Maraṇasati atau maraṇassati, juga dikenal sebagai maraṇānussati, adalah praktik meditasi Buddhis untuk mengingat bahwa kematian dapat menyerang kapan saja. Oleh karena itu, seseorang dianjurkan untuk berlatih dengan tekun (appamāda) dan penuh urgensi di setiap momen, bahkan dalam waktu sependek satu tarikan napas. Tidak berlatih dengan tekun setiap saat disebut sebagai kelalaian oleh Sang Buddha. Dalam khotbah-khotbah awal Sang Buddha, istilah 'Maraṇasati' hanya didefinisikan secara eksplisit dua kali, dalam dua sutta, yakni AN 6.19 dan AN 6.20.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Maraṇasati atau maraṇassati (perhatian penuh terhadap kematian, kewaspadaan terhadap kematian), juga dikenal sebagai maraṇānussati (perenungan terhadap kematian), adalah praktik meditasi Buddhis untuk mengingat (kerap kali mengarahkan batin pada ingatan) bahwa kematian dapat menyerang kapan saja (AN 6.20). Oleh karena itu, seseorang dianjurkan untuk berlatih dengan tekun (appamāda) dan penuh urgensi di setiap momen, bahkan dalam waktu sependek satu tarikan napas. Tidak berlatih dengan tekun setiap saat disebut sebagai kelalaian oleh Sang Buddha (AN 6.19). Dalam khotbah-khotbah awal Sang Buddha, istilah 'Maraṇasati' hanya didefinisikan secara eksplisit dua kali, dalam dua sutta, yakni AN 6.19 dan AN 6.20.
Aliran-aliran Buddhis belakangan memperluas makna 'maraṇasati' untuk mencakup berbagai teknik visualisasi dan kontemplasi untuk bermeditasi tentang hakikat kematian. Pengembangan maraṇasati dikatakan kondusif untuk usaha yang benar, dan juga membantu dalam mengembangkan rasa desakan atau urgensi spiritual (saṁvega) dan pelepasan keduniawian (nekkhamma).[1]
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Perhatian penuh terhadap kematian merupakan praktik umum di berbagai wihara di Asia Tenggara.[1] Wihara seperti Wat Pah Nanachat sering memajang kerangka manusia di ruang meditasinya.[2]
Dalam Paṭhamamaraṇassati Sutta (AN 6.19), Sang Buddha menganjurkan untuk berlatih dengan tekun (appamāda) dan penuh urgensi di setiap momen, bahkan dalam waktu sependek satu tarikan napas. Jika tidak merenungi kematian setiap saat, maka seseorang disebut telah "berdiam dengan lengah".
| Ketika hal ini dikatakan, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu itu:
“Para bhikkhu, bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup selama “Tetapi bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup selama “Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus melatih diri kalian sebagai berikut: ‘Kami akan berdiam dengan waspada. Kami akan mengembangkan perenungan pada kematian dengan giat demi hancurnya noda-noda.’ Demikianlah kalian harus berlatih.” |
||
| — Paṭhamamaraṇassati Sutta, AN 6.19 terj. Indra Anggara | ||
Menurut Dutiyamaraṇassati Sutta (AN 6.20), seorang biku hendaknya merenungkan banyak kemungkinan yang dapat membawanya kepada kematian, dan kemudian mengarahkan pikirannya kepada kualitas batin buruk yang belum ditinggalkannya.[3]
| Seperti halnya seseorang yang pakaian [turban] atau kepalanya terbakar akan mengerahkan keinginan (chanda) luar biasa, usaha (vāyāma) luar biasa, kemauan (ussāha) luar biasa, semangat (ussoḷhi) luar biasa, ketanpa-lelahan (appaṭivāni) luar biasa, perhatian (sati) luar biasa, dan pemahaman jernih (sampajañña) luar biasa untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya, demikian pula bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu. | ||
| — Dutiyamaraṇassati Sutta, AN 6.20 terj. Indra Anggara | ||
Perenungan terhadap kematian (maraṇacode: pi is deprecated ) lainnya (seperti dalam Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta, AN 5.57) dilakukan dengan merenungi kenyataan bahwa: "Kematianku pasti terjadi. Aku bisa mati kapan saja. Ketika mati, aku harus meninggalkan segalanya."[4]
| “Katamāni pañca? [1] ‘Jarādhammomhi, jaraṁ anatīto’ti ... |
||
| — Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta, AN 5.57 terj. Handaka Vijjānanda | ||
Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10) dan Kāyagatāsati Sutta (MN 119) memuat bagian tentang "perhatian/perenungan kuburan" atau "perenungan tanah pemakaman" (Pali: sīvathikā) yang berfokus pada sembilan tahap pembusukan jenazah (Pali: nava sīvathikā-manasikāra). Sembilan tahap tersebut adalah:
Satipaṭṭhāna Sutta memberi petunjuk kepada pemeditasi untuk merenungkan demikian: 'Tubuhku ini juga memiliki sifat yang sama dengan tubuh itu, akan menjadi seperti tubuh itu, dan belum melampaui kondisi menjadi seperti tubuh itu.'

Menurut kitab Visuddhimagga karya Buddhaghosa, ada delapan cara untuk praktik perenungan atas kematian (maraṇānussati):

Perhatian-penuh akan kematian merupakan ajaran utama Buddhisme Tibet: praktik ini merupakan salah satu dari "Empat Pemikiran" yang mengarahkan batin menuju praktik spiritual. Satu set perenungan Buddhisme Tibet tentang kematian berasal dari cendekiawan Buddhis abad ke-11 bernama Atisha.[8] Atisha dikatakan pernah berkata kepada murid-muridnya bahwa jika seseorang tidak menyadari kematian, meditasinya hanya akan memiliki sedikit kekuatan.[9]
Perenungan Atisha tentang kematian:
Praktik Buddhisme Tibet lainnya berhubungan langsung dengan momen kematian, mempersiapkan pemeditasi untuk memasuki dan mengarungi Bardo, tahap peralihan antara hidup dan mati. Teknik meditasi ini merupakan tema dari karya populer berjudul The Tibetan Book of the Dead.