Sayadaw U Tejaniya adalah biku Theravāda keturunan Tionghoa dari Myanmar dan guru meditasi di Pusat Meditasi Shwe Oo Min Dhamma Sukha Tawya di Yangon, Myanmar yang ajarannya telah menarik minat para pemeditasi dari berbagai belahan dunia. Ia adalah murid dan penerus dari Shwe Oo Min Sayadaw.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sayadaw U Tejaniya | |
|---|---|
ဆရာတော် ဦးတေဇနိယcode: my is deprecated | |
Sayadaw U Tejaniya (kiri) dengan Ayasma Kumara Bhikkhu di Pusat Meditasi Shwe Oo Min | |
| Gelar | Sayadaw |
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | 1962 |
| Kebangsaan | Myanmar |
| Pekerjaan | Biku |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Buddhisme |
| Sekolah | Theravāda |
| Garis keturunan | Shwegyin Nikāya |
| Nama darma | Tejaniya |
| Posisi senior | |
| Guru | Shwe Oo Min Sayadaw |
| Berbasis di | Yangon, Myanmar |
| Situs web | www.sayadawutejaniya.org |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Sayadaw U Tejaniya (Burma: ဆရာတော် ဦးတေဇနိယcode: my is deprecated ) adalah biku Theravāda keturunan Tionghoa dari Myanmar dan guru meditasi di Pusat Meditasi Shwe Oo Min Dhamma Sukha Tawya di Yangon, Myanmar yang ajarannya telah menarik minat para pemeditasi dari berbagai belahan dunia. Ia adalah murid dan penerus dari Shwe Oo Min Sayadaw.[1]
Semasa masih menjadi perumah tangga, Sayadaw U Tejaniya hidup sebagai kepala keluarga yang menjalankan bisnis tekstil hingga usia tiga puluh enam tahun, yang merupakan hal yang tidak lazim bagi para Sayadaw di Myanmar.[2] Ia kemudian memilih hidup sebagai biku tetap pada tahun 1996.[3] Walaupun ia bukanlah murid yang sudah menjadi biku sejak kecil, tetapi justru ia yang kelak ditunjuk oleh gurunya sebagsai penerus dan mengajar di Shwe Oo Min Dhamma Sukha Tawya, Myanmar. Pada berbagai interval selama kehidupannya sebelum bergabung dengan monastik, ia belajar secara intensif dengan Shwe Oo Min Sayadaw (1913–2002), seorang tokoh yang sangat dihormati yang merupakan salah satu guru meditasi pertama yang dilatih oleh Mahasi Sayadaw.[4] Sayadaw Tejaniya merasa bahwa karena dulunya ia memiliki pengalaman dalam mengembangkan praktik meditasi sambil menjalani kehidupan sebagai seorang kepala keluarga, ia memahami tantangan yang dihadapi para pemeditasi dalam mengintegrasikan praktik meditasi mereka dengan kehidupan sehari-hari dan bagaimana cara mengatasinya.[4] Episode penting lainnya dalam hidupnya adalah perjuangannya dengan dua episode depresi klinis besar, yang menurutnya menumbuhkan motivasi untuk mengembangkan keterampilannya dalam penyelidikan mental (Pali: dhamma vicaya) ke tingkat yang luar biasa.[2]
Gaya mengajar Sayadaw agak berbeda dalam penekanannya dibandingkan dengan gaya meditasi vipassanā yang umumnya dipraktikkan di Myanmar.[5] Alih-alih menjadikan objek tunggal dan utama sebagai fokus penyadaran untuk meditasi, Sayadaw Tejaniya meyakini bahwa para praktisi harus terlebih dahulu memperhatikan kehadiran kotoran batin di dalam pikiran—keserakahan, kebencian, dan delusi—yang dapat muncul secara halus saat bermeditasi dan mengurangi efektivitas praktik tersebut.[6] Seperti yang dikatakan Sayadaw Tejaniya, "Jangan menolak objek apa pun yang muncul dalam perhatian Anda. Objek perhatian sebenarnya tidak terlalu penting; pikiran yang mengamati yang bekerja di latar belakang untuk sadarlah yang benar-benar penting. Jika pengamatan dilakukan dengan sikap yang benar, objek apa pun adalah objek yang benar."[7]
Sayadaw Tejaniya tidak terlalu menekankan pada bentuk—postur duduk atau metode khusus untuk berjalan—dan lebih merekomendasikan postur yang lebih alami yang lebih mendekati bagaimana para yogi bertindak dalam kehidupan nyata.[8][9] Dalam kata-katanya, "Meditasi bukan hanya tentang duduk di atas bantal. Tidak peduli apa postur Anda, jika pikiran Anda sadar dengan pemahaman, Anda sedang bermeditasi."[10]
Selain sati (perhatian penuh) dan viriya (kegigihan), Sayadaw merasa penting bagi para yogi untuk mempraktikkan dhamma vicaya (penyelidikan, analisis) yang hampir bersifat ilmiah, yang ia yakini sebagai jalan paling produktif menuju pengetahuan tentang dunia sebagaimana adanya.[11] Sayadaw secara khusus menaruh perhatian untuk membantu para yogi membangun keterampilan yang dapat dan akan terus mereka gunakan sepanjang hidup mereka.[12]
Sayadaw Tejaniya telah mengajar dan memimpin retret meditasi di Australia, Tiongkok, Republik Ceko, Britania Raya, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Polandia, Rusia, Singapura, Korea Selatan, Sri Lanka, Swiss, Finlandia, Amerika Serikat, dan Vietnam. Tulisan-tulisan utamanya telah diterjemahkan ke dalam sebelas bahasa. Pada tahun 2012, Sayadaw melakukan perjalanan ke Amerika Serikat bersama penerjemahnya untuk sebuah retret di Insight Meditation Society di Barre, Massachusetts. Lebih dari seratus peserta hadir, termasuk banyak guru meditasi terkemuka dari Amerika Utara.[13]
Sayadaw U Tejaniya sebenarnya tidak berminat untuk menulis buku, tetapi murid-muridnya mencatat, merekam, dan membukukan ceramah Dhamma yang diberikan Sayadaw dengan niat berbagi. Beberapa buku yang telah terbit adalah sebagai berikut:
Sayadaw Tejaniya juga telah menerbitkan tiga buku yang disusun dari wawancara kelompoknya dengan para pemeditasi, satu koleksi otobiografi singkat para pemeditasi yang menekankan bagaimana praktik meditasi penyadaran penuh telah memengaruhi mereka (termasuk satu tulisan oleh Sayadaw sendiri), dan dua buku dari penerbit komersial (When Awareness Becomes Natural: A Guide to Cultivating Mindfulness in Everyday Life, 2016, dan Relax and Be Aware: Mindfulness Meditations for Clarity, Confidence, and Wisdom, 2019). Banyak dari interaksi tanya jawab Sayadaw Tejaniya dengan para pemeditasi tentang praktik mereka, yang menggabungkan elemen-elemen dari ceramah Dhamma tradisional dan wawancara, tersedia secara daring.