Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Triratna

Triratna merujuk kepada tiga tempat berlindung bagi umat Buddha, yaitu Buddha, Dhamma, dan Saṅgha yang dianggap berharga layaknya ratna. Triratna, sebagai pelindung umat Buddha, juga sering disebut sebagai Tiga Perlindungan.

Tiga tempat berlindung yang berharga dalam Buddhisme
Diperbarui 21 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Untuk konsep keyakinan, lihat Keyakinan dalam Buddhisme.
Terjemahan dari
tiratana
Indonesiatriratna, tiga permata, tiga mestikacode: id is deprecated
Inggristhree jewels, three treasures, triple gem
Palitiratana,
ratanattaya
code: pi is deprecated
Sanskertaत्रिरत्न, रत्नत्रयcode: sa is deprecated
(IAST: triratna, ratna-traya)
Tionghoa三宝, 三寶code: zh is deprecated
(Pinyin: sānbǎocode: pny is deprecated )
Jepang三宝code: ja is deprecated
(rōmaji: sambō, sampōcode: ja is deprecated )
Korea삼보code: ko is deprecated
(RR: sambocode: ko is deprecated )
Tibetདཀོན་མཆོག་གསུམ,
(dkon mchog gsum)
code: bo is deprecated
Myanmarရတနာသုံးပါး
(jadanà θóuɴ bá)
code: my is deprecated
Thaiไตรรัตน์, รัตนตรัยcode: th is deprecated
(RTGS: trairat, rattanatrai)
Vietnamtam bảocode: vi is deprecated
Daftar Istilah Buddhis
  • l
  • b
  • s
(saranak)"},"my":{"wt":"သရဏ<br>(tharana)"},"ko":{"wt":"귀의"},"ko-Latn":{"wt":"gwiui"},"ta":{"wt":"சரணம்"},"tl":{"wt":"salanam"},"tl-tglg":{"wt":"ᜐᜀᜎᜀᜈᜀ"},"th":{"wt":"สรณะ, ที่พึ่ง ที่ระลึก"},"id":{"wt":"perlindungan, pelindung"},"en":{"wt":"refuge"},"th-Latn":{"wt":"sarana, thi phueng thi raluek"},"ta-Latn":{"wt":"saranam / saran"},"si-Latn":{"wt":"saraṇa"}},"i":0}}]}' id="mwBg"/>
Terjemahan dari
saraṇa
Indonesiaperlindungan, pelindungcode: id is deprecated
Inggrisrefuge
Palisaraṇacode: pi is deprecated
Sanskertaशरण (śaraṇa)code: sa is deprecated
Tionghoa皈依code: zh is deprecated
(Pinyin: guīyīcode: pny is deprecated )
Jepang帰依code: ja is deprecated
(rōmaji: kiecode: ja is deprecated )
Korea귀의code: ko is deprecated
(RR: gwiuicode: ko is deprecated )
Bengaliশরনcode: bn is deprecated
Myanmarသရဏ
(tharana)
code: my is deprecated
Thaiสรณะ, ที่พึ่ง ที่ระลึกcode: th is deprecated
(RTGS: sarana, thi phueng thi raluek)
Vietnamquy ycode: vi is deprecated
Khmerសរណៈ
(saranak)
code: km is deprecated
Sinhalaසරණcode: si is deprecated
(saraṇa)
Tamilசரணம்code: ta is deprecated
(saranam / sarancode: ta is deprecated )
Daftar Istilah Buddhis
  • l
  • b
  • s
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
  • Istilah
  • Indeks
  • Garis besar
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Mazhab
  • Konsensus pemersatu
Arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílè Dàdào
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Paritta
  • Sastra Pali
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Sutra Mahāyāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
  • Buddha
  • Bodhisatwa
  • Buddha masa ini:
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
  • 4 tempat suci utama:
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
  • Buddha masa lampau:
  • Kassapa
  • Koṇāgamana
  • Kakusandha
  • Vessabhū
  • Sikhī
  • Vipassī
  • dll.
  • Dīpaṅkara
  • Buddha masa depan:
  • Metteyya
  • Bawahan:
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
    • Kwan Im
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
Keyakinan
  • Ketuhanan
  • Hukum Alam
  • Pandangan
  • Kesesatan
  • Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia
  • Perlindungan
  • Pancasila
  • Karma
    • Kehendak
    • Akibat
  • Punarbawa
  • Alam Kehidupan
  • Samsara
  • Māra
  • Pencerahan
  • Nirwana
  • Acinteyya
Tiga corak
  • Ketidakkekalan
  • Penderitaan
  • Tanpa atma
Gugusan
  • Rupa
  • Kesadaran
  • Persepsi
  • Perasaan
  • Saṅkhāra
  • Nāmarūpa
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Kontak indra
  • Kemunculan Bersebab
Faktor mental
  • Malu
  • Takut
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Delusi
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Kewawasan
  • Bodhipakkhiyā
  • dll.
Meditasi
  • Samatha-vipassanā
    • Jhāna
    • Satipaṭṭhāna
    • Sampajañña
    • Kammaṭṭhāna
      • Anussati
        • Maraṇasati
        • Ānāpānasati
      • Paṭikūlamanasikāra
    • Brahmawihara
      • Cinta kasih
      • Belas kasih
      • Simpati
      • Ketenangan / Keseimbangan batin
  • Abhiññā
    • Iddhi
Bakti
  • Puja
  • Pelimpahan jasa
  • Namaskara
  • Pradaksina
  • Pindapata
  • Ziarah
Praktik lainnya
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Dana
  • Sila
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Usaha
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Astasila
  • Fangseng
  • Sādhu
  • Sangha
  • Parisā
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Pandita
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
  • Kepala wihara
  • Saṅgharāja
Murid penting
  • Biksu:
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • Mahākassapa
  • Ānanda
  • 10 murid utama
  • Biksuni:
  • Pajāpatī Gotamī
  • Khemā
  • Uppalavaṇṇā
  • Kisā Gotamī
  • Upasaka:
  • Tapussa dan Bhallika
  • Anāthapiṇḍika
  • Citta
  • Hatthaka
  • Upasika:
  • Sujātā
  • Khujjuttarā
  • Veḷukaṇḍakiyā
  • Visākhā
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Dhammasālā
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Kelenteng
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Magha
  • Waisak
  • Asalha
  • Kathina
  • Uposatha
  • Hari Lahir Buddha
  • Hari Bodhi
  • Hari Abhidhamma
  • Ulambana
  • Hari Parinirwana
  • Budaya
  • Masyarakat
Produk
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Bendera
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Darmacakra
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Humanisme
  • Kalender
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Sarira
    • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seni rupa
Hubungan dengan …
  • Agama timur
  • Baháʼí
  • Dunia Romawi
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Hinduisme
  • Jainisme
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Penindasan
  • Yahudi
Pandangan tentang …
  • Aborsi
  • Anikonisme
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Ilmu pengetahuan
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Masturbasi
  • Orientasi seksual
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarianisme
  •  Portal Buddhisme
  • l
  • b
  • s

Triratna (Sanskerta: त्रिरत्न, Triratna; Pali: Tiratana) merujuk kepada tiga tempat berlindung bagi umat Buddha, yaitu Buddha, Dhamma, dan Saṅgha yang dianggap berharga layaknya ratna (permata; batu mulia; intan). Triratna, sebagai pelindung umat Buddha, juga sering disebut sebagai Tiga Perlindungan (Pali: Tisaraṇa; Sanskerta: त्रिशरण, Triśaraṇa).

Dalam Buddhisme, berlindung pada Triratna merupakan suatu praktik keagamaan yang biasanya dilakukan sebagai awalan berbagai praktik keagamaan lainnya. Sejak periode Buddhisme awal, baik aliran Theravāda maupun Mahāyāna hanya berlindung pada Triratna. Namun, aliran Vajrayāna secara khusus memiliki formula perlindungan yang diperluas, dikenal sebagai Triratna dan Triakar.[1]

Berlindung pada Triratna adalah sebuah bentuk aspirasi untuk menjalani hidup dengan Triratna sebagai pedoman utama. Berlindung dilakukan dengan syair singkat yang berisi pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.[2][3] Dalam kitab suci Buddhisme awal, praktik berlindung merupakan suatu ekspresi tekad untuk mengikuti ajaran Buddha, bukan suatu ekspresi pelepasan tanggung jawab kehidupan.[4]

Pembacaan syair perlindungan kepada Triratna umum dilantunkan tepat sebelum pembacaan syair tekad Pancasila baik bagi seseorang yang berniat pindah agama maupun seseorang yang sudah menganut Buddhisme.[5] Seorang umat awam (bukan biksu, biksuni, samanera, atau samaneri) yang berlindung kepada Triratna disebut sebagai upasaka atau upasika, sedangkan yang tidak berlindung disebut sebagai titthiya.

Terminologi

Triratna (Sanskerta) dan Tiratana (Pali), juga dikenal sebagai Ratnatraya (Sanskerta), atau Ratanattaya (Pali), sama-sama berarti "Tiga Permata" atau "Tiga Mestika" yang dimuliakan dalam Buddhisme. Namun, istilah tersebut juga dipakai dalam Jainisme—meskipun dengan konsep yang berbeda—mengingat bahwa kedua agama tersebut berkembang pada zaman yang sama.[6][7]

Penjelasan

Lihat pula: Upasaka-upasika dan Keyakinan dalam Buddhisme

Keyakinan terhadap Triratna merupakan unsur ajaran penting dalam tradisi Theravāda dan Mahāyāna. Berbeda dengan konsep kepercayaan yang dipahami orang Barat, keyakinan dalam Buddhisme muncul dari akumulasi pengalaman dan penalaran. Dalam Kesamutti Sutta, Buddha secara eksplisit menentang mereka yang mengikuti otoritas atau tradisi secara membuta, khususnya agama-agama yang sezaman dengan zaman Buddha. Tingkat kepercayaan dan keyakinan tertentu masih dianggap penting dalam Buddhisme, terutama terkait pencapaian spiritual, keselamatan, dan kecerahan. Keyakinan dalam Buddhisme, secara umum, berpusat pada keyakinan terhadap Triratna.

Theravāda

Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
Buddhisme
Sejarah
    • Pencapaian Nirwana (~588 SM)
    • Dhammacakkappavattana Sutta (~588 SM)
    • Kemangkatan Buddha (~543 SM)
    • Prasektarian (~588-543 SM)
    • Sidang Pertama (~543 SM)
    • Masa sangha bersatu (~543–383 SM)
    • Sidang Kedua (~383 SM)
    • Sthaviravāda (~383 SM)
    • Aliran awal (~383–250 SM)
    • Sidang Ketiga (~250 SM)
    • Vibhajjavāda (~240 SM)
    • Tambapaṇṇiya (Mahāvihāra) (~240 SM)
    • Sidang Keempat (~100 SM)
    • Dīpavaṁsa (~300-400 M)
    • Mahāvaṁsa (~500-600 M)
    • Sidang Kelima (1871 M)
    • Pali Text Society (1881 M)
    • Sidang Keenam (1954 M)
Tokoh penting
  • Nepal–India:
  • Buddha Gotama
  • Keluarga Gotama
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
  • Sepuluh murid utama
    • Ānanda
    • Sāriputta
  • Khemā
  • Uppalavaṇṇā
  • Tapussa dan Bhallika
  • Anāthapiṇḍika
  • Citta
  • Hatthaka
  • Sujātā
  • Khujjuttarā
  • Veḷukaṇḍakiyā
  • Visākhā
  • Moggaliputtatissa
  • Asoka
  • Sri Lanka:
  • Devānaṁpiyatissa
  • Mahinda
  • Saṅghamittā
  • Buddhaghosa
  • Buddhadatta
  • Dhammapāla
  • Ācariya Anuruddha
  • Parakramabahu I
  • Mahākassapa (abad ke-12)
  • Sāriputta (abad ke-12)
  • Sumaṅgala Thera
  • Henry Steel Olcott
  • Anagārikā Dharmapāla
  • K. Sri Dhammananda
  • Narada
  • Asoka Weeraratna
  • Walpola Rahula
  • Jayatilleke
  • Kalupahana
  • Burma:
  • Shin Arahan
  • Anawrahta
  • Ledi Sayadaw
  • U Dhammaloka
  • U Nārada
  • Saya Thetgyi
  • Webu Sayadaw
  • U Ba Khin
  • U Nu
  • Mahasi Sayadaw
  • Sayadaw U Paṇḍita
  • S. N. Goenka
  • U Sīlānanda
  • Chanmyay Sayadaw
  • Pa-Auk Sayadaw
  • India Britania:
  • Kripasaran
  • Anagarika Munindra
  • Dipa Ma
  • Thailand:
  • Ram Khamhaeng
  • Mongkut
  • Vajirañāṇavarorasa
  • Ajahn Mun
  • Ajahn Chah
  • Kee Nanayon
  • Dhammananda Bhikkhuni
  • Varanggana Vanavichayen
  • Kamboja:
  • Maha Ghosananda
  • Nepal:
  • Mahapragya
  • Pragyananda
  • Australia:
  • Ajahn Brahm
  • Bhante Sujato
  • Dunia Barat:
  • Bhikkhu Bodhi
  • Ajahn Sumedho
  • Ayya Tathaaloka
  • Analayo
  • Nyanatiloka
  • Nanamoli
  • Nyanaponika
  • Ayya Khema
  • Jack Kornfield
  • Sharon Salzberg
  • Joseph Goldstein

*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.

Kepustakaan
  • Tipiṭaka
    • Vinayapiṭaka
    • Suttapiṭaka
    • Abhidhammapiṭaka
  • Lihat juga:
  • Kuasikanonika
Tafsir otoritatif
  • Aṭṭhakathā
  • Ṭīkā
    • Anuṭīkā
Risalah
  • Panduan ajaran:
  • Visuddhimagga
  • Abhidhammatthasaṅgaha
  • Vimuttimagga
  • Abhidhammāvatāra
  • Yogāvacara
  • Panduan bahasa:
  • Aṭṭhayojanā
Syair perlindungan
  • Umum:
  • Paritta
    • Gāthā
  • Paṭṭhāna
  • Esoteris:
  • Dhammakāyānussati-kathā
Kesejarahan
  • Mahāvaṁsa
  • Dīpavaṁsa
  • Cūḷavaṁsa
  • Rājāvaliya
  • Dāṭhāvaṁsa
  • Bodhivaṁsa
  • Thūpavaṁsa
  • Jinacarita
  • Gandhavaṁsa
  • Sāsanavaṁsa
Ajaran utama
  • Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia
    • Sila
    • Konsentrasi
    • Kebijaksanaan
  • Perlindungan
  • Kesesatan
  • Pandangan
  • Pancasila
  • Unsur
  • Gugusan
    • Rupa
    • Kesadaran
    • Persepsi
    • Perasaan
    • Formasi
  • Indra
  • Kontak
  • Cetasika
  • Pengotor batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Tilakana
    • Ketidakkekalan
    • Penderitaan
    • Tanpa atma
  • Karma
  • Kemunculan Bersebab
  • Samsara
  • Punarbawa
  • Loka
  • Brahmawihara
    • Cinta kasih
    • Welas asih
    • Simpati
    • Ketenangan / Keseimbangan batin
  • Perhatian penuh
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Bodhipakkhiyā
  • Tingkat Kemuliaan
    • Sotapana
    • Anagami
    • Sakadagami
    • Arahat
  • Nirwana
  • Praktik
  • Tradisi
  • Pariyatti, paṭipatti, paṭivedha
  • Kajian kitab:
  • Bhāṇaka
  • Metode Abhidhamma
  • Ujian sangha
    • Tipiṭakadhara Tipiṭakakovida
    • Gelar Dhammabhaṇḍāgārika
    • Sanam Luang
  • Lisan:
  • Evaṁ me sutaṁ
  • Okāsa
  • Saccakiriyā
  • Sādhu
  • Ritual dan upacara:
  • Visuddhi
  • Bhatti
    • Pūjā
    • Pattidāna
    • Namakāra
    • Padakkhiṇā
    • Piṇḍapāta
    • Yātrā
  • Abhiseka Buddharūpa
  • Upasampadā
  • Vassa
  • Pavāraṇā
  • Dhutaṅga
  • Meditasi:
  • Samatha-vipassanā
    • Jhāna
    • Satipaṭṭhāna
    • Sampajañña
    • Kammaṭṭhāna
      • Anussati
        • Maraṇasati
        • Ānāpānasati
      • Paṭikūlamanasikāra
    • Brahmavihārā
      • Mettā
      • Karuṇā
      • Muditā
      • Upekkhā / Tatramajjhattatā
  • Tipe kepribadian
    • Puggalapaññatti
  • Meditasi Dhammakāya
  • Tradisi hutan:
  • Hutan Thai
    • Hutan Ajahn Chah
  • Hutan Pa-Auk
  • Hutan Sri Lanka
    • Yogāśrama Saṁsthā
    • Mahamevnawa
  • Praktik budaya:
  • Smot
  • Wai khru
  • Rumah penunggu
  • Lainnya:
  • Pakkhagaṇanā
  • Sāvakabuddha
  • Theravāda Esoteris
  • Gerakan Vipassanā
  • Modernisme Buddhis
  • Tradisi Dhammakāya
Istilah peran
  • Kalyāṇamitta
  • Catuparisā
  • Saṅgha
  • Saṅgharāja
  • Kepala wihara
  • Bhikkhu
  • Bhikkhunī
  • Sāmaṇera-sāmaṇerī
  • Anagārika
    • Aṭṭhasīlanī
    • Sayalay
    • Donchee
    • Dasasīlamātā
    • Sīladharā
  • Bhante
  • Ācariya
    • Ajahn
    • Sayadaw
  • Ayya
  • Thera-therī
  • Kappiya
  • Rama-ramanī
  • Upāsaka-upāsikā
Ordo (Nikāya/Gaṇa)
Indonesia*
  • Sagin
    • KBI
  • STI
  • STDI
  • MBMI
  • SDDI
  • Sudhammā
  • Shwegyin
  • Amarapura–Rāmañña

*Ordo-ordo di Indonesia diturunkan dari garis penahbisan di negara lain. Kemudian, beberapa kelompok berkembang secara independen.

Thailand, Kamboja
  • Mahā
  • Dhammayuttika
Myanmar
  • Sudhammā
    • Rāmañña Burma
    • Zawti
  • Shwegyin
  • Mahādvāra
  • Anaukchaungdvāra
  • Mūladvāra
  • Veḷuvana
  • Hngettwin
  • Gaṇavimutti
  • Dhammayuttika
Sri Lanka
  • Amarapura–Rāmañña
    • Amarapura
    • Rāmañña
  • Siam
Laos
  • Lao United Buddhists Association
    • Mahā
    • Dhammayuttika
Bangladesh
  • Saṅgharāja
  • Mahāsthabir
Perayaan
  • Utama:
  • Magha
  • Waisak
  • Asalha
  • Kathina
  • Lainnya:
  • Hari Abhidhamma
  • Uposatha
Perguruan tinggi
  • MBU
  • MCRU
  • IBC
  • ITBMU
  • SPSU
  • BPU
  • Sihanouk
  • Sihamoni
  • CSC
  • Sangha College
  • Kertarajasa
  • Syailendra
  • Nalanda
  • DDIBU
Kepercayaan terkait
  • Brahmanisme
  • Saiwa
    • Saiwa Siddhanta
  • Agama rakyat:
  • Dravida
  • Sinhala
  • Burma
  • Tai
  • Kamboja
  • Vietnam
  • Tionghoa
  • l
  • b
  • s

Sejak masa awal Buddhisme, para pengikut Buddhisme mengungkapkan keyakinan mereka melalui tindakan berlindung yang terdiri dari tiga aspek. Berikut ini adalah tiga penyangga atau permata yang menjadi tempat berlindung seorang penganut Buddhisme awal:

  • Buddha, yang telah mencapai Nirwana (yaitu sosok Buddha Gotama).
  • Dhamma, ajaran Buddha yang dijelaskan oleh Sang Buddha.
  • Saṅgha, komunitas monastik Buddhisme yang mempraktikkan dan melestarikan Dhamma.

Dalam hal ini, Tiga Perlindungan berpusat pada otoritas seorang Buddha sebagai makhluk yang sangat tercerahkan, dengan menyetujui peran seorang Buddha sebagai guru bagi manusia dan para dewa (makhluk surgawi). Ini sering kali mencakup Buddha lain dari masa lalu, dan Buddha yang belum muncul. Kedua, pengambilan perlindungan menghormati kebenaran dan kemanjuran ajaran spiritual Buddha, yang mencakup karakteristik fenomena (Pali: [saṅkhāra] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) seperti ketidakkekalan (bahasa Pali: anicca), dan Jalan Mulia Berunsur Delapan menuju pembebasan.[8]&#91;<i>[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|<span_title="Kutipan_ini_membutuhkan_referensi_ke_halaman/_jangkauan_halaman_spesifik_dimana_materinya_muncul&#32;(December_2022)">halaman&nbsp;dibutuhkan</span>]]</i>&#93;</sup>-9' id="mweg">[9] Pengambilan perlindungan diakhiri dengan penerimaan kelayakan komunitas pengikut yang telah berkembang secara spiritual (saṅgha), yang sebagian besar didefinisikan sebagai komunitas monastik, tetapi dapat juga mencakup upasaka-upasika dan bahkan para dewa asalkan mereka hampir atau sepenuhnya tercerahkan.[10] Buddhisme awal tidak mengikutsertakan Bodhisatwa dalam formula Tiga Perlindungan karena mereka dianggap belum tercerahkan dan masih berada di jalan menuju kecerahan.[11]

Kitab-kitab awal menggambarkan saṅgha sebagai "ladang pahala," karena umat Buddha awal menganggap persembahan kepada saṅgha sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat secara karma.[12] Upasaka-upasika mendukung dan menghormati saṅgha, karena mereka percaya saṅgha akan membuahkan mereka pahala dan membawa mereka lebih dekat pada kecerahan.[13] Pada saat yang sama, para biksu diberi peran penting dalam mempromosikan dan menegakkan keyakinan di antara upasaka-upasika. Meskipun banyak contoh dalam kitab-kitab disebutkan tentang biksu yang berperilaku baik, ada juga kasus biksu yang berperilaku tidak pantas. Dalam kasus seperti itu, kitab-kitab menggambarkan bahwa Buddha menanggapi dengan kepekaan yang besar terhadap persepsi komunitas upasaka-upasika. Ketika Buddha menetapkan aturan baru dalam aturan disiplin monastik untuk menangani kesalahan para biksunya, ia biasanya menyatakan bahwa perilaku seperti itu harus dikekang karena perilaku itu tidak akan "membujuk orang yang tidak percaya" dan "orang yang percaya akan berpaling". Ia mengharapkan para biksu, biksuni, dan samanera-samaneri tidak hanya untuk menjalani kehidupan spiritual demi keuntungan mereka sendiri, tetapi juga untuk menegakkan keyakinan orang-orang. Di sisi lain, mereka tidak boleh menumbuhkan keyakinan dengan kemunafikan atau ketidaktepatan, misalnya, dengan mengambil profesi lain selain menjadi seorang biksu, atau mencari pengikut dengan menghadiahkan berbagai barang.[14][15]

Syair

Syair yang paling sering digunakan dalam bahasa Pali:[16][17]

Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Aku berlindung kepada Buddha.
Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Aku berlindung kepada Dhamma.
Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Aku berlindung kepada Saṅgha.

Dutiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada Buddha.
Dutiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada Dhamma.
Dutiyampi Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada Saṅgha.

Tatiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada Buddha.
Tatiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada Dhamma.
Tatiyampi Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
      Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada Saṅgha.

— Syair Saraṇattaya, Khuddakapāṭha 1, Khuddaka Nikāya

Selain syair di atas, terdapat berbagai model bacaan lain yang disebutkan dalam kepustakaan Pali untuk berlindung kepada Triratna. Brett Shults menjelaskan bahwa syair ini menggunakan model yang mirip dengan mode dari tradisi agama Weda (Brahmanisme)—dengan isi yang berbeda—berupa kelompok tiga perlindungan, seperti yang ditemukan dalam Regweda 9.97.47, Regweda 6.46.9, dan Upanisad Chandogya 2.22.3-4.[18]

Pengambilan perlindungan

Untuk memohon pengambilan Tisarana kepada seorang biksu, dibacakan kalimat berikut:[19]

({{lang|id|Bhante, kami memohon Tisarana dan Pancasila. Untuk kedua kalinya, Bhante, kami memohon Tisarana dan Pancasila. Untuk ketiga kalinya, Bhante, kami memohon Tisarana dan Pancasila.}})<ref name=\"paritta\"/>"}},"i":0}}]}' id="mwARs"/>

Mayaṁ bhante, Tisaraṇena saha pañcasīlāni yācāma. Dutiyampi mayaṁ bhante, Tisaraṇena saha pañcasīlāni yācāma. Tatiyampi mayaṁ bhante, Tisaraṇena saha pañcasīlāni yācāma.
(Bhante, kami memohon Tisarana dan Pancasila. Untuk kedua kalinya, Bhante, kami memohon Tisarana dan Pancasila. Untuk ketiga kalinya, Bhante, kami memohon Tisarana dan Pancasila.code: id is deprecated )[17]

Kemudian, seorang biksu akan menjawab sebagai berikut:

({{lang|id|Ikutilah apa yang saya ucapkan.}})<ref name=\"paritta\"/>"}},"i":0}}]}' id="mwASI"/>

Yam-ahaṁ vadāmi taṁ bhaveta.
(Ikutilah apa yang saya ucapkan.code: id is deprecated )[17]

Setelah itu, umat menjawab dengan kalimat "Āma, Bhante" (Baik, Bhante). Kemudian, biksu tersebut membacakan kalimat Vandana sebanyak tiga kali yang kemudian diikuti oleh umat:

({{lang|id|Terpujilah Sang Begawan, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna}}).<ref name=\"paritta\"/>"}},"i":0}}]}' id="mwASs"/>

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa.
(Terpujilah Sang Begawan, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurnacode: id is deprecated ).[17]

Sesudah itu, biksu tersebut membacakan ayat-ayat Tisarana per kalimatnya yang kemudian diikuti oleh umat per kalimatnya. Seusai pembacaan Tisarana terlengkapi, biksu tersebut akan berkata sebagai berikut:

({{lang|id|Tisarana telah diambil dengan lengkap}})<ref name=\"paritta\"/>"}},"i":0}}]}' id="mwATM"/>

Tisaraṇa gamanaṁ paripuṇṇaṁ.
(Tisarana telah diambil dengan lengkapcode: id is deprecated )[17]

Kemudian, umat menjawabnya kalimat "Āma, Bhante" (Baik, Bhante).

Pengambilan sila

Artikel utama: Pancasila (Buddhisme) dan Astasila

Upasaka-upasika atau umat awam sering kali melaksanakan praktik pengambilan lima sila atau Pancasila dalam upacara yang sama setelah mereka mengambil perlindungan.[20][21] Para biksu memberikan sila kepada upasaka-upasika, yang menciptakan efek psikologis tambahan.[22] Pancasila tersebut adalah:[23]

  1. tidak membunuh;
  2. tidak mencuri;
  3. tidak berhubungan seksual secara salah;
  4. tidak mengucapkan kebohongan;
  5. tidak minum minuman keras.

Seorang upasaka-upasika yang menjunjung tinggi sila-sila tersebut digambarkan dalam kitab suci sebagai “permata di antara umat awam”.[24]

Diagram

Dalam aliran Theravāda, diagram Triratna digambarkan sebagai berikut:

 
 
 
 
 
 
 
 
TIRATANA
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BUDDHA
 
 
 
 
DHAMMA
 
 
 
SAṄGHA
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sammāsambuddha
 
 
 
 
Pariyattidhamma
 
 
 
 
 
 
Sammutisaṅgha
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Paccekabuddha
 
 
 
 
 
 
Tipiṭaka
 
 
 
 
Ariyasaṅgha
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sāvakabuddha
 
 
 
 
 
 
Aṭṭhakathā
Ṭīkā
Añña
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Paṭipattidhamma
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ariya Aṭṭhaṅgika Magga
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Paṭivedhadhamma
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sotāpanna
Anāgāmi
Sakadāgāmi
Arahat
 

Mahāyāna

Bagian dari seri tentang
Buddhisme Mahāyāna
Seroja, salah satu dari delapan simbol keberuntungan dalam Mahāyāna
Ajaran
  • Bodhisatwa
  • Kebuddhaan
  • Bodhicitta
  • Benih Kebuddhaan
  • Nianfo
  • Trikaya
  • Upāya
  • Prajñāpāramitā
  • Pāramitā
  • Śūnyatā
  • Ajaran dua kebenaran
  • Yogacara
  • Triyana
  • Nirwana
  • Ekayāna
  • Sila Bodhisatwa
  • Ikrar Bodhisatwa
  • Bhūmi
  • Tanah murni
    • Sukhavati
    • Abhirati
    • Akaniṣṭha
    • Shambhala
  • Prabaswara
  • Dhāraṇī
  • Triprawartana
  • Hīnayāna
Buddha–Bodhisatwa
  • Sakyamuni
  • Amitābha
  • Adi Buddha
  • Akṣobhya
  • Prajñāpāramitā Devī
  • Bhaiṣajyaguru
  • Vairocana
  • Mañjuśrī
  • Avalokiteśvara
  • Vajrapāṇi
  • Vajrasattva
  • Maitreya
  • Kṣitigarbha
  • Ākāśagarbha
  • Samantabhadra
  • Tara
  • Makhluk murka
Sutra Mahāyāna
  • Sūtra Prajñāpāramitā
  • Sūtra Teratai
  • Sūtra Avataṃsaka
  • Sūtra Mahāratnakūṭa
  • Sūtra Mahāsaṃnipāta
  • Sūtra Vimalakirti
  • Sūtra Tanah Murni
  • Sūtra Lalitavistara
  • Sūtra Samādhirāja
  • Sūtra Saṃdhinirmocana
  • Sūtra Tathāgatagarbha
  • Sūtra Śrīmālādevī
  • Sūtra Mahāparinirvāṇa
  • Sūtra Śūraṅgama Samādhi
  • Sūtra Laṅkāvatāra
  • Sūtra Ghanavyūha
  • Sūtra Cahaya Emas
  • Sūtra Tathāgataguhyaka
  • Sūtra Kāraṇḍavyūha
Subaliran utama
  • Mādhyamaka
  • Yogācāra
  • Buddhisme Han
    • Chan
    • Tiantai
    • Huayan
    • Tanah Murni
    • Fo Guang Shan
    • Tzu Chi
    • Fa Gu Shan
    • Chung Tai Shan
  • Zen
  • Tendai
  • Nichiren
  • Vajrayāna
    • Shingon
    • Buddhisme Tibet
    • Dzogchen
    • Nyingma
    • Kadam
    • Kagyu
    • Sakya
    • Gelug
    • Jonang
Tokoh penting
  • Nāgārjuna
  • Aśvaghoṣa
  • Āryadeva
  • Lokakṣema
  • Kumārajīva
  • Asaṅga
  • Vasubandhu
  • Sthiramati
  • Buddhapālita
  • Dignāga
  • Bhāvaviveka
  • Dharmakīrti
  • Candrakīrti
  • Zhiyi
  • Bodhidharma
  • Huineng
  • Shandao
  • Xuanzang
  • Fazang
  • Amoghavajra
  • Saichō
  • Kūkai
  • Shāntideva
  • Śāntarakṣita
  • Wŏnhyo
  • Mazu Daoyi
  • Jinul
  • Dahui Zonggao
  • Hongzhi Zhengjue
  • Hōnen
  • Shinran
  • Dōgen
  • Nichiren
  • Śaṅkaranandana
  • Virūpa
  • Ratnākaraśānti
  • Abhayākaragupta
  • Nāropā
  • Atisha
  • Sakya Pandita
  • Dolpopa
  • Rangjung Dorje
  • Tsongkhapa
  • Longchenpa
  • Hakuin
  • Hanshan
  • Taixu
  • D.T. Suzuki
  • Sheng-yen
  • Tenzin Gyatso (Dalai Lama ke-14)
  • Thích Nhất Hạnh
Tradisi regional
  • Tiongkok
  • Taiwan
  • Jepang
  • Korea
  • Vietnam
  • Tibet
  • Nepal
  • Newar
  • Bhutan
  • Mongolia
  • Malaysia
  • Indonesia
  • Dunia Barat
  • l
  • b
  • s

Dalam ajaran aliran Mahāyāna, Triratna dipahami dalam pengertian yang berbeda dari aliran Sravakayana atau aliran-aliran non-Mahāyāna. Misalnya, Buddha biasanya dijelaskan melalui ajaran Mahāyāna tentang tiga tubuh (trikaya).

Menurut kitab Mahāyāna berjudul Ratnagotravibhāga (Analisis Silsilah Permata), makna sebenarnya dari Triratna adalah sebagai berikut:[25]

  • Sang Buddha tidak memiliki awal, tengah, dan akhir. Sang Buddha adalah kedamaian. Sang Buddha adalah Dharmakaya yang tidak bercampur (asamskrta) dan spontan (anabhoga). Sang Buddha adalah kebijaksanaan (jñana) yang tercerahkan sendiri dan muncul dengan sendirinya, kasih sayang, dan kekuatan untuk memberi manfaat kepada orang lain.
  • Dharma digambarkan sebagai realitas yang merupakan penghentian. Dharma digambarkan sebagai bukan keberadaan maupun ketidakberadaan. Dharma adalah realitas nonkonseptual serta realitas jalan yang terdiri dari jñana yang bercahaya dan tanpa noda yang menghilangkan semua kekotoran. Ini juga disamakan dengan Dharmakaya.
  • Sangha mengacu pada makhluk-makhluk yang menyadari hakikat pikiran yang benar-benar cemerlang dan "kesempurnaan hakikat" (yavad bhavikataya) serta kualitas-kualitas unggul yang menjadikan mereka tempat berlindung.

Menurut Longchenpa, seorang guru Buddhisme Tibet:

Menurut pendekatan Mahāyāna, Sang Buddha adalah totalitas dari tiga tubuh; dharma meliputi transmisi kitab suci (terkandung dalam sutra dan tantra) dan realisasi kesadaran abadi yang mengetahui diri sendiri (termasuk pandangan, keadaan penyerapan meditatif, dan sebagainya yang terkait dengan tahap-tahap seperti pengembangan dan penyelesaian); dan sangha terdiri dari para Bodhisatwa, guru kesadaran, dan makhluk-makhluk spiritual tingkat tinggi lainnya (selain para Buddha) yang sifatnya sedemikian rupa sehingga mereka berada di jalan pembelajaran dan tidak lagi belajar.[26]

Jadi, bagi aliran Mahāyāna, permata Buddha mencakup Buddha yang tak terhitung banyaknya (seperti Amitabha, Vajradhara, dan Vairocana), bukan hanya Buddha Sakyamuni. Demikian pula, permata Dharma mencakup sutra Mahāyāna dan (untuk aliran Mahāyāna tertentu) dapat juga mencakup tantra Buddha, bukan hanya Tripitaka. Terakhir, permata Sangha mencakup banyak makhluk yang bukan bagian dari sangha monastik, termasuk Bodhisatwa tingkat tinggi seperti Awalokiteswara, Vajrapani, Manjusri, dan seterusnya.

Pengambilan perlindungan

Dalam aliran Mahāyāna, pengambilan perlindungan biasa dilakukan dengan pembacaan syair 三皈依 (Pinyin: sān guīyī):[27][28]

自皈依佛当愿众生
(Zì guīyī fó dāng yuàn zhòngshēng)
      Saya berlindung kepada Buddha, semoga semua makhluk hidup
体解大道发无上心
(Tǐ jiě dàdào fā wú shàng xīn)
      dapat memahami Dharma Yang Maha Sempurna, dan berniat untuk mencapai tingkat Buddha.
自皈依法当愿众生
(Zì guīyī fǎ dāng yuàn zhòngshēng)
      Saya berlindung kepada Dharma, semoga semua makhluk hidup
深入经藏智慧如海
(Shēnrù jīng zàng zhìhuì rú hǎi)
      mendalami Sūtra Piṭaka, dan memiliki kebijaksanaan yang luas bagaikan samudra.
自皈依僧当愿众生
(Zì guīyī sēng dāng yuàn zhòngshēng)
      Saya berlindung kepada Sangha, semoga semua makhluk hidup,
统理大众一切无碍和南圣众
(Tǒng lǐ dàzhòng yīqiè wú ài hé nán shèng zhòng)
      bersama-sama dengan para makhluk suci, membimbing para umat menuju pintu Buddha. Semoga semua niat suci ini tidak ada halangan.

— Syair 三皈依

Vajrayāna

Artikel utama: Triratna dan Triakar

Dalam ajaran Buddhisme Tibet, ada tiga rumusan perlindungan, yaitu bentuk Luar, Dalam, dan Rahasia dari Triratna. Bentuk Luar adalah Triratna, bentuk Dalam adalah Triakar, dan bentuk Rahasia adalah Trikaya seorang Buddha.

Formula Perlindungan Vajrayāna
Luar (Triratna) Buddha Dharma Saṅgha
Dalam (Triakar) Lama (guru) Yidam (ishtadevata) Dharmapala atau Dakini
Rahasia
Bodhicitta
Ultimate Dharmakāya Saṃbhogakāya Nirmāṇakāya

Dilgo Khyentse, kepala aliran Nyingma dari Buddhisme Tibet sampai wafatnya di tahun 1991, menjelaskan hubungan dalam bahasa rahasia dan makna aspek Luar, Dalam, dan Rahasia dari Triratna:

Triratna Luar adalah Buddha, Dharma, dan Saṅgha. Ketiga permata tersebut memiliki aspek batin, yang dikenal sebagai Triakar: Lama (Guru atau Pengajar), yang merupakan akar dari berkat; Yidam, yang merupakan akar dari pencapaian; dan Dakini, yang merupakan akar dari aktivitas yang tercerahkan. Meskipun namanya berbeda, ketiganya sama sekali tidak berbeda dari Triratna. Lama (Guru) adalah Buddha [sic], Yidam adalah Dharma, dan para Dakini dan Pelindung adalah Saṅgha. Dan pada tingkat terdalam, dharmakāya adalah Buddha, saṃbhogakāya adalah Dharma, dan nirmāṇakāya adalah Saṅgha.[29]

Formulasi perlindungan alternatif ini digunakan oleh mereka yang melakukan yoga dewa dan praktik tantra lainnya dalam tradisi Wajrayana dalam Buddhisme Tibet.

Simbol Triratna

Simbol Triratna yang terdiri atas Trisula, Vajra, dan Dharmacakra; seperti yang terlihat di stupa Sanchi, abad ke-1 SM.

Simbol Triratna adalah simbol Buddhis yang dianggap mewakili Tiga Permata (Buddha, Dhamma, Sangha) secara visual. Simbol Triratna terdiri atas:

  • Trisula dengan tiga cabang yang melambangkan Triratna: Buddha, Dhamma, dan Sangha
  • Batang berlian atau wajra
  • Bunga teratai dalam sebuah lingkaran
  • Dharmacakra

Pada representasi jejak kaki Sang Buddha, simbol Triratna biasanya juga diapit oleh roda Dhamma.

Simbol Triratna dapat ditemukan pada pahatan dekorasi di Sanchi sebagai:

  • simbol penobatan bendera panji (abad ke-2 SM),
  • simbol Sang Buddha yang dipasang di ilustrasi singgasana Buddha (abad ke-2 SM),
  • simbol hiasan penobatan pada gerbang-gerbang di stupa di Sanchi (abad ke-2 M), atau,
  • pada jejak kaki Buddha (mulai dari abad ke-1 M).

Simbol Triratna dapat diperkuat lebih lanjut dengan diatapi tiga roda dharma (satu untuk masing-masing tiga permata agama Buddha: Buddha, Dhamma, dan Sangha).

Simbol Triratna juga disebut nandipada, atau "kuku banteng", oleh umat Hindu.

Koin

Simbol Triratna muncul pada koin-koin bersejarah pada masa kerajaan-kerajaan Buddha di anak benua India. Misalnya, simbol Triratna muncul pada koin-koin abad pertama SM dari Kerajaan Kuninda di Punjab bagian utara. Simbol ini juga muncul di atas penggambaran stupa pada beberapa koin Abdagases I dari Kerajaan Indo sekitar abad pertama Masehi, dan pada koin-koin Kekaisaran Kushan seperti yang dibuat oleh Vima Kadphises dari abad pertama.

Galeri

  • Simbol Triratna pada koin Taxila, 185–168 SM (rinci)
    Simbol Triratna pada koin Taxila, 185–168 SM (rinci)
  • Simbol gabungan: Shrivatsa dalam simbol Triratna, di atas roda Dharmacakra, di gerbang Torana di Sanchi. Abad ke-1 SM.
    Simbol gabungan: Shrivatsa dalam simbol Triratna, di atas roda Dharmacakra, di gerbang Torana di Sanchi. Abad ke-1 SM.
  • Simbol Triratna atau "Tiga Permata", pada jejak kaki Sang Buddha (simbol yang bawah, simbol yang atas adalah Dharmachakra). Abad ke-1 Masehi, Gandhara.
    Simbol Triratna atau "Tiga Permata", pada jejak kaki Sang Buddha (simbol yang bawah, simbol yang atas adalah Dharmachakra). Abad ke-1 Masehi, Gandhara.
  • Simbol Triratna di sisi belakang (sisi kiri) koin raja Kerajaan India-Skithia bernama Azes II (memerintah sekitar 35–12 SM).
    Simbol Triratna di sisi belakang (sisi kiri) koin raja Kerajaan India-Skithia bernama Azes II (memerintah sekitar 35–12 SM).
  • Koin Kunindas abad ke-2 SM yang memuat simbol Triratna di bagian atas stupa.
    Koin Kunindas abad ke-2 SM yang memuat simbol Triratna di bagian atas stupa.
  • Simbol Triratna dari daerah Amaravati.
    Simbol Triratna dari daerah Amaravati.
  • Simbol Triratna versi lainnya.
    Simbol Triratna versi lainnya.

Referensi

Sitasi

  1. ↑ Ray (2004). In the Presence of Masters: Wisdom from 30 Contemporary Tibetan Buddhist Teachers. Boston: Shambhala Publications. hlm. 60. ISBN 1-57062-849-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Irons, Edward A. (2008). Encyclopedia of Buddhism, Encyclopedia of World Religions. New York:: Facts on File. hlm. 403. ISBN 978-0-8160-5459-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  3. ↑ Robinson, Richard H.; Johnson, Willard L. (1997). The Buddhist religion: a historical introduction (4th ed.). Belmont, CA: Cengage. hlm. 43. ISBN 978-0-534-20718-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Kariyawasam, A. G. S. (1995). Buddhist Ceremonies and Rituals of Sri Lanka, The Wheel Series. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2007-10-23. Diakses tanggal 28-03-2013.
  5. ↑ Sakya, Madhusudan (2011). Buddhism Today: Issues & Global Dimensions, Current Perspectives in Buddhism. Vol. 3. Cyber Tech Publications. ISBN 9788178847337. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Ms. McKenzie Perkins (2024), "Jainism Beliefs: The Three Jewels", JAIN AVENUE Magazine
  7. ↑ McKenzie Perkins (25 Juni 2019), Jainism Beliefs: The Three Jewels, Learn Religion, diakses tanggal 16 September 2024
  8. ↑ Harvey 2013, hlm. 245.
  9. &#91;<i>[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|<span_title="Kutipan_ini_membutuhkan_referensi_ke_halaman/_jangkauan_halaman_spesifik_dimana_materinya_muncul&#32;(December_2022)">halaman&nbsp;dibutuhkan</span>]]</i>&#93;</sup>_9-0' rel="mw:referencedBy" id="mwAtU">↑ Kariyawasam 1995, hlm. [halaman dibutuhkan].
  10. ↑ Robinson & Johnson 1997, hlm. 43.
  11. ↑ Buswell & Lopez 2013, Paramatthasaṅgha.
  12. ↑ Harvey 2013, hlm. 246.
  13. ↑ Werner 2013, hlm. 39.
  14. ↑ Wijayaratna 1990, hlm. 130–1.
  15. ↑ Buswell & Lopez 2013, Kuladūșaka.
  16. ↑ Anon 2020.
  17. 1 2 3 4 5 "Paritta Suci" (PDF). Yayasan Dhammadīpa Ārāma. hlm. 20–21. Diakses tanggal 20 Mei 2022.
  18. ↑ Shults 2014, hlm. 119.
  19. ↑ Sangha Theravada Indonesia. "Paritta Suci" (PDF). Yayasan Dhammadīpa Ārāma. hlm. 45–47. Diakses tanggal 2 Desember 2019.
  20. ↑ Getz 2004, hlm. 673.
  21. ↑ Walters 2004.
  22. ↑ Harvey 2000, hlm. 80.
  23. ↑ Sperry 2021.
  24. ↑ De Silva 2016, hlm. 63.
  25. ↑ Hookham 1991, hlm. 186-190.
  26. ↑ Longchen Rabjam & Barron 2007, hlm. 66.
  27. ↑ "Paritta | San Gui Yi 三 皈 依 (Mandarin)". www.sariputta.com. Diakses tanggal 2024-09-03.
  28. ↑ "Paritta | San Gui Yi 三 皈 依 (Indonesia)". www.sariputta.com. Diakses tanggal 2024-09-03.
  29. ↑ Ray (2004), hlm. 60.

Daftar pustaka

  • Anon (2020), "The Three Treasures", The Pluralism Project, Harvard University, diakses tanggal 2022-12-08.
  • Buswell, Robert E. Jr.; Lopez, Donald S. Jr. (2013), Princeton Dictionary of Buddhism, Princeton, NJ: Princeton University Press, ISBN 978-0-691-15786-3.
  • De Silva, Padmasiri (2016), Environmental Philosophy and Ethics in Buddhism, Springer Nature, ISBN 978-1-349-26772-9.
  • Getz, Daniel A. (2004), "Precepts", dalam Buswell, Robert E. (ed.), Encyclopedia of Buddhism, Macmillan Reference USA, Thomson Gale, ISBN 978-0-02-865720-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 December 2017.
  • Harvey, Peter (2000), An Introduction to Buddhist Ethics: Foundations, Values and Issues, Cambridge University Press, ISBN 978-0-511-07584-1.
  • Harvey, Peter (2013), An Introduction to Buddhism: Teachings, History and Practices (Edisi 2nd), New York: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-85942-4.
  • Hookham, S. K. (1991), The Buddha within : Tathagatagarbha doctrine according to the Shentong interpretation of the Ratnagotravibhaga, Albany, NY: State University of New York Press, hlm. 186–190, ISBN 978-0791403587.
  • Irons, Edward A. (2008), Encyclopedia of Buddhism, Encyclopedia of World Religions, New York: Facts on File, ISBN 978-0-8160-5459-6.
  • Kariyawasam, A. G. S. (1995), Buddhist Ceremonies and Rituals of Sri Lanka, The Wheel Series, Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 March 2013, diakses tanggal 23 October 2007 – via Accesstoinsight.org.
  • Longchen Rabjam; Barron, Richard (2007), A Treatise Elucidating the Meaning of the Entire Range of Buddhist Teachings, The Precious Treasury of Philosophical Systems (Drupta Dzöd), Padma Publishing, ISBN 978-1881847441.
  • Ray, Reginald A., ed. (2004), In the Presence of Masters: Wisdom from 30 Contemporary Tibetan Buddhist Teachers, Boston: Shambhala Publications, ISBN 1-57062-849-1.
  • Robinson, Richard H.; Johnson, Willard L. (1997), The Buddhist religion: a historical introduction (Edisi 4th), Belmont, CA: Cengage, ISBN 978-0-534-20718-2.
  • Sakya, Madhusudan (2011), Buddhism Today: Issues & Global Dimensions, Current Perspectives in Buddhism, vol. 3, Cyber Tech Publications, ISBN 9788178847337.
  • Shults, Brett (May 2014), "On the Buddha's Use of Some Brahmanical Motifs in Pali Texts", Journal of the Oxford Centre for Buddhist Studies, 6: 106–140.
  • Sperry, Rod Meade (June 11, 2021), "What Are the Five Precepts?", Lion's Roar, diakses tanggal 2022-12-08
  • Thera, Soma, tr. (2013), Kalama Sutta: The Buddha's Charter of Free Inquiry, Buddhist Publication Society, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 February 2013 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link).
  • Walters, Jonathan S. (2004), "Festivals and Calendrical Rituals", Encyclopedia of Buddhism, The Gale Group, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 December 2017 – via Encyclopedia.com.
  • Werner, Karel (2013), "Love and Devotion in Buddhism", dalam Werner, Karel (ed.), Love Divine Studies in Bhakti and Devotional Mysticism, Hoboken, NJ: Taylor and Francis, ISBN 978-1-136-77461-4.
  • Wijayaratna, Mohan (1990), Buddhist monastic life: according to the texts of the Theravāda tradition, diterjemahkan oleh Claude Grangier; Steven Collins, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-36428-7.

Bacaan lanjutan

  • Chodron, Ven. Thubten (June 18, 2012), "Long refuge and precepts ceremony", ThubtenChodron.org, diakses tanggal 2022-12-03.
  • Kohn, Livia (1994), "The Five Precepts of the Venerable Lord", Monumenta Serica, 42 (1): 171–215, doi:10.1080/02549948.1994.11731253.
  • Terwiel, Barend Jan (2012), Monks and Magic: Revisiting a Classic Study of Religious Ceremonies in Thailand, Nordic Institute of Asian Studies, ISBN 978-87-7694-101-7.
  • Thanissaro Bhikkhu (2012), Refuge: An Introduction to the Buddha, Dhamma & Sangha.
  • l
  • b
  • s
   Topik Buddhisme   
  • Outline Garis besar
  • Daftar istilah
  • Indeks
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Konsensus pemersatu
Aliran arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílèdàdào
  • Dhammakāya
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Sastra Pali
  • Paritta
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
Kitab daring
  • SuttaCentral
  • Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka
  • dhammatalks.org
  • 84000
  • NTI Reader - Taishō
  • Buddha
  • Bodhisatwa
Buddha saat ini dan keluarga
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
4 tempat suci utama
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
Buddha penting sebelumnya
  • Dīpaṅkara
  • Vipassī
  • Sikhī
  • Vessabhū
  • Kakusandha
  • Koṇāgamana
  • Kassapa
Buddha selanjutnya
  • Metteyya
Bawahan
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
  • Empat Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia Berunsur Delapan
  • Trilaksana
    • Ketidakkekalan
    • Penderitaan
    • Tanpa atma
  • Pandangan
  • Titthiya
  • Ketuhanan
  • Niyāma
  • Keyakinan
  • Triratna
  • Pancasila
  • Māra
  • Karma
  • Nirwana
  • Kemunculan Bersebab
  • Gugusan
    • Materi
    • Kesadaran
    • Persepsi
    • Perasaan
    • Saṅkhāra
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Loka
  • Punarbawa
  • Samsara
  • Bodhi
  • Abhiññā
  • Cetasika
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Moha
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Perhatian penuh
  • Bodhipakkhiyā
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Malu
  • Takut
  • Dana
  • Sila
  • Meditasi
    • Samatha-vipassanā
    • Ānāpānasati
    • Satipaṭṭhāna
    • Kammaṭṭhāna
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Energi
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Brahmavihāra
    • Cinta kasih
    • Karuna
    • Simpati
    • Ketenangan
    • Keseimbangan batin
  • Astasila
  • Bakti
    • Puja
    • Namaskara
    • Pradaksina
    • Pindapata
    • Pelimpahan jasa
    • Ziarah
  • Sādhu
  • Sangha
  • Majelis
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • 10 murid utama Buddha Gotama
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Waisak
  • Asalha
  • Magha
  • Kathina
  • Hari Abhidhamma
  • Uposatha
  • Budaya
  • Masyarakat
  • Aborsi
  • Agama-agama Timur
  • Anikonisme
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Baháʼí
  • Bendera Buddhis
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Darmacakra
  • Dunia Romawi
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Hinduisme
  • Humanisme
  • Ilmu pengetahuan
  • Jainisme
  • Kalender
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Masturbasi
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Orientasi seksual
  • Penindasan
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Seni rupa
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarisme
  • Yahudi
  • Category Kategori
  •  Portal Agama
  •  Portal Buddhisme
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Terminologi
  2. Penjelasan
  3. Theravāda
  4. Mahāyāna
  5. Vajrayāna
  6. Simbol Triratna
  7. Koin
  8. Galeri
  9. Referensi
  10. Sitasi
  11. Daftar pustaka
  12. Bacaan lanjutan

Artikel Terkait

Buddhisme

Agama dan tradisi filosofis dari anak benua India

Keyakinan dalam Buddhisme

Konsep iman dan komitmen religius dalam Buddhisme

Kelenteng Sam Poo Kong

bangunan kuil di Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026