Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Pemberontakan Ra Kuti

Pemberontakan Ra Kuti terjadi pada masa pemerintahan Jayanagara, raja ke-2 Majapahit, tepatnya tahun 1241 Saka atau 1319 Masehi. Aksi Ra Kuti yang dianggap berbahaya bagi Kerajaan Majapahit ini akhirnya dapat ditumpas oleh Gajah Mada.

Wikipedia article
Diperbarui 13 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pemberontakan Ra kuti
Tanggal1319
LokasiTrowulan (Mojokerto)
Hasil Kemenangan Majapahit
Pihak terlibat
Majapahit Pasukan Dharmaputra
Tokoh dan pemimpin
Jayanegara
Gajah Mada
Ra Kuti ⚔

Pemberontakan Ra Kuti terjadi pada masa pemerintahan Jayanagara, raja ke-2 Majapahit, tepatnya tahun 1241 Saka atau 1319 Masehi. Aksi Ra Kuti yang dianggap berbahaya bagi Kerajaan Majapahit ini akhirnya dapat ditumpas oleh Gajah Mada.[1]

Latar Belakang

Pemberontakan Ra Kuti didasari rasa tidak puas atas keputusan raja. Ra Kuti dan beberapa Dharmaputra lainnya menilai Jayanagara berkarakter lemah dan mudah dipengaruhi. Pararaton menyebut Jayanegara dengan nama Kalagemet yang ditafsirkan sebagai olok-olok karena nama tersebut memiliki arti “lemah” atau “jahat”. Asal-usul Jayanagara diduga juga menjadi alasan ketidaksukaan para Dharmaputra, terhadap sang raja. Meskipun ditunjuk sebagai putra mahkota, Jayanagara bukanlah anak Raden Wijaya dari istri permaisuri, melainkan dari istri selir. Ibunda Jayanagara adalah Dara Petak, putri Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera. Putri ini dibawa dari Ekspedisi Pamalayu, suatu upaya operasi penaklukan oleh Kerajaan Singasari pada 1275 hingga 1286 M. Terlebih, Jayanegara berdarah campuran, bukan turunan murni dari Kertanagara.[2][3]

Pemberontakan

Dalam menjalankan aksinya, Ra Kuti berhasil mengajak beberapa anggota Dharmaputra lainnya untuk berusaha mendongkel takhta Jayanagara, yakni Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Yuyu, Ra Pangsa dan Ra Wedeng. Saat pemberontakan Ra Kuti terjadi, Gajah Mada belum menjabat sebagai mahapatih yang nantinya turut mengantarkan Majapahit ke masa kejayaan. Posisi Gajah Mada saat itu adalah anggota pasukan pengamanan raja alias Bhayangkara. Aksi pemberontakan Ra Kuti membuat ibu kota Kerajaan Majapahit porak-poranda dan Jayanagara berada dalam situasi berbahaya. Di sinilah peran Gajah Mada disebut-sebut sangat penting dalam upaya penyelamatan takhta Majapahit.[4]

Pemberontakan yang dilakukan oleh para Dharmaputra jelas mengancam nyawa Jayanagara. Maka, sang raja harus diselamatkan. Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara mengamankan Raja Jayanagara ke desa bernama Badander. Ada referensi yang menyebut bahwa Badander berada di wilayah Bojonegoro, tetapi ada pula yang meyakini desa itu terletak di Jombang.[2] Setelah memastikan Jayanagara aman di Badander, dengan pengawalan sebagian anggota Bhayangkara, Gajah Mada kembali ke pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, di istana yang terletak di Trowulan (Mojokerto), Gajah Mada menjalankan taktik jitunya untuk memastikan bahwa rakyat tidak mendukung pemberontakan Ra Kuti.[5][6]

Gajah Mada mengumpulkan para pejabat di rumah tumenggung amancanegara (semacam wali kota) dan mengabarkan kalau Jayanagara telah "meninggal" di pengungsian. Para warga yang mendengar kabar itu menangis, sedih. Dari sinilah Gajah Mada yakin bahwa rakyat mencintai Jayanagara dan tidak senang dengan gerakan kudeta yang dilakukan oleh Ra Kuti. Setelah menjelaskan bahwa raja sebenarnya selamat, Gajah Mada segera menyusun strategi untuk menumpas pemberontakan. Hingga akhirnya, dalam tempo yang tidak terlalu lama, istana dapat direbut kembali oleh pasukan pimpinan Gajah Mada dari penguasaan kawanan pemberontak. Ra Kuti tewas dalam pergolakan itu.[2][7]

Referensi

  1. ↑ Hariadi, Langit Kresna (2008). Gajah Mada: Bergelut dalam kemelut takhta dan angkara. Tiga Serangkai. hlm. 33. ISBN 978-979-3301-90-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 3 https://tirto.id/sejarah-pemberontakan-ra-kuti-di-majapahit-yang-ditumpas-gajah-mada-f978
  3. ↑ Muljana, Slamet (1979). Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya. Bhratara Karya Aksara.
  4. ↑ Komandoko, Gamal (2015-01-01). Gajah Mada. Media Pressindo.
  5. ↑ Wiratmoko, Y. P. B. (2004). Cerita R Tengger. Grasindo. ISBN 978-979-732-860-3.
  6. ↑ Abdullah, Muhlis (2020). HURU-HARA MAJAPAHIT DAN BERDIRINYA KERAJAAN ISLAM DI JAWA. Araska Publisher. ISBN 978-623-7537-49-6.
  7. ↑ Achmad, Sri Wintala (2019). SEJARAH RAJA-RAJA MAJAPAHIT. Araska Publisher. ISBN 978-623-7145-97-4.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar Belakang
  2. Pemberontakan
  3. Referensi

Artikel Terkait

Ra Kuti

Majapahit. Dharmaputra berjumlah 7 orang, yaitu Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Dikutip dari Slamet Muljana dalam

Jayanagara

Raja Majapahit kedua (1309-1328)

Gajah Mada

Perdana Menteri Majapahit dan merupakan maha patih terhebat dan ternama dalam sejarah kerajaan di Nusantara

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026