulu Dari Tangan Belanda, Perjuangannya Bikin Syok!". bacakoran.co. Diakses tanggal 2025-06-16.
  4. ↑ "Tokoh Bengkulu AM Hanafi dan Indra Tjahja Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional". merdeka.com. 2021-06-24. Diakses tanggal 2025-06-16.
  5. 1 2 3 4 Sejarah Ir. Indera Tjaja (2021-07-28), Mengenal Lebih Dekat Ir. Indera Tjaja Pejuang Kemerdekaan NKRI, diakses tanggal 2025-06-16

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Pendidikan
  3. Karier
  4. Perjuangan
  5. Akhir Kehidupan
  6. Penghargaan
  7. Referensi

Artikel Terkait

Daftar Gubernur Bengkulu

artikel daftar Wikimedia

Daftar tokoh yang diusulkan menjadi pahlawan nasional Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Daftar Residen Bengkulu

Musofa, Ahmad Abas; Hasanah, Uswatun; Wirachman, Roni (Desember 2023). "Indera Tjaja: Kiprah dan Perjuangannya dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026