Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Abdul Kahar Mudzakkir

Abdul Kahar Mudzakkir adalah aktivis, guru, dan profesor Islam Indonesia yang menjabat Rektor Magnificus yang dipilih Universitas Islam Indonesia untuk pertama kali dengan nama STI selama 2 periode 1945–1948 dan 1948–1960. Ia adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan
Diperbarui 20 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Abdul Kahar Mudzakkir
Untuk politikus Indonesia dengan nama yang mirip secara homofonik, dan komandan Darul Islam di Sulawesi Selatan,, lihat Kahar Muzakir dan Abdul Kahar Muzakkar.
Abdul Kahar Mudzakkir
Rektor Universitas Islam Indonesia ke-1
Masa jabatan
8 Juli 1945 – 1960
Pengganti
Prof. Mr. RHA. Kasmat Bahuwinangun
Informasi pribadi
Lahir(1907-04-16)16 April 1907
Gunung Kidul, Kesultanan Yogyakarta, Hindia Belanda
Meninggal2 Desember 1973(1973-12-02) (umur 66)
Yogyakarta, Indonesia
  • Pahlawan Nasional Indonesia Suntingan nilai di Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Abdul Kahar Mudzakkir (16 April 1907 – 2 Desember 1973) adalah aktivis, guru, dan profesor Islam Indonesia yang menjabat Rektor Magnificus yang dipilih Universitas Islam Indonesia untuk pertama kali dengan nama STI selama 2 periode 1945–1948 dan 1948–1960. Ia adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).[1]

Tokoh Islam yang pernah menjadi anggota Dokuritsu Junbi Chōsakai (BPUPKI) ini pula yang tetap dipertahankan ketika UII dihadirkan sebagai pengganti STI pada 4 Juni 1948. Ia menduduki jabatan sebagai Rektor UII sampai tahun 1960.

Pada 2012, ia diusulkan untuk dianugerahi gelar pahlawan nasional.[2] Pada 8 November 2019, Abdul Kahar Mudzakkir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara.[3] Yang menerima penghargaan mewakili keluarga ahli waris adalah Siti Jauharoh, anak dari Abdul Kahar Mudzakkir.[4]

Kehidupan awal dan pendidikan

Abdul Kahar Mudzakkir lahir pada 16 April 1907[a] di Kotagede.[7] Ayahnya, Kyai Haji Mudzakkir, adalah seorang ulama di Masjid Gedhe Kauman Keraton Yogyakarta. Ibunya, Khotijah, adalah putri seorang pedagang pakaian yang berasal dari Kotagede. Paman dari pihak ayah, Kyai Haji Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad adalah tokoh pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Nenek moyang dari pihak ayah adalah Kyai Hasan Besari, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro.[8] Nama masa kecil Abdul Kahar Mudzakkir adalah Dalhar.[9]

Mudzakkir menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Muhammadiyah Selokraman di Kotagede, Yogyakarta,[10] kemudian melanjutkan studi Islam di beberapa lembaga pendidikan, di antaranya Madrasah Mamba'ul Ulum dan Pondok Jamsaren di Surakarta, Pesantren Krapyak di Yogyakarta dan Pesantren Termas di Pacitan.[7]

Pada 1924, Mudzakkir menunaikan ibadah haji ke Mekah bersama kakak laki-lakinya. Ia berencana melanjutkan studi agamanya di sana, tetapi karena adanya peristiwa konflik bersenjata di wilayah tersebut, meskipun ia telah memiliki kesempatan untuk belajar di bawah bimbingan Muhammady Al Baqir, ia terpaksa pindah ke Mesir.[11] Pada 1925, Mudzakkir mendaftar ke Universitas Al-Azhar, tetapi hanya setengah tahun dalam menjalani studinya, karena ia merasa bahwa kurikulumnya tidak sesuai bagi dirinya.[12] Kemudian ia mendaftar ke Al-Mu'alimin dan menjalani pendidikan di sana sejak 1926 hingga 1930.[13] Mudzakkir lalu melanjutkan pendidikan pascasarjana bidang pedagogi, bahasa Arab dan bahasa Ibrani di Darul Ulum (kelak menjadi bagian dari salah satu fakultas di Universitas Kairo tahun 1946).[11]

Pada 1928, Mudzakkir tercatat merupakan anggota aktif perkumpulan mahasiswa Indonesia di Kairo.[11] Kemudian bersama teman-temannya, ia mendirikan organisasi Perhimpunan Indonesia Raya di Kairo pada 1933 dan ia menjadi ketua pertamanya.[10] Organisasi ini bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Ia juga merupakan anggota Jamiyah Chairiyah Jawiyah, sebuah organisasi perkumpulan pemuda Indonesia dan Melayu.[14] Mudzakkir juga sebagai anggota pendiri organisasi Jamiyatul Syubban Muslimin dan berkontribusi dalam publikasi yang disebut Seruan Azhar.[10][15]

Selama berada di Mesir, Mudzakkir aktif menulis artikel ke surat kabar Al-Ahram, Al-Balagh, Al-Fatayat dan Al-Hayat, dengan tujuan untuk menginformasikan para pembaca di Timur Tengah, tentang gerakan kemerdekaan Indonesia.[16] Pada 1936, Muhammad Ali Al-Tahir meminta Mudzakkir untuk menjadi kontributor bagi surat kabarnya Al-Shura, karena melihat karyanya dalam bidang jurnalistik.[16][17]

Mudzakkir bersama temannya mendirikan Indonesia Raya, sebuah agen korespondensi untuk memasok berita ke surat kabar-surat kabar di Timur Tengah dan dalam negeri.[16] Atas permintaan Mufti Palestina Amin al-Husayni, ia ditunjuk sebagai perwakilan Hindia Belanda di Kongres Islam Dunia di Palestina pada 1931.[16] Selain sebagai anggota termuda yang baru berusia 24 tahun, Mudzakkir juga terpilih sebagai sekretaris pendamping Mufti Palestina. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Mudzakkir untuk meminta dukungan kongres bagi perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan.[18]

Kembali ke Indonesia

Setelah menamatkan studinya pada 1936,[10] Mudzakkir kembali ke kampung halamannya di Yogyakarta pada 1937. Kepulangannya ke tanah air, diberitakan oleh surat kabar kolonial Belanda terbitan 21 Juni 1937. Menurut sejarawan Amini, hal ini tidaklah biasa, karena pada waktu itu, Mudzakkir telah dianggap sebagai tokoh penting.[19]

Organisasi dan pendidikan Islam

Pada 1938, Mudzakkir aktif dalam organisasi Pemuda Muhammadiyah dan menjadi direktur Madrasah Mualimin dan anggota majelis Pembina Kesejahteraan Umat Muhammadiyah.[20] Ia juga menjadi anggota organisasi Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) dan mewakili MIAI dalam acara Pekan Raya Islam di Osaka dan Tokyo pada November 1939.[21]

Pada 1943, ia diangkat menjadi anggota panitia pendiri Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta atas inisiatif Masyumi.[22] Kemudian, pada 8 Juli 1945, perguruan tinggi tersebut resmi didirikan dengan Mudzakkir sebagai rektor pertamanya. Pada April 1946, ketika Mudzakkir pindah ke Yogyakarta karena agresi militer Belanda, ia masih menjabat sebagai rektor, pun ketika status perguruan tinggi tersebut ditingkatkan statusnya menjadi universitas dan resmi bernama Universitas Islam Indonesia (UII) pada 1948.[23] Kelak, ia digantikan oleh Kasmat Bahoewinangoen, rekannya dari PII dan MIAI pada 1960.[24]

Politik

Mudzakkir pernah bergabung menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), tetapi karena perbedaan ideologi, partai tersebut pecah menjadi beberapa organisasi tahun 1938, lalu ia bergabung ke Partai Islam Indonesia (PII) dan ditunjuk sebagai unsur pimpinan pusat PII pada 1940. Namun, PII akhirnya dibubarkan selama masa pendudukan Jepang.[21][20]

Setelah kemerdekaan Indonesia, Mudzakkir ditunjuk menjadi ketua pimpinan cabang Masyumi Yogyakarta pada 1950 dan masih menjabat sebagai ketua hingga Pemilihan umum legislatif Indonesia 1955.[24][25] Setelah pemilu, pada 1956, Mudzakkir menjadi anggota Majelis Konstituante, hingga akhirnya majelis tersebut dibubarkan oleh Soekarno melalui dekrit tahun 1959.[25]

Prakemerdekaan

Di bawah pemerintah Jepang, Mudzakkir bekerja di kantor Urusan Ekonomi Kesultanan Yogyakarta hingga 1943. Kemudian ia dipilih oleh Badan Intelijen Jepang (Beppan), sebagai komentator berita internasional berbahasa Arab dan Inggris di Jakarta.[26] Mudzakkir juga menjabat sebagai pimpinan di Kantor Urusan Agama (Gunsheikanbu Shumubu Zhico), hingga menjelang berakhirnya pemerintahan Jepang, Mudzakkir duduk dalam Lembaga Pertimbangan Pusat (Chuo Sangi-In).[24]

Menjelang kemerdekaan Indonesia, Mudzakkir aktif sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) hingga ditunjuk menjadi anggota Panitia Sembilan yang kelak menghasilkan Piagam Jakarta.[21][27][28]

Kehidupan pribadi

Mudzakkir menikah dengan Bunayah dan dikaruniai tujuh putra dan putri.[29]

Akhir hayat

Sepanjang kariernya, Mudzakkir pernah menjabat sebagai dekan Fakutas Hukum UII, anggota pimpinan pusat Muhammadiyah dan anggota Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia.[30]

Mudzakkir meninggal dunia pada 2 Desember 1973 karena serangan jantung.[31][b]

Gagasan dan pandangan

Dalam upayanya memajukan dunia pendidikan, Mudzakkir pernah mengemukakan gagasan untuk mendirikan institusi pendidikan berupa Universitas Islam Asia Tenggara, sebagaimana yang ia kemukakan pada 9 November 1973.[33] Pada 1958, Mudzakkir juga memelopori pendirian Akademi Tabligh Muhammadiyah Yogyakarta yang berada dalam pengawasan langsung PP Muhammadiyah Majelis Tabligh dan ia terpilih sebagai dekannya.[34]

Sejarawan Amini berpendapat mengenai tulisan-tulisan Mudzakkir, bahwa "Bagi seorang Abdul Kahar Mudzakkir, memahami islam bukan hanya tentang iman dan ibadah, tetapi tentang bagaimana memahaminya sebagai keseluruhan makna kehidupan". Beberapa ulama mengklasifikasikan pemikirannya tentang nasionalisme Mudzakkir sebagai "nasionalisme religius".[35]

Referensi

Catatan

  1. ↑ Sumber lain menyatakan kelahiran 16 September 1907[5] atau tahun 1908.[6]
  2. ↑ Tashadi menyatakan bahwa Mudzakkir meninggal dunia pada 3 Desember 1973, pukul 21:50 WIB di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta karena Tekanan darah tinggi yang ia derita sejak lama.[32]

Kutipan

  1. ↑ "Piagam Jakarta Menjiwai Proklamasi". Diarsipkan dari asli tanggal 2 November 2010. Diakses tanggal 9 Desember 2012.
  2. ↑ "Muhammadiyah Usulkan Tiga Tokoh Jadi Pahlawan Nasional". 6 September 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Juni 2013. Diakses tanggal 9 Desember 2012.
  3. ↑ Kementerian Sekretariat Negara (8 November 2019). "Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada 6 Tokoh | Sekretariat Negara". setneg.go.id. Diakses tanggal 19 Maret 2026.
  4. ↑ "Haru dan Bangga Keluarga atas Gelar Pahlawan Nasional". CNN Indonesia. 9 November 2019. Diakses tanggal 19 Maret 2026.
  5. ↑ A Anardianto (29 Mei 2024). "Abdul Kahar Muzakkir Tentang Gagasan Pendidikan, Diplomasi, dan Perumus Pancasila". Muhammadiyah. Diakses tanggal 20 Maret 2026.
  6. ↑ Tashadi 1986, hlm. 7.
  7. 1 2 Amini 2024, hlm. 97.
  8. ↑ Amini 2024, hlm. 96.
  9. ↑ Tashadi 1986, hlm. 7.
  10. 1 2 3 4 Nakamura 2019, hlm. 206.
  11. 1 2 3 Amini 2024, hlm. 98.
  12. ↑ Tashadi 1986, hlm. 15.
  13. ↑ Tashadi 1986, hlm. 15-16.
  14. ↑ Amini 2024, hlm. 99-100.
  15. ↑ Tashadi 1986, hlm. 19.
  16. 1 2 3 4 Amini 2024, hlm. 100.
  17. ↑ Hakiem 2018, hlm. 53.
  18. ↑ Hakiem 2018, hlm. 54.
  19. ↑ Amini 2024, hlm. 101.
  20. 1 2 Bayu Ardi Isnanto (31 Mei 2025). "Profil Kahar Mudzakkir, Tokoh Perumus Pancasila dari Jogja". Detik Jogja. Detik.com. Diakses tanggal 18 Maret 2026.
  21. 1 2 3 Amini 2024, hlm. 102.
  22. ↑ Sasongko, Agung (21 April 2018). "Sejarah Perguruan Tinggi Peradaban Islam". Republika. Diakses tanggal 17 Maret 2026.
  23. ↑ Amini 2024, hlm. 103.
  24. 1 2 3 Amini 2024, hlm. 104.
  25. 1 2 Nakamura 2019, hlm. 207.
  26. ↑ Nakamura 2019, hlm. 206-207.
  27. ↑ Tashadi 1986, hlm. 25-26.
  28. ↑ PP Muhammadiyah 2014, hlm. 79.
  29. ↑ Tashadi 1986, hlm. 8.
  30. ↑ Nakamura 2019, hlm. 208.
  31. ↑ Nakamura 2019, hlm. 205.
  32. ↑ Tashadi 1986, hlm. 42.
  33. ↑ Tashadi 1986, hlm. 32.
  34. ↑ Tashadi 1986, hlm. 34.
  35. ↑ Amini 2024, hlm. 105-106.

Daftar pustaka

  • Amini, Mutiah (2024). "Abdul Kahar Muzakkir: Sebuah Biografi Intelektual (1930-an–1970-an)". MOZAIK: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora. 15 (1): 92–110. doi:10.21831/mozaik.v15i1.74970.
  • Nakamura, Mitsuo (2019). "Prof. H. Abdul Kahar Muzakkir dan Perkembangan Gerakan Islam Reformis di Indonesia". Afkaruna. 15 (2): 203–225. doi:10.18196/AIIJIS.2019.0103.203-225.
  • Tashadi (1986). Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir: riwayat hidup dan perjuangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  • Hakiem, Lukman (2018). Jejak perjuangan para tokoh muslim mengawal NKRI. Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9789795928034.
  • Imron Nasri; Lasa Hs; Widyastuti; Iwan Setiawan; Amir Nashiruddin; Arief Budiman Ch (2014). 100 Tokoh Muhammadiyah Yang Menginspirasi (PDF). Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. ISBN 978-602-19998-2-0.

Pranala luar

  • Profil Abdul Kahar Mudzakkir
Jabatan akademik
Didahului oleh:
Rektor Universitas Islam Indonesia
1963–1970
Diteruskan oleh:
Prof. Mr. RHA. Kasmat Bahoewinangoen
  • l
  • b
  • s
Artikel terkait ideologi Pancasila
Sejarah
  • Pidato "Lahirnya Pancasila"
  • Piagam Jakarta
  • Rumusan-rumusan Pancasila
  • Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
  • Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila
Tokoh terkait
  • Soekarno
  • Mohammad Hatta
  • Mohammad Yamin
  • Alexander Andries Maramis
  • Abikoesno Tjokrosoejoso
  • Abdul Kahar Mudzakkir
  • Agus Salim
  • Adam Malik
  • Wahid Hasjim
Badan terkait
  • Panitia Sembilan
  • BPUPKI
  • PPKI
  • BP7
  • UKP-PIP
  • BPIP
Hal terkait
  • Garuda Pancasila
  • Hari Kesaktian Pancasila
  • UUD 1945
  • Gedung Pancasila
  • Daftar Anggota BPUPKI-PPKI
  • Filsafat Pancasila
  • Saya Indonesia, Saya Pancasila
  • l
  • b
  • s
Indonesia Anggota BPUPKI
  • K.H. Abdul Fatah Hasan
  • K.H. Abdul Halim Majalengka
  • Raden Abdul Kadir
  • Abdul Kaffar
  • Abdul Kahar Mudzakkir
  • R. Abdulrahim Pratalykrama
  • Abdurrahman Baswedan
  • K.H. Abdul Wahid Hasjim
  • R. Abikoesno Tjokrosoejoso
  • Agus Musin Dasaad
  • Haji Agus Salim
  • K.H. Ahmad Sanusi
  • Mr. R. Achmad Soebardjo
  • Mr. Alexander Andries Maramis
  • Mas Aris
  • Ir. R. Ashar Sutejo Munandar
  • R. Asikin Natanegara
  • Ki Bagoes Hadikoesoemo
  • Mr. Mas Besar Mertokusumo
  • BPH Bintoro
  • Dr. R. Boentaran Martoatmodjo
  • Prof. Dr. R. Djenal Asikin Widjaja Koesoema
  • Ki Hadjar Dewantara
  • Drs. Moh. Hatta
  • Mr. R. Hindromartono
  • Prof. Dr. Pangeran Ario Hussein Jayadiningrat
  • Ichibangase Yosio
  • Mr. Johannes Latuharhary
  • Liem Koen Hian
  • K.H. Mas Mansoer
  • R.M. Margono Djojohadikoesoemo
  • Mr. R.A. Maria Ulfah Santoso
  • K.H. Masjkur
  • Ir. Pangeran Mohammad Noor
  • Oey Tiang Tjoei
  • Oei Tjong Hauw
  • R. Otto Iskandar di Nata
  • Parada Harahap
  • P.F. Dahler
  • R.A.A. Poerbonegoro Soemitro Kolopaking
  • Pangeran Poeroebojo
  • Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat
  • R. Ruslan Wongsokusumo
  • Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo
  • Dr. Samsi Sastrawidagda
  • Mr. R.M. Sartono
  • Mr. R. Sastromulyono
  • Mr. Raden Panji Singgih
  • R.N. Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito
  • Mr. R. Raden Sjamsoeddin
  • Dra. KRMH Sosrodiningrat
  • Raden Sudirman
  • R. Sukarjo Wiryopranoto
  • Ir. Soekarno
  • Dr. Soekiman Wirjosandjojo
  • Dr. R. Sulaiman Effendi Kusumah Atmaja
  • Prof. Mr. Dr. Soepomo
  • Ir. R.M. Panji Surachman Cokroadisuryo
  • R.M.T. Ario Soerjo
  • Pangeran Soerjohamidjojo
  • R.P. Soeroso
  • Mr. Mas Soesanto Tirtoprodjo
  • Mas Sutardjo Kertohadikusumo
  • Mr. R. Soewandi
  • Tan Eng Hoa
  • R.A.A. Wiranatakusumah V
  • K.R.M.T. Wongsonegoro
  • RMTA Wuryaningrat
  • Mr. Prof. Mohammad Yamin, S.H.
  • l
  • b
  • s
Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir · Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soeharto  · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Jamin Ginting  · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E. Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Sarwo Edhie Wibowo · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin  · Yos Sudarso · Djatikoesoemo · Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Soepeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani · Karel Satsuit Tubun · Mas Tirtodarmo Harjono · Katamso Darmokusumo · Donald Izaac Panjaitan · Pierre Tendean · Siswondo Parman · Sugiyono Mangunwiyoto · R. Suprapto · Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan · Maria Walanda Maramis · dr. Soetomo · Wage Rudolf Soepratman · Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis · Agus Salim · Amir Hamzah · Mohammad Yamin · Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki · Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika · Kartini · Ki Hadjar Dewantara · Ki Sarmidi Mangunsarkoro · Muhammad Salahuddin · Rahmah El Yunusiyyah  · Rubini Natawisastra · Sardjito · Soeharto Sastrosoeyoso · Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng · Silas Papare · Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani · Roehana Koeddoes · Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo · Pangeran Mohammad Noor · Suharso · Siti Hartinah · Teuku Mohammad Hasan · Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin · Abdul Chalim · Abdul Wahab Hasbullah  · Ahmad Dahlan · Ahmad Hanafiah · Ahmad Sanusi · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasyim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Diusulkan · Portal Portal Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan awal dan pendidikan
  2. Kembali ke Indonesia
  3. Organisasi dan pendidikan Islam
  4. Politik
  5. Prakemerdekaan
  6. Kehidupan pribadi
  7. Akhir hayat
  8. Gagasan dan pandangan
  9. Referensi
  10. Catatan
  11. Kutipan
  12. Daftar pustaka
  13. Pranala luar

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Revolusi Nasional Indonesia

konflik bersenjata dan perjuangan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Belanda

Soeprapto

Perwira TNI AD (1920 – 1965)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026