Empat usaha benar adalah bagian tak terpisahkan dari jalan Buddhis menuju pencerahan. Berlandaskan pada pemahaman mendalam mengenai muncul dan belum munculnya berbagai kualitas batin seiring waktu, serta kemampuan untuk mengelola kualitas-kualitas sementara tersebut dengan penuh perhatian, empat usaha benar mendorong pelepasan kualitas batin yang buruk sekaligus pengembangan kualitas batin yang baik.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| 37 sayap pencerahan (bodhipakkhiyā-dhammā) |
|---|
Empat usaha benar (juga dikenal sebagai empat upaya benar, empat daya upaya benar, empat pengerahan benar, atau empat perjuangan benar) (Pali: sammappadhāna; Skt.: samyak-pradhāna atau samyakprahāṇa) adalah bagian tak terpisahkan dari jalan Buddhis menuju pencerahan. Berlandaskan pada pemahaman mendalam mengenai muncul dan belum munculnya berbagai kualitas batin seiring waktu, serta kemampuan untuk mengelola kualitas-kualitas sementara tersebut dengan penuh perhatian, empat usaha benar mendorong pelepasan kualitas batin yang buruk sekaligus pengembangan kualitas batin yang baik.
Empat usaha benar (sammappadhāna) dikaitkan dengan faktor "usaha benar" (sammā-vāyāma) dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan indra-kegigihan (viriy'indriya) dari lima indra spiritual (pañc'indriyāni). Empat usaha benar juga merupakan satu dari tujuh set bodhipakkhiyādhammā, hal-hal yang kondusif untuk pencerahan (bodhi).
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Empat usaha benar (cattārimāni sammappadhānāni) dapat ditemukan dalam Vinayapiṭaka, Suttapiṭaka, Abhidhammapiṭaka, dan kitab komentar Pali.[1] Selain itu, sebuah konsep yang terdengar mirip tetapi berbeda, yaitu "empat usaha" (cattārimāni padhānāni), juga disebutkan dalam literatur terkait. Kedua konsep ini dijabarkan di bawah ini.
| Empat usaha benar | ||||
|---|---|---|---|---|
| belum muncul | sudah muncul | |||
| keadaan batin yang tidak bajik |
cegah | tinggalkan | ||
| keadaan batin yang bajik |
bangkitkan | pertahankan | ||
Empat usaha benar (cattārimāni sammappadhānāni) didefinisikan dengan frasa tradisional berikut:
Penjabaran ini dikaitkan dengan Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut:
Rumusan ini juga merupakan bagian dari pemaparan panjang lebar oleh Y.M. Sāriputta ketika menjawab pertanyaan "Apakah Dhamma ini yang telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā [Buddha]?" (DN 33, Sangīti Sutta).[6] Selain itu, dalam sebuah bagian di Aṅguttaranikāya yang dikenal sebagai "Bagian Petikan Jari" (AN 1.51–60, Accharāsaṇghātavagga), Sang Buddha tercatat menyatakan bahwa, jika seorang biku melaksanakan salah satu dari empat usaha benar ini walau hanya sekejap (selama "petikan jari")[7] maka "ia berdiam dalam jhāna, telah melaksanakan tugasnya kepada Sang Guru, dan memakan dana makanan dari negara tanpa hutang budi."[8]
Penjabaran dua bagian yang serupa juga diberikan oleh Sang Buddha dalam SN 48.9, sekali lagi dalam konteks Lima Indra Spiritual (pañc'indriyāni), ketika Beliau menyatakan:
Apa yang merupakan kualitas yang "tidak terampil" atau "tidak bajik" (akusala) dan yang "terampil" atau "bajik" (kusala) dibahas lebih lanjut di dalam Abhidhammapiṭaka dan kitab-kitab komentar pasca-kanonik Pali (aṭṭhakathā).[10] Secara umum, keadaan-keadaan yang tidak bajik adalah tiga kekotoran batin (kilesa): keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan ketidaktahuan/delusi (moha).[11] Kualitas-kualitas bajik adalah kebalikan dari kekotoran batin tersebut: tanpa-keserakahan (alobha), tanpa-kebencian (adosa), dan tanpa-delusi (amoha).[12][13]
Di seluruh Tripitaka Pali, dibuat sebuah perbedaan antara "usaha-usaha" (padhāna) yang berjumlah empat dan empat "usaha benar" (sammappadhāna). Meskipun namanya mirip, berbagai khotbah kanonik secara konsisten mendefinisikan istilah-istilah yang berbeda ini dengan cara yang berbeda, bahkan dalam khotbah yang sama atau saling berdekatan.[14]
Empat usaha (cattārimāni padhānāni) diringkas sebagai: