Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Tentara Kerajaan Hindia Belanda

Angkatan militer Kerajaan Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda
Diperbarui 24 November 2020

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tentara Kerajaan Hindia Belanda
Tentara Kerajaan Hindia Belanda
Koninklijk Nederlands Indisch Legercode: nl is deprecated
Lambang Tentara Kerajaan Hindia Belanda
Aktif14 September 1814–26 Juli 1950
NegaraHindia Belanda
AliansiBelanda
Tipe unitAngkatan darat
Markas besarBandung, Hindia Belanda
JulukanKNIL
PertempuranEkspedisi Palembang Pertama 1819
Ekspedisi Palembang II 1821
Pemberontakan di Kalimantan Barat 1823
Perang Bone I 1824–1825
Perang Jawa 1825–1830
Invasi Belanda ke Pantai Barat Sumatra 1831
Ekspedisi Sumatra Pertama 1832
Perang Padri 1821–1837
Ekspedisi Sumatra kedua 1838
Ekspedisi ke Bali
  • Perang Bali I
  • Perang Bali II
  • Perang Bali III

Ekspedisi ke bagian barat Kalimantan 1850–1854
Pemberontakan di Kalimantan Barat 1854–1855
Ekspedisi Nias 1855–1864
Ekspedisi Dataran Tinggi Palembang 1851–1859
Perang Banjar 1859–1867
Perang Bone II 1859–1860
Ekspedisi Besemah 1864–1868
Perang Batak 1878–1907
Pemberontakan Mandor 1884–1885
Pemberontakan Jambi 1885
Ekspedisi Idi 1890
Intervensi Belanda di Lombok dan Karangasem 1894
Ekspedisi Pedir
Kerusuhan di Jawa 1900–1907
Pemberontakan Merauke 1902
Kampanye melawan Dayak
Ekspedisi Kerinci 1903
Aksi di Yapen 1903
Perlawanan di Tidore 1904
Perang Aceh 1873–1904
Ekspedisi Sulawesi Selatan 1905
Intervensi Belanda di Bali (1906)
Intervensi Belanda di Bali (1908)
Perang Dunia II

  • Pertempuran Malaya 1941–1942
  • Kampanye Hindia Belanda 1941–1942
  • Kampanye Nugini 1942–1945
  • Kampanye Kalimantan 1945
Revolusi Nasional Indonesia 1945–1949
Tokoh
KomandanLihat daftar
Tokoh berjasaHein ter Poorten
Simon Spoor
Pesawat tempur
Militaire Luchtvaart van het Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger

Tentara Kerajaan Hindia Belanda (bahasa Belanda: Koninklijk Nederlands Indisch Legercode: nl is deprecated , KNIL, pelafalan [knɪl]) adalah angkatan bersenjata yang dikelola oleh Kerajaan Belanda di wilayah jajahannya di Hindia Belanda, yang sekarang menjadi bagian dari Indonesia. Angkatan udara KNIL adalah Angkatan Udara Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Unsur-unsur Angkatan Laut Kerajaan Belanda dan Angkatan Laut Gubernemen juga ditempatkan di Hindia Belanda.

Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia Belanda, banyak anggotanya yang berasal dari pribumi Hindia Belanda, orang-orang Afrika dari Guinea Belanda (Belanda Hitam), dan orang-orang Indo-Belanda. Di antara mereka yang pernah menjadi anggota KNIL saat menjelang kemerdekaan adalah Soeharto, Mangkunegara VII, Syarif Hamid II, Oerip Soemohardjo, Alex Kawilarang, Abdul Haris Nasution, Gatot Soebroto, dan T.B. Simatupang yang kelak memegang peranan penting dalam pengembangan dan kepemimpinan institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sejarah

Sejarah awal

Sebelum kepemilikan VOC diambil alih oleh Kerajaan Belanda, VOC pernah menyewa Resimen Württemberg pada tahun 1790-1808, yang berjumlah sekitar 2.000 tentara.[1] KNIL secara resmi berdiri pada tanggal 28 Agustus 1814,[2] tidak lama setelah kekuasaan Belanda di Hindia Belanda dikembalikan oleh Inggris. Pada awalnya, KNIL merupakan bagian dari Tentara Kerajaan Belanda dan dibentuk untuk menumpas pemberontakan di koloni-koloninya.

Kavaleri KNIL pada tahun 1896

Pada tanggal 4 Desember 1830, Johannes van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan "Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger" di mana ditetapkan pembentukan angkatan tentara tersendiri untuk Hindia Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur). Kemudian, pada tahun 1836, Raja Willem I, memberi predikat "Koninklijk" pada angkatan perang ini.[3] Tentara-tentara KNIL kadang dijuluki secara kolektif "Jan Fuselier" dan istri-istrinya dijuluki "Sarinah".[4]

Namun dalam penggunaan sehari-hari, kata ini tidak pernah digunakan selama sekitar satu abad. Baru pada tahun 1933, Hendrik Colijn, Perdana Menteri Belanda saat itu, diam-diam memberi tahu Gubernur Jenderal Hindia Belanda bahwa ia akan menghargai kalau nama angkatan tentaranya diganti dengan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger.[5]

KNIL terlibat dalam banyak kampanye militer melawan kelompok pribumi di daerah tersebut termasuk Perang Padri (1821–1845), Perang Jawa (1825–1830), penumpasan perlawanan penduduk Bali terhadap pemerintahan kolonial pada tahun 1849, dan Perang Aceh yang berkepanjangan (1873–1904).[6] Pada tahun 1894, Lombok dan Karangasem dianeksasi sebagai tanggapan atas laporan aristokrat lokal Bali yang menindas penduduk Sasak.[7] Bali akhirnya dikuasai dalam intervensi Belanda di Bali (1906) dan intervensi terakhir Belanda di Bali (1908).[7]

Foto grup KNIL antara tahun 1905 dan 1915

Undang-Undang Belanda tidak mengizinkan para wajib militer untuk ditempatkan di wilayah jajahan, sehingga tentara di Hindia Belanda hanya terdiri dari prajurit bayaran atau sewaan. Kebanyakan mereka berasal dari Prancis, Jerman, Belgia dan Swiss. Tidak sedikit dari mereka yang adalah desertir dari pasukan-pasukannya untuk menghindari hukuman. Namun, ada juga tentara Belanda yang melanggar peraturan di Belanda diberikan pilihan, menjalani hukuman penjara atau bertugas di Hindia Belanda. Mereka mendapat gaji bulanan yang besar. Misalnya, pada tahun 1870, seorang serdadu KNIL menerima 300 Gulden atau setara dengan penghasilan seorang buruh selama satu tahun.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, KNIL melanjutkan penaklukannya di seluruh kepulauan di Indonesia. Setelah tahun 1904, Hindia Belanda dianggap aman, dengan tidak adanya lagi perlawanan bersenjata berskala besar terhadap pemerintahan Belanda hingga Perang Dunia II, dan KNIL menjalankan peran defensif untuk melindungi Hindia Belanda dari kemungkinan invasi asing.

Setelah nusantara dianggap aman, KNIL utamanya dilibatkan dalam tugas kepolisian militer. Untuk memastikan segmen militer Eropa di KNIL tetap besar, dan untuk mengurangi biaya perekrutan yang mahal di Eropa, pemerintah kolonial memperkenalkan wajib militer untuk semua laki-laki di umur legal pada tahun 1917.[8] Pada tahun 1922, undang-undang tambahan memperkenalkan pembentukan "Penjaga Kota" (Belanda: Landstorm) untuk semua anggota wamil Eropa yang berusia lebih dari 32 tahun.

Perang Dunia II

Artikel utama: Kampanye Hindia Belanda
Poster rekrutmen KNIL, 1938
Poster Stadswacht (Penjaga Kota), 1941

Pasukan Belanda di Hindia Belanda sangat dilemahkan oleh kekalahan dan pendudukan Belanda itu sendiri, oleh Jerman Nazi, pada tahun 1940. Bantuan luar dari Belanda terhadap KNIL secara otomatis terputus, kecuali oleh satuan Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Pasukan KNIL, yang tergesa-gesa dan tidak memadai, berusaha untuk berubah menjadi kekuatan militer modern yang mampu melindungi Hindia Belanda dari invasi asing. Pada bulan Desember 1941, pasukan Belanda di Indonesia berjumlah sekitar 85.000 personel: pasukan reguler terdiri dari sekitar 1.000 perwira dan 34.000 tentara yang terdaftar, 28.000 orang di antaranya adalah pribumi. Sisanya terdiri dari milisi lokal, satuan penjaga teritorial dan pembantu sipil.

Angkatan Udara Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Militaire Luchtvaart van het KNIL, ML-KNIL) berjumlah 389 pesawat dari semua jenis, tetapi sebagian besar dikalahkan oleh pesawat-pesawat Jepang yang lebih superior. Pasukan Udara Angkatan Laut Kerajaan, atau MLD, juga memiliki kekuatan yang cukup signifikan di Hindia Belanda.[9]

Selama kampanye Hindia Belanda yang berlangsung pada tahun 1941 hingga 1942, sebagian besar satuan KNIL dan pasukan Sekutu lainnya dikalahkan dengan cepat.[10][11] Sebagian besar tentara Eropa, yang dalam praktiknya mencakup semua pria Indo-Eropa bertubuh sehat, diasingkan oleh pihak Jepang sebagai tawanan perang. 25% tawanan perang tidak bertahan dalam masa pengasingan mereka.

Sejumlah tentara, yang kebanyakan terdiri dari anggota pribumi, melakukan perang gerilya melawan Jepang. Peristiwa ini biasanya tidak diketahui dan tanpa dibantu oleh Sekutu sampai akhir perang.

Pasukan KNIL berjalan menyusuri Melbourne, Australia, pada tanggal 14 Juni 1943

Pada awal 1942, beberapa anggota KNIL melarikan diri ke Australia. Beberapa anggota pribumi diasingkan di Australia karena dicurigai bersimpati dengan Jepang. Sisanya memulai proses pengelompokan ulang yang panjang. Pada akhir tahun 1942, sebuah usaha yang gagal untuk mendarat di Timor Leste, untuk memperkuat pasukan komando Australia yang melakukan perang gerilya, berakhir dengan hilangnya 60 personel Belanda. Empat skuadron "Hindia Belanda" (skuadron RAAF-NEI) dibentuk dari personel ML-KNIL, di bawah naungan Angkatan Udara Kerajaan Australia, dengan staf lapangan Australia.

Pasukan infanteri KNIL (mirip dengan rekan-rekan mereka di Britania Raya), diperkuat oleh perekrutan yang dilakukan di antara kaum ekspatriat Belanda di seluruh dunia dan oleh pasukan kolonial dari tempat yang jauh seperti Hindia Barat Belanda. Selama tahun 1944 hingga 1945, beberapa satuan kecil terlibat aksi dalam kampanye Nugini dan kampanye Borneo.

Tepat di sebelah selatan Casino, New South Wales, sebuah kamp didirikan pada tahun 1942 untuk Batalyon Teknis KNIL. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, tentara Belanda di batalion itu mengasingkan dan memenjarakan 500 rekan pribumi mereka di dalam kamp. Perlakuan keras dan hukuman dikeluarkan oleh Belanda pada tentara yang mendukung kemerdekaan. Hal ini menyebabkan kematian dua tentara KNIL pribumi; satu kemungkinan akibat bunuh diri dan yang lainnya akibat memimpin protes. Hal ini menimbulkan kecaman dari penduduk lokal Australia, yang memaksa otoritas Australia untuk memulangkan semua tentara yang dipenjara, meskipun enggan untuk mengindahkan permintaan bantuan sebelumnya.[12]

1945–1950

Aksi polisionil di Yogyakarta, 19 Desember 1948 (Agresi Militer Belanda II)

Setelah Perang Dunia II, KNIL digunakan dalam dua kampanye militer besar pada tahun 1947 dan 1948 untuk mengambil alih kendali Belanda atas Indonesia. KNIL dan kaki tangannya di Ambon dituduh melakukan kejahatan perang selama "aksi polisinil" ini. Upaya Belanda untuk membangun kembali koloni mereka gagal dan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia datang pada tanggal 27 Desember 1949.[13] Pada tanggal 26 Januari 1950, unsur-unsur KNIL terlibat dalam kudeta gagal di Bandung yang direncanakan oleh Raymond Westerling dan Sultan Hamid II. Kudeta tersebut gagal dan hanya mempercepat pembubaran Republik Indonesia Serikat.[14]

Dengan berdirinya negara Republik Indonesia dan TNI serta diakui kedaulatannya oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, maka pada tahun 1950, KNIL dibubarkan. Berdasarkan keputusan kerajaan tanggal 20 Juli 1950, pada 26 Juli 1950 pukul 00.00, setelah berumur sekitar 120 tahun, KNIL dinyatakan dibubarkan.

Pembubaran

Upacara pembubaran KNIL tahun 1950 di Jakarta, dan peletakan karangan bunga di pemakaman militer Menteng Pulo

Berdasarkan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar, mantan tentara KNIL yang jumlahnya diperkirakan sekitar 65.000 anggota, 26.000 di antaranya masuk ke "Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat" (APRIS)[15] dan harus diterima dengan pangkat yang sama. Beberapa dari mereka kemudian pada tahun 70-an mencapai pangkat Mayor Jenderal TNI. Sisa tentara KNIL yang mayoritas berasal dari Ambon diperkirakan sekitar sebanyak 39.000 orang, mengambil opsi pensiun atau masuk ke dalam Angkatan Bersenjata Kerajaan Belanda dan bertugas di Papua ataupun Suriname. Beberapa di antara mereka terlibat dalam kontingen Belanda pada Perang Korea (1950-1953).

Namun, upaya untuk mengintegrasikan unit-unit bekas KNIL ke dalam TNI terhambat oleh ketidakpercayaan timbal balik antara pasukan KNIL yang didominasi orang Ambon dan militer Republik yang didominasi orang Jawa, yang menyebabkan bentrokan di Makassar pada bulan April dan upaya pemisahan diri dari Republik Maluku Selatan (RMS) yang merdeka pada bulan Juli.[14] Pemberontakan ini dipadamkan pada bulan November 1950 dan sekitar 12.500 personel KNIL Ambon dan keluarga mereka memilih untuk menetap sementara di Belanda. KNIL secara resmi sudah tidak ada lagi, tetapi tradisinya dipertahankan oleh Resimen van Heutsz dari Angkatan Darat Kerajaan Belanda modern.[16]

Kekuatan

Poster rekrutmen KNIL - "Versterkt onze gelederen!" (Perkuat barisan kita!)

Ketika Perang Diponegoro meletus, jumlah tentaranya mencapai 6.148 tentara Belanda dan 5.734 tentara pribumi. Perwiranya juga mencapai 369 orang.[1] Dua tahun setelah dipisah dari angkatan perang utamanya, KNIL memiliki 21.486 tentara dan 640 perwira. Jumlah tentaranya hampir naik menjadi 30.000 pada tahun 1882 dan 37.000 pada tahun 1930.[17]

Pada tahun 1940, menjelang perang pasifik dan invasi Jepang, kekuatan KNIL yang dimobilisasi mencapai 40.000 tentara terlatih dan 20.000 cadangan darat serta wajib militer. Pada tahun yang sama pula KNIL mencoba memesan 500 pesawat terbang yang terdiri dari pengebom, pengembom tukik, dan pesawat tempur.[18]

Keterlibatan pribumi

Tentara KNIL pribumi Jawa dengan medali penghargaan, 1927

Salah satu aspek dari taktik rekrutmen KNIL di koloni-koloni Belanda adalah klasifikasi orang-orang tertentu yang, entah bagaimana, lebih cocok untuk menjadi tentara. Di Hindia Belanda, orang Ambon dan orang Manado, dengan tambahan dari beberapa orang Batak dan orang Timor, dianggap cocok untuk menjadi tentara. Bersama-sama, mereka sering disebut dengan Amboinezen. Pemilihan orang Ambon dan Manado ini dilatarbelakangi dari pengetahuan VOC terhadap mereka, sehingga VOC menjadikan mereka sebagai tentara privatnya.[19]

Tahun 1936, jumlah pribumi Hindia Belanda yang bergabung di KNIL mencapai 33.000 tentara, atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa.

Meskipun KNIL banyak menyerap pribumi Hindia Belanda, Belanda juga merekrut mantan budak Ghana dari Pantai Emas Belanda untuk melengkapi kembali jumlah tentara yang hilang saat Perang Diponegoro. Mereka kemudian dikenal sebagai Belanda Hitam. Terhitung sekitar 3000 orang Ghana yang melayani KNIL antara tahun 1830-1881.[20]

Pribumi yang mencapai pangkat tertinggi di KNIL adalah Abdulkadir Widjojoatmodjo, yang tahun 1947 memimpin delegasi Belanda dalam perundingan di atas kapal USS Renville. Sultan Hamid II dari Pontianak, yang dididik oleh dua perwira Inggris, mencapai pangkat Mayor Jenderal dalam posisi Asisten Politik Ratu Juliana.

Kepangkatan

Perwira

Pangkat Jenderal / Perwira Tinggi Perwira Menengah Perwira Pertama
1942–1950
Generaal[21]

Jenderal

Luitenant-generaal

Letnan Jenderal

Generaal-majoor[22]

Mayor Jenderal

Kolonel[22][23]

Kolonel

Luitenant-kolonel

Letnan Kolonel

Majoor

Mayor

Kapitein[24]

Kapten

1e Luitenant[25][26]

Letnan Satu

2e Luitenant[27]

Letnan Dua

Bintara

Pangkat Bintara Tinggi Bintara Tamtama
1942–1950
Onderluitenant

Letnan Muda

Adjudant

Ajudan

Sergeant majoor

Sersan Mayor

Sergeant[28]

Sersan

Sergeant der 2e Klass[23]

Sersan Kelas Dua

Korporaal

Kopral

1e Soldaat

Prajurit Satu

Soldaat

Prajurit

Organisasi

Panglima KNIL (Tahun 1941 - 1942) Letnan Jenderal Hein Ter Poorten

  • Group Militer Bandoeng dibawah pimpinan Mayor Jenderal JJ. Pesman.
  • Komando Tinggi Soematra dipimpin Mayor Jenderal R.T. Overraker.
  • Komando Teritorial Borneo Barat dipimpin oleh Letnan Kolonel D.P.F. Mars
  • Komando Teritorial Borneo Selatan dan Timur dipimpin oleh Letnan Kolonel H.T. Halkema
  • Komando Lokal Balikpapan dipimpin oleh Letnan Kolonel C. Van den Hoogenband
  • Komando Lokal Tarakan dipimpin oleh Letnan Kolonel S. De Waal
  • Komando Lokal Samarinda dipimpin Kapten G.A.C. Monteiro
  • Komando Teritorial Celebes dipimpin oleh Kolonel M. Vooren
  • Komando Teritorial Timor dipimpin oleh Letnan Kolonel W.E.C. Detiger.
  • Komando Teritorial Moruccas dipimpin oleh Letnan Kolonel J.L.R. Kapitz
  • Dinas Penerbangan Militer KNIL Soerabaia dipimpin oleh Letnan Jenderal Ludolph Hendrik van Oyen.

Daftar Komandan

  • 1815 - 1819 Mayjen. Carl Heinrich Wilhelm Anthing
  • 1819 - 1819 Gub. Jenderal Godert van der Capellen
  • 1819 - 1825 Mayjen. Hendrik Merkus de Kock
  • 1822 - 1828 Mayjen. Josephus Jacobus van Geen
  • 1828 - 1828 Letjen. Hendrik Merkus de Kock
  • 1828 - 1828 Mayjen. Benjamin Bischoff
  • 1829 - 1830 Letjen. H.M. de Kock
  • 1830 - 1831 Gub. Jenderal Johannes van den Bosch
  • 1830 - 1835 Letjen. Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers
  • 1835 - 1847 Mayjen. Frans David Cochius
  • 1847 - 1849 Mayjen. Jhr. Carel van der Wijck
  • 1849 - 1849 Letjen. Andreas Victor Michiels
  • 1849 - 1851 Letjen. Karl Bernhard dari Sachsen-Weimar-Eisenach
  • 1851 - 1854 Mayjen. Gerhardus Bakker
  • 1854 - 1858 Letjen. François Vincent Henri Antoine de Stuers
  • 1858 - 1862 Letjen. Jan van Swieten
  • 1862 - 1865 Letjen. Charles Pierre Schimpf
  • 1865 - 1869 Letjen. Augustus Johannes Andresen
  • 1869 - 1873 Letjen. Willem Egbert Kroesen
  • 1873 - 1875 Letjen. Nicolaus Hans Willem Stumphuis Whitton
  • 1875 - 1879 Letjen. Gillis Pieter de Neve
  • 1879 - 1883 Letjen. Huibert Gerard Boumeester
  • 1883 - 1887 Letjen. Karel Lodewijk Pfeiffer
  • 1887 - 1889 Letjen. Anthonie Haga
  • 1889 - 1893 Letjen. Theodoor Johan Arnold van Zijll de Jong
  • 1893 - 1895 Letjen. Adriaan Rudolf Willem Gey van Pittius
  • 1895 - 1897 Letjen. Jacobus Augustinus Vetter
  • 1897 - 1900 Letjen. Lourens Swart
  • 1900 - 1903 Letjen. Heribert Cornelis Pieter de Bruijn
  • 1903 - 1903 Mayjen. Johan Cornelis van der Wijck
  • 1903 - 1905 Letjen. Willem Boetje
  • 1905 - 1907 Mayjen. J.C. van der Wijck
  • 1907 - 1909 Letjen. Marinus Bernardus Rost van Tonningen
  • 1909 - 1910 Letjen. Pieter Cornelis van der Willigen
  • 1910 - 1914 Letjen. Gotfried Coenraad Ernst van Daalen
  • 1914 - 1916 Letjen. Johan Pieter Michielsen
  • 1916 - 1916 Letjen. Hendrik Christiaan Kronouer
  • 1916 - 1918 Letjen. Walter Robert de Greve
  • 1918 - 1920 Letjen. Cornelis Hendrik van Rietschoten
  • 1920 - 1922 Letjen. Gerrard Kornelis Dijkstra
  • 1922 - 1924 Letjen. Frans Jan Kroesen
  • 1924 - 1926 Letjen. Karel Felix Eduard Gerth van Wijk
  • 1926 - 1926 Letjen. Willem A. Blits
  • 1926 - 1929 Letjen. Hermanus Leonardus La Lau
  • 1929 - 1932 Letjen. Heinrich Adolf Cramer
  • 1932 - 1935 Letjen. Johannes Cornelis Koster
  • 1935 - 1939 Letjen. Murk Boerstra
  • 1939 - 1941 Letjen. Gerardus Johannes Berenschot
  • 1941 - 1942 Letjen. Hein ter Poorten
  • 1943 - 1946 Letjen. Ludolph Hendrik van Oyen
  • 1946 - 1949 Letjen. Simon Spoor
  • 1949 - 1950 Letjen. Dirk Cornelis Buurman van Vreeden

Galeri

  • Kavaleri KNIL berseragam lengkap pada tahun 1896.
    Kavaleri KNIL berseragam lengkap pada tahun 1896.
  • Perwira KNIL
    Perwira KNIL
  • Lukisan Isaac Israels, menggambarkan rekrutan KNIL berbaris di Rotterdam untuk dikirim ke Hindia Belanda
    Lukisan Isaac Israels, menggambarkan rekrutan KNIL berbaris di Rotterdam untuk dikirim ke Hindia Belanda[29]
  • Kavaleri KNIL pada tahun 1906 selama intervensi Belanda di Bali (1906)
    Kavaleri KNIL pada tahun 1906 selama intervensi Belanda di Bali (1906)
  • Pasukan KNIL pribumi, 1938
    Pasukan KNIL pribumi, 1938
  • Pasukan terjun payung KNIL sedang bersiap untuk beroperasi (1948)
    Pasukan terjun payung KNIL sedang bersiap untuk beroperasi (1948)
  • Tank amfibi ringan Vickers digunakan pasukan Belanda di Hindia Belanda
    Tank amfibi ringan Vickers digunakan pasukan Belanda di Hindia Belanda
  • Pesawat tempur Curtiss CW-21B Angkatan Udara Hindia Belanda
    Pesawat tempur Curtiss CW-21B Angkatan Udara Hindia Belanda

Lihat pula

  • Angkatan Udara Tentara Kerajaan Hindia Belanda, unit angkatan udara Hindia Belanda.
  • Angkatan Laut Gubernemen, unit angkatan laut Hindia Belanda.
  • Tentara India Britania—memiliki fungsi serupa di Britania India.

Referensi

  1. 1 2 Matanasi 2012, hlm. 2,3.
  2. ↑ "Staatsblad 2016 No. 258" (PDF). Overheid.nl. 2 Juni 2016. Diakses tanggal 2020-12-05.
  3. ↑ Matanasi 2012, hlm. 9.
  4. ↑ "KNIL - Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger". Historiek (dalam bahasa Belanda). 2018-07-13. Diakses tanggal 2020-12-04.
  5. ↑ "Stichting Vrienden van Bronbeek". www.vriendenvanbronbeek.nl. Diakses tanggal 2020-12-04.
  6. ↑ Sellato, Bernard (2000-07-20). "Didier Millet, Indonesian Heritage [a series of ten volumes, with various editors]". Moussons (2). doi:10.4000/moussons.5743. ISSN 1620-3224.
  7. 1 2 Vickers, Adrian (2005). A history of modern Indonesia. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN 0-511-13431-2. OCLC 252488150.
  8. ↑ Sporen van een Indisch verleden (1600-1942). Wim Willems, Studiedag over Indische Nederlanders. Leiden: Centrum voor Onderzoek van Maatschappelijke Tegenstellingen, Faculteit der Sociale Wetenschappen, Rijksuniversiteit Leiden. 1992. ISBN 90-71042-44-8. OCLC 905779736. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  9. ↑ "Armed Forces of World War II" Andrew Mollo ISBN 0-85613-296-9
  10. ↑ Klemen, L (1999–2000). "Dutch East Indies 1941–1942". Dutch East Indies Campaign website. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-26. Diakses tanggal 2018-02-08.
  11. ↑ "Bubarnya Angkatan Perang Hindia Belanda: KNIL". tirto.id. Diakses tanggal 2020-12-04.
  12. ↑ "When the Indonesian revolution came to an Australian country town". Australian National Maritime Museum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-26.
  13. ↑ Keay, John (1997). Last post : the end of empire in the Far East. London: John Murray. ISBN 0-7195-5346-6. OCLC 36974604.
  14. 1 2 author., Kahin, George McTurnan, (2019). Nationalism and Revolution in Indonesia. Project Muse. ISBN 978-1-5017-3139-6. OCLC 1082879614. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  15. ↑ cgi.omroep.nl http://cgi.omroep.nl/cgi-bin/streams?/tv/vpro/GE/sb.Plechtighedendjakartapolygoon.asf?title=De_plechtigheden_in_Djakarta_bij_de_opheffing_van_het_KNIL_Polygoon_1950_3_min._20;embed=1. Diakses tanggal 2022-12-26.
  16. ↑ World armies. John Keegan. London: Macmillan. 1979. ISBN 0-333-17236-1. OCLC 5874355. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  17. ↑ "KNIL - Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger". Historiek (dalam bahasa Belanda). 2018-07-13. Diakses tanggal 2020-12-04.
  18. ↑ "Het Koninklijk Nederlands Oost-Indisch Leger KNIL: Some remarks about inception, organization and feats of arms of the Royal Dutch East-Indian Army" (PDF). indonesia-dutchcolonialheritage.nl. 2008. Diakses tanggal 2020-12-05.
  19. ↑ Meijerman 2019, hlm. 20.
  20. ↑ Meijerman 2019, hlm. 23.
  21. ↑ "2002-416-1, Portretfoto van generaal KNIL P. Scholten". beeldbank.nimh.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2025-07-03.
  22. 1 2 "2096_HE 135, Aanbieding van het gedenkboek van de T-Brigade "Tussen sawahs en bergen" door de commandant van de Brigade, kolonel D.R.A. van Langen, aan de commandant B-Divisie, generaal-majoor J.K. Meyer". beeldbank.nimh.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2025-07-03.
  23. 1 2 "2096_HE 134, Aanbieding van het gedenkboek van de T-Brigade "Tussen sawahs en bergen" door de commandant van de Brigade, kolonel D.R.A. van Langen, aan de commandant B-Divisie, generaal-majoor J.K. Meyer". beeldbank.nimh.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2025-07-03.
  24. ↑ "2157_041951, Kapitein-vlieger M. van Haselen, ML-KNIL". beeldbank.nimh.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2025-07-03.
  25. ↑ "0807-067A-165-001, Guillaume, E.W." beeldbank.nimh.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2025-07-03.
  26. ↑ "KNIL WWII Air Force Wings and Insignia Page". www.rathbonemuseum.com. Diakses tanggal 2025-07-03.
  27. ↑ "0807-067-035-002, Blommenstein, E.J. van, tweede luitenant-leerling-vlieger". beeldbank.nimh.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2025-07-03.
  28. ↑ "2155_023344, Nederlands personeel in opleiding in Camp Darley.Twee Nederlandse instructeurs, toegevoegd aan het KNIL: Sergeants Zeelen (rechts) en Willemse (links), beide van Bandoeng, Java". beeldbank.nimh.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2025-07-03.
  29. ↑ "Transport of colonial soldiers - Isaac Israels". Google Arts & Culture. Diakses tanggal 2022-12-26.

Daftar pustaka

  • Bosma, Ulbe (2011). "Emigration: Colonial circuits between Europe and Asia in the 19th and early 20th century". Institute of European Histor.
  • Matanasi, Petrik (2012). Pribumi Jadi Letnan KNIL. Yogyakarta: Trompet Books. ISBN 9786029913101.
  • Meijerman, A. J. K. (2019). Controlling the colony. Wageningen: Wageningen University.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
  • Royal Netherlands East Indies Army (KNIL) 1819–1950
  • Global Security – Royal Dutch Indian Army
  • Netherlands Institute for War Documentation: East Indies Camp Archives
  • l
  • b
  • s
Tentara Hindia Belanda
  • KNIL
  • Belanda Hitam
  • Korps Barisan Madura
  • Korps Maréchaussée
  • Korps Prajoda
  • Legiun Mangkunegaran
  • Legiun Pakualaman
  • Mardijkers
  • Pasukan Tulungan
  • Resimen Württemberg
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • VIAF
    • 2
  • GND
Nasional
  • Republik Ceko

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Sejarah awal
  3. Perang Dunia II
  4. 1945–1950
  5. Pembubaran
  6. Kekuatan
  7. Keterlibatan pribumi
  8. Kepangkatan
  9. Perwira
  10. Bintara
  11. Organisasi
  12. Daftar Komandan
  13. Galeri
  14. Lihat pula
  15. Referensi
  16. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Pendudukan Jepang di Hindia Belanda

Pendudukan Jepang di Hindia Belanda selama Perang Dunia II, 1942-1945

Belanda

negara konstituen Kerajaan Belanda & negara di Eropa Barat Laut

Hindia Belanda

koloni Belanda di Asia Tenggara; sejak tahun 1949 dikenal sebagai Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026