Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Intervensi Belanda di Bali (1906)

Intervensi Belanda di Bali pada tahun 1906 adalah intervensi militer Belanda di Bali, menewaskan lebih dari 1.000 orang, yang sebagian besar adalah warga sipil. Ini adalah intervensi militer keenam Belanda di Bali. Intervensi ini adalah salah satu bentuk kampanye pendudukan Belanda untuk Hindia Timur. Kampanye ini membunuh penguasa Bali dari Kerajaan Badung beserta istri dan anak-anak mereka, menghancurkan kerajaan Badung dan Tabanan serta melemahkan kerajaan Klungkung.

Sejarah Bali
Diperbarui 13 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Intervensi Belanda di Bali (1906)
Intervensi Belanda di Bali (1906)

Pasukan Belanda mendarat di Sanur

Kavaleri Belanda di Sanur
TanggalSeptember–Oktober 1906
LokasiBali
Hasil Penguasaan Belanda atas Bali selatan
Pihak terlibat
 Hindia Belanda Kerajaan Badung
Kerajaan Tabanan
Kerajaan Klungkung
Tokoh dan pemimpin
Belanda Mayor Jenderal Rost van Tonningen Raja I Gusti Ngurah Made Agung ⚔
Kekuatan
3 batalyon infanteri
1 detasemen kavaleri
2 baterai artileri
Armada Angkatan Laut[1]
Tidak diketahui
Korban
Minimal Lebih dari 1.000 orang tewas
  • l
  • b
  • s
Intervensi Belanda di Bali
  • Bali Utara (1846)
  • Bali Utara (1848)
  • Bali (1849)
  • Bali (1858)
  • Lombok dan Karangasem (1894)
  • Bali Selatan (1906)
  • Bali Selatan (1908)
  • l
  • b
  • s
Konflik kolonial Belanda
abad ke-17
  • Banten (1601)
  • Melaka (1606)
  • Tanjung Rachado (1606)
  • Kepulauan Banda (1609―1621)
  • Makau (1622)
  • Pescadores (1622―1624)
  • Bahia (1624)
  • Teluk Persia (1625)
  • Elmina (1625)
  • Kuba (1628)
  • Batavia (1628―1629)
  • Recife (1630)
  • Albrolhos (1631)
  • Teluk Liao luo (1633)
  • Taiwan (1635—1636)
  • Pulau Lamey (1636)
  • Elmina (1637)
  • Vietnam (1637—1643)
  • Goa (1638)
  • Bahia I (1638)
  • Bahia II (1638)
  • Mormugão (1639)
  • Itamaracá (1640)
  • Ceylon (1640)
  • Melaka (1641)
  • Luanda (1641)
  • Taiwan (1641)
  • Taiwan (1642)
  • Chili (1643)
  • Kamboja (1643—1644)
  • Belanda Baru (1643–1645)
  • Tabocas (1645)
  • Filipina (1646)
  • Kombi (1647)
  • Guararapes (1648)
  • Guararapes (1649)
  • Taiwan (1652)
  • Kolombo ke-2 (1654)
  • Belanda Baru (1659—1663)
  • Taiwan (1661–1662)
  • Jawa (1674—1680)
Abad ke-18
  • Jawa (1704–1707)
  • Jawa (1719–1723)
  • India (1739–1741)
  • Jawa (1741–1743)
  • Penfui (1749)
  • Jawa (1749–1757)
  • Sumatra (1781)
  • India (1781)
  • Ceylon (1782)
  • Pantai Emas (1782)
  • Tanjung Koloni (1795)
Abad ke-19
  • Suriname (1804)
  • Tanjung Koloni (1806)
  • Jawa (1810—1811)
    • Batavia (1811)
  • Maluku (1810)
  • Jawa (1811)
  • Algiers (1816)
  • Palembang I (1819)
  • Palembang II (1821)
  • Sumatra (1821–1837)
  • Borneo (1823)
  • Bone (1824)
  • Bone (1825)
  • Diponegoro (1825–1830)
  • Aceh (1831)
  • Ahanta (1837–1839)
  • Bali I (1846)
  • Bali II (1848)
  • Bali III (1849)
  • Palembang (1851–1859)
  • Montrado (1854–1855)
  • Nias (1855–1864)
  • Bali IV (1858)
  • Bone (1859-1860)
  • Borneo (1859–1863)
  • Jepang (1863–1864)
  • Pasoemah (1864–1868)
  • Pantai Emas (1869–1870)
  • Aceh (1873–1913)
  • Mandor (1884–1885)
  • Jambi (1885)
  • Idi (1890)
  • Lombok dan Karangasem (1894)
  • Pedir (1897–1898)
Abad ke-20
  • Kerinci (1903)
  • Bone (1905–1906)
  • Bali (1906)
  • Bali (1908)
  • Venezuela (1908)
  • Perang dengan Jepang (1941–1945)
  • Revolusi Indonesia (1945–1949)
Foto dibuat selama ekspedisi Bali pada tahun 1906. Tentara KNIL melakukan pengintaian di daerah Sesetan selama ekspedisi militer di Bali.
Foto diambil selama ekspedisi Bali pada tahun 1906. Prajurit KNIL selama ekspedisi militer di Bali.

Intervensi Belanda di Bali pada tahun 1906 (disebut juga Puputan Badung) adalah intervensi militer Belanda di Bali, menewaskan lebih dari 1.000 orang, yang sebagian besar adalah warga sipil. Ini adalah intervensi militer keenam Belanda di Bali. Intervensi ini adalah salah satu bentuk kampanye pendudukan Belanda untuk Hindia Timur. Kampanye ini membunuh penguasa Bali dari Kerajaan Badung beserta istri dan anak-anak mereka, menghancurkan kerajaan Badung dan Tabanan serta melemahkan kerajaan Klungkung.[2]

Latar belakang

Artikel utama: Sejarah Bali

Belanda telah menaklukkan Bali Utara pada pertengahan abad ke-19 M, mengintegrasikan Kerajaan Jembrana, Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Karangasem ke dalam pemerintahan Hindia Belanda, tetapi kerajaan selatan seperti Tabanan, Badung dan Klungkung berhasil tetap independen. Berbagai perselisihan terjadi antara Belanda dan kerajaan-kerajaan selatan, dan sudah diperkirakan bahwa Belanda akan melakukan intervensi militer begitu dalih muncul.[3]

Terdapat perselisihan yang berulang antara raja-raja Belanda dan Bali mengenai hak untuk menjarah kapal-kapal yang tenggelam di terumbu karang di sekitar Bali. Menurut tradisi Bali yang disebut tawan karang, raja Bali secara tradisional menganggap puing-puing itu sebagai milik mereka, sedangkan Belanda bersikeras tidak demikian. Pada tanggal 27 Mei 1904, sekunar Cina bernama Sri Kumala menghantam karang di dekat Sanur, dan dijarah oleh orang Bali. Atas permintaan kompensasi oleh Belanda, raja-raja Badung menolak untuk membayar apa pun, didukung oleh raja Tabanan dan raja Klungkung.[2] Penguasa Tabanan juga menyebabkan ketidakpuasan Belanda dengan mengizinkan pada tahun 1904 praktik suttee (ritual pengorbanan kerabat atas kematian seorang penguasa, juga disebut wesatia) meskipun ada permintaan resmi Belanda untuk mengabaikannya.[2] Pada bulan Juni 1906, Belanda memulai blokade di pantai selatan dan mengirim berbagai ultimata.[2]

Intervensi

Pada tanggal 14 September 1906, sepasukan tentara dengan kekuatan substansial dari Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger, diberi nama Sixth Military Expedition, mendarat di bagian utara pantai Sanur. Dipimpin Mayor Jenderal M.B. Rost van Tonningen.[2][4] Tentara Badung melakukan beberapa serangan terhadap bivak Belanda di Sanur pada 15 September, dan ada beberapa perlawanan lagi di desa Intaran.[5]

Kesiman

Secara keseluruhan, pasukan Belanda berhasil bergerak ke pedalaman tanpa banyak perlawanan, dan tiba di daerah Kesiman pada tanggal 20 September 1906. Di sana, raja setempat, pengikut raja Badung, telah terbunuh oleh pendetanya sendiri, karena ia telah menolak untuk memimpin perlawanan bersenjata melawan Belanda, istana terbakar dan kota itu ditinggalkan.[2]

Denpasar

Jenazah Raja Denpasar, I Gusti Ngurah Made Agung yang gugur saat perang Puputan Badung berkecamuk.
Monumen Puputan 1906 yang terletak di Taman Puputan, Denpasar, Bali.

Pasukan berbaris ke Denpasar, Bali, seolah-olah sedang berpawai.[2] Mereka mendekati istana kerajaan, melihat asap mengepul dari puri dan mendengar genderang ditabuh liar yang berasal dari dalam tembok istana.

Setelah mereka mencapai istana, prosesi tanpa suara muncul, dipimpin oleh Raja yang disungsung oleh empat pembawa tandu. Raja itu mengenakan pakaian kremasi putih tradisional, memakai perhiasan yang indah, dan membawa keris upacara. Orang-orang lain dalam prosesi itu terdiri dari para pejabat, penjaga, pendeta, istri, anak-anak dan pengawal Raja, yang semuanya berpakaian serupa.[2] Mereka telah menerima ritus kematian, berpakaian putih, dan keris ritual mereka diberkati.[6]

Ketika prosesi itu mencapai seratus langkah dari pasukan Belanda, mereka berhenti dan Raja turun dari tandu dan memberi isyarat kepada seorang pendeta, yang menusukkan belatinya ke dada Raja. Sisa pengikut prosesi mulai membunuh diri mereka sendiri dan orang lain, dalam sebuah ritual yang dikenal sebagai Puputan ("berjuang sampai mati").[2] Para wanita dengan mengejek melemparkan perhiasan dan koin emas ke pasukan Belanda.[2]

Sebuah 'tembakan tak terarah' dan 'serangan dengan tombak dan tombak' mendorong Belanda untuk melepaskan tembakan dengan senapan dan artileri. Semakin banyak orang yang keluar dari istana, gundukan mayat semakin tinggi.[2] Seluruh prosesi ini diikuti ratusan orang,[6] dan dikatakan ada lebih dari 1.000 orang secara keseluruhan. Korban bertambah akibat tembakan Belanda.[7]

Catatan alternatif menggambarkan bahwa Belanda pertama kali menembaki orang Bali yang bergerak keluar dari gerbang istana, hanya dilengkapi dengan keris, tombak dan perisai tradisional, dan bahwa yang selamat bunuh diri, atau dibunuh oleh pengikutnya sesuai dengan perintah puputan.[7]

Para prajurit menelanjangi barang-barang berharga dan menjarah reruntuhan istana yang terbakar. Istana Denpasar rata dengan tanah.[7]

Sore pada hari yang sama, peristiwa serupa terjadi di dekat istana Pemecutan, tempat tinggal wakil penguasa Gusti Gede Ngurah. Belanda membiarkan bangsawan di Pemecutan bunuh diri, dan dilanjutkan dengan penjarahan.

Pembantaian ini dikenang secara lokal sebagai "Puputan Badung" dan dimuliakan sebagai contoh perlawanan terhadap agresi asing. Sebuah monumen perunggu besar ditinggikan di alun-alun kota Denpasar, tempat istana kerajaan dulu berdiri, yang mengagungkan perlawanan Bali di Puputan.

Tabanan

Pasukan Belanda melanjutkan perjalanan ke kerajaan Tabanan, di mana raja Gusti Ngurah Agung dan putranya melarikan diri, kemudian menyerah kepada Belanda, dan berusaha merundingkan penyelesaian untuk menjadi kabupaten Belanda.

Belanda hanya menawarkan mereka pengasingan ke Madura atau terdekat, Lombok, dan mereka memilih bunuh diri (puputan) di penjara dua hari kemudian.[6][8] Istana mereka dijarah dan dihancurkan oleh Belanda.[9]

Klungkung

Dewa Agung dari Klungkung, penguasa nominal seluruh Bali, tiba di Gianyar untuk bernegosiasi dengan Belanda.

Belanda juga memindahkan pasukan ke Klungkung dan mempertimbangkan penyerangan terhadap Dewa Agung, penguasa nominal seluruh Bali, tetapi akhirnya Dewa Agung menahan diri dari tindakan militer terhadap Belanda dan setuju untuk menandatangani perjanjian untuk menghancurkan bentengnya, menyerahkan senjata api dan melepaskan pajak impor dan ekspor.[9]

Alasan kuat bagi Belanda untuk menyerang Klungkung akan muncul kemudian, dan terwujud dalam Puputan Klungkung, yang mengakhiri kerajaan asli yang memerintah di Bali.

Dalam karya fiksi

Novel historis tahun 1937 karya Vicki Baum berjudul Love and Death in Bali (Liebe und Tod auf Bali) bercerita tentang sebuah keluarga yang terperangkap dalam peristiwa 1906. Buku ini ditulis setelah kunjungan Baum ke Bali tahun 1935, ketika ia berteman dekat dengan Walter Spies, seorang pelukis Jerman yang tinggal di pulau itu selama bertahun-tahun dan yang memberinya banyak informasi tentang peristiwa-peristiwa ini yang pada saat itu masih baik dalam memori hidup banyak orang.

Referensi

  1. ↑ Hanna, p.140
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Hanna, pp.140–141
  3. ↑ Hanna, pp.139–140
  4. ↑ Pieter ter Keurs (2007). Colonial collections revisited. CNWS Publication. hlm. 146. ISBN 90-5789-152-2.
  5. ↑ Salah satu catatan di Museum Bali.
  6. 1 2 3 Barski, p.49
  7. 1 2 3 Haer, p.38
  8. ↑ Hanna, hlm.143 –144
  9. 1 2 Hanna, p.144

Daftar Pustaka

  • Willard A. Hanna (2004). Bali Chronicles. Periplus, Singapore. ISBN 0-7946-0272-X.
  • Andy Barski, Albert Beaucort and Bruce Carpenter, Barski (2007). Bali and Lombok. Dorling Kindersley, London. ISBN 978-0-7566-2878-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Debbie Guthrie Haer, Juliette Morillot and Irene Toh, Haer (2001). Bali, a traveller's companion. Editions Didier Millet. ISBN 978-981-4217-35-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • l
  • b
  • s
Sejarah konflik di Nusantara
Pra-kolonial
  • Perang Medang–Sriwijaya
  • Invasi Sriwijaya oleh Medang
  • Pemberontakan Wurawari
  • Invasi Chola ke Sriwijaya
  • Ekspedisi Pamalayu
  • Pemberontakan Jayakatwang
  • Serbuan Yuan-Mongol ke Jawa
  • Pemberontakan Ra Kuti
  • Invasi Nan Sarunai ke Majapahit [en]
  • Perang Bubat
  • Penjarahan Singapura
  • Perang Regreg
  • Perang Demak–Majapahit [en]
Kolonial Portugis
  • Perang Ternate-Spanyol
  • Konflik Aceh–Portugal
  • Perang Ternate–Portugal
Kolonial VOC
  • Perang Jayakarta (1619)
  • Kejatuhan Jayakarta
  • Konflik Mataram–Belanda
  • Penyerbuan ke Batavia (1628)
  • Pertempuran Melaka (1641)
  • Perang Takhta Jawa Pertama
  • Perang Takhta Jawa Kedua
  • Geger Pacinan
  • Perang Jawa (1741–43)
  • Perang Kuning (1741-50)
  • Perang Takhta Jawa Ketiga
  • Perang Bayu
  • Pembantaian Amboyna
  • Perang Makassar
Kolonial Belanda
  • Perang Padri (1821–37)
  • Perang Pattimura
  • Pemberontakan Ronggo (1810)
  • Geger Sepehi (1812)
  • Perang Diponegoro (1825–30)
  • Ekspedisi Palembang
    • 1819
    • 1821
  • Invasi Belanda ke Pantai Barat Sumatera (1831)
  • Ekspedisi Sumatera Pertama
  • Perang Aceh Pertama
  • Perang Aceh (1873–1913) (Ekspedisi Tanah Gayo, Alas, dan Batak)
  • Perang Bali
    • 1846
    • 1848
    • 1849
    • 1858
    • 1894
    • 1906
    • 1908
  • Pemberontakan di Kalimantan Barat
    • 1823
    • 1850–54
    • 1854–55
  • Pemberontakan Batipuh
  • Perang Banjar (1859–63)
  • Perang Bone
    • 1824
    • 1825
    • 1859
  • Penyerbuan Jawa 1811
    • Penyerbuan Meester Cornelis
  • Perang Tapanuli
  • Ekspedisi Palembang (1851–59)
  • Nias (1855–64)
  • Besemah (1864–68)
  • Mandor (1884–85)
  • Jambi (1885)
  • Ekspedisi Idi (1890)
  • Ekspedisi Pidie (1897–98)
  • Ekspedisi Kerinci (1903)
  • Ekspedisi Sulawesi (1905–06)
  • Perang Belasting
    • Perang Kamang
    • Perang Manggopoh
Pendudukan Jepang
  • Kampanye Hindia Belanda
  • Pembantaian Sook Ching
  • Peristiwa Mandor
  • Peristiwa Loa Kulu
  • Pertempuran Lima Hari

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Intervensi
  3. Kesiman
  4. Denpasar
  5. Tabanan
  6. Klungkung
  7. Dalam karya fiksi
  8. Referensi
  9. Daftar Pustaka

Artikel Terkait

Sejarah Bali

Sejarah Bali meliputi rentang waktu perkembangan kebudayaan masyarakat Bali. Sejarah Bali juga terkait dengan beberapa mitologi dan cerita rakyat, yang

Bali

provinsi di Kepulauan Nusa Tenggara, Indonesia

Perang Bali III

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026