Usaha, juga dikenal sebagai energi, semangat, ketekunan, kegigihan, dan antusiasme adalah sebuah istilah Buddhis yang dapat didefinisikan sebagai sebuah sikap senang hati untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang bajik (bermanfaat), dan berfungsi untuk mendorong seseorang agar mampu menyelesaikan perbuatan-perbuatan yang bajik atau mulia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Terjemahan dari viriya | |
|---|---|
| Inggris | diligence, energy, perseverance, enthusiasm, sustained effort, help |
| Pali | विरियcode: pi is deprecated (viriyacode: pi is deprecated ) |
| Sanskerta | वीर्यcode: sa is deprecated (IAST: vīrya) |
| Tionghoa | 勤(T) / 勤(S), 精進(T) / 精进(S)code: zh is deprecated |
| Jepang | 精進code: ja is deprecated (rōmaji: shōjincode: ja is deprecated ) |
| Korea | 근, 정진code: ko is deprecated (RR: geun, jeongjincode: ko is deprecated ) |
| Tibet | བརྩོན་འགྲུས།code: bo is deprecated (Wylie: brtson 'grus; THL: tsöndrücode: bo is deprecated ) |
| Myanmar | ဝီရိယcode: my is deprecated (MLCTS: wə rḭ ja̰code: my is deprecated ) |
| Vietnam | Tinh Tấncode: vi is deprecated |
| Khmer | ថាមពលcode: km is deprecated (UNGEGN: thamôpôl) |
| Sinhala | වීර්යයcode: si is deprecated |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 faktor mental (cetasika) |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Usaha (Pali: viriya; Sanskerta: vīrya), juga dikenal sebagai energi, semangat, ketekunan, kegigihan, dan antusiasme adalah sebuah istilah Buddhis yang dapat didefinisikan sebagai sebuah sikap senang hati untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang bajik (bermanfaat), dan berfungsi untuk mendorong seseorang agar mampu menyelesaikan perbuatan-perbuatan yang bajik atau mulia.
Dalam ajaran Abhidhamma/Abhidharma, viriya diidentifikasi sebagai:
Dalam konteks ini, viriya didefinisikan sebagai sikap senang hati dalam melakukan hal-hal yang bajik; fungsinya adalah untuk mendorong seseorang menyelesaikan tindakan-tindakan positif.[1][2]
Viriya secara harfiah berarti "keadaan manusia yang kuat" atau "kejantanan."[3] Dalam literatur Weda, istilah ini dikaitkan dengan kepahlawanan dan kejantanan.
Dalam Buddhisme, viriya merujuk pada "energi" dari seorang praktisi,[4][5][6] "kegigihan",[6][7] "ketekunan,"[8] "semangat", "usaha", "kerajinan",[1][2] atau "pengerahan tenaga", dan berulang kali diidentifikasi sebagai prasyarat penting untuk mencapai pembebasan.
Dalam kepustakaan Pāli Theravāda, viriya diidentifikasi sebagai komponen penting dalam setiap rangkaian kualitas yang kondusif bagi Pencerahan (bodhi-pakkhiyā-dhammā):
Ini juga dikaitkan dengan "Usaha Benar" (sammā-vāyāma) dari Jalan Mulia Berunsur Delapan (Pāli: aṭṭhaṅgiko maggo; Skt.: aṣṭāṅga mārga) dan dengan "Empat Usaha Benar" (samma-ppadhāna).
Dalam Kīṭāgiri Sutta (MN 70), Sang Buddha menginstruksikan para pengikut-Nya:
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa viriya didefinisikan dalam empat batasan:[9]
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:
Kitab komentar mendefinisikan viriya seperti sifat heroisme atau perbuatan seseorang yang gagah berani dan energetik. Viriya juga didefinisikan sebagai usaha (ussāha) terhadap satu perbuatan yang harus dilakukan. Dengan deinisi seperti itu, maka viriya tidak muncul pada kondisi-kondisi yang lesu, lamban, dan tidak aktif (olīnavuttitā). Jadi, viriya mengatasi kelambanan batin dan diibaratkan seperti saka guru (upathambhana) yang menyokong rumah supaya bisa tetap berdiri tegak. Dengan disokong oleh viriya, maka dhamma-dhamma yang muncul bersamanya bisa berjuang keras dan pantang menyerah untuk melakukan fungsinya masing-masing demi mencapai apa yang dicita-citakan. Contoh penerapan viriya yang paling tinggi adalah viriya yang muncul pada saat Bodhisatta bertekad untuk tidak bangkit dari meditasinya sebelum tercapainya pencerahan — walaupun seandainya tubuhnya hanya tinggal tersisa kulit, otot, dan tulang saja serta darah dan dagingnya mengering, Beliau tetap tidak akan bangkit dari duduknya![9]
Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:
Dalam konteks Abhidharma Mahāyāna, istilah ini umumnya diterjemahkan sebagai ketekunan.[1]
Viriya juga dapat menandakan keberanian serta kekuatan fisik, dan dikembangkan oleh para pelindung Buddhis termasuk para biksu Shaolin. Hal ini menandakan kekuatan karakter dan usaha gigih demi kesejahteraan orang lain, serta kemampuan untuk mempertahankan Triratna dari serangan.[butuh rujukan]