Bhaddhā-Kapilānī adalah seorang bhikkhuni Buddha dan murid utama Gautama Buddha. Di antara para bhikkhuni, ia dianggap sebagai yang terkemuka dalam menganalisis kelahiran sebelumnya karma-karma dari para makhluk, seperti yang dijelaskan dalam Jataka dari Kanon Pali. Sebelum keduanya masuk ke dalam sangha, ia adalah istri Mahakassapa, seorang arahat yang memimpin sangha setelah Buddha paranibbana dan dua murid utamanya, Sariputta dan Mahamoggallana.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Bhadda Kapilani | |
|---|---|
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | Abad ke-6 SM |
| Pekerjaan | Bhikkhuni |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Buddhisme |
| Posisi senior | |
| Guru | Buddha Gautama |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Bhaddhā-Kapilānī adalah seorang bhikkhuni Buddha dan murid utama Gautama Buddha. Di antara para bhikkhuni, ia dianggap sebagai yang terkemuka dalam menganalisis kelahiran sebelumnya karma-karma dari para makhluk, seperti yang dijelaskan dalam Jataka dari Kanon Pali. Sebelum keduanya masuk ke dalam sangha, ia adalah istri Mahakassapa, seorang arahat yang memimpin sangha setelah Buddha paranibbana dan dua murid utamanya, Sariputta dan Mahamoggallana.
Dalam teks Pali, diceritakan bahwa Bhadda beberapa kali terlahir sebagai istri dari Mahakassapa.[1] Di masa Buddha Padumuttara, Bhadda menjadi istri dari Videha yang kaya raya. Di masa Buddha Vipassī, ia terlahir menjadi istri dari seorang brahmana yang sangat miskin. Baik Videha maupun brahmana tersebut merupakan kelahiran lampau dari Mahakassapa. Bhadda bersama Mahakassapa juga pernah menjadi orang tua dari yang kelak menjadi Ananda dalam satu kelahiran,[a][2] dan pernah menjadi orang tua dari yang kelak menjadi Bodhisatta Siddharta, Anuruddha, Sariputta dan Moggallana di kelahiran yang lain.[b][2] Dalam satu kelahiran, Bhadda pernah mempermasalahkan perbuatan saudara iparnya yang memberikan dana kepada seorang Paccekabuddha dan mengisi mangkuknya dengan lumpur. Di kehidupan berikutnya Bhadda terlahir menjadi seorang wanita yang cantik jelita tapi memiliki bau tak sedap.[3]
Di dua kehidupan sebelum kelahirannya yang terakhir, Bhadda terlahir sebagai ratu Benares yang mendukung kehidupan beberapa Paccekabuddha.[4] Ia kemudian melepaskan kehidupannya sebagai ratu dan memutuskan hidup bermeditasi di Himalaya. Setelah kehidupan tersebut, Bhadda terlahir kembali di alam Brahma sebelum kemudian terlahir sebagai Bhadda Kapilani di masa Sang Buddha Gautama.[5]
Bhaddhā-Kapilānī adalah putri dari seorang brahmana Kosiyagotta dari Sagala di negara Bhadda.[6] Nama Kapilānī ditambahkan ke namanya, karena dia adalah anak atau menantu dari Kapila. Sejak awal, Bhadda tidak mempunyai keinginan untuk menikah dan ingin menjalani hidup sebagai pertapa. Di saat yang sama, Pipphali Kassapa yang saat itu atas desakan terus-menerus orang tuanya, akhirnya setuju untuk menikah demi menyenangkan mereka, dengan syarat bahwa seorang gadis yang memenuhi standarnya dapat ditemukan.[7] Walaupun Bhaddha-Kapilani tidak tertarik pada kehidupan berkeluarga, orang tuanya ingin ia menikah. Demi untuk menyenangkan ibunya, ia akhirnya setuju untuk menghormati sebuah kuil dewi yang dikenal memberikan jodoh pernikahan di kalangan keluarga kelas atas. Ketika ia mendekati patung tersebut, orang-orang menyadari bahwa patung itu tampak jelek dibandingkan dengannya. Reputasinya sebagai wanita cantik menyebar, dan tak lama setelah keluarga Pippali mengetahui hal itu, ia ditawarkan untuk menikah dengan Pippali.[8]