Dalam Buddhisme, rintangan batin atau perintang batin, juga dikenal sebagai lima rintangan batin, diidentifikasi sebagai faktor-faktor mental yang menghambat kemajuan dalam meditasi dan kehidupan sehari-hari. Daftar klasik dari lima rintangan adalah:Nafsu indrawi : keinginan untuk menikmati kesenangan indrawi Rasa benci/niat jahat : pikiran yang sifatnya membenci atau tidak menyukai sesuatu, disertai keinginan untuk menghancurkannya Kemalasan dan kantuk/kelambanan : kemalasan batiniah (thīna) yang munculnya murni di batin dan kantuk/kelambanan jasmaniah (middha) yang bergantung pada jasmani Kebingungan/kegelisahan dan penyesalan/kekhawatiran : batin terus mengembara karena gelisah, dan menyesal atas perbuatan buruk yang telah dilakukan atau kebajikan yang belum dilakukan di masa lampau Keraguan : merasa ragu-ragu terkait manfaat dari praktik-praktik yang sedang dipraktikkan
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam Buddhisme, rintangan batin atau perintang batin (Pali, Sanskerta: nīvaraṇa), juga dikenal sebagai lima rintangan batin (Pali, Sanskerta: pañca nīvaraṇāni), diidentifikasi sebagai faktor-faktor mental yang menghambat kemajuan dalam meditasi dan kehidupan sehari-hari.[1] Daftar klasik dari lima rintangan adalah:[2][3][4][5]
Dalam tradisi Theravāda, faktor-faktor ini secara spesifik diidentifikasi sebagai rintangan terhadap pencapaian jhāna (tahapan konsentrasi) dalam praktik meditasi. Guru-guru dalam Gerakan Vipassanā kontemporer mengidentifikasi lima rintangan ini sebagai hambatan terhadap meditasi perhatian-penuh (satipaṭṭhāna). Tradisi tafsir (sebagaimana dalam Visuddhimagga dan Abhidhamma Theravāda) menjelaskan bahwa lima rintangan batin dapat diatasi dengan lima kekuatan (pañcabala).
Dalam tradisi Mahāyāna, lima rintangan dijelaskan sebagai hambatan terhadap samādhi. Mereka adalah bagian dari dua jenis halangan (Sanskerta: āvaraṇa), yaitu rintangan menuju Kebuddhaan. Dua jenis halangan tersebut adalah halangan kekotoran batin (Sanskerta: kleśāvaraṇa, yang mencakup lima rintangan standar) dan halangan kognitif (jñeyāvaraṇa, yang hanya dapat dihilangkan oleh para Bodhisatwa).[6]
Menurut Gil Fronsdal, istilah bahasa Pali nīvaraṇa berarti penutup. Fronsdal menyatakan bahwa rintangan-rintangan ini menutupi: kejernihan pikiran kita, serta kemampuan kita untuk berpenyadaran (eling), bijaksana, berkonsentrasi, dan tetap pada tujuan.[1]
Menurut Rhys Davids, istilah bahasa Pali nīvaraṇa (Sanskerta: nivāraṇa) merujuk pada rintangan atau hambatan hanya dalam pengertian etis, dan biasanya disebutkan dalam satu kelompok berjumlah lima.[7]
Dalam Saṁyuttanikāya pada Tripitaka Pali, beberapa khotbah menyandingkan lima rintangan dengan tujuh faktor pencerahan (bojjhaṅga).[a] Sebagai contoh, menurut SN 46.37, Buddha menyatakan:
| “Para bhikkhu, ada lima halangan, rintangan, kerusakan batin, yang melemahkan kebijaksanaan. Apakah lima ini? Keinginan indria adalah suatu halangan, rintangan, kerusakan batin, yang melemahkan kebijaksanaan. Permusuhan adalah suatu halangan … Kelambanan dan ketumpulan adalah suatu halangan … Kegelisahan dan penyesalan adalah suatu halangan … Keragu-raguan adalah suatu halangan … yang melemahkan kebijaksanaan. Ini adalah lima halangan, rintangan, kerusakan batin, yang melemahkan kebijaksanaan.” “Ada, para bhikkhu, tujuh faktor pencerahan ini, yang bukan halangan, bukan rintangan, bukan kerusakan batin; jika dikembangkan dan dilatih maka akan mengarah menuju pencapaian buah pengetahuan sejati dan kebebasan. Apakah tujuh ini? Faktor pencerahan perhatian adalah bukan halangan … faktor pencerahan keseimbangan adalah bukan halangan. Ini adalah tujuh faktor pencerahan yang bukan halangan, bukan rintangan, bukan kerusakan batin; jika dikembangkan dan dilatih maka akan mengarah menuju pencapaian buah pengetahuan sejati dan kebebasan.”[8][b] |
||
| — Āvaraṇanīvaraṇa Sutta, SN 46.37 terj. Indra Anggara | ||
Anālayo menggarisbawahi:
Untuk mengatasi rintangan-rintangan, untuk mempraktikkan satipaṭṭhāna, dan untuk membangun faktor-faktor pencerahan, sesungguhnya, menurut beberapa khotbah Pali, adalah aspek-aspek utama dan ciri-ciri pembeda yang umum bagi pencerahan semua Buddha, di masa lalu, masa kini, dan masa depan.[9]
Anālayo lebih lanjut mendukung hal ini dengan mengidentifikasi bahwa, di semua teks non-Theravāda yang paralel dengan Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10), hanya lima rintangan dan tujuh faktor pencerahan yang secara konsisten diidentifikasi sebagai bagian dari perenungan dhamma; perenungan tentang lima gugusan (khandha), enam landasan indra, dan Empat Kebenaran Mulia tidak disertakan dalam satu atau lebih teks versi non-Theravāda.[9]
Terkait pencapaian pandangan terang (vipassanā) ke dalam dan cara mengatasi lima rintangan, menurut Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10), Sang Buddha menyatakan:
| “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran? Di sini seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima rintangan. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima rintangan? Di sini, jika muncul keinginan indria [keinginan indrawi] dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Terdapat keinginan indria dalam diriku’; atau jika tidak ada keinginan indria dalam dirinya, ia memahami: ‘Tidak ada keinginan indria dalam diriku’; dan ia juga memahami bagaimana kemunculan keinginan indria yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan keinginan indria yang telah muncul, dan bagaimana agar keinginan indria yang telah ditinggalkan itu tidak muncul di masa depan.[10] |
||
| — Satipaṭṭhāna Sutta, MN 10 terj. Indra Anggara | ||
Masing-masing dari empat rintangan yang tersisa diperlakukan dengan cara yang sama pada paragraf-paragraf berikutnya.
Buddha memberikan analogi berikut dalam Sāmaññaphala Sutta (DN 2, "Buah dari Kehidupan Tanpa Rumah"):
| Selama, Baginda, seorang bhikkhu tidak merasakan lenyapnya lima rintangan dalam dirinya, ia merasa seolah-olah berhutang, sakit, terbelenggu, menjadi budak, melakukan perjalanan melalui gurun pasir. Tetapi ketika ia merasakan lenyapnya lima rintangan dalam dirinya, seolah-olah ia bebas dari hutang, dari penyakit, dari belenggu, dari pembudakan, dari bahaya gurun pasir.[11] | ||
| — Sāmaññaphala Sutta, DN 2 terj. Indra Anggara | ||
Demikian pula, dalam Saṅgārava Sutta (SN 46.55), Buddha membandingkan nafsu indrawi dengan mencari pantulan yang jernih di dalam air yang dicampur dengan lak, kunyit, dan pewarna; niat buruk dengan air mendidih; kemalasan dan kelambanan dengan air yang tertutup tanaman dan ganggang; kegelisahan dan kekhawatiran dengan air yang bergolak karena angin; dan, keragu-raguan dengan air yang "keruh, tidak tenang, berlumpur, ditempatkan di tempat gelap."[12][13]
Menurut kitab Sāratthappakāsinī, kitab komentar (aṭṭhakathā) Buddhaghosa untuk Saṁyuttanikāya, seseorang dapat melarikan diri sementara dari rintangan-rintangan tersebut melalui penekanan tingkat jhāna atau melalui pandangan terang (vipassanā) sementara, sebagaimana juga dinyatakan dalam kitab Vimuttimagga, seseorang memusnahkan rintangan-rintangan tersebut melalui pencapaian salah satu dari empat tingkat pencerahan (lihat Tabel 1).[c]
| metode penekanan |
jalan pemusnahan | |||
|---|---|---|---|---|
| nafsu indrawi (kāmacchanda) |
jhāna pertama berdasarkan pada ketidakmenarikan tubuh |
pencapaian anagami atau arahat[d] | ||
| niat buruk (vyāpāda) |
jhāna pertama berdasarkan pada cinta-kasih (mettā) |
pencapaian anagami | ||
| kemalasan dan kelambanan (thīna-middha) |
persepsi cahaya (āloka-saññā) |
pencapaian arahat | ||
| kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca) |
ketenangan (samatha) | pencapaian arahat dan anagami | ||
| keragu-raguan (vicikicchā) |
pendefinisian fenomena (dhammavavatthāna) |
pencapaian sotapana | ||
| Tabel 1. Metode dan jalan dalam kitab komentar Pali untuk membebaskan diri dari rintangan. | ||||
Lima faktor mental yang menangkal lima rintangan, menurut tradisi Theravāda:[4]
Menurut kitab Vimuttimagga, sebuah kitab risalah yang disusun pada abad ke-1 Masehi, kelima rintangan mencakup kesepuluh belenggu (saṁyojana): nafsu indrawi (kāmacchanda) mencakup keterikatan apa pun pada hawa nafsu; niat buruk (vyāpāda) mencakup semua kondisi kebencian yang tidak bajik; dan kemalasan-kelambanan (thīna-middha), kegelisahan-kekhawatiran (uddhacca-kukkucca), dan keragu-raguan (vicikicchā) mencakup semua kondisi kebodohan batin yang tidak bajik. Kitab Vimuttimagga lebih lanjut membedakan bahwa "kemalasan" (thīna) merujuk pada kondisi mental sementara "kelambanan" (middha) merujuk pada kondisi fisik yang diakibatkan oleh makanan, waktu, atau kondisi mental; jika kelambanan diakibatkan oleh makanan atau waktu, maka seseorang menguranginya melalui pengerahan usaha/energi (viriya); jika tidak, seseorang menghilangkannya dengan meditasi. Selain itu, kitab Vimuttimagga mengidentifikasi empat jenis keraguan:
Menurut penjelasan Abhidhammatthasaṅgaha, rintangan batin berupa kemalasan dan kantuk/kelambanan (thīna-middha) merupakan faktor-mental yang munculnya selalu bersamaan karena memiliki ciri yang sama.[15] Tradisi Abhidhamma juga menjelaskan bahwa lima rintangan batin dapat ditangkal dengan pañcabala (lima kekuatan).[16]
Konsep tentang rintangan serupa dengan konsep buddhis yang ditemukan di seluruh Tripitaka Pali, seperti belenggu (saṁjoyana) dan sepuluh pengotor batin (kilesa). Sebagai perbandingan, dalam tradisi Theravāda, rintangan merujuk pada hambatan sementara saat praktik meditasi, sedangkan "belenggu" biasanya melintasi banyak kehidupan (masa lalu, saat ini, dan masa depan setelah kelahiran kembali) dan sulit dihilangkan. Pengotor batin (kilesa) mencakup seluruh pengotor batin, termasuk rintangan (nīvaraṇa) dan belenggu (saṁjoyana).[17][butuh sumber yang lebih baik]
Pemikiran Buddhis Mahāyāna berfokus pada konsep āvaraṇa (Sanskerta, “halangan” atau “rintangan”; Tibet: sgrib pa; Mandarin: zhang) yang merujuk pada hambatan-hambatan di jalan menuju Kebuddhaan. Buddhisme Mahāyāna mengakui dua jenis utama āvaraṇa:[6]
Halangan kekotoran batin merintangi pembebasan, sedangkan halangan kognitif memblokir kemahatahuan. Hanya Buddha yang melampaui keduanya, mencapai pemahaman mendalam yang sempurna terhadap seluruh objek pengetahuan. Dalam sumber-sumber Yogācāra, halangan kognitif dikaitkan dengan persepsi dan konseptualisasi yang keliru. Hal ini diatasi melalui praktik-praktik lanjutan pada jalan Bodhisattva, termasuk penguasaan enam kesempurnaan (pāramitā).
Menurut Cheng Weishi Lun (Vijñaptimātratāsiddhi) karya Xuanzang, terdapat sepuluh āvaraṇa spesifik yang berkorelasi dengan tahapan-tahapan jalan Bodhisattva (daśabhūmi). Kesepuluhnya adalah:[6]