Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Intervensi Belanda di Lombok dan Karangasem

Intervensi Belanda di Lombok dan Karangasem atau Perang Lombok 1894 merupakan bagian dari rangkaian konflik antara pihak Belanda dan Kerajaan Mataram-Karangasem yang berpusat di Cakranegara, Lombok. Konflik ini berawal dari pemberontakan masyarakat Sasak Timur terhadap Penguasa Bali mereka di Mataram. Pada tahun 1891, posisi para pemberontak semakin terdesak hingga mereka secara resmi meminta bantuan kepada Hindia Belanda. Pemerintah di Batavia, yang melihat kesempatan untuk menguasai Lombok sepenuhnya, memutuskan untuk ikut campur dalam konflik tersebut. Akibatnya, pasukan Belanda berhasil mengalahkan kekuatan Bali-Karangasem dan secara resmi mengambil alih wilayah Karangasem dan Lombok pada tahun 1894.

artikel daftar Wikimedia
Diperbarui 12 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Intervensi Belanda di Lombok dan Karangasem
Intervensi Belanda di Lombok dan Karangasem (1894)

Pertempuran di Cakrangera, Lombok 1894.
dilukis oleh J. Hoynck van Papendrecht.
TanggalJuli-November 1894
LokasiLombok
Hasil Kemenangan Belanda secara total. Kontrol Belanda di Lombok dan Karangasem.
Pihak terlibat
Belanda
Sasak Timur
Mataram-Lombok
Karangasem
Sasak Barat
Tokoh dan pemimpin

  • Mayor Jenderal Jacobus Augustinus Vetter (Panglima)
  • Mayor Jenderal P.P.H. van Ham (Panglima kedua)  ⚔

  • Raja Anak Agung Anglurah Gede Karangasem
  • Putra Mahkota Anak Agung Ketut Karangasem  ⚔
  • Senapatih I Gusti Ketut Gosa (Panglima Perang Lombok) ⚔
  • I Gusti Jelantik (Raja Vassal sekaligus Panglima Perang Karangasem)
Kekuatan
2,200 (Ekspedisi Juli) 8000 (Terdiri dari pasukan Bali dan Sasak)
Korban
500 (Agustus 1894)
166 (November 1894)
Ribuan
  • l
  • b
  • s
Intervensi Belanda di Bali
  • Bali Utara (1846)
  • Bali Utara (1848)
  • Bali (1849)
  • Bali (1858)
  • Lombok dan Karangasem (1894)
  • Bali Selatan (1906)
  • Bali Selatan (1908)
  • l
  • b
  • s
Konflik kolonial Belanda
abad ke-17
  • Banten (1601)
  • Melaka (1606)
  • Tanjung Rachado (1606)
  • Kepulauan Banda (1609―1621)
  • Makau (1622)
  • Pescadores (1622―1624)
  • Bahia (1624)
  • Teluk Persia (1625)
  • Elmina (1625)
  • Kuba (1628)
  • Batavia (1628―1629)
  • Recife (1630)
  • Albrolhos (1631)
  • Teluk Liao luo (1633)
  • Taiwan (1635—1636)
  • Pulau Lamey (1636)
  • Elmina (1637)
  • Vietnam (1637—1643)
  • Goa (1638)
  • Bahia I (1638)
  • Bahia II (1638)
  • Mormugão (1639)
  • Itamaracá (1640)
  • Ceylon (1640)
  • Melaka (1641)
  • Luanda (1641)
  • Taiwan (1641)
  • Taiwan (1642)
  • Chili (1643)
  • Kamboja (1643—1644)
  • Belanda Baru (1643–1645)
  • Tabocas (1645)
  • Filipina (1646)
  • Kombi (1647)
  • Guararapes (1648)
  • Guararapes (1649)
  • Taiwan (1652)
  • Kolombo ke-2 (1654)
  • Belanda Baru (1659—1663)
  • Taiwan (1661–1662)
  • Jawa (1674—1680)
Abad ke-18
  • Jawa (1704–1707)
  • Jawa (1719–1723)
  • India (1739–1741)
  • Jawa (1741–1743)
  • Penfui (1749)
  • Jawa (1749–1757)
  • Sumatra (1781)
  • India (1781)
  • Ceylon (1782)
  • Pantai Emas (1782)
  • Tanjung Koloni (1795)
Abad ke-19
  • Suriname (1804)
  • Tanjung Koloni (1806)
  • Jawa (1810—1811)
    • Batavia (1811)
  • Maluku (1810)
  • Jawa (1811)
  • Algiers (1816)
  • Palembang I (1819)
  • Palembang II (1821)
  • Sumatra (1821–1837)
  • Borneo (1823)
  • Bone (1824)
  • Bone (1825)
  • Diponegoro (1825–1830)
  • Aceh (1831)
  • Ahanta (1837–1839)
  • Bali I (1846)
  • Bali II (1848)
  • Bali III (1849)
  • Palembang (1851–1859)
  • Montrado (1854–1855)
  • Nias (1855–1864)
  • Bali IV (1858)
  • Bone (1859-1860)
  • Borneo (1859–1863)
  • Jepang (1863–1864)
  • Pasoemah (1864–1868)
  • Pantai Emas (1869–1870)
  • Aceh (1873–1913)
  • Mandor (1884–1885)
  • Jambi (1885)
  • Idi (1890)
  • Lombok dan Karangasem (1894)
  • Pedir (1897–1898)
Abad ke-20
  • Kerinci (1903)
  • Bone (1905–1906)
  • Bali (1906)
  • Bali (1908)
  • Venezuela (1908)
  • Perang dengan Jepang (1941–1945)
  • Revolusi Indonesia (1945–1949)

Intervensi Belanda di Lombok dan Karangasem atau Perang Lombok 1894 merupakan bagian dari rangkaian konflik antara pihak Belanda dan Kerajaan Mataram-Karangasem yang berpusat di Cakranegara, Lombok. Konflik ini berawal dari pemberontakan masyarakat Sasak Timur terhadap Penguasa Bali mereka di Mataram. Pada tahun 1891, posisi para pemberontak semakin terdesak hingga mereka secara resmi meminta bantuan kepada Hindia Belanda. Pemerintah di Batavia, yang melihat kesempatan untuk menguasai Lombok sepenuhnya, memutuskan untuk ikut campur dalam konflik tersebut. Akibatnya, pasukan Belanda berhasil mengalahkan kekuatan Bali-Karangasem dan secara resmi mengambil alih wilayah Karangasem dan Lombok pada tahun 1894.

Aliansi terdahulu

Peta Kerajaan Karangasem di Bali, Karangasem merupakan kerajaan maritim, yang artinya kerajaan yang ekonominya bergantung pada sektor maritim, yaitu pelayaran dan perdagangan.

Penduduk asli Pulau Lombok adalah Suku Sasak, yang memeluk Islam sejak abad ke-17. Kelompok-kelompok bangsawan Bali dari Kerajaan Karangasem kemudian mulai menguasai bagian barat pulau Lombok. Salah satu dari mereka, yaitu kelompok Bali-Mataram, berhasil menguasai lebih banyak daripada kelompok asal Bali lainnya, dan bahkan pada akhirnya menguasai keseluruhan pulau ini pada tahun 1839.[1][2][3] Sejak saat itu kebudayaan istana Bali juga turut berkembang di Lombok.[1]

Hubungan dengan Inggris mulai berkembang, diawali oleh G.P. King yang memegang semua mandat perdagangan luar negeri Inggris. Namun Belanda berhasil menghentikan pengaruh Inggris dengan menandatangani perjanjian dengan kelompok Bali-Mataram pada tahun 1843.[2] Kelompok Bali-Mataram adalah sekutu Belanda selama intervensi Belanda di Bali pada tahun 1849, dan atas bantuannya kelompok ini diberi kedudukan sebagai penguasa vasal atas wilayah Karangasem di Pulau Bali.[2]

Pemberontakan Sasak

Para pemimpin yang terlibat perang di Lombok tahun 1894: Anak Agung Ketut Karangasem, Mayor Jenderal P.P.H. van Ham (perwakilan),[2] Mayor Jenderal J.A. Vetter (komandan),[2] Residen M.C. Dannenbargh, dan Gusti Jelantik.

Pada tahun 1891 terjadilah pemberontakan dari masyarakat muslim Sasak di Lombok Timur terhadap penguasa Bali-Mataram, yaitu Anak Agung Gde Ngurah Karangasem.[1][2] Pemberontakan ini, yang merupakan kelanjutan dari pemberontakan sebelumnya pada tahun 1855 dan 1871, yang sebelumnya berhasil ditumpas oleh penguasa Bali-Mataram. Hal itu terjadi karena penguasa Bali-Mataram tersebut meminta masyarakat Sasak mengumpulkan ribuan orang untuk membantunya menyerang Kerajaan Klungkung di Bali, dalam upayanya untuk menjadi penguasa tertinggi di Bali.[4]

Pada tanggal 25 Agustus 1891, putra penguasa Bali-Mataram yaitu Anak Agung Ketut Karangasem dikirim beserta 8.000 orang tentara untuk menumpas pemberontakan di Praya, yang termasuk wilayah Kerajaan Selaparang.[2] Pada tanggal 8 September, pasukan kedua di bawah putra lainnya Anak Agung Made Karangasem yang berkekuatan 3.000 orang dikirimkan sebagai pasukan tambahan.[2] Karena tentara kerajaan tampak dalam kesulitan untuk mengatasi keadaan, diminta lagi bantuan penguasa bawahan Karangasem, yaitu Anak Agung Gde Jelantik, untuk mengirimkan 1.200 orang pasukan elit untuk menuntaskan pemberontakan.[2] Perang berkecamuk berkepanjangan sejak 1891 hingga 1894, dan tentara Bali-Mataram yang lebih canggih persenjatannya dilengkapi dengan dua kapal perang modern, Sri Mataram dan Sri Cakra, berhasil menduduki banyak desa yang memberontak dan mengelilingi kubu perlawanan Sasak yang terakhir.[2]

Pada tanggal 20 Februari 1894, yang secara resmi Sasak mengirimkan utusan untuk meminta intervensi dan dukungan Belanda.[2] Belanda, yang melihat peristiwa ini sebagai kesempatan untuk memperluas kendali mereka di Hindia Timur, memilih untuk memihak Sasak yang telah meminta perlindungan kepada mereka. Belanda segera saja mulai mengganggu impor senjata dan perlengkapan penguasa Bali-Mataram, yang selama ini mereka datangkan dari Singapura.[1][2]

Intervensi Belanda (Juli 1894)

Jenderal P.P.H. van Ham, wakil panglima ekspedisi yang tewas pada pertempuran di bulan Agustus.

Blokade impor yang dilakukan Belanda ternyata tidak cukup untuk menghentikan perang, dan permintaan agar Mataram menyerah juga ditolak.[2] Pada Juli 1894, Belanda berkeputusan untuk mengirimkan ekspedisi militer dengan tujuan menggulingkan kekuasaan penguasa Mataram.[1] Tiga kapal dikirim dari Batavia, yaitu Prins Hendrik, Koningin Emma, dan Tromp, untuk mengangkut 107 perwira, 1.320 tentara Eropa, 948 tentara pribumi, dan 386 kuda.[2]

Sejak bulan Agustus 1894, pasukan Bali mulai menentang kehadiran militer Belanda dalam konflik tersebut. Pada malam hari tanggal 25 Agustus 1894, secara mendadak mereka menyerang kamp militer Belanda yang berpenghuni 900 orang yang didirikan di dekat Istana Mayura di Cakranegara, dan berhasil menewaskan lebih dari 500 orang tentara, pelaut, dan kuli yang berada di sana.[1][4] Di antara korban tewas serangan tersebut adalah Jenderal P.P.H. van Ham, panglima pasukan Belanda.[5] Belanda kemudian mundur dan berkubu dalam benteng di pinggir pantai.[5]

Bala bantuan Belanda (November 1894)

Penghancuran Cakranegara, 1894.

Belanda kembali dengan bala bantuan tambahan di bawah komando Jenderal Vetter. Mataram diserang hingga benar-benar hancur.[1][5] Pada tanggal 8 November 1894, Belanda secara sistematis menembakkan meriam kepada posisi pasukan Bali di Cakranegara, sehingga menghancurkan istana, menewaskan sekitar 2.000 orang Bali, sementara mereka sendiri kehilangan 166 orang.[3] Pada akhir November 1894, Belanda telah berhasil mengalahkan semua perlawanan Bali, dengan ribuan orang Bali menjadi korban tewas, menyerah, atau melakukan ritual puputan.[1]

Monumen ekspedisi Belanda 1894

Lombok dan Karangasem selanjutnya menjadi bagian dari Hindia Belanda, dan pemerintahan dijalankan dari Bali.[1] Gusti Gede Jelantik diangkat sebagai regen Belanda pada tahun 1894, dan ia memerintah hingga tahun 1902.[6] Harta kekayaan kerajaan Lombok disita oleh Belanda, di antaranya termasuk 230 kilo emas, 7.000 kilo perak, dan perhiasan dan karya sastra (termasuk Negarakertagama).[2] Bangli dan Gianyar tidak lama kemudian juga mengakui kedaulatan Belanda, tetapi wilayah Bali selatan terus melawan sampai terjadinya intervensi Belanda di Bali (1906) berikutnya.[3]

Galeri

  • Celana piyama bermotif pasukan perang berkuda dan meriam yang mengacu pada Perang Lombok.
    Celana piyama bermotif pasukan perang berkuda dan meriam yang mengacu pada Perang Lombok.

Lihat pula

  • Sejarah Bali

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Southeast Asia: a historical encyclopedia, from Angkor Wat to East ..., Volume 3 by Keat Gin Ooi p.790ff
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Colonial collections revisited By Pieter ter Keurs p.190ff
  3. 1 2 3 Priests and programmers by John Stephen Lansing p.20
  4. 1 2 The rough guide to Bali & Lombok By Lesley Reader, Lucy Ridout p.494
  5. 1 2 3 Bali handbook with Lombok and the Eastern Isles: the travel guide by Liz Capaldi, Joshua Eliot p.300
  6. ↑ The rough guide to Bali & Lombok by Lesley Reader, Lucy Ridout p.298
  • l
  • b
  • s
Sejarah konflik di Nusantara
Pra-kolonial
  • Perang Medang–Sriwijaya
  • Invasi Sriwijaya oleh Medang
  • Pemberontakan Wurawari
  • Invasi Chola ke Sriwijaya
  • Ekspedisi Pamalayu
  • Pemberontakan Jayakatwang
  • Serbuan Yuan-Mongol ke Jawa
  • Pemberontakan Ra Kuti
  • Invasi Nan Sarunai ke Majapahit [en]
  • Perang Bubat
  • Penjarahan Singapura
  • Perang Regreg
  • Perang Demak–Majapahit [en]
Kolonial Portugis
  • Perang Ternate-Spanyol
  • Konflik Aceh–Portugal
  • Perang Ternate–Portugal
Kolonial VOC
  • Perang Jayakarta (1619)
  • Kejatuhan Jayakarta
  • Konflik Mataram–Belanda
  • Penyerbuan ke Batavia (1628)
  • Pertempuran Melaka (1641)
  • Perang Takhta Jawa Pertama
  • Perang Takhta Jawa Kedua
  • Geger Pacinan
  • Perang Jawa (1741–43)
  • Perang Kuning (1741-50)
  • Perang Takhta Jawa Ketiga
  • Perang Bayu
  • Pembantaian Amboyna
  • Perang Makassar
Kolonial Belanda
  • Perang Padri (1821–37)
  • Perang Pattimura
  • Pemberontakan Ronggo (1810)
  • Geger Sepehi (1812)
  • Perang Diponegoro (1825–30)
  • Ekspedisi Palembang
    • 1819
    • 1821
  • Invasi Belanda ke Pantai Barat Sumatera (1831)
  • Ekspedisi Sumatera Pertama
  • Perang Aceh Pertama
  • Perang Aceh (1873–1913) (Ekspedisi Tanah Gayo, Alas, dan Batak)
  • Perang Bali
    • 1846
    • 1848
    • 1849
    • 1858
    • 1894
    • 1906
    • 1908
  • Pemberontakan di Kalimantan Barat
    • 1823
    • 1850–54
    • 1854–55
  • Pemberontakan Batipuh
  • Perang Banjar (1859–63)
  • Perang Bone
    • 1824
    • 1825
    • 1859
  • Penyerbuan Jawa 1811
    • Penyerbuan Meester Cornelis
  • Perang Tapanuli
  • Ekspedisi Palembang (1851–59)
  • Nias (1855–64)
  • Besemah (1864–68)
  • Mandor (1884–85)
  • Jambi (1885)
  • Ekspedisi Idi (1890)
  • Ekspedisi Pidie (1897–98)
  • Ekspedisi Kerinci (1903)
  • Ekspedisi Sulawesi (1905–06)
  • Perang Belasting
    • Perang Kamang
    • Perang Manggopoh
Pendudukan Jepang
  • Kampanye Hindia Belanda
  • Pembantaian Sook Ching
  • Peristiwa Mandor
  • Peristiwa Loa Kulu
  • Pertempuran Lima Hari

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Aliansi terdahulu
  2. Pemberontakan Sasak
  3. Intervensi Belanda (Juli 1894)
  4. Bala bantuan Belanda (November 1894)
  5. Galeri
  6. Lihat pula
  7. Referensi

Artikel Terkait

Wikimedia Foundation

organisasi amal asal Amerika Serikat

Pemblokiran Wikimedia di Indonesia

pembatasan domain auth.wikimedia.org di Indonesia

Wikikamus bahasa Banjar

Wiktionary berbahasa Banjar

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026