Margono Djojohadikoesoemo, adalah seorang ekonom dan bankir yang menjadi direktur utama pertama dari Bank Negara Indonesia. Ia adalah keturunan dari Raden Joko Kahiman yang merupakan pendiri Kabupaten Banyumas, sekaligus Bupati Banyumas yang pertama. Margono juga dikenal sebagai bapak perbankan nasional karena kontribusinya yang besar dalam pengembangan sektor perbankan di Indonesia. Margono merupakan ayah dari ekonom Indonesia, Soemitro Djojohadikoesoemo, dan dua pemuda yang gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong, yakni Soebianto Djojohadikoesoemo dan Soejono Djojohadikoesoemo. Nama mereka lalu diabadikan dalam nama cucunya, yaitu Prabowo Subianto, serta Hashim Sujono Djojohadikusumo.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Margono Djojohadikoesoemo | |
|---|---|
| Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara ke-1 | |
| Masa jabatan 25 September 1945 – 6 November 1945 | |
| Presiden | Soekarno |
| Direktur Bank Negara Indonesia ke-1 | |
| Masa jabatan 5 Juli 1946 – Oktober 1953 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1894-05-16)16 Mei 1894 Banyumas, Hindia Belanda |
| Meninggal | 25 Juli 1978(1978-07-25) (umur 84) Jakarta, Indonesia |
| Makam | Banyumas, Jawa Tengah |
| Partai politik | Parindra |
| Suami/istri | Siti Katoemi Wirodihardjo
(m. 1915) |
| Anak | 5, termasuk Soemitro, Soekartini, Soebianto, Soejono |
| Orang tua | Raden Tumenggung Mangkuprodjo (ayah)[2] |
| Pekerjaan |
|
| Dikenal karena | |

Margono Djojohadikoesoemo, (16 Mei 1894 – 25 Juli 1978) adalah seorang ekonom dan bankir yang menjadi direktur utama pertama dari Bank Negara Indonesia. Ia adalah keturunan dari Raden Joko Kahiman yang merupakan pendiri Kabupaten Banyumas, sekaligus Bupati Banyumas yang pertama. Margono juga dikenal sebagai bapak perbankan nasional karena kontribusinya yang besar dalam pengembangan sektor perbankan di Indonesia.[3] Margono merupakan ayah dari ekonom Indonesia, Soemitro Djojohadikoesoemo, dan dua pemuda yang gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong, yakni Soebianto Djojohadikoesoemo dan Soejono Djojohadikoesoemo.[4] Nama mereka lalu diabadikan dalam nama cucunya, yaitu Prabowo Subianto, serta Hashim Sujono Djojohadikusumo.
Margono Djojohadikoesoemo yang lahir pada tanggal 16 Mei 1894 di Banyumas, adalah cucu buyut dari Raden Tumenggung Banyakwide atau lebih dikenal dengan sebutan Panglima Banyakwide, pengikut setia dari Pangeran Diponegoro yang kemudian diangkat menjadi Bupati Roma (sekarang Karanganyar, Kebumen) dengan gelar Raden Tumenggung Kertanegara IV, dan anak dari asisten Wedana Banyumas. Ia lalu sekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas, sebuah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Belanda di Banyumas, mulai tahun 1900 hingga 1907.[5]
Margono lahir pada 16 Mei 1894 di Banyumas. Ayahnya adalah berasal dari kelompok priyayi yang menjadi pegawai pemerintah kolonial Belanda. Keluarga dia merupakan keturunan bangsawan yang pernah berperang melawan Belanda selama Perang Jawa.[6] Margono menggambarkan keluarganya sebagai bangsawan "miskin". Dia sebenanya anak keenam, tetapi semua kakaknya meninggal saat masih kecil.[7] Menurut Margono, dia tidak pernah mengunjungi makam leluhurnya karena tidak mau mengakui keturunannya yang bekerja untuk Belanda. Ia mulai belajar di Europeesche Lagere School (sekolah dasar kolonial) pada tahun 1901, dan setelah lulus pada tahun 1907 ia melanjutkan pendidikannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA; sekolah pegawai negeri) di Magelang hingga tahun 1911.[6]
Ia memulai kariernya di lembaga keuangan kolonial Volkscredietwzen (Jawatan Kredit Rakyat) pada tahun 1917 sebagai pegawai biasa.[8] Kemudian, pada tahun 1926, Margono tercatat sebagai salah satu dari tujuh bumiputra pertama yang berhasil meraih jabatan penting di dalam institusi tersebut. Setelah lebih dari dua dekade bekerja di Volkscredietwzen, ia memiliki gagasan mengenai pentingnya lembaga keuangan yang berpihak kepada rakyat, konsep inklusi keuangan, dan perlunya akses kredit bagi bumiputra. Gagasan ini kelak melandasi pendirian Bank Negara Indonesia kelak.
Sehari setelah pelantikan Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wapres, dibentuk Kabinet Presidentil dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Sebagai Ketua DPAS yang pertama ditunjuklah R.M. Margono Djojohadikusomo.[9]
Sebagai Ketua DPAS, Margono mengusulkan supaya dibentuk sebuah Bank Sentral atau Bank Sirkulasi seperti yang dimaksud dalam UUD '45. Soekarno-Mohammad Hatta kemudian memberikan mandat kepada Margono untuk membuat dan mengerjakan persiapan pembentukan Bank Sentral (Bank Sirkulasi) Negara Indonesia pada tanggal 16 September 1945.
Pada tanggal 19 September 1945, sidang Dewan Menteri Republik Indonesia memutuskan untuk membentuk sebuah bank milik negara yang berfungsi sebagai "Bank Sirkulasi" uang Republik (Oeang Republik Indonesia/ORI).
Akhirnya pada 15 Juli 1946, terbitlan Perppu nomor 2 tahun 1946 tentang pendirian Bank Negara Indonesia, dan penunjukan R.M. Margono Djojohadikusomo sebagai Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI).[10]
Pada hari-hari pertama memimpin BNI, kedua putra Margono, yakni Subianto dan Sujono, gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong di Tangerang pada 25 Januari 1946.
Peran BNI sebagai bank sentral dan bank sirkulasi terhenti pada 1 Juli 1953, ketika bank sentral era kolonial Hindia Belanda, De Javasche Bank, diubah menjadi Bank Indonesia.
Pada tahun 1970, status hukum Bank Negara Indonesia diubah menjadi persero.

Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, "Hak Angket" pertama kali digunakan DPR pada tahun 1950-an. Ihwalnya berawal dari usul resolusi oleh R.M. Margono Djojohadikusomo agar DPR mengadakan "Hak Angket" atas usaha memperoleh devisa dan cara mempergunakan devisa.
Panitia angket yang kemudian dibentuk beranggota 13 orang yang diketuai Margono. Tugasnya adalah menyelidiki untung-rugi mempertahankan devisen-regime berdasarkan Undang-Undang Pengawasan Devisen tahun 1940 dan perubahan-perubahannya.[11][12]
R.M. Margono Djojohadikusomo meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1978 di Jakarta, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah.[13][14]
Gedung R.M. Margono Djojohadikusumo di Universitas Gajah Mada dinamakan sesuai dengan nama beliau.
Nama R.M. Margono Djojohadikusumo juga diabadikan menjadi nama jalan di Jakarta.
Kisah kehidupannya menjadi inspirasi pembuatan film Merah Putih.[15]
Tidak seperti yang dipercaya banyak orang, nama Rumah Sakit Margono yang berlokasi di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah bukanlah berasal dari nama R.M. Margono Djojohadikusumo, tetapi berasal dari nama Margono Sukarjo. Margono Sukarjo adalah dokter ahli bedah pertama di indonesia.[16]
| Jabatan pemerintahan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: jabatan baru |
Ketua Dewan Pertimbangan Agung 25 September 1945 – 6 November 1945 |
Diteruskan oleh: R.A.A. Wiranatakoesoema V |
| Jabatan bisnis | ||
| Didahului oleh: jabatan baru |
Direktur Utama Bank Negara Indonesia 1946–1953 |
Diteruskan oleh: Abdul Karim |