Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Rintangan (Buddhisme)

Dalam Buddhisme, rintangan batin atau perintang batin, juga dikenal sebagai lima rintangan batin, diidentifikasi sebagai faktor-faktor mental yang menghambat kemajuan dalam meditasi dan kehidupan sehari-hari. Daftar klasik dari lima rintangan adalah:Nafsu indrawi : keinginan untuk menikmati kesenangan indrawi Rasa benci/niat jahat : pikiran yang sifatnya membenci atau tidak menyukai sesuatu, disertai keinginan untuk menghancurkannya Kemalasan dan kantuk/kelambanan : kemalasan batiniah (thīna) yang munculnya murni di batin dan kantuk/kelambanan jasmaniah (middha) yang bergantung pada jasmani Kebingungan/kegelisahan dan penyesalan/kekhawatiran : batin terus mengembara karena gelisah, dan menyesal atas perbuatan buruk yang telah dilakukan atau kebajikan yang belum dilakukan di masa lampau Keraguan : merasa ragu-ragu terkait manfaat dari praktik-praktik yang sedang dipraktikkan

Konsep tentang rintangan batin berupa niat jahat, kemalasan, kantuk, kebingungan, dan penyesalan dalam Buddhisme
Diperbarui 23 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Lihat pula: Kekuatan (Buddhisme)
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
  • Istilah
  • Indeks
  • Garis besar
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Mazhab
  • Konsensus pemersatu
Arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílè Dàdào
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Paritta
  • Sastra Pali
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Sutra Mahāyāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
  • Buddha
  • Bodhisatwa
  • Buddha masa ini:
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
  • 4 tempat suci utama:
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
  • Buddha masa lampau:
  • Kassapa
  • Koṇāgamana
  • Kakusandha
  • Vessabhū
  • Sikhī
  • Vipassī
  • dll.
  • Dīpaṅkara
  • Buddha masa depan:
  • Metteyya
  • Bawahan:
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna–Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
    • Kwan Im
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
Keyakinan
  • Ketuhanan
  • Hukum Alam
  • Pandangan
  • Kesesatan
  • Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia
  • Perlindungan
  • Pancasila
  • Karma
    • Kehendak
    • Akibat
  • Punarbawa
  • Alam Kehidupan
  • Samsara
  • Māra
  • Pencerahan
  • Nirwana
  • Acinteyya
Tiga corak
  • Ketidakkekalan
  • Penderitaan
  • Tanpa atma
Gugusan
  • Rupa
  • Kesadaran
  • Persepsi
  • Perasaan
  • Saṅkhāra
  • Nāmarūpa
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Kontak indra
  • Kemunculan Bersebab
Faktor mental
  • Malu
  • Takut
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Delusi
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Kewawasan
  • Bodhipakkhiyā
  • dll.
Meditasi
  • Samatha-vipassanā
    • Jhāna
    • Satipaṭṭhāna
    • Sampajañña
    • Kammaṭṭhāna
      • Anussati
        • Maraṇasati
        • Ānāpānasati
      • Paṭikūlamanasikāra
    • Brahmawihara
      • Cinta kasih
      • Belas kasih
      • Simpati
      • Ketenangan / Keseimbangan batin
  • Abhiññā
    • Iddhi
Bakti
  • Puja
  • Pelimpahan jasa
  • Namaskara
  • Pradaksina
  • Pindapata
  • Ziarah
Praktik lainnya
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Dana
  • Sila
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Usaha
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Astasila
  • Fangseng
  • Sādhu
  • Sangha
  • Parisā
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Pandita
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
  • Kepala wihara
  • Saṅgharāja
Murid penting
  • Biksu:
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • Mahākassapa
  • Ānanda
  • 10 murid utama
  • Biksuni:
  • Pajāpatī Gotamī
  • Khemā
  • Uppalavaṇṇā
  • Kisā Gotamī
  • Upasaka:
  • Tapussa dan Bhallika
  • Anāthapiṇḍika
  • Citta
  • Hatthaka
  • Upasika:
  • Sujātā
  • Khujjuttarā
  • Veḷukaṇḍakiyā
  • Visākhā
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Dhammasālā
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Kelenteng
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Magha
  • Waisak
  • Asalha
  • Kathina
  • Uposatha
  • Hari Lahir Buddha
  • Hari Bodhi
  • Hari Abhidhamma
  • Ulambana
  • Hari Parinirwana
  • Budaya
  • Masyarakat
Produk
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Bendera
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Darmacakra
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Humanisme
  • Kalender
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Sarira
    • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seni rupa
Hubungan dengan …
  • Agama timur
  • Baháʼí
  • Dunia Romawi
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Hinduisme
  • Jainisme
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Penindasan
  • Yahudi
Pandangan tentang …
  • Aborsi
  • Anikonisme
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Ilmu pengetahuan
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Masturbasi
  • Orientasi seksual
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarianisme
  •  Portal Buddhisme
  • l
  • b
  • s

Dalam Buddhisme, rintangan batin atau perintang batin (Pali, Sanskerta: nīvaraṇa), juga dikenal sebagai lima rintangan batin (Pali, Sanskerta: pañca nīvaraṇāni), diidentifikasi sebagai faktor-faktor mental yang menghambat kemajuan dalam meditasi dan kehidupan sehari-hari.[1] Daftar klasik dari lima rintangan adalah:[2][3][4][5]

  1. Nafsu indrawi (Pali, Sanskerta: kāmacchanda): keinginan untuk menikmati kesenangan indrawi
  2. Rasa benci/niat jahat (Pali, Sanskerta: byāpāda/vyāpāda): pikiran yang sifatnya membenci atau tidak menyukai sesuatu (seseorang atau situasi tertentu), disertai keinginan untuk menghancurkannya
  3. Kemalasan dan kantuk/kelambanan (Pali: thīna-middha; Sanskerta: styāna-middha): kemalasan batiniah (thīna) yang munculnya murni di batin dan kantuk/kelambanan jasmaniah (middha) yang bergantung pada jasmani
  4. Kebingungan/kegelisahan dan penyesalan/kekhawatiran (Pali: uddhacca-kukkucca; Sanskerta: auddhatya-kaukṛtya): batin terus mengembara karena gelisah, dan menyesal atas perbuatan buruk yang telah dilakukan atau kebajikan yang belum dilakukan di masa lampau
  5. Keraguan (Pali: vicikicchā; Sanskerta: vicikitsā): merasa ragu-ragu terkait manfaat dari praktik-praktik (meditasi atau kebajikan lainnya) yang sedang dipraktikkan

Dalam tradisi Theravāda, faktor-faktor ini secara spesifik diidentifikasi sebagai rintangan terhadap pencapaian jhāna (tahapan konsentrasi) dalam praktik meditasi. Guru-guru dalam Gerakan Vipassanā kontemporer mengidentifikasi lima rintangan ini sebagai hambatan terhadap meditasi perhatian-penuh (satipaṭṭhāna). Tradisi tafsir (sebagaimana dalam Visuddhimagga dan Abhidhamma Theravāda) menjelaskan bahwa lima rintangan batin dapat diatasi dengan lima kekuatan (pañcabala).

Dalam tradisi Mahāyāna, lima rintangan dijelaskan sebagai hambatan terhadap samādhi. Mereka adalah bagian dari dua jenis halangan (Sanskerta: āvaraṇa), yaitu rintangan menuju Kebuddhaan. Dua jenis halangan tersebut adalah halangan kekotoran batin (Sanskerta: kleśāvaraṇa, yang mencakup lima rintangan standar) dan halangan kognitif (jñeyāvaraṇa, yang hanya dapat dihilangkan oleh para Bodhisatwa).[6]

Etimologi

Menurut Gil Fronsdal, istilah bahasa Pali nīvaraṇa berarti penutup. Fronsdal menyatakan bahwa rintangan-rintangan ini menutupi: kejernihan pikiran kita, serta kemampuan kita untuk berpenyadaran (eling), bijaksana, berkonsentrasi, dan tetap pada tujuan.[1]

Menurut Rhys Davids, istilah bahasa Pali nīvaraṇa (Sanskerta: nivāraṇa) merujuk pada rintangan atau hambatan hanya dalam pengertian etis, dan biasanya disebutkan dalam satu kelompok berjumlah lima.[7]

Theravāda

Dalam Tripitaka Pali

Dalam Saṁyuttanikāya pada Tripitaka Pali, beberapa khotbah menyandingkan lima rintangan dengan tujuh faktor pencerahan (bojjhaṅga).[a] Sebagai contoh, menurut SN 46.37, Buddha menyatakan:


“ ”
“Para bhikkhu, ada lima halangan, rintangan, kerusakan batin, yang melemahkan kebijaksanaan. Apakah lima ini? Keinginan indria adalah suatu halangan, rintangan, kerusakan batin, yang melemahkan kebijaksanaan. Permusuhan adalah suatu halangan … Kelambanan dan ketumpulan adalah suatu halangan … Kegelisahan dan penyesalan adalah suatu halangan … Keragu-raguan adalah suatu halangan … yang melemahkan kebijaksanaan. Ini adalah lima halangan, rintangan, kerusakan batin, yang melemahkan kebijaksanaan.”

“Ada, para bhikkhu, tujuh faktor pencerahan ini, yang bukan halangan, bukan rintangan, bukan kerusakan batin; jika dikembangkan dan dilatih maka akan mengarah menuju pencapaian buah pengetahuan sejati dan kebebasan. Apakah tujuh ini? Faktor pencerahan perhatian adalah bukan halangan … faktor pencerahan keseimbangan adalah bukan halangan. Ini adalah tujuh faktor pencerahan yang bukan halangan, bukan rintangan, bukan kerusakan batin; jika dikembangkan dan dilatih maka akan mengarah menuju pencapaian buah pengetahuan sejati dan kebebasan.”[8][b]
— Āvaraṇanīvaraṇa Sutta, SN 46.37
terj. Indra Anggara

Anālayo menggarisbawahi:

Untuk mengatasi rintangan-rintangan, untuk mempraktikkan satipaṭṭhāna, dan untuk membangun faktor-faktor pencerahan, sesungguhnya, menurut beberapa khotbah Pali, adalah aspek-aspek utama dan ciri-ciri pembeda yang umum bagi pencerahan semua Buddha, di masa lalu, masa kini, dan masa depan.[9]

Anālayo lebih lanjut mendukung hal ini dengan mengidentifikasi bahwa, di semua teks non-Theravāda yang paralel dengan Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10), hanya lima rintangan dan tujuh faktor pencerahan yang secara konsisten diidentifikasi sebagai bagian dari perenungan dhamma; perenungan tentang lima gugusan (khandha), enam landasan indra, dan Empat Kebenaran Mulia tidak disertakan dalam satu atau lebih teks versi non-Theravāda.[9]

Terkait pencapaian pandangan terang (vipassanā) ke dalam dan cara mengatasi lima rintangan, menurut Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10), Sang Buddha menyatakan:


“ ”
“Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran?

Di sini seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima rintangan. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima rintangan? Di sini, jika muncul keinginan indria [keinginan indrawi] dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Terdapat keinginan indria dalam diriku’; atau jika tidak ada keinginan indria dalam dirinya, ia memahami: ‘Tidak ada keinginan indria dalam diriku’; dan ia juga memahami bagaimana kemunculan keinginan indria yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan keinginan indria yang telah muncul, dan bagaimana agar keinginan indria yang telah ditinggalkan itu tidak muncul di masa depan.[10]
— Satipaṭṭhāna Sutta, MN 10
terj. Indra Anggara

Masing-masing dari empat rintangan yang tersisa diperlakukan dengan cara yang sama pada paragraf-paragraf berikutnya.

Buddha memberikan analogi berikut dalam Sāmaññaphala Sutta (DN 2, "Buah dari Kehidupan Tanpa Rumah"):


“ ”
Selama, Baginda, seorang bhikkhu tidak merasakan lenyapnya lima rintangan dalam dirinya, ia merasa seolah-olah berhutang, sakit, terbelenggu, menjadi budak, melakukan perjalanan melalui gurun pasir. Tetapi ketika ia merasakan lenyapnya lima rintangan dalam dirinya, seolah-olah ia bebas dari hutang, dari penyakit, dari belenggu, dari pembudakan, dari bahaya gurun pasir.[11]
— Sāmaññaphala Sutta, DN 2
terj. Indra Anggara

Demikian pula, dalam Saṅgārava Sutta (SN 46.55), Buddha membandingkan nafsu indrawi dengan mencari pantulan yang jernih di dalam air yang dicampur dengan lak, kunyit, dan pewarna; niat buruk dengan air mendidih; kemalasan dan kelambanan dengan air yang tertutup tanaman dan ganggang; kegelisahan dan kekhawatiran dengan air yang bergolak karena angin; dan, keragu-raguan dengan air yang "keruh, tidak tenang, berlumpur, ditempatkan di tempat gelap."[12][13]

Dalam kitab pascakanonikal

Kitab komentar

Menurut kitab Sāratthappakāsinī, kitab komentar (aṭṭhakathā) Buddhaghosa untuk Saṁyuttanikāya, seseorang dapat melarikan diri sementara dari rintangan-rintangan tersebut melalui penekanan tingkat jhāna atau melalui pandangan terang (vipassanā) sementara, sebagaimana juga dinyatakan dalam kitab Vimuttimagga, seseorang memusnahkan rintangan-rintangan tersebut melalui pencapaian salah satu dari empat tingkat pencerahan (lihat Tabel 1).[c]

metode
penekanan
jalan
pemusnahan
nafsu
indrawi
(kāmacchanda)
jhāna pertama
berdasarkan pada
ketidakmenarikan tubuh
pencapaian
anagami atau
arahat[d]
niat buruk
(vyāpāda)
jhāna pertama
berdasarkan pada
cinta-kasih (mettā)
pencapaian
anagami
kemalasan dan
kelambanan
(thīna-middha)
persepsi cahaya
(āloka-saññā)
pencapaian
arahat
kegelisahan
dan kekhawatiran
(uddhacca-kukkucca)
ketenangan (samatha) pencapaian
arahat dan
anagami
keragu-raguan
(vicikicchā)
pendefinisian fenomena
(dhammavavatthāna)
pencapaian
sotapana
Tabel 1. Metode dan jalan dalam kitab komentar Pali
untuk membebaskan diri dari rintangan.

Lima faktor mental yang menangkal lima rintangan, menurut tradisi Theravāda:[4]

  1. vitakka ("penempelan awal", "penempatan awal", "pikiran awal", "pemeriksaan kasar") menangkal thīna-middha (kemalasan-kelambanan, kemalasan-kantuk)
  2. vicāra ("penempelan terus-menerus", "penempatan sinambung pikiran", "pikiran yang dipertahankan", "penyelidikan tepat") menangkal vicikicchā (keraguan)
  3. pīti (kegiuran, kegembiraan) menangkal vyāpāda (niat buruk, kedengkian)
  4. sukha (kebahagiaan non-indrawi) menangkal uddhacca-kukkucca (kegelisahan-kekhawatiran, kebingungan-penyesalan)
  5. ekaggatā (kemanunggalan, keterpusatan) menangkal kāmacchanda (keinginan indrawi, nafsu indrawi)

Kitab Vimuttimagga

Menurut kitab Vimuttimagga, sebuah kitab risalah yang disusun pada abad ke-1 Masehi, kelima rintangan mencakup kesepuluh belenggu (saṁyojana): nafsu indrawi (kāmacchanda) mencakup keterikatan apa pun pada hawa nafsu; niat buruk (vyāpāda) mencakup semua kondisi kebencian yang tidak bajik; dan kemalasan-kelambanan (thīna-middha), kegelisahan-kekhawatiran (uddhacca-kukkucca), dan keragu-raguan (vicikicchā) mencakup semua kondisi kebodohan batin yang tidak bajik. Kitab Vimuttimagga lebih lanjut membedakan bahwa "kemalasan" (thīna) merujuk pada kondisi mental sementara "kelambanan" (middha) merujuk pada kondisi fisik yang diakibatkan oleh makanan, waktu, atau kondisi mental; jika kelambanan diakibatkan oleh makanan atau waktu, maka seseorang menguranginya melalui pengerahan usaha/energi (viriya); jika tidak, seseorang menghilangkannya dengan meditasi. Selain itu, kitab Vimuttimagga mengidentifikasi empat jenis keraguan:

  • keraguan mengenai hakikat tanpa jati diri (anattā) adalah rintangan terhadap ketenangan (samatha);
  • keraguan mengenai Empat Kebenaran Mulia dan tiga tingkatan alam (kāma-loka, rūpa-loka, dan arūpa-loka) adalah rintangan terhadap pandangan terang (vipassanā);
  • keraguan mengenai Triratna adalah rintangan terhadap ketenangan maupun pandangan terang;
  • keraguan mengenai tempat dan orang adalah rintangan terhadap hal-hal "non-doktrinal";
  • keraguan mengenai khotbah-khotbah (sutta) adalah rintangan terhadap kesunyian (viveka).[14]

Tradisi Abhidhamma

Lihat pula: Abhidhamma Theravāda

Menurut penjelasan Abhidhammatthasaṅgaha, rintangan batin berupa kemalasan dan kantuk/kelambanan (thīna-middha) merupakan faktor-mental yang munculnya selalu bersamaan karena memiliki ciri yang sama.[15] Tradisi Abhidhamma juga menjelaskan bahwa lima rintangan batin dapat ditangkal dengan pañcabala (lima kekuatan).[16]

Hubungan dengan konsep lain

Lihat pula: Belenggu (Buddhisme) dan Pengotor batin

Konsep tentang rintangan serupa dengan konsep buddhis yang ditemukan di seluruh Tripitaka Pali, seperti belenggu (saṁjoyana) dan sepuluh pengotor batin (kilesa). Sebagai perbandingan, dalam tradisi Theravāda, rintangan merujuk pada hambatan sementara saat praktik meditasi, sedangkan "belenggu" biasanya melintasi banyak kehidupan (masa lalu, saat ini, dan masa depan setelah kelahiran kembali) dan sulit dihilangkan. Pengotor batin (kilesa) mencakup seluruh pengotor batin, termasuk rintangan (nīvaraṇa) dan belenggu (saṁjoyana).[17][butuh sumber yang lebih baik]

Mahāyāna

Pemikiran Buddhis Mahāyāna berfokus pada konsep āvaraṇa (Sanskerta, “halangan” atau “rintangan”; Tibet: sgrib pa; Mandarin: zhang) yang merujuk pada hambatan-hambatan di jalan menuju Kebuddhaan. Buddhisme Mahāyāna mengakui dua jenis utama āvaraṇa:[6]

  • Halangan Kekotoran Batin (Kleśāvaraṇa): Ini muncul dari kekotoran batin seperti kemarahan, kecemburuan, dan ketidaktahuan, yang menghasilkan tindakan yang tidak bajik. Rintangan ini dapat diatasi oleh para Śrāvaka, Pratyekabuddha, dan Bodhisattva pemula melalui penawar (pratipakṣa) dan mengarah pada kebebasan dari kelahiran kembali.
  • Halangan Kognitif (Jñeyāvaraṇa): Ini bersumber dari pandangan keliru tentang realitas, seperti menganggap nyata fenomena khayalan, dan menghasilkan kesombongan, pandangan salah, serta diskriminasi. Hanya para Bodhisatwa tingkat lanjut yang dapat mengatasi rintangan ini, mencapai pemahaman sempurna tentang kekosongan (śūnyatā) dan welas asih (karuṇā) sambil mengumpulkan jasa kebajikan (puṇya).

Halangan kekotoran batin merintangi pembebasan, sedangkan halangan kognitif memblokir kemahatahuan. Hanya Buddha yang melampaui keduanya, mencapai pemahaman mendalam yang sempurna terhadap seluruh objek pengetahuan. Dalam sumber-sumber Yogācāra, halangan kognitif dikaitkan dengan persepsi dan konseptualisasi yang keliru. Hal ini diatasi melalui praktik-praktik lanjutan pada jalan Bodhisattva, termasuk penguasaan enam kesempurnaan (pāramitā).

Menurut Cheng Weishi Lun (Vijñaptimātratāsiddhi) karya Xuanzang, terdapat sepuluh āvaraṇa spesifik yang berkorelasi dengan tahapan-tahapan jalan Bodhisattva (daśabhūmi). Kesepuluhnya adalah:[6]

  1. Halangan delusi umum (prithagjanatvāvaraṇa): Diatasi melalui kedermawanan.
  2. Halangan perilaku delusif (mithyāpratipattyāvaraṇa): Diatasi dengan moralitas.
  3. Halangan kebodohan batin/kelambanan (dhandhatvāvaraṇa): Diselesaikan dengan kesabaran.
  4. Halangan kekotoran batin halus (sūkṣmakleśasamudācārāvaraṇa): Ditangkal oleh usaha.
  5. Halangan cita-cita nirvāṇa yang lebih rendah (hīnayānaparinirvāṇāvaraṇa): Diatasi melalui penyerapan meditatif.
  6. Halangan karakteristik kasar (sthūlanimittasamudācārāvaraṇa): Diatasi dengan kebijaksanaan.
  7. Halangan karakteristik halus (sūkṣmanimittasamudācārāvaraṇa): Diatasi dengan upaya kausalya (cara-cara terampil).
  8. Halangan aktivitas berkelanjutan di alam tak berwujud (nirnimittābhisaṃskārāvaraṇa): Diselesaikan melalui ikrar.
  9. Halangan keengganan untuk menyelamatkan makhluk lain (parahitacaryākāmanāvaraṇa): Ditangkal oleh kekuatan spiritual.
  10. Halangan penguasaan yang tidak sempurna atas semua fenomena (dharmasvāśitāpratilambhāvaraṇa): Diatasi dengan kemahatahuan.

Catatan

  1. ↑ Sebagai contoh, dalam Samyutta Nikaya bab 46, Bojjhaṅga-saṁyutta, khotbah 46.31 hingga 46.40 didasarkan pada penyandingan ini (Bodhi (2000), hlm. 1589-94).
  2. ↑ Bodhi (2000) menghilangkan lima faktor pencerahan di tengah karena ketujuh faktor pencerahan telah disebutkan beberapa kali sebelumnya dalam teks Bodhi.
  3. ↑ Mengenai kitab komentar Sāratthappakāsinī, lihat Bodhi (2005), hlm. 440, n. 14 Mengenai kitab risalah Vimuttimagga, lihat Upatissa (1995), hlm. 316
  4. ↑ Upatissa (1995), hlm. 316, mengidentifikasi bahwa nafsu indrawi "dihancurkan melalui Jalan Kembali-Tak-Berulang." Dalam konteks mengomentari sutta SN 46.55, Bodhi (2005), hlm. 440, n. 14, menyatakan bahwa nafsu indrawi "dimusnahkan oleh jalan kearahatan (karena kāmacchanda di sini ditafsirkan cukup luas untuk mencakup hasrat terhadap objek apa pun, bukan hanya nafsu indrawi)".

Referensi

  1. 1 2 Fronsdal 2008, The Five Hindrances: Introduction; 2008-10-13.
  2. ↑ Fronsdal (2008), Introduction.
  3. ↑ Traleg Kyabgon (2001), hlm. 26.
  4. 1 2 Wallace (2006), hlm. 158-159.
  5. ↑ Brahmavamso (1999).
  6. 1 2 3 Buswell & Lopez 2013, hlm. 83–84.
  7. ↑ Rhys Davids & Stede (1925), hlm. 376.
  8. ↑ Bodhi (2000), hlm. 1591-92.
  9. 1 2 Anālayo (2006), hlm. 239-40.
  10. ↑ Thera (1994).
  11. ↑ Thanissaro Bhikkhu (1997).
  12. ↑ Bodhi (2000), hlm. 1611-15.
  13. ↑ Walshe (1985), hlm. 73-75.
  14. ↑ Upatissa (1995), hlm. 91-92.
  15. ↑ Kheminda 2019.
  16. ↑ Buswell Jr. & Lopez Jr. 2014, hlm. 613.
  17. ↑ Gunaratana (2003), sebuah dhamma-talk berjudul "Dhamma [Satipaṭṭhāna] - Ten Fetters."

Daftar pustaka

  • Anālayo, Bhikkhu (2006). Satipatthāna: The Direct Path to Realization. Birmingham: Windhorse. ISBN 1-899579-54-0.
  • Bodhi, Bhikkhu, tr. (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A New Translation of the Samyutta Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Bodhi, Bhikkhu, ed. (2005). In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pāli Canon. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-491-1.
  • Brahmavamso, Ajahn (1999). "The Five Hindrances". Budsas.org. Buddhist Society of Western Australia. Diakses tanggal 2021-11-04.
  • Buswell, Robert E.; Lopez, Donald S. (24 November 2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press.
  • Buswell Jr., Robert E.; Lopez Jr., Donald S. (2014). Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-15786-3.
  • Fronsdal, Gil (2008). Online Course: Five Hindrances Series (audio). Audio Dharma. Diakses tanggal 2021-11-04.
  • Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94342-7-4.
  • Rhys Davids, T. W.; Stede, William, ed. (1925). The Pali Text Society's Pali–English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society. A general on-line search engine for the PED is available at .
  • Thanissaro Bhikkhu (1997). "Samaññaphala Sutta: The Fruits of the Contemplative Life". Access To Insight. Barre Center for Buddhist Studies. Diakses tanggal 2021-11-04.
  • Thera, Nyanasatta, tr. (1994). "Satipatthana Sutta: The Foundations of Mindfulness". Access To Insight. Barre Center for Buddhist Studies. Diakses tanggal 2021-11-04. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Traleg Kyabgon (2001). The Essence of Buddhism. Shambhala Publications.
  • Upatissa, Arahant (1995). The Path of Freedom (Vimuttimagga). Diterjemahkan oleh Ehara, N.R.M.; Thera, Soma; Thera, Kheminda. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. ISBN 955-24-0054-6.
  • Wallace, B. Alan (2006). The Attention Revolution. Wisdom Publications.
  • Walshe, Maurice O'C. (1985). Samyutta Nikaya: An Anthology (Part III). Barre Center for Buddhist Studies. Diakses tanggal 2021-11-04.
  • l
  • b
  • s
   Topik Buddhisme   
  • Outline Garis besar
  • Daftar istilah
  • Indeks
  • Sejarah
  • Penyebaran
  • Garis waktu
  • Sidang Buddhis
  • Jalur Sutra
  • Anak benua India
Buddhisme awal
  • Prasektarian
  • Aliran awal
    • Mahāsāṁghika
    • Sthaviravāda
  • Kitab awal
    • Nikāya
    • Āgama
Benua
  • Asia Tenggara
  • Asia Timur
  • Asia Tengah
  • Timur Tengah
  • Dunia Barat
  • Australia
  • Oseania
  • Amerika
  • Eropa
  • Afrika
Populasi signifikan
  • Tiongkok
  • Thailand
  • Jepang
  • Myanmar
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Kamboja
  • Korea
  • Taiwan
  • India
  • Malaysia
  • Laos
  • Indonesia
  • Amerika Serikat
  • Singapura
  • Aliran
  • Tradisi
  • Konsensus pemersatu
Aliran arus utama
  • Theravāda
  • Mahāyāna
  • Vajrayāna
Sinkretis
  • Buddhayana
  • Tridharma
  • Aliran Maitreya
    • Yīguàndào
    • Mílèdàdào
  • Dhammakāya
  • Siwa-Buddha
  • Tripitaka
  • Kitab
Theravāda
  • Tripitaka Pali
  • Komentar
  • Subkomentar
  • Sastra Pali
  • Paritta
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Tripitaka Tionghoa
    • Tripitaka Taishō
  • Tripitaka Tibet
    • Kangyur
    • Tengyur
  • Dhāraṇī
Kitab daring
  • SuttaCentral
  • Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka
  • dhammatalks.org
  • 84000
  • NTI Reader - Taishō
  • Buddha
  • Bodhisatwa
Buddha saat ini dan keluarga
  • Gotama
  • Mukjizat
  • Klan
  • Keluarga
    • Śuddhodana
    • Māyā
    • Pajāpatī Gotamī
    • Yasodharā
    • Rāhula
4 tempat suci utama
  • Lumbinī
  • Buddhagayā
  • Isipatana
  • Kusinārā
Buddha penting sebelumnya
  • Dīpaṅkara
  • Vipassī
  • Sikhī
  • Vessabhū
  • Kakusandha
  • Koṇāgamana
  • Kassapa
Buddha selanjutnya
  • Metteyya
Bawahan
  • Dewa
  • Brahma
Mahāyāna-Vajrayāna
  • Buddha terkenal:
  • Lima Buddha Kebijaksanaan
    • Amitābha
    • Vairocana
    • Akṣobhya
    • Ratnasaṁbhava
    • Amoghasiddhi
  • Padmasaṁbhava
  • Bhaiṣajyaguru
  • Bodhisatwa terkenal:
  • Daftar Bodhisatwa
  • Mañjuśrī
  • Kṣitigarbha
  • Avalokiteśvara
  • Samantabhadra
  • Vajrapāṇi
  • Dhamma
  • Ajaran
  • Empat Kebenaran Mulia
  • Jalan Mulia Berunsur Delapan
  • Trilaksana
    • Ketidakkekalan
    • Penderitaan
    • Tanpa atma
  • Pandangan
  • Titthiya
  • Ketuhanan
  • Niyāma
  • Keyakinan
  • Triratna
  • Pancasila
  • Māra
  • Karma
  • Nirwana
  • Kemunculan Bersebab
  • Gugusan
    • Materi
    • Kesadaran
    • Persepsi
    • Perasaan
    • Saṅkhāra
  • Unsur
  • Landasan indra
  • Loka
  • Punarbawa
  • Samsara
  • Bodhi
  • Abhiññā
  • Cetasika
  • Pengotor batin
  • Noda batin
  • Belenggu
  • Rintangan
  • Kekuatan
  • Hasrat
  • Nafsu (Keserakahan)
  • Kebencian
  • Moha
    • Ketidaktahuan
  • Kemelekatan
  • Perhatian penuh
  • Bodhipakkhiyā
  • Kebajikan
  • Paramita
  • Malu
  • Takut
  • Dana
  • Sila
  • Meditasi
    • Samatha-vipassanā
    • Ānāpānasati
    • Satipaṭṭhāna
    • Kammaṭṭhāna
  • Pelepasan
  • Kebijaksanaan
  • Energi
  • Kesabaran
  • Kebenaran
  • Tekad
  • Brahmavihāra
    • Cinta kasih
    • Karuna
    • Simpati
    • Ketenangan
    • Keseimbangan batin
  • Astasila
  • Bakti
    • Puja
    • Namaskara
    • Pradaksina
    • Pindapata
    • Pelimpahan jasa
    • Ziarah
  • Sādhu
  • Sangha
  • Majelis
  • Sāriputta
  • Moggallāna
  • 10 murid utama Buddha Gotama
  • Vinaya
  • Pabbajjā
  • Upasampadā
Jenis penganut
  • Sāvaka
  • Upasaka-upasika
  • Kappiya
  • Aṭṭhasīlanī
  • Sayalay
  • Samanera-samaneri
  • Biksu
  • Biksuni
  • Kalyāṇamitta
4 tingkat kemuliaan
  • Sotapana
  • Sakadagami
  • Anagami
  • Arahat
Tempat ibadah
  • Wihara
    • Wat
    • Kyaung
  • Sima
  • Kuti
  • Cetiya
    • Stupa
    • Pagoda
    • Candi
  • Hari raya
  • Peringatan
  • Waisak
  • Asalha
  • Magha
  • Kathina
  • Hari Abhidhamma
  • Uposatha
  • Budaya
  • Masyarakat
  • Aborsi
  • Agama-agama Timur
  • Anikonisme
  • Arsitektur
  • Atomisme
  • Baháʼí
  • Bendera Buddhis
  • Buddhisme Terjun Aktif
  • Bunuh diri
  • Demokrasi
  • Darmacakra
  • Dunia Romawi
  • Ekonomi
  • Filsafat
  • Filsafat Barat
  • Gnostisisme
  • Helenistik
  • Hidangan
  • Hinduisme
  • Humanisme
  • Ilmu pengetahuan
  • Jainisme
  • Kalender
  • Kasta
  • Kecerdasan buatan
  • Kekerasan
  • Kekristenan
    • Pengaruh
    • Perbandingan
  • Masturbasi
  • Modernisme
  • Musik
  • Navayāna
  • Orientasi seksual
  • Penindasan
  • Perempuan
  • Psikologi
  • Relik Buddha
  • Rupang Buddha
  • Seksualitas
  • Sekularisme
  • Seni rupa
  • Sosialisme
  • Teosofi
  • Vegetarisme
  • Yahudi
  • Category Kategori
  •  Portal Agama
  •  Portal Buddhisme
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Israel

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi
  2. Theravāda
  3. Dalam Tripitaka Pali
  4. Dalam kitab pascakanonikal
  5. Hubungan dengan konsep lain
  6. Mahāyāna
  7. Catatan
  8. Referensi
  9. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Pengotor batin

dalam Buddhisme, keadaan mental yang mengaburkan pikiran

Theravāda

Aliran utama Buddhisme tertua yang masih lestari hingga zaman modern

Abhidhamma Theravāda

tradisi akademis dan filosofis dalam Therawada

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026