Anussaticode: pi is deprecated berarti "perenungan," "kontemplasi," "pengingatan," "pengenangan," "meditasi", dan "kewawasan". Istilah ini merujuk pada praktik meditasi atau bakti Buddhis tertentu, seperti mengingat kembali kualitas-kualitas agung Sang Buddha, yang menuntun pada ketenangan batin dan kegembiraan. Dalam berbagai konteks, kepustakaan Pali Theravāda dan sūtra Mahayana berbahasa Sanskerta menekankan dan mengidentifikasi berbagai jenis perenungan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
| Bagian dari seri tentang |
| Kewawasan |
|---|
|
|
Anussaticode: pi is deprecated (Pali; Sanskerta: anusmṛti) berarti "perenungan," "kontemplasi," "pengingatan," "pengenangan," "meditasi", dan "kewawasan".[1][2] Istilah ini merujuk pada praktik meditasi atau bakti Buddhis tertentu, seperti mengingat kembali kualitas-kualitas agung Sang Buddha, yang menuntun pada ketenangan batin dan kegembiraan. Dalam berbagai konteks, kepustakaan Pali Theravāda dan sūtra Mahayana berbahasa Sanskerta menekankan dan mengidentifikasi berbagai jenis perenungan.
Anussati juga dapat merujuk pada pencapaian meditasi, seperti kemampuan untuk mengingat kehidupan lampau (pubbenivāsānussati), yang juga disebut ingatan sebab-akibat.[a]
Tiga jenis perenungan:
Kitab Dhammapada (syair 296, 297, dan 298) menyatakan bahwa para siswa Buddha yang terus-menerus berlatih mengingat Triratna “telah bangun dengan baik, dan selalu sadar”.[5] Menurut kitab Theragāthā, praktik seperti itu akan membawa pada "puncak kegembiraan yang berkelanjutan".[6]
Berbeda dengan subjek-subjek perenungan meditatif lainnya yang disebutkan dalam artikel ini, Triratna dianggap sebagai "perenungan bakti".[7] Triratna tercantum sebagai tiga subjek pertama yang diingat dalam masing-masing daftar berikut.
Pada hari uposatha, selain mempraktikkan Astasila, Sang Buddha memerintahkan murid-Nya untuk melakukan satu atau lebih dari lima perenungan:
Menurut Sang Buddha, bagi seseorang yang mempraktikkan perenungan seperti ini: "batinnya menjadi tenang, dan kegembiraan muncul; kekotoran dalam batinnya dilenyapkan".[8]
Enam perenungan tersebut adalah:
Sang Buddha memberitahukan kepada salah seorang murid-Nya bahwa batin seseorang yang mempraktikkan perenungan ini "tidak dikuasai oleh hawa nafsu, tidak dikuasai oleh kebencian, tidak dikuasai oleh delusi.[c] Batinnya menjadi lurus, ... memperoleh kegembiraan yang terkait dengan Dhamma..., kegembiraan muncul..., tubuh menjadi tenang ... mengalami kemudahan..., batin menjadi terkonsentrasi".[11][d]
Dalam praktik Buddhisme Mahāyāna, enam perenungan pertama umumnya diajarkan, dan Buddha-anussaticode: pi is deprecated terutama ditekankan dalam banyak sūtra populer, seperti sutra Buddha Pengobatan.[12]
Dalam daftar sepuluh perenungan, daftar berikut ini ditambahkan ke enam perenungan sebelumnya:
Dalam kitab Aṅguttaranikāya di Tripitaka Pali, disebutkan bahwa praktik salah satu dari sepuluh perenungan ini mengarah pada Nirwana.[14] Sepuluh Perenungan tercantum dalam daftar kammaṭṭhānacode: pi is deprecated ,[12] empat puluh pokok bahasan meditasi klasik yang ditemukan dalam kitab Visuddhimagga, yang berguna untuk mengembangkan konsentrasi (samādhi) yang diperlukan untuk menekan dan menyingkirkan lima rintangan selama seseorang berusaha mencapai Nirwana.[f] Meskipun Tripitaka Pali mengacu pada istilah perhatian-penuh terhadap kematian (maraṇāsaticode: pi is deprecated ), kitab Visuddhimagga mengacu pada istilah perenungan tentang kematian (maraṇānussaticode: pi is deprecated ).
Dalam hal pengembangan penyerapan meditatif, perhatian pada napas dapat mengarah pada keempat jhānacode: pi is deprecated (penyerapan meditatif), perhatian-penuh pada tubuh hanya dapat mengarah pada jhānacode: pi is deprecated pertama, sedangkan delapan perenungan lainnya berpuncak pada “konsentrasi akses” pra-jhānik (upacāra-samādhicode: pi is deprecated ).[7]
Perenungan terhadap kematian terhubung dengan konsep Buddhis tentang tiadanya diri/roh: para penganut Buddhisme merenungkan dan mengingat kembali tentang keniscayaan kematian mereka sendiri, dan dengan cara itu belajar memahami bahwa tubuh fisik mereka bukanlah diri/roh yang kekal.[15] Dengan sering melakukan perenungan seperti itu, diyakini bahwa motivasi dan prioritas hidup seseorang dapat terpengaruh. Praktik tersebut juga diyakini dapat membantu agar seseorang menjadi lebih realistis.[16]
Kitab Aṅguttara Nikāya menyampaikan syair (gāthācode: pi is deprecated ) berikut untuk merenungi Sang Buddha:
‘itipi so bhagavā arahaṁ sammāsambuddho vijjācaraṇasampanno sugato lokavidū anuttaro purisadammasārathi satthā devamanussānaṁ buddho bhagavā’ti.
"Sang Bhagavā adalah seorang Arahat, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, yang sempurna menempuh Sang Jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci."
Telah dikemukakan bahwa perenungan terhadap Sang Buddha yang diidentifikasi dalam Tripitaka Pali milik Theravāda mungkin menjadi dasar bagi perenungan visual yang lebih rumit, yang merupakan ciri khas dalam Buddhisme Tibet.[17][g]
Kitab Aṅguttara Nikāya menjelaskan syair berikut untuk merenungi Dhammacode: pi is deprecated (ajaran Buddha):
‘svākkhāto bhagavatā dhammo sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko opaneyyiko paccattaṁ veditabbo viññūhī’ti.
"Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā, terlihat langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi [dalam batin masing-masing] oleh para bijaksana."
Ajaran Sang Buddha (Dhamma) memiliki enam kualitas utama:
Mengetahui kualitas-kualitas ini, umat Buddha yakin bahwa mereka akan mencapai kedamaian dan kebahagiaan tertinggi (Nirwana) melalui praktik Dhammacode: pi is deprecated . Oleh karena itu, setiap orang bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri untuk mengamalkannya secara nyata. Di sini, Sang Buddha diumpamakan sebagai seorang dokter yang berpengalaman dan terampil, dan Dhammacode: pi is deprecated diumpamakan sebagai pengobatan yang tepat. Betapapun efisiennya dokter atau betapapun hebatnya obat, pasien tidak dapat disembuhkan kecuali mereka minum obat dengan benar. Jadi, praktik Dhammacode: pi is deprecated adalah satu-satunya jalan untuk mencapai pembebasan akhir, yaitu Nirwana.
Kualitas-kualitas ini juga terkait dengan pemahaman tentang kamma (terj. har. 'perbuatan') dan pengembangan kesan baik dalam batin seseorang, untuk mencapai kecerahan penuh dengan mengenali kualitas-kualitas batiniah.
Kitab Aṅguttara Nikāya menyajikan syair-syair berikut untuk merenungi Sangha:
‘suppaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, ujuppaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, ñāyappaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, sāmīcippaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho, yadidaṁ cattāri purisayugāni aṭṭha purisapuggalā, esa bhagavato sāvakasaṅgho āhuneyyo pāhuneyyo dakkhiṇeyyo añjalikaraṇīyo anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassā’ti.
"Saṅgha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik, mempraktikkan jalan yang lurus, mempraktikkan jalan yang benar, mempraktikkan jalan yang selayaknya; yaitu empat pasang makhluk, delapan jenis individu - Saṅgha para siswa Sang Bhagavā ini layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia."
‘lābhā vata me, suladdhaṁ vata me, yassa me kalyāṇamittā anukampakā atthakāmā ovādakā anusāsakā’ti.
Sungguh suatu keberuntungan dan nasib baik bagiku bahwa aku memiliki teman-teman baik yang berbelas kasihan padaku, yang menginginkan kebaikanku, yang menasihati dan mengajariku.
Berlatih dengan baik, atau berlatih dengan integritas, berarti berbagi apa yang telah dipelajari dengan orang lain.
Kitab Aṅguttara Nikāya menyajikan syair berikut untuk mengingat kebajikan:
... attano sīlāni anussareyyāsi akhaṇḍāni acchiddāni asabalāni akammāsāni bhujissāni viññuppasatthāni aparāmaṭṭhāni samādhisaṁvattanikāni.
"... engkau harus mengingat perilaku bermoralmu sendiri sebagai tidak rusak, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak digenggam, mengarah pada konsentrasi. Ketika seorang siswa mulia mengingat perilaku bermoralnya, pada saat itu batinnya tidak dikuasai oleh nafsu, kebencian, atau delusi; pada saat itu batinnya lurus, berdasarkan pada perilaku bermoral."
Kitab Aṅguttara Nikāya menyajikan syair-syair berikut untuk merenungi para dewa:
‘santi devā cātumahārājikā, santi devā tāvatiṁsā, santi devā yāmā, santi devā tusitā, santi devā nimmānaratino, santi devā paranimmitavasavattino, santi devā brahmakāyikā, santi devā tatuttari. Yathārūpāya saddhāya samannāgatā tā devatā ito cutā tatthūpapannā, mayhampi tathārūpā saddhā saṁvijjati. Yathārūpena sīlena samannāgatā tā devatā ito cutā tatthūpapannā, mayhampi tathārūpaṁ sīlaṁ saṁvijjati. Yathārūpena sutena samannāgatā tā devatā ito cutā tatthūpapannā, mayhampi tathārūpaṁ sutaṁ saṁvijjati. Yathārūpena cāgena samannāgatā tā devatā ito cutā tatthūpapannā, mayhampi tathārūpo cāgo saṁvijjati. Yathārūpāya paññāya samannāgatā tā devatā ito cutā tatthūpapannā, mayhampi tathārūpā paññā saṁvijjatī’ti.
Ada para dewa [yang dipimpin oleh] empat raja dewa, para dewa Tāvatiṁsa, para dewa Yāma, para dewa Tusita, para dewa yang bersenang dalam penciptaan, para dewa yang mengendalikan ciptaan para dewa lain, para dewa kumpulan Brahmā, dan para deva yang lebih tinggi daripada para deva ini. Dalam diriku juga terdapat keyakinan seperti yang dimiliki oleh para dewata itu yang karenanya, ketika mereka meninggal dunia dari sini, mereka terlahir kembali di sana; dalam diriku juga terdapat perilaku bermoral … pembelajaran … kedermawanan … kebijaksanaan seperti yang dimiliki oleh para dewata itu yang karenanya, ketika mereka meninggal dunia dari sini, mereka terlahir kembali di sana.
‘yā devatā atikkammeva kabaḷīkārāhārabhakkhānaṁ devatānaṁ sahabyataṁ aññataraṁ manomayaṁ kāyaṁ upapannā, tā karaṇīyaṁ attano na samanupassanti katassa vā paticayaṁ’.
"Para dewata itu yang telah terlahir kembali dalam tubuh ciptaan-batin dalam kumpulan para dewa yang melampaui mereka yang bertahan hidup dari makanan yang dapat dimakan tidak melihat apa pun dalam diri mereka yang masih harus dilakukan atau [apa pun yang perlu] ditingkatkan atas apa yang telah dilakukan, demikianlah para dewata itu yang telah terlahir kembali dalam tubuh ciptaan-batin dalam kumpulan para dewa yang melampaui mereka yang bertahan hidup dari makanan yang dapat dimakan."
Kitab Aṅguttara Nikāya menyajikan syair berikut untuk merenungi kemurahan hati:
‘lābhā vata me, suladdhaṁ vata me, yohaṁ maccheramalapariyuṭṭhitāya pajāya vigatamalamaccherena cetasā agāraṁ ajjhāvasāmi muttacāgo payatapāṇi vossaggarato yācayogo dānasaṁvibhāgarato’ti.
"Sungguh suatu keberuntungan dan nasib baik bagiku bahwa dalam populasi yang dikuasai oleh noda kekikiran, aku berdiam di rumah dengan batin yang hampa dari noda kekikiran, dermawan dengan bebas, bertangan terbuka, bersenang dalam pelepasan, menekuni derma, bersenang dalam memberi dan berbagi."
Dalam Paṭhamamaraṇassati Sutta (AN 6.19), Sang Buddha menganjurkan untuk berlatih dengan tekun (appamāda) dan penuh urgensi di setiap momen, bahkan dalam waktu sependek satu tarikan napas. Jika tidak merenungi kematian setiap saat, maka seseorang disebut telah "berdiam dengan lengah". Menurut Dutiyamaraṇassati Sutta (AN 6.20), seorang biku hendaknya merenungkan banyak kemungkinan yang dapat membawanya kepada kematian, dan kemudian mengarahkan pikirannya kepada kualitas batin buruk yang belum ditinggalkannya.[19] Perenungan terhadap kematian (maraṇacode: pi is deprecated ) lainnya dilakukan dengan merenungi kenyataan bahwa: "Kematianku pasti terjadi. Aku bisa mati kapan saja. Ketika mati, aku harus meninggalkan segalanya."[20]
Menurut kitab Visuddhimagga karya Buddhaghosa, ada delapan cara bermeditasi atas kematian (maraṇānussati) (Lihat Maraṇasati#Dalam Visuddhimagga).
Perenungan terhadap kedamaian (upasamānussaticode: pi is deprecated ) merujuk pada perenungan terhadap sifat-sifat Nirwana, seperti berakhirnya penderitaan dan seterusnya.[21]
Dua perenungan terakhir, yaitu perhatian-penuh terhadap napas (ānāpānasaticode: pi is deprecated ) dan perhatian-penuh terhadap tubuh (kāyagatāsaticode: pi is deprecated ) dijelaskan dalam diskursus-diskursus (sutta) terkait di Tripitaka Pali: