Anumodanā adalah ungkapan penghargaan dan kegembiraan atas kebajikan atau perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Anumodanā (Pali; Indonesia: anumodana;[1] Thai: อนุโมทนา; Burma: အနုမောဒနာ; Sinhala: අනුමෝදනා; terj. har. 'ikut merasa senang, turut bergembira') adalah ungkapan penghargaan dan kegembiraan atas kebajikan atau perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain.
Istilah anumodanā memiliki makna spiritual yang mendalam dalam tradisi buddhis, yang secara umum merujuk pada ekspresi syukur dan apresiasi. Berdasarkan Concise Pali-English Dictionary oleh BuddhaSasana, kata ini didefinisikan sebagai bentuk "ucapan syukur" (thanksgiving), "apresiasi" (appreciation), serta "pelimpahan jasa" (transference of merit).[2]
The Pali Text Society's Pali-English Dictionary memaparkan bahwa secara etimologis anumodanā berarti "sesuai dengan rasa" (according to taste), yang mencerminkan perasaan puas atau terima kasih. Kamus ini menekankan fungsinya sebagai "aspirasi spiritual" (benediction) atau "ungkapan pemberkatan" (blessing), terutama setelah penerimaan dana atau hadiah. Pada momen tersebut, pihak penerima (biasanya para bhikkhu) melafalkan bait-bait syukur (anumodana-gāthā) sebagai bentuk pengakuan formal atas jasa kebajikan yang telah dilakukan.[2]
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI Daring mendefinisikan anumodana sebagai suatu kata benda dalam agama Buddha yang bermakna "salam ungkapan terima kasih dan penghargaan yang diberikan kepada orang lain atas tindakan atau pengajaran baik."[1]
Anumodanā dapat dilakukan melalui ucapan, tulisan, maupun tindakan. Misalnya, sebagaimana tradisi Buddhisme di Thailand, ketika mendengar suara gong dan genderang di vihara pada sore hari, yang menandakan bahwa para biku telah selesai melakukan puja sore (Thai: ทำวัตรเย็น, tham wat yen; terj. har. 'melakukan kewajiban sore'), maka seseorang dapat mengangkat tangan dalam sikap añjali sambil mengucapkan "sādhu" sebagai bentuk anumodanā kepada para biku di vihara tersebut. Contoh lainnya adalah ketika seseorang memberitahukan bahwa ia telah melakukan kebajikan (seperti berdana), lalu ketika orang lainnya mengetahui hal itu dan mengangkat tangan sambil mengucapkan “sādhu”, maka itu juga merupakan anumodanā atas kebajikan tersebut.[3]
Ucapan yang menyatakan kegembiraan atas kebajikan orang lain disebut Anumodana-kathā (lihat juga Sammodanīya-kathā).[3]
Dalam Vinayapiṭaka, para biku diwajibkan untuk memberikan anumodanakathā kepada umat awam setelah mereka selesai makan terutama dalam undangan makan. Dalam hal ini, anumodanakathā merupakan khotbah yang diberikan para biku sebelum atau sesudah umat awam memberikan dana makanan. Ketika seorang atau siapa saja mengucapkan “sukhi hotu" ("semoga Anda bahagia”) sebagai wujud terima kasihnya kepada orang lain yang telah berbuat kebajikan kepadanya, ucapan juga termasuk pengamalan anumodanā. Sebagai contoh, dalam kitab komentar terdapat kalimat sebagai berikut:[4]
| Setelah mengambil mangkok bhikkhu (thera) yang telah berdiri di pintu rumah, wanita itu memenuhi (mangkok itu) dengan susu, ghee, dan gula; dan meletakannya ke tangan (bhikkhu tersebut). Sang bhikkhu pergi setelah memberikan anumodanā (dengan mengucapkan), ‘semoga Anda berbahagia’. | Sā there gharadvāraṃ sampatte pattaṃ gahetvā sappiphāṇitayojitassa khīrapiṇḍapātassa pūretvā hatthe ṭhapesi. Thero “sukhaṃ hotī”ti anumodanaṃ katvā pakkāmi | |
Diceritakan bahwa ketika Hartawan Anāthapiṇḍika menghabiskan 54 koṭi harta untuk membangun Vihara Jetavana dan mempersembahkannya kepada Sangha yang dikepalai oleh Buddha, ada seorang pria yang melihat tumpukan jasa (puññā-sampatti) tersebut lalu merasa bersukacita. Tanpa mengeluarkan sekeping kahāpaṇa pun, tanpa melakukan pelayanan fisik, bahkan tanpa berucap sepatah kata pun, ia juga memperoleh kemakmuran yang luar biasa besar hanya melalui kejernihan batin (cittappasāda) semata.[5]
Kebajikan yang timbul dari melakukan anumodanā disebut Anumodanāmaya-puñña.[3] Anumodanā merupakan sebuah perbuatan jasa kebajikan (puññakiriyā) yang termasuk dalam Dasa Puññakiriyavatthu (Sepuluh Landasan Kebajikan, yang mencakup dāna, sīla, dan lainnya), atau di antara dua belas kebajikan yang disebutkan di beberapa tempat. Sebagaimana dinyatakan dalam kitab Aṭṭhasālinī:[5]
“Pattānumodanā harus dipahami sebagai tindakan turut bersukacita dengan cara menghargai 'Sādhu' atas jasa (patti) yang diberikan oleh orang lain atau atas perbuatan jasa lainnya.”
Maka, harus diketahui bahwa anumodanā adalah tindakan turut bersukacita atas jasa yang telah diberikan oleh orang lain atau perbuatan kebajikan lainnya dengan cara merasa senang dan berucap "Sādhu".[5]
Ketika mempraktikkan anumodanā, seseorang dikatakan telah melenyapkan kekotoran batin (kilesa) berupa iri hati (issā), kekikiran (macchariya), serta pikiran yang mencelakai (vihiṃsā-vitakka); dan mengembangkan batin yang jernih-yakin (pasāda) pada kebajikan. Sebagai akibat perbuatannya (vipāka), ia yang melakukan puññānumodanā akan menjadi sosok yang agung/berwibawa (mahesakkha). Ia juga akan berparas rupawan (surūpa), memiliki kekayaan materi (bhoga-sampatti), senantiasa memiliki batin yang bahagia, dan memperoleh umur panjang (dīghāyu).[5]
Kata-kata anumodanā juga bisa berupa Dhamma. Pada masa Sang Buddha, banyak orang yang mencapai kesucian ketika mendengarkan anumodanakathā dari Sang Buddha atau para biku. Misalnya, ibu dan istri Yasa mencapai tingkat sotapana setelah mendengarkan anumodanakathā yang diberikan Sang Buddha. Contoh lainnya terdapat dalam kitab Papañcasūdanī, kitab komentar Majjhimanikāya (3, hlm. 283 versi PTS) sebagai berikut:[4]
| Suatu hari, ketika sedang melihat ke jalan dan berdiri, wanita tersebut melihat murid tertinggi Buddha Kassapa. Ia menyapanya dan memberikan dana makanan. Sewaktu mendengarkan anumodanā, ia mencapai kesucian sotāpanna ... | Sā ekadivasaṃ vīthiṃ olokentī ṭhitā kassapassa bhagavato aggasāvakaṃ disvā pakkosāpetvā piṇḍapātaṃ datvā anumodanaṃ suṇamānāyeva sotāpannā hutvā … | |
Dalam tradisi Buddhisme Thailand, surat atau dokumen yang dikeluarkan oleh vihara sebagai bukti penerimaan dana dari para donatur disebut sertifikat anumodanā atau surat anumodanā.[3]