Kitab Kathāvatthu adalah sebuah kitab suci Buddhisme sebagai kitab kelima dari tujuh kitab dalam Abhidhammapiṭaka, yang merupakan salah satu dari "tiga keranjang" yang menyusun Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan oleh aliran Theravāda. Kitab ini berisi perbandingan posisi terkait sejumlah isu antara Theravāda ortodoks dan pandangan heterodoks dari berbagai narasumber; pemilik pandangan heterodoks tersebut tidak disertakan dalam teks sumber utama, tetapi diidentifikasi sebagai aliran pemikiran Buddhis tertentu dalam kitab-kitab komentar. Secara historis, teks aslinya diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Asoka, tetapi hal ini juga masih bisa diperdebatkan. Meskipun inti teks dari kitab ini mungkin sudah mulai terbentuk selama masa pemerintahan Asoka, Bhikkhu Sujato mencatat bahwa "karya tersebut secara keseluruhan tidak mungkin disusun pada saat itu, karena merupakan hasil dari periode penyusunan yang panjang, dan membahas banyak pandangan aliran-aliran Buddhis yang baru muncul setelah masa Aśoka."
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kathāvatthu | |
|---|---|
| Jenis | Kitab kanonis |
| Induk | Abhidhammapiṭaka |
| Atribusi | Moggaliputtatissa; Bhāṇaka |
| Komentar | Pañcapakaraṇa-aṭṭhakathā (Kathāvatthu-aṭṭhakathā) |
| Pengomentar | Buddhaghosa |
| Subkomentar | Pañcapakaraṇamūlaṭīkā |
| Subsubkomentar | Pañcapakaraṇa-anuṭīkā |
| Singkatan | Kv; Kvu |

| Bagian dari seri |
| Tipiṭaka |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Kitab Kathāvatthu (Pali; disingkat Kv) adalah sebuah kitab suci Buddhisme sebagai kitab kelima dari tujuh kitab dalam Abhidhammapiṭaka, yang merupakan salah satu dari "tiga keranjang" yang menyusun Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan oleh aliran Theravāda. Kitab ini berisi perbandingan posisi terkait sejumlah isu antara Theravāda ortodoks dan pandangan heterodoks dari berbagai narasumber; pemilik pandangan heterodoks tersebut tidak disertakan dalam teks sumber utama, tetapi diidentifikasi sebagai aliran pemikiran Buddhis tertentu dalam kitab-kitab komentar (yang secara historis muncul belakangan). Secara historis, teks aslinya diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Asoka (sekitar 240 SM), tetapi hal ini juga masih bisa diperdebatkan.[1] Meskipun inti teks dari kitab ini mungkin sudah mulai terbentuk selama masa pemerintahan Asoka, Bhikkhu Sujato mencatat bahwa "karya tersebut secara keseluruhan tidak mungkin disusun pada saat itu, karena merupakan hasil dari periode penyusunan yang panjang, dan membahas banyak pandangan aliran-aliran Buddhis yang baru muncul setelah masa Aśoka."[2]
Kitab Kathāvatthu mendokumentasikan lebih dari 200 poin pertentangan.[3] Pokok-pokok yang diperdebatkan dibagi dalam empat paṇṇāsaka (terj. har. 'kelompok lima puluh'). Setiap paṇṇāsaka dibagi lagi menjadi 20 bab (vagga). Selain itu, ada tiga vagga lagi setelah keempat paṇṇāsaka.[4]
Setiap bab berisi pertanyaan dan jawaban yang dengannya berbagai pandangan aliran Buddhis lain disajikan, dibantah, dan ditolak. Susunan perdebatan tidak menyertakan identitas peserta debat, dan tidak keluar dari perdebatan untuk menyatakan secara eksplisit pihak mana yang benar (meskipun umumnya secara implisit mendukung pendirian pihak Theravāda dengan ditolaknya pandangan yang dibahas).
Pandangan yang dianggap tidak sesat oleh penafsiran kitab komentar terhadap Kathāvatthu diterima oleh aliran Theravāda. Menurut kitab komentar, pandangan yang ditolak termasuk pandangan-pandangan aliran Sarvāstivāda.[5]
Kitab ini berfokus pada sanggahan terhadap pandangan berbagai aliran Buddhis lain selain Theravāda, termasuk:[1]
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Awal |
|---|
| Buddhisme |
Dimasukkannya kitab Kathāvatthu ke dalam Abhidhammapiṭaka terkadang dianggap sebagai sebuah anomali. Pertama, kitab ini tidak dianggap sebagai sabda Sang Buddha sendiri. Secara tradisional, kepengarangannya diatribusikan kepada Moggaliputtatissa (bukan Sāriputta). Namun, hal ini bukanlah sesuatu yang aneh: catatan Vinaya mengenai dua Sidang Buddhis pertama jelas juga bukan merupakan sabda Sang Buddha secara langsung (meskipun konsensus tradisi kemudian menganggap bahwa semua kitab yang telah berstatus kanonis secara teknis merupakan buddhavacana).[6] Kedua, pokok bahasan kitab Kathāvatthu sangat berbeda dari kitab-kitab lain dalam Abhidhammapiṭaka, tetapi hal ini juga berlaku untuk kitab Puggalapaññatti.
Menanggapi anomali pertama, Hinüber menjelaskan:[6]
"... kanonisitas Kathāvatthu tidak diterima secara universal, karena kitab ini jelas bukan buddhavacana. Namun, statusnya diselamatkan oleh pandangan bahwa Sang Buddha telah membabarkan mātikā [skema klasifikasi Abhidhamma] di surga (As 4,3-30), yang kemudian dijabarkan oleh Moggalliputtatissa ... pada Sidang Buddhis Ketiga setelah Aśoka membersihkan Saṃgha (Kv-a 6,2-7,29). Ketika pelafalan kanon diulang pada kesempatan [Sidang Buddhis] ini, Kathāvatthu disertakan. Jelas, tradisi ini selalu sadar akan tanggal penyusunan Kathāvatthu yang relatif baru."
Untuk anomali kedua, Hinüber menjelaskan:[7]
"Tidak sepenuhnya jelas mengapa Kathāvatthu dimasukkan ke dalam Abhidhammapiṭaka. Bentuk isi kitabnya, yang berisi diskusi, lebih dekat dengan gaya Suttapiṭaka daripada Abhidhammapiṭaka.... Alasannya mungkin bersifat kronologis. Pada saat Kathāvatthu dibentuk di bawah pemerintahan Aśoka, empat kitab nikāya utama (Dīghanikāya, Majjhimanikāya, Saṁyuttanikāya, dan Aṅguttaranikāya) mungkin sudah menjadi koleksi kanonis yang tertutup (tidak boleh diubah lagi), sementara bagian Abhidhammapiṭaka masih terbuka."
Lebih lanjut, Hinüber berpendapat bahwa Abhidhammapiṭaka "ditutup" pada abad kedua Masehi, tetapi kitab nikāya kelima (Khuddakanikāya) "selalu tetap terbuka untuk kitab-kitab baru seperti Paṭisambhidāmagga dan lainnya."[7]
Para cendekiawan terkadang juga menganggap bahwa dimasukkannya beberapa bagian Kathāvatthu yang jelas-jelas dibuat kemudian (relatif baru) ke dalam Tripitaka Pali merupakan indikasi bahwa Kanon Pali awalnya lebih 'terbuka' daripada yang diperkirakan selama ini, dan sebagai gambaran proses kodifikasi kitab-kitab baru menjadi berstatus kanonis. Faktanya, hal ini pun tidak aneh, karena ada cukup banyak materi yang relatif muncul lebih belakangan di dalam Kanon.[7]
Perdebatan-perdebatan doktrinal yang dijabarkan dalam kitab ini dipahami oleh tradisi, dan diikuti oleh banyak cendekiawan, sebagai perselisihan antara aliran-aliran Buddhisme yang berbeda. Namun, L. S. Cousins, yang dideskripsikan oleh Profesor Gombrich sebagai cendekiawan tradisi Abhidhamma terkemuka di Barat,[8] mengatakan:[9]
Dalam tradisi spiritual di seluruh dunia, para pengajar sering kali menggunakan penjabaran kontradiksi yang tampak sebagai bagian dari metode pengajaran mereka—mungkin untuk mendorong kesadaran yang lebih besar pada murid atau untuk menghasilkan pandangan yang lebih dalam dan lebih luas tentang subjek yang dibahas. Kanon Pāli mengandung banyak contoh eksplisit dari metode semacam itu. (Memang, sebagian besar isi dari Kathāvatthu lebih masuk akal jika dipandang dari sudut pandang ini daripada sebagai kontroversi sektarian.)